Kembali
16
1
2023 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 7 · 3 ISSN 2598-3040

Kearifan Makna Kuliner Sedekah Laut di Jepara Sebagai Peluang Pengembangan Unit Usaha

Universitas Diponegoro

Abstrak

Artikel yang berjudul “ Kearifan Makna Kuliner Sedekah Laut di Jepara Sebagai Peluang Pengembangan Unit Usaha”. merupakan bagian dari laporan penelitian berjudul “Pemberdayaan Kuliner Berbasis Budaya Bagi Pengembangan Wisata Terpadu Di Kabupaten Jepara”. Beberapa kuliner tradisi yang selalu dipersipkan menyambut Upacara Tradisi Sedekah Laut, antara lain kupat, lepet, ayam dhekem, jajan pasar, bubur merah-putih. Pengummpulan data dilakukan dengan studi pustaka pada data sekunder yang sudah ada, berkaitan dengan penelitian maupun pemberitaan, melakukan pengumpulan data pada pendukung upacara serta pelaku unit usaha yang mempunyai relevansi dengan upcara Sedekah Laut di Jepara. Beberapa jenis kuliner yang dihadirkan dalam upara Sedekah Laut tersebut, tampaknya mempunyai makna kearifan local pada harapan akan kebaikan. Melalui pengembangan unit usaha, diharapkan harapan do’a-do’a kebaikan dapat selalu dilantunkan setiap hari. Untuk itulah diperlukan sosialisasi akan makna kuliner yang ada, sehingga selain menikamti kuliner tersebut juga mengharapkan do’a kebaikan yang terkandung di dalamnya.

Abstract

The article is entitled "The Wisdom of the Meaning of Sea Alms Culinary in Jepara as an Opportunity for Business Unit Development". is part of a research report entitled "Culture-Based Culinary Empowerment for Integrated Tourism Development in Jepara Regency". Some of the traditional culinary delights that are always prepared to welcome the Traditional Sea Alms Ceremony include kupat, lepet, chicken dhekem, market snacks, red and white porridge. Data collection was carried out by conducting literature studies on existing secondary data, related to research and reporting, collecting data on ceremony supporters and business unit actors who had relevance to the Sea Alms Ceremony in Jepara. Several types of culinary delights presented at the Alms of the Sea ceremony seem to have local wisdom meaning the hope for goodness. Through the development of business units, it is hoped that good prayers can always be recited every day. For this reason, it is necessary to socialize the meaning of existing culinary delights, so that apart from enjoying these culinary delights, you can also hope for prayers for the good things contained in them.
Keywords: meaning · culinary · local wisdom · development · business unit

Introduction

Beberapa penelitian kuliner yang berbasis budaya dalam perkembangannya sekarang ini banyak dimintai. Hal ini terkait dengan perkembangan informasi yang ada, bahwa kuliner menjadi dalam satu pengembangan usaha yang banyak diminati. Penggalian ragam kiliner baru mulai dilakukan bahkan dengan mempelajari kuliner budaya yang dilakukan secara turun-temurun. Beberapa penelitian sebelumnya yang mempunyai relevansi dengan kuliner budaya antara lain, , Inventarisasi Upacara Tradisi di Kabupaten Jepara (2005), dan Pengemasan Nilai-Nilai Budaya Lokal sebagai Pengembangan Wisata Ziarah Di Kabupaten Kudus (2012-2013), Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya ragam kuliner yang berhubungan dengan upacara-upacara tradisi. Dalam perkembangannya sekarang,berbagai jenis kuliner yang berbasis budaya itu maknanya sudah tidak difahamilagi oleh masyarakat. Pada hal setiap makanan yang disajikan itu sebenarnya memiliki kearifan lokal yang memiliki kontribusi positif terhadap masyarakat setempat. Untuk itulah maka diperlukan adanya langkah-langkah mensosialisasikan agar makna kearifan yang terkandung dalam kuliner yang dimungkinkan dikemabangkan untuk dihadirkan setiap hari melalui unit usaha dan tidak hanya sewaktu ada kegiatan upacara tradisi, menjadi harapan do’a kebaikan masyarakat yang menikamati kuliener tersebut.

Method

Penulisan artikel ini menggunakan metode sejarah, meliputi empat tahap yaitu heuristik atau pengumpulan sumber, kritik, interpretasi sumber, dan historiografi. Pengumpulan data dilakukan dengan studi arsip dan sejarah lisan . Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan bentuk sumber, yaitu sumber tertulis dan sumber tidak tertulis (lisan). Sumber tidak tertulis atau sumber lisan digunakan untuk memberikan informasi yang tidak dapat ditemukan pada sumber tertulis. Oleh karena itu, kajian ini juga akan melibatkan metode oral history. Hal ini dipilih karena metode yang paling dapat digunakan untuk menggambarkan aktivitas pelaku dan pendukung Upacara Tradisi jembul Tulakan melalui wawancara. Historiografi (penulisan sejarah), mencoba merekonstruksi imajina dari masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses pengujian dan analisis kritis. Tahap ini dimaksudkan untuk menyusun fakta-fakta menjadi suatu kesatuan yang sistematis, integral, dan disajikan secara kronologis dalam bentuk tulisan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar agar mudah dipahami oleh pembaca. . Makna-makna disampaikan melalui penggunaan simbol-simbol yang berlaku bagi nilai-nilai, kode-kode dan aturan-aturan yang terkandung dalan budaya lokal. Pandangan ini tidak menolak adanya dunia materi, tapi berkeyakinan bahwa cara terbaik untuk memahami dunia materi, sosial dan kebudayaan manusia, dengan mendengarkan cara-cara orang-orang yang hidup dalam suatu masyarakat menjelaskan dan memahami institusi, adat dan kebiasaan mereka. Sesuai dengan keahliannya, model pendekatan Geertz ini memang lebih berkembang dalam mengkaji masalah budaya. Pendekatan hermeuneutik juga dilakukan karena fokus kajiannya berkaitan dengan budaya atau ilmu humaniora. Dalam pendekatan hermeneutik ini tidak hanya terpaku pada karya-karya teks, tetapi semua hasil karya manusia yang bermakna, baik individual ataupun kelompok, baik itu berupa persepsi, respon, apresiasi ataupun hasil kreativitasnya, dalam suatu kajian yang bersifat humanistik. Dalam rangka menggali nilai-nilai budaya, objek yang bersifat karya tersebut memerlukan hermeneutik atau interpretif simbolik, yaitu pendekatan yang memposisikan karya sebagai karya, yang membutuhkan bentuk pemahaman yang lebih halus dan komprehensif. Sebuah “karya” selalu ditandai dengan sentuhan manusia, karena karya selalu berarti karya manusia (atau Tuhan). Untuk menggunakan kata “obyek” (penelitian) yang berkaitan dengan sebuah karya, akan mengaburkan perbedaan penting, karena seseorang harus melihat karya tidak sebagai obyek atau fakta, tetapi sebagai karya. Aktivitas budaya yang dipandang sebagai karya membutuhkan bentuk pemahaman yang lebih halus dan komprehensif (Indrahti, Sri. Siti Maziyah. Alamsyah. 2012, hal. 20). Semua data yang telah dikumpulkan melalui berbagai pendekatan di atas selanjutnya akan diklasifikasikan, dihubung-hubungkan atau diakumulasikan antara data satu dengan yang lainnya, dikaitkan antara sumber primer dengan sumber-sumber pustaka atau sumber sekunder, sebagai suatu bentuk interpretasi dan disintesakan dalam rangka mengembangkan model yang dapat diaplikasikan.

Result & Discussion

3.1. Beberapa Jenis Kuliner Sedekah Laut Upacara Sedekah Laut Jepara yang dilaksanakan seminggu setelah perayaan Idul Fitri, dimaksudkan sebagai penutup perayaan Idul Fitri. Beberapa ragam kuliner yang disajikan dalam Upacara tersebut, antara lain; kupat, lepet, dhekem ayam, jajan pasar dan bubur abang putih. 3.2.Makna Kearifan Makna kearifan yang ada dalam kuliner upacara Sedekah Laut di Jepara, antara lain: 3-2.1. Ingkung. Ingkung, yaitu ayam yang dimasak utuh. Oleh masyarakat Jawa, ingkung diartikan sebagai “enggala jungkung.” Maksudnya adalah “agar bersegera bersujud,” yaitu beribadah sepenuhnya kepada Allah. Orang Jawa juga memaknai ingkung dengan “enggalo manekung,” yaitu bersegeralah berdzikir kepada Allah. Dengan demikian, ingkung bagi masyarakat Jawa adalah ajakan untuk bersegera untuk beribadah sepenuhnya kepada Allah dengan menjalankan sholat dan berdzikir (Wawancara dengan Suhendro, pada tanggal 2 Peb 2021). Melalui makna tersebut ada himbauan untuk jangan menundanunda untuk melakukan ibadah yang merupakan bagian dari kewajiban manusia terhadap Allah pencipta alam semesta. Hadirnya jenis kuliner ini dalam setiap upacara memberikan warna religious yang begitu besar, mengingtakan kepada manusia, bahwa ada ikatan antara manusia dan penciptanya. 3.2.2. Kupat Kupat adalah makanan yang terbuat dari nasi yang dibungkus dengan selongsong dari daun kelapa muda. Cara memasaknya dengan direbus dalam waktu yang relatif lama dan api yang besar. Kupat dapat digunakan sebagai pengganti nasi. Di dalam masyarakat Jawa, kupat sering diartikan sebagai “ngaku lepat,” maksudnya “mengakui kesalahan” (Wawancara dengan Agus Santoso, pada tanggal 2 Peb 2021). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kupat selalu hadir setiap Lebaran, termasuk pada saat upacara Sedekah Laut Ujungbatu . Tradisi mengakui kesalahan ini diharapkan dapat mengusangi beban yang ada dalam kehidupan. Melangkah ke depan dengan lebih ringan untuk meraih kebaikan-kebaikan.. 3.2.3. Lepet Lepet selalu hadir menemani keberadaan kupat dalam sajian upacara tradisi. Lepet dibuat dari beras ketan dicampur dengan parutan kelapa dan garam yang dibungkus dengan daun kelapa muda. Keberadaan lepet serupa dengan kupat yang dimaknai sebagai mengakui kesalahan, dan sifat beras ketan yang lengket menyebabkan lepet juga dimaknai untuk mempererat tali persaudaraan. Ikatan persaudaraan baik dalam keluarga maupun lingkungan tempat tinggal dalam masyarakat, perlu dipupuk dari waktu ke waktu. Persaudaraan yang kuat akan memperkokoh saling memberikan perhatian dan tolong-menolong (Wawancara dengan Wandi, pada tanggal 2 Peb 2021). 3.2.4. Jajan pasar Jajan pasar, adalah jajanan yang sering dijumpai di pasar seperti jadah, jenang, tape ketan, wajik, apem termasuk di dalamnya kelapa, padi, pala kependhem, rujak degan, buah asam, cam cao, nanas, kopi, dan lain-lain. Makanan ini bermakna sebagai sedekah untuk keselamatan hidup, terutama keselamatan dalam bidang ruhani, batin, atau selamat dari hal-hal yang berasal dari alam halus. Jajan pasar juga dilambangkan sebagai bermasyarakat, serta kemakmuran. Hal ini diasosiasikan bahwa pasar adalah tempat bermacam-macam barang baik berupa makanan, buah-buahan, rokok, dan sebagainya. Di dalam jajanan pasar juga sering dijumpai ada uang dalam bentuk “ratusan” yang dalam bahasa Jawa disebut “satus,” yang merupakan simbol dari “sat” (asat) dan “atus” (bersih). Dengan demikian keberadaan uang seratus itu melambangkan bahwa manusia telah bersih dari dosa (Sulistyono,Singgih Tri, 2005, hal. 23). 3.2.4. Bubur merah dan bubur putih Bubur merah dan bubur putih sebagai bentuk penghormatan pada cikal-bakal desa yang telah membuka daerah Jepara serta memberi kejayaan pada masa-masa sekarang ini. Masyarakat Jawa di Jepara juga meyakini bahwa bubur merah dan bubur putih dapat mengalahkan jin, setan, serta makhluk halus lainnya. Bubur merah dan bubur putih, arang-arang rambak, kupat-lepet, serta jajan pasar merupakan tolak balak dari segala gangguan yang tidak diinginkan yang berasal dari makhluk halus. Beberapa makna kuliner tradisional berbasis tradisi serta sesaji seperti di atas mengajarkan kepada kita bahwa dalam setiap upacara tradisi itu selalu mengandung komunikasi. Baik komunikasi terhadap Allah sebagai kekuatan utama dalam kehidupan mereka, juga kepada para danyang yang mereka anggap sebagai makhluk halus yang menguasai wilayah mereka, serta mengingatkan kepada para pelaku ritual upacara tradisi itu sendiri. Sebagai contoh dalam upacara tradisi manganan. Dalam prosesi makan bersama ini, ada nilai-nilai kebajikan moral yang ingin disosialisasikan masyarakat setempat. Dari berbagai kalangan mampu maupun tidak mampu, pada malam hari tersebut ketika acara manganan, semua penduduk menikmati hidangan yang sama. Nilai kebersamaan dan toleransi inilah yang tampaknya sangat menarik untuk dilestarikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang semakin memikirkan dirinya sendiri-sendiri. Dari prosesi yang tampak tersebut, secara keseluruhan terdapat nilai-nilai kebajikan lokal yang seslalu ingin dilestarikan oleh masyarakat setempat melalui kebersamaan dalam makan dengan hidangan yang dibawa sendiri, sekaligus ajakan untuk tetap bersedekah meskipun dilakukan secara bersama-sama. Penyampaian nilai-nilai kebersamaan tampak dalam hal ini melalui sarana makanan yang dianggap oleh masyarakat pada umumnya lebih efektik terutama dalam kaitannya dengan ungkapan rasa syukur. Melalui bubur merah dan putih, ada pengharapan akan selalu tumbuh rasa keberanian untuk selalui menyampaikan keberanian demi tetap terjaganya kebaikan Bersama. 4. Upaya-Upaya Pengembangan Unit Usaha Melaui wawancara dengan beberapa pelaku usaha kuliner yang terkait dengan upacara tradisi Sedekah Laut, langkah pertama, sosialisasi yang pernah diikuti sudah dicoba diterapkan, antara lain melalui hiasan dinding yang biasa dipasang di dinding tempat usaha beserta gambar kuliner. Biasanya para pembeli selalu melihat gambar-gambar kuliner yang terpajang di dinding sekaligus membaca makna yang terkandung. Langkah kedua, pertemuan unit-unit usaha yang sejenis juga sering membahas bagaimana mengemas tampilan kuliner agar lebih menarik, secara fisik maupun dari cita rasanya. Namun dari anaisa peneliti memang belum dilakukan upaca untuk menampilkan makna kuliner dala bentuk yang praktis yang langsung bias dibaca melalui kemasannya. Tampaknya cara ini memerlukan pemikiran yang lebih mendalam lagi, agar ditemukan kemasan yang menarik sekaligus mengandung informasi kepada pembeli kuliner dengan baik.

Conclusion

Makna kebajika kuliner pada Upacara Tardisi Sedekah Laut, memberikan nilai-nilai yang mengandung pecerahan pada hugungan antara manusia dengan penciptanya maupun manusia dengan sesaama manusia dalam bermasyarakat. Kebaikan nilai-nilai ini sudah seharusnya sesalu dimunculkan dalam perilaku kehidupan bermasyarak. Sudah seharusnya apabila nilai-nilai tersebut dihadirkan setiap hari sehingga ragam kuliner tersebut juga seharusnya dihadirkan dalam keseharian kehidupan bermasyarakat tidak hanya secara incidental dalam ritual upacara tradisi.