Kritikan-kritikan Sosial melalu Tokoh dan Penokohan dalam Cerpen Seekor Burung yang Bodoh Karya Rabindranath Tagore
Universitas Diponegoro
Abstrak
Fungsi utama dari para pejabat, seperti di sebuah kerajaan atau pemerintahan, adalah untuk mengatur dan membuat kehidupan warganya menjadi lebih baik. Namun demikian, apabila para pejabat pemerintahan tidak mempunyai moral yang baik dan dan kehidupan mereka hanya semata-mata mengejar kekayaan, mereka cenderung menjadi korup dan menjalankan tugas tidak sesuai aturan yang ada. Demi kepentingan pribadi, mereka selalu berusaha membuat atasan mereka senang dan seolah olah puas dengan laporan-laporan yang dibuat-buat. Mereka mungkin mengajukan dan menangani berbagai projek yang sebenarnya tidak penting tetapi dengan anggaran yang selangit demi mengejar keuntungan pribadi. Para anggota keluarga dan sanak saudara mereka dilibatkan dalam berbagai projek sekalipun merka tidak mempunyai kecakapan untuk itu. Sebagai akibatnya projek-projek yang boros uang tidak bisa bermanfaat, dan warga menjadi korban baik dalam bentuk harta ataupun keadilan.
Abstract
The main function of officials, such as in a kingdom, government, is to to organize and to make citicen’s life will be better. There will be justice and prosperity among the citizens. However, if the officials of the authority do not have a good morale and only pursue richness, they tend to be corrupted and execute their duty against the law. For the sake of their personal interest, they always try to make their superiority, such as king or president pleased with manipulative reports. They may create unimportant projects with very high budget, with the reasons for the sake of society. Their family or relative members are involved in the project despite the incapability. As a result their expensive projects will finally be useless, and the citizen will be the victim, either in the form of finance or justice.
Keywords:
projects
· officials
· money
· education
· scripts
· gold cage
· reward
· education
Introduction
Cerpen tau cerita pendek adalah karya sastra yang paling diminati masyarakat, Dari sisi pembaca, selain cenderung lebih mudah difahami juga cerpen cerpen juga tidak memerlukan waktu yang lama dalam dalam membacanya. Sementara dari sisi pengarang, penulisan cerpen juga tidak memerlukan waktu lama sebagaimana kalau menulis novel atau drama. Penikmat karya sastra cerpen sangat beragam. Dari anak-anak hiongga orang dewasa, baik lakilaki maupun perempuan cenderung menggemari cerpen. Bahkan cerita yang menarik kemudian diulurulur dalam bentuk berseri menjadi cerita bersambung atau cerber. Khususnya untuk memikat anak-anak, cerita diubah dalam bentuk rangkaian gambar atau cergam. Mengingat daya tarik cerpan yang begitu besar terhadap minat baca masyarakat, banyak pengarang cerpen memanfaatkan media ini untuk menyampaikan kritikan-krtikan kehidupan sosial masyarakat, pesan-pesan keteladanan, pendidikan moral dan sebagainya. Hal ini juga tersirat dalan cerpan Kisah Seekor Burung yang Bodoh, karya Rabindranath Tagore yang menjadi bahasan dalam makalah ini. Cerpen tersebut berisi kritikan-kritikan sosial atas ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan masyarakat bernegara. Segala tingkah laku dan perbuatan para tokoh tidak lagi dilandasi oleh akal sehat, tetapi oleh motif-motif mencari keuntungan pribadi. Budaya asal bapak senang dan “ngolor” pada atasan menjadi ciri khas dalam cerita ini. Selanjutnya dalam paper ini dikupas kritikan-krtikan sosial dalam kehidupan masyarakat melalui tindakan-tindakan kebodohan dan tidak masuk akal serta, asal bapak senang, pemimpin yang terlena oleh kekuasannya yang diamanatkannya. Melalui tindakan-tindakan para tokoh yang mewakili golongan msayarakat tertentu, kritikan-kritikan tersebut tersirat. 2. Sinopsis Cerita bermula dari adanya seekor burung, seekor Burung yang Bodoh yang tidak punya tata krama. Ia membaca buku-buku, namun setiap harinya suka bikin ulah dengan menyanyikan lagu-lagu sambil meloncat-loncat dan terbang ke sana kemari, dan memakan buah milik kerajaan. Menurut sang Raja, keberadaan burung itu sungguh menyebalkan dan harus mendapatkan pendidikan, khusus untuk menyadarkannya tindakan dan perilakunya Tanggung jawab mendidik tersebut sepenuhnya diserahkan pada suatu tim khusus yang diketuai oleh kemenakan Raja. Untuk diketahui penyebab kebodohan pada burung tersebut, para ahli duduk bersama untuk menyatakan pendapat mereka terhadap penyebab kebodohan dan pendidikan seperti apa yang harus diterapkan untuk burung itu. Ternyata penyebab utamanya adalah sangkar burung itu sendiri. Sangkar burung yang terbuat dari jerami kering bukanlah tempat yang cocok untuk mendapatkan pengetahuan. Atas usul abdi dalem raja yang terpelajar, hal pertama yang diperlukan untuk mendidik burung, adalah sebuah sangkar baru yang terbuat dari emas. Atas ide ini ia pulang dengan membawa banyak hadiah. Selanjutnya pandai emas segera membangun sangkar emas itu. Sungguuh luar biasa hasilya. Berbagai masyarakat dari penjuru negeri berbondong-bondong untuk menyaksikannya. Mereka berdecak kagum, serasa iri atas keberuntungan burung bodoh yang mendapat sangkar dari emas tersebut. Atas kerja ini para pandai emas masing-masing menerima hadiah sekantung penuh uang emas. Selanjutnya seorang terpelajar datang untuk mengajari burung itu. Karena harus memerlukan waktu yang lama untuk mengajari burung itu. Para ahli naskah diundang unutk menyusun naskah-naskah dan menyalin hingga hasilnya menggunung. Mereka yang menyaksikan tumpukan-tumpukan naskah tersebut merasa sangat kagum, dengan begitu banyaknya ilmu pengetahuan yang \disiapkan untuk sang burung. Tentu saja para penulis naskah meneruna imbalan yang bertumpuk pada punggung seekor sapi jantan sebagai sarana transportasinya sebelum mereka pulang ke rumah. Dalam pelaksanaan pendidikan untuk si burung itu, para kemenakan raja terus mengawasi kandang yang mahal ini. Selalu ada saja yang harus diperbaiki di sana-sini. Perawatan sangkar pun dilakukan dengan metode yang luar biasa hebat, seperti metode pengelapan, penyekaan, dan pemolesamya yang sangat cermat. Tentu saja untuk melaksanakan tugas-tugas ini dilibatkan lebih banyak orang lagi, dan mereka semua mendapat upah bulanan yang tinggi, yang menggunung di tempat penyimpanan mereka. Di lain pihak, para tukang kritik mulai mengkritik ketidak berasan terhadap sistem dan penerapan pendidikan untuk si burung bodoh itu. Para pelaksana tidak menyadari apa yang akan terjadi dengan burung itu. Kritikan mereka sampai di telinga sang Raja. Kemudian atas saran sang kemenakan dipanggillah si pandai emas, para orang terpelajar, para penulis naskah, dan juga orang-orang yang memperbaiki, dan juga para pengawas. Menurut sang Raja, kelihatannya tidak ada masalah, dan justru menganggap berhasil. Sebagai hadiahnya, kalung emas dikalungkan di leher sang kemenakan Raja sebagai pemimpin projek mendidik burung tersebut. Suatu hari, bersama menteri-menteri, teman-teman, dan penasihat-penasihatnya, sang Raja melihat sendiri metode pengajaran yang sedang gencar-gencarnya diterapkan untuk mendidik sang burung. Untuk itu, penyambutan pun dilakukan lsecara uar biasa,. Di pintu masuk, berbagai musik dari segala alat musik dibunyikan bersama-sama. Para cendekiawan menyanyikan seloka-seloka suci. Para pandai besi, pekerja, tukang emas, penulis naskah, penasihat, dan terutama kerabat jauh dan kerabat dekat raja mengelu-elukamya dengan teriakan selamat datang. Sang Raja yang terbuai dan kagum oleh sambutan tersebut justru tidak jadi sampai mengunjungi tempat burung yang sedang menjalani pendidikan tersebut. Suara-suara musik, nyanyian-nyanyian penuh makna, dan sanjungan-sanjungan dari kemenakan membuat sang Raja lupa akan tujuan utamanya. Namun ternyata tukang kritik tidak tinggal diam. Ia menyadarkan sang Raja akan kasalahannya ini, sehingga sang Raja berbalik kembali untuk melihat langsung pendidikan proses pendidikan untuk burung tersebut. Sang Raja kembali menemui para cendekiawan dan menanyakan langsung proses pendidikan terhadap si burung bodoh itu. Setelah menyaksikan ia pun sangat terkesan: Metodenya jauh lebih besar dari burung itu sendiri sehingga si beo itu sendiri hampir tak tampak. San Raja merasa yakin bahwa tidak ada kekurangan apa pun dalam proses pendidikan itu. Tidaklah menjadi masalah meskipun tidak ada makanan, tak ada air dalam sangkar. Yang ada hanya.buku-buku yang disobek lembar demi lembar, dan dengan ujung pena yang tajam lembaran-Iembaran kertas itu dijejalkan ke tenggorokan si burung. Ketika Raja naik lagi ke gajahnya ia memperingatkan si tukang kritik bahwa hadiah baginya nanti adalah cambukan rotan. Hari demi hari bumng itu tampak semakin sekarat mengikuti segala aturan kehormatan makliluk beradab. Namun para pengawal yakin bahwa ada harapan. Kebiasan burung pun terpasung. Ia tidak bisa lagi menatap cahaya pagi dan mengibas-ngibaskan sayapnya. Kemudian ia melampiaskannya dengan mencoba menggigit palang kandang. Para punggawa segera bertindak. Sang polisi segera mengamankan keadaan, sementara sang pandai besi membuat rantai khusus agar si burung bodoh tidak bisa melepaskan. Semua yang terlibat mendapat sanjungan dan keuntungan. Si orang terpelajar dengan pena di tangan kanan dan tangkai besi tajam di tangan kirinya selalu mengeluarkan aturan-aturan yang selanjutnya hanya bisa dibenarkan atas nama pendidikan. Juga reputasi si pandai besi naik, perhiasan emas menutupi tubuh istrinya; dan hadiah-hadiah menghujani si polisi, karena raja begitu berkenan dengan kewaspadaamya. Begitu mengetahui si burung itu mati, saja sang Raja ingin mencari tahu yang sebenarnya terjadi dengan kematian burung itu. Ia kemudian menyuruh burung itu dibawa ke hadapannya. Burung itu pun dibawa ke hadapan raja. Bersama burung itu datang polisi, pejalan kaki, dan orang-orang di atas kuda. Raja mengelus burung itu. Burung itu tidak mengeluarkan suara, lemah atau pun keras, Hanya bunyi kering halaman-halaman buku yang dibalik-balik yang terdengar di perut burung itu. 3. Tinjauan Teoritis 3.1. Tokoh dan Penokohan Biasanya di dalam suatu cerita, termasuk cerita pendek, terdapat tokoh cerita atau pelaku cerita. Tokoh cerita bisajadi hanya berjumlah satu tokoh saja, mungkin lebih. Tokoh yang paling banyak peranannya di dalam suatu cerita disebut tokoh utama. Tokoh utama yaitu karakter yang terkait dengan semua peristiwa berlangsung di dalam suatu cerita. (Stanton, 2007: 33) Tokoh utama tersebut bisa hanya satu atau juga bisa beberapa. Selain itu, tokoh-tokoh bisa dikelompokkan dalam tokoh protagonist dan antagonist, untuk menimbulkan konflik dalam suatu cerita. Robert Stanton dalam Semi menyatakan bahwa dengan penokohan dalam fiksi dapat dipandang dari dua sisi. Sisi pertama: mengacu pada orang atau tokoh yang bermain dalam cerita; selanjutnya sisi kedua mengacu pada perbauran dari minat, keinginan, emosi, dan moral yang membentuk individu yang bermain dalam suatu cerita. (Semi, 1984: 31) Jadi penokohan mengacu kepada dua hal yaitu tokoh itu sendiri dan bagaimana kepribadiaan yang dimiliki oleh tokoh tersebut dimunculkan. Sementara itu Nurgiantoro menyampaikan pengertian yang senada bahwa istilah penokohan mengacu pada tokoh dan perwatakan, yakni pelaku cerita dengan segala aksi dan tindakannya yang berkembang dalam suatu cerita. (2005: 74) Dalam cerita anak, tokoh dapat berupa manusia, binatang atau mahluk dan objek lain seperti mahluk halus seperti peri atau hantu) dan juga bisa berupa pepohonan. Tokoh-tokoh selain manusia tersebut, biasanya juga dapat bertingkah laku dan berpikir sebagaimana halnya manusia. Tokoh cerita diwujudkan dalam berbagai perwatakan sehingga tokoh yang satu berbeda dengan tokoh-tokoh yang lain. Pada urnumnya cerita anak menampilkan tokoh yang sangat kontras antara tokoh baik dan jahat, atau antara tokoh golongan putih dan golongan hitam. Jarang sekali diternukan tokoh "hybrid" (tokoh baik yang sesekali jelek atau sebaliknya) dalam cerita anak. Selanjutnya, bila dilihat dari sisi perwatakan, tokoh-tokoh dalam cerita bisa memiliki dua karakter, yakni karakter bulat (round character) atau karakter datar (flat character). Tokoh-tokoh cerita pendek atau cerpen lebih banyak menggunakan tokoh berkarakter datar (flat character) dari pada berwatak bulat (round character). (Nurgiantoro, 2005: 77). Flat character sering digambarkan sebagai tokoh yang berwatak sederhana, tidak mengalami perubahan yang esensial, statis, dan biasanya dari awal hingga akhir cerita. Misalnya saja seperti tokoh-tokoh dalam Kisah Seekor Burung yang Bodoh, karya Rabindranath Tagore ini, para tokoh dari awal hingga akhir cerita tidak mengalami perubahan watak Dalam penceritaan, pengarang sering kali menggambarkan atau memperkenalkan perwatakan tokoh melalui dua cara. Pertama, dengan secara langsung, pengarang menyebutkan bagaimana sifat tokoh dalam cerita misalnya misalnya si tokoh tersebut keras kepala atau sebaliknya penurut, tekun atau sebaliknya tidak penyabar, rendah hati atau sebaliknya sombong, dan sebagainya. Kedua, pengarang menggambarkan watak tokoh melalui beberapa hal seperti pemilihan nama dari setiap tokoh, dialog antara tokoh dalam cerita, tindakan para tokoh, dan sebagainya, (Nurgiantoro, 2005:74-80) 3.2. Kritik Kritik merupakan suatu tidakan yang ditujukan kepada oarang atau pihak lain yang berlaku menyimpang dari norma-norma yang ada. Misalnya terjadi penyimpangan di bidang agama, politik, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Ada dua jenis kritik yang paling mendasar, yautu kritik membangun atau kritik merusak. Kritik membangun ditujukan untuk perbaikan perilaku para penyeleweng. Adapun kritik merusak ditujukan untuk menghancurkan si penyeleweng itu itu sendiri. Tentu saja para sastrawan tidak akan menyampaikan kritik secara langsung terhadap perilakuperilaku yang menyimpang di masyarakat tersebut. Mereka menggunakan simbol-simbol melalui tokoh dan penokohan dalam bentuk cerita. Perwatakan para tokoh dibuat sedemikian rupa sehingga perilaku mereka bisa pembaca interpretasikan sebagi kritikan. Kritikan itu bisa ditujukan langsung terutama apabila para pembaca merupakan pelaku dari penyimpangan-penyimpangan di masyarakat tersebut. Juga segai sarana pendidikan moral bagi para pembaca yang netral dari masalah kepentingan tersebut. Yang lebih dahsyat lagi adalah sering kali kritikan ini menimbulkan dampak terhadap masyarakat yang menjadi korban dari suatu tindakan untuk berbalas melakukan tindakan-tindakan untuk mendapatkan perubahan, seperti novel Uncle Tom’s Cabin karya Becker stewe. Karya ini mampu menimbulkan perubahan system perbudakan di Amerika Seriukat.
Method
Untuk memperoleh hasil sesuai yang diharapkan, dalam melakukan suatu penulisan perlu digunakan metode yang sesuai. Karena objek kajian dari penelitian ini tentang suatu tulisan karya satra berupa cerpen, maka penulis gunakan studi dokumen dengan metode penelitian kualitatif. Melalui metode ini, penulis berupaya menganalisis karakter dan karakterisasi para tokoh dalam cerpen Seekor Burung yang Bodoh karya Rabindranath Tagore. Langkah pertama, penulis memahami isi cerpen tersebut terlebih dahulu. Kmudian setiap tokoh dianalisis untuk mengetahui makna di balik penokohannya masisngmasing
Discussion
Cerita pendek Burung yang Bodoh karya Rabindranath Tagore ini merupakan suatu cerpen yang ditujukan unutk mengkritik sikap dan perilaku para pemimpin atau pejabat pemerintahan. Perilaku merka yang tampak bodoh dan ketolol-tololan ini meyimbulkan fenomena-fenomena yang sebenarnya terjadi dalam system pemerintahan di berbagai Negara saat ini. Banyak kejanggalan, ketimpangan dan ketidakaadilan terjadi dan berlang terus. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat penokohan para tokoh yang ada di dalam cerpen itu. 5.1. Tokoh sang Raja Tokoh sang Raja digambarkan sebagai seoarng pemimpin yang baik. Ia memperhatikan segala sesuatu yang menyangkut urusan kerajaan. Ketika mendapat laporan ada seekor burung bodoh yang mengganggu dan merugikan kerajaan, segera pula ia mengambil tindakan. Tindakan yang diambil pun bukannya menghukum si burung, tetapi malah sebaliknya untuk mendidiknya. Pada suatu saat hiduplah seekor burung yang bodoh. la menyanyikan lagu-lagu, tetapi tidak bisa membaca buku-buku suci. la melompat, ia terbang ke sana kemari, tetapi tidak tahu tata krama. Sang raja berkata, "Burung seperti itu tak ada gunanya; dan karena suka makan buahbuahan hutan ia tidak berguna bagi pasar-buah kerajaan." Raja memanggil menterinya dan berkata, "Burung itu sebaiknya dididik." (Tagore, 19--: 77) Sebagai pemegang tampuk kekuasaan tertinggi, sang Raja sudah berusaha melakukan musyawarah dengan para aparat kerajaan. Namun sifatnya sangat umum. Sementara detail pelaksanaannya sepenuhnya diserahkan sepenuhnya kepada petugas yang diserahinya, tanpa ada pengarahan terhadap apa yang yang akan mereka lakukan.. Kebijakan yang diambil sepenuhnya diserahkan kepada petugas yang diserahinya. Tanggung jawab mengajari burung itu diberikan kepada para kemenakan raja. Para ahli duduk bersama untuk menyatakan pendapat mereka. Pertanyaamya adalah, apa penyebab kebodohan macam itu?" (Tagore, 19--: 78) Sikap sang Raja kepada orang-orang yang dianggap berjasa sangat belebihan. Tanpa dilandasi pertimbangan yang mendalam, ia menghambur-hamburkan kekayaan negara untuk hadiah-hadiah bagi mereka yang dianggap berjasa tanpa melalui prosedur dan aturan. Sebagai contoh, si pandai besi, orang terpelajar, dan polisi mendapat hadiah yang bertumpuk-tumpuk bgitu kelihatan ada jasanya, meskipun itu hanya sebatas ide. Dengan kegembiraan teramat sangat ia pun pulang, Si pandai emas menerima hadiah – sekantung penuh Dengan kegembiraan teramat sangat ia pun pulang, (Tagore, 19--: 78) Para penulis naskah menerima imbalan yang bertumpuk pada punggung seekor sapi jantan. (Tagore, 19--: 78) Puas dengan yang dikatakan itu, sang raja memahami keadaan yang sebenamya, dan karena itu kalung emas dikalungkan di leher sang kemenakan. . (Tagore, 19--: 79) Reputasi si pandai besi naik, perhiasan emas menutupi tubuh istrinya; dan hadiah-hadiah menghujani si polisi, karena raja begitu berkenan dengan kewaspadaamya! (Tagore, 19--: 82) Lebih lanjut sang Raja juga merupakan sosok pemimpin yang suka seremonial sekalipun hanya untuk urusan-urusan yang kecil. Ketika mengunjungi tempat berlangsungnya pendidikan bagi si burung bodoh, ia diiringi banyak punggawa dan disambut meriah kedatangannya. Sang raja menyatakan keinginamya untuk melihat sendiri metode pengajaran yang sedang gencar-gencarnya diterapkan. Suatu hari, bersama menteri-menteri, teman-teman, dan penasihat-penasihatnya, ia datang mengunjungi sang murid. (Tagore, 19--: 79-80) Dalam menjalankan tugas mendidik si burung bodoh itu, sang Raja banyak melibatkan sanak saudara dan kerabatnya. Ia mengangkat kemenakannya untuk memimpin pelaksanaan pendidikan bagi si burung. Para kemenakan yang lain juga terlibat dalam pengawasan pembuatan kandang dan penyusunan naskah untuk bahan ajar si burung. Para kemenakan raja kemudian memanggil para penuus naskah. Mereka datang dan menyalin buku-buku dan kemudian menyalin buku-buku yang sndah disalin sampai buku-buku tertumpuk setnggi gunung. (Tagore, 19--: 77) Para kemenakan raja terus mengawasi kandang yang mahal ini. Selalu ada saja yang harus diperbaiki dan lagi ketika orang niemperhatikan metode pengelapan, penyekaan, dan pemolesamya yang sangat cermat, (Tagore, 19--: 77) Akhirnya ketika mengetahui bahwa sistem pendidikan yang diterapkan mengakibatkan si burung bodoh itu sekarat dan mati, sang Raja tidak melakukan tindakan tegas kepada para oknum yang terlibat. Ia beranggapan itu suatu kejadian yang tidak perlu dipermasalahkan. Perilaku dan tindakan sang Raja si burung bodoh itu dimaksudkan untuk memberikan kritikankritikan kepada para penguasa. Mereka senang dan dengan mudah menghambur-hamburkan uang negara untuk projek-projek tidak ada artinya. Meskipun sudah menghabiskan uang banyak, projek yang gagal dianggap hal yang wajar dan tidak perlu ada yang mempertanggungjawabkan. Para pemimpin juga senang dengan mnghambur-hamburkan uang untuk pesta-pesta seremonial berupa penyambutan yang meriah untul hal-hal yang sangat sepele. Sang Raja juga terbuai oleh sanjungan-sanjungan dan perhormatan. Kemana ia berkunjung mendapatkan sambutan-sambutang yang sangat meriah. Fenomena ini pun terlihat pada saat ini ketika seorang presiden mau lewat. Anak-anak sekolah diminta untuk berbaris sepanjang jalan akan dilalui sambil menunggu berjam-jam menahan panas terik matahari. 5.2. Tokoh Kemenakan sang Raja Tokoh Kemenakan sang Raja merupak sosok yang “ngolor” terhadap pimpinan. Apa yang ia lakukan hanya untuk menyenangkan sang Raja tanpa didasarkan fakta yang ada. Ia lebih suka membuat laporanlaporan maipulatif atau fitif untuk memuaskan sang Raja sekaligus mendatangkan keuntungan bagi dirinya. Hal ini sampai ke telinga raja. la memanggil salah seorang kemenakamya dan bertanya, "Kemenakanku, apa makna yang kudengar ini?" Sang kemenakan menjawab, "Yang Mulia, bila Yang Mulia ingin mengetahui yang sebenarnya, panggillah si pandai emas, para orang terpelajar, para penulis naskah, dan juga orang-orang yang memperbaiki dan juga para pengawas. Para pencari kesalahan sedang kelaparan, itulah sebabnya mereka harus mengkritik!" (Tagore, 19--: 79) Sang kemenakan berkata, "Yang Mulia. Bukankah sekarang Baginda telah menyaksikan sendiri upacara yang luarbiasa ini?" Raja menjawab, "Luar biasa. Dan terutama suara musik itu sangat mengesankan!" Sang kemenakan menyambung, "Tidak hanya suara, tetapi maksud di balik bunyibunyian itulah yang penuh makna." (Tagore, 19--: 80) Dengan kata-kata manis dan memojokkan si pengritik, si kemenakan berusaha mengambil hati sang Raja dan berpihak padanya. San Raja pun terkecoh menyanjung keberhasilan si kemenakannya sekalipun hanya melalui laporan lisan dan kepiawaiannya membelokkan masalah yang sesungguhnya. Raja sangat terkesan, dan ketika ia berjalan ke luar untuk mengendarai gajahnya, ....Tagore, 19--: 80) Melalui tokoh si kemenakan ini, pengarang ingin menyampaikan kritik terhadap budaya ngolor dan Asal Bapak Senang (ABS). Banyak pejabat-pejabat yang tidak becus berkerja namun selalu mendapat kenaikan pangkat dan jabatan dengan mulus karena keterdekatannya dan kemampuannya membisikkan kata-kata manis dan pujian kepada pemimpin mereka skaligus juga pemberian upeti. Mereka yang “tahu diri” terhadap atasannya akan dengan mudah mendapatkan projek sekalipun nantinya hasil projek itu dijamin tidak akan baik karena dari awal sudah digerogoti dananya. 5.3 Tokoh sang Pandai Besi Tokoh pandai besi merupakan orang yang ahli di bidangnya. Ia mengerjakan pembuatan sangkar emas untuk si Burung yang Bodoh itu dengan cermat. Kemudian hasilnya sungguh mengagumkan. Banyak orang yang berdecak kagum. Pandai emas mulai membangun kandang emas Kandang itu luar biasa sekali sehingga oarang-orang datang berkerumun dari segala punjuru untuk mengetahuinya. Yang lin berkala, "Bahkan seandainya buung itu tidak belajar apa-apa ia palng tidak memiliki| kandang. Betapa beruntungnya burung itu!" (Tagore, 19--: 78) Di tempat pelajaran sedang berjalan si pandai besi muncui lengkap dengan tungku pembakaramya, dengan palunya. Kemudian ada pekerjaan memalu yang luar biasa. Rantai besi dibuat, sayap burung itu juga dijepit. (Tagore, 19--: 80) Tokoh pandai besi ini berpaya menanamkan kepercayaan pada pelanggan dengan mengerjakan tugas yang diberikannya secara sungguh-sungguh. Tentu saja harapannya selain mendapat pah yang lebih tinggi dia kemudian digunakan lagi untuk pengerjaan hal sama, yaitu ketika perlu pembuatan rantai untuk si burung. Kritikan yang dimunculkan melalui tokoh pandai besi ini adalah motif profit oriented dari orangoarng yang mempunyai keahlian tanpa memikirkan tujuan dan dampak dari apa yang mereka lakukan. Mereka bekerja semata-mata memenuhi pesan dan mendapatkan uang. Nurani tidak pernah dilibatkan dalam urusan ini. Ia tidak mau tahu apakah hasil yang diciptakannya untuk tujuan baik atau untuk tujuan jelek. 5.4 Tokoh sang Terpelajar Tokoh sang pelajar dengan yakinnya menerapakan metode-metode yang menurutnya jitu untuk mendidik si burung yang dianggap bodoh itu. Pertama-tama dipersiapkan materi untuk bahan ajar yang begitu banyak hingga bertumpuk menggunung. Para kemenakan raja kemudian memanggil para penulis naskah. Mereka datang dan menyalin buku-buku |dan kemudian menyalin buku-buku yang sndah disalin sampai buku-buku tertumpuk setnggi gunung. (Tagore, 19--: 78) Metodenya jauh lebih besar dari burung itu sendiri sehingga si beo itu sendiri hampir tak tampak. (Tagore, 19--: 80) Untuk mendidiknya naskah yang menggunung itu disobek-sobek kemudian sedikit demi sedikit sobekan-sobekan tersebut dijejalkan ke mulut si burung bodoh. Dengan cara ini diharapkan semua ilmu yang ada dalam naskah akan diserap oleh si burung. Tak ada makanan, tak ada air dalam sangkar. Yang ada hanya.buku-buku yang disobek lembar demi lembar, dan dengan ujung pena yang tajam lembaran-Iembaran kertas itu dijejalkan ke tenggorokan si burung. Nyanyiamya sama sekali lenyap, tidak ada celah sekecil apa pun di tenggorokamya yang bisa ditembus suara. Suatu peristiwa yang !uar biasa niempesona. (Tagore, 19--: 81) Selain itu juga tokoh sang terpelajar menerapkan kedisiplinan yang ketat tehadap burung dalam menerapkan metode pendidikannya. Kemudian si orang terpelajar dengan pena di sana tangan dan tangkai besi tajam di tangan yang Iain mengeluarkan aturan selanjutnya yang hanya bisa dibenarkan atas nama pendidikan! (Tagore, 19--: 82) Dari tokoh sang terpelajar ini tercermin kritikan tentang banyaknya orang yang sok merasa pandai mekipun sebenarnya tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu kalau mereka itu tidak tahu, jadi seolah-olah merasa tahu. Akibatnya pihak lain yang akan jadi korbannya. Agar dianggap pandai dan terpelajar serta bisa menduduki jabatan-jabatan terterntu, banyak orang melakukan jalan pintas. Mereka membeli ijasah dari institusi tertentu, atau sekolah /kuliah super kilat untuk mendapat ijasah sebagai bukti pengakuan. Tentu saja orang tersebut tidak akan berkemampuan bila harus menjalankan tugas sesuai dengan profesi dalam ijasahnya. 5.5. Tokoh sang Polisi Sang polisi merupakan aparat yang loyal terhadap tugasnya. Kemana sang Raja pergi selalu dikawalnya. Misalnya ketika sang Raja mengunjungi tempat pendidikan bagi si burung bodoh. Ia juga dengan penuh kewaspadaan mengamati perilaku yang membahayakan dan segera mengambil tindakan yang mengakibatkan burung itu semakin menderita. Namun karena kebiasaan, burung itu menatap cahaya pagi, dan begitu saja mencoba mengibas-ngibaskan sayapnya. Kadang bahkan lerlihat bahwa paruhnya yang tipis mencoba menggigit palang kandang itu. Sang polisi berkata, "Ini suatu kebiasaan yang tidak benar"(Tagore, 19--: 81) Burung itu dibawa ke hadapan raja. Bersama burung itu datang polisi, pejalan kaki, dan orang-orang di atas kuda. " (Tagore, 19--: 82) Dari kutipan di atas tokoh, sang polisi selalu berusaha melakukan tindakan-tindakan tegas bagi burung yang menurut dia bisa membahayakan kelangsungan projek pendidikan si burung itu. Melalui tokoh polisi ini, pengarang mencoba mengritik aparat keamanan yang sering bertindak semena-mena terhadap rakyat. Sering mereka mencari-cari kesalahan untuk mendapatkan sesuatu atau dianggap berjasa tanpa memikirkan akibat yang diderita oleh koorbannya. 5.6. Tokoh sang Pengkritik Tokoh sang pengritik merupakan antagonist dalam cerita Seekor Burung yang Bodoh ini. Ia selalu membisikkan atau menyuarakan ketidakberesan yang terjadi agan sang Raja bertinda. Misalnya, dia mengingatkan sang Raja yang kemudian tidak jadi melihat langsung proses pendidikan si burung sesuai dengan rencana kunjungan tersebut. Raja sangat terkesan, dan ketika ia berjalan ke luar untuk mengendarai gajahnya, tukang kritik yang bersembunyi di balik semak-semak berkata, "Apakah Yarig Mulia sudah menyaksikan burung itu?" "O ya, memalukan sekali! Aku sama sekali lupa? Aku tidak melihat burung itu!" (Tagore, 19--: 79) Ternyata usaha sang pengkritik tidak membuahkan hasil. Justru dia menuai hasil kritikannya tersebut. Dia mendapatkan hukuman dari sang raja berupa cambukan rotan. Ketika raja naik lagi ke gajahnya ia memperingatkan si tukang kritik bahwa hadiah baginya nanti adalah cambukan rotan. (Tagore, 19--: 81) Kritikan yang ingin disampaikan melalui sang pengkritik adalah sistem pemerintahan yang alergi terhadap segala macam kritikan. Apa yang sudah diambil dan menjadi keputusan pemerintah melalui aparat-aparatnya dianggap merupakan tindakan yang sudah baik. Ketidakberesan yang muncul pun tidak mau dikritiknya. Para pengkritik biasanya akan dituduh balik mencemarkan nama baik. Pada akhirnya justru sang pengkritik yang kemudian masuk penjara. 5.7. Sosok Burung yang Bodoh Burung yang Bodoh merupakan objek penderita dari sebagi tokoh utam dalam cerita Seekor Burung yang Bodoh ini. Ia merupakan sesosok burung “bawel” suka bikin olah dan aktifitasnya dianggap merugikan kerajaan. Si burung yang sudah dicap burung bodoh itu masih lagi mengganggu ketenangan dengan berkoar-koar melalui kcauannya. Iia juga mempunyai kebiasaan yang merugikan dengan memakan buahbuahan milik kerajaan. Hal ini sebagaimana yang sudah dikutip dalam halaman 10 dalam artikel ini. Perilaku burung itu mengarahkan pada nasibnya untuk mendapat pendidikan khusus dengan melibatkan berbagai aparat dan para ahli. Mereka adalah kemenakan raja, pandai besi, orang pintar, dan polisi. Tanpa bisa berbuat apa-apa, si burung harus menjalani pendidikan berat yang dianggapnya paling sesuai. Namun demikian pendidikan itu bukannya membuat ia jadi pintar, tetapi justru berakibat fatal yang berakhir dengan kematiannya. Tak ada makanan, tak ada air dalam sangkar. Yang ada hanya.buku-buku yang disobek lembar demi lembar, dan dengan ujung pena yang tajam lembaran-Iembaran kertas itu dijejalkan ke tenggorokan si burung. Nyanyiamya sama sekali lenyap, tidak ada celah sekecil apa pun di tenggorokamya yang bisa ditembus suara. (Tagore, 19--: 81) Burung itu mati. Tepat pada saat tak seorang pun mampu berkata apa pun. Pencari kesalahan yang jahat menyebarkan berita itu, "Burung itu mati." (Tagore, 19--: 81) Sungguh malang nasib si burung bodoh. Pendidikan yang diterimanya justru mengantarkan ia pada ajalnya.
Conclusion
Melalui cerita yuang kelihatannya bombastis tersebut, dalam cerita Seekor Burung yang Bodoh ini, Rabindranath Tagore mencoba menberikan kritikan-kritikan terhadap fenomena yang terjadi dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan. Dalam penyelenggaraan pemerintahan itu terlibat pemimpin utama, yang diwakili oleh sang Raja; para pejabat dan aparat, kaum terpelajar, dan kelompok profesional yang diwakili oleh kemenakan Raja, polisi, oarng terpelajar, dan pandai besi. Sementara sosok burung mewakili keberadaan rakyat jelata yang bisa diperlakukan seenaknya oleh para pengauasa. Kritikan-kritikan dimunculkan melalui tokoh dan penokohan para pelaku di atas. Kritikankritikan itu ditujukan kepada para penyelenggara negara yang melakukan penyelewengan dan pembenaran diri dalam menjalankan tugasnya. Kritikan juga ditujukan bagi mereka yang lebih mementingkan uang dari pada nasib rakyat.