Kembali
16
1
2023 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 7 · 4 ISSN 2598-3040

Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa pada Era New Normal

Universitas Negeri Malang; Universitas Negeri Malang; Universitas Negeri Malang

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perilaku pencarian informasi mahasiswa pada masa New Normal untuk memenuhi kebutuhan akademik dan melihat pola pencarian informasi mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif data berupa teks deskriptif yang telah diolah dari hasil wawancara yang telah dilakukan. Sumber data berupa hasil wawancara mendalam dengan mahasiswa Universitas Negeri Malang program studi S1 Ilmu Perpustakaan angkatan 2019. Teknik pengumpulan data dilaksankan dengan cara wawancara mendalam dan dianalisis dengan cara mereduksi data, menyajikan data dan penarikan kesimpulan. Model perilaku pencarian informasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah model perilaku pencarian informasi Ellis yang dikembangkan oleh Meho dan Tibbo (2003) terdiri 10 tahap pencarian informasi yaitu starting, chaining, browsing, monitoring, accessing, differentiating, extracting, verifying, networking, information managing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa melakukan semua komponen pencarian informasi di era New Normal. Mahasiswa juga mengalami kesulitan pada beberapa aktivitas pencarian informasi. Pola perilaku pencarian informasi mahasiswa pada era New Normal terdiri dari sembilan tahapan dan jarang melakukan tahapan monitoring. Pada penelitian ini juga ditemukan tahapan pola pencarian informasi

Abstract

This study aims to describe student information-seeking behavior during the New Normal period to meet academic needs and look at student informationseeking patterns. The research method used is the descriptive qualitative research method. The data is in the form of descriptive text which has been processed fcrom the results of the interviews that have been conducted. The source of the data is the results of in-depth interviews with students of the State University of Malang, Bachelor of Library Science study program class of 2019. The data collection technique is carried out by means of in-depth interviews and analyzed by reducing data, presenting data, and drawing conclusions. The information-seeking behavior model used in this study is the Ellis information-seeking behavior model developed by Meho and Tibbo (2003) consisting of 10 information-seeking stages, namely starting, chaining, browsing, monitoring, accessing, differentiating, extracting, verifying, networking, and information managing. The results of the study show that students carry out all components of information seeking in the New Normal era. Students also experience difficulties in some information search activities. The pattern of student information-seeking behavior in the New Normal era consists of nine stages and rarely carries out monitoring stages. In this study, it was also found that the stages of the information search pattern were carried out in one stage and there were also stages of information search which were carried out twice.
Keywords: information seeking behavior · student · new normal

Introduction

Pada era globalisasi, setiap orang membutuhkan informasi untuk menambah wawasan baru, melalui informasi dapat memiliki pengetahuan. Tanpa informasi orang akan pasif, tetapi dengan menguasai informasi dapat mendorong seseorang lebih berkreasi untuk melakukan sesuatu. Maka dari itu pemenuhan kebutuhan informasi sangat penting. Pada saat ini pemenuhan kebutuhan informasi tidak hanya berasal dari sumber informasi tercetak saja seperti majalah, koran, dan buku; terdapat sumber informasi elektronik yang tersedia seperti social media, e-book, e-journal dan sejenisnya (Nurfadillah and Ardiansah, 2021). Tersedianya sumber informasi digital tentunya membawa perubahan khususnya dalam pemilihan penggunaan sumber informasi. Perubahan tersebut dapat dilihat dari hasil survei literasi digital yang menunjukkan bahwa penggunaan media cetak mengalami penurunan dari 9,7% menjadi 4% pada tahun 2021 (Databoks, 2022) selain itu pengguna internet di Indonesia mengalami peningkatan yang ditunjukkan pada tahun 2019 terdapat 174 juta pengguna dan pada tahun 2022 orang Indonesia yang menggunakan internet hampir 205 juta pengguna (DataIndonesia.Id, 2022). Dapat dilihat bahwa penggunaan sumber informasi digital mengalami peningkatan pada masa new normal dan juga adanya penggunaan tren sumber informasi digital. Penyebab penggunaan sumber informasi digital mengalami peningkatan karena adanya efek dari penyebaran penyakit baru Corona Virus Disease (COVID – 19) telah mengganggu kehidupan di seluruh dunia. Pada saat Covid – 19 World Health Organization (WHO) mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk membatasi perjalanan, melakukan penutupan instansi pendidikan, pasar dan tempat umum serta melakukan isolasi mandiri dan mengurangi kegiatan di luar rumah untuk membatasi penyebaran Covid – 19 (Soroya et al., 2021). Hingga saat ini Covid – 19 masih terus mewabah. Upaya – upaya telah dilakukan pemerintah, termasuk hidup berdampingan dengan Covid – 19 atau bisa disebut dengan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) bisa juga disebut dengan New Normal (Prasetya et al, 2021). Istilah “New Normal” ini memiliki pengertian yang tidak pasti, istilah New Normal diartikan oleh banyak orang sebagai pengajaran dan pembelajaran yang lebih didorong oleh teknologi dalam konteks pasca covid (Culala, 2022). Dapat disimpulkan bahwa era New Normal merupakan tatanan kehidupan baru bagi masyarakat dimana pada kehidupan sehari – hari dibantu oleh teknologi. Melihat peningkatan pemanfaatan sumber informasi digital dan perubahan – perubahan yang terjadi di era new normal tentu membawa dampak pada mahasiswa. Mahasiswa juga memiliki kewajiban yang belum dituntaskan seperti tugas kuliah atau juga karena faktor dari dalam yaitu untuk mewujudkan kepuasan diri sendiri (Hajar and Rachman, 2020). Mahasiswa dalam menyelesaikan kewajibannya yaitu pemenuhan informasi untuk tugas akademik harus menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan pembelajaran yang berbeda, penggunaan platform online dan juga dalam mengatur waktu untuk diri mereka sendiri dalam menyelesaikan tugas – tugas akademik. Selain hal tersebut, melihat sistem pendidikan yang digunakan di perguruan tinggi yang menuntut mahasiswa untuk senantiasa meningkatkan pengetahuannya dengan mencari, membaca, dan memanfaatkan berbagai sumber informasi terkini dan relevan untuk mendukung kegiatan akademik seperti penelitian dan publikasi ilmiah, yang keduanya membutuhkan informasi yang cepat (Wibowo et al, 2018). Maka dari itu mahasiswa dalam pengerjaan tugas di era New Normal mebutuhkan informasi yang relevan dan valid serta menguasai dalam hal penggunaan teknologi sumber informasi. Melihat pesatnya perkembangan teknologi, banyak informasi yang beredar (information overload), oleh karena itu perlu dilakukan pemilahan informasi sehingga informasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dan menjadi landasan pengambilan keputusan yang akan datang (Erlianti, 2020). Dampak dari penerimaan informasi yang berlebihan ini dapat menciptakan stres, kelelahan, dan bahkan penghentian penggunaan sumber informasi dalam studi terbaru (Fu et al., 2020). Menghindari terjadinya dampak dari information overload maka diperlukan strategi pencarian informasi pada era New Normal. Penelitian ini menggunakan teori perilaku pencarian informasi David Ellis yang dikembangkan oleh meho dan tibbo (2003). Teori ini dikembangkan karena disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi, menjadi sepuluh karakteristik pembentuk perilaku pencarian informasi yaitu Starting; Chaining; Browsing; Monitoring; Accessing; Differentiating; extracting; Verifying; Networking; Information Managing (Meho & Tibbo, 2003). Melihat kondisi saat ini mudahnya penyebaran informasi selain itu mahasiswa juga dituntut untuk menggunakan informasi yang valid dan relevan. Selain alasan tersebut dengan menggunakan teori ini, dapat melihat siklus pencarian mahasiswa di era New Normal. Selain itu teori ini menawarkan konsep-konsep yang kuat, relevan, dan dapat diadaptasi dengan baik untuk menggali pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana mahasiswa mencari, mengakses, dan menggunakan informasi dalam lingkungan pendidikan yang berubah. Teori tersebut juga pernah digunakan pada penelitian – penelitian terdahulu salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Arkan (2018) dengan menggunakan objek penelitian mahasiswa Ilmu Perpustakaan dengan melihat perilaku pencarian informasi ketika mereka melaksanakan perkuliahan dan menerima tugas. Teori ini juga pernah dibandingkan oleh teori – teori lainnya yang dilakukan oleh Joseph dkk (2013) dimana mereka menjelaskan bahwa teori ini dapat digunakan pada terapan lainnya di masa mendatang. Maka dari itu pada penelitian ini menggunakan teori David Ellis yang dikembangkan oleh Meho dan Tibbo (2003) untuk melihat terapan teori ini pada mahasiswa di masa New Normal. Penelitian terkait mengenai perilaku pencarian mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan akademik antara lain, penelitian yang berjudul “Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa Program Sarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Berbasis Sumber Literatur Elektronik dalam Era Digital” oleh Wibowo dkk (2018). Penelitian tersebut menggunakan model perilaku pencarian oleh Ellis, Cox dan Hall (Behavioral Model of Information Seeking Strategies) setelah itu diadaptasi oleh Wilson (a model of the Gross- Information Seeking Strategies) menghasilkan bahwa mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia melakukan perilaku pencarian informasi melalui sumber elektronik yang dilanggan oleh perpustakaan UI, akan tetapi masih menemui hambatan yaitu kurangnya strategi pencarian informasi sumber elektronik di perpustakaan UI. Pada penelitian ini memiliki subjek yang sama dan yang membedakan adalah perbedaan waktu dan model perilaku pencarian yang digunakan. Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kurangnya strategi pencarian sumber elektronik, maka dari itu perlu di teliti kembali pada penelitian ini, dilihat dari masa New Normal yang terbentuk karena teknologi yang berkembang pesat dan penggunaan sumber elektronik yang semakin meningkat dengan menggunakan model perilaku pencarian yang sedikit berbeda. Penelitian kedua yang dilakukan oleh Nurfadillah dan Ardiansyah (2021) yang berjudul “Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa Dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19” dengan pendekatan penelitian kuantitatif deskriptif menunjukkan bahwa penggunaan buku tercetak mengalami penurunan dibanding sebelum terjadinya wabah Covid - 19. Selain itu, kegiatan berkunjung ke perpustakaan berkurang. Sebaliknya penggunaan sumber informasi elektronik seperti e – jurnal semakin meningkat. Pada penelitian ini subjek yang digunakan sama yaitu mahasiswa, akan tetapi terdapat perbedaan pada waktu penelitian yaitu pada masa New Normal yang nantinya hasil penelitian juga akan dibandingkan dengan beberapa data penelitian sebelum masa pandemi Covid -19. Penelitian ketiga yaitu Pola Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa Berprestasi Universitas Negeri Malang Tahun 2019 oleh Shobirin dkk (2020). Pada penelitian ini dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif serta menggunakan model perilaku pencarian informasi David Ellis yang dikembangkan oleh Meho dan Tibbo (2003). Hasil penelitian menyatakan bahwa pola elemen perilaku pencarian informasi setiap Mahasiswa Berprestasi Universitas Negeri Malang tahun 2019 berbeda-beda terdapat sembilan pola perilaku pencarian informasi yang berbeda dan delapan elemen yang dominan. Penelitian yang dilakukan oleh Shobirin dkk (2020) memiliki persamaan dari teori dan penelitian ini nantinya juga akan menjelaskan pola pencarian informasi secara garis besar. Perbedaan dari penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan adalah waktu penelitian dan juga fokus penelitian dimana selain menjelaskan pola pencarian informasi penelitian ini nantinya akan mendeskripsikan bagaimana mereka mencari informasi di setiap tahapan pencarian informasi. Pemahaman dan keadaan yang telah dijelaskan melatar belakangi untuk mengembangkan penelitian yang terkait. Apakah mahasiswa dalam melakukan pencarian informasi dalam mengerjakan tugas mengalami perkembangan melihat kondisi pada masa new normal teknologi informasi perlu dikuasai. Pengetahuan dan kebutuhan merupakan hal yang wajib bagi mahasiwa dalam mengerjakan tugas, setiap mahasiswa juga memiliki kebutuhan informasi yang unik di masa new normal ini melihat kondisi dan fasilitas yang berbeda pasti juga menyebabkan perilaku pencarian informasi yang berbeda pula. Berdasarkan penjelasan di atas ditambah dengan beberapa pertimbangan lainnya penulis tertarik untuk meninjau dan mengkaji lebih dalam mengenai topik penelitian perilaku pencarian informasi dengan judul Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa Pada Era New Normal. Tujuan dari penelitian ini dilakukan adalah 1) Mendeskripsikan perilaku pencarian mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan 2019 Universitas Negeri Malang dalam memenuhi kebutuhan akademik di era New Normal 2) Mendeskripsikan pola perilaku pencarian mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan 2019 Universitas Negeri Malang dalam memenuhi kebutuhan akademi di era New Normal 2. LANDASAN TEORI 2.1 Kebutuhan Informasi Kebutuhan informasi merupakan langkah pertama dalam melakukan manajemen informasi Kebutuhan informasi dapat dipahami sebagai informasi yang harus dimiliki oleh seseorang karena istilah “kebutuhan” juga dapat berarti “sesuatu yang harus dimiliki oleh seseorang”. Belkin (1978) mengungkapakan bahwa permintaan akan informasi muncul ketika seseorang memahami bahwa mereka kekurangan pengetahuan tentang subjek atau keadaan tertentu sehingga mereka ingin mengatasi hal tersebut. Dapat disimpulkan bahwa kebutuhan informasi adalah informasi yang harus dimiliki seseorang ketika berkeinginan untuk mengatasi kekurangan informasi. Menurut Crawford dalam (Devadason & Lingam, 1961) faktor – faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi meliputi jangkauan sumber informasi yang tersedia; penggunaan informasi yang akan digunakan; latar belakang; motivasi, karakteristik individu; kegiatan pekerjaan dan lingkungan sekitar. Setelah seseorang telah mengetahui kebutuhan informasi tentu saja tindakkan yang dilakukan selanjutnya adalah melakukan pencarian informasi. Kebutuhan informasi dan pencarian informasi adalah hal yang selalu berkaitan. 2.2 Perilaku Perilaku Pencarian Informasi Pengertian perilaku pencarian informasi menurut Kuhlthau (1991) adalah pencarian informasi merupakan upaya konstruktif pengguna yang secara aktif mencari informasi dalam upaya untuk memperluas dan meningkatkan pemahaman mereka tentang masalah atau subjek tertentu. Perilaku pencarian informasi ini terjadi karena adanya tuntutan kebutuhan informasi. Perilaku pencarian informasi adalah perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhan informasi (Hajiri, 2017). Kesimpulan yang dapat ditarik dari penjelasan di atas bahwa orang adalah subjek dan objek dari perilaku informasi, dan orang disini sebagai pelaku sekaligus penyampai informasi hanya saja penyampaian sarananya yang berbeda. Contoh dari subjek pencarian informasi adalah mahasiswa, dosen, guru, siswa dan lainnya. Model perilaku pencarian informasi terdapat beberapa jenis, antara lain model perilaku pencarian informasi Willson, Kuhlthau dan Ellis, dari ketiga model perilaku pencarian informasi pada penelitian ini mengambil model perilaku pencarian informasi David Ellis yang dikembangkan oleh Meho dan Tibbo, karena dengan menggunakan model perilaku pencarian informasi milik David Ellis peneliti mendapatkan strategi pencarian informasi sekaligus ciri – ciri perilaku pencarian informasi. Alasan lainnya adalah pada tahapan ini terdapat tahapan penting yang penting dilakukan oleh mahasiswa yaitu tahapan verifying. Melihat kondisi saat ini mudahnya penyebaran informasi selain itu mahasiswa juga dituntut untuk menggunakan informasi yang valid dan relevan. Selain alasan tersebut dengan menggunakan teori ini, dapat melihat siklus pencarian mahasiswa di era New Normal. Selain itu alasan menggunakan model perilaku pencarian informasi yang dikembangkan oleh Meho dan Tibbo model perilaku pencarian informasi dikembangkan sesuai dengan perkembangan teknologi informasi sehingga model perilaku pencarian informasi bertambah menjadi sepuluh karakteristik, melihat perkembangan teknologi informasi saat ini yang sangat pesat. 2.2.1 Model Perilaku Pencarian Informasi David Ellis yang dikembangkan oleh Meho dan Tibbo Pada perilaku pencarian informasi terdapat beberapa model perilaku pencarian informasi yang dikemukakan oleh tokoh – tokoh bidang ilmu informasi salah satunya adalah model perilaku pencarian informasi David Ellis, berikut penjelasan model perilaku pencarian informasi menurut Ellis (1989): 1. Starting, tahapan awal dalam melakukan pencarian informasi. Pada tahapan ini pelaku pencarian informasi melakukan identifikasi kata kunci pada artikel, paper dan sumber informasi lainnya terhadap informasi yang dibutuhkan. 2. Chaining, dalam bahasa Indonesia memiliki arti rantai. Pada tahapan kedua ini pelaku pencarian informasi mengikuti rantai kutipan atau mengikuti hubungan kutipan antara materi. 3. Browsing, pada tahapan ketiga ini pelaku pencarian informasi mengidentifikasi jurnal yang relevan dengan cara melakukan penjelajahan. Pada tahapan ini berbagai metode penelusuran digunakan bisa dengan cara memberi batasan pada materi yang akan dicari bisa juga dengan mengelompokkan materi yang terkait (Ellis, et al., 1993) 4. Differentiating, merupakan tahapan membedakan antara sumber informasi dilihat dari segi sifat dan kualitas sumber informasi yang sedang diperiksa tujuannya untuk menyaring bahan informasi. 5. Monitoring, pada tahapan ini pelaku pencarian informasi melakukan pemantauan pada objek atau subjek yang telah ditentukan untuk menjaga ke up – to – date informasi bisa melalui sumber – sumber informasi tertentu. 6. Extracting, pada tahapan ini pelaku pencarian informasi mengekstrak materi yang relevan untuk diidentifikasi lebih lanjut. Jurnal adalah sumber informasi yang dimanfaatkan pada tahapan ini, terutama jurnal – jurnal yang sudah terakreditasi. Model perilaku pencarian informasi David Ellis dikembangkan lagi oleh Meho dan Tibbo dengan model penelitian adalah mahasiswa fakultas ilmu sosial. Penelitian yang telah dilakukan menghasilkan empat model yaitu: 1. Accessing, merupakan tahapan ketika pelaku pencarian informasi mengakses sumber informasi yang dibutuhkan. Memastikan akses informasi yang dibutuhkan biasa diakses atau tidak, karena sering kali pelaku pencarian informasi menemui hambatan seperti sulitnya akses sumber informasi yang diinginkan sehingga sering kali pelaku pencarian informasi menggunakan sumber sekunder 2. Verifying, kegiatan yang di lakukan oleh pelaku pencarian informasi adalah pengecekan keakuratan informasi yang ditemukan. Pengecekan ini dilakukan untuk mengurangi terjadinya disinformasi terutama informasi yang bersifat sensitive. Pengecekan dilakukan dengan cara bertanya kepada rekan kerja, membandingkan temuan mereka dengan orang lain. 3. Networking, pada tahapan ini pelaku pencarian informasi melakukan diskusi dengan orang lain yang memiliki topik serupa sehingga mereka dapat berbagi informasi. 4. Information managing, pada tahapan ini pelaku pencarian informasi melakukan pengorganisasian informasi yang telah mereka dapatkan. Hal ini dilakukan karena pengetahuan yang mereka dapatkan mudah pengaksesannya serta untuk koleksi pribadi. Jadi setelah dikembangkan model perilaku pencarian informasi maka tahapan perilaku pencarian informasi sebagai berikut: Starting; Chaining; Browsing; Monitoring; Accessing; Differentiating; extracting; Verifying; Networking; Information Managing (Meho and Tibbo, 2003). 2.3 New Normal di Bidang Pendidikan Era New Normal merupakan masa penyesuaian perilaku untuk tetap melakukan aktivitas rutin secara normal dengan tetap menerapkan standar kesehatan untuk mencegah penularan Covid – 19. Beradaptasi dengan pola hidup yang sehat di tengah wabah Covid – 19 merupakan inti dari masa era New Normal. Secara sosial, era New Normal merupakan adaptasi dengan beraktivitas secara normal akan tetapi mengurangi kontak fisik, menghindari kerumunan ketika beraktivitas di luar lingkungan rumah (Wijoyo et al., 2021). Memasuki peradaban baru yaitu era New Normal tentunya masyarakat di seluruh dunia melakukan adaptasi dalam berbagai macam bidang kehidupan salah satunya di bidang pendidikan. Proses pembelajaran dalam bidang pendidikan harus berjalan meski sedang dilanda pandemi Covid – 19. Alhasil dari adanya kebijakan – kebijakan pemerintah ketika pandemi seperti social distancing dsb, mengakibatkan proses pembelajaran dilakukan secara daring. Pembelajaran daring ketika pandemi dibantu dengan media aplikasi elektronik seperti Zoom, Google meet, Google classroom dsb. Akibat dari perubahan proses pembelajaran ketika pandemi Covid - 19 mengakibatkan perubahan cara dalam proses pembelajaran di era New Normal (Firyal, 2020). Menjaga keefektivitasan di sektor pendidikan maka perlu memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran di era New Normal. Penerapan metodologi dan media pembelajaran yang sesuai dengan keadaan di era New Normal membutuhkan kreativitas dan inovasi dikarenakan keterbatasan ruang dan waktu. Salah satu strategi pembelajaran adalah dengan menerapkan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online atau bisa disebut dengan blended learning. Kata “Blended learning” berasal dari kata bahasa inggris “blended” yang menunjukkan arti campuran atau kombinasi, jadi arti blended learning memadukan pembelajaran tatap muka dan virtual. Penerapan sistem blended learning tentu saja memerlukan berbagai jenis media pembelajaran sehingga siswa dapat belajar mandiri dengan nyaman. Alhasil, sistem blended learning menjadi salah satu pilihan pembelajaran yang sangat berhasil di masa New Normal karena dapat menggabungkan keunggulan kedua sistem pembelajaran tersebut dan mengatasi kekurangan dari masing-masing pembelajaran tersebut, sehingga membuat pembelajaran menjadi lebih adaptif (Utari, et al., 2020).

Method

Pendekatan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif deksriptif. Tujuan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif adalah untuk memahami kondisi suatu konteks dengan mengarahkan pada pendeskripsian secara rinci dan mendalam mengenai potret kondisi dalam suatu konteks yang alami, (Nugrahani, 2014, hlm. 90), sehingga ketika penelitian dilakukan peneliti mendapatkan data cara mahasiswa dalam mencari informasi pada New Normal dan dideskripsikan sesuai dengan keadaan di lapangan. Sumber data diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan mahasiswa Universitas Negeri Malang program studi S1 Ilmu Perpustakaan angkatan 2019. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara wawancara mendalam. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman wawancara yang terdiri dari 15 pertanyaan dengan jumlah mahasiswa yang melakukan wawancara adalah 15 orang dengan rincian sebagai berikut: Tabel 1. Rincian narasumber No Inisial Narasumber No Inisial Narasumber 1 RN 9 AR 2 RT 10 NV 3 VN 11 N 4 NW 12 YN 5 RZ 13 WR 6 RR 14 AF 7 AY 15 RS 8 BL Mahasiswa Universitas Negeri Malang program studi S1 Ilmu Perpustakaan angkatan 2019 adalah mahasiswa yang sedang melakukan pengerjaan skripsi, dimana sedang aktif – aktifnya dalam pencarian informasi. Setelah melakukan wawancara selanjutnya adalah melakukan analisis data. Teknik analisis data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan model dari Miles dan Huberman dalam (Sugiyono, 2013, p. 246) yang terdiri dari empat alur yaitu 1) Pengumpulan data, pengumpulan data awal didapatkan dari hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti ketika sedang melaksanakan perkuliahan dengan melihat dan menganalisis mahasiswa ketika mendapatkan tugas pada masa New normal, pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara mendalam dengan mahasiswa dan untuk mendukung data primer maka peneliti menggunakan studi pustaka untuk mendapatkan data sekunder. 2) Reduksi data, setelah data terkumpul data akan direduksi dengan cara pertama, penulis akan memfokuskan pada masalah tertentu, pada penelitian ini penulis memfokuskan pada tiga permasalahan yaitu kebutuhan informasi, perilaku pencarian informasi dan pola perilaku pencarian informasi. Selanjutnya data akan disortir dengan cara memilah data yang penting, menarik, berguna dan baru dari transkrip wawancara. 3) Tampilan data, Pada penelitian ini penyajian data berupa teks deskriptif yang telah diolah dan dikelompokkan berdasarkan fokus penelitian. 4). Setelah tiga langkah – langkah di atas telah dilaksanakan maka tahapn terakhir yang dilakukan adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi yang berisi jawaban dari rumusan – rumusan masalah yang telah dibuat.

Result

Penelitian ini melihat proses pencarian informasi berdasarkan teori dari Ellis (1989) yang dikembangkan oleh Meho dan Tibbo (2003) yang terdiri dari 10 tahapan pencarian informasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Nurfadillah dan Ardiansyah (2021) bahwa pencarian informasi dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber informasi yang berasal dari sumber elektronik, selain itu hasil dari penelitian ini juga menunjukkan bahwa mahasiswa pada masa New Normal dapat membuat strategi pencarian informasi bersumber elektronik dimana hasil penelitian tersebut tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wibowo dkk (2018) karena factor situasi dan kondisi yang berbeda serta teknologi informasi di masa New Normal mengalami peningkatan yang signifikan. Hasil penelitian juga menunjukkan pola pencarian informasi mengalami perbedaan dengan hasil penelitian yang dilakukan Shobirin dkk (2020). Adapun hasil penelitian pencarian informasi oleh mahasiswa di era New Normal sebagai berikut. 4.1 Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa pada Masa New Normal Pada penelitian ini Perilaku pencarian informasi pada mahasiswa dengan informan pada penelitian adalah mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan Universitas Negeri Malang dilihat dengan model David Ellis yang dikembangkan oleh Meho dan Tibbo (2003). Pada teori ini menjelaskan bahwa perilaku pencarian informasi pada setiap individu dalam menemukan informasi bersifat unik dan berbeda – beda, tergantung pada aktivitas penemuan tersebut. Pada teori Ellis ini terdapat 8 karakteristik perilaku kemudian dikembangkan oleh Meho dan Tibbo (2003) menjadi 10 karakteristik perilaku individu dalam menemukan informasi, adapun 10 karakteristik hasil dari wawancara dan analisis sebagai berikut: Mahasiswa Universitas Negeri Malang Program Studi S1 Ilmu Perpustakaan 2019 dalam melakukan pencarian informasi dilatarbelakangi oleh tugas akhir atau skripsi yang harus mereka kerjakan. Pada era New Normal tahapan starting yang dilakukan dapat dilihat pada kutipan 3 berikut: Kutipan 1: “…sebelum aku nentuin topik cari cari referensi aja ya liat artikel – artikel digital tak baca baca sekilas” (NW) Pada kutipan 1 yang dijelaskan oleh informan NW hal yang dipersiapkan sebelum menentukan topik adalah membaca – baca artikel dengan sekilas setelah itu baru menentukan topik apa yang ingin dicari lebih dalam. Cara lainnya adalah dengan pencarian spontan melalui Google dengan mengetikkan judul yang diinginkan, cara ini digunakan untuk mendapatkan referensi setelah itu baru menentukan kata kunci. Menurut Ellis (1989) pencarian spontan dilakukan untuk mendapatkan referensi sehingga individu dapat melanjutkan tahapan pencarian selanjutnya sehingga nantinya akan terhubung pada tahapan chaining. mahasiswa pada era New Normal mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan 2019 Universitas Negeri Malang melakukan tahapan starting melalui sumber informasi digital dengan melihat referensi ataupun membaca sekilas artikel digital. Hasil penelitian pada studi tertentu yang dilakukan sebelum pandemi covid – 19 yaitu ketika keadaan masih normal kegiatan interaksi tidak dibatasi, starting dilakukan dengan bertanya ke teman ataupun dosen untuk mencari gambaran dalam mempersiapkan pencarian informasi (Wibowo dkk, 2018). Melihat mahasiswa dalam melakukan tahapan chaining menggunakan sumber informasi artikel digital, dapat disimpulkan mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan pada masa New Normal ini menggunakan sumber informasi primer dalam melakukan penelusuran kutipan – kutipan yang dibutuhkan. Hal ini juga disebabkan akibat dari masa pandemi, dimana pada Covid -19 open access menjadi salah satu cara dalam pembelajaran Covid 19 (Kusuma and Darma, 2022), sehingga open access mulai dikembangkan pada masa covid – 19, sehingga pada masa New Normal ini mahasiswa masih memanfaatkan open access ini dalam mengerjakn tugasnya. Tahapan kedua adalah mahasiswa melakukan identifikasi sumber referensi atau chaining. Pada era New Normal mahasiswa melakukan identifikasi sumber referensi melalui daftar pustaka dengan tujuan untuk mendapatkan sumber referensi lebih banyak dengan topik yang sedang dibutuhkan, atau disebut dengan teknik backward chaining. Mahasiswa juga menggunakan teknik lain yaitu teknik forward chaining, teknik ini dilakukan dengan cara melihat kutipan yang diinginkan setelah itu merujuk pada daftar pustaka untuk menelusuri sumber primer dari kutipan tersebut untuk mendapatkan kutipan atau informasi yang lebih terpercaya. Tujuan menggunakan teknik forward chaining mahasiswa bisa mendapatkan sumber primer dari informasi tersebut sehingga informasi yang didapatkan menjadi lebih kredibel (Purnama, 2021). Selain dua teknik di atas terdapat cara lain dalam tahapan chaining hal ini diungkapkan pada kutipan 2 sebagai berikut: Kutipan 2: “Karena biasanya saya langsung cari artikel, kalau dapatnya kutipan itu ya saya pakai…” (RS) Pada kutipan 2 penelusuran kutipan dilakukan dengan cara yang lebih simpel untuk mempersingkat waktu dengan mengambil kutipan yang sudah sesuai pada pencarian awal. Hal ini sesuai dengan pendapat Ellis (1989) dimana dalam mengikuti rantai kutipan kadang – kadang pelaku pencarian informasi merasa kutipan – kutipan yang diinginkan tidak sesuai dengan subjek atau kebutuhannya. Hal ini terjadi karena pada masa New Normal sumber informasi saat ini sangat berlimpah, dan juga jika terus menerus melakukan pencarian mahasiswa menemukan kembali kutipan – kutipan yang telah ditemukan. Pada era sebelum pandemi Covid – 19 mahasiswa lebih setuju menggunakan teknik forward chaining (Maharani, 2017), sedangkan pada era New Normal mahasiswa lebih menyukai teknik backward chaining. Tahapan ketiga adalah mahasiswa melakukan penelusuran informasi semi terarah dari berbagai sumber. Sumber pencarian informasi yang sering digunakan adalah Google dengan alasan penggunaan yang mudah dan akses cepat, hal ini dibuktikan melalui hasil wawancara pada kutipan 3: Kutipan 3 : “Google sih jadi cari yang akses mudah aja sama cepat juga masukkin topik yang lagi saya butuhin,” (AR) Selain Google mahasiswa juga menelusuri informasi melalui perpustakaan dengan memanfaatkan layanan yang disediakan oleh perpustakaan seperti OPAC dan layanan repository. Sebelum pandemi ataupun saat pandemi pencarian informasi paling populer adalah dengan menggunakan Google, hasil ini didapatkan dari penelitian Nurfadillah and Ardiansah (2021) dengan menggunakan penelitian kuantitatif menghasilkan sebelum pandemi mahasiswa melakukan pencarian di Google dengan persentase 100% begitu juga saat pandemi hasilnya pun sama. Tahapan yang dilakukan selanjutnya pemantauan informasi. Terdapat beberapa cara yang dilakukan mahasiswa dalam melakukan pemantauan informasi di era New Normal antara lain sebagai berikut: Kutipan 4: “Saya melakukan penelusuran ulang melalui jurnal – jurnal apakah terdapat artikel baru atau tidak…” (VN) Kutipan 5: “Cari ulang di google lagi sih, kan ada tanggal upload saya lihat di bagian itu sih mbak cari website yang resmi terpercaya itu yang aku pake mbak, apalagi tugas kuliah kan harus pake rujukan yang terpercaya” (BL) Kutipan 6: “Saya sering memantau apalagi lewat sosial media, biar up to date saya ini…saya manfaatin fitur – fitur di sosial media buat ngerjain tugas mbak contohnya fitur komunitas di twitter, menfess twitter buat diskusi, update informasi kalaupun gk tanya bisa search aja langsung di akunnya masukin kata kunci buat tugas itu mbak muncul deh mulai dari terlama sampe yang paling terbaru” (NV) Pemantauan pada sumber informasi dapat dilakukan baik secara formal ataupun informal (Meho dan Tibbo, 2003). Dapat dilihat pada kutipan 4 pemantauan dilakukan dengan cara formal yaitu melalui pemantauan jurnal dengan memeriksa apakah terdapat artikel terbaru sesuai dengan yang dibutuhkan. Melalui jurnal mahasiswa bisa mendapatkan informasi terbaru dari berbagai macam penelitian atau bahkan menemukan teori baru dari suatu hasil penelitian (Istiana and Purwaningsih, 2016). Cara lain yang digunakan mahasiswa pada era New Normal merujuk pada kutipan 5 yang dijelaskan oleh BL adalah penelusuran ulang melalui Google dengan topik yang sama dan melihat tanggal upload terbaru serta menggunakan website atau situs resmi yang terpercaya. Melihat pada saat ini banyak sekali informasi hoax, di Indonesia sendiri menurut data dari Kominfo triwulan pertama tahun 2023 terdapat 425 isu hoaks (Kominfo, 2023). Cara terakhir yang digunakan berdasarkan pada kutipan 6 adalah pemantauan secara informal melalui social media dengan tujuan informasi yang didapatkan lebih up to date, karena pembaruan informasi melalui social media yang cepat, selain itu sejak pandemi mahasiswa lebih menyukai diskusi secara online melalui sosial media dengan memanfaatkan fitur – fitur yang tersedia, sehingga mereka dapat memantau informasi – informasi yang dibutuhkan melalui sosial media. Berbeda halnya ketika masa sebelum pandemi Covid – 19 pemantauan informasi dilakukan dengan selalu diskusi dengan subjek yang ahli dalam bidangnya, sering membaca jurnal dan artikel baik digital maupun cetak dan mengikuti seminar untuk meningkatkan tingkat profesionalitas di bidang yang ditekuni (Trivedi and Bhatt, 2018). Akses informasi yang dilakukan oleh mahasiswa di era New Normal adalah mengakses melalui jaringan online, akan tetapi dalam pengaksesan online terdapat kendala hal ini diungkapkan pada hasil wawancara sebagai berikut: Kutipan 7: “Bisa diakses tapi tidak semua bisa diakses juga karena harus berlangganan kan” (RZ) Pada kutipan 7 dijelaskan bahwa akses informasi yang terbatas dikarenakan sebelum akses informasi mahasiswa harus berlangganan terlebih dahulu. Sebelum pandemi Covid – 19 hambatan yang dihadapi mahasiswa adalah berupa jaringan internet yang kurang memadai (Rozinah, 2015). Tahapan akses informasi ini sangat penting karena tahapan mulai dari starting, chaining, browsing tidak semuanya dilakukan dengan sumber informasi secara langsung, sehingga untuk melanjutkan proses pencarian informasi perlu mendapatkan akses sumber informasi tersebut (Meho dan Tibbo, 2003). Pada masa New Normal ini kebanyakan mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan 2019 melakukan pencarian informasi secara online sehingga akses informasi sangat dibutuhkan, karena dari hasil wawancara menunjukkan bahwa akses informasi tidak semua dapat diakses seperti yang telah dijelaskan di atas, maka solusi yang digunakan oleh informan sebagai berikut: Kutipan 8: “Karena jika tidak menemukan sumber informasi secara online melalui google atau tidak bisa diakses gitu ya..biasanya saya melakukan pengaksesan melalui perpustakaan” (RT) Kutipan 9: “Cari yang lain dengan sumber yang berbeda tapi masih sesuai dengan topik yang sedang saya cari” (AY) Kutipan 10: “Biasanya cari yang lain sesuai sama topik, tapi biasanya lewat twitter menfess itu lho mbak, saya tanya disana” (RS) Pada kutipan 8 yang dijelaskan oleh AY solusi yang dilakukan adalah mahasiswa melakukan pencarian dari sumber lain dengan topik yang sama, ada juga yang lebih memilih mendatangi perpustakaan sesuai dengan kutipan 9, dari solusi ini dapat dilhat tahapan browsing pada masa New Normal dapat dilakukan dua kali, karena hambatan akses sumber informasi dan juga terdapat cara lainnya dapat dilihat pada kutipan 10 yang dijelaskan oleh RS yaitu dengan melalui social media seperti twitter dengan bertanya kepada pengguna twitter jika ada yang memiliki akses informasi yang dibutuhkan. Pemilahan informasi yang dilakukan oleh mahasiswa di era New Normal adalah melakukan identifikasi informasi yang relevan, identifikasi dilakukan dengan melihat sumber informasi apakah berasal dari sumber percaya atau tidak, setelah itu dikelompokkan sesuai dengan kebutuhan informasi. Identifikasi juga dilakukan berdasarkan topik informasi yang dibutuhkan. Pernyataan tersebut didukung oleh hasil wawancara pada kutipan 11 yang dijelaskan oleh RN sebagai berikut: Kutipan 11: “ya saya melakukan identifikasi pada sumber informasi... melihat asal sumber informasi tersebut… selanjutnya mengelompokkan sesuai dengan jenis sumber informasi… dikategorikan sesuai dengan kebutuhan saya” (RN) Pada tahapan ini mahasiswa dapat melakukan tahapan pemilahan untuk mendapatkan informasi yang relevan. Sedangkan, sebelum pandemi tahapan ini dilakukan dengan melihat kredibilitas penulis (Kehinde and Obi, 2016). Akan tetapi pada masa New Normal mahasiswa dalam melakukan tahapan differentiating juga melihat dari segi akses sumber informasi, hal ini dapat dilhat pada kutipan 12 sebagai berikut: Kutipan 12: “Owalah kalau saya sih kak dari segi topik sesuai gak, habis itu akses informasinya mudah gak, soalnya kan sekarang ada tuh sumber informasinya isinya sesuai tapi gk bisa diakses kan percuma” (VN) Melihat pada kutipan 12, mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan dalam melakukan tahapan differentiating memperhatikan akses sumber informasi pada masa New Normal melihat pada tahapan accessing tidak semua sumber informasi dapat diakses. Selain itu menurut Meho dan Tibbo (2003) dalam melakukan differentiating akses juga perlu diperhatikan pada pemilahan sumber informasi yang akan digunakan. Selanjutnya mahasiswa melakukan pencarian lebih dalam seperti membuat rangkuman dan sejenisnya. Cara yang dilakukan mahasiswa dalam pencarian informasi lebih dalam sesuai dengan hasil wawancara adalah sebagai berikut: Kutipan 13: “Saya highlight di pdfnya poin – poin utamanya apa saja” (RR) Kutipan 14: “Jadi saya baca dulu informasinya lalu …Saya buat rangkuman mbak” (AY) Kutipan 15: “Saya ambil inti informasinya habis itu saya paraphrase mbak” (BL) Pada kutipan 13 dijelaskan bahwa pencarian lebih dalam dilakukan dengan menulis atau meng-highlight poin - poin informasi sehingga dapat dengan mudah dan cepat mengetahui inti atau poin penting yang terdapat dalam informasi. Cara selanjutnya merujuk pada kutipan 14 yang dijelaskan oleh AY adalah membuat rangkuman dan cara terakhir melihat pada kutipan 15 adalah mengambil inti informasi kemudian di paraphrase dilihat dari mahasiswa yang sedang melakukan penulisan skripsi. Parafrase sangat penting dilakukan dalam penulisan karya ilmiah maupun tugas - tugas kuliah, karena dengan melakukan parafrase selain berfungsi menyimpulkan bacaan teks dan dapat membuktikan keefektifan pemahaman, dapat juga mengurangi plagiarisme (Basori, 2017). Tahapan verifikasi informasi atau pemeriksaan kembali terhadap akurasi sumber informasi yang telah didapatkan oleh mahasiswa di era New Normal adalah dengan membandingkan informasi yang telah didapatkan antara satu sama lain, memastikan apakah sudah sesuai dengan topik yang dibutuhkan, hal ini dibuktikan melalui kutipan 16: Kutipan 16: “Saya membandingkan informasi yang saya dapatkan antara satu sama lain, apakah sudah sesuai dengan topik yang saya inginkan” (RN) Cara lainnya adalah dengan membaca ulang antara artikel satu dengan lainnya. Cara terakhir adalah dengan melihat sumber informasinya apakah benar – benar sudah akurat. Dapat dilihat pada masa New Normal mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan 2019 dapat melakukan tahapan verifying dalam mengerjakan tugas dimana tahapan. Pada masa New Normal tahapan verifying ini sangat di perlukan, melihat tahapan verifying sendiri ada karena adanya bias informasi, kurangnya keahlian dalam memilah sumber informasi terutama sumber informasi elektronik (Meho dan Tibbo, 2003). Pada masa New Normal pengerjaan tugas mahasiswa akan memperkecil terjadinya disinformasi atau bias informasi dan dapat meningkatkan skill mahasiswa dalam pencarian informasi elektronik pada masa New Normal. Setelah informasi telah terverifikasi, selanjutnya adalah informasi yang telah didapatkan oleh mahasiswa menjadi bahan diskusi dengan teman secara langsung atau bisa melalui social media dan juga menjadi bahan diskusi lebih lanjut dengan orang yang ahli dalam bidangnya dengan tujuan untuk mendapatkan wawasan dan sudut pandang dari berbagai orang tentang topik informasi yang sedang dibutuhkan. Tahapan terakhir adalah adalah pengorganisasian informasi. Cara yang dilakukan adalah dengan membuat folder di laptop atau di Mendeley, sesuai dengan hasil wawancara pada kutipan 17: Kutipan 17: “Biasanya tak buatin folder di Mendeley sih mbak sesuai sama topik aja” (AY) Selain dengan cara tersebut pada masa new normal mahasiswa juga melakukan pengorganisasian informasi dengan memanfaatkan Google Drive dan juga WA, hal ini dapat dilihat pada kutipan 4 sebagai berikut: Kutipan 18: “Biasanya tak buatin folder di Mendeley, drive juga kadang juga WA… Kan saat ini apa – apa serba WA ya mbak, jadi kalau ada informasi penting saya tandai dengan pesan berbintang mbak, jadi gampang deh… kalau pakai drive biar akses tugas saya bisa dimana aja” (NV) Pengorganisasian dilakukan dengan mengelompokkan sesuai dengan topik dan atau subjek informasi. Hal ini dilakukan dengan tujuan mempermudah mahasiswa dalam mengerjakan tugas nantinya baik dari segi akses ataupun sebagai koleksi pribadi atau arsip mereka ketika nanti pengerjaan tugas. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Meho dan Tibbo (2003) dimana pengorganisasian informasi menyediakan bahan informasi yang mudah diakses serta dapat diatur dengan cara yang mudah dipahami bagi mereka dan yang terpenting pengorganisasian informasi merupakan hal yang terpenting dilakukan bagi para sarjana, melihat di New Normal ini pengorganisasian sangat diperlukan karena sumber informasi yang berlimpah. Cara pengorganisasian informasi dibandingkan sebelum pandemi Covid – 19 lebih tradisional yaitu dengan menyimpan hasil atau tugas kuliah ke dalam map – map sesuai dengan mata kuliah (Royan, 2014). 4.2 Pola Pencarian Informasi Pencarian informasi dengan menggunakan teori Ellis dapat melihat bagaimana pola pencarian informasi yang digunakan, karena teori dari Ellis ini tidak harus berurutan sehingga pola pencarian informasi dapat dilihat. Adapun pola pencarian informasi mahasiswa Universitas Negeri Malang program studi S1 Ilmu Perpustakaan angkatan 2019 sebagai berikut: Tabel 3. Pola pencarian informasi mahasiswa NO Inisial Urutan Pola Pencarian Informasi S C B M A D E V N IM 1 RN 1 5 2 6 3 4 10 8 7 9 2 RT 1 2 3 - 4 5 6 7 8 9 3 VN 1 4 2 3 5 6 7 9 10 8 4 NW 1 4 2 9 3 5 6 8 9 7 5 RZ 1 3 2 - - 5 4 - 6 7 6 RR 1 2 3 - 4 5 6 7 - 8 7 AY 1 2 3 - 4 5 6 7 - 8 8 BL 1 - 3 9 2 4 5 6 8 7 9 AR 1 4 2 - 3 5 6 7 8 9 10 NV 1 4 2 3 5 6 7 8 9 10 11 NS 1 3 2 5 - 4 6 7 9 8 10 11 12 YN 1 - 2 - 3 4 6 5 7 8 13 WR 1 - 2 - - - - - 4 - 14 AF 1 2 - 3 - - 4 - 5 15 RS 1 2 4 3 - 6 5 7 - Dapat dilihat pada tabel 3 yaitu pola pencarian informasi mahasiswa, rata – rata mahasiswa memilih tahapan pertama dalam pencarian informasi adalah starting selanjutnya tahapan kedua pencarian informasi menurut mahasiswa adalah browsing, tahapan browsing sering dilakukan pada tahapan kedua atau ketiga tapi sebagian besar mahasiswa memilih tahapan browsing menjadi tahapan kedua. Tahapan ketiga pencarian informasi adalah tahapan accessing. Mahasiswa sangat sering melakukan tiga tahapan ini dalam satu waktu proses yang dilakukan cukup cepat dengan hanya satu media pencarian informasi mahasiswa bisa sampai tahapan akses informasi. Tahapan keempat rata – rata mahasiswa melakukan chaining, tahapan selanjutnya adalah differentiating. Setelah itu tahapan selanjutnya mahasiswa melakukan pengekstrakan informasi dan memverifikasi informasi yang telah didapatkan. Tahapan terakhir adalah mahasiswa melakukan diskusi untuk menambah wawasan dan juga mengorganisasikan informasi. Penulis menyimpulkan pola pencarian mahasiswa di era New Normal secara keseluruhan sebagai berikut: Starting  Browsing  Accessing  Chaining  Differentiating  Extracting Verifying Networking Information Managing Pada pola perilaku pencarian informasi di atas hanya melakukan sembilan tahapan pencarian informasi saja tahapan yang tidak dilakukan adalah tahapan monitoring. Alasan tahapan monitoring jarang dilakukan dapat dilihat pada kutipan wawancara berikut Kutipan 19: “Ya karena informasi yang sudah saya dapatkan sudah cukup sih” (WR) Kutipan 20: “Karena saya sudah menemukan artikel sesuai dengan kriteria saya” (RR) Pada kutipan 19 dan 20 alasan mahasiswa tidak melakukan monitoring karena mahasiswa merasa sudah cukup dan sudah menemukan kriteria informasi yang dibutuhkan, walaupun demikian hendaknya kegiatan monitoring tetap dilakukan agar mahasiswa mendapatkan informasi yang up to date. Menurut pendapat Pasaribu, et al (2019) tidak melakukan tahapan monitoring tentu saja tidak sesuai dengan tahapan pencarian Ellis yang menjelaskan bahwa pelaku pencarian informasi harus melakukan tahapan monitoring agar tetap memperhatikan informasi terbaru. Pola pencarian informasi pada mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan pada masa New Normal juga ditemukan, bahwa mahasiswa ini merasa tidak melakukan monitoring secara langsung, akan tetapi tahapan monitoring pada masa New Normal dilakukan dengan tahapan networking dimana mahasiswa melakukan tahapan networking dilakukan dengan cara berdiskusi lebih lanjut dengan informasi yang telah mereka dapatkan sehingga mereka juga melakukan pemantaun informasi dengan melihat informasi – informasi terbaru dari hasil diskusi yang telah dilakukan, jadi pola informasi mahasiswa sebagai berikut: Starting  Browsing  Accessing  Chaining  Differentiating  extracting  Information Managing  Verifying  Networking & Monitoring Pola pencarian ini tentunya memiliki kelebihan yaitu pencarian informasi menjadi lebih cepat, karena dua tahapan dapat dijadikan menjadi satu tahapan, akan tetapi tentu saja terdapat kekurangan, karena monitoring dilakukan dengan cara berdiskusi dengan mahasiswa yang memiliki topik yang sama sehingga informasi yang didapatkan belum tentu kebenarannya. Pola pencarian informasi mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan pada masa New Normal juga ditemukan terdapat tahapan yang dilakukan dua kali: Starting  Browsing  Chaining  Accessing  Browsing  Accessing  Differentiating  Verifying  Extracting  Networking  Information Managing Tahapan pencarian yang dilakukan dua kali yaitu tahapan browsing dan accessing, dengan terdapat alasan yang dijelaskan pada kutipan 21: Kutipan 21: “…kedua mungkin saya akan cari informasi cetak saja dikemudian hari” (NS) Jadi pada tahapan accessing tidak bisa dilakukan, mahasiswa akan mencari cara lain dengan mencari sumber informasi lain yang masih berkaitan dengan topik terkait yang sedang dibutuhkan. Maka dari itu tahapan accessing dan browsing dilakukan dua kali, dengan alasan tahapan akses informasi tidak bisa dilakukan. Kelebihan dengan melakukan cara ini adalah informasi yang dibutuhkan dapat diakses dan didapatkan, akan tetapi dengan melakukan cara ini pencarian informasi membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain itu tahapan accessing dan browsing dilakukan dua kali, memungkinkan tahapan pencarian informasi yang lain juga dilakukan dua kali. Terdapat tahapan atau pola pencarian informasi yang sangat singkat terdiri 4 – 5 tahapan yang dilakukan oleh mahasiswa, Hasnawati (2015) berpendapat bahwa penelusuran dapat dilihat melalui cara dan alat yang dipakai saat mencari informasi, bisa dengan cara digital maupun konvensional. Penelusuran singkat ini dilakukan dengan cara digital adapun tahapannya sebagai berikut: Starting  Browsing  Accessing  Networking Pada pola pencarian informasi yang singkat juga ditemukan terdapat dua tahapan dijadikan dalam satu tahapan pencarian informasi Starting & chainig  Browsing  Accessing  Verifying  Information Managing Pola pencarian tersebut tahapan starting dan chaining dilakukan pada satu tahapan. Kelebihan dengan menggunakan cara ini adalah mempersingkat waktu pencarian, topik informasi yang didapatkan berdasarkan referensi – referensi yang telah didapatkan, jadi topik informasi menjadi lebih mendasar. Akan tetapi terdapat kekurangan dengan menggunakan pola pencarian ini yaitu ketika penelusuran referensi, bisa terjadi beberapa referensi terlewatkan. Pola pencarian singkat ini merupakan pencarian spontan ketika informan ingin mengetahui sesuatu atau pada hal yang diminati dan sering dilakukan pada akhir – akhir ini pada satu waktu dengan memanfaatkan teknologi untuk meraih informasi dengan cepat. Selain itu informan pada penelitian ini merupakan generasi Z dimana mereka memiliki sifat mengandalkan kecepatan dan mendapatkan pemahaman informasi dengan instan dalam belajar dan bekerja dalam lingkungan yang inovatif, aktif berkolaborasi dan senang akan memanfaatkan teknologi (Lalo, 2018) sehingga pola pencarian informasi spontan sering dilakukan.

Conclusion

Perilaku pencarian informasi Mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan Universitas Negeri Malang pada Masa New Normal dalam memenuhi kebutuhan akademi mencerminkan adaptasi mereka terhadap perubahan kondisi dalam mengerjakan tugas. Mahasiswa dalam melakukan pencarian informasi semakin mengandalkan sumber daya elektronik. Dapat dilihat dari tahapan starting mahasiswa melakukan penelusuran referensi melalui artikel – artikel digital. Maka dari itu, penelusuran referensi – referensi dapat melalui sumber primer akibat dari pandemi Covid – 19 dimana open access menjadi salah satu cara dalam pembelajaran pada saat itu. sehingga pada masa New Normal ini mahasiswa masih memanfaatkan open access ini dalam mengerjakan tugasnya. Kegiatan pencarian informasi dalam mengerjakan tugas juga masih menemui hambatan yaitu pada tahapan accessing dimana walaupun sudah adanya open access tidak semua jurnal ataupun artikel dapat diakses, sehingga membuat mahasiswa mencari cara lain dalam mengakses sumber informasi yang dibutuhkan. Pada masa New Normal perpustakaan menjadi pilihan kedua dalam mengatasi hambatan accessing. Pola perilaku pencarian mahasiswa pada masa New Normal secara garis besar terdiri dari Sembilan tahapan pencarian yaitu: Starting Browsing  Accessing  Chaining  Differentiating  Extracting Verifying Networking Information Managing Tahapan monitoring jarang dilakukan oleh mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan pada masa New Normal dengan alasan untuk mempersingkat waktu pencarian dan juga sumber informasi yang dibutuhkan sudah didapatkan dan sesuai dengan keinginannya. Selain itu juga terdapat tahapan pencarian yang dilakukan dua kali karena terdapat hambatan pada akses informasi elektronik, sehingga tahapan accessing dan browsing dilakukan dua kali, maka pola tahapan pencarian informasi sebagai berikut: Starting  Browsing  Chaining  Accessing  Browsing  Accessing  Differentiating  Verifying  Extracting  Networking  Information Managing Pola pencarian informasi mahasiswa pada New Normal juga ditemukan dua tahapan pencarian informasi dilakukan pada satu tahapan pencarian informasi, sehingga pola pencarian informasi mahasiswa sebagai berikut: Starting  Browsing  Accessing  Chaining  Differentiating  extracting  Information Managing  Verifying  Networking & Monitoring Pola ini terjadi ketika mahasiswa ini merasa tidak melakukan monitoring secara langsung, akan tetapi tahapan monitoring pada masa New Normal dilakukan dengan tahapan networking dimana mahasiswa melakukan tahapan networking dilakukan dengan cara berdiskusi lebih lanjut dengan informasi yang telah mereka dapatkan sehingga mereka juga melakukan pemantaun informasi dengan melihat informasi – informasi terbaru dari hasil diskusi yang telah dilakukan. Terdapat juga pola pencarian informasi yang dijadikan pada satu tahapan yaitu tahapan starting dan chaining, jadi selama tahapan starting dalam mencari informasi mahasiswa juga menelusuri kutipan – kutipan yang berkaitan. Staring & Chaining  Browsing  Accessing  Verifying  Information Managing Pola pencarian informasi juga dilakukan dengan singkat mengingat teknologi informasi di masa new normal yang berkembang secara pesat Starting  Browsing  Accessing  Networking Pola pencarian ini dilakukan dalam satu waktu, untuk mengerjakan tugas secara cepat. Pada masa New Normal sumber informasi yang digunakan oleh mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan adalah sumbr informasi digital, selain itu juga dilihat dari segi akses yang mudah. Akses sumber informasi pada masa New Normal tidak semua sumber informasi dapat diakses sehingga menyebabkan mahasiswa menggunakan sumber informasi digital tertentu yang menyebabkan terjadinya ketergantungan pada sumber informasi digital tertentu seperti sumber informasi yang dapat diakses melalui google saja. Menyebabkan pembatasan pada variasi pencarian informasi dan kedalaman informasi yang diterima. Pada akhirnya pencarian kombinasi secara langsung dan digital sangat disarankan pada masa New Normal. Pada penelitian ini mahasiswa dalam melakukan pencarian informasi di masa New Normal juga perlu meningkatkan skill dalam pencarian informasi untuk menghadapi information overload untuk menghindari terjadinya rasa kewalahan dalam memilih banyaknya sumber informasi digital, karena hal ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan fokus dan efisiensi dalam pencarian informasi. Skill ini juga perlu disiapkan karena ada dua tahapan pencarian informasi dilakukan dalam satu tahapan ataupun sebaliknya, sehingga mahasiswa memerlukan peningkatan kemampuan atau skill pencarian informasi. Penelitian ini masih perlu diteliti lebih lanjut, melihat pada hasil penelitian masih memperlihatkan pencarian informasi mahasiswa dalam melakukan adaptasi di masa New Normal, mahasiswa masih menyesuaikan pencarian informasi dari masa pandemi ke masa New Normal melihat pencarian informasi masih mengandalkan sumber informasi digital, sehingga mahasiswa pada masa New Normal perlu meningkatkan kemampuan atau skill dalam pencarian informasi melihat masa New Normal masih tetap berjalan sampai batas waktu yang belum ditentukan.