Kembali
16
1
2024 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 8 · 3 ISSN 2598-3040

Persepsi Keluarga Penderita Gangguan Kesehatan Mental Followers Akun Instagram @ubahstigma pada Kualitas Informasi Konten

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi keluarga penderita gangguan kesehatan mental pada kualitas konten akun Instagram @ubahstigma berdasarkan tiga kategori Emamjome yaitu, intrinsic, contextual, dan representational. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed-method dengan explanatory sequential design. Sampel yang digunakan sebanyak 267 responden. Responden ditentukan secara quota sampling dan informan ditentukan secara purposive sampling. Teknik pengambilan data menggunakan kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian yaitu semua kategori kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma termasuk dalam kategori baik. Perolehan nilai rata-rata untuk intrinsik 4,11; kontekstual 4,15; dan penyajian 4,15. Hasil kuantitatif didukung dengan hasil kualitatif berdasarkan analisis tematik yang menghasilkan tiga tema yaitu konten akun Instagram @ubahstigma sebagai tempat penyebaran informasi mengenai gangguan kesehatan mental, persepsi apresiatif keluarga penderita gangguan kesehatan mental pada informasi gangguan kesehatan mental konten akun Instagram @ubahstigma, dan persepsi evaluatif keluarga penderita gangguan kesehatan mental pada informasi gangguan kesehatan mental konten akun Instagram @ubahstigma. Ketiga tema tersebut mendukung hasil temuan kuantitatif bahwa konten @ubahstigma mudah diakses serta penyajian konten baik dari segi desain dan isi yang konsisten dan mudah dicerna menjadi faktor utama dalam pemanfaatan infomasi konten akun Instagram @ubahstigma. Sedangkan, penyajian konten yang kompleks mengakibatkan pengikutnya mencari referensi lain menjadi kelemahan dalam konten akun Instagram @ubahstigma.

Abstract

This research aims to determine the perceptions of families with mental health disorders on the quality of @ubahstigma account content based on the three by Emamjome namely, intrinsic, contextual, and representational. The research method is a mixed-method with an explanatory sequential design. The sample used was 267 respondent. Respondents were determined by quota sampling and informants were determined by purposive sampling. Data collection techniques used questionnaires and interviews. The results of the study are all categories of the information quality of @ubahstigma account content are in the good category. The average score for the intrinsic 4.11; contextual 4.15; and presentation 4.15. Quantitative results are supported by qualitative results based on thematic analysis which produces three themes, the content of the @ubahstigma account as a place for disseminating information about mental health disorders, appreciative perceptions of families with mental health disorders on information mental health disorders account content @ubahstigma, and evaluative perceptions of families with mental health disorders on information mental health disorders account content @ubahstigma. These three themes support the quantitative findings that @ubahstigma content is easily accessible and the presentation of content both in terms of design and content that is consistent and easy to digest is the main factor in utilizing information on @ubahstigma account content. Meanwhile, the presentation of complex content causes followers to look for other references which is a weakness in the content of the @ubahstigma account.
Keywords: information quality · perceptions · mental health disorders

Introduction

Sejak diperkenalkannya teknologi internet, informasi mengenai kesehatan mental menjadi lebih mudah diakses. Sebelumnya, informasi yang berkaitan dengan kesehatan mental hanya tersedia atas kebijaksanaan dokter yang merawat. Namun, dengan adanya internet kini masyarakat memiliki lebih banyak informasi daripada sebelumnya. Hal ini juga didukung dengan meningkatnya penggunaan media sosial di seluruh dunia, terutama dalam akses informasi kesehatan (Rosini & Nurningsih, 2018). Media sosial digunakan oleh masyarakat umum, pasien, dan profesional kesehatan untuk berkomunikasi tentang masalah kesehatan dengan berbagai alasan yaitu untuk menyampaikan dan menerima pesan serta pesan yang didapat bisa memengaruhi proses pengambilan keputusan terkait upaya pengelolaan kesehatan oleh individu maupun komunitas masyarakat (Prasanti, 2017). Berdasarkan hasil penelitian terkait perilaku pencarian informasi kesehatan, 51,06% responden menyatakan memanfaatkan internet untuk mendapatkan informasi kesehatan, sedangkan 14,05% responden menyatakan berkonsultasi dengan ahli kesehatan (Dewi et al., 2018). Karena sifatnya yang tidak diatur dan difilter, pasien yang mencari informasi tentang subjek kesehatan mungkin merasa sulit untuk menilai kredibilitas halaman web (Maharani & Ardoni, 2013). Oleh karena itu, informasi yang diperoleh melalui media sosial dinilai sebagai sumber yang paling tidak dapat diandalkan (38%) jika dibandingkan dengan internet (60%) dan keluarga/teman (59%) (Kuttschreuter et al., 2014). Hal ini didukung oleh temuan penelitian Rutsaert et al (2013), yang menemukan bahwa hambatan terbesar yang membatasi konsumen untuk mengadopsi media sosial sebagai sumber informasi adalah aspek kepercayaan. Oleh karena itu, suatu informasi harus berkualitas dan memiliki nilai guna untuk menambah wawasan penggunanya (Alfiana et al., 2021). Jika terdapat informasi yang tidak berkualitas maka akan membawa dampak negatif bagi individu dan sebaliknya. Delone dan Mclean (dalam Ghasemaghaei dan Hassanein, 2018), membuktikan bahwa kualitas informasi berperan dalam pembentukan persepsi individu, terutama di ranah dalam jaringan. Informasi yang didapatkan secara online kerap kali ditangkap secara negatif, beda dengan informasi yang disebarkan secara offline yang perlu disaring oleh seorang information gatekeeper atau pustakawan. Situasi tersebut juga terjadi dalam konteks informasi kesehatan mental. Kesehatan mental masih menjadi persoalan serius di Indonesia karena masih minimnya pelayanan dan fasilitas kesehatan mental di Indonesia, sehinga banyak penderita gangguan kesehatan mental masih belum tertangani dengan baik (Riskesdas, 2018). Oleh karena itu, banyak pihak yang mulai mengomunikasikan terkait isu gangguan kesehatan mental agar masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan mental diri sendiri dan orang-orang terdekat. Media sosial menjadi salah satu platform yang kerap kali dimanfaatkan sebagai alat komunikasi terkait isu gangguan kesehatan mental. Penggunaan media sosial yang kerap membagikan informasi yang bahkan belum dapat dipastikan reliabilitas kebenarannya berpengaruh dalam membentuk suatu stigma dan persepsi masyarakat terhadap isu gangguan kesehatan mental (Robinson et al, 2019). Salah satu media sosial sebagai alat komunikasi terkait kesehatan mental yang paling banyak dipilih oleh masyarakat Indonesia adalah Instagram (Rosini & Nurningsih, 2018). Saat ini sudah banyak bermunculan akun Instagram untuk kampanye mengenai kesehatan mental. Salah satu akun Instagram yang peduli terkait isu kesehatan mental adalah akun Instagram @ubahstigma. Akun tersebut telah bergabung di Instagram sejak tahun 2018 yang saat ini telah memiliki lebih dari 23.400 followers dan telah mengunggah 719 posts yang akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Konten yang diunggah dalam akun Instagram @ubahstigma mencangkup isu kesehatan mental mulai dari pengetahuan kesehatan mental secara mendalam, penanganan gangguan kesehatan mental, panduan untuk menjaga kesehatan mental, serta membuat sejumlah acara yang berkesinambungan untuk edukasi kepada masyarakat mengenai isu kesehatan mental. Akun Instagram @ubahstigma berhasil mendapat penghargaan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia karena peran aktifnya dalam meningkatkan upaya promotif kesehatan mental di kalangan masyarakat Indonesia (P2P KEMKES, 2019). Interaksi pengikut Instagram @ubahstigma pada unggahan kontennya tergolong cukup interaktif, dari puluhan ribu jumlah pengikut Instagram @ubahstigma terdapat sejumlah pengikut aktif yang menyukai dan memberikan komentar yang menunjukkan antusiasme, kesetujuan, dan pendapat lain di kolom komentar. Hal tersebut menunjukkan bahwa konten yang dipublikasi oleh akun Instagram @ubahstigma telah menarik atensi pengguna Instagram. Cakupan penyebaran konten yang menarik atensi publik menjadikan akun Instagram @ubahstigma harus menyajikan konten yang berkualitas, sehingga informasi yang dibagikan dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa membawa efek samping buruk akibat kesalahan informasi. Sebagaimana disampaikan dalam penelitian McCullough (1981) bahwa suatu informasi yang disampaikan pada audiensnya dapat memengaruhi persepsi mereka terhadap suatu konteks. Artinya, penting untuk memberikan informasi yang tepat dan berkualitas demi membangun persepsi yang positif pada penderita gangguan mental. Penelitian ini akan berfokus pada kualitas informasi mengenai konten kesehatan mental dan bagaimana informasi pada akun tersebut dipersepsi oleh keluarga penderita gangguan kesehatan mental followers akun Instagram @ubahstigma. Kualitas informasi dapat diteliti sesuai dengan kebutuhan keilmuan karena kualitas informasi termasuk dalam ranah multidisiplin (Batini & Scannapieco, 2016). Informasi yang diterima oleh seseorang merupakan salah satu faktor yang dapat membentuk persepsi dalam benak seorang individu (Toha dalam Arifin., 2017). Demikian pula halnya, dengan informasi yang diterima oleh keluarga penderita gangguan kesehatan mental. Anggota keluarga dari penderita gangguan kesehatan mental tidak jarang juga menerima stigma negatif dari masyarakat (Rosyidul ‘Ibad et al., 2021). Oleh karena itu, para anggota keluarga juga memerlukan asupan informasi yang berkualitas agar memiliki persepsi mengenai gangguan kesehatan mental yang benar dalam menghadapi stigma dari masyarakat. Perlakuan yang baik dari anggota keluarga untuk penderita gangguan kesehatan mental menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kestabilan emosi penderita (Nugraha, et al., 2023). Hal inilah yang menjadi dasar latar belakang dilakukannya penelitian ini, dengan mengambil objek penelitian akun Instagram @ubahstigma, sebab akun tersebut merupakan wujud upaya dalam memberi dukungan mental bagi penderita gangguan kesehatan mental dan juga keluarganya dalam menghadapi stigma dari masyarakat. 2. Tinjauan Pustaka 2.1.Konsep Kualitas Informasi Semakin majunya perkembangan teknologi memunculkan juga masalah banjirnya informasi (information overload). Di tengah-tengah informasi yang beredar diperlukannya suatu informasi yang berkualitas baik agar dapat memberikan kepuasan pada penggunanya. Kualitas informasi menurut Gustavsson dan Wanstrom (dalam Alshikhi & Abdullah, 2018) adalah kemampuan suatu informasi untuk memenuhi kebutuhan informasi tersirat pengguna. Kualitas informasi merupakan suatu konsep multidimensi yang digunakan tergantung pada sudut pandang penulis yang dapat memiliki instrumen kualitas informasi yang berbeda tergantung sudut pandang yang digunakan (Klein & Knight dalam AlJefri et al., 2018). Kualitas informasi di bidang kesehatan memainkan peran penting untuk masyarakat karena banyak masyarakat yang memilih mengakses informasi tentang suatu penyakit dari penyedia layanan kesehatan, pasien lain, dan internet (Fox & Bishoo dalam Tao et al., 2017). Informasi tersebut dapat digunakan sebagai suatu keputusan dalam mengambil langkah lebih lanjut terkait penanganan suatu penyakit. Terdapat tiga instrumen kualitas informasi kesehatan yaitu Journal of the American Medical Association (JAMA), DISCERN, dan Health-on-the-net (HON). Ketiga instrumen tersebut memiliki kriteria dengan tujuan yang berbeda, JAMA dan DISCERN untuk pengguna menilai suatu situs web, sedangkan HON untuk memberikan sertifikasi untuk situs web kesehatan dengan kualitas HONCode, yang berfungsi untuk membantu suatu organisasi membentuk dan mengembangkan situs organisasinya (Al-Jefri et al., 2018). Kualitas informasi tersebut merupakan kualitas informasi kesehatan pada platform website, terdapat juga kualitas informasi pada media sosial. Kualitas informasi pada media sosial berbeda dengan kualitas informasi di sistem informasi karena media sosial memiliki aksesibilitas yang mudah dan lebih terkini (Agarwal dalam Emamjome et al., 2013). Menurut Emamjome, et al. (2013) bahwa terdapat tiga kategori dalam menilai kualitas informasi pada media sosial yaitu kategori intrinsic (intrinsik), contextual (kontekstual), dan representational (penyajian). Masing-masing kategori tersebut memiliki dimensinya sendiri-sendiri, diantaranya sebagai berikut: 1. Intrinsic (Intrinsik) Kategori intrinsik bertujuan untuk menyesuaikan informasi yang dibagikan sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Pengukuran kategori intrinsik mencakup beberapa aspek, yaitu: a. Completeness (Kelengkapan) Kelengkapan informasi yaitu informasi harus dibagikan secara utuh dan dibahas secara luas dan mendalam. b. Originality (Keaslian) Keaslian yaitu informasi yang dibagikan bukan hasil dari plagiasi tanpa mencantumkan sumber. c. Objectivity (Objektivitas) Objektivitas adalah informasi yang dibagikan tidak bias dan tidak memihak pada satu pihak. d. Novelty (Kebaruan) Kebaruan adalah informasi yang dibagikan bersifat inovatif. e. Accuracy (Keakuratan) Keakuratan adalah informasi yang dibagikan bersifat benar, dapat diandalkan, bebas dari kesalahan, dan terkini. f. Intrinsic Content Quality (Kualitas Intrinsik Konten) Kualitas intrinsik konten adalah informasi yang dibagikan harus memerhatikan unsur semantik, sintatik, tata bahasa, dan tanda baca. g. Verifiability (Terverifikasi) Terverifikasi adalah informasi yang dibagikan harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. h. Reliability (Dapat Diandalkan) Dapat diandalkan adalah informasi yang dibagikan harus dapat dipercaya dan diandalkan. 2. Contextual (Kontekstual) Kategori kontekstual bertujuan untuk mengetahui sejauh mana informasi yang dibagikan sesuai dan bermanfaat dalam konteks tertentu. Pengukuran kategori kontekstual terbagi menjadi beberapa aspek, yaitu: a. Amount of Data (Jumlah Data) Jumlah data adalah jumlah data yang dibagikan harus sesuai. b. Relevancy (Relevansi) Relevansi adalah informasi yang dibagikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. c. Credibility (Kredibilitas) Kredibilitas adalah informasi yang dibagikan dapat dipercaya individu yang membaca menjadi rujukan atau referensi. d. User Feedback (Umpan Balik Pengguna) Umpan balik pengguna adalah pengguna dapat memberikan evaluasi terhadap konten yang dibagikan baik secara implisit atau eksplisit. e. Timeliness (Ketepatan Waktu) Ketepatan waktu adalah informasi yang dibagikan harus up to date untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. f. Understandability (Mudah Dipahami) Mudah dipahami adalah informasi yang dibagikan tidak menimbulkan ambiguitas dan mudah dipahami. g. Value Added (Nilai Tambah) Nilai tambah adalah informasi yang dibagikan harus dapat memberikan manfaat dan keuntungan bagi pengguna. 3. Representational (Penyajian) Kategori penyajian bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penyajian informasi sesuai untuk semua kalangan (disabilitas atau pun non disabilitas) dengan mempertimbangkan hal teknis dan penyajiannya. a. Conciseness (Keringkasan) Keringkasan adalah penyajian informasi sesuai dengan isi informasi yang dibagikan, serta isi informasi dibawakan secara ringkas dan rinci. b. Consistency (Konsistensi) Konsistensi adalah penyajian informasi memiliki format yang konsisten. c. Accessibility (Aksesibilitas) Aksesibilitas adalah informasi yang dibagikan dapat mudah dan cepat untuk ditemukan kembali. Penggambaran isu dan penyampaian informasi terkait gangguan kesehatan mental harus dapat memerhatikan kualitas informasinya karena pada media sosial dan media massa memainkan peran penting dalam pembentukan persepsi dan stigma yang terjadi di masyarakat. Kerap kali pemberitaan yang terjadi di media berita lebih berfokus pada hal negatif dari penyakit mental dibanding menggambarkan pandangan negatif yang berlebihan terhadap orang dengan penyakit mental (Ross et al., 2019). Gambaran tentang penderita gangguan kesehatan mental seringkali digambarkan sebagai ancaman atau bahaya bagi orang lain, selain itu penderita gangguan kesehatan mental juga sering digambarkan melakukan kekerasan, sehingga memperkuat penggambaran negatif tentang penderita gangguan kesehatan mental yang paling sering ditampilkan dalam media berita (Ross et al., 2019). Keterlibatan jurnalis dan asosiasi profesi jurnalistik memiliki peran krusial untuk mengurangi penggambaran negatif tentang penderita gangguan kesehatan mental pada media. Hal tersebut dapat menjadi secercah harapan untuk ruang isu kesehatan mental yang lebih akurat, informatif, dan dapat dipertanggungjawabkan di tengah masyarakat serta untuk menyediakan konten yang menentang stigma penderita gangguan kesehatan mental (Ross et al., 2019). 2.2.Persepsi Individu pada Kualitas Informasi di Media Sosial terkait Gangguan Kesehatan Mental Gangguan kesehatan mental atau gangguan jiwa merupakan gejala penyakit yang menyerang satu atau lebih fungsi manusia, yaitu fungsi psikologis, perilaku, biologis, dan gangguan tersebut tidak hanya terjadi pada individu tapi juga berpengaruh dalam hubungan antar masyarakat (Palupi, et al., 2019). Fenomena gangguan kesehatan mental pada setiap tahunnya mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Hal tersebut dapat dilihat dari data WHO (2021) yang menyatakan bahwa terdapat 450 juta orang di dunia menderita gangguan kesehatan mental. Kondisi 1 dari 4 orang mengalami setidaknya satu gangguan kesehatan mental serta 1 dari 5 orang yang mengalami gangguan kesehatan mental, tidak berusaha mencari pertolongan secara profesional karena takutnya para penderita mendapat stigma dari masyarakat. Melihat fenomena tersebut, semakin banyak kampanye di media yang menyuarakan pengalamannya terkait gangguan kesehatan mental dengan tujuan mengurangi stigma atau persepsi publik (Hoffner & Cohen, 2018). Media memiliki penjelasan sebagai alat komunikasi (Laughey, 2007). Terdapat beberapa jenis media dalam berkomunikasi, salah satunya adalah media sosial. Media sosial adalah media di internet yang memungkinkan penggunanya saling berkomunikasi antar individu maupun komunikasi kepada siapa saja tanpa ada batas individu (Meike dan Young, 2012). Media sosial yang paling sering digunakan oleh masyarakat Indonesia yaitu Youtube, Whatsapp, Facebook, dan Instagram (Nugeraha, 2020). Salah satu media sosial yang dimanfaatkan untuk berbagi informasi mengenai gangguan kesehatan mental yaitu Instagram. Fungsi dari Instagram yaitu menangkap informasi dengan fomat gambar atau video, menyuntingnya, lalu membagikan informasi tersebut kepada para pemilik akun Instagram lainnya (Quesenberry, 2021). Fitur-fitur Instagram yaitu terdapat feeds sebagai halaman beranda, reels untuk mengunggah informasi dalam format video, dan juga terdapat snap sebagai fitur untuk membuat informasi dengan format gambar, video, maupun tulisan (Quesenberry, 2021). Penyebaran informasi yang dilakukan di Instagram dapat mengurangi stigma dengan cara mengkomunikasikan pengetahuan terkait gangguan kesehatan mental, mengurangi stereotipe, dan menormalkan penderita gangguan kesehatan mental melalui media foto atau pun video. Namun, hal tersebut tidak selamanya berhasil, menurut Hoffner & Cohen (2018) bahwa terjadi peningkatan kasus bunuh diri yang merupakan efek dari selebritas atau idola yang dikaguminya melakukan bunuh diri. Oleh karena hal tersebut, informasi yang dicantumkan dalam media perlu diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi hal-hal negatif yang tidak diinginkan seperti dalam pemberitaan bunuh diri jangan terlalu diromantisasi serta jangan terlalu diberitahu secara detail terkait metode dan lokasi. Melihat hal tersebut, dapat dikatakan bahwa informasi yang tersebar di media sosial dapat memengaruhi secara positif dan negatif persepsi masyarakat yang akan berdampak pada tindakan apa yang akan mereka lakukan. Oleh karena itu, sudah saatnya media menyebarkan informasi mengenai anti-stigma untuk mengurangi streotipe yang ada di masyarakat. Informasi yang disebarkan juga tentu harus akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Method

Metode penelitian yang digunakan yaitu mixed methods dengan explanatory sequential design. Metode tersebut dipilih karena untuk menguraikan, mengelaborasi, atau menjelaskan temuan kuantitatif (Creswell, 2014). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif terlebih dahulu (pendekatan deskriptif) lalu menggunakan metode kualitatif (pendekatan fenomenologi digunakan untuk menggali pengalaman dalam bentuk persepsi keluarga penderita gangguan kesehatan mental followers akun Instagram @ubahstigma pada kualitas informasi konten) yang mendukung penjelasan hasil kuantitatif, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mempertahankan bentuk dan isi dari perilaku manusia melalui persepsi keluarga penderita gangguan kesehatan mental followers akun Instagram @ubahstigma pada kualitas informasi konten yang diukur menggunakan dimensi dari teori yang diuji. Oleh karena itu, metode mixed methods adalah metode yang tepat untuk memahami suatu masalah terkait tujuan penelitian ini yaitu mengetahui persepsi keluarga penderita gangguan kesehatan mental followers akun Instagram @ubahstigma pada kualitas informasi konten. Teori yang digunakan yaitu teori dari Emamjome et al., (2013) terkait kualitas informasi media sosial. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data berupa kuesioner tertutup dan wawancara semi terstruktur yang dilakukan pada bulan Maret 2022 - Juni 2023. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 23.400 orang, maka sampel yang diambil yaitu sebanyak 267 orang keluarga penderita gangguan kesehatan mental followers akun Instagram @ubahstigma yang ditentukan menggunakan quota sampling, sedangkan penentuan informan menggunakan purposive sampling dan diperoleh empat informan. Analisis data pada data kuantitatif menggunakan statistik deskriptif, sedangkan analisis data pada data kualitatif menggunakan thematic analysis.

Result & Discussion

Kualitas informasi pada media sosial dapat diukur melalui tiga kategori, yaitu kategori Intrinsic (Intrinsik), Contextual (Kontekstual), dan Representational (Penyajian) yang dikemukakan oleh Emamjome, et al (2013). Teori kualitas informasi media sosial terbagi menjadi beberapa dimensi yang menghasilkan indikator-indikator sebagai acuan pengukuran variabel. Variabel kualitas informasi media sosial dituangkan dalam 35 pernyataan. Setelah dilakukan analisis data sejumlah 35 pernyataan yang terdapat pada kuesioner penelitian, maka telah diperoleh nilai rata-rata atau mean dari setiap butir pernyataan. Di bawah ini merupakan kesimpulan dari analisis deskriptif yang berisikan tabel nilai ratarata atau mean dari setiap indikator yang telah dianalisis: Tabel 2. Hasil Analisis Kategori Intrinsic (Intrinsik) Intrinsic (Intrinsik) Dimensi Indikator Nilai Kategori Completeness (Kelengkapan) Sufficient breadth 4,25 Sangat baik Depth 4,33 Sangat baik Originality (Keaslian) Information not copied from other sources 4,03 Baik Objectivity (Objektivitas) Unbiased 4,00 Baik Unprejudiced 4,24 Sangat baik Novelty (Kebaruan) Information is innovative 4,33 Sangat baik 4,26 Sangat baik Accuracy (Keakuratan) Correct 4,10 Baik Reliable 3,91 Baik Free of errors 3,98 Baik Current 4,20 Baik Intrinsic content quality (Kualitas intrinsik konten) Semantic 4,06 Baik Syntatic 4,08 Baik Grammar 4,15 Baik Punctuation 4,17 Baik Verifiability (Terverifikasi) Checked for correctness 4,03 Baik Reliability (Dapat diandalkan) Correct 3,90 Baik Reliable 4,04 Baik Total 74,06 Rata-rata 4,11 Berdasarkan hasil analisis pada tabel 2 telah diperoleh nilai rata-rata sejumlah 4,11 untuk kategori intrinsik. Hal tersebut menandakan bahwa kategori intrinsik berada pada tingkat empat dengan interval 3,41 – 4,20. Berdasarkan perolehan nilai tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa persepsi keluarga penderita gangguan kesehatan mental pada kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma dalam kategori intrinsik termasuk dalam kategori baik. Selanjutnya, perolehan nilai rata-rata tertinggi dalam kategori intrinsik terdapat pada indikator “Information is innovative” yaitu 4,33 pada butir pernyataan nomor 6 yang menyatakan “Konten akun Instagram @ubahstigma memberikan informasi mengenai gangguan kesehatan mental yang diperbaharui mengikuti perkembangan fenomena dan isu gangguan kesehatan mental”. Sedangkan, perolehan nilai rata-rata terendah dalam kategori intrinsik terdapat pada indikator “Correct” yaitu 3,90 pada butir pernyataan nomor 17 yang menyatakan “Konten akun Instagram @ubahstigma memberikan informasi mengenai gangguan kesehatan mental yang dapat selalu dipercaya kebenaran dan keterbaharuan informasinya sebagai rujukan tentang gangguan kesehatan mental”. Kategori intrinsik memperoleh nilai total 74,06 dan nilai rata-rata sejumlah 4,11 yang termasuk dalam kategori baik. Selanjutnya, tabel 3 menjabarkan hasil analisis dari kategori kontekstual sebagai berikut: Tabel 3. Hasil Analisis Kategori Contextual (Kontekstual) Contextual (Kontekstual) Dimensi Indikator Nilai Kategori Amount of data (Jumlah data) Amount of data is appropriate 4,02 Baik 4,31 Sangat baik Relevancy (Relevansi) Information is applicable 4,33 Sangat baik Credibility (Kredibilitas) Believability 4,20 Baik User feedback (Umpan balik pengguna) Implicit quality evaluation (dwell time reading content) Explicit quality evaluation (provides a rating) 4,01 Baik 3,87 Baik Timeliness (Ketepatan waktu) Sufficiently up-to-date 4,04 Baik Understandability (Mudah dipahami) Clear without ambiguity 4,19 Baik Easily comprehended 4,22 Sangat baik Value added (Nilai tambah) Beneficial 4,07 Baik Provides advantages 4,40 Sangat baik Total 45,66 Rata-rata 4,15 Berdasarkan hasil analisis pada tabel 3 telah diperoleh nilai rata-rata sejumlah 4,15 untuk kategori kontekstual. Hal tersebut menandakan bahwa kategori kontekstual berada pada tingkat empat dengan interval 3,41 – 4,20. Berdasarkan perolehan nilai tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa persepsi keluarga penderita gangguan kesehatan mental pada kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma dalam kategori kontekstual termasuk dalam kategori baik. Selanjutnya, perolehan nilai rata-rata tertinggi dalam kategori kontekstual terdapat pada indikator “Provides advantages” yaitu 4,40 pada butir pernyataan nomor 29 yang menyatakan “Konten akun Instagram @ubahstigma memberikan informasi mengenai gangguan kesehatan mental yang mudah diakses bagi pengguna”. Sedangkan, perolehan nilai rata-rata terendah dalam kategori kontekstual terdapat pada indikator “Explicit quality evaluation (provides a rating)” yaitu 3,87 pada butir pernyataan nomor 24 yang menyatakan “Konten akun Instagram @ubahstigma memberikan informasi mengenai gangguan kesehatan mental yang memungkinkan pengikut akun memberikan evaluasi berupa rating terhadap informasi yang disajikan pada akun Instagram @ubahstigma”. Kategori kontekstual memperoleh nilai total 45,66 dan nilai ratarata sejumlah 4,15 yang termasuk dalam kategori baik. Selanjutnya, tabel 4 menjabarkan hasil analisis dari kategori penyajian sebagai berikut: Tabel 4. Hasil Analisis Kategori Representational (Penyajian) Repesentational (Penyajian) Dimensi Indikator Nilai Kategori Conciseness (Keringkasan) Information presentation matches with information 4,25 Sangat baik Represented without being overwhelming, granularity, and appropriateness 4,23 Sangat baik Consistency (Konsistensi) Same format 4,08 Baik Compatible with previous data 4,15 Baik Accessibility (Aksesibilitas) Available or easily 4,15 Baik Quickly retrievable 4,07 Baik Total 24.93 Rata-rata 4.15 Berdasarkan hasil analisis pada tabel 4 telah diperoleh nilai rata-rata sejumlah 4,15 untuk kategori penyajian. Hal tersebut menandakan bahwa kategori penyajian berada pada tingkat empat dengan interval 3,41 – 4,20. Berdasarkan perolehan nilai tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa persepsi keluarga penderita gangguan kesehatan mental pada kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma dalam kategori penyajian termasuk dalam kategori baik. Selanjutnya, perolehan nilai rata-rata tertinggi dalam kategori penyajian terdapat pada indikator “Information presentation matches with information” yaitu 4,25 pada butir pernyataan nomor 30 yang menyatakan “Konten akun Instagram @ubahstigma memberikan informasi mengenai gangguan kesehatan mental dengan visual yang sesuai dengan isi informasi yang disampaikan”. Sedangkan, perolehan nilai rata-rata terendah dalam kategori penyajian terdapat pada indikator “Quickly retrievable” yaitu 4,07 pada butir pernyataan nomor 35 yang menyatakan “Konten akun Instagram @ubahstigma memberikan informasi mengenai gangguan kesehatan mental yang terjamin keamanan aksesnya melalui jaringan sistem informasi yang terpercaya (hypertext transfer protocol secure)”. Kategori penyajian memperoleh nilai total 24,98 dan nilai rata-rata sejumlah 4,15 yang termasuk dalam kategori baik. Selanjutnya, tabel 5 menjabarkan hasil analisis tiap-tiap dimensi sebagai berikut: Tabel 5. Hasil Analisis Tiga Kategori Kualitas Informasi Konten Akun @Ubahastigma No. Kaegori Kualitas Informasi Media Sosial Nilai Rata-Rata Kategori 1. Intrinsic (Intrinsik) 4,11 Baik 2. Contextual (Kontekstual) 4,15 Baik 3. Representational (Penyajian) 4,15 Baik Total 12,41 Rata-rata 4,13 Berdasarkan hasil tabel 5 bahwa nilai rata-rata keseluruhan kategori kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma yaitu kategori intrinsik, kontekstual, dan penyajian termasuk dalam kategori baik. Sehinggga, dapat ditarik kesimpulan bahwa keluarga penderita gangguan kesehatan mental mempersepsikan kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma termasuk dalam kategori baik. Langkah selanjutnya yaitu mengidentifikasi hasil statistik kuantitatif yang membutuhkan pembahasan lebih lanjut secara kualitatif. Hal tersebut bertujuan untuk melakukan analisis data integrasi dalam Explanatory Sequential Design. Tahapan dalam melakukan analisis data integrasi dalam Explanatory Sequential Design terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu: analisis data kuantitatif awal, analisis data kualitatif lanjutan, dan analisis data kualitatif mendukung penjelasan data kuantitatif dalam menjawab pertanyaan mixed methods (Creswell & Clark, 2017). Langkah awal analisis data integrasi dalam Explanatory Sequential Design yaitu menganalisis basis data kuantitatif dan mencatat hasil statistik yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut, lalu tentukan sampel menggunakan purposive sampling dan menyusun data pertanyaan untuk perumusan data kualitatif yang dapat digunakan untuk menjelaskan dengan baik hasil kuantitatif dengan menggunakan analisis tematik. Setelah data wawancara terkumpul maka dilakukan analisis tematik. Wawancara dilakukan kepada tiga informan yang terdiri dari satu informan yang memeroleh nilai ekstrem (rendah) dan dua informan yang memeroleh nilai rata-rata untuk mewakili seluruh sampel. Setelah dilakukan analisis tematik pada data wawancara, didapatkan tiga tema yaitu konten akun Instagram @ubahstigma sebagai tempat penyebaran informasi mengenai gangguan kesehatan mental, persepsi apresiatif keluarga penderita gangguan kesehatan mental pada informasi gangguan kesehatan mental konten akun Instagram @ubahstigma, dan persepsi evaluatif keluarga penderita gangguan kesehatan mental pada informasi gangguan kesehatan mental konten akun Instagram @ubahstigma. Maka, langkah selanjutnya yaitu menyatakan hasil kuantitatif dan kualitatif dalam tabel joint display sebagai berikut. Tabel 6. Integrasi dalam Follow-Up Results Joints Display terkait Persepsi Keluarga Penderita Gangguan Kesehatan Mental Followers Akun Instagram @ubahstigma pada Kualitas Informasi Hasil Kuantitatif Wawancara Tindak Lanjut Kualitatif untuk Mendukung Hasil Kuantitatif Bagaimana Temuan Kualitatif Mendukung Hasil Kuantitatif Semakin bisa memenuhi kebutuhan informasi mengenai gangguan kesehatan mental, semakin baik kualitas informasi Tema: Konten Akun Instagram @ubahstigma sebagai Tempat Penyebaran Informasi Mengenai Awal mula mengetahui akun Instagram @ubahstigma & alasan mengikuti akun Instagram konten akun Instagram @ubahstigma. Gangguan Kesehatan Mental @ubahstigma didapatkan sebagai penjelasan. Semakin mudah mengakses informasi dan semakin sesuai penyajian visual dengan isi pesan yang dimaksud, semakin baik kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma. (Nilai rata-rata tertinggi dalam kategori kualitas informasi konten akun Instagram Tema: Persepsi Apresiatif Keluarga Penderita Gangguan Kesehatan Mental pada Informasi Gangguan Kesehatan Mental Konten Akun Instagram @ubahstigma Manfaat mengakses dan kelebihan konten akun Instagram @ubahstigma sebagai penjelasan. @ubahstigma yang berada pada kategori contextual (kontekstual) dan representational (penyajian) yaitu 4,15). Semakin rendah kebenaran dan keterbaharuan informasi konten akun Instagram @ubahstigma, semakin menurun kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma. (Nilai rata-rata terendah dalam kategori kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma yang berada pada kategori intrinsic (intrinsik) yaitu 4,11) Tema: Persepsi Evaluatif Keluarga Penderita Gangguan Kesehatan Mental pada Informasi Gangguan Kesehatan Mental Konten Akun Instagram @ubahstigma Kekurangan dan kritikan konten akun Instagram @ubahstigma sebagai penjelasan. Tabel 6 adalah tabel follow-up results joint display yang merupakan tabel integrasi hasil kuantitatif dan kualitatif dalam Explanatory Sequential Design. Tabel ini menunjukkan hasil kuantitatif dalam satu kolom, hasil tindak lanjut kualitatif di kolom kedua, dan informasi tentang bagaimana temuan kualitatif mendukung penjelasan hasil kuantitatif di kolom terakhir (Creswell, 2014). Proses integrasi tersebut menggunakan hasil kuantitatif awal untuk menginformasikan aspek analisis data kualitatif dengan cara memasukkan coding yang diperoleh dalam tematik analisis pada analisis kualitatif yang didasarkan pada faktor-faktor penting yang diidentifikasi dalam hasil kuantitatif (Creswell & Clark, 2017). Pada Explanatory Sequential Design, hasil interpretasi mixed methods dari joints display perlu memperlihatkan bagaimana hasil kualitatif menafsirkan hasil temuan statistik (Creswell & Clark, 2017). Hal tersebut ditunjukkan dalam tabel sebagai berikut. Tabel 7. Interpretasi dari Joints Display dengan Kutipan terkait Persepsi Keluarga Penderita Gangguan Kesehatan Mental Followers Akun Instagram @ubahstigma pada Kualitas Informasi Konten dengan Nilai Rendah dan Netral Contextual (Kontekstual) Persepsi terhadap kategori kontekstual (terkait kemudahan mengakses informasi konten akun Instagram @ubahstigma oleh pengikutnya) Skor responden pada kualitas informasi konten “…Selain itu, konten-konten yang disajikan ubah stigma cukup kompleks untuk segala usia dan segala kondisi, akun @ubahstigma dengan nilai rata-rata rendah seperti parenting, lingkungan kerja, kesehatan mental saat bermedsos, dll. Semakin kompleks, menurut saya dapat mengedukasi berbagai lapisan masyarakat dengan beragam kondisi.” (A2, 14 Maret 2023 pukul 10.52 WIB) Skor responden pada kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma dengan nilai rata-rata netral “…Bisa menjadi rujukan topik ketika dibawa ke perbincangan sehari-hari...” (A8, 13 Maret 2023 pukul 13.10 WIB). Representational (Penyajian) Persepsi terhadap kategori penyajian (terkait penyajian visual sesuai dengan isi informasi yang ingin disampaikan) Skor responden pada kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma dengan nilai rata-rata rendah Skor responden pada kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma dengan nilai rata-rata netral “Untuk diri aku tujuan dari konten ubah stigma sudah sampai ke aku, sudah sampai tahap ke awareness atau nyambung aja ke aku gitu dan aku bisa menerima itu. Setelah apa yang aku lihat dari konten tersebut, aku ingin membaca lebih lanjut terkait Gangguan Bipolar dan tertarik untuk menonton film terkait Gangguan Bipolar…” (B2, 22 Maret 2023 pukul 18.35 WIB) “…melihatnya dari sudut padang desain karena saya anak DKV (red. Desain Komunikasi Visual). Dilihat dari segi desain dan isi, konten ubahstigma konsisten dan gampang dicerna untuk orang awam…” (B5, 22 Maret 2023 pukul 20.25 WIB) Intrinsic (Intrinsik) Persepsi terhadap kategori intrinsik (terkait informasi konten akun Instagram @ubahstigma dapat dipercaya kebenaran dan keterbaruan informasinya) Skor responden pada kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma dengan nilai rata-rata netral “Dengan konten yang kompleks, yang menjadi dampak negatif bisa jadi edukasinya tidak mendalam. Maka masyarakat perlu mencari tahu di tempat lain yang bisa mengenyangkan keingintahuan mereka…” (A2, 14 Maret 2023 pukul 10.52 WIB) Skor responden pada kualitas informasi konten akun Instagram “Mungkin bisa menyajikan konten yang lebih relate ke kehidupan sehari-hari….” (B5, 22 Maret 2023 pukul 20.27 WIB) @ubahstigma dengan nilai rata-rata netral Tabel 7 merupakan tabel interpretasi bagaimana hasil kualitatif mendukung menjelaskan hasil kuantitatif sebagai bahan pertimbangan. Interpretasi dari joint display terletak pada hasil perbedaan atau persamaan persepsi keluarga penderita gangguan kesehatan mental antara responden dengan hasil skor kuesioner ekstrim (rendah) dan netral (rata-rata) pada kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma. Berdasarkan hal tersebut, pembahasan hasil analisis menggunakan mixed methods jenis explanatory sequential design dengan cara menganalisis data kuantitatif terebih dahulu lalu menganalisis data kualitatif yang kemudian diintegrasi dan diinterpretasikan ke dalam bentuk joints display. Selanjutnya, diperoleh hasil analisis kuantitatif dengan perolehan skor tertinggi kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma pada kategori kontekstual dan penyajian yaitu keduanya memeroleh skor 4,15. Sedangkan, perolehan skor terendah kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma pada kategori intrinsik yaitu 4,11. Langkah selanjutnya yaitu integrasi dengan menyajikan ke dalam bentuk tabel joints display yang berisikan hubungan hasil kuantitatif awal dan kualitatif lanjutan. Tujuan dari joints display adalah membantu memvisualisasikan hasil analisis tematik pada temuan kualitatif yang telah dibagi per tema (konten akun Instagram @ubahstigma sebagai tempat penyebaran informasi mengenai gangguan kesehatan mental, persepsi apresiatif keluarga penderita gangguan kesehatan mental pada informasi gangguan kesehatan mental konten akun Instagram @ubahstigma, dan persepsi evaluatif keluarga penderita gangguan kesehatan mental pada informasi gangguan kesehatan mental konten akun Instagram @ubahstigma). Hasil integrasi tersebut dilanjutkan dengan proses interpretasi menggunakan tabel interpretasi yang berlandaskan pada penggunaan bukti kutipan wawancara yang dihubungkan dengan hasil integrasi seperti pada tabel 7, sehingga menghasilkan persepsi apresiatif maupun evaluatif keluarga penderita gangguan kesehatan mental followers akun Instagram @ubahstigma pada kualitas informasi konten.

Conclusion

Mengacu pada hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 267 responden pengikut akun Instagram @ubahstigma mengenai persepsi keluarga penderita gangguan kesehatan mental pada kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma yang menggunakan metode mixed methods dapat ditarik kesimpulan bahwa seluruh kategori kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma yaitu kategori intrinsik, kontekstual, dan penyajian tergolong dalam kategori baik bagi variabel kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma dengan perolehan nilai rata-rata untuk kategori intrinsik sejumlah 4,11; kategori kontekstual sejumlah 4,15; dan kategori penyajian sejumlah 4,15. Berdasarkan ketiga kategori kualitas informasi konten akun Instagram @ubahstigma terdapat dua kategori yang memiliki nilai rata-rata tertinggi dengan perolehan nilai rata-rata yang sama. Kedua kategori dengan nilai rata-rata tertinggi tersebut yaitu kategori kontekstual dan kategori penyajian. Dimensi dengan perolehan nilai rata-rata tertinggi pada kategori kontekstual yaitu value added tepatnya pada indikator provides advantages pada butir pernyataan nomor 29 dengan perolehan nilai 4,40 yang menjelaskan tentang informasi mengenai gangguan kesehatan mental dalam konten akun Instagram @ubahstigma mudah diakses bagi pengguna. Selanjutnya, dimensi dengan perolehan nilai rata-rata tertinggi pada kategori penyajian yaitu conciseness tepatnya pada indikator information presentation matches with information pada butir pernyataan nomor 30 dengan perolehan nilai 4,25 yang menjelaskan tentang visual konten akun Instagram @ubahstigma sesuai dengan isi informasi mengenai gangguan kesehatan mental yang disampaikan. Kategori dengan perolehan nilai terendah yaitu kategori intrinsik. Dimensi dengan perolehan nilai rata-rata terendah pada kategori tersebut yaitu reliability tepatnya pada indikator correct pada butir pernyataan nomor 17 dengan perolehan nilai 3,90 yang menjelaskan tentang informasi mengenai gangguan kesehatan mental yang disajikan oleh konten akun Instagram @ubahstigma dapat selalu dipercaya kebenaran dan kebaruan informasinya. Sedangkan, hasil penelitian dan analisis data kualitatif dari hasil perolehan terhadap wawancara kepada empat informan yang terdiri dari dua responden dengan perolehan skor total kuesioner berada di nilai netral (rata-rata) dan dua responden dengan perolehan skor total kuesioner berada di nilai ekstrim (rendah). Keempat responden tersebut telah mewakili seluruh sampel yang kemudian dilakukan analisis tematik dan memperoleh tiga tema utama yaitu, konten akun Instagram @ubahstigma sebagai tempat penyebaran informasi mengenai gangguan kesehatan mental bagi pengikutnya, persepsi apresiatif keluarga penderita gangguan kesehatan mental pada informasi gangguan kesehatan mental konten akun Instagram @ubahstigma, dan persepsi evaluatif keluarga penderita gangguan kesehatan mental pada informasi gangguan kesehatan mental konten akun Instagram @ubahstigma. Ketiga tema tersebut mendukung temuan kuantitatif yang menunjukkan bahwa kemudahan mengakses informasi mengenai gangguan kesehatan mental melalui akun Instagram @ubahstigma bisa diakses oleh berbagai lapisan masayarakat dengan beragam kondisi serta visual konten yang konsisten dan mudah dicerna merupakan alasan utama dalam pemanfaatan @ubahstigma oleh keluarga penderita gangguan kesehatan mental. Temuan kualitatif tersebut mendukung temuan kuantitatif yang menunjukkan bahwa kategori kontekstual dan kategori penyajian menjadi kategori dengan nilai ratarata tertinggi. Sedangkan, penyajian konten yang kompleks mengakibatkan pengikutnya mencari referensi lain menjadi kelemahan yang terdapat dalam konten akun Instagram @ubahstigma. Temuan kualitatif tersebut mendukung temuan kuantitatif yang menunjukkan bahwa kategori intrinsik menjadi kategori dengan nilai rata-rata terendah. Adapun saran yang dapat diajukan berdasarkan hasil penelitian kepada pihak Yayasan Ubah Stigma Indonesia selaku organisasi yang menaungi media sosial Instagram @ubahstigma yaitu sebagai berikut: 1. Meningkatkan frekuensi unggahan informasi mengenai gangguan kesehatan mental pada konten akun Instagram @ubahstigma, tentunya apabila ada informasi baru dan sedang banyak diperbincangkan Pemberian informasi tersebut harus disertai dengan pencantuman referensi ilmiah yang kredibel. Hal tersebut dapat mendukung peningkatan aspek intrinsik konten akun Instagram @ubahstigma; 2. Unggahan konten mengenai gangguan kesehatan mental oleh akun Instagram @ubahstigma dapat mengangkat tema mengenai referensi aksi nyata yang bisa dilakukan jika terdapat gejalagejala ketidaksehatan mental pada diri sendiri ataupun orang sekitar; 3. Akun Instagram @ubahstigma dapat membuat konten yang berbicara mengenai permasalahan kesehatan mental melalui pendekatan sinematografis yang melibatkan langsung pengidap gangguan kesehatan mental dan non pengidap gangguan kesehatan mental.