Kembali
16
1
2024 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 8 · 4 ISSN 2598-3040

Perspektif Social Cataloging pada Kataloger Naskah: Studi Kasus Khastara Perpustakaan Nasional RI

Universitas Indonesia; Universitas Indonesia

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kemungkinan penerapan social cataloging pada khastara dalam memaksimalkan pengelolaan informasi pembuatan katalog untuk naskah kuno, sehingga informasi dalam naskah dapat tersampaikan secara lengkap dan terperinci. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan menggunakan purposive non probability sampling. Pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan mewawancarai kataloger dan pengalih media khasatara, sejumlah 3 orang terdiri dari 2 kataloger atau pustakawan dan 1 pengalih media. Hasil menunjukkan bahwa kualitas informasi yang ditampilkan katalog naskah pada khastara masih sangat kurang dan membutuhkan bantuan dari pihak yang lebih ahli, seperti filolog dan ahli pernaskahan. Penerapan social cataloging juga sangat mungkin diterapkan dengan tetap melakukan tindakan preventif, seperti adanya control dan validasi dari kataloger atau pustakawan yang mengelola katalog naskah pada khastara.

Abstract

The aim of this research is to analyze the possibility of implementing social cataloging in Khastara to maximize the management of cataloging information for ancient manuscripts so that the information in the manuscripts can be conveyed completely and in detail. This research uses a qualitative approach with the sampling technique of purposive non-probability sampling. The sampling in this research was done by interviewing Khasatara media catalogers and transferors, a total of 3 people, consisting of 2 catalogers or librarians and 1 media transferor. The results show that the quality of information displayed in the manuscript catalog in Khastara is still very poor and requires assistance from more expert parties, such as philologists and manuscript experts. It is also very possible to implement social cataloging while still taking preventive measures, such as control and validation from the cataloger or librarian who manages the manuscript catalog at Khastara.
Keywords: Cataloging · khastara · manuscript · social cataloging

Introduction

Naskah kuno merupakan sebuah tradisi tulis Nusantara yang memuat kisah perjalanan panjang kemudian tersimpan dalam sebuah dokumen di berbagai tempat dan dimiliki oleh perorangan ataupun lembaga (Permadi, 2017). Perpustakaan memiliki koleksi langka termasuk naskah kuno yang memuat berbagai jenis kertas yang beragam dan seiringnya waktu mengalami perubahan pada kualitas kertasnya, sehingga naskah kuno dapat mengalami kerusakan yang disebabkan oleh berbagai faktor (Asaniyah, 2019). Naskah kuno menjadi salah satu bahan pustaka yang harus dilestarikan (Amanda & Hanif, 2023). Maka dari itu perlu adanya upaya pelestarian naskah kuno yang dilakukan oleh perorangan atau lembaga terkait untuk menjaga keaslian dan informasi pada naskah kuno. Beberapa studi megupayakan pelestarian dengan preservasi digital yang dilakukan sebagai upaya untuk memastikan agar materi digital tidak terancam pada kerusakan. Upaya yang dilakukan dapat dilakukan dengan berbagai macam kegiatan selama proses digitasi, dari mulai persiapan sampai dengan membuat tiruan naskah kuno sehingga tersimpanlah sebuah dokumen digitalnya (Pendit, 2008; Musrifah, 2017; Hidayah & Saufa, 2019; Karmawan, 2022). Perpustakaan Nasional RI sebagai lembaga penyedia informasi memiliki layanan naskah kuno atau manuskrip dalam bentuk tercetak maupun dokumen asli dalam bentuk digital yang dilayankan pada website https://khastara.perpusnas.go.id/. Website tersebut berisi berbagai sumber sejarah dalam bentuk digital, seperti naskah kuno, buku langka, majalah dan surat kabar langka, foto, serta peta (Supratman, 2021). Khastara merupakan suatu inovasi dari adanya penyediaan informasi sumber sejarah yang dapat diakses dimana saja dan kapan saja, namun jika dilihat secara mendalam pengelolaan informasi dari sebuah naskah atau sumber sejarah yang berupa sebuah katalog belum mencakup keseluruhan, dan hanya memuat deskripsi fisik dari naskah asli. Dijelaskan bahwa konsep pengelolaan informasi dari sebuah koleksi merupakan hasil olahan informasi yang memuat deskripsi sumber daya dan memiliki tujuan untuk dapat memungkinkan pemustaka dalam menemukan, mengidentifikasi, memilih, memperoleh dan mengekspolrasi sumber daya dalam sebuah katalog (Bawden et al., 2022). Jika merujuk pada konsep tersebut khastara dirasa belum memenuhi aspek pengelolaan informasi yang tepat untuk sebuah koleksi di perpustakaan. Pada dasarnya tujuan katalog yang diterapkan pada khastara adalah sama seperti katalog bahan pustaka pada umumnya, yaitu untuk menemukan buku berdasarkan penulis, judul, atau subjek, menentukan kepemilikan perpustakaan, jenis literatur dan memfasilitasi pemilihan buku berdasarkan edisi atau kualitas dari sebuah koleksi (Spiteri, 2009). Namun jika dilihat pada implementasi katalog khastara saat ini, mulai dari aspek pengelolaan informasi katalog dan tujuan diadakannya katalog naskah belum memuat hal-hal yang menjadi fokus diadakannya sebuah katalog. Pada dasarnya katalogisasi naskah kuno merupakan salah satu upaya yang dalam praktik pelaksanaannya di dasari pada kesadaran mengenai pentingnya kegiatan tersebut untuk mempermudah temu kembali informasi (Prabowo, et al., 2022). Biasanya katalogisasi pada naskah dilakukan dengan membuat deskripsi singkat mengenai isi naskah yang bertujuan untuk melakukan evaluasi sebelum membaca naskah asli dengan manfaat untuk mengetahui keberadaan suatu naskah yang sudah didigitalkan (Handayani, 2023).Jika katalogisasi pada khastara tidak memenuhi informasi lengkap, seperti konsep dasar katalogisasi yang telah dijelaskan sebelumnya, maka hal ini akan berpengaruh terhadap proses temu kembali informasi dan kualitas informasi yang terdapat pada sebuah katalog naskah. Maka dari itu, pengelolaan informasi dari sebuah naskah kuno memerlukan perhatian yang khusus, agar pengguna dapat dengan mudah mencari koleksi naskah dan mengetahui secara jelas isi informasinya. Kiranya perlu ada konsep organisasi informasi yang mulai dikembangkan oleh para pengelola informasi dalam membuat katalog naskah, sehingga konsep katalog naskah pada khastara dapat secara lengkap memuat informasi deskripsi yang lengkap untuk menjelaskan sebuah koleksi naskah kuno yang tersedia. Konsep katalogisasi masa kini, yaitu social cataloging merupakan sebuah konsep katalogisasi yang melibatkan partisipasi pemustaka dalam pengorganisasian sumber daya koleksi perpustakaan atau sistem informasi yang dapat menjadi pendekatan berharga untuk meningkatkan informasi catatan katalog dan meningkatkan pengalaman pemustaka dalam menemukan sumber daya koleksi di perpustakaan (Rabiei, 2022). Penerapan social cataloging pada katalog naskah dirasa penting dan dapat diterapkan untuk mendapatkan informasi yang lengkap dari sebuah naskah kuno, yang informasinya dapat digali lebih banyak dengan adanya kolaborasi dari para ahli dan kataloger. Tentunya pada impelementasi social cataloguing diperlukan peran pustakawan sebagai kataloger untuk dapat mengelola atau memvalidasi informasi dari sebuah koleksi naskah, dijelaskan bahwa tugas utama kataloger adalah membuat katalog dan klasifikasi dari publikasi monografi dan serial, non-buku dan materi analog lainnya (Daki´c, et al., 2020). Pembuatan katalog saat ini telah beralih ke katalogisasi sumber-sumber elektronik, dan dibuat pada sistem repositori serta perpustakaan digital untuk menetapkan metadata ke objek digital yang disimpan di dalamnya (Daki´c, et al., 2020). Dalam konsep social cataloging kataloger memiliki peran penting dalam menilai kualitas tag yang dihasilkan oleh pengguna. Pustakawan perlu memeriksa penggunaan tag buatan pengguna untuk mengantisipasi risiko seperti adanya tag spam atau kesalahan dalam pengelolaan informasi koleksi (Arch, 2007; Miksa, 2013). Dari penjelasan yang telah dijabarkan sebelumnya, terkait pelestarian informasi naskah kuno melalui pengelolaan informasi dalam sebuah katalog naskah. Konsep katalog naskah pada portal khastara masih jauh dari konsep pengelolaan informasi dasar katalogisasi yang memuat informasi lengkap dan terperinci untuk memudahkan temu kembali naskah kuno. Maka dari itu, penelitian ini akan membahas konsep pengelolaan informasi dalam katalog khastara menggunakan konsep social cataloging, dari perspektif kataloger dan pengelola naskah kuno di Perpustakaan Nasional RI. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi penerapan social cataloging pada khastara guna memaksimalkan pengelolaan informasi dalam konsep katalogisasi naskah kuno. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan situs web khastara dengan memperkaya informasi yang disajikan dalam sebuah katalog naskah kuno. B. Landasan Teori A. Social Cataloging Social cataloging merupakan praktek penambahan tag atau label deskripsi ke sebuah koleksi dalam sebuah katalog atau database yang dilakukan oleh pengguna dengan menggunakan sistem folksonomy yang menggambarkan subjek dan konten koleksi dari berbagai disiplin ilmu (Hider, Steele, & Smeaton, 2021). Social cataloging memungkinkan pemustaka dan pencipta untuk mengekspresikan pendapat mereka tentang makna dan interpretasi sumber daya informasi (Miksa, 2013). Istilah ini merujuk pada praktik pengguna yang menetapkan kata kunci atau tag pada sumber daya atau koleksi daring, seperti situs web, artikel, atau buku, untuk mengkategorikan dan mengaturnya berdasarkan pemahaman dan preferensi mereka sendiri. Perpustakaan telah mengadopsi sistem ini, di mana pengguna dapat secara kolaboratif dan sosial memberi tag dan mengkategorikan sumber daya (Arch, 2007). Penggunaan social cataloging di perpustakaan dapat meningkatkan minat pemustaka untuk penemuan koleksi yang lebih relevan dengan kebutuhannya, data menunjukkan bahwa 83% pemustaka berminat untuk dapat berkontribusi pada penambahan tag atau kata kunci pada subjek catatan katalog (Rabiei, 2022). Dilihat dari pemustakanya bahwa penggunaan social cataloging ini dapat meningkatkan kolaborasi dan diskusi antar pemustaka untuk menghidupkan diskusi dalam komunitas (Spiteri, 2009). Social cataloging semakin banyak digunakan oleh perpustakaan dalam memanfaatkan pengetahuan kolektif pengguna dan untuk memfasilitasi kolaborasi komunitas (Miksa, 2013). Implementasi social cataloging ini memang masih sedikit diterapkan pada perpustakaan tradisional, tetapu terdapat platform berbasis perpustakaan digital yang mempopulerkan penggunaan social cataloging ini, yaitu Goodreads dan LibraryThing yang mengusung konsep dengan melibatkan penggunanya untuk menandai item, menyediakan titik akses tambahan di luar metode katalogisasi tradisional (Hider & Steele, 2021). Meskipun social cataloging telah diterapkan dalam platform berbasis perpustakaan digital, seperti LibraryThing dan Goodreads pengguna yang memberikan tag sering kali tidak memiliki keterampilan khusus. Oleh karena itu, sangat penting bagi perpustakaan menggunakan strategi seperti kontrol otoritas dan pemeriksaan ulang metadata untuk dapat memastikan setiap kontribusi dari social cataloging selaras dengan standar katalogisasi dan tujuan pengetahuan yang lebih luas (Miksa, 2013). Selain itu juga, peran kataloger professional sangat penting kontribusinya untuk memastikan produksi informasi katalog berkualitas tinggi dan valid informasi tetap valid, (Miksa, 2013). Selain itu dijelaskan, bahwa model social cataloging membentuk jaringan berdasarkan kesamaan minat publikasi yang memfasilitasi kolaborasi komunitas tetapi tetap memerlukan mekanisme validasi agar data yang terkumpul konsisten dengan standar bibliografi (Ardiansyah, 2010). B. Kataloger Tugas utama pustakawan-kataloger meliputi pembuatan katalog dan klasifikasi untuk terbitan monografi dan serial, bahan nonbuku dan bahan analog lainnya, sumber daya elektronik, pengembangan repositori dan perpustakaan digital, serta pemberian metadata pada objek digital yang disesuaikan dengan media dan sumber informasi yang lebih dinamis (Daki´c et al., 2020). Kataloger juga memainkan peran penting dalam mengelola siklus informasi suatu koleksi (Rice dan Southall, 2016; Daki´c et al., 2020). Untuk koleksi khusus, seperti arsip atau manuskrip penting, kataloger dapat meningkatkan akses ke koleksi ini dengan menggunakan metadata secara efektif, mempertimbangkan tujuan penggunaan koleksi, dan memberikan judul subjek dan kata kunci yang relevan untuk memudahkan penemuan bahan yang relevan (Arnold & Walt, 2019). Kataloger perlu memiliki kompetensi yang kuat untuk membuat katalog yang konsisten, akurat, dan valid sehingga sistem pencarian dapat beroperasi secara efektif dan efisien (Anawati et al., 2022). C. Naskah Kuno Naskah merupakan hasil budaya masa lalu yang menyimpan warisan intelektual dan spiritual para leluhur, kaya akan kearifan lokal dan nilai-nilai yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi pembangunan nasional (Handayani, 2023). Naskah kuno atau yang dikenal juga dengan kodeks merupakan dokumen tulisan tangan yang memuat berbagai informasi, antara lain fakta tentang adat istiadat, pengetahuan, wayang, surat, dan perilaku masyarakat masa lalu (Amanda & Hanif, 2023). Naskah kuno wilayah Nusantara pada umumnya ditulis dalam aksara tradisional dan bahasa daerah yang sudah kurang dipahami masyarakat sehingga isinya sulit dibaca dan dipahami (Permadi, 2017).

Method

Penelitian ini akan mengeksplorasi lebih jauh tentang pengalaman kataloger khastara dalam melakukan penarikan informasi pada naskah kuno. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mendapatkan hasil data yang dapat di eksplorasi secara berbeda terhadap fenomena yang diteliti, langsung dari sudut pandang pihak-pihak yang terlibat dalam pemanfaatan dan pengelolaannya (Ayoung et al., 2021; Rahmi & Azizah, 2023). Pendekatan kualitatif merupakan konsep umum yang mencakup berbagai cara, yaitu wawancara dengan kelompok atau individu, observasi partisipan yang dilakukans secara luring atau daring, dan analisis tekstual menggunakan kertas dan elektronik (Tracy, 2019). Penelitian kualitatif menggunakan latar alami (sebagai sumber data langsung dengan sifat deskriptif yang mementingkan proses sehari-hari daripada hasil yang dibangun dari abstraksi-abstraksi sebagai pencerminan keunikan dari fenomena yang diteliti (Bogdan & Biklen, 1982; Romlah, 2021). Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan menggunakan purposive non probability sampling berdasarkan subjektifitas peneliti dan tidak menggunakan seleksi acak (Elfil & Negida, 2017; Berndt, 2020). Pengambilan sampel non probabilitas digunakan pada penelitian yang menggunakan sampel kecil untuk melihat fenomena yang lebih nyata (Firmansyah & Dede, 2022). Teknik pengambilan sampel ini dengan menggunakan pertimbangan (judgemental) dengan strategi dimana orang atau peristiwa tertentu dipilih dengan sengaja untuk memberikan informasi penting yang tidak dapat diperoleh dari pilihan lain (Maxwell, 2012; Firmansyah & Dede, 2022). Pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan mewawancarai kataloger dan pengalih media khasatara, sejumlah 3 orang terdiri dari 2 kataloger atau pustakawan dan 1 pengalih media. Kriteria pada informan untuk penelitian ini adalah kataloger dan staff pada kelompok alih media naskah kuno, serta kataloger dan staff pada kelompok alih media yang bersedia untuk di wawancara. Informan yang dipilih mengikuti kriteria ketentuan, seperti mengelola informasi dari naskah kepada sistem katalog, memiliki pemahaman standar katalogisasi dan melakukan pekerjaan katalogisasi naskah. Data informan adalah sebagai berikut: Tabel 1. Data Informan Nama (Disamarkan) Pekerjaan Budiman Koordinator Alih Media, Pustakawan Hartati Pustakawan Ahli Madya Annisa Pengalih Media Analisis data dilakukan dengan pengorganisasian dan penataan data secara sistematis dari wawancara, catatan lapangan, dan sumber lain untuk memudahkan pemahaman dan berbagi dengan orang lain. Prosesnya meliputi pengorganisasian data, mengkategorikannya, mensintesis pola, memilih informasi yang relevan, dan menarik kesimpulan untuk komunikasi (Saleh, 2017). Data hasil wawancara akan diklasifikasi berdasarkan pertanyaan yang diajukan dan dianalisis berdasarkan konsep yang digunakan dengan menggunakan pengkodean. Dalam penelitian ini konsep yang digunakan adalah terkait dasar dari tujuan dan maksud dari proses katalogisasi dan konsep social cataloging. Proses analisis data kualitatif melibatkan penggunaan kata-kata bukan angka, data dikumpulkan melalui berbagai metode dan dianalisis menggunakan kata-kata yang disusun dalam teks dengan alur kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles & Huberman, 2014; Saleh, 2017). Pertanyaan penelitian yang diajukan menggunakan istilah kolaborasi pembuatan katalogisasi naskah dikarenakan informan belum terlalu mengetahui istilah social cataloging. Pertanyaan dalam penelitian ini diantaranya sebagai berikut: a. Apakah penggunaan RDA sebagai standar katalogisasi sudah sesuai untuk digunakan dalam mengkatalogisasi naskah? b. Apakah penggunaan RDA dapat memberikan informasi yang lengkap pada katalog naskah? c. Bagaimana kualitas informasi yang dihasilkan dari katalog naskah saat ini? d. Bagaimana pendapat terkait diterapkannya katalog naskah yang dihasilkan dari hasil kolaborasi antara pengguna dan pihak-pihak terkait yang terlibat? e. Apakah SDM disini masih kesulitan dalam membaca atau mengartikan naskah yang diolah? f. Apakah diperlukan kontrol dan validasi informasi dari katalog naskah hasil kolaborasi pengguna dan pihak-pihak terkait yang terlibat? g. Bagaimana alur kerja yang baik ketika kolaborasi pembuatan katalog naskah dilakukan?

Result & Discussion

1. Pengelolaan Informasi Katalogisasi Khastara Perpustakaan Nasional RI Pengelolaan informasi dari sebuah naskah kepada katalog pada khastara di Perpustakaan Nasional RI menggunakan peraturan RDA (Resource Description Access). Pengelolaan informasi ini dikelola pada sistem otomasi perpustakaan bernama InlisLite hasil pengembangan milik Perpustakaan Nasional RI. Penggunaan RDA di Perpustakaan Nasional RI saat ini masih dianggap sebagai peraturan yang paling mutakhir dan paling lengkap untuk mengolah materi sumber daya dari segala jenis bahan pustaka, termasuk naskah. RDA ditetapkan sebagai standar baru yang dikembangkan berdasarkan draf AARC3. RDA juga dikenal sebagai deskripsi dan akses sumber daya yang menggantikan AACR2. Hal ini dapat dicirikan bahwa RDA merupakan sebagai standar katalogisasi baru di lingkungan digital yang bertujuan untuk memberikan panduan tentang daftar sumber bibliografi dengan cara yang lebih fungsional, mendefinisikan sumber informasi dalam semua format dari berbagi metadata dalam lingkungan digital, dan mengintegrasikan perpustakaan dengan web semantik (Monyela, 2020). RDA dapat memberikan lebih banyak intruksi dan dikembangkan dengan kerangka kerja yang fleksibel untuk menangani sumber daya non-buku dan karya yang tidak diterbitkan, sehingga berpotensi dapat diterapkan oleh lembaga selain perpustakaan (Joudrey, Daniel N; Taylor, Arlene G; Miller, 2015). Penggunaan RDA untuk membentuk katalog naskah pada khastara juga dirasa masih menjadi peraturan terbaru yang memuat informasi yang lengkap dan ditulis apa adanya, seperti yang dikemukakan informan: “mudah digunakan, tapi tergantung juga sih kalau naskahnya udah ada judul jadi tinggal ngisi aja di kolom-kolomnya. Malah justru kan RDA itu harus apa adanya ya ngisinya, kalau semisal gaada judul ya di kolom RDA nya ditulis naskah tanpa judul” (Hartati) “RDA kalau untuk naskah itu udah sesuai, karena RDA itu akan mendeskripsikan sumbersumbernya. Sejauh ini ga sulit sih pakai RDA selama sudah belajar jadi tinggal nambahnambahin ruas-ruas sesuai dengan pakemnya” (Budiman) Sejauh ini penggunaan RDA pada proses katalogisasi naskah pada khastara masih memberikan informasi yang sesuai pada fisik naskah. Kelebihan penggunaan RDA adalah dapat memunculkan informasi yang lengkap hanya pada satu katalog saja, padahal sebenarnya dalam satu judul koleksi naskah terdapat beberapa jenis koleksinya, misalnya naskah fisiknya, hasil digitasi, tembang dari naskah dan jenis koleksi lainnya. “manuskrip kan tidak manuskrip secara fisik saja tapikan ada digitasinya. Nah itu penggambaran atau manifes dari fisiknya dan itu cukup satu katalog saja yang menjelaskan beberapa jenis itu” (Budiman) Penelitian yang kurang setuju terkait hal ini menjelaskan bahwa RDA dianggap kurang memiliki fitur yang spesifik untuk pengolahan naskah menjadi sebuah katalog dibandingkan dengan peraturan yang Astan-e Quds atau peraturan yang dikembangkan oleh perpustakaan di Iran (Saadat, et al., 2021). Faktanya di Perpustakaan Nasional RI sendiri semua pembuatan katalog masih menggunakan RDA sebagai standar bibliografi, termasuk mengelola informasi pada naskah untuk menjadi sebuah katalog. Anggapan dari para kataloger dan pustakawan di Perpustakaan Nasional RI juga setuju bahwa RDA masih relevan dan mudah digunakan untuk mengelola informasi dari naskah. Kualitas informasi yang dihasilkan dari katalog naskah yang telah dikelola dan ditampilkan pada Khastara dinilai belum masih sangat kurang kualitasnya, alasannya adalah karena informasi yang disajikan masih terbatas dan belum memadai. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan dalam kelengkapan dan kedalaman informasi pada katalog agar dapat memenuhi kebutuhan pengguna secara lebih komprehensif. Pendapat informan juga setuju akan hal tersebut, yakni dijelaskan bahwa : “kualitas informasi jelek masih, karena kurang akurat, seharusnya adalah sebelum dilakukan alih media oleh kataloger dan filolog dia itu sudah mendefinisikan jumlah dan judul yang akan di alih mediakan loh, jumlah lampir juga bahasa juga kemudian tolong dibuat katalognya untuk selanjutnya diberikan ke alih media dengan data yang sudah lengkap (nomor panggil dan BIB ID)” (Budiman) “kualitasnya kurang sih, soalnya gaada abstraknya karena kita ga masukin abstraknya” (Annisa) “kualitas informasinya sih kurang, makanya kita butuh filolog dan orang dari luar itu yang paham isi naskahnya” (Hartati) Terlihat jelas bahwa pengelolaan informasi dari proses katalogisasi dan hasil katalogisasi pada khastara saat ini masih kurang dalam hal kualitasnya, ini dikarenakan kurangnya pengetahuan kataloger untuk memahami isi dari naskah dan memerlukan peran dari filolog dan ahli yang paham isi naskah. Penelitian menjelaskan bahwa keberadaan judul atau tag pada sebuah katalog tidak mengungkapkan apa pun tentang jumlah atau kualitasnya tag dapat dihasilkan dalam jumlah yang signifikan dan banyak dari tag ini ditambahkan untuk memberikan akses bagi pengguna secara luas, nilainya secara umum dianggap sebagai pelengkap dari setiap pengindeksan terkontrol yang ditambahkan oleh para profesional informasi seperti pembuat katalog perpustakaan, sehingga fleksibilitas dan kebaruan tag, ditambah akomodasinya yang lebih luas terhadap berbagai sudut pandang dan terminologi yang terdapat pada katalog (Hider & Steele, 2021). 2. Perspektif Social Cataloging Menurut Kataloger Naskah Katalog dianggap sebagai suatu sistem komunikasi, yaitu dimana pembuat katalog harus memiliki posisi bahwa informasi yang terdapat pada katalog dapat menangkap dan mewakili banyak interpretasi dari sumber daya, tidak hanya dari penulis-pencipta, tetapi juga dari pengguna (Miksa, 2013). Hasil temuan penelitian menemukan bahwa katalog naskah perlu menerapkan banyak interpretasi ini: “Kemungkinan diterapkannya konsep pengguna memberikan masukan pada informasi naskah, itu hal yang memungkinkan. Istilahnya adalah kolaborasi dimana ada kerjasama antara kataloger dan filolog dengan membentuk data kemudian pengalih media. Ada bantuan juga dari orang luar dalam hal ini adalah sesama filolog untuk membantu memvalidasi informasinya dikeroyok yuk informasinya udah benar atau belum” (Budiman) “Bisa diterapkan, soalnya kataloger sendiri itu ga ngerti isinya apa dan itu membutuhkan filolog, butuh pakar-pakar untuk bikin abstraknya kalau kataloger sendiri takutnya jadi salah. Lebih tepatnya sih seperti itu ya” (Hartati) “Boleh aja sih bisa diterapin ya untuk orang lain, filolog ya yang bikin abstraknya. Kita juga ngeraba-ngeraba informasinya, malah tulisannya aja kita masih bingung gimana bacanya dan sebagainya” (Annisa) Penerapan kolaborasi antara filolog, pustakawan sebagai kataloger dan masyarakat dalam hal ini adalah yang menguasai bahasa daerah dari naskah atau komunitas filolog sangat dimungkinkan diterapkan pada katalog khastara pada proses katalogisasinya. Damayanti (2022) menjelaskan bahwa katalog naskah berisi keterangan atau informasi yang dihasilkan dari sebuah naskah, kemudian diuraikan dengan lebih rinci. Uraian informasi ini dimulai dari deskripsi fisik, bahasa yang digunakan, asal naskah, isi secara singkat, naskah lain yang membicarakan naskah yang sama dan naskah-naskah yang berkaitan dengan naskah yang sedah diolah (Damayanti, 2022). Kolaborasi atau kerjasama ini juga dilakukan untuk mengetahui posisi pembacaan yang benar pada naskah, menurut informan hal ini merupakan hal yang sulit dilakukan: “Tentu saja masih kesulitan. Contohnya saya lagi foto naskah kemarin yang dari Batak kita udah mau foto secara vertikal karena pas kita lihat abstraknya tulisannya kayanya udah benar eh ternyata fotonya harus horizontal, jadi kita juga kesulitan ga hanya kataloger, pengalih media juga kesulitan” (Annisa) “Kesulitan iya, makanya lebih baik seorang pengalih media harus didamping seorang filolog. Agar pembacaan naskah jangan sampai kebalik, karena kita gatau Bahasa dari naskah gimana” (Budiman) Peran kataloger juga sangat dibutuhkan untuk validasi informasi naskah yang akan dicantumkan pada katalog, terutama pada implementasi social cataloging. Pelibatan pengguna adalah untuk menyumbangkan tag berdasarkan kebutuhan pribadi dan sosialnya, maka dari itu besar kemungkinan bahwa beberapa pengguna menandai sumber daya dengan istilah yang bias atau tidak tepat (Ni, 2010). Selain itu, dijelaskan bahwa keterlibatan pengguna memiliki kecenderungan untuk menghasilkan tag yang sama ketika mereka memiliki akses ke tag yang ada, sedangkan pengguna yang tidak diberi tag yang sudah ada sebelumnya memiliki kecenderungan untuk menghasilkan rentang tag yang lebih luas yang mungkin tidak serupa secara semantik (Miksa, 2013). Kasus di mana tag dapat dihasilkan dalam jumlah yang signifikan dan banyak dari tag ini ditambahkan untuk memberikan akses bagi pengguna secara luas, nilainya secara umum dianggap sebagai pelengkap dari setiap pengindeksan terkontrol yang ditambahkan oleh para profesional informasi seperti pembuat katalog perpustakaan (Rafferty, 2018). Perlu adanya kontrol dari kataloger sebagai pembuat katalog untuk memvalidasi informasi dari tagging yang dihasilkan oleh pengguna sangat perlu dilakukan, hal ini juga dikemukakan oleh informan bahwa informasi yang tidak terkontrol akan membuat informasi dari sebuah katalog naskah berantakan: “Sangat diperlukan, jadi yang paham naskah itu tidak asal nambahin informasi di katalog, nanti malah berantakan. Jadi yang tertentu aja yang menambahkan ga semua orang takutnya kan ada yang iseng asal-asal ngasih subjek, jadi gabisa bebas tete pada control misal dari instansi apa gitu” (Hartati) “Ya diperlukan, karena akses untuk mengisi field pada katalog itu dibuka untuk selain kataloger, pengalih media dan bukan pustakawan. Tapi perlu ada pembatasan dari tempat pengolahan bahan pustaka yang hanya bisa mengisi terkait dengan judul pengarang penerbit tahun terbit, kemudian deskripsi dan sebagai sebagainya selebihnya biar kami (kataloger/pustakawan) jadi udah dibatasi” (Budiman) Validasi informasi perlu ada tidak hanya dari kataloger, namun bantuan dari pihak lainnya, seperti filolog sebagai ahli pernaskahan perlu dilakukan. Kondisi serupa terjadi pada koleksi dengan subjek sastra dan genre fiksi dijelaskan bahwa pada umumnya maupun fiksi pada khususnya, apa yang dimaksud dengan karya tersebut, dan bukan tentang isinya, merupakan hal yang penting bagi para pembuat katalog sosial, dengan kontribusi mereka yang menambah bentuk dan genre yang tercakup dalam catatan katalog pada berbagai tingkatan untuk lebih banyak lagi informasi yang didapatkan untuk membuat katalog dari perspektif katalogisasi sosial (Hider & Steele, 2021). Informan menjelaskan bahwa peran kataloger saja tidak cukup tetapi membutuhkan validator dari pihak lainnya, terutama filolog yang mengerti naskahnya: “Sebenarnya abstrak dari naskahnya sudah ada sudah dicantumkan, tapi katalogerkan ga ngerti isi dari naskahnya itu apa. Jadi seorang kataloger seharusnya didampingi oleh seorang filolog, ini isi naskahnya apa sih.” (Budiman) Tidak hanya validasi dan kolaborasi atau kerjasama semata saja dalam praktek social cataloging. Namun, dibutuhkan syarat atau cara untuk menghasilkan kolaborasi yang baik diantara kataloger, filolog, dan pengguna. Untuk menjadi kataloger sosial, kataloger perlu berpengetahuan luas dalam bidang ilmu informasi dan perpustakaan, yang mengkhususkan diri dalam terminologi yang dikuratori oleh ahli dan yang dibuat pengguna sehingga para prakteknya social cataloging atau tag yang diberikan pengguna dapat digabungkan dengan pengetahuan pada sistem informasi untuk representasi dan akses subjek pilihan yang masuk akal ketika menyangkut pengorganisasian informasinya (Miksa, 2013). Kolaborasi yang sesuai dikemukakan oleh informan bahwa adanya pembagian tugas dan alur tugas yang jelas untuk mengelola naskahnya: “Penentuan subjek seharusnya yaitu didasari oleh filolog, kemudian filolog melaporkan ke kataloger. Karena apa kataloger tidak mengetahui isi dari naskah tersebut. Kerjasama filolog dan kataloger membentuk Namanya datanya tersebut ya istilahnya, data tersebut diserahkan kepada si alih media. Alurnya tidak selesai tapi kolaborasi itu, antara si filolog dengan si orang luar yaitu seorang filolog juga dengan meminta penilaian datanya sudah bagus atau belum, bantuan ini dilakukan dengan budget atau unbudget untuk tahu isinya apa sih per halaman. Dari pusdatinnya per satu halaman mencantumkan kolom untuk isi naskah tersebut, subjeknya dan ngumpul semua disitu” (Budiman) “Butuhnya filolog dan pihak luar itu dibutuhkan untuk tau isi naskahnya biar ada abstraknya. Pihak tertentu aja yang bisa menambahkan subjek dan ga semua orang aja yang nambahnambahin tetep ada control dan validatornya lah” (Hartati) “kolaborasinya itu dari filolog membuat daftar list naskahnya apa aja, dari kataloger tinggal masukin field dalam katalog, pengalih media bener-bener Cuma foto. Jadi alurnya sih lebih jelas aja biar langsung dikerjakan sesuai dengan tugasnya” (Annisa) Penerapan social cataloging memang belum menjadi hal yang lumIrah di perpustakaan, hal ini masih menjadi tantangan di perpustakaan terutama untuk sebuah katalog naskah yang memiliki pengelolaan secara khusus. Adanya konsep baru, yaitu social cataloging dapat meminimalisir kesenjangan karena praktik katalogisasi yang minim, misalnya disebabkan oleh kelalaian pembuat katalog atau keterbatasan praktis dalam analisis subjek atau mungkin disebabkan oleh sempitnya sudut pandang pembuat katalog (Hider & Steele, 2021). Pustakawan dan professional informasi dalam hal ini dapat melakukan integrasi sistem perpustakaan untuk lebih responsif terhadap pengalaman pencarian online pengguna tanpa harus mengorbankan kualitas akses, termasuk mengizinkan pengguna untuk menambahkan data ke katalog perpustakaan dan mengintegrasikan data yang disediakan pengguna ke dalam katalog online (Library of Congress Working Group on the Future of Biblio- graphic Control, 2008; Ni, 2010). Hal ini menjadi tantangan para kataloger atau pustakawan di Perpustakaan Nasional RI untuk terus mengembangkan informasi pada katalog khastara sehingga informasi naskah yang dilayankan kepada pengguna dapat lebih lengkap untuk ditampilkan pada portal khastara.

Conclusion

Penelitian ini mengungkapkan bahwa penerapan social cataloging pada katalogisasi naskah Khastara di Perpustakaan Nasional RI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas katalog. Penggunaan RDA dalam sistem otomasi InlisLite masih relevan, namun kualitas informasi katalog naskah saat ini masih dinilai kurang lengkap karena minimnya keterlibatan filolog dan ahli pernaskahan. Kedepannya Perpustakaan Nasional RI perlu membuat suatu kebijakan terkait dengan kolaborasi antara kataloger, filolog, dan ahli pernaskahan, agar sebuah katalog naskah yang dihasilkan dapat memuat informasi yang lebih lengkap, termasuk deskripsi isi naskah. Implementasi social cataloging di Indonesia masih jarang, tetapi sangat dimungkinkan untuk diterapkan pada Khastara dengan memaksimalkan keterlibatan kataloger professional. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas informasi pada katalog naskah dengan menerapkan validasi dan kontrol yang baik untuk menjaga kualitas informasi katalog naskah yang dihasilkan dari kolaborasi pengguna dan pihak atau ahli yang terlibat. Penelitian ini masih sangat terbatas dan perlu penelitian lebih lanjut dari topik serupa, karena masih minimnya jumlah informan. Penelitian selanjutnya disarankan dapat lebih banyak melibatkan informasi, filolog, ahli pernaskahan, masyarakat yang paham isi dari naskah dan pengguna Khastara guna mendapatkan perspektif yang lebih luas dan mendalam. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat menggunakan perspektif dan dapat mengeksplorasi lebih dalam terkait dengan kolaborasi dalam proses pembuatan katalog, khususnya adalah katalog naskah.