Faktor-Faktor Pembentuk Tacit Knowledge pada Individu
Universitas Diponegoro
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor pembentuk tacit knowledge pada individu. Metodepenelitian yang digunakan adalah pengamatan dan studi pustaka. Hasil penelitian ini diketahui bahwa tacit knowledge pada individu tertentu terbentuk factor pembentuk tacit knowledge individu adalah pendidikan di sekolah, organisasi dan teman.
Abstract
The purpose of this study was to determine the factors forming tacit knowledge in individuals. The research method used is observation and literature study. The results of this study are known that tacit knowledge in certain individuals formed a factor forming individual tacit knowledge is education in schools, organizations and friends.
Keywords:
tacit knowledge
· school
· organization
· friend
Introduction
Segala hal yang kita dengar, kita lihat, kita baca secara sadar ataupun tidak akan menjadi tacit knowledge dalam diri kita. Tacit knowledge merupakan pengetahuan yang terdapat di dalam otak atau pikiran seseorang sesuai dengan pemahaman dan pengalaman anak itu sendiri. Biasanya pengetahuan ini tidak terstruktur, susah untuk didefinisikan dan diberitahukan dengan bahasa formal kepada orang lain dan isinya mencakup pemahaman pribadi. Pengetahuan ini umumnya belum terdokumentasi karena pengetahuan ini masih terdapat di dalam pikiran seseorang. Tacit Knowledge memiliki ciri-ciri, yaitu: tacit diperoleh dari pengalaman, pengalaman yang pernah dirasakan, tidak mudah dikomunikasikan atau diberikan kepada orang lain karena sulit untuk di ekspresikan dan pengetahuannya dapat di transfer secara efektif melalui bertatap muka (person to person), yaitu pengetahuan yang di dapat oleh kita akan mudah untuk di transfer melalui percakapan dari kita ke orang lain. Nonaka dan Takeuchi (1995) Tacit knowledge merupakan hal yang dasar dalam pembentukan dan pengelolaan pengetahuan seseorang. Dari pengetahuan tersimpan tersebut menentukan corak karakter dan perilaku seseorang karena pengetahuan lah yang mendorong seseorang bertindak. Penting untuk diungkapkan bagaimana proses dan factor pembentukan tacit knowledge agar dapat mengembangkan individu dan masyarakat. 2. Landasan teori Tacit knowledge Manajemen pengetahuan atau knowledge management di organisasi dapat berupa tacit maupun explicit knowledge dan bisa bersifat individual maupun organisasi. Berdasarkan sifatnya, sebenarnya tacit knowledge lebih bersifat personal, dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan (Carrillo et al., 2004). Karena dikategorikan sebagai personal knowledge maka tacit knowledge berisikan pengetahuan yang diperoleh dari individu (perorangan). Pengalaman dari beberapa orang tentunya berbeda-beda berdasarkan situasi dan kondisi yang tidak dapat diprediksi. Definisi experience yang diambil dari kamus bahasa Inggris adalah the process of gaining knowledge or skill over a period of time through seeing and doing things rather than through studying. Yang artinya proses memeroleh pengetahuan atau kemampuan selama periode tertentu dengan melihat dan melakukan hal-hal dari pada dengan belajar. Tacit knowledge merupakan pengetahuan yang sangat bersifat pribadi juga sangat sulit untuk dibentuk (Sangkala, 2007). Selain itu, pengetahuan tacit ini juga sulit dikomunikasikan atau dibagi kepada orang lain. Jadi, tacit knowledge ini dapat diukur dari dua dimensi yaitu: a. Dimensi Teknis Dimensi ini mencakup berbagai macam keterampilan atau keahlian yang sulit diformalkan. Dimensi ini sangat subjektif dan pemahaman yang dimiliki oleh seseorang tersebut sangat pribadi, intuitif, dugaan, dan inspirasi yang muncul dari pengalaman. b. Dimensi Kognitif Dimensi ini terdiri dari kepercayaan, persepsi, idealisme, nilai-nilai, emosi, serta mental sehingga dimensi ini tidak mudah diartikulasikan. Dimensi ini juga lebih memberikan kesan atau gambaran seseorang terhadap realitas dan visinya ke depan untuk mengatakan apakah ini, dan apa yang harus dilakukan.
Method
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menggambarkan faktor-faktor pembentuk tacit knowledge pada seseorang. Sedangkan pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan studi pustaka. a. Wawancara wawancara adalah tanya jawab yang dilakukan antara peneliti dengan informan. Hal tersebut bertujuan agar informan dapat mengungkapkan persepsi, nilai-nilai dan segala pandangan-pandangannya sehingga pewawancara dapat menggali segala informasi yang diperlukan. b. Observasi observasi merupakan aktivitas yang mencari informasi, memaknai informasi, dan memiliki tujan tertentu, serta menggunakan satu atau lebih pancaindra. observasi merupakan suatu aktivitas mengamati dan mencatat tingkah laku individu yang dianggap penting sebagai data penunjang informasi, khususnya mengenai informasi situasi ynag sekarang. menurut Bentzen (dalam Kusdiyati & Fahmi, 2015) observasi merupakan aktivitas yang mencari informasi, memaknai informasi, dan memiliki tujan tertentu, serta menggunakan satu atau lebih pancaindra. c. Studi Pustaka Studi pustaka digunakan untuk menemukan landasan teori dan referensi dalam tacit knowledge pada seseorang.
Discussion
Faktor-faktor yang membentuk tacit knowledge pada individu yaitu: 1. Pendidikan atau sekolah Pendidikan merupakan proses belajar mengajar guna mencapai pengetahuan tertentu untuk meningkatkan kualitas diri. Proses pendidikan dilakukan secara sadar oleh individu. Berdasarkan data penelitian, seorang individu mendapatkan pengetahuan tersimpan di sekolah berupa ilmu pengetahuan umum seperti pengetahuan bahasa, berhitung, ilmu alam, ilmu agama seperti membaca kitab suci, keyakinan dan moral.Individu mengetahui berhitung, berbahasa, beragama dari sekolah. Pengetahuan teoritis tersebut menjadi bekal dan mempengaruhi perilaku individu. Kemudian kegiatan ekstra kurikuler seperti pramuka dan olah raga juga mempengaruhi individu pada hobi seseorang seperti camping, volly dan lainnya. Dalam dimensi kognitif didapati persepsi negatif di sekolah. Lembaga sekolah terdistorsi, tujuan pendidikan yang sebenarnya yaitu menciptakan manusia luhur dalam ilmu pengetahuan dan moral. Sedangkan saat ini pendidikan di sekolah sering didapati penularan moral yang tidak luhur. Dimensi teknis yang didapatkan individu hanya mendapatkan pengetahuan saja yang digunakan sebagai dasar dalam mengembangkan diri. Kemudian sumber tacit knowledge di sekolah hanya guru saja. Dari segi transfer ilmu dan mengidolakan perilakunya, seperti kiblat berpenampilan, tindak tanduk, kesantunan dan cara bergul. 2. Organisasi Organisasi merupakan suatu tempat di mana jiwa social dan kepemimpinan dalam diri kita bisa terasah, yaitu dengan mengedepankan kepentingan umum dibanding kepentingan pribadi. Selain itu, dalam suatu organisasi seseorang dilatih bagaimana cara mengambil keputusan yang bijak dengan tidak merugikan pihak manapun. Organisasi yang dibentuk tidak hanya akan melatih kepribadian individu supaya bisa menjadi lebih baik, namun juga bisa melatih perkembangan emosi. Organisasi sebagai lingkungan yang baik akan membentuk emosi yang baik juga. Dengan kecerdasan emosi ini maka membuat individu bisa bergaul dan menghadapi berbagai karakter dan permasalahan orang yang berbeda-beda. Berdasarkan data penelitian didapatkan data bahwa seorang individu dapat memperoleh pengetahuan tentang pengambilan keputusan seperti dalam organisasi terdapat pendidikan kader. Dalam pendidikan kader tersebut memberikan pengenalan terhadap keyakinan diri kemudian wawasan keilmuan, manajemen konflik. Dalam pendidikan kader tersebut bermuara pada pembentukan mental dan karakter sehingga dalam realitas kehidupan individu dihadapkan pada pilihan tentang bagaimana cara kita memutuskan pada sebuah permasalahan. Dimensi kognitif didapatkan dalam hal keberanian mengambil keputusan pilihan dan dimensi teknis didapatkan ketrampilan kecepatan bertindak. Kemudian kedewasaaan diri muncul dalam bentuk sikap inferior menjadi superior, seperti ketika individu mengambil peran dimasyarakat dibutuhkan kematangan diri untuk bersosial. Contoh ketika diberikan amanah peran keagamaaan dibutuhkan kedewasaan berpikir, kedewasaan berucap dan kedewasaaan bertindak. Hal tersebut dipengaruhi dari pendidikan kader yang mangandung keyakinan diri, wawasan ilmu sehingga individu dapat tampil di depan publik. Jika tidak memiliki sikap dewasa maka individu akan merasa inferior di dapan masyarakat umum. Bagi sebagian orang, memiliki kemampuan dan keberanian untuk berbicara di depan umum merupakan hal yang tidak mudah, butuh waktu yang lama untuk melatih dirinya agar memiliki kemampuan tersebut. Organisasi merupakan suatu tempat yang tepat bagi seseorang untuk dapat melatih dan mengembangkan kemampuan serta keberanian seseorang terkait berbicara di depan publik, seperti menyampaikan pendapat, berpidato, dan lain sebagainya. Dimensi kognitif didapatkan dalam hal bagaimana individu bersikap di depan umum dan dimensi teknis berupa ketrampilan mengolah ucapan dan pikiran. 3. Teman Tacit knowledge yang didapatkan dari sebuah pertemanan adalah cerita. Pengetahuan itu informasi ketika dari teman didapatkan cerita pengalaman mereka. Pengetahuan itu berbentuk informasi yang informasi itu kemudian diserap dan dapat diimplementasikan akhirnya mereka dapat bercerita tentang profesi, tentang problem hidup. Dan ketika kita diberi cerita secara otomatis kita diberi pengetahuan yang tidak didapatkan di sekolah ataupun di organisasi. Dimensi kognitif bahwa pengetahuan tak sebanding lurus dengan profesi yang dijalani. Dimensi teknis didapatkan pilihan profesi yang diinginkan.
Conclusion
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan factor pembentuk tacit knowledge individu adalah pendidikan di sekolah, organisasi dan teman.