PERSEPSI PEMUSTAKA TERHADAP PENGEMBANGAN INSTITUTIONAL REPOSITORY DI PERPUSTAKAAN ISI SURAKARTA
ISI Surakarta; ISI Surakarta
Abstrak
Repositori institusi menjadi rujukan penting dalam pe mbangunan wacana ilmiah dan akademik. Pemeringkatan repositori institusional ISI Surakarta pada tahun 2017 berada di peringkat ke 87 dari semua universitas di Indonesia. Posisi merosot ke 120 pada 9 April 2018, fakta ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan unt uk menilai, mengevaluasi, mengembangkan dan meningkatkan kualitas repositori institusional di ISI Surakarta. Dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif, tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui penggunaan repositori institusional di ISI Sura karta oleh Reader. 2) Untuk menentukan keuntungan dan kerugian dari repositori institusional di ISI Surakarta oleh pengguna. 3) Untuk mengetahui perkembangan repositori institusional di ISI Surakarta oleh pembaca
Abstract
Institutional repositories are important things that are a reference in the construction of scientific and academic d iscourse. The ranking of ISI Surakarta institutional repositories in 2017 ranks 87th out of all universities in Indonesia. The position slipped to 120 on April 9, 2018, this fact shows that there is a need to assess, evaluate, develop and improve the quali ty of institutional repositories at ISI Surakarta. By using quantitative research methods, the objectives of this study are: 1) To find out the use of institutional repositories in the ISI Surakarta by Reader. 2) To determine the advantages and disadvantag es of institutional repositories at ISI Surakarta by users. 3) To find out the development of institutional repositories at the ISI Surakarta by Reader.
Keywords:
Repository
· Reader
· Library
Introduction
1. Latar Belakang Perpustakaan adalah sebuah organisas i dengan tugas utamanya adalah sebagai pusat sumberdaya informasi. Sebagai pusat sumber daya informasi dengan pengertian bahwa perpustakaan dituntut untuk mampu mengumpulkan, mengolah dan mneyebarkan informasi yang dibutuhkan penggunanya. Tujuan akhir tugas utama tersebut adalah mampu melahirkan masyarakat yang tidak hanya mengkonsumsi informasi, tetapi sekaligus menjadi masyarakat yang mampu memproduks informasi, Rasdanelis 2011:81) Hadirnya teknologi informasi dalam kehidupan manusia telah memberikan kemudahan kemudahan, dan melalui berbagai riset TI terus mengalami penyempurnaan. Dengan perkembangan ini seseorang yang akan mencari informasi menemukan banyak alternative da lam memenuhi kebutuhan informasi secara cepat. Dalam konteks perpustakaan dan pusat informasi, hadirnya teknologi i nformasi juga menyajikan kemudahan kemudahan dalam pengelolaan, diantaranya perpustakaan dapat memenuhi berbagai permintaan informasi dalam b entuk cetak maupun digital , Sunita 2008:1). Dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik, menyatakan bahwa informasi publi k bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap pengguna informasi dalam hal ini adalah masyarakat. Adanya kemudahan teknologi, maka lembaga dapat menyebarkan informasi yang mereka miliki agar bias diakses oleh masyarakat, tak terkecuali perguruan tinggi. Repository institusi adalah hal penting yang menjadi rujukan dalam pembangunan wa cana ilmiah dan akademik. Bisa dikatakan bahwa repository itu sebuah keharusan di suatu lembaga. Sejauh ini alat ukur sebuah repository yang baik dan bermanfaat masih dipertanyakan. Repository, t he physical space (building, room, area) reserved for the per manent or intermediate storage of archival materials (manuscripts, rare books, government documents, papers, photographs, etc.). To preserve and protect archival collections, modern repositories are equipped to meet current standards of environmental contr ol and security. Whether a repository is open or closed to the public depends on the policy of the parent institution. Sometimes used synonymously with depository , Reizt ( 2004:578). Secara sederhana bisa dikatakan bahwa repository adalah tempat penyimpanan Jika dikaitkan dengan perpustakaan, repository yaitu suatu tempat d imana dokumen, informasi atau data disimpan, dipelihara dan digunakan. Hal yang sanga tnyata yang nantinya dirasakan oleh pemustaka tentang penggunaan repository adalah pemustaka mempun yai kemudahan dalam temu kembali informasi yang dibutuhkannya. Setiap institusi pendidikan selayaknya memiliki repository yang handal dan berkualitas, namun kenyataannya alat ukur akan kualitas sebuah repository belum banyak dibicarakan secara ilmiah dan d ikaji secara mendalam. Hasil simpan dari semua yang dimiliki perguruan tinggi belum secara optimal dapat melayani kepentingan seluruh sivitas akademikanya dengan baik. Hal inilah yang mestinya mendapat jawaban dari berbagai persoalan berkenaan dengan repos itory yang akan memberikan layanan terbaik bagi masyarakat ilmiah. Sebagus dan sebaik apapun sebuah perpustakaan, jika koleksi yang ada di dalamnya tidak dimanfaatkan oleh pemustaka tentu tidak berarti sama sekali. Secara nyata, yang berhak menilai dan mer asakan manfaat repository perguruan tinggi adalah pemustaka. Pemustaka selayaknya menjadi hakim yang adil yang mampu berperan bagaimana sebuah repository menjadi lebih bermanfaat dan lebih berguna. Pengembangan repository yang nantinya menjadi kebanggaan, kekhususan sebuah Institus Perguruan Tinggi dengan perguruan tinggi lainnya. Hal yang membedakan itu menjadi sangat perlu karena dengan model ini kita akan tahu distingsi dan ex c elensi yang akan membawa institusi pendidikan kita sejajar dengan institusi pe ndidikan bertaraf dunia lainnya. Kajian terhadap pemustaka nantinya akan dapat menguak bagaimana pemanfaatan repository institusi bagi mereka dan membuka upaya pengembangan pengembangan sesuai dengan kebutuhan mereka . Utamanya dalam menjawab kebutuhan akan literasi informasi pemustaka . Mereka para p emustaka diharapkan akan secarajuju rmemberikan gagasan ide dan penilaiannya yang tentu akan sangat berguna bagi pengembangan repository Untuk itulah maka penelitan yang mengkaji repository institusi dalam perss epsi pemustaka sangat perlu dilakukan untuk melihat efektifitas penggunaan repository untuk mereka. Bagaimana mereka memperoleh manfaat untuk pengembangan dirinya dalam menyelesaikan kebutuhan informasi ilmiah mereka. Kajian ini mencoba melihat repository institusi yang dikelola oleh institusi pendidikan tinggi yaitu ISI Surakarta , utamanya dalam perspektif pemustaka sebagai pengguna layanan repository tersebut. Alasan yang dipakai dalam menentukan obyek penelitian ini adalah karena pada tahun 2016 ISI Sura karta mulai membangun repository institusi untuk mewujudkan class university, adapun peringkat repository institusi ISI Surakarta pada tahun 2017 adalah menempati posisi ke 87 dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Posisi tersebut melorot ke urutan 12 0 per tanggal 9 April 2018 dari seluruh perguruan tinggi Indonesia, masih kalah 6 tingkat dari perguruan tinggi ISI Yogyakarta yang menempati posisi ke 114. Fakta ini menunjukkan bahwa perlu adanya penilaian, evalu s i, pengembangan dan peningkatan kualitas repository institusi di ISI Surakarta sehingga peringkat di W ebometrik dari tahun ke tahun diharapkan naik, bukan sebaliknya menurun. Penelitaian ini berjudul “Persepsi Pemustaka T erhadap P engembangan Institutional Repository Di Perpustakaan ISI Sura karta ”. Titik tekan dalam kajian ini adalah kajian terhadap pemustaka dari institusi pendidikan tinggi yaitu ISI Surakarta 2. Rumusan Masalah a) Bagaimanakah pemanfaatan institutional repository di Perpustakaan ISI Surakarta oleh Pemustaka? b) Bagaimanakah keungg ulan dan kelemahan institutional repository di Perpustakaan ISI Surakarta? c) Bagaimanakah persepsi pemustaka terhadap pengembangan institutional repository di Perpustakaan ISI Surakarta oleh Pemustaka? 3. Tujuan Penelitian Penelitian ini menyajikan data dan evaluasi dari hasil pengamatan untuk melihat pemanfaatan institutional repository, keunggulan dan kelemahan institutional repository dari perguruan tinggi yaitu ISI Surakarta, dan persepsi pemustaka terhadap pengembangan Institutional Repository. Peneliti memiliki tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yaitu: a) Untuk mengetahui pemanfaatan Institutional Repository di ISI Surakarta oleh Pemustaka. b) Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan Institutional Repository di ISI Surakarta oleh Pemustaka. LITERATUR 1. Tinjauan Pustaka Kajian tentang Pemustaka telah dilakukan oleh Arif Cahyo Bachtiar, UIN SunanKalijaga Yogyakarta, 2017. Bejudul “Analisis Webometrics Terhadap Website Repositori Institusi Perguruan Tinggi Indonesia (Kajian Terhadap 10 Perguruan Tinggi di Indonesia)”. Penelitian ini membahas tentang analisis repositori institusi pada 10 perguruan tinggi di Indonesia. Dalam penelitian ini menggunakan indikator dari Webometrics, yaitu Visibility (V), Size (S), Rich File (R), dan Scholar (Sc). Hasil dari keempat indikator tersebut ke mudian akan diberi bobot masing-masing 50% untuk Visibility, 10% untuk Size, 10% untuk Rich File, dan 30% untuk indikator Scholar. Kemudian dari hasil perhitungan tersebut diperoleh peringkat dari hasil tertinggi hingga terendah. Tujuannya ialah menggambarkan secara kuantitatif kondisi repository institusi perguruan tinggi di Indonesia dengan menggunakan indikator Webometrics tersebut. Subjek penelitian pada penelitian ini ialah 10 website institusi repositori Indonesia. Subjek tersebut dipilih berdasarkan pada pemeringkatan Webometrics dalam 3 tahun terakhir, di mana 10 repositori tersebut menempati peringkat 10 besar, meskipun peringkatnya fluktuatif, tapi sebagian besar tetap pada peringkat 10 besar. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dengan cara observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian akan mendiskripsikan secara kuantitatif kondisi repository institusi 10 perguruan tinggi tersebut berdasarkan 4 indikator webometrics, kemudian akan dilakukan pembobotan terhadap 10 subjek penelitian yang akan menghasilkan pemeringkatan institusi repository dalam penelitian ini. Hasil yang didapatkan ialah institusi repository milik Universitas Diponegoro mendapat hasil tertinggi dengan nilai akhir sebesar 0,94728489, sementara untuk hasil terendah ialah repository institusi Universitas Gunadarma dengan nilai akhir yaitu 0,626520782. 2. Landasan Teori a. Pengembangan Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada, atau menghasilkan teknologi baru. Pengembangan artinya proses, cara, perbuatan mengembangkan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002:538). Pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, konseptual, dan moral sesuai dengan kebutuhan melalui pendidikan dan latihan. Pengembangan adalah suatu proses mendesain pembelajaran secara logis, dan sistematis dalam rangka untuk menetapkan segala sesuatu yang akan dilaksanakan, Majid (2005:24). Maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar, terencana, terarah, untuk membuat atau memperbaiki, sehingga menjadi produk yang semakin bermanfaat untuk meningkatkan kualitas sebagai upaya untuk menciptakan mutu yang lebih baik. b. Repository Institusi Repository institusi adalah perubahan manajemen teknologi, dan migrasi konten digital dari satu set teknologi ke depan sebagai bagian dari komitmen organisasi untuk menyediakan layanan repository, Clifford (2003:2) Sedangkan menurut Pendit (2008:137) istilah repository institusi atau simpan kelembagaan merujuk ke sebuah kegiatan menghimpun dan melestarikan koleksi digital yang merupakan hasil karya intelektual dari sebuah komunitas tertentu. Karakteristik koleksi institusional repository menurut Pendit (2008) adalah: 1) Pengirim materi untuk disimpan bukanlah hanya si pembuat, tetapi juga pemilik karya (misalnya penerbit yang sudah membeli hak cipta dari penulis) dan pihak ketiga (misalnya pustakawan). 2) Selain karya, disimpan pula metadata dari karya tersebut, dan ini dimungkinkan karena perangkat lunaknya memang sudah dilengkapi dengan boring untuk mengisi metadata secara mudah. 3) Pada umumnya tersedia mekanisme sederhana untuk meletakkan, mengambil mencari dokumen. 4) Karena mengendalikan inisiatif dari pihak pengirim, maka sebuah simpanan kelembagaan perlu mendapatkan dari pihak pengirim, maka sebuah simpanan kelembagaan perlu mendapatkan kepercayaan dan dukungan. 5) Karakteristik setiap simpanan kelembagaan tentu saja sangat ditentukan oleh lembaga tempatnya berada selain oleh jenis koleksinya, yang terutama merupakan hasil penelitiannya. Maka bisa dikatakan bahwa repository institusi adalah pelestarian konten yang ada di perpustakaan ke konten digital. Tentu saja untuk melestarikan koleksi bentuk digital perpustakaan perguruan tinggi harus menyediakan beberapa sar ana dan prasarana yang mendukung untuk alih media koleksi tercetak ke bentuk digital seperti scanner, webhosting atau server dengan IP public sehingga dapat diakses dengan mudah oleh sivitas akademika perguruan tinggi. c. Persepsi Persepsi atau perception menurut Lasa HS. (2009:283) : proses mengingat / mengidentifikasi tertentu dan persepsi rasa, dari seseorang terhadap sesuatu lalu diharapkan muncul tanggapan. Sedangkan dalam Kamus Lengkap Psikologi (Chaplin, 2006:358) artinya proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian obyektif dengan bantuan indera. d. Pemustaka Pemustaka ialah pengguna fasilitas yang disediakan perpustakaan, baik koleksi maupun buku (bahan pustaka maupun fasilitas lainnya).Ada berbagai jenis pemustaka seperti pelajar, mahasiswa, guru, dosen, karyawan dan masyarakat umum, tergantung dengan jenis perpustakaan tersebut , Suwarno (2009: 80). Sedangkan pengertian pemustaka menurut UU Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan pasal 1 ayat 9 ialah pengguna perpustakaan, yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan. Dapat disimpulkan bahwa pemustaka ialah pengguna perpustakaan, baik perseorangan maupun kelompok yang memanfaatkan layanan, fasilitas dan koleksi yang tersedia di perpustakaan. e. Perpustakaan ISI Surakarta Perpustakaan ISI Surakarta merupakan salah satu perpustakaan perguruan tinggi seni yang memiliki tujuan bukan hanya menunjukkan fungsi perpustakaan sebagai jantung universitas saja tetapi memiliki ‘multi peran’ atau ‘multi fungsi’ dalam pengembangan universitas secara keseluruhan. Antara lain adalah 1) Memajukan seni dan ilmu seni untuk menunjang tumbuh kembangnya seni dan budaya nusantara sebagai akar budaya bangsa melalui kegiatan penelitian, pengkajian, aktivitas s eni yang kreatif dan inovatif, publikasi karya ilmiah dan karya seni demi kejayaan bangsa, 2) Mengembangkan dan menyebarluaskan seni dan ilmu seni serta budaya nusantara untuk meningkatkan ketahanan budaya bangsa. f. Fungsi dan Tujuan Repository Institusi R epositor y institusi yang diterapkan di perguruan tinggi, otomatis menambah peran perpustakaan perguruan tingginya yaitu sebagai penerbit ( konten lokal dan menempati posisi yang sangat penting dalam komunikasi ilmiah perguruan tinggi. Setidaknya ada lima fungsi repositor y institusi yaitu sebagai sarana kreasi, preservasi, organisasi, akses, dan distribusi (informasi) digital jangka panjang. Jadi repositor y institusi merupakan upaya untuk mempertahankan sumber daya kultural dan intelektual agar dap at digunakan selama mungkin. Tujuan repositor y institusi menurut Mufid (2005:5) adalah untuk memudahkan akses, pencarian, usabilitas, dan visibilitas hasil hasil penelitian untuk semua pemustaka yang memiliki akses internet. Repositor y institusi juga diseb ut sebagai aset komunitas pendidikan, karena: 1) Mampu memperbaiki dan menyempurnakan komunikasi ilmiah konvensional melalui infrastruktur pengetahuan berbasis digital, dan 2) Memungkinkan penulis dan pembaca untuk bertemu dalam fase awal konsepsi gagasan akad emis, serta mendukung kedua pihak untuk berbagi informasi secara terbuka dan gratis. Sehingga, cakupan kemanfaatan repositor y bisa merata untuk semua pihak, terutama penelit i institusi, dan masyarakat akademik secara luas. Repository institusi juga dapat berfungsi untuk menginformasikan kepada khalayak ramai tentang kepakaran seorang dosen. Dalam repositoryi institusi, masing-masing dosen dapat mempunyai akun untuk menyimpan karya ilmiahnya. Pengunjung repository institusi dapat melihat hasil-hasil kegiatan ilmiah dan riset tiap-tiap dosen tersebut. Melalui fitur repository institusi seperti ini, pengunjung bisa mendapatkan informasi kepakaran, research interest (penelitian menarik) dosen yang dimaksudkan. Harliansyah (2016:10). g. Teknologi Informasi dan Institusional Repository Penemuan internet sebagai pengembangan dari jaringan komputer (computer network) telah mengubah distribusi informasi dengan sangat cepat. World Wide Web yang lebih dikenal dengan Web merupakan sebuah arsitektur framework untuk mengakses isi yang terhubung dalam jutaan mesin internet di seluruh dunia, Andrew (2011:664). Internet sebagai media untuk informasi dan komunikasi memiliki banyak informasi baik yang dapat dipertanggung-jawabkan maupun yang tidak jelas sumbernya. Untuk itu diperlukan suatu kriteria dalam mengevaluasi sebuah website agar dapat memenuhi kebutuhan informasi bagi yang mengakses. Menurut Ulum (2015:20) bahwa untuk melakukan evaluasi isi sebuah website dapat menggunakan 5 (lima) pedoman (the School of Journalism & Library Science), yaitu : 1. Authority a. Informasi kewenangan yang bertanggungjawab terhadap isi website b. Identifikasi melalui author credentials dan nama domain c. Afiliasi organisasi dapat diperiksa pada footer pada halaman utama website 2. Currency a. Kemutakhiran informasi b. Hubungan tautan dapat diakses secara tepat c. Dapat diperiksa pada footer pada halaman utama website d. Respon pada pengunjung 3. Coverage a. Teknis informasi website, menu, tautan, kompatibilitas akses. b. Judul dan deskripsi website dimuat secara lengkap 4. Objective a. Website resmi organisasi tidak memuat iklan komersial b. Tujuan penyediaan akses melalui website c. Tautan dengan informasi eksternal terkait 5. Accuracy a. Menyediakan data dan informasi yang akurat dengan tautan data pendukung yang ilmiah b. Penggunaan tata bahasa formal/ilmiah c. Menyediakan informasi untuk kontak kepada penyedia website
Method
1. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Sangadji dan Sopiah (2010:21) menyatakan bahwa penelitain deskriptif adalah penelitian terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat ini dari suatu populasi yang meliputi kegiatan penelitian sikap atau pendapat terhadap individu, organisasi, keadaan, ataupun prosedur. Sementara menurut Cooper, H.M. (2007) penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain. 2. Waktu dan Tempat Penelitian Tempat penelitian dilakukan di UPT Perpustakaan ISI Surakarta pada tanggal 1 – 30 Agustus 2018. 3. Populasi dan Sampling Populasi dari penelitian ini adalah seluruh anggota Perpustakaan ISI Surakarta yang masih berstatus aktif dalam tahun ajaran 2018. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik sampling acak sederhana (simple random sampling). Sampling acak sederhana menurut Arikunto (1990:126) adalah semua subjek yang termasuk dalam populasi mempunyai hak untuk dijadikan anggota sampel. 4. Teknik Pengumpulan Data Angket Arikunto (1995:136) menyatakan bahwa angket merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang yang diberi tersebut bersedia memberikan respons sesuai dengan permintaan pengguna. Sedangkan menurut Nasution (2003:128) yang disebut angket atau questionnaire adalah daftar pertanyaan yang didistribusikan melalui pos untuk diisi dan dikembalikan atau dapa juga dijawab di bawah pengawasan peneliti.
Discussion
Dalam pembahasan hasil penelitian ini peneliti akan merangkum hasil penelitian yan g diperoleh dari seluruh sampel yang berjumlah 100 pemustaka yang merupakan pemustaka UPT Perpustakaan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta berdasarkan pada variabel penelitian. 1. Pemanfaatan Repository Institusi Dari Variabel Pemanfaatan Institutiona l Repository oleh pemustaka di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dapat dinyatakan bahwa Institutional Repository Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta belum dimanfaatkan oleh pemustaka, yang dapat dilihat berdasarkan pada 5 (lima) pernyataan di ata s bahwa : a) Pemustaka mengetahui Institutional Repository, sebagaimana dinyatakan sebanyak 55 % responden tidak setuju. b) Pemustaka menggunakan Institutional Repository sebagaimana dinyatakan sebanyak 41 % responden tidak setuju. c) Pemustaka mengetahui fungsi me nu pencarian/penelusuran melalui subyek sebanyak 41 % responden setuju. d) Pemustaka mengetahui fungsi menu pencarian/penelusuran melalui devisi sebanyak 48 % responden tidak setuju. e) Pemustaka mengetahui fungsi menu pencarian/penelusuran melalui author seba nyak 49 % responden setuju. Secara umum pemustaka belum melihat dan belum dapat mengakses repository institusi dari Institutional Repository UPT Perpustakaan ISI Surakarta . Namun dari hasil pengamatan maka masih didapati beberapa mahasiswa yang sudah tah u dan bisa menggunakan Institutional Repository. Sosialisalisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan memberikan workshop atau pelatihan, pengenalan serta pengumuman pengumuman yang menarik bagi pemustaka. Kemudian di era milin eal seperti saat ini perpustakaan bisa menggunakan sosial media sebagai salah satu promosi mengenalkan Institutional Repository. Mengenalkan Institutional Repository juga dapat dilakukan bersamaan dengan mengenalkan web resmi perpustakaan atau web ISI Sura karta dengan alamat http// isi ska.ac.id. Selain pemustaka mendapat sosialisasi selayaknya mendapatkan panduan dan kecapakan dalam mencari informasi melalui program user education di perpustakaan. Lebih bagus lagi jika Perpustakaan juga memberikan buku pa nduan ataupun manual book tentang bagaimana mengakses repository yang dimilikinya. Panduan ini akan sangat bermanfaat bagi pemustaka dalam mengakses informasi yang mereka butuhkan untuk melengkapi tugas, penelitian atau berbagai kepentingan lain. Selain u ser education yang diprogramkan perpustakaan bagi pemustaka, kegiatan yang tidak kalah penting yaitu literasi informasi, kegiatan ini hendaknya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kurikulum user education . Dengan begitu nantinya setiap pemustaka at au mahasiswa pengguna perpustakaan dapat memiliki kemampuan dan keterampilan teknis dalam memanfaatkan berbagai alat yang dapat membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan informasi. Adanya pemanfaatan repository merupakan output paling nyata dari berhasilnya pelaksanaan user education serta literasi informasi di perguruan tinggi. UPT Perpustakaan ISI Surakarta hendaknya membekali keterampilan pencarian informasi bagi pemustaka. Karena di era digital sek a rang ini literasi informasi menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa. Sosialisasi dan promosi bagi pemustaka sudah selayaknya dilakukan bahkan semenjak menjadi mahasiswa baru. Di UPT Perpustakaan ISI Surakarta pemberian orientasi / pembekalan perpustakaan dalam bentuk user educatio n merupakan upaya yang tepat untuk mewujudkan pemustaka yang mandiri atau literated terampil dalam mencari pengetahuan dengan memanfaatan repository. Namun langkah berikutnya yang tak kalah penting untuk dilakukan adalah melanjutkan orientasi / pembekalan tersebut dengan hal hal lain yang berhubungan dengan kecakapan lanjutan dalam pencarian informasi. Segi pemanfaatan yang lain adalah kemampuan mahasiswa atau pemustaka untuk mempunyai keterampilan tambahan dalam mengakses berbagai sumber informasi yang te lah tersedia. Selain itu dalam repository juga perlu ditunjukkan model model pencarian dalam bentuk terstruktur. Institutional Repository UPT Perpustakaan ISI Surakarta dibuat dalam platform yang sama yaitu menggunakan software Eprints. Perlu diketahuan ba hwa s oftware repository Eprints telah dirancang untuk mengendalikan databasenya dengan struktur yang rapi dan teratur. Pola pola ini yang semestinya diketahui oleh para pemustaka. Struktur ini akan sangat membantu dalam mencari informasi secara lebih efek tif dan efisien. Bentuk pencarian yang pertama adalah pencarian melalui subyek. Dalam pencarian melalui subyek pemustaka akan mendapatkan tampilan pencarian berdasarkan subyek bidang ilmu yang biasanya dihubungkan dengan bagaimana perpustakaan mengklasifik asi koleksinya di perpustakaan. Secara umum bentuk pencarian model ini bersifat user frendly bagi pemustaka. Pedoman subyek seperti itulah yang memungkinkan Eprints mampu dikembangkan dengan berbagai model pengelompokan yang berbeda beda sesuai dengan kep entingan perpustakaan masing masing. Jika pemustaka tidak mendapat bimbingan dalam melihat subyek ini adakalanya akan mendapat kesulitan dalam melakukan penelusurannya. Maka pengenalan terhadap subyek akan sangat membantu bagi pemustaka untuk lebih mudah m encari informasi berdasarkan disiplin disiplin ilmu yang ada di perpustakaannya masing masing. Selain menggunakan subyek maka Eprints memberikan satu menu devisi dalam model pencarian atau model browsing nya. Menu devisi ini akan menunjukkan bagaimana berm acam tulisan yang ada di dalam repository dapat dikelompokkan berdasar unit kerja yang ada di perpustakaan. Unit kerja yang ada di dalam perguruan tinggi biasanya dalam bentuk Fakultas, Program Studi (Prodi) atau Jurusan. Dengan melihat menu ini maka akan dengan sangat mudah pemustaka dapat melihat hubungan antar ilmu dan pengelompokan ilmu berdasarkan disiplin ilmu masing masing. Selain itu memungkinkan membuat devisi berdasarkan bentuk bentuk yang lain. Bentuk yang mungkin sangat berkepentingan bagi perke mbangan ilmu seperti pengelompokan berdasarkan karya dosen atau bentuk penelitian yang lain. Di UPT Perpustakaan ISI Surakarta model akses dengan devisi ini memungkinkan kita melihat keadaan koleksi masing masing Prodi yang ada dan kajian yang paling dige mari. Sehingga terbuka peluang bagaimana ilmu berkembang melalui kajian kajian yang sudah berjalan memandu jalan yang akan dilakukan di masa mendatang. Fungsi pencarian yang lain yaitu pencarian melaui author atau pengarang. Model pencarian ini dilakukan m encari pengarang yang disusun secara alfabetis dari A sampai Z. Jika kita menginginkan kecepatan pencarian yang tinggi dan sudah mengetahui nama penulisnya maka dengan mudah akan tampil dengan kecepatan dan ketepatan yang lebih bagus lagi. 2. Keunggulan dan Kelemahan Repository Institusi Keunggulan penggunaan repository institusi adalah memungkinkan akses terhadap repository secara lebih mudah dan cepat untuk mendapatkan pedoman dan panduan serta informasi yang dibutuhkan. Kecepatan pencarian data dalam masin g masing repository tergantung pada kemampuan pemustakanya dalam memiliki keterampilan teknis penelusuran. Dari Variabel Keunggulan dan Kelemahan Institutional Repository oleh pemustaka UPT Perpustakaan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dapat dinyata kan bahwa Repository Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta memiliki keunggulan oleh pemustaka, yang dapat dilihat berdasarkan pada 5 (lima) pernyataan di atas bahwa a. Pemustaka dapat dengan cepat menemukan data melalui Repository Institusi dinyatakan sebanyak 48 % responden setuju. b. Pemustaka dapat dengan mudah dalam mengakses informasi sebanyak 55 % responden setuju. c. Pemustaka mendapat informasi lengkap ( full text ) sebanyak 42 % responden d. P emustaka menyatakan layanan repository inst itusi sangat fleksibel dapat diakses siapa, di mana dan kapan saja sebanyak 58 % responden setuju. Beberapa responden mengusulkan untuk mendapatkan kecakapan atau keterampilan tersebut diberikan oleh perpustakaan dengan rangkaian program penelusuran dalam jaringan atau online . Online Research Skills atau yang dikenal dengan istilah ORS. Dengan kemampuan ORS yang tinggi, maka database yang ada di repository akan mudah digunakan dan dengan cepat dapat diketemukan oleh pemustaka. Selain itu faktor kemudahan da lam menggunakan Repository ini menjadi daya dukung yang bermanfaat bagi proses pencarian informasi. Model ini sangat memudahkan karena platform sumber terbuka ( open sources ) yang digunakan Eprints akan sangat memudahkan pengembangan lebih lanjut dan memuda hkan bagi pengembang dan perpustakaan untuk mengkostumasikan yaitu menambah atau bahkan mengurangi sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masing masing perpustakaan. Informasi yang didapat dalam Institutional Repository ISI Surakarta pada dasarnya sama karena semua hakekatnya dapat diakses secara full text Kelebihan akses full text yang dimiliki Repository ISI Surakarta yaitu akses full text bagi pemustaka di ISI Surakarta maupun di luar ISI Surakarta. Mode full text di ISI Surakarta diberikan dengan m udah yaitu tanpa perlu login atau mendaftar sebagai anggota. Hal ini didasarkan pada semangat open source bagi seluruh masyarakat yang mencari informasi dengan lebih mudah dan efisien. Namun yang perlu diperhatikan puala adalah pada kelebihan ini membawa m engandung kelemahan di sisi yang lainnya. Yaitu sisi keamanan. Bagi ISI Surakarta membatasi akses akan sangat menggangu bagi proses mendapatkan informasi secara mudah dan lengkap. Sedangkan dengan kemudahan diterapkannya mode full text akan menyebabkan ren dahnya proses keamanan data dan kemungkinan penyalinan data secara illegal atau tidak sah. Semua memang ada kurang dan lebihnya maka semestinya kebijakan institusilah yang menjadi dasar utama meletakkan pedoman pemanfaatan repository untuk masyarakat. Peng ambilan kebijakan open source penuh yang dilakukan oleh ISI Surakarta akan sangat membantu pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang nantinya akan berimbas besar bagi kemajuan bangsa. Para pemustaka yang melakukan akses untuk pencarian informasi pas ti akan sangat tertolong dan terbantu jika mereka mendapatkan akses file secara penuh dan full text . Efek negatif dari kebijakan ini sebenarnya bisa dikurangi dan diminimalisir dengan membangkitkan kesadaran ilmiah bahwa menulis ilmiah seharusnya dilakuka n dengan mengikuti pedoman yang benar. Mengikuti atau memdasarkan diri kepada model penulisan ilmiah yang terstandarisasi secara internasional. Dengan menggunakan bantuan software Zotero atau Mendeley maka plagiarisme akan dapat dicegah. Apalagi dengan dig unakannya software anti plagiarisme seperti Turnitin maka pemustaka akan lebih berhati hati atas hasil karyanya dan tidak melakukan pengambilan sumber tulisan dengan cara yang tidak tepat. Dengan bantuan software repository ini maka informasi yang ada di d alamnya akan dapat di akses di manapun kapanpun dan oleh siapapun. Sehingga kecepatan penyebaran ilmu pengetahuan akan semakin cepat dan menjangkau segala golongan. 3. Pengembangan Repository Institusi Dari hasil pengamatan dan wawancara maka untuk selanjutn ya repository di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta hendaknya secara berkelanjutan dikembangkan dengan cara meng upgrade kemampuan software nya dengan versi yang terakhir. Proses upgrade memang tidak dengan mudah dapat dilakukan, namun dengan dikemban gkannya software tersebut maka akan membawa efek bagi munculnya dan berkembangnya fitur fitur baru bagi kemajuan software tersebut dan akan mendapatkan bentuk repository yang lebih sempurna sesuai dengan kebutuhan ISI Surakarta. Perbaikan juga bisa dilaku kan dengan merubah perwajahan atau fitur sehingga walaupun sederhana namun terasa lebih menarik dan kekinian. Dengan penampilan yang lebih menarik dan kekinian maka pemustaka atau masyarakat akan lebih senang serta suka untuk berkunjung atau datang dan men ikmati repository. Selain menyiapkan upgrade dari segi software juga selayaknya membenahi dan mengembangkan perangkat kerasnya yaitu dengan menambah server dengan kemampuan yang lebih tinggi. Akses yang cepat dan lancar akan diperlukan bagi pengembangan repository di masa mendatang. Maka penyiapan server dengan prosessor yang lebih mumpuni dan memory komputer yang lebih besar harus dilakukan. Semua peralatan elektronik termasuk mesin repository tentu sangat rentan. Sehingga sistem back up data haruslah a da, hal tersebut untuk menjaga sesuatu jika terjadi kerusakan/ trouble maupun kegagalan proses. Karena server akan sangat rentan terhadap upaya pengrusakan baik melalui teknik peretasan atau hacking untuk perangkat lunaknya ataupun kerusakakan karena fakt or perangkat kerasnya. Pengembangan selanjutnya adalah dengan meningkatkan bandwith internet di perpustakaan agar pemustaka dalam melakukan akses repository menggunakan komputer komputer yang menjadi terminal akses di perpustakaan. Repository sangat membut uhkan akses internet dan biasanya pengakses repository yang overload akan membawa dampak bagi kecepatan dan kenyamanan menggunakan repository. Langkah yang perlu dilakukan yaitu dengan menyediakan komputer di perpustakaan untuk pemustaka dalam mengakses re pository institusi. Mengingat bahwa penerimaan mahasiswa baru di tahun 2018 ini adalah kisaran 900 sampai 1000, sedangkan komputer yang disediakan oleh perpustakaan yang khusus untuk mengakses repository belum tersedia bagi pemustaka.
Conclusion
Secara umum dari pengamatan pada setiap variabel penelitian dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut : Pertama , pada Variabel Pemanfaatan Repository Institusi di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta boleh dikatakan telah dimanfaakan oleh para pemustaka. Pem ustaka sudah mulai mengetahui, sudah menggunakan dan mengetahui fungsi menu pencarian informasi melalui subject, devision dan creator. Kedua, pada Variabel Keunggulan dan Kelemahan Repository Institusi oleh pemustaka di Institut Seni Indonesia (ISI) Surak arta dapat dinyatakan bahwa Repository Institusi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta memiliki keunggulan. Pemustaka menyatakan mereka cepat menemukan informasi, mudah dalam mengakses, sangat fleksibel karena beberapa hal yaitu: dapat diakses, siapa saj a, di mana saja, dan kapan saja. Ketiga , pada Variabel Deskripsi Pengembangan Repository Institusi oleh pemustaka di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dapat dinyatakan bahwa Repository Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta telah memiliki deskripsi pengembangan. Pemustaka menyatakan bahwa mereka dapat meningkatkan efisiensi dalam pencarian informasi, tampilan/ interface bagus dan menarik. Untuk pengembangan repository institusi berkaitan dengan sarana prasarana di perguruan tinggi, pemustaka menyataka n harus selalu ada tersedia jaringan listrik atau pasokan daya listrik, harus selalu ada koneksi internet dan harus ada ketersediaan perangkat komputer di perpustakaan. Terkait dengan pengembangan repository institusi seperti yang dinyatakan dalam kesimpul an di atas yaitu pemustaka menyatakan harus selalu ada jaringan listrik, harus selalu ada koneksi internet dan harus ada ketersediaan perangkat komputer di perpustakaan, maka beberapa point tersebut perlu menjadi prioritas penanganan dalam menjaga keberlan gsungan repository Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta secra berkesinambungan. Selain itu beberapa masukan dalam catatan para responden seperti usulan agar memberikan ketersediaan akses terhadap skripsi lama, memperbanyak perangkat akses yang tersedia di perpustakaan, meningkatkan bandwith internet di perpustakaan agar tidak terkendala oleh proses loading yang lama ketika melakukan akses koleksi repository; perlu juga untuk diperhatikan.