Pojok Statistik: Kolaborasi Perpustakaan Universitas Padjadjaran dan BPS Provinsi Jawa Barat dalam Pengembangan Layanan Referensi
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Kerjasama merupakan cara dalam membangun relasi untuk terciptanya kolaborasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kolaborasi layanan pojok statistik, dampak kolaborasi, dan hambatan serta strategi peningkatan layanan pojok statistik. Metode penelitian digunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kolaborasi yang dilakukan oleh Perpustakaan Universitas Padjadjaran dan BPS Provinsi Jawa Barat dalam pengelolaan pojok statistik melibatkan sivitas akademika seperti mahasiswa dan dosen. Kolaborasi yang terjalin memberikan kontribusi positif bagi kedua belah pihak, BPS dapat memperkuat user engagement dan branding produk statistik BPS, sedangkan Perpustakaan Universitas Padjadjaran dapat membangun relasi untuk meningkatkan sumber daya dan kinerja perpustakaan. Promosi dan strategi pemasaran yang kreatif dan inovatif dapat meningkatkan pemanfaatan pojok statistik. Kegiatan promosi dapat dilakukan dengan cara membuat infografis, konten kreatif di media sosial, dan melakukan event seperti seminar maupun workshop statistik. Kesimpulan penelitian menjelaskan pojok statistik merupakan wujud dari pengembangan layanan referensi yang ada di perpustakaan perguruan tinggi. Hal ini terlihat dari cara kerja layanan pojok statistik yang memungkinkan terjadinya interaksi antara agen statistik dan pemustaka. Kolaborasi yang terjalin dapat menciptakan sinergi untuk mendukung peningkatan literasi statistik secara luas di lingkungan Universitas Padjadjaran.
Abstract
Collaboration is a way of building relationships to create collaboration. The aim ofthis research is to determine statistical corner service collaboration, the impact ofcollaboration, and barriers and strategies for improving statistical corner services.The research method used is qualitative research with a case study approach. Theresults of the research explain that the collaboration carried out by thePadjadjaran University Library and BPS West Java Province in managing thestatistics corner involved academics such as students and lecturers. Thecollaboration that exists provides a positive contribution for both parties, BPS canstrengthen user engagement and branding of BPS statistical products, while thePadjadjaran University Library can build relationships to improve library resourcesand performance. Creative and innovative promotions and marketing strategiescan increase the utilization of statistics corners. Promotional activities can becarried out by creating infographics, creative content on social media, and holdingevents such as seminars or statistical workshops. The research conclusionexplains that the statistics corner is a form of developing reference services inuniversity libraries. This can be seen from the way the statistics corner serviceworks, which allows interaction between statistical agents and users. Thecollaboration that exists can create synergy to support the widespread increase instatistical literacy within Padjadjaran University.
Keywords:
Collaboration
· Collage Library
· Reference Service
· Statistics Corner
Introduction
Perpustakaan berkontribusi memberikan layanan informasi secara cepat, tepat, dan up to date. Sebagai lembaga penyedia informasi, perpustakaan memberikan layanan prima untuk pemenuhan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka (Rifauddin, 2017). Pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka yang beragam serta keterbatasan dana yang dimiliki, menyebabkan perpustakaan kesulitan memenuhi kepuasan pemustaka tanpa bantuan pihak luar (Suratmi, 2021). Terbatasnya sumber daya secara finansial serta infrastruktur perlu diatasi untuk memberikan layanan yang optimal. Perpustakaan memerlukan kerjasama baik dengan berbagai pihak baik perpustakaan lain maupun lembaga lainnya untuk saling melengkapi dan memenuhi kebutuhan informasi pemustaka demi tercapainya kepuasan pemustaka. Kerjasama merupakan cara untuk mencapai tujuan suatu lembaga dengan membangun relasi sehingga akan tercipta kolaborasi. Kerjasama yang terjalin akan membawa keutungan bagi kedua belah pihak yang terlibat di dalamnya dengan saling melengkapi (Galib et al., 2022). Menjalin kerjasama dinilai cukup efektif bagi perpustakaan, khususnya perpustakaan kecil dalam meningkatkan layanan. Pentingnya kerjasama dalam meningkatkan layanan perpustakaan tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yang menjelaskan bahwa untuk meningkatkan pelayanan kepada pemustaka, perpustakaan dapat bekerjasama dengan berbagai pihak. Salah satu contoh konkret perpustakaan yang telah aktif menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yaitu Perpustakaan Universitas Padjadjaran. Perpustakaan Universitas Padjadjaran atau yang dikenal Pusat Pengelolaan Pengetahuan Universitas Padjadjaran adalah jenis perpustakaan perguruan tinggi yang berada di gedung grha kandaga, kampus utama Universitas Padjadjaran, berlokasi di Jalan Raya Bandung-Sumedang Km. 21, Jatinangor. Perpustakaan Universitas Padjadjaran telah melakukan kerjasama dengan berbagai lembaga baik antar perpustakaan maupun instansi lainnya seperti Perpustakaan Nasional, Bank Nasional Indonesia (BNI), Badan Pusat Statistik (BPS), Pegadaian, dan Bank BJB Berbagai kerjasama yang telah dilakukan Perpustakaan Universitas Padjadjaran diharapkan dapat mendorong peningkatan layanan yang lebih baik untuk kepuasan pemustaka. Seperti halnya pada layanan referensi yang menjadi representasi dari perpustakaan perguruan tinggi (Putra & Irawati, 2018). Layanan referensi merupakan layanan yang diperuntukkan bagi pemustaka yang membutuhkan bantuan pribadi dalam memanfaatkan sumber daya perpustakaan, seperti membantu mencari buku yang dibutuhkan secara cepat melalui OPAC. Layanan referensi merupakan layanan publik yang ditujukan untuk mencari informasi secara cepat dan akurat, menelusur dengan pilihan yang lebih luas, dan menggunakan koleksi referensi secara tepat (Gani, 2020). Layanan referensi memungkinkan terjadinya interaksi antara pustakawan dengan pemustaka baik secara face to face maupun secara virtual (Cassell & Hiremath, 2018). Layanan referensi di perpustakaan perguruan tinggi sangatlah penting untuk mewujudkan tri dharma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan, riset, dan pengabdian pada masyarakat (Putra & Irawati, 2018). Oleh karena itu, perlu dikembangkan layanan referensi di perpustakaan perguruan tinggi harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan dan memenuhi harapan seluruh sivitas akademika. Kualitas layanan inilah yang berorientasi pada kepuasan pemustaka akan menjadi tolok ukur keberhasilan perpustakaan (Oktaviani et al., 2019). Sebagai upaya untuk mengembangkan layanan referensi, Perpustakaan Universitas Padjadjaran telah berkolaborasi bersama BPS (Badan Pusat Statistik) Provinsi Jawa Barat melalui peluncuran layanan “Pojok Statistik”. Layanan pojok statistik merupakan layanan baru yang telah diresmikan oleh Rektor Universitas Padjadjaran bersama dengan Kepala BPS Provinsi Jawa Barat pada tahun 2022 silam. Pojok statistik berada di lantai 2 gedung Perpustakaan Universitas Padjadjaran, kampus Jatinangor. Pojok statistik ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam membantu sivitas akademika Universitas Padjadjaran dalam memahami dan menginterpretasikan data statistik. Layanan ini mencakup berbagai kegiatan, seperti konsultasi statistik, edukasi statistik, infografis, videografis serta fasilitas ruang baca virtual untuk memudahkan dalam akses informasi. Dengan demikian, perpustakaan secara aktif telah berkolaborasi dengan BPS Provinsi Jawa Barat dalam rangka meningkatkan pelayanan dan membantu pemustaka dalam menggali potensi data statistik untuk keperluan pendidikan, riset, dan pengabdian pada masyarakat. Sebelumnya, terdapat beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini. Pertama, penelitian yang dilakukan Stiawan & Kurniawan (2019) menjelaskan kerjasama yang terjalin antara UPT perpustakaan IAIN Salatiga dan Kedutaan Besar India dalam membangun layanan India Corner. Penelitian dilakukan melalui metode dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif dan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan IAIN Salatiga telah menjalin kerjasama dengan negara India selama 4 tahun. Kerjasama ini diimplementasikan dalam penyediaan koleksi, beasiswa, pertunjukan Budaya India, serta pemutaran film seputar pendidikan di India. Penelitian Stiawan & Kurniawan (2019) memiliki persamaan dengan penelitian ini, terutama pada aspek penggunaan metode penelitian kualitatif deskriptif untuk menggali kerjasama di dunia perpustakaan. Perbedaannya terletak pada konteks dan tujuan kerjasama antara perpustakaan yang diteliti dalam kedua penelitian. Penelitian lain yang membahas kolaborasi perpustakaan dilakukan oleh Komariah et al. (2021) yaitu menjelaskan kolaborasi di perpustakaan dapat meningkatkan kinerja individu yang terlibat di dalamnya. Metode penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian kualitatif dan pendekatan studi kasus di Telkom University Open Library. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Open Library menjalin kolaborasi dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan dan sebagai upaya branding perpustakaan sehingga keberadaannya dapat lebih diakui. Penelitian tersebut menggambarkan kolaborasi dapat dilakukan melalui strategi khusus seperti adanya staf khusus humas berperan aktif membangun kolaborasi. Penelitian Komariah et al. (2021) memiliki kesamaan dengan penelitian ini dalam menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menggali aspek kolaborasi yang terjalin di perpustakaan, sedangkan perbedaannya terletak pada fokus layanan perpustakaan yang menjadi sorotan dan pihak yang terlibat dalam kolaborasi. Penelitian lainnya yang membahas mengenai kerjasama di perpustakaan yaitu penelitian Suratmi (2021) menjelaskan bahwa dalam menjaga dan meningkatkan kepuasan pemustaka terhadap layanan perpustakaan, maka dilakukan upaya kerjasama antar perpustakaan. Penelitian ini termasuk dalam penelitian jenis kualitatif dengan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan dengan adanya kerjasama antar perpustakaan, pemustaka dapat menggunakan sumber daya dari perpustakaan lain, sekaligus masing-masing perpustakaan dapat saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan informasi pemustakanya. Persamaan penelitian Suratmi (2021) dengan penelitian ini terletak pada fokus penelitian yang membahas mengenai kerjasama di perpustakaan, kemudian perbedaannya pada metode penelitian yang digunakan pada kedua penelitian tersebut. Meskipun telah ada beberapa penelitian terdahulu yang membahas tentang kerjasama dan kolaborasi di perpustakaan, belum ada penelitian yang membahas mengenai kolaborasi yang dilakukan oleh perpustakaan perguruan tinggi dalam pengembangan layanan referensi. Penelitian ini berfokus pada kolaborasi antara Perpustakaan Universitas Padjadjaran dan BPS Provinsi Jawa Barat dalam pengembangan layanan referensi berupa tersedianya layanan pojok statistik. Layanan pojok statistik merupakan pengembangan dari layanan referensi dan tergolong layanan baru yang ada pada perpustakaan perguruan tinggi, sehingga penting untuk dikaji lebih dalam. Hal ini diperlukan agar diketahui proses kolaborasi yang terjalin antara Perpustakaan Universitas Padjadjaran dengan BPS Provinsi Jawa Barat dalam pengembangan layanan referensi serta kelebihan dan kekurangan dari adanya kolaborasi tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan referensi bagi pihak-pihak terkait dalam upaya meningkatkan layanan perpustakaan di perguruan tinggi dan mempromosikan kolaborasi yang lebih efektif. Dengan demikian berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kolaborasi yang dilakukan oleh Perpustakaan Universitas Padjadjaran dengan BPS Provinsi Jawa Barat dalam pengelolaan layanan pojok statistik, dampak dari kolaborasi yang terjalin, hambatan yang dihadapi dari kolaborasi tersebut serta strategi peningkatan layanan pojok statistik. Theoretical Studies 1) Efficiency The Data Envelopment Analysis (DEA) approach can be used to measure efficiency in library operations. Efficiency refers to the relationship between the number of units of output per unit of input (Ramírez-Valdivia et al., 2015). The efficiency of a Decision Maker Unit (DMU) is said to be the ratio of output to input. The DEA certainly considers inputs or outputs to maximize the ratio. After measuring efficiency with DEA analysis, the examined journals will be proposed for rankings, while for inefficient journals suggestions will be made to improve efficiency. This action will increase the output of each journal (Petridis et al., 2013). 2) Data Envelopment Analysis (DEA) This study, which focuses on the link between input and output variables with a Data Envelopment Analysis (DEA) approach, measures efficiency in the library science journal SINTA 2 and 3. A non-parametric LP (Linear Programming) model called DEA is used to measure productivity and efficiency. DEA was initially employed as a performance measurement tool in the 1970s, and it is still expanding today (Ji & Lee, 2010). The DEA model's underlying premise is that various organizations or decision-making units can be contrasted. The number of inputs and outputs for each of these DMUs is the same, and some of them are found to be efficient while others are found to be inefficient (Rosenthal & Weiss, 2017). The variables affecting each library's relative effectiveness are identified using Data Envelopment Analysis (DEA) methodologies. DEA evaluates the relative effectiveness of a Decision-Making Unit (DMU) or collection of DMUs that use comparable inputs and outputs. To make sure that all efficient DMUs have a score that is equal to one another, in DEA, efficient DMUs will obtain a score of 1, and inefficient DMUs will receive a score less than 1 (Lam, 2015). In the evaluation process that will later produce results from the data obtained, DEA has several ways of optimizing approaches to measure the efficiency of data, namely: Consistent Re-visitation of Scale (CRS) is a model created by Charnes, Cooper, and Rhodes in 1978. This model can be deciphered as the proportion between the expansion of info and result is something very similar, for instance in the event that there is an expansion of contribution by twice, the result should likewise increment by twice. 𝐸𝑓𝑓𝑖𝑐𝑖𝑒𝑛𝑐𝑦 = 𝐼𝑛𝑝𝑢𝑡 𝑎𝑑𝑑𝑖𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑙𝑜𝑎𝑑 𝑜𝑢𝑡𝑝𝑢𝑡 𝑎𝑑𝑑𝑖𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑙𝑜𝑎𝑑 𝐸𝑓𝑓𝑖𝑐𝑖𝑒𝑛𝑐𝑦 = 𝑢1 ∙ 𝑦1𝑗 + 𝑢2 ∙ 𝑦2𝑗 + ⋯ + 𝑢𝑛 ∙ 𝑦𝑛𝑗 𝑣1 ∙ 𝑥1𝑗 + 𝑣2 ∙ 𝑥2𝑗 + ⋯ + 𝑣𝑚 ∙ 𝑥𝑚𝑗 Description: 𝑢 𝑖 = load from the output I 𝑦 𝑖 𝑗 = Sum of outputs I for units j 𝑥 𝑖 𝑗 = The sum of inputs I for units j 𝑣 𝑖 = Load from input i (Source: Dusan Teodorovic and Milos Nikolic, 2021) The subsequent model is the Variable Re-visitation of Scale, created by Banker, Charnes, and Cooper in 1984. This model can be assumed that the number of increases between output and input is not the same, the result is that if we add output by 2 times, it will not affect the number of outputs or output does not have to increase by 2 times. Furthermore, in the third model, the Malmquist Index Productivity, the quantity of the Malmquist Index is often used for measuring changes in productivity. Malmquist (1953) defined it as the number of vertically calculated consumption bundles. In the DEA technique, the Malmquist file can be utilized as a proportion of changes in the efficiency of a DMU. Changes in DMU can be said to be good if it can use inputs efficiently in producing a good / service. However, if the Malmquist Index value is smaller than one, it can be concluded that DMU has decreased productivity. This can be caused by two possibilities: a change in efficiency or a change in technology (Grifell-Tatje & Lovell, 1995). The fourth model is Slacks-based-measure, this technique is reasonable for estimating the proficiency of results and info information when there is an unbalanced change. Using this model, we can find out the overall efficiency of DMU data (Tone & Tsutsui, 2009). 3) Bibliometric Bibliometrics is one of the branches of science in the library field that is used to determine the characteristics of a publication such as the Garuda journal – Garba Digital Reference (kemdikbud.go.id). Bibliometrics was first introduced in 1969 by Pritchard. Bibliometric methods can examine matters related to a scientific publication such as the efficiency of input-output values, the level of collaboration, the level of productivity, and the number of citations using mathematical and statistical analysis facilitated by software (Rohanda, 2019). H-index and h5-index The number of citations with the greatest H-index are in journals (Braun et al., 2013). The H-index is used to compare researchers, scientific journals, research groups and research institutions, and countries. While according to (Garfield, 1998) the h5 index, or the impact factor of keeping a 5-year diary, is that if you count the total number of papers published over a five-year period that have been cited in a given year. Impact factor Impact factor (IF) is an indicator of the bibliometric method, which plays an important role in determining the final impact through the variables used. Impact factors were first written about in 1995 by Eugene Garfield in a scientific journal. When calculating the impact factor, it takes the number of citations and the number of articles published over a certain period (Kumar, 2018). 4) Sinta SINTA journal is a database managed by the Indonesian Ministry of Science, Technology, and Higher Education, or Kemenristekdikti, that contains accredited Indonesian scientific journals. This database is a source of information used by research and development stakeholders. SINTA is considered an international global directory that is equipped with various functions such as citation, which shows Scholar and Scopus h-index per year; networking, which is a feature that can show scholars related to a topic; and research output, which is a feature that includes articles (Suryaningsum et al., 2020). Using SINTA allows you to quickly and easily use reference sources and comprehensively measure the performance of Indonesian researchers, institutions, and electronic journals (Saputra, 2020). According to (Ahmar et al., 2018), By using SINTA, lecturers can easily see the contribution of various research institutions to the existence of documents indexed in Scopus and Google Scholar.
Method
Penelitian dilakukan pada layanan pojok statistik lantai 2 di Perpustakaan Universitas Padjadjaran yang berlokasi di Jatinangor, Sumedang. Waktu penelitian berlangsung pada bulan Agustus sampai Oktober 2023. Penelitian ini menggunakan jenis metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Jenis penelitian kualitatif dilakukan dengan mengamati perilaku dan mengungkapkan penemuan fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Penelitian kualitatif dipilih untuk menemukan dan mengidentifikasi masalah sosial yang terjadi di lokasi penelitian secara nyata. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mengacu pada pemahaman dan analisis perilaku ataupun proses sosial yang bersifat deskriptif sehingga tidak dikaji dari sisi kuantitas melalui angka (Kusumastuti & Khoiron, 2019). Pengumpulan data penelitian menggunakan beberapa sumber primer yaitu melalui hasil pengamatan, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik pengumpulan data penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu dari proses observasi langsung ke layanan pojok statistik, kemudian melakukan wawancara mendalam serta studi dokumentasi. Informan dipilih melalui teknik purposive sampling, yaitu menetapkan kriteria tertentu untuk dijadikan landasan dalam memilih informan yang sesuai. Analisis data penelitian dilakukan dengan menguji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sesuai dengan model Miles & Huberman yaitu meliputi reduksi data (data reduction) untuk mengurangi kompleksitas data, penyajian data (data display) untuk membuat informasi lebih mudah dimengerti melalui narasi, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing or verification) untuk memberikan pemahaman lebih dalam tentang hasil penelitian. Proses analisis data berlangsung setelah mengumpulkan data-data dari berbagai sumber, kemudian dari data tersebut diseleksi dan dikategorikan sesuai dengan tujuan penelitian. Setelah proses reduksi data, data akan disajikan dalam bentuk naratif sehingga dapat mudah dipahami, kemudian dilanjutkan dengan penarikan kesimpulan penelitian.
Result & Discussion
Kerjasama yang terjalin antara Perpustakaan Universitas Padjadjaran dengan BPS Provinsi Jawa Barat merupakan bentuk kepedulian BPS dalam menyebarluaskan manfaat dan keragaman produk statistik di lingkungan perguruan tinggi. Hal ini menjadi relevan mengingat semakin tingginya kebutuhan akan statistik di dunia pendidikan khususnya pada jenjang perguruan tinggi. kerjasama ini diwujudkan dalam bentuk pengadaan fasilitas pojok statistik yang telah diresmikan pada tanggal 7 September 2022 silam. Fasilitas pojok statistik dibangun di dalam gedung Perpustakaan Universitas Padjadjaran lantai 2, kampus Jatinangor. Pojok statistik dibangun dengan gaya modern yang cerah serta memiliki ruangan yang cukup luas. Ruangan pojok statistik ini memadukan tiga unsur warna yang merupakan identitas warna BPS yaitu biru, hijau, dan orange serta terdapat pula logo Universitas Padjadjaran dan BPS. Fasilitas pojok statistik merupakan fasilitas yang diperuntukkan bagi seluruh sivitas akademika Universitas Padjadjaran sebagai bagian dari layanan referensi. Kehadiran pojok statistik diharapkan dapat meningkatkan literasi statistik dan pemanfaatan layanan referensi di perpustakaan perguruan tinggi. Keseluruhan kolaborasi ini menunjukkan komitmen bersama dalam mengembangkan sumber daya pendidikan dan mendukung pemanfaatan statistik di Universitas Padjadjaran. Kolaborasi Pengelolaan Pojok Statistik Pojok statistik sendiri merupakan pengembangan dari layanan referensi yang ada di perpustakaan. Hal ini sesuai dengan cara kerja layanan pojok statistik yang memungkinkan terjadinya interaksi antara pustakawan dengan pemustakanya. Pojok statistik memiliki tugas pokok serta fungsi (tupoksi) yang meliputi promosi statistik, konsultasi statistik, edukasi statistik, infografis, videografis, dan ruang baca virtual. Selain itu, pemustaka dapat pula melakukan layanan pojok statistik secara virtual kapanpun dan di mana saja melalui berbagai platform, yaitu zoom meeting, google meeting, ataupun chat WhatsApp. Kehadiran pojok statistik di perpustakaan perguruan tinggi masih terbilang baru. Belum banyak perguruan tinggi yang menyediakan layanan pojok statistik di perpustakaannya. Tentunya, untuk menjaga kualitas data, suatu perguruan tinggi harus dapat memenuhi kriteria tertentu dalam program kolaborasi yang dilakukan oleh BPS, seperti ketersediaan teknologi yang memadai meliputi jaringan dan sinyal, menjaga keamanan data, tempat yang memadai, komitmen secara penuh, dan transparansi. Perpustakaan Universitas Padjadjaran merupakan salah satu perpustakaan perguruan tinggi yang sudah melakukan kerjasama dengan BPS. Sebagai wujud dari bentuk kerjasama yang terjalin antara Perpustakaan Universitas Padjadjaran dan BPS Provinsi Jawa Barat dalam pengelolaan layanan pojok statistik tentu akan melibatkan kedua belah pihak untuk saling berkolaborasi. Seluruh aktivitas dan layanan pojok statistik merupakan bagian dari kolaborasi perpustakaan perguruan tinggi, BPS serta mahasiswa dan akademisi yang akan berperan sebagai agen statistik. BPS Provinsi Jawa Barat berperan sebagai penyedia data statistik ketika pemustaka membutuhkannya, sekaligus melakukan pengawasan terhadap kinerja pojok statistik di Perpustakaan Universitas Padjadjaran. Kinerja pojok statistik akan menjadi penentu keberhasilan kolaborasi yang terjalin di antara kedua belah pihak terkait. Peran agen statistik disini adalah sebagai pustakawan yang melakukan layanan statistik baik secara tatap muka maupun virtual. Pemustaka yang membutuhkan bantuan terkait statistik dapat menggunakan layanan pojok statistik dengan datang ke pojok statistik yang berada di Perpustakaan Universitas Padjadjaran. Setelah itu, agen statistik akan berinteraksi langsung dengan pemustaka tersebut dan diarahkan untuk mengisi daftar kunjungan pada website BPS khusus pojok statistik. Pemustaka dapat menyampaikan layanan konsultasi statistik apa yang dibutuhkan yaitu antara lain konsultasi data, konsultasi rekomendasi data, dan metode pengolahan data. Selain itu, pemustaka dapat juga melakukan konsultasi analisis data mengenai hasil survei atau sensus BPS yang penyajian datanya dapat berupa infografis. Agen statistik akan merespon dengan segera melakukan layanan yang dibutuhkan, kemudian memberikan dan menyampaikan hasil analisisnya kepada pemustaka. Ketika menyampaikan hasil analisisnya, agen statistik akan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pemustaka sehingga informasi dapat tersampaikan. Proses layanan pojok statistik dapat dilakukan dengan cepat tergantung ketersediaan data yang dibutuhkan. Jika data yang dibutuhkan cukup sulit, maka berdampak pada waktu proses layanan yaitu memakan waktu 2- 3 hari. Agen statistik hanya melayani kebutuhan data yang bersifat open source atau bebas akses. Namun, jika pemustaka membutuhkan data yang berbayar agen statistik akan mengarahkannya kepada pihak BPS langsung. Selain layanan tatap muka, pojok statistik juga menyediakan layanan virtual. Layanan virtual dapat dilakukan dengan membuat janji terlebih dahulu dengan agen statistik yang bersangkutan dan memutuskan platform apa yang akan digunakan seperti google meet ataupun zoom meeting. Layanan virtual dapat menggaet potential users yang terkendala waktu dan jarak untuk menggunakan layanan pojok statistic secara langsung. Sebagai penyedia data, BPS akan membantu pemustaka untuk menemukan data yang dibutuhkan seputar statistik. Namun, BPS tidak secara langsung melayani pemustaka yang menggunakan layanan pojok statistik, mereka hanya membantu pemustaka dari balik layar dengan menggunakan produk statistik yang dihasilkan dari BPS itu sendiri. BPS Provinsi Jawa Barat juga berperan sebagai pengawas yang akan mengevaluasi kinerja layanan pojok statistik di Perpustakaan Universitas Padjadjaran sekaligus melakukan pendampingan. Sesekali petugas BPS akan mengunjungi pojok statistik untuk mengecek progres jumlah pemustaka yang berkunjung melalui daftar kunjungan yang telah diisi pemustaka pada saat menggunakan layanan. BPS juga memantau sejauh mana layanan pojok statistik tersebut berjalan serta tidak lupa memberikan masukan dan saran dalam pengelolaan pojok statistik. Peran pustakawan dalam layanan pojok statistik disini adalah sebagai penghubung (mediator) antara agen statistik dengan BPS ataupun pemustaka, kemudian melakukan pengawasan dan pembinaan kepada agen statistik sehingga layanan pojok statistik dapat berjalan baik. Sebagai mediator, pustakawan berperan menjadi penanggung jawab pada layanan pojok statistik. Pustakawan juga membantu pemustaka dalam pencarian referensi statistik yang sesuai kebutuhan dan mengarahkan ke meja layanan pojok statistik. Sebagai bagian dari pengembangan layanan referensi, pustakawan bertanggung jawab memastikan setiap layanan yang ada berjalan dengan baik. Oleh karena itu, pustakawan melakukan pengawasan dan pembinaan kepada agen statistik sehingga diharapkan terjalin interaksi serta komunikasi yang baik dalam melakukan layanan kepada pemustaka. Secara langsung, BPS Provinsi Jawa Barat telah memberikan peran nyata dalam kolaborasi dengan Perpustakaan Universitas Padjadjaran untuk mencapai tujuan bersama. Begitu juga dengan Perpustakaan Universitas Padjadjaran yang telah memainkan perannya dengan baik. Kolaborasi yang terjalin di antara kedua pihak berlangsung dengan saling melengkapi peran masing-masing. Namun, dibalik keberhasilan kolaborasi yang telah terjalin tentu terdapat hambatan yang turut serta di dalamnya. Dampak Kolaborasi Terjalinnya sebuah kerjasama tentu memiliki tujuan yang hendak dicapai. Kolaborasi antara Perpustakaan Universitas Padjadjaran dengan BPS Provinsi Jawa Barat melalui penyediaan fasilitas pojok statistik memiliki dampak yang signifikan terhadap pemanfaatan statistik di lingkungan perguruan tinggi. Sebagian besar pengguna data BPS adalah kalangan pelajar atau mahasiswa (Harfifah & Marsisno, 2022). Pertama, kolaborasi ini memungkinkan sivitas akademika Universitas Padjadjaran untuk mengakses data statistik terkini (up to date) dalam mendukung pengembangan riset yang dilakukan, sekaligus menjalankan fungsi perpustakaan yaitu fungsi riset. Adanya kolaborasi ini, memberikan keuntungan bagi Universitas Padjadjaran untuk mengakses data statistik BPS yang berbayar setiap satu bulan sekali dengan jumlah yang telah ditentukan. Sebagaimana wawancara dengan pustakawan pengelola pojok statistik, yaitu: “Manfaat yang kami rasakan salah satunya itu dapat mengakses data statistik BPS yang berbayar bukan open source setiap satu bulan sekali dengan jumlah yang telah ditentukan oleh mereka” (INF1). Kedua, melalui kegiatan edukasi statistik yang dilakukan di pojok statistik dapat memfasilitasi integrasi antara literasi statistik dan literasi informasi serta membantu meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap data dan statistik yang diperlukan dalam berbagai disiplin ilmu. Kemudian kolaborasi ini juga memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan pembelajaran dengan melibatkan mahasiswa dalam pengelolaan layanan pojok statistik serta sarana magang. Sivitas akademika dapat terlibat dalam proses bisnis produk statistik yang dihasilkan oleh BPS. Keempat, promosi statistik yang dilakukan oleh agen statistik memberikan dampak positif bagi BPS. Promosi statistik dilakukan untuk menyebarluaskan dan meningkatkan pemanfaatan produk statistik yang dihasilkan oleh BPS. Promosi statistik dapat memberikan keuntungan lain bagi BPS, seperti dapat meningkatkan pemanfaatan data statistik BPS, memperkuat user engagement bagi BPS dan branding produk statistik BPS. Dampak positif lainnya dari kolaborasi yang terjalin antara Perpustakaan Universitas Padjadjaran dengan BPS adalah mendorong kesadaran pentingnya membangun kerjasama dengan pihak lain untuk mendukung sumber daya perpustakaan. Kerjasama sangat membantu perpustakaan untuk meningkatkan layanan seperti penyediaan infrastruktur dan fasilitas yang menunjang layanan. Kolaborasi ini tidak hanya memberikan manfaat internal bagi perguruan tinggi maupun BPS sebagai pihak terkait saja, tetapi juga menciptakan sinergi untuk bersama-sama mendukung peningkatan literasi statistik secara luas di lingkungan Universitas Padjadjaran. Dengan begitu kolaborasi dapat memperluas jangkauan untuk menyebarluaskan produk statistik yang dihasilkan oleh BPS. Hambatan dan Strategi Peningkatan Layanan Pojok Statistik Pojok statistik terbilang baru di lingkungan Universitas Padjadjaran, sehingga pemanfaatan layanannya masih awam bagi sivitas akademika. Padahal, pojok statistik merupakan bagian penting dari perpustakaan perguruan tinggi dalam menyediakan statistik untuk mendukung kebutuhan akademis dan riset. Namun, kurangnya pemahaman dan pemanfaatan fasilitas pojok statistik berdampak pada minimnya pemustaka yang menggunakan layanan pojok statistik. Salah satu isu permasalahan yang menjadi hambatan dari pojok statistik adalah karena tidak optimalnya promosi dan strategi pemasaran yang dilakukan untuk memperkenalkan pojok statistik kepada seluruh sivitas akademika. Belum banyak sivitas akademika Universitas Padjadjaran, khususnya mahasiswa yang mengetahui adanya layanan pojok statistik di Perpustakaan Universitas Padjadjaran. Sebagaimana wawancara yang disampaikan oleh INF1 berikut: “Kendala yang kami hadapi saat ini terkait kunjungan ke layanan pojok statistik ini yang masih minim. Karena mungkin baru ya layanannya jadi mahasiswa belum pada tahu” (INF1). Tidak optimalnya strategi pemasaran serta promosi yang dilakukan menjadi isu permasalahan pada pojok statistik yang telah berjalan kurang lebih 1 tahun. Minimnya informasi terkait keberadaan pojok statistik membuat banyak mahasiswa, dosen, dan akademisi Universitas Padjadjaran tidak menyadari sumber daya berharga yang tersedia di perpustakaan Universitas Padjadjaran. Sebagian besar pemustaka mungkin tidak mengetahui secara pasti bagaimana menggunakan layanan pojok statistik, apa saja layanan yang tersedia, dan apakah layanan tersebut dapat digunakan oleh seluruh sivitas akademika atau hanya kalangan tertentu saja seperti dosen. Menyediakan informasi yang jelas terkait layanan pojok statistik dapat dilakukan dengan cara yaitu pemasangan standing banner, infografis, ataupun poster di sekitar ruang pojok statistik. Hal itu, dapat membantu actual user dan potential user memahami layanan dengan lebih baik serta menjadi strategi pemasaran. Ketidakoptimalan pemanfaatan pojok statistik juga dapat disebabkan oleh minimnya literasi statistik di kalangan sivitas akademika. Oleh karena itu, kolaborasi antara Perpustakaan Universitas Padjadjaran dan BPS dalam memberikan edukasi statistik perlu dikembangkan dan ditingkatkan dengan mengadakan beberapa kegiatan rutin seperti seminar dan diskusi untuk membahas perkembangan statistik terkini serta mendorong partisipasi aktif mahasiswa dan dosen dalam menggunakan pojok statistik. Dapat juga diselenggarakan pelatihan dan workshop statistik langsung di pojok statistik untuk meningkatkan pemahaman statistik dan keterampilan analisis data, sekaligus memperkenalkan pojok statistik. Keterlibatan mahasiswa, akademisi serta dosen dalam pengelolaan pojok statistik dapat mempengaruhi peningkatan literasi statistik, sehingga langkah tersebut dikatakan sudah tepat. Selain itu, melakukan kerjasama dengan pustakawan untuk memaksimalkan layanan tur perpustakaan atau tur kandaga yang disediakan oleh Perpustakaan Universitas Padjadjaran sebagai sarana memperkenalkan pojok statistik kepada khalayak. Tur kandaga yang disediakan oleh Perpustakaan Universitas Padjadjaran dimaksudkan untuk memberikan informasi terkait fasilitas dan layanan yang disediakan oleh Perpustakaan Universitas Padjadjaran. Salah satu kegiatan yaitu dengan mengelilingi dan memperkenalkan seluruh ruangan yang ada di Perpustakaan Universitas Padjadjaran. Menurut pustakawan lain, tur kandaga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mempromosikan layanan pojok statistik. “Buat promosiin ke mahasiswa bisa juga menggunakan layanan yang sudah ada di perpustakaan ini seperti tur perpustakaan, bisa jadi alternatif memperkenalkan perpustakaan sekaligus pojok statistik” (INF2). Upaya meningkatkan promosi dapat dilakukan melalui strategi pemasaran yang efektif, inovatif dan kreatif. Media digital seperti platform sosial media merupakan cara efektif yang dapat dilakukan dalam kegiatan promosi. Seperti kita ketahui, sosial media saat ini menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan, khususnya generasi muda. Pemanfaatan sosial media sebagai sarana promosi dinilai efektif karena menjangkau khalayak secara luas. Platform Instagram, TikTok atau bahkan YouTube dapat dimanfaatkan sebagai media promosi melalui pembuatan konten-konten yang kreatif dan menarik.
Conclusion
Universitas Padjadjaran menjadi salah satu perpustakaan yang telah melakukan kerjasama dengan berbagai lembaga, seperti BPS Provinsi Jawa Barat. Kerjasama ini diwujudkan dalam kolaborasi pengelolaan pojok statistik dari kedua belah pihak. Kolaborasi ini menjadikan pojok statistik sebagai pengembangan layanan referensi yang ada di Perpustakaan Universitas Padjadjaran. Kolaborasi dalam pengelolaan layanan pojok statistik melibatkan peran mahasiswa, dosen, pustakawan serta BPS untuk bersinergi memberikan layanan statistik terbaik. Kolaborasi ini memberikan dampak positif baik bagi BPS Provinsi Jawa Barat maupun Perpustakaan Universitas Padjadjaran. Selain dampak internal, melalui kolaborasi yang terjalin diharapkan mampu berdampak pada peningkatan literasi statistik secara luas di lingkungan Universitas Padjadjaran. Namun, disisi lain pemanfaatan pojok statistik masih belum maksimal, banyak mahasiswa yang belum mengetahui keberadaan pojok statistik ini. Oleh karena itu, berbagai strategi pemasaran dan promosi harus digencarkan secara masif. Kegiatan promosi dapat dilakukan dengan menyediakan informasi terkait layanan pojok statistik, melakukan event untuk memperkenalkan pojok statistik, memaksimalkan tur kandaga, dan menggunakan media sosial dengan membuat konten-konten yang menarik.