Kembali
16
1
2020 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 3 · 2 ISSN 2654-6469

Strategi Optimalisasi Layanan Perpustakaan Sekolah Melalui Program “Kanji Kuper” SD Negeri Ngrancah

Universitas Negeri Yogyakarta; Universitas Negeri Yogyakarta

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi, dampak, dan kendala dari pelaksanaan program "Kanji Kuper" (Gerakan Wajib Kunjung Perpustakaan) sebagai strategi optimalisasi layanan perpustakaan di Sekolah Dasar (SD). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Jenis penelitian ini adalah studi kasus karena setting penelitian berada di salah satu sekolah dasar yang menerapkan program "Kanji Kuper". Teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, dokumentasi, dan wawancara mendalam. Sumber data diperoleh dari informan yaitu: kepala sekolah, pengelola perpustakaan, dan siswa. Validitas data menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik data dianalisis melalui langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, sajian data dan verifikasi atau penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi "Kanji Kuper" diawali dengan mewajibkan guru dan siswa melakukan kegiatan pembelajaran di perpustakaan. Jadwal kunjungan disusun berdasarkan koordinasi antara wali kelas dengan pengurus perpustakaan minimal 1 minggu sekali. Selama di perpustakaan guru wajib memberikan sosialisasi "Kanji Kuper" dan motivasi dengan cara memberikan penugasan terhadap siswa agar dapat memanfaatkan sumber daya perpustakaan yang tersedia. Selalu ada produk atau hasil yang dibuat oleh siswa selama berkunjung di perpustakaan. Setiap bulan hasil karya siswa diseleksi untuk dipajang di mading sekolah sebagai bentuk reward. Hasil dari penerapan program "Kanji Kuper" adalah jumlah pengunjung perpustakaan naik drastis sehingga secara perlahan diharapkan dapat meningkatkan budaya membaca siswa. Kendalanya adalah sebagian besar siswa memanfaatkan program "Kanji Kuper" hanya untuk bermain di perpustakaan sehingga produk tugas yang dihasilkan terkesan kurang optimal. Beberapa guru masih beranggapan bahwa "Kanji Kuper" hanya menyita waktu pembelajaran. © 2020 NJILS. All rights reserved.

Abstract

This research aims to find out how the implementation, impact, and constraints of the implementation of the program "Kanji Kuper" (Gerakan Wajib Kunjung Perpustakaan) as a strategy for optimizing library services in elementary schools. This research uses a qualitative approach with descriptive methods. This type of research is a case study because the research setting is in one of the elementary schools that implements the "Kanji Kuper" program. Data collection techniques through direct observation, documentation, and in-depth interviews. Data sources are obtained from informants: principals, library managers, and students. The validity of the data uses the triangulation of sources and techniques. Data is analyzed through data collection, data reduction, data feed and verification or withdrawal of conclusions. The results showed that the implementation of "Kanji Kuper" began by requiring teachers and students to do learning activities in the library. The visit schedule is arranged based on coordination between the class and the library administrator at least once a week. While in the library teachers are obliged to socialize "Kanji Kuper" and motivation by providing assignments to students to utilize the library resources available. There are always products or results made by students during visits to the library. Each month students' work is selected to be displayed in the school as a form of reward. The result of the implementation of the "Kanji Kuper" program is that the number of library visitors has increased dramatically so that it is slowly expected to improve the reading culture of students. The problem is that most students take advantage of the "Kanji Kuper" program just to play in the library so that the resulting task product seems less optimal. Some teachers still think that "Kanji Kuper" only takes up learning time.
Keywords: library · school library · library services

Introduction

Selama kurang lebih satu dekade terakhir, Indonesia selalu berada di urutan lima terbawah untuk urusan kompetensi membaca. Peringkat tersebut berdasarkan hasil penilaian Programme for International Student Assessment (PISA). PISA merupakan metode penilaian level internasional mengenai tolak ukur guna melihat kompetensi siswa indonesia pada lingkup global. Melihat kondisi tersebut tentu tidak terlalu heran, mengingat selama ini memang peserta didik Indonesia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain game di gawainya daripada membaca buku (Zuhri, 2015). Selain itu, ditambahkan bahwa aktivitas membaca siswa hanya sebatas ketika berhubungan dengan tugas sekolah saja, sehingga jika hanya ke perpustakaan juga akan sebatas dalam keperluan menyelesaikan tugas sekolahnya. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Samini (2019) dijelaskan memang tidak ada hubungan penggunaan gadget atau gawai dengan minat baca siswa di sekolah. Namun menyikapi hal ini, sekolah khususnya perpustakaan perlu menyediakan bahan pustaka yang up to date serta program-program layanan yang baru untuk menarik siswa datang ke perpustakaan. Rendahnya minat baca di Indonesia bisa terlihat dari beberapa hasil kajian yang senada. Selanjutnya Nisrinafatin (2020) yang melakukan kajian terkait penggunaan gadget bagi siswa khususnya game online dan keterkaitannya dengan motivasi belajar disimpulkan memiliki dampak negative dalam mendorong motivasi belajar siswa sehingga akan berpengaruh pada prestasi siswa di sekolah. Pentingnya penanaman minat baca pada siswa tentunya harus dilakukan sejak jenjang sekolah dasar. Namun berdasarkan hasil penelitian (Triatma, 2016) menunjukkan , bahwa minat baca siswa sekolah dasar masih rendah dilihat dari tingkat kunjungannya ke perpustakaan. Hal tersebut disebabkan kurangnya minat dan perhatian siswa serta faktor lingkungan siswa di sekolah. Menurut (Farida, 2012) minat baca ialah keinginan yang kuat disertai dengan usaha-usaha seseorang untuk membaca. Orang yang mempunyai minat baca yang kuat akan diwujudkan kesediannya untuk mendapat bahan baca an dan kemudian membacanya atas kesadaran sendiri atau dorongan dari luar. Kondisi minat baca yang rendah inilah yang membuat pengambil kebijakan dari level makro hingga mikro dituntut untuk berinovasi agar dapat menghasilkan strategi yang tepat guna untuk meningkatkan minat baca siswa secara bertahap. Perpustakaan sekolah memiliki peran penting dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan. Terciptanya budaya membaca dalam diri peserta didik memberikan dampak positif bagi seluruh aspek pendidikan di sekolah. Tingkat keberhasilan dan kesuksesan juga terlihat baik bagi peserta didik, guru maupun prestasi sekolah tersebut. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003 pasal 4 ayat 5 menjelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung bagi segenap masyarakat (Kemendikbud, 2013). Rendahnya budaya membaca akan berpengaruh pada daya saing bangsa dalam persaingan global. Perkembangan zaman yang serba modern ini kadang membuat para anak malas membaca, mereka lebih suka menggunakan kemajuan teknologi dengan bermain game online dari pada membaca tentang pengetahuan. Derasnya arus informasi dan teknologi di era 4.0 ini berdampak pada semakin terbatasnya waktu yang dimiliki peserta didik untuk membaca. Padahal, kemampuan literasi dalam membaca tentunya sangat diperlukan bagi peserta didik agar dapat mengikuti segala perkembangan terutama yang terkait dengan dunia pendidikan mereka. Hal ini juga berpengaruh pada tingkat kunjungan peserta didik ke perpustakaan sebagai salah satu fasilitas pendidikan yang disediakan sekolah. Dapat dikatakan bahwa minat baca anak masih rendah, sehingga wawasan yang diperoleh pun juga belum maksimal. Masalah serupa terjadi pada peserta didik di SD Negeri Ngrancah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta . Peserta didik belum menjadikan kebiasaan membaca sebagai kebutuhan. Hal tersebut dilihat dari tingkat kunjungan dan peminjaman buku di perpustakaan yang sangat rendah. Hal itu terbukti dari data yang dihimpun sebelum pandemi sebagai berikut. Tabel 1. Persentase Kunjungan Siswa ke Perpustakaan Sekolah Periode April - Juni 2020 No Bulan Jumlah Kunjungan Persentase 1 April 3 3,75 % 2 Mei 2 2 % 3 Juni 2 2 % Sumber: Data perpustakaan sekolah Menyikapi permasalah ini, tentunya perpustakaan harus meningkatkan kualitas layanannya (Rohman, 2020). Meningkatkannya dengan cara membuat banyak strategi promosi dalam meningkatkan kunjungan peserta didik ke perpustakaan. Salah satu program yang dapat dikembangkan oleh perpustakaan adalah program jadwal kunjung ke perpustakaan sekolah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Alfarisy & Prasetyawan (2015) ditemukan bahwa dengan adanya program jadwal kunjung perpustakaan, akan menjadikan peserta didik sebagai pembelajar yang mandiri dan aktif. Rangkuti (2016) menjelaskan terdapat dua faktor yang harus dikembangkan dalam peningkatan minat kunjung ke perpustakaan sekolah. Pertama adalah kompetensi sumber daya manusia atau pengelola perpustakaan sedangkan kedua adalah program-program layanan perpustakaan yang memberikan manfaat bagi peserta didik baru. Program Kanji Kuper yang merupakan singkatan dari Gerakan Wajib Kunjung Perpustakaan merupakan salah satu program perpustakaan SD Negeri Ngrancah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta . Program ini adalah mewajibkan baik guru maupun peserta didik untuk melakukan pembelajaran atau menambah wawasan di perpustakaan sekolah. Fasilitas perpustakaan dijadikan sumber pembelajaran, sehingga peserta didik dan guru akan terbiasa membaca atau menambah wawasan guna meningkatkan pengetahuan tentang pelajaran yang hendak dipelajari. Program Kanji Kuper ini dilakukan satu minggu sekali dengan jadwal yang ditentukan sekolah. Berdasarkan kondisi tersebut maka dibutuhkan cara bagaimana meningkatkan animo para siswa untuk berkunjung ke perpustakaan sebagai sarana meningkatkan minat baca guna menambah wawasan dan pengetahuan. Salah satunya adalah dengan mengadakan program Kanji Kuper (Gerakan Wajib Kunjung Perpustakaan). B. TINJAUAN PUSTAKA Program Kanji Kuper (Gerakan Wajib Kunjung Perpustakaan) adalah sebuah program yang dibuat dalam rangka meningkatkan minat baca siswa. (Wulandari, 2016) mendefinisikan bahwa minat baca merupakan suatu keinginan atau niat seseorang untuk mengetahui sesuatu dengan cara membaca. Adanya kemampuan membaca yang dimiliki sesorang akan berdampak pada timbulnya rasa keinginan untuk membaca secara teratur (Ruddamayanti, 2019). Melalui membaca, pelajar dapat memperoleh ilmu serta pengetahuan yang baru (Topçu, 2007). Melalui membaca juga, siswa juga mampu meningkatkan keterampilan berbahasa serta mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif mereka (Sariyem, 2016). Penelitian lainnya menyebutkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap minat baca setelah menyelenggarakan program wajib kunjung ke perpustakaan (Ruliana & Ganggi, 2017). Pada penelitan ini fokusnya pada peningkatan jumlah kunjungan dengan program Kanji Kuper, sedangkan penelitian Ruliana & Ganggi menekankan pada minat baca yang bertambah ketika terdapat program kunjungan wajib ke perpustakaan. Tantangannya adalah penelitian ini dilakukan di level SD sedangkan penelitian sebelumnya di level SMP. Karakteristik siswa SD yang masih lebih suka bermain menjadikan penelitian ini menarik untuk dikaji lebih dalam. Program ini memanfaatkan perpustakan sebagai fasilitasnya, karena perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai sumber belajar yang sangat penting, tetapi juga berfungsi sebagai pusat pelayanan bahan pustaka, tempat bimbingan membaca, pusat belajar mengajar, pusat informasi, pusat penelitian sederhana, dan pusat rekreasi yang dibangun untuk kepentingan masyarakat (Fitriani, 2017). Perpustakaan sekolah sebagai penunjang utama dalam kegiatan pembelajaran mempunyai kontribusi yang sangat besar nilainya untuk peningkatan kualitas pendidikan (Fitriyani, 2017). Perpustakaan adalah koleksi yang terdiri dari bahan-bahan tertulis, tercetak ataupun grafis lainnya seperti, film , slide , piringan hitam, tape dalam ruangan atau gedung yang diatur dan diorganisasikan dengan sistem tertentu agar dapat digunakan untuk keperluan studi, penelitian, pembacaan, dan lain sebagainya (Setyawan & Purnama, 2012). Oleh karena itu, program ini mewajibkan guru dan siswa melakukan kegiatan pembelajaran di perpustakaan sehingga dapat membantu siswa dan guru menyelesaikan tugas-tugas dalam kegiatan belajar mengajar. Jadwal kunjungan ke perpustakaan juga disusun berdasarkan koordinasi antara wali kelas dengan pengurus perpustakaan minimal 1 minggu sekali. Di dalam perpustakaan kunjungan adalah faktor penentu keberhasilan perpustakaan (Kurniasih, 2018). Minat baca memiliki beberapa indikator yang dijelaskan oleh (Hayati, 2009) yaitu, indikator tujuan membaca, indikator jenis buku yang dibaca, indikator lama membaca, indikator tujuan mengunjungi perpustakaan, indikator asal sumber informasi dan indikator jenis kebutuhan informasi. Menurut Fatimatuzzuhroh (2017) menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kunjungan siswa ke perpustakaaan terhadap hasil belajar. Novi (2018) juga menyatakan bahwa melalui kunjungan siswa ke perpustakaan, akan mendorong siswa untuk memiliki kegemaran membaca. Dengan demikian, adanya program ini membuat guru dan siswa lebih sering lagi mengujungi perpustakaan dan diharapkan perpustakaan dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran, sarana penelitian, sarana informasi, sarana rekreasi untuk kecerdasan, sarana pelestarian budaya, yang mampu menjadikan pemustaka menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, sehat, demokratis dan bertanggung jawab.

Method

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang menggambarkan situasi atau objek dalam fakta yang sebenarnya secara sistematis. Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kelompok manusia, objek, kondisi, dan sistem . pemikiran untuk masa yang akan mendatang (Creswell, 2012). Sementara pendekatan penelitian kualitatif digunakan karena merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata yang ditulis berdasarkan penggalian informasi dari orang-orang atau perilaku orang sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2020 di SD Negeri Ngrancah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta . Alasan memilih SD tersebut karena program " Kanji Kuper " telah dilaksanakan lebih dari setahun sehingga dapat dilihat mengenai implemantasi, hambatan, serta dampak yang diperoleh sekolah setelah menerapkan program " Kanji Kuper ". Berdasarkan hal tersebut, maka jenis penelitian ini termasuk penelitian studi kasus karena program “kanji kuper” yang diteliti berada pada satu sekolah tertentu . Informan pada penelitian ini adalah kepala sekolah selaku penanggung jawab program, pengelola perpustakaan, dan peserta didik. Penentuan tersebut menggunakan teknik purposif sampling karena ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian (Etikan, 2016) berada pada kepala sekolah sebagai penanggung jawab kebijakan, 1 orang pustakawan sebagai pelaksana program, dan dua orang peserta didik pada masing-masing jenjang untuk menggali data terkait dampak pelaksanaan program “Kanji Kuper” . Teknik analisis data menggunakan miles huberman, uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan menggali informasi melalui beberapa sumber yaitu kepala sekolah, pengelola perpustakaan, dan peserta didik. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara membandingkan informasi yang didapat dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Melalui kegiatan tersebut dapat dipastikan informasi yang didapatkan bisa dipertanggung jawabkan. Selain itu, untuk beberapa hal yang belum jenuh datanya maka dilakukan perpanjangan penelitian untuk mendapatkan data yang akurat.

Result & Discussion

Implementasi " Kanji Kuper " Tujuan dari Kanji Kuper (Gerakan Wajib Kunjung Perpustakaan) adalah mewajibkan baik guru maupun peserta didik untuk melakukan pembelajaran atau menambah wawasan di perpustakaan sekolah. Fasilitas perpustakaan dijadikan sumber pembelajaran, sehingga peserta didik dan guru akan terbiasa membaca atau menambah wawasan guna menambah pengetahuan tentang pelajaran yang hendak dipelajari. Informasi tersebut didapat berdasarkan hasil wawancara terhadap kepala sekolah, kutipanya seperti berikut. “ Awalnya itu supaya anak-anak mau ke perpustakaan aja mas, terus kami buat program apa yang bisa mewajibkan mereka, termasuk para gurunya. Ketika rapat tercetus program ‘kanji kuper’ niku. Yaa jadi tujuan programe untuk mewajibkan peserta didik kita beserta gurunya ke berkunjung ke perpustakaan mas . ” (A. H. Fatunisa, Wawancara, Desember 9, 2019) Maknanya tentu saja program tersebut bertujuan untuk membuat semacam regulasi agar guru dan peserta didik berkunjung ke perpustkaaan sekolah. Kebiasaan itu dapat pula dijadikan langkah pembentukan karakter gemar membaca di SD Negeri Ngrancah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta . Program Kanji Kuper ini dilakukan satu minggu sekali dengan jadwal yang ditentukan sekolah . Informasi tersebut didapat dari wawancara pengelola perpustakaan sekolah, berikut kutipannya. “ Sekolah ini ada 6 kelas, biasanya setiap hari itu diwajibkan 1 kelas untuk berkunjung ke sini. Kelas lain sama pokoknya wajibnya hanya 1 kali seminggu ada jadwalnya. Tapi kalau mau kesini setiap hari juga gak papa mas malah bagus. Jadi bukan berarti selain hari wajib gak boleh ya … ” (B. D. Saputra, Wawancara, Desember 9, 2019) Langkah-langkah meningkatkan kunjungan ke perpustakaan dengan menggunakan Kanji Kuper diawali pada tahap pertama menentukan jadwal kunjung tiap kelas oleh petugas perpustakaan yang berkoordinasi dengan wali kelas. Adapun informasi ini didapatkan dari hasil observasi dan pencermatan dokumen ketika berada di sekolah. Dimana jadwalnya hari Senin untuk kelas 1, hari Selasa untuk kelas 2, hari Rabu untuk kelas 3, hari Kamis kelas 4, hari Jumat kelas 5 dan hari Sabtu untuk kelas 6 . Jadwal kunjungan dilakukan setelah pembelajaran selesai. Selain itu upaya yang ditempuh sekolah juga melakukan kerjasama dengan perpustakaan keliling Kabupaten Bantul. Adapun jadwal perpustakaan keliling ini hari Selasa yang nantinya diikuti semua peserta didik dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Tahap selanjutnya adalah wali kelas mensosialisasikan kepada peserta didik tentang program Kanji Kuper setiap minggunya. Sehingga harapannya peserta didik tidak merasa terbebani dengan program ini, namun justru menjadikannya sebagai motivasi untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan . Informasi tersebut berdasarkan hasil wawancara terhadap salah satu wali kelas, berikut kutipan wawancaranya. “ Kanji Kuper, hmm jadi wali kelas disuruh menginformasikan setiap minggu mas, ehh sebelumnya dibuat jadwal dulu ding. Jadi jadwal dulu dibuat, masing-masing kelas wajib mengunjung perpus 1kali minimal selama 1 minggu. Kemudian untuk menjaga motivasi mereka dan terus mengingatkan maka setiap hari kami informasikan jangan lupa nanti atau kapan sesuai jadwalnya kita akan ke perpustkaan dulu, gitu mas. ” ( Sunaryo, Wawancara, Desember 9, 2019) Dalam kunjungan ke perpustakaan, wali kelas wajib memberikan tugas kepada peserta didik terkait dengan Kanji Kuper yang dibuktikan dengan hasil karya peserta didik. Misalnya membuat rangkuman tentang buku yang dibaca, menceritakan kembali cerita yang dibaca ataupun membuat syair atau puisi yang disesuaikan dengan kelas dan tugas yang diberikan guru. Tujuan dari pemberian tugas ini adalah meningkatkan kreativitas guru dalam memberikan motivasi kreasi peserta didik dalam mengerjakan tugas. Dalam jadwal kunjungan ini guru wajib mendampingi peserta didik, sehingga kegiatan di perpustkaan terarah dan tujuan dari program ini dapat tercapai. Setelah peserta didik menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru, selanjutnya dikumpulkan dan nantinya petugas perpustakaan atau guru meneliti hasil karya peserta didik sebagai hasil dari Kanji Kuper . Setelah hasil karya diteliti akan ada reward bagi kelas dan peserta didik yang setiap bulannnya melakukan 10 banyak kunjungan di perpustakaaan. Salah satu bentuk reward yang diberikan yaitu hasil karya akan dimuat di mading sekolah setiap bulannya. Dengan pemberian reward ini, diharapkan peserta didik dapat termotivasi untuk gemar membaca , sehingga dapat menambah wawasan serta kreativitas. Penerapan Kanji Kuper ini dilakukan selama 6 bulan atau 1 semester, dari enam bulan ini terlihat bahwa adanya peningkatan peserta didik dalam kunjungan ke perpustakaan untuk menambah pengetahuan yang dibuktikan dengan kreativitas yang dibuat siswa. Peserta didik semakin rutin berkunjung ke perpustakaan. Hal ini dapat dibuktikan dengan grafik data pengunjung perpustakaan sebagai berikut. Tabel 2. Jumlah Pengunjung Perpustakaan SD Negeri Ngrancah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Periode Juli - Desember 2019 No Bulan Jumlah Pengunjung Persentase 1 Juli 6 7,5 % 2 Agustus 18 22,5% 3 September 25 31, 25% 4 Oktober 30 37,5% 5 November 36 45% 6 Desember 46 57,5% Sumber: Data Perpustakaan Sekolah , 2019 Gambar 1. Grafik Peningkatan Pengunjung Perpustakaan Sumber: Peneliti, 2019 Dari hasil pengamatan pada grafik diatas dapat kita ketahui bahwa jumlah pengunjung perpustakaan setelah diterapkan Kanji Kuper di SD Negeri Ngrancah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat peningkatan yang signifikan, dimana kunjungan peserta didik pada bulan Juli berjumlah 7.5 % . Kegiatan penerapan Kanji Kuper pada hari pertama masih kurang baik, dikarenakan kurangnya sosialisasi sebelumnya tentang kegiatan ini . Namun, saat pelaksanaan antusiasme anak-anak yang datang sudah cukup baik, anak-anak mulai berinteraksi dan memilih buku bacaan yang mereka senangi. Sedangkan kegiatan Kanji Kuper pada hari kedua sudah lebih baik bila dibandingkan dengan pertemuan pertama, dikarenakan sosialisasinya sudah menyeluruh dan murid pun sudah memahami maksud dan tujuannya tentang kegiatan ini . Saat pelaksanaan antusiasme anak-anak yang datang lebih baik , dikarenakan adanya perpustakaan keliling Kabupaten Bantul dan anak-anak lebih memilih membaca buku yang disediakan di Perpustakaan Keliling tersebut. Namun, anak-anak masih sedikit yang mengumpulkan tugas berupa rangkuman hasil bacaan mereka. Hal inilah yang menyebabkan Reward belum bisa atau belum layak diberikan dikarenakan masih pada tahap penyesuaian. Pada bulan Agustus meningkat menjadi 22 . 5 %. Penerapan kegiatan Kanji Kuper pada bulan ini sudah sangat baik, dikarenakan terjadi peningkatan kunjungan yang cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya . Saat pelaksanaan antusiasme anak-anak yang datang sudah cukup baik, anak-anak saling berinteraksi dan memilih buku bacaan yang mereka senangi . Tugas yang diberikan oleh guru pun telah banyak yang mengumpulkan walaupun masih ada beberapa murid yang tidak mengumpulkan. Reward pun telah diberikan bagi kelas dan peserta didik yang setiap bulannnya melakukan paling banyak kunjungan di perpustakaaan, yaitu dengan hasil karya mereka yang dimuat di mading sekolah. Pada bulan Agustus ke September ada peningkatan 8.75 %. Penerapan kegiatan Kanji Kuper pada bulan ini sudah cukup baik, dikarenakan terjadi peningkatan kunjungan walaupun tidak setinggi bulan sebelumnya . Saat pelaksanaan antusiasme anak-anak yang datang sudah cukup baik, anak-anak saling berinteraksi dan buku bacaan yang mereka baca pun mulai bervariasi dari sebelumnya . Hal ini dikarenakan guru memberikan tugas yang berbeda dari sebelumnya yaitu dengan membuat syair atau puisi dari buku bacaan yang mereka baca, sehingga murid pun memilih buku bacaan yang sesuai dengan apa yang ditugaskan tersebut. Namun, anak-anak masih sedikit yang mengumpulkan tugas, dikarenakan masih belum terbiasanya murid membuat syair atau puisi dari buku bacaan yang mereka baca. Reward juga telah diberikan bagi kelas dan peserta didik yang setiap bulannnya melakukan paling banyak kunjungan di perpustakaaan, yaitu dengan hasil karya mereka yang dimuat di mading sekolah. Bulan September ke Oktober peningkatannya ada 6.25 %. Penerapan kegiatan Kanji Kuper pada bulan ini sudah cukup baik, dikarenakan terjadi peningkatan kunjungan walaupun tidak setinggi bulan sebelumnya . Saat pelaksanaan antusiasme anak-anak yang datang sudah cukup baik, anak-anak saling berinteraksi dan buku bacaan yang mereka baca pun sudah bervariasi dari sebelumnya . Tugas membuat syair atau puisi dari buku bacaan yang mereka baca pun telah banyak yang mengumpulkan walaupun masih ada beberapa murid yang tidak mengumpulkan. Reward telah diberikan bagi kelas dan peserta didik yang setiap bulannnya melakukan paling banyak kunjungan di perpustakaaan, yaitu dengan hasil karya mereka yang dimuat di mading sekolah. Bulan Oktober ke November peningkatannya ada 7.5 %. Penerapan kegiatan Kanji Kuper pada bulan ini sudah cukup baik, dikarenakan terjadi peningkatan kunjungan . Saat pelaksanaan antusiasme anak-anak yang datang sudah cukup baik, anak-anak saling berinteraksi dan buku bacaan yang mereka baca pun bervariasi dari sebelumnya . Namun, hanya beberapa murid yang mengumpulkan tugas, hal ini mungkin dikarenakan murid cendrung jenuh oleh tugas yang diberikan oleh guru. Oleh sebab itu, guru juga dituntut untuk melakukan variasi dalam memberikan tugas agar murid tidak cepat bosan. Bulan November ke Desember peningkatannya ada 12.5 %. Penerapan kegiatan Kanji Kuper pada bulan ini cukup baik, dikarenakan terjadi peningkatan kunjungan yang cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya . Saat pelaksanaan antusiasme anak-anak yang datang masih cukup baik, anak-anak saling berinteraksi dan memilih buku bacaan yang mereka senangi . Tugas yang diberikan oleh guru pun telah banyak yang mengumpulkan walaupun masih ada beberapa murid yang tidak mengumpulkan. Reward pun telah diberikan bagi kelas dan peserta didik yang setiap bulannnya melakukan paling banyak kunjungan di perpustakaaan, yaitu dengan hasil karya mereka yang dimuat di mading sekolah. Penerapan program Kanji Kuper dapat dikatakan berhasil dalam menarik perhatian peserta didik untuk selalu berkunjung ke perpustakaan, baik membaca maupun menuangkan kreativitasnya. Walaupun pada awalnya perubahan hanya sedikit namun setiap bulannya terdapat peningkatan. Hal tersebut menunjukkan dengan penerapan Kanji Kuper terdapat sebuah kemajuan dan menjadi strategi alternatif dari pendidikan karakter gemar membaca di SD Negeri Ngrancah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta . Selain itu program Kanji Kuper menjadikan sekolah ini meraih juara 1 lomba perpustakaan tingkat Kecamatan Imogiri dan Juara 4 lomba perpustakaan di tingkat Kabupaten Bantul. Berdasarkan hasil analisis program Kanji Kuper merupakan salah satu program perpustakaan yang mendukung Gerakan Literasi Nasional khususnya Gerakan Literasi Sekolah. Keberadaan program ini pada dasarnya bertujuan untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar menjadi pembelajar sepanjang hayat. Secara spesifik akan menumbuhkan budaya literasi di sekolah baik bagi peserta didik, tenaga pendidik ataupun tenaga kependidikan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2016) . Kegiatan yang dilakukan khususnya berada pada tahap pembiasaan yakni memfungsikan lingkungan fisik sekolah melalui pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah yang salah satunya adalah perpustakaan sekolah. Berdasarkan hasil penelitian Fadhli et al., (2020) , program gerakan literasi sekolah tahap pembiasaan ini berdampak pada peningkatan minat kunjung siswa, minat membaca dan menulis serta meningkatkan kemampuan komunikasi siswa. Hal yang sama juga diungkapkan oleh penelitian Hilda (2019) dan Salma & Mudzanatun (2019) yang menyimpulkan bahwa gerakan literasi sekolah memiliki dampak positif, utamanya yakni peningkatan minat baca siswa. Dampak Program Kanji Kuper Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat dampak program bagi warga sekolah di SD Negeri Ngrancah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta . Bagi peserta didik, semakin rajin mengunjungi dan membaca buku perpustakaan, menjadikan peserta didik berpengetahuan luas melalui referensi buku yang dibaca, meningkatkan tingkat minat dan daya baca peserta didik, serta meningkatkan kreativitas dalam diri peserta didik. Hal tersebut sudah sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ning (2016) yang menemukan bahwa kegiatan jam kunjung perpustakaan merupakan salah satu upaya peningkatan minat baca siswa di perpustakaan sekolah dasar. Selain meningkatkan kunjungan dan menjadikan siswa gemar membaca, program tersebut dapat berpengaruh pada tingkat kreativitas siswa. Abidah (2015) menjelaskan bahwa program wajib kunjung perpustakaan akan mempengaruhi minat baca siswa, dan perpustakaan dapat melakukan banyak kegiatan untuk menarik minat siswa seperti membaca, meringkas, menonton video, pendidikan pemakai, permainan edukasi dan membuat karya tulis. Berikutnya, program ini bagi guru berdampak menjadikan guru lebih kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik, menciptakan suasana belajar yang baru sehingga peserta didik tidak bosan serta, menambah referensi bahan ajar untuk digunakan dalam pembelajaran di kelas. Adapun dampak bagi sekolah yakni memaksimalkan fungsi fasilitas perpustakaan, meningatkan daya baca guru dan peserta didik, menunjang tercapaiya tujuan pendidikan serta program Kanji Kuper ini meningkatkan prestasi sekolah dalam lomba perpustakaan. Hasil penelitian ini, pada dasarnya berfokus pada peran perpustakaan sekolah sebagaimana mestinya. Megawati (2016) dan Mangnga (2015) menjelaskan bahwa program yang dilakukan oleh perpustakaan sekolah dapat memberikan dukungan pada proses belajar mengajar khususnya dengan penyediaan sumber informasi yang sudah sesuai dengan kurikulum. Hambatan Hasil penelitian ini menemukan terdapat beberapa hambatan dalam implementasinya. Pertama, tidak semua siswa mengikuti kegiatan dengan bersungguh-sungguh, terdapat beberapa siswa yang mengunjungi perpustakaan hanya membolak-balikan buku dan membuat karya dengan asal-asalan. Tentunya hal ini tidak akan mencapai esensi dan maksud tujuan penyelenggaraan program Kanji Kuper . Kedua, beberapa siswa masih berangapan bahwa penerapan Kanji Kuper hanya sekedar mengugurkan kewajiban untuk menghindari teguran dari guru, dan bukan menjadikan program ini sebagai motivasi untuk membaca. Ketiga, jika pengawasan dari petugas atau wali kelas kurang, peserta didik cenderung ramai mengobrol hal di luar konteks kegiatan membaca. Keempat, beberapa guru yang berpendapat bahwa program Kanji Kuper ini hanya menyita waktu pembelajaran. Hasil tersebut menguatkan pendapat Muspawi (2016) yang menemukan kendala dalam pemanfaatan perpustakaan sekolah yakni siswa yang lebih tertarik dalam bermain dibandingkan memanfaatkan perpustakaan sekolah. Tentunya faktor daya tarik perpustakaan menjadi hal penting agar dapat menarik perhatian siswa untuk berkunjung dan memanfaatkan perpustakaan atau ikut serta pada program perpustakaan. Senada dengan Nurjanah (2014) yang menyebutkan beberapa problematika yakni belum optimalnya layanan perpustakaan, pemustaka belum dapat mengoptimalkan peran perpustakaan sekolah khususnya dari sumber informasi yang disediakan. Hal ini perlu menjadi perhatian sekolah pada umumnya mengingat peran perpustakaan sebagai bagian intergral di satuan pendidikan. Alfarisy & Prasetyawan (2015) menjelaskan bahwa kegiatan kunjung perpustakaan memerlukan pengawasan guru ataupun pustakawan agar suasana lebih kondusif sehingga tujuan dapat dengan optimal tercapai. Selain itu, perlu dibangun sinergi antara guru dan pustakawan agar dapat memaksimalkan program perpustakaan. Sinergi atau kolaborasi antara pustakawan dan guru dapat dibngun untuk meningkatkan pemanfaatan perpustakaan oleh para siswa, mendukung proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru (Loka, 2018).

Conclusion

D. KESIMPULAN DAN SARAN Penerapan program Kanji Kuper (Gerakan Wajib Kunjung Perpustakaan) di SD Negeri Ngrancah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta memberi perubahan pada tingkat kunjungan peserta didik ke perpustakaan sekolah. Hal ini merupakan gambaran adanya kemajuan pendidikan karakter yang ditinjau dari frekuensi literasi serta daya baca. Program ini mewajibkan peserta didik untuk berkunjung ke perpustakaan yang telah dijadwalkan oleh sekolah. Dalam implementasinya, Kanji Kuper mengarahkan siswa untuk membaca buku kemudian mengumpulkan tugas sebagai hasil dari kegiatan tersebut. Untuk meningkatkan keefektifan program ini, sekolah memberikan pengharagaan atau reward pada peserta didik yang sering berkunjung atau membaca buku di perpustakaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa penerapan Kanji Kuper mempunyai banyak hambatan. Namun di sisi lain, program Kanji Kuper memberikan dampak positif baik bagi peserta didik, guru, maupun sekolah khususnya dalam memaksimalkan fungsi perpustakaan sebagai fasilitas sekolah. Saran ataupun tindak lanjut yang bisa dilakukan untuk kajian berikutnya adalah mengenai peningkatan minat baca yang terjadi akibat penerapan Kanji Kuper. Hal tersebut dirasa penting karena dalam kajian ini hanya menjelaskan peningkatan kunjungan siswa ke perpustakaan, namun belum sampai pada peningkatan minat baca. Temuan yang terjadi mengindikasikan bahwa siswa masih dipaksa untuk berkunjung ke perpustakaan, namun secara pribadi terdapat peningkatan minat baca dirasa perlu untuk di kaji lebih lanjut.