Kembali
16
1
2020 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 3 · 2 ISSN 2654-6469

Pelestarian Koleksi Sastra Sunda Di Perpustakaan Ajip Rosidi

Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan pelestarian di Perpustakaan Ajip Rosidi dilihat dari cara menyelamatkan nilai informasi, cara menyelamatkan bentuk fisik koleksi sastra sunda yang dimiliki, dan hambatan yang dihadapi dalam melaksanakan pelestarian koleksi sastra sunda . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif . Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara serta studi dokumentasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah dua orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menyelamatkan nilai informasi koleksi , maka perpustakaan mengalih bentukkan koleksi Sastra Sunda yang memiliki umur 200 tahun kedalam bentuk microfilm atau microfish yang kemudian karena perkembangan teknologi diubah dalam bentuk CD dan hardisk. Dalam menyelamatkan bentu fisik koleksi, maka pustakawan melakukan kegiatan mending, penjilidan, pemberian silica gell, membersihkan secara manual, dan membuat kebijakkan berupa peraturan perpustakaan. Adapun hambatan yang dialami pada saat pelaksanaan pelestarian koleksi Sastra Sunda, yaitu berkaitan dengan faktor sumber daya manusia, faktor pendanaan, dan faktor lingkungan. © 2020 NJILS. All rights reserved.

Abstract

This study aims to determine the implementation of preservation activities in the Ajip Rosidi Library in terms of how to save the value of information, how to save the physical form of Sundanese literature collections that are owned, and the obstacles faced in implementing the preservation of Sundanese literature collections. The method used in this research is descriptive research method. with a qualitative approach. Data collection techniques by means of observation, interviews and documentation study. There are two informants in this study. The results show that in order to save the value of the collection information, the library has converted the 200 - year - old Sundanese Literature collection into microfilm or microfish which later, due to technological developments, was converted into CDs and hard drives. In saving the physical form of the collection, librarians carry out activities of mending, binding, giving silica gell, cleaning manually, and making policies in the form of library regulations. As for the obstacles experienced during the implementation of preservation of Sundanese Literature collection, namely related to human resource factors, funding factors, and environmental factors.
Keywords: preservation · sundanese literature collection · ajip rosidi library

Introduction

Perpustakaan dan pusat - pusat dokumentasi secara umum merupakan suatu institusi yang di dalamnya terdapat unsur koleksi, pengolahan, penyimpanan, dan pemakai. Perpustakaan tidak hanya dipahami sebatas sebuah gedung tempat menyimpan buku, akan tetapi perpustakaan harus dipahami sebagai sebuah sistem yang di dalamnya terdapat unsur tempat (institusi), dan koleksi yang disusun berdasarkan sistem tertentu. Hal ini sesuai dengan pengertian perpustakaan menurut Sulistyo - Basuki ( 1991 ) adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Saat ini perpustakaan tidak hanya sebagai tempat untuk menyimpan atau mengelola koleksi saja, tetapi juga bertugas sebagai penyedia sekaligus pemfilter informasi (Indah, 2019). Adanya peran ini menjadikan perpustakaan harus mampu mengembangkan koleksi yang dimilikinya , sehingga semakin banyak informasi yang tersedia . Namun, koleksi perpustakaan juga perlu dipelihara . Hal ini dikarenakan, koleksi tersebut lambat laun pasti akan mengalami kerusakan. Oleh karena itu , perlu kebijakan pemeliharaan bahan pustaka secara berkala, dalam rangka mencegah rusaknya koleksi perpustakaan. Faktor - faktor penyebab kerusakan koleksi perpustakaan menurut Martoatmodjo (2009) , yaitu meliputi faktor biologi, faktor fisika, faktor kimia, dan faktor lain - lain. Faktor biologi, yaitu serangga (rayap, kecoa, kutu buku), binatang pengerat, jamur. Serangga yang dapat merusak bahan pustaka adalah kecoa, silverfish, book lice, book worm dan rayap. Serangga ini biasanya terdapat pada tempat - tempat yang hangat, gelap dan lembab. Faktor fisika, yaitu cahaya, udara atau debu . Faktor kimia, yaitu zat - zat kimia, keasaman, oksidasi. Adapun faktor lainnya , yaitu banjir, gempa bumi, api, manusia. Pelestarian koleksi bahan pustaka dapat melalui proses digitalisasi, yaitu scanning dan capturing (Safanawati dan Samsons, 2020). Dalam mewujudkan pelestarian koleksi bahan pustaka ini dibutuhkan pustakawan yang memiliki kemampuan pada kegiatan pelestarian koleksi perpustakaan . Hal ini dikarenakan pustakawan akan menghadapi bahan pustaka yang mengalami kerusakan baik kecil ataupun kerusakan besar. Setidaknya pustakawan mampu melakukan kegiatan restorasi koleksi perpustakaan, seperti menghilangkan noda pada bahan pustaka, penjilidan , dan mengganti halaman yang rusak . Selain itu, juga harus mampu memperbaiki halaman yang robek akibat dimakan serangga, atau terkena jamur. Kegiatan pelestarian bahan pustaka merupakan suatu hal yang sangat penting, tetapi masih kurang disadari oleh pustakawan . Hal ini dikarenakan pada umumnya para pustakawan tidak pernah mendapatkan pendidikan formal tentang usaha pelestarian koleksi bahan pustaka. Selain itu, banyak perpustakaan yang belum memiliki kebijakkan mengenai kegiatan pelestarian koleksi bahan Pustaka. Padahal kegiatan pelestarian ini dapat mewujudkan eksistensi perpustakaan melalui kegiatan penyelamatan koleksi perpustakaan khususnya yang tergolong dalam buku langka. Buku langka menurut Margana ( 2013) , yaitu dokumen telah berusia tua ; jumlah sangat terbatas dan tidak ada dipasaran ; tidak ditulis atau diterbitkan kembali; memiliki keunikan bahasa; ataupun berisi informasi warisan budaya ( culture heritage ). Pentingnya pelestarian koleksi perpustakaan ternyata telah disadari oleh Perpustakaan Ajip Rosidi yang memiliki koleksi ribuan naskah sunda kuno. Berdasarkan data yang penulis peroleh dari Perpustakaan Ajip Rosidi , koleksi yang ada berjumlah 40 ribu judul buku dengan 15 kategori. Kategori itu di antaranya adalah filsafat, psikologi, agama, filologi, karya umum, bahasa, ilmu sosial, kesenian dan hiburan, kesusasteraan, sejarah, geografi, biografi, mangle, dan lainnya. Isi dari naskah naskah tersebut antara lain wawacan ( puisi naratif), babad dan uraian. Mayoritas koleksi yang ada tergolong ke dalam sastra sunda. Sastra Sunda menurut Hendrayana (2017) merupakan rekaman dari situasikehidupan sosial masyarakat Sunda . Sastra Sunda yang mulai muncul pada abad ke - 15 . Awalnya dituliskan di atas daun lontar, dan kemudian di atas kertas. Aksara yang dipakai adalah Aksara Sunda Kuno, Aksara Sunda Jawa (Sunda: cacarakan), dan juga huruf Arab. Koleksi di Perpustakaan Ajip Rosidi mayoritas mmeiliki usia yang sangat tua , yaitu sekitar 200 tahun , sehingga keadaan fisiknya sangat beragam , diantaranya ada koleksi yang kertasnya bolong, rapuh, menguning, menghitam, dan lembab . Hal ini yang menjadikan terlaksananya kegiatan pelestarian bahan pustaka di Perpustakaan Ajip Rosidi . Adapun kegiatan pelestarian yang dilakukan adalah preservasi, restorasi, dan reproduksi. Preservasi, merupakan metode yang digunakan oleh Perpustakaan Ajip Rosidi dalam mempertahankan sumber daya kultural dan intelektual khususnya koleksi naskah - naskah kuno yang berumur hampir 200 tahun dengan tujuan untuk menjaga informasi yang ada agar tidak hilang . Restorasi, merupakan teknik perbaikan yang dilakukan Perpustakaan Ajip Rosidi untuk memperbaiki koleksi bahan pustaka yang rusak disesuaikan dengan tingkat kerusakan koleksi tersebut , sehingga bentuk fisik koleksi tetap dapat terjaga . Reproduksi, merupakan metode alih media yang dilakukan oleh Perpustakaan Ajip Rosidi pada koleksi yang fisiknya sudah tidak bisa diselamatkan entah itu karena fisiknya yang sudah rapuh , hancur ataupun sudah tidak terbaca , sehingga informasi yang ada dapat terjaga. Adanya pelaksanaan kegiatan pelestarian koleksi di Perpustakaan Ajip Rosidi ini yang membuat peneliti tertarik untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan pelestarian koleksi bahan pustaka khususnya koleksi sastra sunda demi mewujudkan koleksi bahan pustaka yang selalu sedia dan siap pakai . Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan pelestarian di Perpustakaan Ajip Rosidi dilihat dari cara menyelamatkan nilai informasi, cara menyelamatkan bentuk fisik koleksi sastra sunda yang dimiliki , dan hambatan yang dihadapi dalam melaksanakan pelestarian koleksi sastra sunda. B. TINJAUAN PUSTAKA Dalam suatu penelitian diperlukan dukungan dari hasil - hasil penelitian yang telah ada sebelumnya tentunya yang berkaitan dengan penelitian yang penulis teliti diantaranya: Pertama, penelitian oleh Apriliyani (2012) dengan judul Peran Pelestarian Bahan Pustaka Dalam Preservasi Dan Konservasi di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Istimewa Yogyakarta. Peran Pelestarian bahan pustaka dalam Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka yang peneliti bagi menjadi dua bagian yaitu pertama Tindakan Preventif, kedua Tindakan Kuratif. Pertama Peran Pelestarian bahan pustaka dalam Preservasi dan Konservasi secara Preventif meliputi kegiatan pemeliharaan bahan pustaka yang terbagi menjadi beberapa bagian yaitu membersihkan rak dengan vacum cleaner, merapikan bahan pustaka dan memberikan bahan pengusir serangga (kapur Barus), Kedua Disamping upaya preventif, Peran Pelestarian Bahan Pustaka dalam Preservasi dan Konservasi di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY juga meliputi upaya Kuratif yaitu Fumigasi, penyampulan buku, pembuatan kotak pelindung, alih huruf, alih bahasa dan alih media. Ketiga Petugas Preservasi di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta yang masih kurang walaupun dalam hal alih aksara masih mengandalkan orang ketiga atau pihak lain. Keempat , peralatan atau sarana yang tersedia di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta sudah tersedia namun belum memaksimalkan peralatan atau sarana dan prasarana walaupun sudah di beri bantuan dari Perpustakaan Nasional. Kedua , penelitian oleh Amirullah (2017) dengan judul Strategi Pelestarian Koleksi Bahan Pustaka di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Makassar. Strategi yang digunakan perpustakaan dalam pelestarian koleksi bahan pustaka di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Makassar terdapat beberapa point, yaitu: a ) adanya kegiatan yang bersifat peventif yang terdiri dari perawatan dan pemeliharaan bahan pustaka, fumigasi, dan alih informasi ; b ) tindakan bersifat kuratif yaitu penjilidan bahan pustaka, penyampulan dan pelabelan bahan Pustaka; dan c ) melibatkan pihak ketiga dalam plestarian bahan Pustaka. Ketiga, penelitian oleh Fajrin dan Ika (2018) dengan judul Pelestarian Arsip Sebagai Upaya Penyelamatan Nilai Hitoris di Depo Arsip Suara Merdeka. Kegiatan pelestarian ini meliputi kegiatan pelestarian secara preventif dan kegiatan pelestarian secara kuratif diterapkan oleh Depo Arsip Suara Merdeka sebagai suatu cara untuk mencegah dan merawat arsip dari kerusakan yang mendera atau mengancam arsip , sehingga nilai historis yang terdapat di dalam arsip dapat dilestarikan . Selain itu, pelestarian juga dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi faktor - faktor perusak arsip baik faktor intrinsik semisal bahan baku arsip tersebut maupun faktor ekstrinsik yang berasal dari luar fisik arsip tersebut. Pelaksanaan kegiatan kuratif atau perawatan terhadap arsip rusak di Depo Arsip Suara Merdeka umunya dilakukan dengan cara penambalan dengan selotip pada fisik arsip yang rusak . Hal tersebut dikarenakan arsip rusak yang umum ditemui adalah arsip yang sobek - sobek dan beberapa arsip dengan kondisi yang berlubang, sehingga kegiatan kuratifnya cukup sederhana. Berdasarakan ketiga penelitian di atas perbedaan dengan penelitian ini adalah pada penelitian ini lebih membahas bagaimana pelestarian koleksi khususnya sastra sunda pada Perpustakaan Ajip Rosidi yang tergolong perpustakaan khusus. Selain itu, pada penelitian ini berfokus pada proses kagiatan cara menyelamatkan nilai informasi koleksi, cara menyelamatkan bentuk fisik koleksi, dan cara menjaga keindahan dan kerapian koleksi sastra sunda . Pada perpustakaan kegiatan pelestarian koleksi bahan pustaka merupakan kegiatan yang sangat penting. Pelestarian menurut International Federation of Library Association (IFLA), adalah mencakup semua aspek usaha melestarikan bahan pustaka, keuangan, ketenagaan, metode dan teknik, serta penyimpanannya. Tujuan kegiatan pelestarian menurut Martoatmodjo (2009) , adalah mengusahakan agar koleksi bahan pustaka selalu sedia dan siap pakai. Hal ini dapat dilakukan dengan melestarikan bentuk fisik bahan pustaka, melestarikan kandungan informasi ke dalam media lain (alih media ), seperti microfilm, mikrofish , foto reproduksi dan fotokopi ; atau melestarikan kedua - duanya ( bentuk fisik dan kandungan informasi ) . Ada beberapa tujuan lain dari kegiatan pemeliharaan bahan pustaka, yaitu : a) menyelamatkan nilai informasi yang terkandung dalam setiap bahan pustaka atau dokumen ; b) menyelamatkan bentuk fisik bahan pustaka atau dokumen ; c) mengatasi kendala kekurangan ruang ( space ) ; d) mempercepat proses temu balik atau penelusuran dan perolehan informasi ; dan e) menjaga keindahan dan kerapian bahan pustaka (Martoatmodjo, 2009) . Kerusakan koleksi bahan pustaka disebabkan karena beberapa faktor. Menurut Martoatmodjo (2009) faktor tersebut, yaitu a) faktor biologi, misalnya serangga (rayap, kecoa, kutu buku), binatang pengerat, jamur ; b) faktor fisika, misalnya cahaya, udara/debu, suhu dan kelembaban ; c) faktor kimia, misalnya zat - zat kimia, keasaman, oksidasi ; dan d) faktor lain, seperti banjir, gempa bumi, api dan manusia. Langkah - langkah pencegahan kerusakan koleksi bahan Pustaka yang tergolong preventif menurut Ibrahim (2014) dapat dilakukan dengan, pertama, mencegah kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh manusia seperti sengaja merobek sebagian halaman naskah kuno , atau menghilangkan koleksi naskah kuno . Upaya mengatasi permasalahan tersebut, yaitu, a) jangan menyusun bahan pustaka di rak dengan padat ; b) ambil bahan pustaka di rak dengan cara mendesak ke kanan dan ke kiri setelah longgar baru di tarik dari rak ; c) cara memegang bahan pustaka di tengah punggung bahan Pustaka; d) kerapian dan kebenaran kedudukan bahan pustaka di rak harus dijaga ; e) berhati - hati dalam mengemas bahan Pustaka; dan f) beritahu pembaca perpustakaan cara menggunakan bahan pustaka. Selain itu, menurut menuru t Almah (2012) dalam mengatasi masalah serangga, yaitu, pertama, penyemprotan dengan menggunakan bahan insektisida (bahan pembami serangga). Tempat - tempat yang disemprot dengan bahan insektisida adalah tembok, lantai, langit - langit, lemari koleksi dan sebagainya. Penyemprotan dengan bahan insektisida tertentu dapat dilakukan secara berkala. Kedua, penggunaan gas racun. Salah satu cara untuk membasmi perusak bahan pustaka jenis serangga , yaitu dengan fumigasi atau pengasapan. Ketiga, mengusahakan agar ruangan tidak terlalu gelap. Kecoa mampu memasuki gedung perpustakaan melalui pintu, jendela, lubang angin, dan saluran air. Selain itu, untuk menahan munculnya jamur yaitu dengan menjaga kelembaban ruangan dengan memasang AC. Ruangan yang ideal adalah ruangan yang memiliki 45% sampai 60% realitive humidity (R H) dengan temperatur 20 0 C – 40 0 C. Selain itu, kegiatan pelestarian menurut Ibarhim (2014) dapat berupa kegaiatan menambal kertas, memutihkan kertas, mengganti halaman yang robek, memperbaiki punggung buku rengsel atau sampul buku yang rusak , penyiangan , pen jilidan, fumigasi, deasidifikasi, laminasi, dan enkapulasi. Adapun pengertian sastra sunda adalah karya kesusastraan dalam bahasa Sunda atau dari daerah kebudayaan suku bangsa Sunda atau di mana mereka memberikan pengaruh besar. Sastra Sunda yang mulai muncul pada abad ke - 15 . Awalnya dituliskan di atas daun lontar, dan kemudian di atas kertas. Aksara yang dipakai adalah aksara Sunda Kuno, aksara Sunda - Jawa (Sunda: cacarakan), dan juga huruf Arab. Sastra Sunda adalah karya kesusastraan dalam bahasa Sunda atau dari daerah kebudayaan suku bangsa Sunda atau di mana mereka memberikan pengaruh besar. Seni sastra Sunda berkembang cukup pesat dari waktu ke waktu baik jenis karyanya maupun sastrawannya. Karya sastra Sunda dapat dibagi ke dalam dua kelompok antara lain adalah pantun, wawacan, guguritan, pupujian, paparikan, wawangsalan, dan sajak. Pantun yaitu sastra lisan yang berbentuk prosa lirik . Pada umumnya menceritakan tokoh kerajaan Pajajaran yang melakukan pengembaraan dalam mencapai cita - citanya. Contohnya cerita pantun Ciung Wanara, Lutung Kasarung, Mundinglaya Di Kusumah. Kini cerita pantun sudah banyak yang telah dibukukan. Wawacan , yaitu karya sastra yang terikat, dibentuk dari pupuh, ceritanya panjang, fiksi, dan menceritakan kejayaan seseorang . Adapun contohnya, yaitu wawacan Panji Wulung, Angling Darma, Babad Sumedang, wawacan Purnama Alam. Ada 17 pupuh yang terdapat dalam karya sastra Sunda, yaitu Asmarandana, Kinanti, Sinom, Dangdanggula, Durma, Pangkur, Jurudemung, Gurisa, Magatru, Maskumambang, Pucung, Mijil, Balakbak, Lambang, Ladrang, Gambuh, Wirangrong. Masing - masing pupuh mempunyai sifat dan fungsi masing - masing dalam menggambarkan suasana cerita. Membaca wawacan biasanya ditembangkan sesuai lagu pupuh yang digunakan. Guguritan , yaitu karya sastra terikat yang dibentuk dari pupuh, ceritanya pendek, menceritakan keindahan alam, perasaan hati dan nasihat. Membacakan guguritan ditembangkan sesuai lagu pupuhnya. Contohnya guguritan Dangdanggula Laut Kidul, Asmarandana Lahir Batin, Wulang Krama , Wulang Guru , dan lain - lain. Pupujian , yaitu karangan terikat atau puisi berisikan pelajaran keagamaan, mengagungkan Allah, solawat kepada nabi dan do’a. Bentuk pupujian biasanya terdiri dari beberapa bait, setiap baitnya 4 baris dan berirama, cara membacanya dilantunkan/dilagukan, melantunkan pupujian biasanya di masjid atau madrasah. Paparikan , yaitu karya sastra yang terikat terdiri dari 4 baris, setiap baris terdiri dari 8 suku kata (engang, dalam bahasa Sunda), 2 baris pertama merupakan sindiran atau sampiran , dan 2 baris berikutnya merupakan isinya . Selain itu, paparikan biasanya dikawihkan. Wawangsalan , yaitu karya sastra yang terikat terdiri dari 2 baris, baris pertama sampiran dan baris kedua isi. Uniknya dari paparikan ini adalah baris pertama , dan baris kedua merupakan tebakan yang diulang atau wangsal. Sajak , yaitu karya sastra yang terikat terdiri dari beberapa bait, tiap bait jumlah baris dan jumlah suku kata tiap baris tidak tetap. Isi dari sajak biasanya mengungkapkan keindahan alam, keagungan Alloh, harapan, kebahagiaan dan kesedihan perasaan seseorang.

Method

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengertian model kualitatif menurut Sugiyono (2011) , adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat post - positivisme , digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah (sebagai lawannya eksperimen) . Pada metode ini peneliti adalah sebagai instrumen kunci . Dalam pengambilan informan sumber data dilakukan secara purposive sampling , yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2016) . Teknik pengumpulan data melalui observasi, kajian dokumen dan wawancara. Jenis wawancara yang dilakukan adalah wawancara terstruktur. Tahapan analisa data dalam penelitian ini adalah berdasarkan model analisis Miles , Huberman dan Saldana ( 2014 ), yaitu reduksi, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi . Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli - September 2019 di Perpustakaan Ajip Rosidi . Adapun informan dalam penelitian berjumlah dua orang berdasarkan tabel berikut: Tabel 1. Informan Penelitian di Perpustakaan Ajip Rosidi No Inisial Informan Pekerjaan 1 MS Pustakawan 2 IN Pustakawan Sumber: Peneliti, 2019

Result & Discussion

Profil Perpustakaan Ajip Rosidi Perpustakaan Ajip Rosidi Merupakan Perpustakaan Khusus berlantai tiga . Gedung perpustakaan ini berbentuk heksagon atau segi enam. Perpustakaan ini resmi dibuka pada Sabtu 15 Agustus 2015. Pembukaan Perpustakaan ini diresmikan oleh Wakil Gubernur Deddy Mizwar dan dihadiri oleh para Seniman Sunda dan Pegiat Literasi Sunda. Tokoh, Seniman, Budayawan yang hadir dalam peresmian perpustakaan ini antara lain Iman Soleh, Nani Wijaya, Prof . Dr . Endang Saefullah Wiradipraja, Taufik Ismail dan lain - lain . Selaku Pupuhu Perpustakaan almarhum Ajip Rosidi menyumbangkan kira - kira setengah dari koleksi Perpustakaan Jati Niskala (Perpustakaan pribadi Ajip di Pabean) yaitu sekitar 20.000 judul buku. Perpustakaan ini merupakan salah satu program yang di usung oleh Yayasan Pusat Studi Sunda (PSS). PSS sendiri merupakan bentuk nyata dari rekomendasi konferensi Internasional Budaya Sunda KIBS I pada 22 - 25 Agustus 2002. Perpustakaan Ajip Rosidi ini berdiri berkat dana hibah dari keluarga almarhum Ayatrohaedi (adik almarhum Ajip Rosidi) . Almarhum Ayatrohaedi adalah seorang arkeolog Indonesia yang juga sastrawan dan budayawan Sunda. Dana hibah juga datang dari almarhum Ajip Rosidi, Arifin Panigoro, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan lain sebagainya . Perpustakaan ini menghabiskan dana sekitar Rp 7,3 miliar. Sumbangan lainnya ada juga dari almarhum Edi S. Ekadjati yang menyumbangkan sekitar belasan ribu judul buku. Selain itu ada pula sumbangan buku dari koleksi pribadi H. Misbach J. Biran. Selain itu, beberapa penerbit yang menaruh simpati juga ikut menyumbangkan buku terbitannya untuk menambah jumlah koleksi Perpustakaan Ajip Rosidi. Penerbit tersebut, antara lain Penerbit Diponegoro, Dunia Pustaka Jaya, Kiblat Buku Utama, Nuansa Cendikia, Yayasan Obor Indonesia, Republika, Remaja Rosdakarya, dan Tiga Serangkai. Gedung Perpustakaan Ajip Rosidi terletak di Jalan Garut Nomor 2 Kota Bandung . Perpustakaan ini memiliki tiga lantai . Jam buka layanan, yaitu hari senin sampai kamis mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 15.30 WIB dan istrirahat pukul 12.00 WIB sampai pukul 13.00 WIB. Hari jum’at mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB dan istirahat pukul 11.30 WIB sampai pukul 13.00 WIB. Hari sabtu mulai pukul 08 .00 WIB - 11.30 WIB . Namun, pada hari libur yaitu hari minggu dan hari libur nasional perpustakaan tutup. Pelestarian Koleksi Sastra Sunda di Perpustakaan Ajip Rosidi Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti dengan mewawancarai informan MS dan IN di Perpustakaan Ajip Rosidi diketahui bahwa perpustakaan tersebut sudah melaksanakan kegiatan pelestarian koleksi bahan pustaka khususnya naskah Sastra Sunda. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan MS berikut: “Iya, disini perawatan koleksi naskah sastra sunda. Karena untuk menyelamatkan informasi yang ada, dan menjaga koleksi yang ada agar tetap bisa digunakan. Apalagi koleksi itu termasuk koleksi langka ”. (MS, Wawancara, September, 2020) Berdasarkan pernyataan MS di atas dapat diketahui bahwa pelaksanaan pelestarian koleksi bahan Sastra Sunda, yaitu untuk menjaga informasi yang ada, dan menjaga koleksi yang ada. Hal ini sesuai dengan pernyataan Martoatmodjo (2009) yang menyatakan bahwa beberapa tujuan pelestarian bahan pustaka di perpustakaan , antara lain: a) menyelamatkan nilai informasi yang terkandung dalam setiap bahan pustaka atau dokumen ; b) menyelamatkan bentuk fisik bahan pustaka atau dokumen ; c) mengatasi kendala kekurangan ruang ( space ) ; d) mempercepat proses temu balik atau penelusuran dan perolehan informasi ; dan e) menjaga keindahan dan kerapian bahan pustaka. Cara Menyelamatkan Nilai Informasi Koleksi Sastra Sunda Di Perpustakaan Ajip Rosidi Menurut Martoatmodjo (2009) tujuan utama program pelestarian bahan pustaka adalah mengusahakan agar koleksi bahan pustaka selalu sedia dan siap pakai. Salah sataunya dengan melestarikan kandungan informasi ke dalam media lain (alih media) seperti microfilm, mikrofish , foto reproduksi dan fotokopi . Kegiatan pelestarian koleksi perpsutakaan melalui pelestarian kandungan informasi yang ada pada koleksi Sastra Sunda telah dilakukan oleh Perpustakaan Ajip Rosidi. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan IN berikut: “Koleksi sastra sunda yang kami selamatkan nilai informasinya adalah koleksi yang umurnya sudah hampir 200 tahun diantaranya adalah naskah – naskah kuno berupa Wawacan, Cacarakan, Guguritan, dan Pupujian . Ya , karena koleksi tersebut sudah sangat lapuk, tak jarang tulisannya memudar dan sulit terbaca . Mungkin dikarenakan faktor usia, jamur, binatang pengerat seperti rayap dan silverfish juga tingkat keasaman kertas yang tinggi. Kami mengalih mediakan semua koleksi yang usianya diatas 200 tahun tersebut ke dalam microfilm dan microfish ” . (IN, Wawancara, September, 2020) Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa nilai informasi yang paling utama diselamatkan di Perpustakaan Ajip Rosidi adalah informasi yang terkandung dalam naskah - naskah kuno seperti Wawacan, Cacarakan, Guguritan, dan Pupujian. Naskah - naskah tersebut kemudian di alih mediakan ke dalam microfilm atau microfish . Hal ini dikarenakan naskah - naskah tersebut termasuk kedalam koleksi yang langka. Selain itu, umur koleksi yang menyentuh angka 200 tahun , menjadikan keadaan fisik koleksi menjadi hampir rusak , yaitu fisik buku berubah warna menjadi kuning ; tulisan pada koleksi memudar karna tinta yang dipakai ; dan setiap halaman buku lengket karena lembab ataupun karena lem yang ada pada kandungan buku yang mencair . Faktor kerusakan ini disebut dengan kerusakan koleksi yang diakibatkan oleh faktor internal, yaitu faktor dari buku itu sendiri (Fatmawati, 2017). Selain itu, pada koleksi juga terdapat jamur, dan binatang pengerat seperti silverfish , dan kadar keasaman yang tinggi pada kertas. Penyebab kerusakan karena adanya jamur dan silverfish termasuk faktor biologi, dan penyebab kadar keasaman kertas termasuk kedalam faktor kimia (Martoatmodjo, 2009) . Munculnya hewan pengerat dan jamur menurut dikarenakan adanya ruangan yang tidak bersih akibat sisa sampah makanan atau minuman yang tertinggal, serta kelembaban ruangan yang tidak terjaga (Fatmawati, 2017). Berdasarakan wawancara dengan informan NS dapat diketahui bahwa nilai informasi yang dilestarikan dari koleksi Wawacan, Cacarakan, Guguritan, dan Pupujian di Perpustakaan Ajip Rosidi , yaitu nilai historis yang terkandung didalamnya. Hal ini dikarenakan pada koleksi tersebut menggambarkan akan suatu kejadian atau peristiwa pada masa lampau, sehingga dapat mengingatkan kembali terjadinya suatu peristiwa, dan dapat dipergunakan sebagai bahan atau alat pembuktian dalam suatu peristiwa . Hal ini bertujuan agar informasi yang ada tidak hilang, sehingga dapat mewariskan ilmu pengetahuan yang terkandung didalamnya untuk generasi yang akan datang. Kegiatan alih media digital di Perpustakaan Ajip Rosidi dilakukan secara rutin setiap tahunnya. Seiring dengan perkembangan teknologi, maka naskah yang sudah dimikrofilmkan juga harus dialihmediakan ke dalam bentuk CD. Kemudian, saat ini maka file digital yang tersimpan dalam CD dipindahkan lagi ke hard disk . Menurut Fahri (2017) hardisk merupakan salah satu media penyimpanan data yang tergolong digital storage yang digunakan di era saat ini. Adanya pengalihan media koleksi yang disesuaikan dengan perkembangan jaman ini merupakan hasil dari kegiatan pelestarian informasi digital berkelanjutan yang rutin dilaksanakan. Cara Menyelamatkan Bentuk Fisik Koleksi Satra Sunda Di Perpustakaan Ajip Rosidi Dalam menyiapkan koleksi yang selalu tersedia dan siap pakai dapat melalui penyelamatan bentuk fisik bahan pustaka (Martoatmodjo, 2009) . Berdasarkan hasil wawancara dengan MS dan IN dapat diketahui bahwa kerusakan secara fisik yang dialami oleh koleksi Sastra Sunda, berupa koleksi berlunang, robek, lepas dari jilid, halaman saling menempel, dan halaman terlipat. Koleksi Sastra Sunda yang berlubang biasanya dikarenakan adanya faktor binatang pengerat. Dalam penanganan kasus ini, pustakawan hanya memeberikan silica gell agar buku lebih bertahan lama . Hal ini dikarenakan belum tersedia nya bahan – bahan seperti tisu jepang, aqua dess , maupun alat canggih lainnya . Koleksi Sastra Sunda yang robek biasanya dikarenakan oleh faktor vandalisme yang dilakukan oleh pengunjung perpustakaan. Penanganan untuk koleksi yang robek, yaitu apabila robekannya masih ada , maka menggunakan lem untuk menyatukannya kembali halaman yang robek tersebut. Namun , apabila robek satu halaman dan robekannya hilang, maka disiasati dengan meng - foto copy halaman yang hilang dari buku dengan judul yang sama . Kemudian baru menempelkannya kembali pada koleksi tersebut, dan memberikan silica gell . Kegiatan menyambung atau menempelkan pada halaman yang robek ini menurut Martoatmodjo (2009) , disebut dengan mending. Koleksi Sastra Sunda yang lepas dari jilid, merupakan kerusakan sangat sering ditemui . Kerusakanan ini dikarenakan faktor usia, dan fisik jilid yang sudah lapuk . Kerusakana ini biasanya dialami oleh koleksi Sastra Sunda, seperti carpon – carpon Sunda, sajak, dan lain - lain . Kerusakan ini diatasi dengan menempelkan kembali pada jilid atau covernya dengan memggunakan lem/perekat dan ditambahkan silica gell agar buku tersebut lebih awet. Proses menempelkan kembali koleksi atau lembaran - lembaran yang terlepas kemudian dijilid Kembali menurut Martoatmodjo ( 20 09 ) disebut dengan penjilidan. Tujuan penjilidan adalah untuk memperbaiki bahan pustaka, seperti pembuatan sampul buku, perbaikan punggung buku dan halaman buku yang rusak, perbaikan halaman yang lepas dan penyampulan bahan (Harida dan Ardono, 2013) . Koleksi Sastra Sunda yang menempel antar halaman koleksi dikarenakan adanya kelembaban pada koleksi, atau akibat terkena air . Penanganan untuk kerusakanan ini, yaitu pustakawan memisahkan secara manual secara dengan hati hati , dan diberikan berikan lagi silica gell . Koleksi Sastra Sunda yang halamanannya terlipat biasanya akibat dari ulah manusia yang mungkin tidak sengaja melipatnya untuk menandai halaman yang sudah dibaca . Penanggulannya adalah pustakawan membuat peraturan untuk tidak melipat kertas buku sembarangan, dan mengecek kembali koleksi yang telah selesai digunakan oleh pengunjung perpustakaan. Adanya peraturan yang dibuat oleh pustakawan ini menurut Dun ( 2003 ), disebut sebagai kebijakkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dun (2003) , berikut: “ Kebijakan ialah aturan tertulis yang merupakan suatu keputusan formal organisasi, yang mempunyai sifat yang mengikat, yang mengatur perilaku dengan tujuan untuk dapat menciptakan tatanilai baru dalam masyarakat. Kebijakan akan menjadi rujukan utama para anggota organisasi atau juga anggota masyarakat didalam berperilaku .” Hambatan Pelestarian Koleksi Sastra Sunda di Perpustakaan Ajip Rosidi Dalam melakukan kegiatan pelestarian koleksi Sastra Sunda di Perpustakaan Ajip Rosidi ternyata mengalami hambatan. Hambatan tersebut, yaitu, pertama kurangnya sumber daya manusia yang menguasi teknik kegiatan pelestarian koleksi perpustakaan. Hal ini menjadikan kurangnya kompetensi dan inovasi pustakawan sebagai sumber daya manusia yang ada di perpustakaan dalam melakukan kegiatan pelestarian koleksi yang ada. Faktor kedua berkaitan dengan pendanaan. Dalam melakukan kegiatan pelestarian koleksi bahan pustaka tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit . Terutama dalam menyiapkan alat atau bahan yang akan digunakan dalam kegiatan pelestarian koleksi bahan pustaka. Semua ini memerlukan anggaran yang besar. Perpustakaan Ajip Rosidi sendiri masih terkendala oleh dana dikarenakan perputakaan tersebut berdiri secara independen yang di kelola perorangan atau pribadi bukan pemerintah. Faktor ketiga adalah faktor lingkungan . Adanya koleksi dan tata ruang yang belum tertata dengan rapi dan baik, sehingga perlu dibenahi kembali untuk kenyamanan pemustaka , pustakawan , dan pengembangan kinerja pengelola perpustakaan. Selain itu, fasilitas yang dirasa masih kurang, seperti komputer, mesin fotokopi, meja pelayanan, ruang referensi, ruang sirkulasi, ruang audiovisual, ruang untuk melakukan kegiatan pelestarian, serta tidak adanya AC.

Conclusion

Pelestarian koleksi bahan Pustaka merupakan salah satu kegiatan yang perlu dilakukan oleh perpustakaan. Pelestarian ini bertujuan agar koleksi yang ada dapat terawatt dengan baik, sehingga informasi yang ada dapat terjaga dan digunakan oleh pengunjung perpustakaan. Perpustakaan Ajip Rosidi telah secara rutin melakukan kegiatan pelestarian koleksi perpustakaannya khususnya koleksi yang berupa naskah Sastra Sunda. Kegiatan pelestarian yang dilakukan adalah kegiatan untuk menyelamatkan nilai informasi yang terkandung didalam koleksi, dan bentuk fisik koleksi. Dalam menyelamatkan nilai informasi koleksi maka perpustakaan mengalih bentukkan koleksi Sastra Sunda yang memiliki umur 200 tahun kedalam bentuk microfilm atau microfish yang kemudian karena perkembangan teknologi di ubah dalam bentuk CD dan hardisk . Dalam menyelamatkan bentu fisik koleksi, maka pustakawan melakukan kegiatan mending, penjilidan, pemberian silica gell , membersihkan secara manual, dan membuat kebijakkan berupa peraturan perpustakaan. Adapun hambatan yang dialami pada saat pelaksanaan pelestarian koleksi Sastra Sunda, yaitu berkaitan dengan faktor sumber daya manusia, faktor pendanaan, dan faktor lingkungan. Berdasarakan saran yang telah disampaikan, maka penulis mengemukakan berberapa saran untuk dijadikan bahan pemikiran atau pertimbangan baik bagi perpustakaan maupun pustakawan di Perpustakaan Ajip Rosidi, yaitu pertama, pustakawan disana sebaiknya dapat mengembangkan kompetensi diri baik di bidang kepustakawanan khusunya di bidang pelestarian . Kedua, Perpustakaan Ajip Rosidi sebaiknya mencoba metode pelestarian koleksi perpustakaan lainnya, seperti fumigasi, enkapulasi, dan lain - lain, sehingga koleksi Sastra Sunda yang tergolong koleksi langka dapat dilestarikan secara maksimal. Ketiga, sebaiknya Perpustakaan Ajip Rosidi melangkapi fasilitas yang ada terutama AC di ruangan karena untuk menjaga kelembaban ruangan .