Kembali
16
1
2022 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 5 · 1 ISSN 2654-6469

Tata Letak Perabotan Di Ruang Baca Dewasa Di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat

Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara

Abstrak

Perpustakaan umum adalah jenis perpustakaan yang dapat diakses atau digunakan oleh masyarakat umum. Pentingnya perpustakaan sebagai sumber ilmu pengetahuan tentunya membutuhkan kondisi ruangan yang nyaman dengan memfasilitasi didalamnya untuk memudahkan aktivitas baik petugas perpustakaan maupun pengunjung yang menggunakan ruang tersebut. Terdapat layanan ruang baca dewasa di Perpustakaan Umum DISPUSIPDA (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tata letak perabotan di ruang baca dewasa Perpustakaan Umum DISPUSIPDA (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat). Peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Informan pada penelitian ini adalah pustakawan Perpustakaan Umum DISPUSIPDA (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat). Hasil penelitian menunjukan bahwa tata letak perabot di layanan ruang baca dewasa sangat nyaman dengan kualitas peralatan/ perabot yang memadai, kolesi buku yang lengkap, dan didalamnya dilengkapi dengan ruang diskusi. Tata letak perabot diruang baca dewasa sangat ergonomis sehingga memudahkan pustakawan dan pemustaka dalam beraktivitas di ruangan tersebut.

Abstract

A public library is a type of library that can be accessed or used by the general public. The importance of the library as a source of knowledge certainly requires comfortable room conditions by facilitating in it to facilitate the activities of both librarian and visitors who use the space. There is an adult reading room service at the DISPUSIPDA Public Library (West Java Regional Library and Archives Service). The purpose of this study was to find out how the layout of the furniture in the adult reading room of the DISPUSIPDA Public Library (West Java Regional Library and Archives Service). Researchers used qualitative research using descriptive methods with data collection techniques with direct observation, interviews with librarians of the DISPUSIPDA Public Library (West Java Regional Library and Archives Service). The results showed that the layout of the furniture in the adult reading room service was very comfortable with adequate quality equipment/furniture, a complete collection of books, and a discussion room inside. The layout of the furniture in the adult reading room is very ergonomic, making it easier for librarians and users to carry out activities in the room.
Keywords: perabotan perpustakaan · ruang baca · DISPUSIPDA

Introduction

Keberadaan perpustakaan sangat penting bagi kehidupan dan kecerdasan bangsa. Perpustakaan Menurut Sulistyo-Basuki (2014) adalah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual. Perpustakaan yang dikenal pada umumnya sebagai ruang sirkulasi atau kegiatan pinjam meminjam buku atau koleksi maupun sebagai ruang referensi bagi pemustaka dalam mencari koleksi dan informasi. Dalam merencanakan suatu gedung perpustakaan perlu memperhatikan letak perpustakaan yang strategis, struktur gedung, menjamin keamanan gedung, memikirkan perkembangan perpustakaan ke depan, dan memperhatikan berbagai elemen perencanaan ruang dan desain perabotan. Perpustakaan umum menurut Suwarno (2011), mengatakan bahwa, “perpustakaan umum merupakan suatu satuan kerja organisasi badan atau lembaga. Satuan unit kerja tersebut dapat berdiri sendiri, tetapi dapat juga merupakan bagian dari organisasi di atasnya yang lebih besar”. Adapun menurut Hermawan & Zen dalam Musaddik & Nurislaminingsih (2013), mengemukakan bahwa, perpustakaan umum adalah perpustakaan yang melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang, status sosial, agama, suku, pendidikan, dan sebagainya. Jadi bisa disimpulkan bahwa perpustakaan umum merupakan satu-satunya jenis perpustakaan yang bisa diakses oleh masyarakat umum. Ada banyak jenis perpustakaan yang ada di Indonesia antara lain perpustakaan yang dimiliki oleh pihak pemerintah dan swasta. Perpustakaan yang dimiliki oleh pihak pemerintah merupakan perpustakaan yang diperuntukkan untuk setiap warga masyarakat untuk dapat memanfaatkan fasilitas didalamnya. Salah satu perpustakaan aktif yang ada di Indonesia adalah Perpustakaan Umum DISPUSIPDA (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat). Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (DISPUSIPDA) merupakan instansi dari penggabungan antara Perpustakaan Umum dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat yang beralamatkan di Jalan Kewaluyaan Soekarno-Hatta Bandung. Perpustakaan ini terdiri dari berbagai ruangan yang tersedia untuk dipergunakan salah satunya ruang baca dewasa. Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik untuk menganalisis tata letak perabotan di ruang baca dewasa Perpustakaan Umum DISPUSIPDA (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat). Perpustakaan yang nyaman identik dengan perpustakaan yang ergonomis. Pengertian ergonomis merupakan upaya untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan sehat bagi pengguna ruangan. Begitu pula dengan jenis perabotan yang digunakan tentunya harus nyaman dan sesuai dengan standar ergonomi. Dalam suatu penelitian diperlukan dukungan dari hasil hasil penelitian yang sudah ada sebelumnya tentunya yang berkaitan dengan penelitian yang penulis teliti diantaranya, pertama, penelitian dari Ricardo & Kharisma (2015), yang berjudul Evaluasi Penataan Perabotan Secara Ergonomi Berdasarkan Pola Aktivitas Pengguna Ruang. Penelitian ini merupakan salah satu cara untuk mengevaluasi penataan perabotan secara ergonomi. Pentingnya perpustakaan sebagai suatu tempat sumber dari pengetahuan tentunya perlu suatu kondisi yang nyaman untuk memfasilitasi kegiatan didalamnya baik diperuntukan untuk pegawai perpustakaan maupun pengunjung yang menggunakan ruangan tersebut. Ruang baca dewasa merup akan ruangan yang paling banyak diakses pada Perpustakaan Daerah Kalimantan Tengah dengan tingkat kenyamanan berdasarkan penataan perabotan akan menjadi faktor yang menentukan penting. Adapun penelitian kedua dari Anugrah & Ardoniz (2013), penelitian yang berjudul Penataan Ruangan di Perpustakaan Umum Kota Solok. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan desain interior Perpustakaan Umum Kota Solok, sehingga menghasilkan desain interior yang optimal. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa dari ke dua jurnal tersebut salah satunya membahas mengenai tata letak perabotan di ruang baca khusus dewasa. Ruangan yang tertata rapi dan buku – buku yang tertata akan membuat suatu perpustakaan memberikan suasana yang nyaman sehingga pemustaka tertarik untuk membaca buku dan betah berada di perpustakaan. Adapun 10 (sepuluh) prinsip yang dapat digunakan untuk penataan ruangan perpustakaan menurut Lasa (2007) antara lain, pertama, untuk pelaksanaan tugas yang memerlukan konsentrasi hendaknya ditempatkan di ruangan terpisah atau di tempat yang aman dari gangguan, hal ini bertujuan agar tidak mengganggu konsentrasi dalam melaksanakan pekerjaan. Kedua, bagian yang bersifat pelayanan umum hendaknya ditempatkan di lokasi yang strategis. Tujuannya agar lebih mudah dicapai, misalnya bagian sirkulasi. Apabila pelayanan kurang memuaskan akan mengakibatkan semakin sedikit jumlah pengunjung, tetapi sebaliknya apabila pelayanannya baik jumlah pengunjung akan semakin bertambah. Ketiga, dalam penempatan perabot seperti meja, kursi, rak buku, lemari, dan lainnya hendaknya disusun dalam bentuk garis lurus. Tujuannya agar segala kegiatan pemustaka lebih mudah dikontrol oleh pustakawan. Selain itu juga akan membuat ruangan lebih indah, teratur dan tidak sempit. Pemustaka juga akan lebih leluasa melakukan kegiatannya di perpustakaan karena ruangannya tidak sempit. Keempat, jarak antara satu perabot dengan perabot lainnya dibuat agak lebar. Jarak perabot diatur agar pustakawan maupun pemustaka bisa leluasa untuk berjalan. Selain itu juga bertujuan agar ruangan tidak terlihat sempit yang akan membuat pustakawan dan pemustaka merasa tidak nyaman. Kelima, bagian-bagian yang mempunyai tugas yang sama, hampir sama, atau merupakan kelanjutan, hendaknya ditempatkan di lokasi yang berdekatan. Hal ini bertujuan agar pustakawan tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk berpindah-pindah ruangan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Pemustaka juga tidak perlu bingung apabila ada yang perlu diurus dengan pustakawan. Keenam, bagian yang menangani pekerjaan yang bersifat berantakan seperti pengolahan, pengetikan atau penjilidan hendaknya ditempatkan di tempat yang tidak tampak oleh khalayak umum. Bertujuan agar pemustaka tidak terganggu oleh suasana yang berantakan. Ketujuh, apabila memungkinkan, semua petugas dalam suatu unit/ruangan hendaknya duduk menghadap ke arah yang sama dan pimpinan duduk di belakang. Situasi ini akan lebih menciptakan komunikasi yang lancar antarpetugas. Kedelapan, alur pekerjaan hendaknya bergerak maju dari satu meja ke meja lain dari garis lurus. Hal ini bertujuan agar tidak adanya keraguan ataupun kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan oleh pustakawan. Misalnya dalam proses pengolahan bahan pustaka dan proses penyelesaian fisik bahan pustaka seperti penyampulan buku. Kesembilan, ukuran tinggi, rendah, panjang, lebar, luas dan bentuk perabot hendaknya dapat diatur lebih leluasa. Hal ini dimaksudkan agar tidak tercipta situasi jenuh bagi pustakawan maupun pemustaka. Selain itu juga akan membuat ruangan perpustakaan akan terlihat lebih indah dan menarik. Kesepuluh, perlu ada lorong yang cukup lebar untuk jalan apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran dan bencana alam. Bisa juga dibuat jalan keluar alternatif apabila terjadi kejadian yang tidak terduga. Hal ini bertujuan agar lebih mudah menyelamatkan diri apabila terjadi bencana yang tidak terduga

Method

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Menurut Sugiyono (2013) menambahkan bahwa metode kualitatif sering disebut metode naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting) dan data yang terkumpul serta analisisya lebih bersifat kualitatif. Peneliti mendeskripsikan data yang berkaitan dengan tata letak perabotan di ruang baca dewasa Perpustakaan Umum DISPUSIPDA (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat). Teknik pengumpulan data menurut Riduwan (2010) merupakan salah satu metode yang ada di dalam pengumpulan data dengan menggunakan teknik atau cara yang digunakan oleh para peneliti untuk mengumpulkan data. Untuk memperoleh data tersebut digunakan beberapa instrumen pengumpulan data, yaitu, pertama melalui observasi, yaitu mengamati dan meninjau langsung keadaan tata letak perabotan di ruang baca dewasa Perpustakaan Umum DISPUSIPDA (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat). Lembar observasi digunakan sebagai panduan untuk melihat kenyataan yang ada di Perpustakaan Umum DISPUSIPDA (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat). Kedua, melalui wawancara, yaitu mengajukan pertanyaan kepada staf atau pegawai dan pengunjung yang berada di Perpustakaan Umum DISPUSIPDA (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat). Pedoman wawancara dipakai sebagai penduan untuk melaksanakan kegiatan wawancara dengan pustakawan dan pemustaka. Ketiga melalui, studi pustaka (library research), yaitu mempelajari bahan pustaka atau literatur yang berhubungan dengan topik yang dibahas pada penelitian ini. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember 2021. Teknis analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Adapun jumlah informan dala penelitian ini adalah 3 orang yang terdiri dari 1 orang pustakawan dan 2 orang pemustaka denga data sebagai berikut: Tabel 1 Daftar informan yang diwawancara No Nama Pekerjaan Jenis kelamiin 1. Lilis Rosita Pustakawan P 2. Fatiana Mahasiswa P 3. Dian Mahasiswa P Sumber: Peneliti, 2021

Result & Discussion

Ruangan yang dibahas yaitu ruangan baca dewasa yang berada di Perpustakaan Umum DISPUSIPDA (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat). Berdasarkan pengamatan langsung, ruang tamu, ruang sirkulasi, ruang kerja pustakawan, ruang pengolahan, ruang baca, ruang terbitan berseri, ruang koleksi, dan layanan informasi tematik ditempatkan diruangan yang berbeda. Prinsip penataan ruangan yang berpengaruh terhadap banyak hal, baik dari segi kinerja pustakawan, psikologis pemustaka maupun segi keamanan bahan pustaka. Perpustakaan Umum DISPUSIPDA sangat memperhatikan keamanan dan kenyamanan pemustaka. Gambar 1. Layanan Ruang Baca Dewasa Perpustakaan Umum DISPUSIPDA Sumber: Peneliti, 2021 Berdasarkan hasil wawancara dengan pustakawan pada Layanan Ruang Baca Dewasa yang bernama Lilis Rosita diketahui bahwa alasan letak ruang baca dewasa terletak di lantai 2 karena pada layanan ini memiliki koleksi buku yang cukup banyak dari kelas 0 - 900, sehingga memerlukan tempat yang luas. Selain itu juga untuk menciptakan suasana yang aman dan nyaman dari gangguan. Hal ini dikarenakan lantai 1 dikhususkan untuk anak, sehingga pemustaka pada ruang baca dewasa tidak mengganggu konsentrasi nya ketika berada pada Ruang Baca Dewasa. Kemudian, merujuk kepada kestrategisan letak Ruang Baca Dewasa menurut informan yaitu Fatiana yang merupakan pemustaka Perpustakaan Umum DISPUSIPDA, menjelaskan bahwa pemustaka sudah merasa bahwa Ruang Baca Dewasa mudah diakses oleh pemustaka. Pada umumnya Pemustaka yang datang ke Layanan Ruang Baca Dewasa tujuannya untuk membaca atau meminjam buku dan mengerjakan tugas. Hal ini menunjukkan jika penataan Ruang Baca Dewasa sudah memenuhi prinsip penataan ruangan perpustakaan pertama dan kedua menurut Lasa (2007), yaitu ditempatkan di ruangan terpisah atau di tempat yang aman dari gangguan agar lebih konsentrasi untuk pelaksanaan tugas, dan ruangan harus terletak di lokasi yang strategis. Jumlah rata-rata orang yang mengunjungi Perpustakaan Umum DISPUSIPDA biasanya dikunjungi oleh banyak pemustaka dengan rata-rata kurang lebih bisa mencapai 1000 orang/ harinya. Namun, dimasa pandemi virus Covid-19 ini pengunjung perpustakaan sangat terbatas, sehingga maksimal hanya 200 orang/hari. Pemustaka juga bisa menyediakan akses digital untuk mempermudah pemustaka dalam mencari buku yang diinginkan. Layanan yang dapat dimanfaatkan oleh pemustaka ketika datang langsung ke layanan ruang baca dewasa, yaitu koleksi buku yang tersedia bisa dibaca ditempat atau dipinjam oleh pemustaka. Gambar 2. Letak Meja Sirkulasi di Ruang Baca Dewasa Sumber: Peneliti, 2021 Pada layanan ruang baca dewasa juga menyediakan sarana dan prasarana yang sesuai dengan kebutuhan dan menunjang aktivitas pemustaka, yaitu rak sepatu, meja, kursi, rak buku, lemari, OPAC, dan komputer di tempatkan di tempat yang strategis. Rak sepatu diletakkan didepan ruangan Layanan Ruang Baca Dewasa, sehingga pada saat pemustaka akan memasuki langsung menyimpan sepatu atau sandal yang dipakai dengan rapi dan aman. Meja sirkulasi pada ruang baca dewasa terletak di depan, yaitu dekat dengan pintu masuk ruang baca dewasa. Hal ini bertujuan agar strategis sehingga mudah diakses oleh pemustaka apabila membutuhkan bantuan dalam mencari buku atau keperluan lainnya. Selain itu, untuk mempermudah pustakawan dalam mengatur atau mengontrol aktivitas pemustaka. Adanya penempatan meja sirkulasi didekat pintu masuk ini sesuai dengan prinsip ketiga penataan ruangan perpustakaan menurut Lasa (2007), yaitu dalam penempatan perabot hendaknya disusun dalam bentuk garis lurus agar segala kegiatan pemustaka lebih mudah dikontrol oleh pustakawan. Pada ruangan ini juga tersedia beberapa ruang diskusi yang dikhususkan untuk pemustaka yang ingin berdiskusi tanpa gangguan atau mengganggu pemustaka yang lainnya. Selain itu, ruang diskusi yang tersedia juga bisa digunakan oleh pemustaka yang membutuhkan ketenangan dalam membaca atau mengerjakan tugas. Tetapi, dimasa pandemi sekarang layanan ruang baca dewasa hanya melayani peminjaman saja tidak untuk baca di tempat. Pada ruangan ini juga terdapat banyak meja dan kursi yang bisa digunakan oleh pemustaka untuk membaca koleksi atau mengerjakan tugas. Ini menunjukkan jika bilik-bilik ruang diskusi dan ruang membaca serta meja sirkulasi pustakawan terletak pada satu ruangan penataan ruangan perpustakaan. Hal ini sesuai dengan prinsip kelima menurut Lasa (2007), yaitu bagian-bagian yang mempunyai tugas yang sama, hampir sama, atau merupakan kelanjutan, hendaknya ditempatkan di lokasi yang berdekatan. Gambar 3. Ruang Diskusi, Meja dan Kursi di Ruang Baca Dewasa Sumber: Peneliti, 2021 Jarak antar meja dan kursi di layanan ruang baca dewasa diperkirakan 50 cm, sehingga pemustaka bisa leluasa bergerak. Tinggi meja dan kursi di layanan ruang baca dewasa diatur untuk kenyamanan dan memudahkan aktivitas pemustaka, sehingga pemustaka nyaman dan tidak bungkuk dalam membaca. Hal ini sesuai dengan prinsip keempat penataan ruangan perpustakaan menurut Lasa (2007), yaitu jarak antara satu perabot dengan perabot lainnya dibuat agak lebar bertujuan agar ruangan tidak terlihat sempit yang akan membuat pustakawan dan pemustaka merasa tidak nyaman. Gambar 4. Ruang Diskusi, Meja dan Kursi di Ruang Baca Dewasa Sumber: Peneliti, 2021 Jumlah rak buku di Ruang Baca Dewasa berjumlah 28 rak yang berisi berbagai macam koleksi buku. Tinggi rak koleksi sekitar 170 cm dan jarak antar rak koleksi 100 cm. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pemustaka dalam mencari koleksi buku yang dibutuhkan. Menurut Swasty dalam Hartono, Hartono, & Sujatmika (2019), mengemukakan bahwa, sebelum membuat rak buku perlu diketahui terlebih dahulu ukuran ideal rak buku serta ketinggian buku yang akan disimpan. Apalagi ada berbagai jenis buku yang akan disimpan dalam rak buku, antara lain buku pengetahuan, atlas, novel, kamus dan sebagainya. Selain itu, hal ini menurut Lasa (2007), sesuai dengan prisip kesembilan dan kesepuluh penataan ruangan perpustakaan, yaitu ukuran tinggi, rendah, panjang, lebar, luas dan bentuk perabot hendaknya dapat diatur lebih leluasa sehingga membuat ruangan perpustakaan akan terlihat lebih indah dan menarik, serta adanya lorong yang cukup lebar untuk jalan apabila sewaktu-waktu terjadi kejadian yang tidak terduga sehingga mudah untuk menyelamatkan diri. Pada Ruang Baca Dewasa ini juga dilengkapi dengan fasilitas yang alat pemadam kebakaran. Hal ini juga bisa merupakan bentuk pencegahan kerusakan bahan Pustaka (Indah, 2020). Gambar 5. Diskusi antara Pustakawan dan Pemustaka di Ruang Baca Dewasa Sumber: Peneliti, 2021 Di dalam Layanan Ruang Baca Dewasa tidak terdapat ruang pengadaan koleksi, karena pengadaan dan pengelolaan koleksi terpisah dengan ruangan lain. Hal ini dikarenakan di ruangan ini pustakawan hanya melakukan peminjaman dan pengembalian koleksi saja. Ini juga untuk menciptakan ruangan yang rapi dan bersih. Menurut Lasa (2007) ini sesuai dengan prinsip keenam penataan ruangan perpustakaan, yaitu bagian yang menangani pekerjaan yang bersifat berantakan seperti pengolahan, pengetikan atau penjilidan hendaknya ditempatkan di tempat yang tidak tampak oleh khalayak umum agar pemustaka tidak terganggu oleh suasana yang berantakan. Hal ini dikarenakan pada ruangan pengadaan dan pengelolaan koleksi biasanya terdapat kegiatan manajemen koleksi, yaitu pengorganisasian dan pembinaan yang mencakup prinsip-prinsip pengembangan koleksi, pemenuhan kebutuhan-kebutuhan para pemustaka sebagai tujuan utama, mengusahakan cara alternatif memperoleh dokumen dan informasi guna melengkapi koleksi yang telah ada (Prytherch dalam Syam, Indah & Ismail, 2020). Dalam menciptakan komunikasi yang baik antar petugas perpustakaan maka letak tempat duduk petugas perpustakaan dibelakang meja sirkulasi, sehingga memudahkan dalam koordinasi dan menyelesaikan tugas. Selain itu, ini juga bertujuan untuk mempermudah komunikasi dengan pemustaka ketika membutuhkan bantuan sehingga mudah dicari. Petugas perpustakaan juga secara aktif membangun komunikasi dengan pemustaka dalam bentuk pengarahan atau pemberian informasi sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Keberadaan bilik-bilik khusus untuk ruang diskusi juga bisa digunakan oleh pustakawan untuk saling berdiskusi dan berkoordinasi. Hal ini menurut Lasa (2007), Ruang Baca Dewasa sudah memenuhi prinsip ketujuh penataan ruang perpustakaan, yaitu ruangan yang tersedia harus mampu menciptakan komunikasi yang lancar antarpetugas perpustakaan.

Conclusion

Ruang Baca Dewasa yang berada di Perpustakaan Umum DISPUSIPDA (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat) bisa dikatakan sudah ergonomis. Hal dikarenakan penataan ruangan yang ada sudah memebuhi 10 (sepuluh) prinsip penataan ruang perpustakaan, yaitu ruangan yang meningkatkan konsentrasi, lokasi yang strategis, memudahkan pekerjaan pustakawan, susunan perabot yang lurus, adanya jarak antar perabot, ruangan yang saling berdekatan, ruang pengadaan yang terpisah, ruang pustakawan dalam satu ruangan, ukuran perabot yang sesuai kebutuhan dan adanya lorong yang memudahkan dalam beraktivitas. Selain itu, adanya kualitas peralatan/ perabot yang memadai, koleksi buku yang lengkap, dan ruang-ruang diskusi yang bisa dimanfaatkan oleh pemustaka semakin menambah kenyamanan. Dengan demikian, tata letak perabot di Ruang Baca Dewasa Perpustakaan Umum DISPUSIPDA (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat) sudah sesuai kebutuhan pemustaka dan pustakawan terutama dalam mendukung aktivitasnya. Saran yang diberikan sebaiknya Perpustakaan Umum DISPUSIPDA (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat) dapat mempertahankan penataan perabotan dan fasilitas yang tersedia. Selain itu, perlu ditambahkan fasilitas OPAC untuk mengantisipasi antrian pengguna dan menambah kenyamanan pemustaka.