Integrasi Tradisi Literasi Keagamaan (Yasinan) Dalam Terciptanya Budaya Kerukunan Masyarakat
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Abstrak
Yasinan merupakan sebuah tradisi Islam di Nusantara merupakan usaha memperkenalkan budaya Islam (Islam dan budaya) yang khas ada di Indonesia. Yasinan juga sebagai literasi keagamaan yang meningkatkan pengetahuan ummat muslim mengenai kitab suciny a al - qur’an dengan membacanya dan menulisnya. Ummat Islam selalu diingatkan akan pentingnya sebuah literasi diberbagai surat diantaranya surat al - alaq ayat 1 - 3 dan surat al - isra’ ayat 14. Tradisi ini menjadi media penyejahtera masyarakat dan sebagai sarana bersedekah. Tradisi ini juga sebagai sarana berkumpul antar anggota masyarakat sehingga seluruh informasi terhadap lingkungan setempat disampaikan oleh ketua RT setelah rangkaian yasinan dilaksanakan. Selain itu , Yasinan juga dapat dipandang sebagai perekat hubungan sosial warga, ketika mengikuti acara Yasinan , maka warga yang kemarin tidak kenal satu sama lain akan menjadi kenal. Acara Yasinan dapat mempererat tali silaturahmi antar sesama warga, terutama tetangga dan masyarakat sekitar. Disamping itu juga dengan keikutsertaan warga mengikuti acara Yasinan dapat menumbuhkan rasa empati dan simpati masyarakat untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang mengadakan acara Yasinan. Dalam persiapannya menyajikan makanan, para kaum perempuan dan laki - laki saling gotong - royong untuk membuatkan masakan yang telah dibiayai oleh tuan rumah yang memiliki hajat. Oleh karena itu, melalui Yasinan terbentuk sebuah literasi keagamaan yang memperkenalkan budaya Islam (Islam dan budaya) yang khas ada di Indonesia. © 2022 NJILS. All rights reserved.
Abstract
Yasinan is an Islamic tradition in the archipelago which is an attempt to introduce Islamic culture (Islam and culture) that is unique to Indonesia. Yasinan is also a religious literacy that increases the knowledge of Muslims about the holy book al - Qur'an by reading it and writing it. Muslims are always reminded of the importance of literacy in various letters including Surah Al - Alaq verses 1 - 3 and Surah Al - Isra ' verse 14. This tradition is a medium for the welfare of the community and as a means of giving charity . This tradition is also a means of gathering among community members so that all information about the local environment is conveyed by the head of the RT after the yasinan series is carried out. In addition, Yasinan can also be seen as the glue of social relations between residents, when participating in the Yasinan event, residents who did not know each other yesterday will become acquainted. The Yasinan event can strengthen the relationship between fellow residents, especially neighbors and the surrounding community. In addition, the participation of residents in participating in the Yasinan event can foster a sense of empathy and sympathy for the community to share what is felt by the people who hold the Yasinan event. In preparation for serving food, the women and men work together to make dishes that have been financed by the host who has an intention. Therefore, through Yasinan formed a religious literacy that introduces Islamic culture (Islam and culture) that is unique to Indonesia .
Keywords:
literasi keagamaan
· budaya kerukunan
· era globalisasi
Introduction
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi banyak memberikan sebuah perubahan pada masyarakat, beberapa aspek kearifan lokal tak lepas dari pengaruh akan sebuah teknologi. Sebagai masyarakat sosial kita harus mempertahankan sebuah tradisi yang telah berlangsung dari orang - orang terdahulu . Kehidupan sosial masyarakat bergerak mengikuti sebuah perubahan zaman. Kemajuan teknologi saat ini menunjukkan bahwa kearifan sosial masyarakat sudah sedikit demi sedikit bergeser, masyarakat di era globalisasi saat ini cenderung menjadi acuh tak acuh terhadap kelilingnya dan tetangganya, mementingkan kepentingan pribadinya, sedikit memiliki rasa empati dan simpati kepada orang lain dan tolong menolong sesama masyarakat sudah sedikit demi sedikit berkurang. Kebudayaan atau tradisi merupakan sebuah alat untuk mengingkat masyakarat untuk kembali ke fitrahnya, kembali ke jiwa kemanusiaan yang dimiliki oleh tiap - tiap individu masyarakat sosial. Tradisi atau kebudayaan merupakan sebuah kegiatan yang memerlukan kebersamaan, kepedulian, kasih sayang dan tolong menolong sehingga terciptanya sebuah kehidupan bermasyarakat sosial baik dalam bentuk aspek tingkah laku, pola hidup, perekonomian, pertanian, system kekerabatan, stratifikasi sosial, religi, mitos dan sebagainya. Dalam KBBI tradisi bermakna sebuah kebiasaan yang diturunkan dari nenek moyang yang dijalankan oleh masyarakat. Sejalan dengan makna tradisi di atas, budaya yang telah dilakukan secara terus - menerus termasuk tradisi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa acara yasinan yang dilakukan oleh masyarakat Muslim Indonesia termasuk tradisi karena acara tersebut telah dilakukan dari zaman dahulu sampai sekarang. Nilai budaya, terdiri dari konsep - konsep yang hidup dalam alam pikiran masyarakat. Hal ini karena nilai - nilai budaya biasanya sebagai pedoman tertinggi bagi manusia, wujud idealnya berupa falsafah hidup, adat - istiadat, yang mengandung unsur - unsur dakwah, keagamaan, dan lain sebagainya (Rodin, 2013). Tradisi pembacaan surat yasin atau yasinan merupakan tradisi lama yang masih dipegang oleh kalangan masyarakat hingga saat ini. Yasinan merupakan salah satu bentuk literasi yang dilakukan oleh para ulama untuk menyampaikan informasi islam dengan jalan mengajak masyarakat untuk mendekatkan diri pada ajaran Islam melalui cinta membaca Al Qur’an, salah satunya dengam membaca Surat Yasin sehingga disebut sebagai Yasinan. Disini peneliti mencoba mengetahui seberapa besar integritas tradisi literasi keagamaan (yasinan) dalam terciptanya budaya kerukunan di masyarakat di era globalisasi. Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan sebuah kerukunan, kebersamaan dan kesatuan di masyarakat melalui sebuah tradisi yasinan . B. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian terkait Literasi agama dilakukan oleh Nurpratiwi (2019) tentang urgensi literasi agama di media sosial yang menyimpulkan ada tiga bentuk literasi , yaitu: pertama, banyaknya informasi bohong atau palsu yang terjadi di masyarakat ( hoax ). Kedua, media sosial menjadi sumber primer yang digunakan sebagai referensi informasi tentang agama. Ketiga, hilangnya sikap kritis dan tabayun karena terlalu mencintai atau membenci suatu kelompok atau orang tertentu. Keempat, terdapat kelompok yang menganggap bahwa agama perlu hadir dalam perpolitikan dan menjadi dasar negara . Adapun perbedaan penelitian literasi ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada budaya yasinan dalam membentuk masyarakat yang rukun. Tradisi yasinan menurut Maniri (2020), diharapkan menjadi wadah alternatif interaksi sosial guna menciptakan masyarakat yang damai dan penuh akan kerukunan sekaligus menjadi sarana saling berbagi dan yasinan menjadi bentuk tradisi keislaman di lingkungan masyarakat yang eksis hingga sekarang. Terdapat dua temuan: pertama, sebagai tradisi keagamaan yang mengajarkan ketentraman antar anggota masyarakat sekaligus sebagai sarana bersedekah. Kedua, sebagai semangat keislaman masyarakat yang di dalamnya membaca ayat - ayat suci Al - Qur’an, tahlil dan istighosah. Perbedaan dengan penelitian ini adalah pada Literasi Keagamaan (yasinan) yang membentuk kerukunan masyarakat
Method
Adapun jenis penelitian ini peneliti menggunakan deskriptif yang berfokus pada metode library research . Deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterprestasikan objek apa adanya dan penelitian ini non - eksperimen karena peneliti tidak melakukan control dan tidak memanipulasi variable penelitian ( Sangadji, 2010). Penelitian library research / kepustakaan merupakan penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, jurnal maupun laporan penelitian dari peneliti terdahulu ( Sangadji, 2010).
Result & Discussion
Tradisi Islam di Nusantara merupakan usaha memperkenalkan budaya Islam (Islam dan budaya) yang khas ada di Indonesia kepada Masyarakat umum, termasuk masyarakat luar negeri, yang sebagian besarnya melalui pariwisata, selain diharapkan mempunyai dampak peningkatan kultural Islam, juga menumbuhkan pengakuan dan penerimaan umum pada taraf internasional, khususnya taraf dunia Islam sendiri, bahwa suatu bentuk budaya Islam di negeri Indonesia ini adalah sepenuhnya absah, dan tidak dapat dipandang sebagai “kurang Islami” dibanding dengan budaya Islam ditempat - tempat lain (Madjid, 2010 ). Sedangkan menurut KBBI tradisi bermakna sebuah kebiasaan yang diturunkan dari nenek moyang yang dijalankan oleh masyarakat. Menurut Bilfagih (2016), tradisi Islam Nusantara dan NU sebagai penyeimbang dan memproses pembentukan identitas keagamaan masyarakat Nusantara dapat di jadikan contoh sebuah proses pergulatan antara agama Islam dengan tradisi yang telah dilakoni sejak dahulu kala. Penerimaan terhadap pengaruh Islam tentu tidak terjadi secara serta - merta begitu saja, namun melalui proses negosiasi yang terus menerus bergulir. Ketika masyarkat Nusantara telah menerima ajaran Islam, mereka mengintegrasikannya dan memadukannya dengan tradisi mereka. Persamaan anatara artikel ini dengan penulis adalah sama - sama membahas tentang Islam Nusantara, perpaduan antara tradisi nenek moyang dengan tradisi keislaman dan perbedaannya; terletak pada penelitian penulis nantinya akan mengkaji Tradisi Islam di Nusantara sesuai pandangan Mufasir Nusantara, artikel ini sangat membantu penulis untuk melengkapi kekurangan ataupun pemahaman mengenai tradisi Islam di Nusantara . Tradisi Yasinan sebagai suatu proses ritual keagamaan adalah bagian tradisi yang dipandang sebagai kehendak untuk memperoleh berkah, restu, dan pengharapan tentang sesuatu kondisi yang lebih baik. Pada awalnya Yasinan merupakan bagian dari tradisi slametan. Slametan terbagi dalam empat jenis (Mulyono, 2009), yaitu , pertama, berkisar sekitar krisis - krisis kehidupan (kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian) . Kedua, berhubungan dengan hari raya Islam (maulid Nabi, Idul Fitri, Idul Adha) . Ketiga, berhubungan dengan integrasi sosial desa, misalnya bersih desa (pernbersihan desa dari roh jahat). Keempat, Slametan sela yang diselenggarakan dalam waktu yang tidak tetap, tergantung kejadian luar biasa yang dialami seseorang (keberangkatan untuk suatu perjalanan jauh, pindah tempat, ganti nama, sakit, tertena tenung). Adapun dari teori diatas tradisi merupakan sebuah kegiatan atau kebiasaan yang telah berlangsung selama bertahun - tahun yang lalu dengan menjadi sebuah kegiatan yang rutin yang bertujuan untuk menciptakan sebuah kerukunan dan keharmonisan di lingkungan bermasyarakat. Indonesia sendiri kaya akan sebuah tradisi khususnya tradisi yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan seperti, tradisi yasinan (Islam Nusantara), tradisi tiwah (Kal - teng), tradisi kebo - keboan (Banyuwangi), tradisi adu betis (Sul - Sel), Pemakaman Suku Minahasa (Sul - Ut), Dugderan (Semarang), Batombe (Sum - Bar), dan Brobosan (Jawa). Semua tradisi ini bertujuan yaitu menciptakan rasa kerukunan dan bergotong royong antar sesama. Makna literasi menurut Hermawan (2017), tidak terbatas pada kemampuan membaca dan menulis. Saat ini berkembang beberapa istilah seperti: literasi visual, literasi komputer, literasi digital, literasi informasi dan lain - lain. Ada juga istilah literasi media yang mencakup semua kemampuan yang meliputi literasi visual, literasi informasi, literasi komputer, literasi Al Qur’an, literasi bacaan dan sebagainya. Literasi adalah kemampuan berbahasa seseorang (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) untuk berkomunikasi dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya. Teale & Sulzby dalam Esti & Pujiono (2017), mengartikan literasi secara sempit, yaitu literasi sebagai kemampuan membaca dan menulis. Hal ini sejalan dengan pendapat Grabe , Kaplan , & Graff dalam Esti & Pujiono (2017), yang mengartikan literasi sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis ( able to read and write ). Kemampuan membaca dan menulis sangat diperlukan untuk membangun sikap kritis dan kreatif terhadap berbagai fenomena kehidupan yang mampu menumbuhkan kehalusan budi, kesetiakawanan dan sebagai bentuk upaya melestarikan budaya bangsa. Sikap kritis dan kreatif terhadap berbagai fenomena kehidupan dengan sendirinya menuntut kecakapan personal ( personal skill ) yang berfokus pada kecakapan berpikir rasional. Kecakapan berpikir rasional mengedepankan kecakapan menggali informasi dan menemukan informasi . Menurut More (2007) mendefinisikan literasi agama sebagai kemampuan untuk melihat dan menganalisis titik temu antara agama dan kehidupan sosial, politik, dan budaya dari beragam sudut pandang. Orang yang melek agama akan memiliki pemahaman dasar mengenai sejarah, teks - teks sentral, kepercayaan serta praktik tradisi keagamaan yang lahir dalam konteks sosial, historis, dan budaya tertentu. Kenneth Primrose, ketua studi agama, moral dan filosofis pada Robert Gordon's College di Skotlandia menekankan pentingnya peningkatan literasi agama agar masyarakat belajar hidup bersama satu sama lain . Menurut Nurzakiyah (2018) mengatakan literasi agama ini digunakan sebagai upaya dalam pendidikan moral, dengan cara membaca atau mempelajari sumber ilmu yang terkait dengan keagamaan (termasuk didalamnya berkaitan dengan moral, akhlak, dan budi pekerti), baik dalam bentuk cetak, visual, digital dan auditori, yang kemudian peserta didik pahami, kritisi dengan melihat realita yang terjadi dalam lingkungan dan bereskperimen, berdialog dengan dirinya atau merenungkan ajaran moral yang telah diterimanya, sehingga mereka menemukan apa yang dikehendaki dan tidak bertentangan dengan nilai - nilai substansial . Berdasarkan pengertian literasi diatas maka dapat disimpulkan bahwa literasi memiliki bermakna yaitu membaca, membaca kita sebagai umat muslim sudah diingatkan di dalam kitab suci kita yaitu di al - qur’an dalam surah al - alaq di ayat pertama yaitu Iqra’ yaitu bacalah. Selain di ayat tsb terdapat juga ayat yang meminta kita umat islam untuk membaca yaitu disurat al - isra’ ayat 14 yang artinya” Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu ”. Allah memperintahkan kita di dalam ayatnya untuk membaca (iqra’) atau beliterasi, literasi dapat dimaknai dengan sebuah aktifitas yang dilakukan oleh otak atau pikiran dalam diimpementasikan dengan sebuah kegiatan yaitu membaca dan menulis. Yasinan menurut Muhtadin (2018), merupakan kegiatan membaca surah yasin secara bersama - sama untuk mendoakan seseorang meninggal dunia, memohon keselamatan atau meohon keberkahan yang bertujuan untuk mendo'akan dan mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah SWT. Yasinan dan Tahlilan bacaan yang dibacakan adalah yang pertama diawali dengan bacaan surat yasin kemudian dilanjutkan dengan surat Al Fatihah, surat lkhlas, dan surat Al Falaq dan An Naas. Permulaan dan akhiran surat Al Baqarah, ayat kursi, istighfar, tahlil, dan tasbih. Adapun prosesi tradisi Yasinan menurut Zainuddin (2019), yaitu dengan membaca Surat Yasin dilanjutkan dengan membaca Al - Baqarah ayat 255 ( Ayat Kursi) , Ali Imran ayat 9, Shalawat dan do’a - do’a. Tidak ada metode pembacaan tertentu dalam membacanya. Pola pembacaan yang dipakai adalah dibaca secara cepat dan sendiri - sendiri tanpa dikeraskan tapi tetap dalam panduan ketua ataupun sesepuh. Setelah selesai pembacaan rangkaian surat, ayat, dan do’a dalam Yasinan tersebut, ada do’a yang dibaca secara bersama - sama, yang intinya meminta perlindungan dari godaan jin dan setan. Menurut Hayat (2014), tradisi Yasinan juga dapat dipandang sebagai perekat hubungan sosial warga, ketika mengikuti acara Yasinan maka warga yang kemarin tidak kenal satu sama lain akan menjadi kenal. Acara Yasinan dapat mempererat tali silaturahmi antar sesama warga, terutama tetangga dan masyarakat sekitar. Di samping itu juga dengan keikutsertaan warga mengikuti acara Yasinan dapat menumbuhkan rasa empati dan simpati masyarakat untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang mengadakan acara Yasinan. Dalam persiapannya menyajikan makanan, para kaum perempuan dan laki - laki saling gotong - royong untuk membuatkan masakan yang telah dibiayai oleh tuan rumah yang memiliki hajat. Oleh karena itu, acara Yasinan sangat berpengaruh terhadap solidaritas warga masyarakat, karena saling membantu satu sama lain. Menurut Muniri (2020), Yasinan menjadi media penyejahtera masyarakat dan sebagai sarana bersedekah. Tradisi ini sebagai sarana berkumpul antar anggota masyarakat sehingga seluruh informasi terhadap lingkungan setempat disampaikan oleh ketua RT setelah rangkaian yasinan dilaksanakan. Seluruh ritual keagamaan yang berbentuk slametan selalu diidentikkan dengan yasinan. Sehingga stigma yang ada dimasyarakat bahwa rangkaian slametan diyakini sebagai yasinan. Tradisi ini dilaksanakan seminggu sekali dan sebulan sekali. Masyarakat memandang yasinan sebagai sarana paling efektif utuk melakukan kirim doa kepada arwah leluhur . Yasinan merupakan salah satu tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi tradisi ini terus dibangun atas dasar keikhlasan, keukhuwahan dan pengembangan mental dan karakter di dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks . Hal ini menunjukkan perlunya kegiatan literasi termasuk literasi keagamaan yang dapat menumbuhkan budi pekerti luhur pada pelaksananya (Khoeriyah, Indah, & Syam, 2021).
Conclusion
Integritas tradisi literasi keagamaan (yasinan) dalam terciptanya budaya kerukunan masyarakat di era globalisasi, yaitu yasinan merupakan sebuah usaha memperkenalkan budaya Islam (Islam dan budaya) yang khas ada di Indonesia. Budaya tradisi Yasinan juga sebagai literasi keagamaan yang meningkatkan pengetahuan ummat muslim mengenai kitab sucinya Al Qur’an dan menjadi media penyejahtera masyarakat dan sebagai sarana bersedekah. Tradisi ini juga sebagai sarana berkumpul antar anggota masyarakat sehingga seluruh informasi terhadap lingkungan setempat disampaikan oleh ketua RT / RW. Selain itu , integritas yasinan juga dapat dipandang sebagai perekat hubungan sosial warga, tanpa mengenai background latar belakang pendidikan dan jabatan. Hal ini dikarenakan ketika mengikuti acara yasinan , maka warga yang tidak kenal satu sama lain akan menjadi kenal. Acara yasinan dapat mempererat tali silaturahmi antar sesama warga, terutama tetangga dan masyarakat sekitar. Di samping itu juga dengan keikutsertaan warga mengikuti acara Yasinan dapat menumbuhkan rasa empati, simpati dan gotong royong dalam jiwa masyarakat.