Tradisi Wilujengan atau Selametan dalam Preservasi di Rekso Pustoko Mangkunegara Surakarta
Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta
Abstrak
Wilujengan atau selametan merupakan suatu tradisi yang sering diselenggakan oleh orang Jawa. Salah satu yang melakukan tradisi wilujengan yaitu Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran yang terletak Solo Jawa Tengah. Adapun dalam manajemen perpustakaannya, salah satunya terdapat kegiatan preservasi yaitu fumigasi. Uniknya dalam kegiatan fumigasi yang dilakukan di Perpustakaan Rekso Pustoko terdapat satu tradisi khusus yaitu wilujengan atau selametan. Penelitian ingin mengetahui tujuan dan proses dari tradisi wilujengan atau selametan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Wawancara dilakukan ke pustakawan dan staff yang bekerja. Hasil penelitian didapatkan bahwa, pertama, wilujengan atau selametan dilakukan untuk memohon keselamatan dan kelancaran dalam proses fumigasi. Kedua, wilujengan atau selametan dilakukan guna memohon berkah dari Tuhan yang Maha Esa. Ketiga, wilujengan atau selametan merupakan tradisi rutin yang mana Rekso Pustoko di bawah naungan Praja Mangkunegaran masih menjunjung adat budaya Jawa salah satunya tradisi wilujengan atau selametan.
Abstract
Wilujengan or selametan is a tradition that is often held by the Javanese. One that carries out the wilujengan tradition is the Rekso Pustoko Mangkunegaran Library, which is located in Solo, Central Java. As for the management of the library, one of which is the preservation activity, namely fumigation. Uniquely, in the fumigation activities carried out at the Rekso Pustoko Library, there is a special tradition, namely wilujengan or selametan. The research wants to know the purpose and process of the wilujengan or slametan tradition. This research is a qualitative research. Interviews were conducted with librarians and working staff. The results of the study found that, first, wilujengan or salametan is carried out to ask for safety and smoothness in the fumigation process. Second, wilujengan or salvation is performed to ask for blessings from God Almighty. Third, wilujengan or salametan is a routine tradition in which Rekso Pustoko under the auspices of Praja Mangkunegaran still upholds Javanese cultural customs, one of which is the wilujengan or salametan tradition.
Keywords:
wilujengan
· selametan
· preservasi
· Perpustakaan Rekso Pustoko
Introduction
Tradisi wilujengan merupakan suatu tradisi rutin yang dilakukan oleh Perpustakaan Rekso Pustoko dalam kegiatan manajemen perpustakaan. Wilujengan berasal dari bahasa Jawa dari kata dasar wilujeng yang artinya dalam keadaan baik atau selamat. Wilujengan sering disebut dengan selamatan. Selamat yang dimaksud adalah semua proses kegiatan yang berlangsung dalam keadaan baik, sempurna, dan tidak kurang suatu apapun. Wilujengan sering diselenggarakan dalam berbagai bentuk kegiatan yang akhirnya menjadi tradisi. Tradisi wilujengan menjadi tradisi rutin yang diselenggarakan di Praja Mangkunegaran tidak terkecuali Perpustakaan Rekso Pustoko. Perpustakaan Rekso Pustoko merupakan salah satu perpustakaan khusus yang mempunyai koleksi utama yaitu naskah-naskah Jawa yang berusia ratusan tahun. Masih berkaitan erat dengan tradisi Jawa yang kental, dalam praktiknya tradisi wilujengan menjadi suatu tradisi yang dilestarikan dalam menajemen perpustakaannya. Kegiatan manajemen perpustakaan salah satunya adalah preservasi. Preservasi merupakan sutau proses pelestarian bahan pustaka agar terhindar dari berbagi kerusakan yang mengancam diakibatkan oleh berbagi faktor. Menurut Rachman (2017) pelestarian adalah salah satu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam ruang lingkup manajemen perpustakaan. Istilah pelestarian berasal dari bahasa Sansekerta, lestari yang berarti terpelihara. Pelestarian dalam bahasa Inggris disebut dengan preservation yang memiliki kata dasar preserve. Istilah preserve bersumber dari bahasa Latin, prae dan servare. Prae berarti sebelum, dan servare berarti to save, untuk menyelamatkan. Kedua diksi tersebut apabila digabungkan, istilah preserve dapat dimaknai sebagai upaya untuk menjaga dari kerusakan. Salah satu upaya preservasi dilakukan oleh Perpustakaan Rekso Pustoko yaitu dengan preventive conservation atau konservasi preventif. Konservasi preventif adalah tindakan secara langsung maupun tidak langsung dengan mengoptimalkan kondisi lingkungan pelestarian dan akses bahan pustaka, sebagai upaya untuk memperpanjang usia bahan pustaka. Teygeler (2001: 34) dalam Marintan (2015) menyebutkan bahwa kegiatan preventive conservation merupakan kegiatan pencegahan yang dimulai dengan pembuatan kebijakan yang mengatur mengenai pelatihan, membangun pemahaman, serta profesionalisme yang diperuntukkan bagi semua staf perpustakaan yang terlibat dalam kegiatan preservasi sebagai upaya pencegahan kerusakan terhadap koleksi. Kegiatan preventif conservation ini juga dilakukan di Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran salah satunya dengan fumigasi. Perpustakaan Rekso Pustoko secara rutin melakukan kegiatan fumigasi yaitu setahun sekali. Terdapat satu tradisi yang unik yang dilakukan secara rutin sebelum proses fumigasi. Tradisi tersebut yaitu wilujengan atau selamatan. Penelitian terdahulu berkaitan dengan preservasi pernah dilakukan oleh Mega Alif Marintan (2015) dengan judul “Preservasi Koleksi Foto di Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran Surakarta”. Hasil tulisannya membahas proses preservasi koleksi foto yang dilakukan. Sedangkan penelitian untuk bagian wilujengan atau selametan dalam tindakan preservasi belum pernah dilakukan, sehingga tujuan dalam tulisan ini yaitu untuk mengetahui tujuan dan proses dari tradisi wilujengan di Perpustakaan Rekso Pustaka. Tradisi ini merupakan hal yang unik dan tidak semua perpustakaan atau lembaga informasi lainnya melakukannya. B. TINJAUAN PUSTAKA Penelitain terdahulu dengan lokus yang sama pernah dilakukan di Perpustakaan Rekso Pustoko, hanya fokus penelitainnya saja yang berbeda. Mega Alif Marintan (2015) pernah melakukan penelitian dengan judul “Preservasi Koleksi Foto di Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran Surakarta”. Hasil tulisannya membahas proses preservasi koleksi foto yang dilakukan. Hal yang menjadi pembeda dan unik adalah dalam keseluruhan proses preservasi terdapat satu tradisi wilujengan atau selametan yang dilakukan sebelum fumigasi. Tradisi ini belum ditemukan dibahas secara khusus dalam tulisan atau penelitian lain. Wilujengan disebut juga dengan selamatan atau slametan. Menurut Geertz (2017), menyebutkan slametan adalah versi Jawa dari apa yang barangkali merupakan upacara keagamaan paling umum di dunia, pesta komunal. Slametan melambangkan kesatuan mistik dan sosial dari mereka yang ikut serta di dalamnya. Handai taulan, tetangga, rekan kerja, sanak keluarga, arwah setempat, nenek moyang yang sudah mati, serta dewa-dewa yang yang hampir terlupakan, semuanya duduk bersama dan karena itu terikat ke dalam sebuah kelompok sosial tertentu yang berikrar untuk tolong menolong dan bekerjasama. Adapun dalam praktiknya slametan setiap orang diperlakukan sama, hasilnya adalah tidak seorang pun merasa lebih rendah dari yang lain, dan tidak seorang pun punya keinginan untuk mengucilkan diri dari orag lain. Geertz (2017), juga menyebutkan bahwa setelah kita menyelenggarakan slametan, arwah setempat tidak akan mengganggu kita. Mereka tidak akan membuat kita merasa sakit, sedih, atau bingung. Sasaran itu bersifat negatif dan kejiwaan-ketiadaan perasaan agresif terhadap orang lain, ketiadaan kekacauan emosional. Kedaan yang didambakan adalah selamat yang oleh orang Jawa didefinisikan dengan kata kata “gak ana apa-apa” yang artinya “ tidak ada apa-apa” atau lebih tepatnya “tak ada sesuatu yang menimpa seseorang”. Keselamatan inilah yang diharapkan ada pada proses fumigasi yang dilakukan dalam kegiatan preservasi di Perpustakaan Rekso Pustoko. Preservasi sendiri dalam Hartono (2016) menyebutkan menurut The American Institute for Conservation (AIC), preservasi adalah aktivitas memperkecil kerusakan secara fisik dan kimiawi dan mencegah hilangnya kandungan informasi. Tujuan utama preservasi adalah memperpanjang eksistensi benda budaya. Preservasi menurut Reitz dalam Setyaningsih & Ganggi (2019), presevasi adalah: “Kegiatan memperpanjang keberadaan bahan perpustakaan dan arsip dengan mempertahankannya dalam kondisi yang sesuai untuk digunakan, baik dalam bentuk aslinya atau dalam bentuk lainnya, melalui penyimpanan pada kondisi lingkungan yang tepat dan tindakan yang sesuai pada koleksi yang telah mengalami kerusakan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.” Salah satu komponen dalam presservasi yaitu konservasi preventif yaitu suatu tindakan dengan mengoptimalkan kondisi lingkungan untuk memperpanjang umur koleksi. Adapun salah satu kegiatan yang ada dalam konservasi preventif adalah fumigasi. Fumigasi menurut Rachman dalam Bapusip Bali (2012), yaitu suatu metode pengasapan pada ruangan khusus (fumigation chamber) dan ruangan koleksi perpustakaan yang telah ditutup kantung-kantung khusus dan diberikan zat fumigant. Zat fumigant yang lazim dipakai adalah zat metelbromide (Ch3Br) cair dan tablet Ph 3 fosfin. Fakor-faktor penyebab kerusakan koleksi perpustakaan menurut Martoatmodjo dalam Dewi, Syam & Indah (2020), yaitu meliputi faktor biologi, faktor fisika, faktor kimia, dan faktor lain-lain. Faktor biologi, yaitu serangga (rayap, kecoa, kutu buku), binatang pengerat, jamur. Serangga yang dapat merusak bahan pustaka adalah kecoa, silverfish, book lice, book worm dan rayap. Serangga ini biasanya terdapat pada tempat-tempat yang hangat, gelap dan lembab. Faktor fisika, yaitu cahaya, udara atau debu. Faktor kimia, yaitu zat-zat kimia, keasaman, oksidasi. Adapun faktor lainnya, yaitu banjir, gempa bumi, api, manusia. Adapun tujuan pelestarian bahan pustaka adalah untuk menyelamatkan nilai informasi dokumen, menyelamatkan fisik dokumen, mengatasi kendala kekurangan ruang, dan mempercepat perolehan informasi (Martoatmodjo dalam Asaniyah, 2019).
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan bentuk pendekatan deskriptif. Penelitian deskriptif menurut Nazir (2014) yaitu penelitian yang mempelajari tentang masalah dalam masyarakat serta cara yang berlaku dalam masyarakat dan situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan, sikap, pandangan, serta proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Tujuan penelitian deskriptif yaitu membuat deskripsi secara sistematis, factual, dan akurat mengenai fakta, sifat, serta hubungan antar fenomenan yang dianalisis. Penelitian ini dilakukan di Perpustakaan Rekso Pustaka, Mangkunegara, Surakarta. Awal penelitian ini dilakukan di 2015 dan dilanjutkan di Oktober 2022. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah tiga orang yaitu seorang pustakawan dan dua staf yang bekerja disana. Analisis data melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Result & Discussion
Wilujengan atau Selametan merupakan Tradisi Rutin Rekso Pustoko Perpustakaan Rekso Pustoko merupakan perpustakaan khusus di bawah naungan Praja Mangkunegaran Surakarta. Perpustakaan ini berusia lebih dari satu abad yang mana merupakan salah satu perpustakaan tertua di Indonesia. Koleksinya banyak koleksi naskah kuno yang berusia tua dan syarat akan nilai historis yang harus dilestarikan. Hal ini sejalan dengan ALA (1992) yang menyebutkan salah satu tanggung jawab perpustakaan adalah melakukan preservasi, konservasi, dan restorasi terhadap konten informasi yang berisi sejarah lokal. Konten informasi yang bernilai sejarah biasanya telah berusia tua, sehingga mudah rapuh dan rawan terhadap kerusakan. Hal ini yang terus diperhatikan preservasinya oleh Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegara Surakarta. Sebagai suatu kerajaan Mataram Islam yang besar di Jawa, Praja Mangkunegaran tidak terlepas dari tradisi serta adat istiadat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal. Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai suatu budaya yang diciptakan oleh masyarakat lokal melalui proses yang berulang-ulang, melalui internalisasi dan interpretasi ajaran agama dan budaya yang disosialisasikan dalam bentuk norma-norma dan dijadikan pedoman dalam kehidpan sehari-hari bagi masyarakat tersebut. Wilujengan atau selametan merupakan suatu tradisi yang dilakukan oleh Praja Mangkuengaran dalam berbagai kegiatan salah satunya adalah kegiatan fumigasi. Fumigasi adalah salah satu cara melestarikan bahan pustaka dengan cara mengasapi bahan pustaka agar jamur tidak tumbuh, binatang mati dan perusak bahan pustaka lainnya terbunuh (Martoatmojo dalam Noviyanti, 2019). Tujuan fumigasi yaitu untuk menghindari kerusakan bahan pustaka akibat biota. Koleksi di Perpustakaan Rekso Pustaka pernah ditemukan rusak akibat dimakan oleh rayap, sehingga diperlukan fumigasi. Hal ini diperkuat oleh Hartono (2017) bahwa makhluk seperti jamur, serangga, dan binatang pengerat dapat merusak bahan pustaka. Serangga yang biasa menyerang bahan pustaka adalah kecoa, silverfish, booklice, bookworm, dan rayap. Serangga ini memilih hidup di tempat yang hangat, gelap, dan lembab. Kerusakan yang ditimbulkan biasanya tidak dapat dikembalikan seperti mulanya. Adanya kegiatan fumigasi ini juga bagian dari bentuk pelestarian pengetahuan pada koleksi yang ada di Perpustakaan Rekso Pustaka. Preservasi pengetahuan (knowledge preservation) merupakan sebuah proses di mana retensi selektif akan informasi, dokumen dan pengalaman yang diperlukan oleh sebuah manajemen yang sedang berlangsung (Probst dalam Halimah & Arfa, 2019). Gambar 1. Koleksi Perpustakaan Rekso Pustoko yang rusak akibat dimakan rayap Sumber: Dokumentasi Perpustakaan Rekso Pustoko Fumigasi dilakukan secara rutin yaitu setahun sekali. Fumigasi merupakan suatu kegiatan besar karena membutuhkan biaya tidak sedikit. Fumigasi dilakukan oleh Perpustakaan Rekso Pustoko dan harus mendapatkan izin dari Raja atau Gusti Kanjeng Mangkunegara yang jumeneng atau berkuasa pada saat itu. Salah satu yang menjadi hal unik dalam proses fumigasi ini adalah tradisi wilujengan atau selametan yang jarang ditemui praktiknya di perpustakaan atau lembaga informasi lain. Tradisi wilujengan atau selametan menjadi kearifan lokal dan menjadi adat kebiasaan yang sudah mentradisi dilakukan oleh sekelompok masyarakat secara turun termurun dipertahankan keberadaannya. Sebagai suatu tradisi rutin dan besar, tentunya banyak persiapan yang harus dilakukan pada saat kegiatan tersebut. Tradisi wilujengan atau selametan dilakukan 2 atau 3 hari sebelum kegiatan fumigasi. Acara wilujengan atau selametan dipimpin oleh seorang modin. Modin adalah seseorang yang mempunyai peranan penting dalam hal keagamaan atau kegiatan yang menyangkut kegiatan keagamaan tertentu. Modin untuk acara wilujengan atau selametan merupakan salah seorang abdi dalem dari Praja Mangkunegaran. Abdi dalem adalah pegawai di dalam lingkungan kerajaan dengan tanggung jawab yang berbeda-beda sesuai dengan tugasnya. Adapun untuk modin dalam tradisi wilujengan atau selametan adalah modin yang khusus mempunyai tugas untuk setiap kegiatan yang berhubungan dengan wilujengan di lingkungan Praja Mangkunegaran. Praktik tradisi wilujengan tidak hanya sebelum fumigasi saja, namun banyak kegiatan besar lainnya yang menjadi tradisi dan dilakukan wilujengan terlebih dahulu. Wilujengan atau Selametan untuk Memohon Kelancaran Proses Fumigasi Tradisi wilujengan atau selametan dilakukan dengan tujuan memohon kelancaran agar kegiatan fumigasi berjalan dengan baik. Kelancaran yang dimaksud yaitu dalam bentuk kelancaran dalam prosesi baik sebelum dan sesudahnya. Menurut Rachman (2017) kepercayaan dalam bentuk pemahaman filosofi tradisional Jawa yang tumbuh mempengaruhi praktik preservasi dan dan konservasi di Rekso Pustoko. Adapun dalam wawancarad dengan seorang informan menyampaikan bahwa setiap tempat ada penunggunya dan harus meminta izin terlebih dahulu jika melakukan sesuatu. Istilah lain yang disebutkan yaitu kula nuwun. Adapun dengan meminta izin akan memperlancar kegiatan fumigasi yang dilakukan. Apa yang dikemukakan oleh pustakawan sejalan dengan yang dismapaikan oleh Geertz (2017) yang menyebutkan bahwa setelah kita menyelenggarakan selametan arwah setempat tidak akan mengganggu kita. Mereka tidak akan membuat kita merasa sakit, sedih, atau bingung. Jika dikaitkan dengan tujuan praktik wilujengan di Perpustakaan Rekso Pustoko hal ini sejalan yaitu agar acara berjalan dengan lancar. Fumigasi dalam praktiknya juga dilakukan oleh pihak ketiga dari luar yang khusus menangani fumigasi. Proses fumigasi berlangsung selama kurang lebih satu minggu atau 7-8 hari. Pada saat itu layanan perpustakaan ditutup untuk umum. Layanan yang tutup bertujuan untuk menjaga keamanan bagi para pustakawan dan pengguna karena zat fumigant yang disemprotkan tidak baik untuk kesehatan. Sebelum penyemprotan keseluruhan ruangan koleksi perpustakaan ditutup dengan kantung khusus. Mengingat zat fumigant bukan suatu yang aman, maka ditinjau dari tujuannya sesuai bahwa fumigasi dilakukan untuk kelancaran agar semua orang yang terlibat di dalamnya dapat bekerja dengan baik, tidak sakit, dan sehat sampai selesai. Wilujengan atau Selametan guna Memohon Berkah Tuhan Tujuan dilakukan tradisi wilujengan atau selametan yaitu memohon berkah Tuhan. Filosofi ini terlihat dari makanan yang disajikan. Adapun makanan yang disajikan dalam tradisi ini yaitu: ayam ingkung, jajan pasar, nasi gurih, ketan, kolak, apem, dan nasi asahan. Pemilihan menu makanan tersebut masing-masing mempunyai makna filosofi sendiri. Penelitian lanjutan dibutuhkan untuk melihat makna filosofi jenis makanan yang dihidangkan dalam acara wilujengan atau selametan di Perpustakaan Rekso Pustaka. Contoh salah satunya adalah ayam ingkung yang menurut Achroni (2017) bermakna inggalo jungkung atau segeralah bersujud. Hal tersebut mempunyai makna bahwa sebagai manusia harus selalu mengingat Tuhan. Makna ini sejalan dengan tradisi wilujengan yaitu dengan berdoa sebelum melakukan sesuatu dengan tujuan memohon kelancaran dan keberkahan. Makanan yang disajikan untuk acara wilujengan dimasak oleh abdi dalem yang bertugas khusus memasak di lingkungan Praja Mangkunegaran. Makanan tersebut di masak di Kogen atau dapurnya Praja Mangkunegaran. Abdi dalem yang bertugas memasak paham betul akan setiap menu yang disajikan sesuai dengan tradisi wilujengan yang dilakukan. Berikut adalah contoh gambaran makanan yang disajikan dalam acara wilujengan atau selametan: Gambar 2. Pisang Ayu dan Sirih Ayu Sumber: Dokumentasi Pustakawan, 2022 Gambar 3. Kolak dan Apem Sumber: Dokumentasi Pustakawan, 2022 Makanan tersebut kemudian disajikan pada ruangan khusus di Perpustakaan Rekso Pustoko. Saat acara tersebut ada seorang modin yang memimpin. Modin menggunakan pakaian khusus yang sudah ditentukan. Acara wilujengan atau selametan dihadiri oleh semua pustakawan atau staf yang ada di Rekso Pustoko. Petugas fumigasi dari pihak luar juga diundang dan mengikuti acara tersebut. Pengunjung perpustakaan di hari tersebut juga turut serta mengikuti acara ini. Tujuan dari hadirnya keseluruhan pihak baik dari internal dan eksternal Perpustakaan Rekso Pustoko diharapkan agar semua dapat mendoakan bersama agar kegiatan fumigasi diberikan kelancaran. Selesai acara doa bersama, makanan yang sudah dihidangkan tadi akan dimakan bersama. Makanan tersebut akan dibagi sama rata kepada semua orang yang hadir mengikuti acara. Pembagian makanan yang sama sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Geertz (2017), yang menyatakan bahwa, dalam selametan setiap orang diperlakukan sama, hasilnya adalah tidak seorangpun merasa lebih rendah dari yang lain, dan tidak seorang pun punya keinginan untuk mengucilkan diri dari orang lain. Adapun maksud lain dari pembagian makanan yang sama rata tersebut agar semua orang mendapatkan berkah tidak hanya untuk kelancaran fumigasi saja, akan tetapi juga untuk keberkahan diri.
Conclusion
Tradisi wilujengan atau selametan merupakan suatu bentuk kearifan lokal yang dilakukan oleh Perpustakaan Rekso Pustoko. Adapun dalam praktiknya ini merupakan hal yang unik yang jarang ditemui di Perpustakaan atau lembaga informasi lainnya. Tujuan dari diadakannya wilujengan yaitu memohon keselamatan dan keberkahan. Selain itu juga makna filosofis Jawa banyak tersirat dalam kegiatan tradisi wilujengan, hal ini karena masih pengaruh dari Praja Mangkunegaran yang merupakan kerajaan otonom Mataram Islam yang berkuasa di wilayah Surakarta sejak tahun 1757 hingga 1946. Pengaruh historis mempengaruhi praktik tradisi wilujengan atau selametan di Perpustakaan. Selain itu juga pengaruh kultural Jawa yang lekat dengan beragam tradisi terus lestari meskipun berbeda era. Adapun untuk penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan mengkaji makna dari makanan yang disajikan dalam tradisi wilujengan atau selametan.