Kembali
16
1
2023 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 6 · 1 ISSN 2654-6469

Pe lestarian Local Content Tradisi Merlawu di Situs Gandoang Melalui Media Mini Dokumenter

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelestarian local content Tradisi Merlawu di Situs Gandoang melalui mini dokumenter. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Jenis penelitian ini adalah action research. Teknik pengumpulan data melalui observasi secara langsung, dokumentasi, dan wawancara mendalam. Sumber data diperoleh dari informan yaitu: pemuda desa Wanasigra, kepala desa, pengelola situs. Validitas data menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik data dianalisis melalui langkah-langkah dalam pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan verifikasi (kesimpulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelestarian local content Tradisi Merlawu di Situs Gandoang melalui mini dokumenter tersebut sebagai upaya untuk melestarikan dan memberikan informasi pada masyarakat yang dikemas menjadi lebih ringkas melalui mini dokumenter yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun dengan mudah.

Abstract

This research ains to find out how preservation of local content the Merlawu Tradition at the Gandoang Site through a mini documentary. This research uses a qualitative approach with descriptive methods. This type of research is action research. Data collection techniques through direct observation, documentation, and in-depth interviews. Data sources are obtained from informants: youth of Wanasigra village, village heads, site managers The validity of the data uses the triangulation of sources and techniques. Data is analyzed through data collection, data reduction, data feed and verification (conclusions). The results showed that preservation of local content the Merlawu Tradition at the Gandoang Site through this mini documentary as an effort to preserve and provide information to the public whis is packaged more concisely through mini documentaries that can be accessed anytime and anywhere easily.
Keywords: merlawu tradition · preservation · local content

Introduction

Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki beragam tradisi dan adat istiadat pada setiap daerahnya. Keberagaman tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi negara lain. Tradisi atau adat merupakan suatu kebiasaan yang bersifat religius dari kehidupan penduduk asli yang meliputi kebudayaan, norma dan beberapa aturan yang berlaku yang masih berkaitan dengan adat ataupun tradisi. Biasanya tradisi yang diselenggarakan merupakan tradisi turun temurun pada masyarakat. Selain itu, adanya tradisi ini merupakan suatu perwujudan dari adanya sistem kepercayaan masyarakat setempat yang memiliki nilai-nilai secara universal yang dapat menunjang kebudayaan nasional. Hal tersebut menjadikan dari banyaknya tradisi yang telah dilaksanakan secara turun temurun tersebut generasi muda bertanggungjawab untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi tersebut. Pemuda merupakan kalangan manusia yang berusia muda, memiliki semangat yang tinggi, berjiwa membangun, memiliki visi dan tujuan yang positif sebagai pewaris generasi. Pemuda harus dapat mempertahankan tradisi dan kearifan lokal yang mana hal tersebut merupakan salah satu identitas bangsa. Peran pemuda yang disebutkan dalam Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan pasal 16 tentang peran pemuda yaitu: “Pemuda memiliki peran aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional”. Oleh karena itu dalam ruang lingkup masyarakat sangat diperlukan peran pemuda sebagai penerus nilai-nilai leluhur budaya bangsa yang dapat dijadikan sebagai pondasi dan kekuatan moral, serta agen perubahan (agent of change) ke arah yang lebih baik tentunya. Eksistensi pemuda harus tetap dijaga termasuk dari adanya ancaman yang berupa arus modernitas. Perubahan yang terjadi tersebut dapat mempengaruhi kalangan pemuda dan berdampak juga dalam kehidupan sosial budaya (Widiana, 2017). Pada dasarnya kehidupan sosial masyarakat juga tidak dapat dilepaskan dengan masuknya budaya baru terutama pada lingkungan kaum muda. Kebudayaan mampu memproyeksikan identitas orisinal yang luhur dari kehidupan masyarakat yang nantinya akan sangat disesali apabila budaya lokal tersebut tergerus perlahan oleh kebiasaan baru. Inventaris kebudayaan Indonesia baik yang tangible (fisik) maupun intangible (non fisik) yang kaya dengan potensi cukup besar bagi peradaban yang lebih baik untuk bangsa ini. Kelestarian ragam situs-situs adat sakral, tradisi-tradisi, benda peninggalan, benda pusaka, bangunan-bangunan kuno yang menjadi saksi bahwa peradaban masyarakat sebelumnya dari leluhur harus tetap terjaga dengan baik. Generasi muda zaman sekarang, tentunya lebih menyukai sesuatu hal yang dianggap lebih modern, praktis, dan serba cepat. Mengenai penyelenggaraan tradisi di lingkungan masyarakat sudsh jarang diminati oleh pemuda setempat, perlu adanya dorongan dari sekitar terhadap pemuda untuk memiliki semangat tinggi dalam melestarikan dan mengenal apa saja tradisi yang ada disekitarnya. Tradisi budaya lokal ini tentunya beragam dan berasal dari daerah tertentu yang memiliki ciri khas dan setiap daerah juga memiliki tradisi-tradisi yang berbeda. Salah satu tradisi kebudayaan lokal di wilayah Ciamis tepatnya di Situs Gandoang Desa Wanasigra ini yaitu tradisi Merlawu yang sudah ada sejak dahulu dari leluhur dan diselenggarakan meriah dan khidmat setiap tahunnya. Hal yang membedakan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis ini adalah terkait budaya lokal yang berada di Desa Wanasigra memiliki nilai tersendiri yaitu dengan diselenggarakannya tradisi Merlawu ini dapat terus mempererat tali persaudaraan dan rasa saling menyayangi serta bergotong-royong hidup aman damai dalam lingkungan masyarakat (Irhandayaningsih, 2018). Walaupun istilah Merlawu ini juga dikenal di desa lainnya, akan tetapi antusias dari masyarakat, prosesi, dan makna dari tradisi pun berbeda. Pada penelitian ini, penulis membahas mengenai bagaimana prosesi dari tradisi Merlawu dan antusiasme masyarakat terutaram peran pemuda yang memiliki semangat tinggi untuk ikut andil dalam mempersiapkan setiap rangkaian acara tradisi Merlawu. Penelitian ini juga memiliki tujuan untuk mengungkapkan peran pemuda Wanasigra dari setiap proses pelaksanaan tradisi Merlawu guna melestarikan budaya lokal. Dari permasalahan dan tujuan tersebut, oleh karena itu judul tulisan ini adalah “Pelestarian Local Content Tradisi Merlawu di Situs Gandoang Desa Wanasigra Melalui Mini Dokumenter”. Tradisi dapat dikatakan sebagai kebiasaan secara turun-temurun sekelompok masyarakat nerdasarkan nilai budaya masyarakat sekitar. Tradisi memperlihatkan bagaimana anggota masyarakat bertingah laku, baik dalam kehidupan yang bersifat gaib ataupun keagamaan (Mursal Esten, 1992). Di dalam tradisi diatur bagaimana manusia yang lain atau satu kelompok manusia dengan kelompok lainnya bertindak terhadap lingkungan. Tradisi merupakan suatu kebiasaan yang berkembang di masyakarat yang kemudian diteruskan dari generasi ke generasi (Sondarika, 2019). Wujud dari tradisi beragam, mulai dari upacara keagamaan, upacara pernikahan, upacara kelahiran, upacara kematian, perayaan hari-hari tertentu, ataupun bentuk tradisi dalam kesenian daerah atau budaya lokal. Penelitian ini juga didasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan terdahulu yaitu penelitian yang dilakukan oleh Mifdal Zusron Alfaqi, Abd. Mu’id Aris Shofa, Muhammad Mujtaba Habibi pada tahun 2019 dengan judul ‘Peran Pemuda Dalam Pelestarian Wayang Suket Sebagai Aktualisasi Nilai Moral Pancasila’ (Alfaqi, Shofa, & Habibi, 2020) dan penelitian yang dilakukan oleh Yaya Mulya Mantri pada tahun 2014 dengan judul ‘Peran Pemuda Dalam Pelestarian Seni Tradisional Benjang Guna Meningkatkan Ketahanan Budaya Daerah (Studi Di Kecamatan Ujungberung Kota Bandung Provinsi Jawa Barat)’ (Mantri, 2014). Kedua penelitian tersebut memiliki tujuan untuk menggerakan pemuda dalam melestarikan kebudayaan lokal yang berada dilingkungan sekitar, yang mana pemuda ini merupakan generasi muda yang nantinya dapat meneruskan budaya tersebut secara turun-menurun. Selain kedua penelitian terhadulu terkait peran pemuda terhadap pelestarian budaya lokal tersebut, peneliti pada penelitian ini didasarkan pada penelitian yang telah dilakukan terdahulu yang masih berkaitan dengan situs Gandoang di Desa Wanasigra, yang pertama penelitian yang dilakukan oleh Wulan Sondarika pada tahun 2019 dengan judul ‘Pemanfaatan Situs Gandoang Dalam Pembelajaran Dengan Metode Discoveri Learning Pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah’ dan penelitian yang dilakukan oleh Yadi Kusmayadi pada tahun 2018 dengan judul ‘Pengembangan Potensi Wisata Situs Gandoang Wanasigra Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat Desa Wanasigra Kecamatan Sindangkasih Kabupaten Ciamis’. Kedua penelitian tersebut sama-sama membahas terkait Situs Gandoang yang memiliki tujuan yang sama yaitu mempertahankan kebudayaan di situs Gandoang. Perbedaannya dengan penelitian yang akan dibahas ini yaitu penelitian terdahulu fokusnya menyeluruh pada masyarakat setempat untuk mengembangkan potensi dari situs Gandoang tersebut, akan tetapi pada penelitian yang akan diteliti oleh peneliti yaitu lebih terfokus pada pemuda yang berada di Desa Wanasigra tersebut bagaimana peran pemuda Wanasigra tersebut dalam tradisi Merlawu yang mana apakah pemuda tersebut ikut andil dalam persiapan dan pelaksanaan dari tradisi yang secara turun-temurun telah dilaksanakan. Disini peneliti juga ingin mengetahui bagaimana upaya dari pemuda tersebut untuk tetap melestarika budaya lokal supaya tidak hilang oleh perkembangan zaman. Penelitian lainnya menyebutkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terkait peran pemuda dalam melestarikan kebudayaan lokal, yang mana untuk menghadapi tantangan global, maka perlunya pemuda yang memiliki jiwa gotong royong dan cinta tanah air. Peneliti sendiri mengatakan bahwa kegiatan gotong royong ini merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara bersamaan dengan sifat suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana. Berdasarkan beberapa hal diatas, maka sangat penting pelestarian tradisi Merlawu ini bagi pemuda yang dilakukan di situs Gandoang desa Merlawu yang bertujuan juga untuk melestarikan budaya bangsa yang dijadikan pondasi kebersamaan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Terutama pemuda sebagai penerus bangsa sudah seharusnya mempunyai karakter dan keterampilan berwarganegara yang sesuai dengan karakter anak bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran bagaimana peran pemuda dalam kegiatan kemasyarakatan dan pelaksanaan tradisi Merlawu di situs Gandoang desa Wanasigra. Manfaat dari penelitian dari segi teori ini diharapkan mampu memberikan gambaran dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang tentunya berhubungan dengan peran pemuda di masyarakat dalam melestarikan budaya lokal.

Method

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan desain penelitian tindakan (action research). Penelitian ini dilaksanakan di situs Gandoang, desa Wanasigra, kecamatan Sindangkasih, kabupaten Ciamis, Jawa Barat karena daerah ini konsisten sejak dulu dalam menyelenggarakan tradisi Merlawu ini. Subjek dalam penelitian ini adalah pihak-pihak yang terlibat dalam tradisi Merlawu di situs Gandoang desa Wanasigra, kabupaten Ciamis, terkhusus para pemuda desa Wanasigra yang ikut andil dimulai dari persiapan sampai terlaksananya tradisi Merlawu. Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan September 2022 dimulai ketika persiapan tradisi Merlawu. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan studi literatur dari jurnal dan hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Dalam analisis data kualitatif yang dilakukan selama di lapangan menggunakan model Miles dan Huberman yang terdiri atas tiga aktivitas, yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi/kesimpulan. Validitas data dilakukan selama proses pengambilan data berlangsung melalui triangulasi waktu dan triangulasi sumber.

Result & Discussion

Bagian ini akan mendeskripsikan temuan penelitian mengenai peran pemuda dalam kemasyarakatan terutama pada kegiatan tradisi Merlawu yang diadakan pada setiap tahunnya. Pemuda yang dimaksud adalah keseluruhan pemuda desa Wanasigra yang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan yang tentunya tergabung dalam kelompok karang taruna desa Wanasigra. Prosesi Tradisi Merlawu Tradisi turun temurun yang dilaksanakan masyarakat setempat bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat rezeki dan hasil bumi yang melimpah. Tradisi Merlawu diselenggarakan pada setiap tahunnya, setiap bulan Rabiul Awal tepatnya pada hari kamis dan jumat. Di situs Gandoang ini terdapat makam sesepuh dan tokoh masa lalu yang sangat berjasa dalam kemajuan desa Wanasigra yaitu Syekh Padamatan. Tujuan dari diselenggarakannya tradisi Merlawu ini supaya tetap mempertahankan budaya peninggalan leluhur di desa Wanasigra, sehingga generasi muda tidak lupa akan tradisi tersebut yang telah turun-temurun diselenggarakan. Tradisi Merlawu diselenggarakan bukan untuk memuja melainkan untuk menghargai dan menghormati jasa leluhurnya (Kusmayadi, 2018). Akses untuk menuju situs Gandoang sudah cukup bagus akan tetapi akses setelah dari gapura situs Gandoang masih beralaskan tanah dengan beberapa anak tangga yang terbuat dari batuan yang disusun oleh masyarakat Wanasigra sehingga dapat mempermudah pengunjung untuk mengakses kedalam situs Gandoang tersebut. Sebelum memasuki hari puncak dimana acara utama akan diselenggarakan, biasanya masyarakat Wanasigra mempersiapkan dari jauh hari. Mulai dari persiapan bersih-bersih secara bergotong-royong, yang dilakukan secara rutiin pada hari senin-kamis dimulai dengan menyapu halaman depan dekat gapura situs hingga menuju tempat makam Syekh Padamatan yang merupakan makan utama. Akan tetapi untuk memasuki kawasan tersebut, harus melepas alas kaki yang mana aturan tersebut sudah ada sejak dahulu yang bertujuan untuk tetap menjaga kebersihan di lingkungan sekitar makam. Selanjutnya, tepat 2 minggu sebelum acara, masyarakat secara bergotong-royong mengambil dan mengumpulkan bambu disekitar situs untuk nantinya dirangkai dijadikan pagar pengganti di dalam situs Gandoang. Pergantian pagar bambu tersebut tentunya sudah rutin dilaksanakan. Prosesi tradisi Merlawu ini diawali dengan ‘Ngarangki’ atau mengganti pagar makam Syekh Padamatan. Prosesi pergantian pagar bambu sebelum berlangsungnya tradisi Merlawu tentunya memiliki makna tersirat yaitu untuk membentengi diri dari perbuatan ataupun pengaruh yang tidak baik bagi lingkungan sekitar. Setelah mengumpulkan bambu yang akan digunakan untuk membuat pagar tersebut, kemudian bambu tersebut juga dibagi menjadi beberapa bagian dengan diiris tipis disesuaikan dengan tinggi dan ukuran pagar yang akan diganti dengan pagar bambu. Selain itu, masyarakat dan kuncen pun menyiapkan tali ijuk dengan jumlah yang telah disesuaikan dengan keperluan untuk mengikat bambu satu dengan yang lainnya sehingga tersusun rapi. Seluruh kegiatan persiapan tersebut tentunya dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat Wanasigra. Persiapan sebelum tradisi Merlawu terus berlangsung hingga satu hari sebelum acara. Satu hari sebelum acara utama berlangsung, terdapat kegiatan membasuh atau membersihkan benda pusaka yang terdapat di desa Wanasigra tepatnya benda pusaka tersebut dirawat dan disimpan oleh kuncen yang merupakan keturunan selanjutnya dari silsilah keturunan leluhur di situs Gandoang desa Wanasigra. Jumlah dari benda pusaka tersebut ada 8 keris yang dibersihkan secara rutin sehari sebelum acara inti dari tradisi Merlawu. Membersihkan benda pusaka tersebut menggunakan air suci yang berasal dari 5 sumur yang berada di beberapa titik di desa tersebut. Air suci tersebut disimpan dalam kendi kecil yang telah disiapkan sebelumnya. Saat prosesi nyiraman benda pusaka tersebut dilakukan di kediaman Bapak Lili selaku kuncen yang mana air suci dari 5 sumur tersebut diantarkan ke tempat nyiraman dengan masing-masing orang tertentu seperti kepala desa membawa 1 kendi yang terisi dengan air suci tersebut. Prosesi pembawaan air suci tersebut disebut dengan istilah ‘Mapag’ dari sumber mata air tersebut ke lokasi nyiraman benda pusaka. Selama prosesi mapag air suci tersebut diiri dengan solawatan bersama hingga semua air suci dan para juru kunci yang dituakan di desa Wanasigra. Setelah semua air suci tersebut terkumpul, sedikit diceritakan kembali sejarah dari tradisi Merlawu ini oleh kuncen, sehingga masyarakat sekitar yang mengikuti prosesi nyiraman tersebut kembali mengingat bagaimana silsilah, sejarah, dan apa saja hal yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkannya. Seperti dahulunya di desa Wanasigra tidak diperbolehkan pada setiap rumah memiliki sumur yang bulat, harus berbentuk kotak, selanjutnya ketika ada anak kecil yang melakukan sunat tidak diperbolehkan untuk menggunakan pangsi (baju hitam-hitam khas sunda). Setelah menceritakan sejarah tersebut, kemudian acara nyiraman benda pusaka dimulai. Tak lupa dengan berbagai sesajen yang telah disiapkan, diantaranya air kembang tujuh rupa, kopi hitam, kelapa hijau, rokok, lemon dan lain sebagainya. Kemudian dengan di ringi bacaan solawat dan mengucap bismillah air suci kedalam tempat air bunga tujuh rupa tersebut. Setelah itu dikeluarkan lah satu per satu keris dari tempat penyimpanan untuk dibakar sedikit diatas tungku kecil yang berisikan arang. Kemudian dibasuh menggunakan air bunga dan air suci secara perlahan, lalu digosokkan menggunakan jeruk nipis dan dibasuh kembali menggunakan air bunga tujuh rupa tersebut. Setelah semua benda pusaka tersebut dilakukan nyiraman, dimasukkan kembali ke tempatnya. Selesainya acara nyiraman keseluruhan benda pusaka tersebut, dilanjutkan dengan menikmati makanan yang telah disediakan secara bersama-sama. Acara nyiraman benda pusaka ini berlangsung dari pagi hari hingga sore, yang kemudian untuk malam harinya biasanya dilanjutkan dengan melakukan arak-arakan atau pawai obor sekaligus memberitahukan kepada masyarakat setempat, bahwasannya esok hari akan dilaksanakannya acara puncak tradisi Merlawu di situs Gandoang desa Wanasigra. Akan tetapi dikarenakan kondisi cuaca hujan deras hingga pagi hari, jadi tidak dilaksanakannya pawai obor tersebut. Pelaksanaan acara puncak tradisi Merlawu dimulai pada pukul 6 pagi, masyarakat berkumpul di jembatan pelangi pertengahan desa Wanasigra yang menjadi icon dari desa tersebut. Masyarakat berkumpul sembari menunggu para pemangku adat dan beberapa pejabat desa yang akan membuka jalannya acara. Tepat sekitar pukul 7 pagi seluruh masyarakat berkumpul dan acara inti dari tradisi Merlawu dimulai dengan jalan beriringan bersama menuju situs Gandoang dengan membawa bendera khas desa Gandoang dan beberapa makanan berupa nasi kuning yang digotong menggunakan tandu khusus. Selama perjalanan menuju situs Gandoang tersebut diiringi dengan bersolawat bersama sampai dengan tibanya di gapura pembatas antara lahan situs Gandoang dengan lahan masyarakat umum. Pemangku adat yang lainnya yang lebih dituakan menyerahkan bendera pada kuncen yang telah menunggu di gerbang. Setelah memasuki gapura pembatas tersebut akan ditemui batu besar yang dahulunya digunakan sebagai tanda pembatas atau pos pemeriksaan pada masa Syekh Padamatan. Selanjutnya kuncen, pemangku adat, pejabat desa, bupati ciamis, serta masyarakat langsung memasuki kawasan dimana seluruh kalangan harus melepas alas kaki dikarenakan area tersebut merupakan area yang suci dan dahulunya leluhur tidak menggunakan alas kaki untuk memasuki kawasan tersebut terutama telah mendekati kawasan makam utama Syekh Padamatan. Saat memasuki kawasan suci tersebut masyarakat dilarang untuk menggunakan alat komunikasi untuk merekam dan sebagainya terkecuali bagi kalangan tertentu saja yang sudah diberi izin mendokumentasikan berlangsungnya acara tradisi Merlawu saat doa bersama di makam Syekh Padamatan. Sekitar kawasan makam utama tersebut terdapat beberapa batu yang berjajar dengan rapi yang mana sejak dahulu telah ada, kemungkinan besar batuan-batuan kecil tersebut disusun untuk dipergunakan sebagai alas duduk ketika berdoa bersama, begitupun dengan sekarang, batuan tersebut masih dengan kondisi awal dan dipergunakan untuk alas duduk masyarakat ketika melakukan doa bersama. Setelah doa bersama selesai dilaksanakan kemudian akhir dari acara inti tradisi Merlawu ini yaitu dengan masyarakat berkumpul kembali di kawasan dekat dengan gapura pembatas untuk langsung makan bersama yang mana di desa tersebut dikenal dengan istilah ‘balakecrakan’ saling berbagi makanan sehingga semuanya merasakan nikmat makan. Pelaksanaan Tradisi Merlawu sebagai Local Content Penting untuk Pelestarin Warisan Budaya Pelestrian local content sangat penting dalam kegiatan kemasyarakatan di desa Wanasigra. Pengalaman yang telah dilakukan oleh orangtua tentunya menjadi hal yang cukup penting untuk memberikan gambaran kepada pemuda khususnya di lingkungan sekitar dalam bertindak dan juga bersikap untuk melestarikan salah satu tradisi yang telah turun temurun dilaksanakan yaitu Tradisi Merlawu. Pelestarian local content dalam kegiatan kemasyarakatan seperti pelaksanaan tradisi Merlawu ini tentunya memiliki peranan yang cukup penting, yang mana pada intinya masyarakat tersebut sebagai penerus atau generasi selanjutnya dalam segala hal yang termasuk mempertahakan budaya lokal. Dalam kelompok karang taruna di desa Wanasigra tentunya sangat memerlukan pemuda sebagai pelaku estafet regenerasi kegiatan kemasyarakatan tersebut. Tentunya yang diharapkan oleh masyarakat pun memiliki kelompok pemuda yang dapat memberikan dampak positif dan bersifat membangun. Pada umumnya kelompok karang taruna ini menciptakan kegiatan yang positif tentunya untuk pembentuka karakter pemuda. Dengan kegiatan positif tersebut dapat menciptakan hal-hal positif juga yang dilakukan oleh pemuda. Dalam lingkungan kelompok karang taruna juga dapat membentuk suatu kegiatan yang jelas dan dapat menjadi fokus pada kegiatan pemuda untuk perkembangan yang lebih baik (Nur Bintari & Darmawan, 2016). Adanya kelompok karang taruna di desa Wanasigra dijadikan sebagai wadah atau media dalam pembentukan karakter pemuda. Peranan pemuda ini sangat penting dalam masyarakat, karena dengan tenaganya sangat diperlukan selain itu juga dapat memberikan pengalaman kepada pemuda tersebut mengenai bagaimana hidup bermasyarakat. Peran pemuda dalam penyelenggaraan tradisi Merlawu adalah sebagai penerus tradisi Merlawu untuk generasi selanjutnya sehingga tetap mempertahankan kebudayaan yang telah ada sejak dahulu secara turun-temurun dari leluhur. Gambar 1. Foto Bersama Pemuda Wanasigra Sumber: Peneliti, 2022 Pada gambar diatas, terlihat foto bersama dengan sebagian pemuda Wanasigra yang berkontribusi pada acara tradisi Merlawu di hari puncaknya. Dengan adanya pemuda di desa Wanasigra ini menjadi peran utama dalam meneruskan kembali tradisi yang telah ada. Betapa pentingnya peran pemuda dalam meneruskan kembali segala sesuatu yang ada dalam lingkungan masyarakat. Pemuda ini berada ditengah-tengah generasi yang mana keberadaannya antara generasi tua dan generasi yang ada dibawahnya. Sehingga kehadiran generasi muda ini seharusnya dapat menjadi penyeimbang diantara keduanya. Kendala dalam pelestarian Tradisi Merlawu Hasil penelitian yang diperoleh dari Bapak Lili Suherli sebagai kuncen atau toko adat yang mana tradisi Merlawu ini telah dilaksanakan sejak lama dan sekarangpun sudah masuk generasi ke-10. Tradisi tersebut Pada era modern saat ini generasi muda lebih tertarik pada kegiatan yang mampu mengaktualisasikan minat dan bakatnya, untuk meraih goals dalam hidupnya. Pemuda saat ini berpandangan bahwa dalam hal melestarikan budaya merupakan suatu aktivitas yang kuno dan membosankan. Pemuda cenderung menganggap bahwa keberadaan budaya lokal ini sudah tidak relevan dan cukup ketinggalan zaman terhadap kemajuan di lingkungan masyarakat (Nur Bintari & Darmawan, 2016). Rendahnya kesadaran pemuda dalam melestarikan budaya lokal di Desa Wanasigra ini perlu adanya tindak lanjut untuk mengatasinya. Proses menumbuhkan kesadaran pemuda setempat dilakukan dengan memanfaatkan keberlangsungan tradisi Merlawu ini, sebagai pengenalan untuk pemuda desa Wanasigra dan sekaligus pembelajaran secara langsung prosesi dari tradisi Merlawu ini. Arus globalisasi berimbas pada moralitas pemuda yang lebih tertarik pada kebudayaan luar dibandingkan dengan kebudayaannya sendiri. Bangsa Indonesia mewarisi berbagai kekayaan alam, kekayaan hayati, dan keanekaragaman sosio-kultural. Kekayaan tersebut merupakan modal dasar yang harus dikelola sebaik mungkin. Perlunya mengoptimalkan peran dari kebudayaan lokal karena mampu mengembangkan identitas bangsa, membangun pemuda Indonesia yang berkarakter Pancasila, memiliki daya saing, dan unggul. Tradisi Merlawu di situs Gandoang menjadi salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia terkhusus kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Wanasigra yang tentunya memiliki nilai filosofi yang tinggi. Tradisi tersebut diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, atas karunia berupa sumber lahan terbuka yang luas. Bentuk rasa syukur tersebut diaplikasikan melalui kegiatan tawasul ke makam Syekh Padamatan dan makan bersama masyarakat Wanasigra sebagai bentuk tanda syukur dan hajat bumi masyarakat atas nikmat yang telah dirasakan oleh sesama (Mustofa, Iqbal, Budianto, & Hidayat, 2022). Upaya dalam Mengatasi dan Meningkatkan Pelestarian Tradisi Merlawu sebagai Lokal Content melalui Mini Dokumenter Pelibatan pemuda Wanasigra khususnya dan msyarakat Desa Wanasigra pada perencanaan dan pelaksanaan tradisi Merlawu merupakan strategi yang tepat karena mereka telah melaksanakan pembelajaran untuk memaknai proses demokrasi yang terjadi di masyarakat. Upaya yang dilakukan untuk mengajak pemuda berpartisipasi dalam kegiatan tradisi Merlawu ini adalah dengan memperkenalkan sedikit demi sedikit, merangkul dan mengajak mereka, menumbuhkan rasa antusias pemuda, yang mana pada akhirnya keberadaan pemuda diperlukan sehingga akan timbul kesadaran dalam hidup bermasyarakat dan terus berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan rasa antusias yang cukup tinggi. Adanya tokoh yang dituakan di desa Wanasigra ini dapat menjadi awal untuk senantiasa mengajak kepada pemuda untuk ikut andil dalam kegiatan, sehingga secara tidak langsung pemuda di desa Wanasigra mengetahui tahapan dan proses pelaksanaan tradisi Merlawu, apa saja yang perlu disiapkan dari jauh hari dengan menyaksikannya secara langsung ditempat yang biasa diselenggarakannya tradisi Merlawu tersebut. Perlu adanya rangkulan yang cukup hangat untuk mengajak pemuda tertarik dalam pelestarian budaya lokal, yang mana dapat dikatakan pemuda pada zaman sekarang ini terkadang susah dan enjoy dengan dunianya sendiri yaitu di media sosial, hal itu dapat dimanfaatkan juga oleh tokoh yang dituakan di desa Wanasigra untuk memperkenalkan juga tradisi Merlawu ini kepada masyarakat luas melalui kebiasaan pemuda dalam menggunakan media sosial. Untuk menarik pemuda ikut terlibat langsung dalam kegiatan tentunya memerlukan ajakan dan perlu diberi pengertian bahwa kita semua membutuhkan tenaga pemuda untuk ikut dalam kegiatan kemasyarakatan. Sehingga nantinya pemuda desa Wanasigra menyadari bahwa dirinya sangat berperan dalam lingkungan masyarakat. Saat keberadaan pemuda ini kita hargai keberadaannya, mereka akan dengan mudah mendengarkan ajakan para tokoh yang dituakan di desa Wanasigra. Istilahnya dengan cara pelan-pelan dengan mengajak para pemuda. Keberadaan pemuda di lingkungan masyarakat juga jangan selalu disalahkan, ataupun jangan membuat mereka merasa tertekan karena mereka sangat diperlukan di lingkungan masyarakat. Pemuda dapat diberi wawasan mengenai pengalaman orangtua sehingga dapat dijadikan contoh dalam hal baik dan mengambil nilai-nilai positif dari pengalaman orangtua kita yang terlebih dahulu mengetahui apa saja yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam tradisi Merlawu ini. Peran pemuda yang disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 40 tahun 2009 pasal 16 bahwa “Pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan (agent of change) dalan segala aspek kehidupan dan pembangunan nasional. Peran yang harus diembannya ini haruslah menjadi poin penting dalam kehidupan sehari-harinya. Tentunya yang diwariskan ini merupakan sesuatu hal yang baik. Adanya gerakan dari para pemuda tersebut dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk melestarikan Tradisi Merlawu ini melalui beberapa media antara lain dikemas melalui mini dokumenter. Mini dokumenter ini dapat memudahkan masyarakat awam untuk mendapatkan informasi terkait Tradisi Merlawu melalui mini dokumenter. Rangkaian proses Merlawu dimulai dari persiapan ngarangki, nyiraman benda pusaka, hingga acara puncak yaitu melakukan doa bersama di makam Syekh Aki Padamatang, terekam secara rinci dalam video mini dokumenter tersebut. Media mini dokumenter ini mampu mengakomodasi untuk upaya pelestarian tradisi Merlawu dengan cara tetap menjaga keaslian nilai-nilai yang berbentuk pelaksanaan ritual-ritual secara turun-temurun tersebut. Rangkaian persiapan dan pelaksanaan Tradisi Merlawu pada setiap tahunnya yang mana bertujuan untuk melestarikan tradisi dengan cara mengenalkan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus tanpa memaksakan pelaksanaan ritual yang mana dengan adanya pemanfaatan media audio visual merupakan salah satu solusi yang tepat. Melalui mini dokumenter ini tentunya dapat mempermudah informasi tersebar menyeluruh pada seluruh bagian masyarakat dari berbagai kalangan sehingga mengetahui adanya Tradisi Merlawu di Situs Gandoang. Pembuatan media mini dokumenter ini tentunya memerlukan beberapa software yang dapat menunjang editing video mini dokumenter, diantara menggunakan aplikasi Adobe Premiere 7 yang menyajikan berbagai fitur. Cuplikan video yang merekam kegiatan Merlawu dimulai dari persiapan satu bulan sebelum pelaksanaan Merlawu terekam dengan baik yang nantinya di upload pada laman Adobe Premiere 7 untuk editing hingga tahap akhir menjadi video yang dapat ditonton dan diakses dengan mudah oleh masyarakat.

Conclusion

Tradisi Merlawu merupakan tradisi yang sudah turun-temurun dilaksakan oleh masyarakat di desa Wanasigra. Tradisi Merlawu diselenggarakan bukan untuk memuja melainkan untuk menghargai dan menghormati jasa leluhurnya. Adanya tradisi Merlawu ini dapat membuktikan bahwa dalam kehidupan yang sudah modern ini masih terdapat suatu kebiasaan masyarakat yang melestarikan budaya dari leluhur kita. Untuk mempertahankan tradisi ini adalah pemuda yang sangat berperan dalam hal ini. Pemuda harus dapat belajar dan terus meningkatkan kreativitasnya serta bagaimana terus mempertahankan tradisi ini supaya tetap ada dan terjaga dengan baik. Dengan adanya wadah yaitu kelompok karang taruna desa Wanasigra ini harus menciptakan kondisi dan situasi yang nyaman untuk para pemuda berkumpul dan berdiskusi tentang kehidupan bermasyarakat. Dalam ruang lingkup karang taruna ini harus adanya salah seorang yang mengkoordinir dan mengayomi seluruh pemuda di desa agar dapat memaksimalkan dalam berperan di lingkungan masyarakat. Selain itu, tokoh masyarakat, perangkat desa, sesepuh yang dituakan di lingkungan setempat kiranya selalu mengajak dan memberikan kesempatan kepada pemuda untuk ikut serta dalam tradisi Merlawu yang mana pada dasarnya masyarakat Desa Wanasigra telah melakukan beberapa tindakan dalam rangka pelestarian budaya daerahnya melalui media mini dokumenter untuk mendokumentasikan local content tersebut. Saran ataupun tindak lanjut yang dapat dilakukan untuk kajian berikutnya adalah mengenai keaktifan dan meng upgrade soft skill pemuda di ruang lingkup kelompok karang taruna lebih terfokus dan terkondisikan dalam mengemas dokumentasi saat acara besar seperti penyelenggaraan tradisi Merlawu dengan baik sehingga peran dari pemuda tersebut dapat menghasilkan dampak yang positif bagi lingkungan. Hal tersebut dirasa penting karena dalam kajian ini hanya menjelaskan bagaiamana respon dan peran pemuda dalam upaya melestarikan tradisi Merlawu yang mana dillihat dari hasil lapangan masih cukup sedikit pemuda yang berkontribusi penuh atas acara tersebut, masih perlu adanya tindak lanjutan untuk nantinya keseluruhan pemuda Wanasigra dapat berperan aktif secara merata pada setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh lingkungan setempat terutama terkait hal menjaga budaya lokal.