Kembali
16
1
2023 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 6 · 1 ISSN 2654-6469

Pedoman Pengimplementasian Tindakan Preservasi Melalui Video Instruksional

Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara

Abstrak

Pembuatan karya ini dilatarbelakangi oleh belum diterapkannya praktik preservasi di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Nusantara. Hal tersebut menyebabkan banyak koleksi perpustakaan yang mengalami kerusakan, fenomena ini disebabkan oleh belum teredukasinya pustakawan yang mengelola perpustakaan tersebut. Tujuan dari dibuatnya video instruksional ini adalah untuk memberikan edukasi dan wawasan tentang bagaimana cara melakukan praktik pelestarian koleksi perpustakaan kepada pustakawan khususnya di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Nusantara dan umumnya kepada masyarakat. Paradigma yang digunakan dalam karya ini adalah paradigma konstruktivisme, dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan model perilaku informasi Wilson. Metode penyampaian yang digunakan adalah melalui video instruksional yang dipublikasikan lewat platform Youtube. Teknik pengumpulan data yang dipakai disini yaitu melalui observasi lapangan dengan metode wawancara dan dokumentasi. Karya ini diharapkan dapat memberikan edukasi kepada pemustaka untuk dapat melakukan praktik preservasi secara preventif untuk mencegah kerusakan pada koleksi perpustakaan khususnya buku. Penggunaan media video yang disebarluaskan dalam platform Youtube sebagai penyampai materi edukasi pelestarian koleksi perpustakaan bertujuan agar materi tersebut dapat dengan mudah sampai kepada audience. Penyampaian dengan bahasa yang mudah dipahami dan susunan video yang runtut juga diharapkan dapat diterima dengan baik oleh khalayak luas. Setelah dipublikasikan, karya video instruksional ini mendapat banyak feedback positif di platform Youtube LCO Fikom Uninus.

Abstract

The background for creating this work is the lack of implementation of preservation practices at the UPT Central Library of the Islamic Nusantara University. This has led to significant damage to the library collections. The main cause of this phenomenon is the lack of education among the librarians who manage the library. The purpose of creating this instructional video is to provide education and insights on how to practice the preservation of library collections, especially for librarians at the UPT Central Library of the Islamic Nusantara University and the general public. The constructivism paradigm is employed in this work, utilizing a qualitative approach and the information behavior Wilson model. The chosen delivery method is instructional videos published on the YouTube platform. The data collection technique used includes field observation, interviews, and documentation methods. This work aims to educate users on carrying out preventive preservation practices to prevent damage to library collections, especially books. The use of video media, disseminated through the YouTube platform, serves as a means of delivering educational material for the preservation of library collections, ensuring that the material easily reaches the audience. The delivery is simple and coherent language, along with well-organized video arrangements, is also expected to be well-received by a wide audience. After its publication, this instructional video work received a lot of positive feedback on the YouTube platform of LCO Fikom Uninus.
Keywords: library collection preservation · preventive preservation · instructional video

Introduction

Perpustakaan menyimpan banyak sekali sumber informasi yang tak ternilai harganya. Maka dari itu, koleksi yang ada di dalamnya harus selalu senantiasa dijaga dan dilestarikan agar kandungan nilai yang terdapat didalam koleksi perpustakaan dapat terus dimanfaatkan oleh khalayak. Adapun cara untuk menjaga koleksi perpustakaan adalah dengan menerapkan praktik preservasi. Menurut (Sudarsana, 2019), praktik preservasi pada dasarnya adalah upaya mempertahankan sumber daya kultural dan intelektual agar (koleksi perpustakaan) dapat digunakan sampai batas waktu selama mungkin. Praktik preservasi dan konservasi belum diterapkan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Pusat Universitas Islam Nusantara (Uninus). Setelah dilakukan tindakan observasi sebagai tindakan awal untuk mengetahui indikasi apa saja yang terjadi di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Nusantara, ternyata banyak koleksi perpustakaan yang mengalami kerusakan, hal ini terjadi karena belum diterapkannya praktik preservasi dan konservasi. Kegiatan preservasi dan konservasi ini secara garis besar terbagi ke dalam dua tindakan yaitu tindakan preventif dan tindakan kuratif. Tahap pertama, yaitu tindakan secara preventif yang meliputi kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu pustakawan, kondisi lingkungan dan juga kebijakan perpustakaan. Di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Nusantara, kesiapan pustakawan dalam mengatasi kerusakan koleksi perpustakaan bisa dibilang masih belum siap, karena tenaga perpustakaan yang ada yaitu sebanyak 3 orang latar belakangnya tidak berasal dibidang ilmu perpustakaan, hanya ada 1 orang saja yang memiliki latar belakang bidang ilmu perpustakaan, yaitu Kepala Perpustakaan itu sendiri. Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan oleh Sanusi selaku pustakawan senior di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Nusantara, yaitu: “Tenaga pustakawan yang ada di perpustakaan Uninus masih belum memiliki program pendidikan khususnya dalam bidang pemeliharaan. Hal ini memang dari tenaga pustakawannya sendiri masih cabutan dari karyawan yang ada di Uninus, bahkan baru ada 1 orang yang lulusan program studi ilmu perpustakaan, sisanya bukan dari ilmu perpustakaan. Sedangkan untuk jumlah total tenaga pustakawan yang ada di perpustakaan Uninus ada 5 orang.” (Wawancara, Sanusi, Oktober 2022). Setelah itu ada kondisi lingkungan, berdasarkan hasil observasi lapangan, kondisi lingkungan di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Nusantara memang beberapa terlihat dalam keadaan normal, tetapi kebanyakan koleksi yang ada di perpustakaan tersebut berdebu cukup tebal karena pembersihan koleksi perpustakaan jarang dilakukan. Terbukti dari banyak ditemukannya koleksi yang berdebu dan jaring laba-laba di beberapa titik di perpustakaan. Selanjutnya yaitu terkait kebijakan perpustakaan, di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Nusantara kebijakan terkait tindakan pencegahan kerusakan koleksi perpustakaan masih belum ada. Terlihat dari belum adanya rambu peringatan tentang keharusan untuk selalu senantiasa menjaga koleksi perpustakaan. Untuk rambu peringatan yang ada hanya rambu tentang menjaga kebersihan dan tidak membawa makanan dan minuman ke dalam ruangan perpustakaan, dan rambu tersebut masih belum dipatuhi dengan baik oleh pemustaka. Bahkan untuk standar pemeliharaan koleksi perpustakaan masih belum ada. Kemudian setelah tindakan secara preventif, ada tindakan secara kuratif. Tindakan kuratif bertujuan untuk merawat koleksi perpustakaan dan mencegah koleksi perpustakaan tersebut dari kerusakan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, sebagian kecil buku yang ada di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Nusantara sudah disampul plastik, tetapi sebagian besar lainnya masih belum disampul plastik. Sedangkan dalam melakukan kegiatan preservasi koleksi bahan perpustakaan dengan tindakan kuratif seperti repairing, mending, fumigasi, enkapsulasi, deasidifikasi, laminasi dan perbaikan lainnya belum dilaksanakan karena tidak tersedianya fasilitas dan alat pendukung sehingga menyulitkan pustakawan untuk melakukan tindakan pelestarian koleksi perpustakaan. Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwasanya dalam konteks penerapan preservasi koleksi perpustakaan harus ada pemahaman dan pengetahuan baik itu bagi pengelola perpustakaan maupun pengguna perpustakaan. Maka dari itu penulis berinisiatif untuk memberikan pemahaman tersebut dalam bentuk video instruksional yang didalamnya terdapat prosedur dan cara yang harus dilakukan untuk menerapkan preservasi koleksi perpustakaan. Tugas akhir video ini diharapkan pengelola dan pengguna perpustakaan dapat mengamalkan praktek preservasi tersebut agar kerusakan koleksi perpustakaan tidak terjadi, khususnya di UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Nusantara. Penelitian terdahulu yang penulis kaji untuk terwujudnya inovasi pada video instruksional yang akan dibuat. Ditemukan beberapa kekurangan dari karya terdahulu yang sudah penulis kaji. Untuk karya terdahulu yang dikaji adalah sebagai berikut diantaranya; Skripsi Preservasi Bahan Pustaka di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kab. Takalar karya Irad Al Kautsar (2016), Jurnal Ilmiah Strategi Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Trenggalek karya Rifauddin & Pratama (2020) dan Video Youtube Preservasi Koleksi di Perpustakaan Sleman karya Perpusarsip Sleman. Kelebihan dan inovasi yang ditawarkan dari tugas akhir karya perpustakaan ini adalah, pertama, penjelasan disajikan dalam bentuk video dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh awam, sehingga pesan akan dapat tersampaikan lebih baik daripada melalui tulisan yang ada dalam bentuk skripsi atau jurnal. Kedua, materi yang disampaikan akan secara komprehensif dan runtut step-by-step, tidak hanya sebagian saja, seperti yang dicontohkan dalam video tentang preservasi kebanyakan. Ketiga, penjelasan prosedural akan secara instruksional disampaikan, sehingga dapat mudah untuk dipahami oleh audience. Kerusakan Koleksi Perpustakaan Kerusakan koleksi perpustakaan dapat diartikan sebagai penurunan kualitas koleksi perpustakaan yang dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Untuk lebih memahami kedua faktor tersebut, pada paparan di bawah ini, akan di bahas mengenai faktor perusak internal dan faktor perusak eksternal koleksi perpustakaan (Rohmaniyah, 2019). Pertama, faktor perusak internal, adalah faktor perusak yang bersumber dari dalam koleksi perpustakaan. Berikut ini adalah faktor-faktor perusak internal diantaranya partchment dan kertas. Kedua, faktor perusak eksternal, adalah faktor yang berasal dari kondisi lingkungan sekitar ruangan penyimpanan koleksi perpustakaan yang meliputi iklim, suhu dan pencahayaan, serangga dan hama, jamur, bencana alam, hingga faktor manusia (Fatmawati, 2018). Preservasi dan Konservasi Media Informasi Preservasi merupakan suatu upaya perlindungan intektual yang meliputi manajemen perpustakaan, dan melindungi media informasi atau koleksi perpustakaan dari berbagai faktor perusak dan kehancuran (Rifauddin & Pratama, 2020). Ada 2 jenis tindakan preservasi, yaitu preservasi preventif dan preservasi kuratif, yang akan lebih dijelaskan disini adalah tindakan preservasi preventif. Preservasi Preventif ini dimaksudkan untuk mencegah sebelum bahan atau koleksi perpustakaan termasuk segala fasilitas, perabotan dan perlengkapan mengalami kerusakan. Fungsi preservasi menurut Martoadmojo (Dewi, Rifqi & Indah, 2020) adalah fungsi melindungi, fungsi pengawetan, fungsi pendidikan, fungsi Kesehatan, fungsi sosial dan fungsi Kesehatan. Menurut Yusuf & Suhendar (2007) cara melakukan tindakan preservasi secara preventif adalah: “Membersihan secara rutin seluruh perabotan dan perlengkapan perpustakaan, termasuk keadaan ruangan yang harus selalu dalam keadaan bersih; memberi sampul setiap buku yang dimiliki oleh perpustakaan; membersihkan koleksi buku dan lainnya dengan menggunakan komoceng atau kain lap yang bersih; memberi peringatan kepada para pengguna agar secara bersama-sama turut menjaga kebersihan dan kelestarian perpustakaan; memasang simbol-simbol peringatan di ruang perpustakaan agar pengunjung menjaga kebersihan dan keamanan; dan tetap menjaga kerapian letak buku-buku atau koleksi perpustakaan, termasuk perlengkapan dan perabot agar selalu dalam keadaan siaga layan”. Video Instruksional Video sebagai media instruksional dapat menunjukkan cara penggunaan suatu produk tahap demi tahap dan sekaligus menggugah perasaan dan menarik minat dengan tujuan terjadi perubahan perilaku (Laura, 2002). Hal ini cocok dengan apa yang ingin penulis lakukan, yaitu memberikan edukasi terkait tata cara melakukan tindakan preservasi preventif media informasi. Video ini dipublikasikan melalui media massa Youtube, maka otomatis bahasa dan juga penyampaian yang ada harus semudah mungkin untuk dapat dipahami oleh khalayak. Tahapan terbentuknya ide pembuatan karya video instruksional ini terdapat pada alur sebagai berikut. Gambar 1. Alur Kerja Pembuatan Karya Sumber: Olahan peneliti, 2023

Method

Pembuatan tugas akhir karya ini menggunakan paradigma konstruktivis. Menurut Piaget (1971), konstruktivis adalah kemampuan seseorang dalam memahami ilmu pengetahuan sesuai dengan kematangan intelektualnya yang dibangun melalui asimilasi dan akomodasi. Jenis pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Menurut Moleong (2019), pendekatan kualitatif bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, motivasi, tindakan, dan lain-lain. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Menurut Sugiyono (2018) Observasi adalah suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu (Sugiyono, 2018).

Result & Discussion

Pembuatan video instruksional ini menggunakan model perilaku informasi dan model perilaku pencarian informasi Wilson. Menurut Wilson (1999) perilaku pencarian informasi muncul sebagai konsekuensi dari kebutuhan yang dirasakan oleh pengguna informasi. Gambar 2. Model Perilaku Informasi Wilson Sumber: Wilson, 1999 Dalam konteks tugas akhir perpustakaan ini, informasi yang diberikan dalam video instruksional diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pustakawan dalam mengatasi permasalahannya, yaitu kerusakan koleksi perpustakaan. Hal ini dikarenakan kebutuhan informasi pada manusia menurut Katz, Gurevitc, dan Haas (Indah & Kurniawan, 2014), meliputi kebutuhan kognitif yang berkaitan dengan penambahan pengetahuan seseorang terhadap sesuatu hal. Gambar 3. Model Perilaku Pencarian Informasi Wilson (1981) Sumber: Wilson, 1981 Penulis mengkolaborasikan kedua model perilaku informasi Wilson ini menjadi sebuah kerangka berpikir dari terciptanya karya video instruksional ini, yang akan dibahas dan dijelaskan pada bagian analisis karya. Dari kedua model yang dipaparkan oleh Wilson, untuk tugas akhir karya ini, kedua model tersebut digabungkan sehingga menjadi kerangka berpikir sebagai berikut: Gambar 4. Kerangka Berpikir Karya Sumber: Olahan peneliti, 2023 Kerangka berpikir tersebut menjelaskan bahwa pustakawan sebagai pengguna informasi memiliki kebutuhan informasi mengenai bagaimana cara melakukan tindakan pelestarian koleksi perpustakaan, khususnya praktik preservasi secara preventif. Dalam konteks tugas akhir video instruksional ini, kebutuhan tersebut berdasar pada kondisi lingkungan yang ada di perpustakaan dengan banyak ditemukannya kerusakan yang terjadi pada koleksi perpustakaan. Pertukaran informasi harus dilakukan melalui media karya video instruksional preservasi koleksi perpustakaan, sehingga dengan adanya pertukaran informasi tersebut dapat terbentuk kepuasan pemustaka yang sudah dapat mempraktikkan tindakan preservasi untuk mencegah kerusakan pada koleksi perpustakaan. Pada dasarnya, tugas akhir karya video instruksional tindakan preservasi preventif koleksi perpustakaan ini memperkuat aksesibilitas informasi bagi masyarakat dan memperbaiki ketersediaan koleksi perpustakaan yang dapat memenuhi kebutuhan informasi penggunanya. Dengan mempertahankan dan melestarikan koleksi perpustakaan tersebut, kebutuhan informasi masyarakat dapat terpenuhi dengan lebih mudah dan efektif. Sinopsis tugas akhir karya video ini adalah “Perpustakaan merupakan suatu tempat yang didalamnya berisi banyak informasi yang berharga dan berpengaruh untuk kemajuan umat manusia. Informasi tersebut terkandung didalam koleksi perpustakaan yang salah satunya adalah buku. Tentunya karena informasi tersebut memiliki kandungan nilai yang tinggi maka koleksi perpuskaaan harus dijaga agar dapat digunakan dalam waktu yang lama. Untuk menjaga koleksi perpustakaan agar tetap utuh, tidak dapat dilakukan secara sembarang, ada teknik dan keterampilan tertentu yang harus dilakukan. Mulai dari proses awal, yaitu penyian gan (Weeding) untuk menyortir buku mana yang sudah terlihat usang, kemudian selanjutnya ada proses preservasi sebagai tindakan pencegahan, kemudian ada proses konservasi sebagai tindakan perawatan, kemudian ada proses restorasi sebagai tindakan pembaharuan dan yang terakhir ada proses digitalisasi sebagai tindakan alternatif agar koleksi perpustakaan dapat terhindar dari kerusakan.” Setelah melewati proses yang panjang, video instruksional ini mendapatkan feedback yang sangat baik dari penonton di platform Youtube. Sejauh ini per tanggal 11 Mei 2023, video tersebut sudah diputar 1.925 kali, dan mendapat lebih dari 190 komentar dan 485 suka. Analisis SWOT Tabel 1. Analisis SWOT Strengths Weaknesses Opportunities Threats Penjelasan teori praktik disampaikan dalam bentuk video. Penyampaian materi sebagai landasan praktik kurang lengkap, dipangkas untuk meminimalisir video yang terlalu panjang. Menjadi salah satu video pelestarian koleksi perpustakaan yang banyak ditonton karena disampaikan secara menarik dan tertata rapi. Minat terhadap koleksi buku cetak semakin berkurang seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi. Isi video penjelasan disajikan secara lengkap dan ringkas Tidak semua orang di dalam video ikut berbicara. Pengemasan video yang mengikuti perkembangan zaman dengan editing yang tidak membosankan. Citra perpustakaan yang kurang dikenal masyarakat menyebabkan kurangnya minat penonton. Penyampaian step-by-step memudahkan audience untuk memahami dan mempraktikkan kembali. Gaya penyampaian melalui voice over, seharusnya bias secara live action dilakukan talent. Disampaikan oleh anak muda, mematahkan stigma masyarakat bahwa pengelola perpustakaan. hanya untuk kalangan tua. Sumber: Olahan Peneliti, 2023 Umpan Balik Karya Menurut Fahlevi, dkk (2023), feedback atau umpan balik adalah informasi tentang perilaku masa lalu, disampaikan sekarang, yang mungkin memengaruhi perilaku pada waktu yang akan datang. Umpan balik lebih bersifat umum dan dimaknai dengan sensori informasi yang diterima oleh seseorang sebagai hasil respons atas informasi yang diterima. Dalam tugas akhir video ini, setelah dipublikasikan melalui Youtube, banyak umpan balik yang masuk, baik itu melalui suka ataupun komentar. Hampir 100% komentar yang ada merupakan umpan balik yang positif. Untuk sampel komentar yang ada adalah sebagai berikut. Tabel 2. Survei Kepuasan Karya Nama Asal Instansi Umpan Balik Cucu Yulianti UPT Perpustakaan Pusat Universitas Islam Nusantara Sangat bermanfaat, yang tadi malas tuntuk melakukan tindakan pelestarian koleksi, setelah melihat video itu jadi lebih peduli lagi, tapi karena kurang sdm nya jadi ga pernah melakukan tindakan preservasi. Melisa SR Perpustakaan Ajip Rosidi Video ini bermanfaat dalam memberikan infomasi, baik informasi secara umum terkait perpustakaan dan informasi spesifik terkait perawatan koleksi perpustakaan. Hal ini didukung dengan cara penyampaian informasi tidak hanya menggunakan satu metode, yaitu penjelasan. Tapi juga menggunakan metode peragaan yang membantu penonton untuk lebih memahami penjelasan yang diberikan. Kualitas video baik dalam aspek visual dan audio juga baik dan mendukung penyampaian informasi. Footage yang digunakan untuk mendukung penjelasan juga dalam keadaan baik dan memiliki korelasi yang sesuai dengan informasi yang disampaikan. Eti Sumiati, S,Sos, MM Perpustakaan IPDN Sangat Bermanfaat. Rani Prastuti Perpustakaan SMKN 7 Baleendah Bermanfaat, karena menambah pengetahuan saya tentang perpustakaan dan permasalahan yang dihadapinya. Titin Perpustakaan ISBI Sangat bermanfaat,informasi yang disampaikan sangat jelas baik secara visual mauoun penjelasannya. Sumber: Olahan Peneliti, 2023

Conclusion

Tugas akhir video ini merupakan sebuah aset pengetahuan penting dan informasi yang bisa menjelaskan bagaimana cara melakukan pelestarian koleksi perpustakaan. Tugas akhir video ini berhasil menerapkan model perilaku informasi Wilson dan dapat memenuhi 6 aspek kebutuhan informasi yang ada yaitu untuk memenuhi tugas, memecahkan masalah, membuat keputusan, memuaskan rasa ingin tahu, membangun hubungan, dan memperbarui pengetahuan. Selain itu, dengan paradigma konstruktivis Piaget yang digunakan, video instruksional ini secara tidak langsung membangun pola pikir masyarakat agar selalu senantiasa merawat dan melestarikan koleksi perpustakaan, dibuktikan dengan banyak komentar yang menyatakan bahwa audience jadi tersadarkan untuk menjaga koleksi buku yang dimilikinya. Adapun beberapa saran yang dapat diberikan penulis yaitu, kegiatan yang dilakukan pustakawan dalam melestarikan koleksi perpustakaan harus masif dilakukan agar koleksi perpustakaan tetap terjaga dan lestari.