Pemetaan Bibliometrik Berbasis Co-Word Tentang Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Di Indonesia
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Di Indonesia, literasi Informasi menunjukkan tanda yang memprihatinkan. Programme for International Student Assessment (PISA) dalam penelitiannya yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2010 mengungkapkan bahwa posisi membaca siswa di Indonesia menempati posisis ke 57 dari 65 negara. Oleh karena itu, melalui Permendikbud Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti dilaksanakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di Indonesia. GLS ini dilakukan dengan pembiasaan kepada siswa untuk membaca buku selain buku pelajaran selama 15 menit sebelum kelas dimulai. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan motivasi siswa sehingga nantinya mencapai literasi informasi yang ideal. Pelaksanaan GLS yang gencar mendorong peneliti untuk mengetahui sudah sejauh mana perkembangan publikasi ilmiah dalam bidang GLS tersebut. Metode penelitian dilakukan dengan pemerolehan data melalui Publish or Perish dan pemetaan bibliometrik dilakukan dengan analisis co-word menggunakan vos viewer. Hasil penelitian ini berupa visualisasi jaringan, visualisasi overlay, dan visualisasi kepadatan dari publikasi ilmiah GLS di Indonesia selama kurun waktu 6 tahun (2015 - 2021).
Abstract
In Indonesia, information literacy shows a worrying sign. The Program for International Student Assessment (PISA) in its research released by the Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) in 2010 revealed that the reading position of students in Indonesia is in the 57th position out of 65 countries. Therefore, through the Minister of Education and Culture of the Republic of Indonesia Number 23 of 2015 concerning the Growth of Character, the School Literacy Movement (GLS) was implemented in Indonesia. This GLS is done by habituating students to read books other than textbooks for 15 minutes before class starts. This is intended to increase student motivation so that later they achieve ideal information literacy. The intensive implementation of the GLS encourages researchers to find out how far has the development of scientific publications in the field of GLS been. The research method was carried out by obtaining data through Publish or Perish and bibliometric mapping was carried out by co-word analysis using the vos viewer. The results of this study are network visualization, overlay visualization, and density visualization from GLS scientific publications in Indonesia for a period of 6 years (2015 - 2021).
Keywords:
pemetaan bibliometrik
· co-word
· gerakan literasi sekolah
· vos viewer
Introduction
Gerakan literasi memang sudah lama digaungkan kepada masyarakat dunia, terlebih UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization ) sebagai organisasi bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sudah berusaha menyebarkan misi literasi global sejak tahun 1946 (UNESCO). Adapun UNESCO memodifikasi pengertian literasi yang tadinya diartikan sebagai seperangkat keterampilan dalam membaca, menulis, dan menghitung menjadi seperangkat keterampilan dalam mengidentifikasi, memahami, menginterpretasikan, menginovasikan dan mengkomunikasikan informasi. Definisi tersebut menunjukkan bahwa literasi informasi bukan lagi hanya sekedar aktivitas membaca, menulis dan menghitung saja, akan tetapi jauh kepada bagaiamana pengimplementasian atas informasi yang diperoleh dari aktivitas yang telah disebutkan sebelumnya hingga membuat seseorang dapat memahami, mengolah, sampai menyebarluaskan informasi kepada orang lain. Lebih jauh, Bundy (2004) mengatakan “information literacy is the foundation for the independent learning and lifelong learning." (Ranaweera, 2008). Pernyataan Bundy tersebut mengekspresikan betapa pentingnya kemampuan literasi informasi dalam pembelajaran mandiri dan pembelajaran berkelanjutan yang pada saat itu bahkan informasi masih belum sangat deras dan belum menjadi komoditas utama dalam kehidupan Masyarakat. Hakikatnya, literasi informasi memang sangat diperlukan oleh masyarakat untuk menjadi seseorang yang mandiri dan memberdayakan diri sebab keterampilan literasi informasi membuat seseorang lebih mudah dalam pencarian dan pemerolehan informasi untuk memenuhi kebutuhannya. “Information literacy helps us in our day - to - day life. Information literacy skills are of prime importance in order to achieve everybody's academic goals. Truly information literacy is the foundation of the democratic society .” (Ranaweera, 2008). Mendukung pernyataan sebelumnya, Ranaweera mempertegas bahwa keterampilan literasi informasi membantu seseorang dalam aktivitas keseharian, mendorong pencapaian tujuan akademik, dan menjadi dasar dalam pembentukan masyarakat yang demokratis. Namun, literasi Informasi di Indonesia menunjukkan tanda yang memprihatinkan. UNESCO mengungkapkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 % atau hanya ada 1 orang yang gemar membaca dari 1000 orang Indonesia (Devega, 2017). Programme for International Student Assessment (PISA) dalam penelitiannya yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2010 mengungkapkan bahwa posisi membaca siswa di Indonesia menempati posisis ke 57 dari 65 negara (Yulaningsih, 2014). Pada 2012, dalam penelitian yang sama menunjukkan bahwa budaya literasi informasi Indonesia menempati posisi ke 64 dari 65 negara yang berpartisipasi (Yulaningsih, 2014). Artinya, budaya literasi informasi masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Oleh karena itu, pemerintah akhirnya mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti untuk mewujudkan sekolah sebagai sarana yang nyaman bagi siswa. Permendikbud dilakukan dengan pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bagi para siswa. Adapun GLS merupakan suatu kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan seluruh elemen mulai dari warga sekolah (siswa, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, dan orang tua), akademisi, media massa, penerbit, masyarakat serta pemangku kepentingan di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menegah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Sari, 2018). Praktik GLS dilakukan melalui pembiasaan kepada siswa untuk membaca buku selain buku pelajaran selama 15 menit sebelum kelas dimulai. Hakikatnya, praktik kegiatan ini untuk pembelajaran, pembiasaan dan pemberian motivasi agar mendorong peningkatan budi pekerti siswa dengan membaca sehingga nantinya memungkinkan para siswa memiliki keterampilan literasi informasi yang tinggi dan dapat bersaing dengan negara-negara lainnya (Khoeriyah, Indah & Syam, 2021). Pelaksanaan GLS bagi siswa akhirnya semakin digencarkan pada seluruh sekolah di Indonesia yang mana bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan literasi informasi siswa Indonesia. Maka dari itu, muncul penelitian-penelitian yang mengkaji tentang bagimana implementasi GLS bagi siswa sehingga nantinya akan diketahui bagaimana GLS tersebut berkaitan dengan literasi informasi siswa. Adapun penelitian dengan penerbitan melalui publikasi-publikasi ilmiah pada dasarnya dilakukan untuk mengetahui, menilai dan mengevaluasi keefektifan penerapan dari GLS tersebut dan keterkaitannya dengan literasi informasi siswa. Karenanya, penelitian pemetaan bibliometrik terkait publikasi ilmiah GLS di Indonesia sangat menarik untuk dilakukan guna mengetahui sudah sejauh mana perkembangan publikasi ilmiah di bidang tersebut dalam kurun waktu 6 tahun (2015 – 2021). Nantinya, penelitian ini bisa menjadi informasi dan referensi baru bagi penelitian lainnya yang masih berkaitan. Penelitian tentang rekan gerakan literasi sekolah (GLS) ini penulis menggunakan pendekatan bibliometrika. Adapun mengenai konsep bibliometrika dapat dipahami sebagai pengaplikasian metode matematika dan statistika untuk mengetahui perkembangan dan penyebaran pengetahuan serta informasi dalam proses komunikasi. Pernyataan tersebut berdasarkan pernyataan Pritchard yang menjelaskan bibliometrik sebagai bentuk pengaplikasian metode matematika dan statistika dalam buku dan media komunikasi lainnya. Berkaitan dengan hal ini Glanzel (2003) dalam (Tupan et al., 2018) membagi bibliometrik ke dalam tiga komponen, mulai dari bibliometrics for bibliometricians untuk riset atau penelitian, bibliometrics for scientific disciplines (scientific information) untuk riset kuantitatif yang berfokus pada penelusuran informasi, dan bibliometric for science policy and management (science policy) untuk evaluasi riset. Hakikatnya, bibliometrik mempelajari secara kuantitatif terhadap media komunikasi yang terekam, seperti pada buku, laporan penelitian, majalah ilmiah, dan lain-lain untuk mengukur relevansi antar dokumen. Kajian bibliometrika yang diaplikasikan berguna untuk mengevaluasi layanan-layanan yang dimiliki oleh perpustakaan, menciptakan pedoman pengembangan koleksi, pedoman perbaikan, mengatasi permasalahan dengan mengambil keputusan, dan juga mengukur kualitas penelitian. Tujuan dari bibliometrika adalah untuk mengidentifikasi kutipan berdasarkan hipotesis pengarang di dalam literatur yang begitu bernilai. Adapun kajian dalam bibliometrika dibagi ke dalam kajian deskriptif dan kajian evaluasi. Perbedaannya terletak dari aspek perhitungan yang dilakukan. Kajian deskriptif memperhitungkan produktivitas dari literatur, sedangkan kajian evaluasi memperhitungkan penggunaan dan pemanfaatan dari literatur. Oleh sebab itu, bibliometrika mencakup studi terkait produktivitas pengarang literatur dan lembaga, pengarang dan artikel, indeks sitiran, faktor dampang pengarang, himpunan jurnal, laporan jurnal sitiran. Dari cakupan tersebut nantinya di dalam bibliometrika dibahas perihal rumus-rumus yang relevan, mulai dari rumus paro hidup literatur , co-citation , hukum lotka, kolaborasi pengarang, hukum zift, dan lain-lain. Berikut adalah bidang yang mengimplementasikan teknik bibliometrik, meliputi menganalisis majalah ilmiah dalam perspektif ilmu yang berbeda, memprediksi kepadatan majalah, mengelola arus informasi, menyebarluaskan literatur, memprediksi produktivitas pengarang, dan lain-lain. Kemudian mengenai analisis Co-word merupakan analisis co-occurence yang dilakukan dari dua kata kunci atau lebih dalam sebuah teks untuk mengindeks artikel dan dokumen (Farida & Firmansyah, 2020). Tupan (2016) menjelaskan bahwa pengulangan kata dalam sebuah dokumen dapat menentukan interelasi dan pengelompokan ( clustering ) kata. Analisis Co-word ini merupakan salah satu bentuk dalam melakukan pemetaan pengetahuan. Pemetaan pengetahuan dilakukan guna memperoleh visualisasi yang terstruktur dan makna keterkaitan dari suatu bidang dengan bidang lainnya yang saling signifikan. Sedangkan Vos viewer adalah program komputer yang dikembangkan untuk menciptakan dan mengetahui peta bibliometrik (van Eck & Waltman, 2010). Adapun pengaksesan Vos viewer secara gratis dapat mendorong kemudahan pengguna dalam mengaksesnya sehingga program Vos viewer ini dapat digunakan secara optimal melalui pembentukan peta penulis ataupun jurnal yang didasarkan pada data co-citation dan pembentukan peta kata kunci yang didasarkan pada co-occurance . Selanjutnya, Vos viewer memiliki fungsi yakni dapat memperbesar dan memperkecil, menemukan dan memeriksa peta secara terperinci yang nantinya akan memunculkan hasil berupa visualisasi jaringan (network visualization), visuailisasi overlay (overlay visualization ), dan juga visualisasi kepadatan ( density visualization ). Ada beberapa tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui perkembangan publikasi ilmiah penelitian tentang gerakan literasi sekolah di Indonesia selama rentang 6 tahun yakni tahun 2015 - 2021), serta untuk mengetahui kecenderungan topik penelitian di bidang gerakan literasi sekolah berdasarkan analisis co-word untuk menjadi referensi penelitian di masa mendatang terkait bidang gerakan literasi sekolah atau bidang lainnya yang masih berkaitan. Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2020) menyebutkan jika program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai sebuah gerakan yang bertujuan untuk menumbuhkembang-kan kebiasaan membaca di lingkungan sekolah. Hasil dari GLS diharapkan mampu membekali pesertadidik dengan kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Tujuan khusus dari gerakan literasi sekolah adalah (1) menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis siswa di sekolah, (2) meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar menjadi lebih literat, (3) menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak, agar warganya mampu mengelola pengetahuan, dan (4) menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca (Kemdikbud dalam Afifah, Erwina & Rohman, 2020).
Method
Penelitian ini menggunakan data primer berupa data publikasi ilmiah penelitian tentang gerakan literasi sekolah di Indonesia dalam kurun waktu 6 tahun (2015 – 2021) yang diperoleh berdasarkan data google scholar melalui Publish or Perish. Kemudian, data di kumpulkan dengan cara melakukan pencarian kata kunci atau keywords gerakan literasi sekolah dan Indonesia dalam kurun waktu 6 tahun (2015 – 2021) dalam Publish or Perish sebagai berikut. Gambar 1. Metode Penelusuran Penelitian Gerakan Literasi Sekolah di Indonesia Sumber: Penulis, 2022 Dari metode tersebut, diperoleh data sebanyak 977 publikasi, yang terdiri dari total publikasi pertahunnya, penulis, judul publikasi ilmiah terkait dengan gerakan literasi sekolah di Indonesia, tahun publikasi, tempat karya ilmiah dipublikasikan, penerbit dan tipe file dari publikasi. Selanjutnya, Data yang telah diperoleh diolah ke dalam Vos viewer untuk didapatkan hasil pemetaan dari bidang tersebut.
Result & Discussion
Berdasarkan pemeroleh data yang dilakukan dengan melakukan pencarian kata kunci berupa Gerakan Literasi Sekolah dan Indonesia melalui Harzig Publish or Perish, diperoleh data sebanyak 977 publikasi ilmiah dalam kurun waktu 6 tahun (2015 – 2021). Data tersebut kemudian disimpan ke dalam tipe file RIS (Research Information System) guna diproses ke dalam Vos viewer untuk pemetaan penelitian pada bidang tersebut. Di dalam Vos viewer dibuatlah pemetaan dengan cara memilih tipe data pemetaan sesuai yang diinginkan. Sebab penelitian ini menggunakan analisis Co-word berupa analisis co-occurence dari kata kunci publikasi ilmiah, maka dipilihlah opsi create a map based on text data. Lalu, dipilih sumber data yang sesuai dengan data yang dimiliki. Sumber data yang miliki adalah file yang bertipe RIS sehingga opsi yang dipilih yaitu Read data from reference manager files . Selanjutnya, pilihan bidang yang ingin diekstrak ditampilkan dengan memutuskan pada opsi title and abstact file. Metode perhitungan kemudian ditampilkan, penetapan minimum jumlah co-occurrence dilakukan dan pemilihan jumlah angka yang relevan ditetapkan. Setelah itu, akan ditampilkan hasil penyeleksian dari proses yang telah dilakukan sebelumnya dan pada tahap ini data yang tidak relevan dengan kata Gerakan Literasi Sekolah dan Indonesia dieliminasi. Terakhir, proses tersebut akan menampilkan data visualisasi jaringan ( network visualization ), visualisasi overlay ( overlay visualization ), dan juga visualisasi kepadatan ( density visualization ) sebagai berikut . Visualisasi Jaringan (Network Visualization) Publikasi Ilmiah Gerakan literasi Sekolah di Indonesia Gambar 2. Visualisasi Jaringan Gerakan Literasi Sekolah di Indonesia Sumber: Penulis , 2022 Visualisasi jaringan atau network visualization dalam publikasi ilmiah terkait gerakan literasi sekolah di Indonesia ditampilkan dalam gambar 2 di atas. Adapun jaringan gerakan literasi sekolah ini terbagi menjadi 7 warna yang melambangkan cluster dalam bidang tersebut yakni warna merah, hijau, biru tua, kuning, ungu, biru muda, dan oren. Warna merah melambangkan cluster pertama yang terdiri dari evaluasi program gerakan literasi, gerakan literasi nasional, gln, education, literacy, literacy movement, schoo l literacy movement, school, interest, model . Warna hijau melambangkan cluster kedua yang terdiri dari gerakan literasi sekolah, GLS, sekolah, literasi sekolah, program gerakan literasi sekolah, kebijakan gerakan literasi, implementasi program gerakan literasi sekolah, pelaksanaan program gerakan literasi sekolah, SMP Negeri, SMA Negeri. Warna biru tua melambangkan cluster ketiga yang terdiri dari analisis pelaksanaan gerakan literasi sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, masyarakat Indonesia. Warna kuning melambangkan cluster keempat yang terdiri dari budaya literasi, implementasi gerakan literasi sekolah , International Student Assessment, PISA. Warna ungu melambangkan cluster kelima yang terdiri dari minat, membaca, pengaruh gerakan literasi sekolah. Warna biru muda melambangkan cluster keenam yang terdiri dari gerakan literasi, kemampuan literasi, pemerintah, sdn. Warna oren melambangkan cluster ketujuh yang terdiri dari literasi perpustakaan. Visualisasi jaringan dengan penggunaan warna yang kontras ini dapat membantu untuk lebih memahami antar cluster yang satu dengan cluster lainnya. Rincian kata yang dikelompokkan di dalam cluster menunjukkan bahwa kata-kata yang berada dalam cluster tersebut berdekatan dan berkaitan dengan gerakan literasi sekolah. Adapun terdapat 541 jaringan yang saling terhubung dalam kata-kata tersebut. Visualisasi Overlay (Overlay Visualization) Publikasi Ilmiah Gerakan Literasi Sekolah di Indonesia Gambar 3. Visualisasi Overlay Gerakan Literasi Sekolah di Indonesia Sumber: Penulis , 2022 Visualisasi overlay yang dapat dipahami adalah penggambaran publikasi karya ilmiah berdasarkan waktu diterbitkannya. Hasil visualisasi overlay yang ditampilkan pada gambar di atas menunjukan bahwa publikasi ilmiah yang terkait gerakan literasi sekolah ini diterbitkan dalam kurun waktu semenjak tahun 2018 - 2019. Publikasi ilmiah yang diterbitkan belum lama ini disimbolkan dengan warna kunih cerah, sedangkan publikasi ilmiah yang telah terbit di waktu yang lebih lama ditandakan dengan warna yang semakin gelap . Visualisasi Kepadatan (Density Visualization) Publikasi Ilmiah Gerakan literasi Sekolah di Indonesia Gambar 3. Visualisasi Kepadatan Gerakan Literasi Sekolah di Indonesia Sumber: Penulis, 2022 Visualisasi kepadatan atau density visualization adalah penggambaran terhadap kepadatan publikasi ilmiah dengan kata-kata tertentu guna mengetahui intensitas dari penelitian tertentu. Adapun visualisasi ini digambarkan dengan menggunakan kontas warna gelap dan terang. Pada kasus ini, publikasi ilmiah dengan kata kunci gerakan literasi sekolah menunjukkan warga kuning yang terang. Artinya, kata gerakan literasi sekolah telah banyak dianalisis dan dikaji di dalam penelitian. Adapun kata kunci lainnya yang divisualisasikan dengan warna yang lebih gelap menunjukkan bahwa penelitian dalam bidang tersebut masih sangat lebih minim dibandingkan dengan kata gerakan literasi sekolah sehingga masih sangat berpotensi untuk diteliti dan dikaji lebih dalam.Pemetaan bibliografi dengan analisis Co-word ini menunjukkan bahwa publikasi ilmiah dalam bidang gerakan literasi sekolah sampai saat ini telah banyak dilakukan oleh para penulis di Indonesia. Oleh sebab itu, bidang lain yang berkaitan dengan gerakan literasi sekolah yang masih minim jumlahnya bisa menjadi peluang untuk menjadi opsi penelitian.
Conclusion
Pemetaan bibliometrik dengan analisis co-word pada penelitian Gerakan Literasi Sekolah (GLS) digambarkan dengan visualisasi jaringan, visualisasi overlay , dan visualisasi kepadatan. Di dalam visualisasi jaringan ditampilkan sebanyak 541 jaringan kata kunci atas publikasi ilmiah yang saling terhubung satu sama lain. Hal tersebut menandakan bahwa antar kata ini memiliki kedekatan dengan kata lainnya dan relevansi dalam bidang yang sedang ditelusuri tersebut. Selain itu, ditampilkan 7 jaringan warna yang melambangkan 7 cluster dalam penelitian ini meliputi warna merah melambangkan cluster pertama, hijau melambangkan cluster kedua, biru tua melambangkan cluster ketiga, kuning melambangkan cluster keempat, ungu melambangkan cluster kelima, biru muda melambangkan cluster keenam, dan oren melambangkan cluster ketujuh. Kemudian dalam cluster tersebut terhimpun kata-kata yang saling berdekatan dan berkaitan. Selain itu, dalam visualisasi overlay ditampilkan kontras warna jaringan yang didasarkan pada waktu penerbitan, dimana semakin baru publikasi ilmiah tersebut, warna yang ditampilkan akan semakin cerah dan sebaliknya semakin lama publikasi ilmiah tersebut, warna yang ditampilkan akan semakin gelap. Informasi lain yang terungkap dalam penelitian ini adalah mengenai visualisasi intensitas dari publikasi ilmiah yang didapatkan dari kata gerakan literasi sekolah. Semakin terang visualisasi suatu kata, maka menunjukkan bahwa bidang tersebut intensitas terbitannya sudah sangat banyak. Sedangkan, semakin gelap visualisasi suatu kata yang ditampilkan, artinya publikasi tersebut sangat berpotensi untuk diteliti dan dikaji lebih dalam ke depannya.