Kembali
16
1
2018 Edulibinfo Vol 5 · 1 ISSN 2541-3279

IMPLEMENTASI GERAKAN LITERASI SEKOLAH (Studi Evaluasi tentang Gerakan Literasi Sekolah di SMPN 2 Tarogong Kidul)

Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh persoalan rendahnya minat baca terutama di kalangan siswa. Upaya mengatasi hal tersebut adalah dengan adanya program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di tingkat nasional dan West Java Leader Reading Challenge (WJLRC) di tingkat provinsi. Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh suatu gambaran mengenai pelaksanaan program gerakan literasi sekolah dalam memenuhi tujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa. Penelitian ini mendeksripsikan gambaran perencanaan gerakan literasi sekolah, pelaksanaan gerakan literasi sekolah, keberhasilan gerakan literasi sekolah yang di laksanakan di SMPN 2 Tarogong Kidul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan dan keberhasilan gerakan literasi sekolah apakah sudah sesuai dengan pedoman pelaksanaan gerakan literasi sekolah yang di keluarkan oleh kemendikbud. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan model evaluasi kesenjangan (discrepancy model). Responden dalam penelitian ini adalah satu orang kepala sekolah, satu orang penggerak literasi sekolah, dan siswa anggota West Java Leader Reading Challenge (WJLRC) yang berjumlah 35 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstrukrur, penyebaran angket dan observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa perencanaan gerakan literasi sekolah berada dalam kategori baik, dengan pelaksanaan yang juga berada pada kategori baik sedangkan keberhasilan gerakan literasi sekolah berada pada kategori cukup.

Abstract

This research was based on the problem of the lack of reading interest specifically among the students. This research was intended to obtain an overview of the implementation of the school literacy movement program to fulfill the goal of improving student’s reading and writing skill as well as developing good character. This research describes the overview of the arrangement of the school literacy movement, the implementation of the school literacy movement, and also the success of the movement in SMPN 2 Tarogong Kidul. This study aimed to figure out the planning, the implementation and the success of the school literacy movement, whether it is in accordance with the guidelines for the implementation of the literacy movement in schools issued by the Ministry of Education and Culture. This research is descriptive research with quantitative approach using the evaluation gap model (discrepancy model). The respondents in this research were the principle of the SMPN 2 Tarogong Kidul, one person who is in charge of the school literacy program, and students members of West Java Leader Reading Challenge (WJLRC) which add up to 35 people. The data collection technique used was interview, questionnaire distribution, and observation. Research result shows that the planning of the school literacy movement program was categorized as good; with the implementation of the movement itself was in the same category. While for the success of the school literacy movement program was categorized as adequate.
Keywords: Program evaluation · School Literacy Movement · WJLRC

Introduction

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti menyatakan bahwa sekolah hendaknya memfasilitasi secara optimal agar siswa bisa menemukenali dan mengembangkan potensinya, salahsatunya adalah dengan kegiatan wajib menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari). Kegiatan wajib ini dimaksudkan untuk membiasakan dan memotivasi siswa agar mau membaca dan menulis sebagai upaya menumbuhkan budi pekerti. Pembiasaan lain yang dapat dilakukan diantaranya adalah dengan kegiatan berdoa dan menyanyikan lagu wajib nasional. Pembiasaan-pembiasaan tersebut selain dimaksudkan untuk menanamkan budi pekerti kepada siswa, tetapi juga memberikan pengetahuan dan menumbuhkan rasa nasionalisme, menanamkan norma agama, serta menanamkan minat baca pada siswa, karena minat baca masih menjadi salah satu tantangan terbesar di Indonesia saat ini. Pemerintah Provinsi Jawa Barat (2016) pada launching gerakan literasi leaders reading challenge, Gubernur Deddy Mizwar mengemukakan ‘Bahwa permasalahan pendidikan tidak melulu pada sarana dan prasarana pendidikan, seperti: gedung sekolah, buku perpustakaan dan biaya pendidikan, tetapi ada permasalahan mendasar yang terjadi adalah rendahnya basic literasi, yaitu rendahnya minat baca dikalangan siswa bahkan hingga tingkat mahasiswa.’ Hal tersebut dibuktikan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh PISA (Programme for International Student Assessment) yang diuji oleh OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development) bahwa “kompetensi membaca pada tingkat sekolah menengah belum menunjukan peningkatan yang signifikan, dari 396 di tahun 2012 menjadi 397 poin di tahun 2015.” (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan , 2016). Meskipun mengalami peningkatan, tetapi tingkat indonesia masih di bawah nilai rata-rata OECD yaitu 493, sehingga hal tersebut perlu dijadikan perhatian agar nilai yang telah diperoleh dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan. Dalam menghadapi derasnya arus informasi teknologi, kecakapan literasi dasar merupakan kunci yang sangat penting bagi masyarakat yang literate. Dalam mengembangkan literasi dasar diperlukan peran dari berbagai pihak. Seperti orang tua di rumah, guru-guru di sekolah serta berbagai pihak yang terkait dalam kegiatan formal untuk membiasakan, memperkenalkan dan menyediakan fasilitas seperti buku dan bahan-bahan bacaan lain untuk anak. Dalam upaya penumbuhan minat baca terutama di kalangan siswa, pemerintah melakukan beberapa cara diantaranya dengan adanya program GLS (Gerakan Literasi Sekolah) di tingkat nasional untuk membudayakan literasi siswa. Pelaksaanaan gerakan literasi sekolah dimulai dari tahap pembiasaan membaca. Pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca. Selanjutnya tahap pengembangan melalui kegiatanan menanggapi buku pengayaan dan yang terakhir tahap pembelajaran menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca pada semua mata pelajaran. Selain itu sebagai perwujudan Gerakan Literasi Sekolah di Jawa Barat, program WJLRC (West Java Leaders Reading Challenge) dilaksanakan melalui pembentukan komunitas membaca siswa dengan di bimbing oleh guru di luar jam pelajaran. Aktivitas yang dilakukan siswa pada program WJLRC ini tidak hanya membaca, tetapi juga secara terprogram menulis review buku serta diskusi buku. Berdasarkan survey yang telah dilakukan sebelumnya, melalui data perintis gerakan literasi sekolah yang berada di Kabupaten Garut, SMPN 2 Tarogong Kidul merupakan salah satu sekolah yang telah menerapkan Gerakan Literasi Sekolah sebagai upaya penanaman budaya membaca serta penumbuhan budi pekerti bagi siswa. SMPN 2 Tarogong Kidul ini merupakan salah satu sekolah yang merupakan sekolah perintis literasi di kabupaten Garut. Sekolah ini sudah menerapkan program WJLRC yaitu tantangan membaca 24 buku dalam 10 bulan dan menjadi salah satu sekolah yang terdaftar menjadi peserta jambore literasi Jawa Barat tahun 2017 dengan membawa enam siswa yang menjadi calon penerima medali penghargaan WJLRC karena sudah menaklukan tantangan membaca dan mereview 24 buku dalam 10 bulan. 1. Konsep Literasi Literacy menurut arti katanya dalam bahasa Inggris mengandung makna huruf, melek huruf dan yang berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis. Literasi informasi menurut ALA (American Library Association) dalam Suherman (2013, hlm. 175) adalah “kemampuan yang diperlukan seseorang untuk mengenali kapan informasi diperlukan dan memiliki kemampuan menemukan, menilai, dan menggunakannya secara efektif.” Literasi informasi mencakup berbagai hal darimulai menemukan, mengevaluasi sampai menggunakan informasi tersebut untuk kebutuhan sehari-hari serta sebagai upaya untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Keahlian ini sangat penting bagi semua orang pada era informasi saat ini dimana informasi dari segala bidang tumbuh dan berkembang sangat pesat. Karena itu perpustakaan sekolah sebagai sumber informasi perlu mengambil peranan dalam menerapkan program yang berkaitan erat dengan pengajaran literasi. Literasi perpustakaan didefinisikan sebagai “pembelajaran keterampilan dasar mencari informasi dan mengacu pada kompetensi dalam penggunaan perpustakaan dengan penekanan khusus pada kemampuan untuk membuat keputusan tentang sumber-sumber informasi”. (Septiantono, 2016, hlm 1.31) 2. Gerakan Literasi Sekolah Gerakan literasi sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pembiasaan membaca secara menyeluruh di lingkungan sekolah dengan menyediakan berbagai sumber bacaan dan ilmu pengetahuan dilingkungan sekolah dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dimulai dari kepala sekolah, guru, siswa sampai pada orang tua siswa. West Java Leader Reading Challenge atau disingkat WJLRC merupakan kegiatan pembiasaan membaca melaui pembentukan komunitas siswa membaca dengan dimbimbing oleh guru diluar jam pelajaran. WJLRC merupakan bentuk akselerasi dari GLS. Dalam kegiatan GLS dan WJLRC ini sangat diperlukan peran dari perpustakaan dan pustakawan. Arsidi (2010) menyatakan bahwa sekolah mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembinaan, pembiasaan dan pemberian fasilitas agar minat baca dapat tumbuh dan berkembang secara terus menerus dari waktu ke waktu dengan pemberdayaan perpustakaan. Tugas atau peran pustakawan dalam kegiatan gerakan literasi sekolah diantaranya adalah: a) menyediakan koleksi perpustakaan yang akan digunakan dalam kegiatan membaca oleh siswa b) membantu guru dalam pelaksanaan kegiatan membaca dengan membatu memvalidasi buku yang akan dibaca siswa, apakah sesuai dengan usianya atau tidak c) membantu dalam pelaksanaan kegiatan dengan menyiapkan ruangan perpustakaan yang nyaman dan kondusif sehingga dapat mendukung kegiatan literasi di sekolah d) memberikan motivasi kepada siswa untuk semangat dan konsisten dalam membaca untuk mencapai target tantangan membaca 24 buku dalam waktu 10 bulan e) bekerjasama dengan guru dan semua pihak yang terlibat dalam melaksanakan setiap tahapan kegiatan literasi. 3. Pembentukan Tim Literasi Sekolah Dalam konteks gerakan literasi sekolah, tim literasi sekolah merupakan tulang punggung yang perlu terus di perkuat dan dikembangakan. Pembentukan tim literasi sekolah merupakan tahapan awal yang harus di rencanakan oleh sekolah agar kegiatan gerakan literasi sekolah dapat berjalan dengan baik. Menurut Laksono (2016, hlm.1) Salah satu tujuan yang paling penting dari pelatihan staf untuk pembentukan TLS adalah untuk menjalankan peran mereka sebagai fasilitator yang membantu siswa agar terhubung secara emosi dan pikiran dengan buku Alternatif yang dapat digunakan dalam pembentukan tim literasi sekolah seperti yang disebutkan laksono (2016) diantaranya yaitu Kepala sekolah melakukan pengamatan dengan mencermati para guru yang dirasa dapat menumbuhkembangkan literasi di sekolah. selanjutnya dengan kewenangannya kepala sekolah memilih dan menetapkan tim literasi sekolah yang terdiri atas minimal satu guru bahasa, satu guru mata pelajaran lain, serta satu petugas perpustakaan/ tenaga kependidikan. Selanjutnya tim literasi sekolah yang telah terbentuk ditugasi dengan surat keputusan atau surat penugasan resmi. Kemudian guru yang menjadi tim literasi sekolah diberi kesempatan mengikuti pelatihan atau workshop literasi sebagai wujud pengembangan profesional tentang literasi. Dalam kedudukannya, tim literasi sekolah mempunyai beberapa tugas pokok dan fungsi untuk menumbuhkembangkan gerakan literasi di sekolah. Tugas minimal yang harus dilaksanakan tim literasi sekolah diantaranya adalah merencanakan, melaksanakan, melaporkan, dan melakukan asesmen serta mengevaluasi pelaksanaan gerakan literasi sekolah. 4. Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah Kegiatan WJLRC disekolah dapat terwujud melalui keterlibatan banyak pihak seperti penggerak literasi, perintis literasi (kepala sekolah dan guru pembimbing), siswa, pustakawan, orang tua dan masyarakat. Semua pihak memegang peranan masing-masing dalam keterlaksanaan WJLRC. Kegiatan GLS melalui WJLRC yang berlangsung selama 10 bulan ini tidak hanya membaca, tetapi juga diikuti oleh kegiatan reviu buku serta diskusi buku. Kegiatan membaca buku dimulai pada minggu pertama. Siswa memilih buku yang akan dibacanya, sebelum mulai membaca siswa harus mengkonsultasikan terlebih dahulu buku tersebut kepada guru, pustakawan ataupun orangtua. Minggu kedua siswa menulis reviu dari buku yang telah dibacanya. Siswa dapat mereviu buku dengan berbagai cara, baik itu dengan paparan tiga paragraf yang memuat alasan memilih buku tersebut, ringkasan isi buku, serta hikmah atau amanat yang dapat diambil setelah membaca buku tersebut. Selanjutnya pada minggu ketiga dilakukan diskusi kelompok. Dalam kegiatan diskusi, siswa secara bergiliran menyampaikan isi buku yang telah dibacanya selama 4 menit, setelah itu dilakukan Tanya jawab. Dan pada minggu keempat guru pembimbing melaporkan hasil reviu siswa dan kegiatan yang dilakukan pada website WJLRC. Peserta yang berhasil melaksanakan tantangan membaca 24 buku dalam waktu 10 bulan dan mereviu buku tersebut selama 10 bulan tanpa bolong akan mendapatkan penghargaan medali dan sertifikat pionir WJLRC. 5. Keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah Untuk melihat tingkat keberhasilan gerakan literasi sekolah yang telah dilaksanakan dapat diukur dengan beberapa indikator sesuai dengan buku panduan gerakan literasi sekolah melalui West Java Leader Reading Challenge (2016, hlm. 14) yaitu Pertama, Gerakan membaca menjadi aktivitas keseharian seluruh warga sekolah. Dalam mengukur keberhasilan gerakan literasi sekolah dapat dilihat dari bagaimana gerakan membaca dilaksanakan, dimana aktivitas membaca menjadi aktivitas keseharian di sekolah. Kedua terbentuknya komunitas siswa membaca melalui kegiatan West Java Leader Reading Challenge (WJLRC). ini dapat dilihat dari jumlah siswa yang menjadi anggota komunitas WJLRC yang aktif, meningkatnya jumlah buku yang dibaca dan dibuat reviewnya oleh siswa. Ketiga publikasi tulisan hasil karya literasi siswa dan guru. Hal ini ditunjukan dengan adanya bukti aktivitas literasi siswa dan guru pada website WJLRC. Keempat meningkatnya dukungan orangtua dan masyarakat terhadap gerakan literasi sekolah. Hal ini ditunjukan dengan adanya donasi buku untu sekolah, serta adanya keterlibatan langsung orangtu dan masyarakat dalam kegiatan literasi sekolah. 6. Evaluasi Evaluasi dilakukan untuk menemukan hal-hal yang menjadi masalah dalam sebuah program. Evaluasi adalah “suatu kegiatan yang biasanya dilakukan untuk membuat penilaian terhadap kelayakan suatu perencanaan, implementasi dan hasil suatu program atau kebijakan” (Ali, 2010, hlm. 178). Evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk membuat penilaian atau judgment terhadap beberapa objek ataupun program yang dapat membantu dalam pengambilan keputusan. Discrepancy evaluation merupakan model yang menekankan pada pandangan adanya kesenjangan di dalam pelaksanaan program. Evaluasi ini digunakan untuk mengukur besarnya kesenjangan yang ada di setiap komponen. Ketimpangan-ketimpangan ditentukan dengan mempelajari tiga aspek dari program yaitu masukan, proses, dan keluaran pada setiap tingkat pengembangan program.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif, metode ini digunakan karena ingin mendeskripsikan sejauhmana implementasi mengenai program gerakan literasi sekolah dengan menggunakan model evaluasi ketimpangan. Dengan menggunakan metode ini diharapkan dapat membantu pihak sekolah untuk mengetahui efektivitas program gerakan literasi sekolah dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa. Pada penelitian ini, teknik pengumpulan yang digunakan adalah dengan metode wawancara kepada kepala sekolah dan satu orang guru yang merupakan tim literasi sekolah, penyebaran angket tertutup kepada siswa, serta observasi. Selanjutnya pada tahap analisis data, dilakukan dengan cara menelaah semua data yang diperoleh, Jenis data atau informasi yang diperoleh dapat berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data dari hasil angket dan wawancara serta observasi kemudian dilakukan penskoran atau penilaian. Kemudian hasil penskoran dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif presentase.

Result & Discussion

1. Perencanaan Gerakan Literasi Sekolah Perencanaan gerakan literasi sekolah berdasarkan hasil penelitian berada dalam kategori sangat baik. Hal tersebut diukur dengan dua indikator yaitu pembetukan tim literasi sekolah dan perencanaan pelaksanaan gerakan literasi sekolah. Pembentukan tim literasi sekolah sudah berada dalam kategori sangat baik. Pembentukan tim literasi sekolah merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam pelaksanaan gerakan literasi di sekolah, hal ini dikarenakan tim literasi sekolah berperan sebagai fasilitator yang dapat memberikan petunjuk dan arahan mengenai literasi di sekolah yang dapat dijadikan teladan dalam pelaksanaan kegiatan literasi bagi guru dan pemangku kepentingan lain di sekolah terutama bagi siswa. Tim literasi sekolah terdiri dari minimal satu guru bahasa, satu guru mata pelajaran lain, serta satu petugas perpustakaan atau tenaga kependidikan. Tim literasi sekolah yang telah terbentuk di SMPN 2 Tarogong Kidul terdiri dari satu orang guru bahasa Indonesia, satu orang guru matematika dan satu orang kepala perpustakaan yang juga merupakan guru bahasa Indonesia. Anggota tim literasi sekolah dibekali dengan pelatihan sebagai wujud pengembangan profesional tentang literasi, sehingga dalam pelaksanaan gerakan literasi di sekolah dapat berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Kemudian dalam pelaksanaan tugasnya sebagai pengelola literasi di sekolah, guru yang menjadi tim literasi sekolah ditugasi dengan surat tugas/ surat keputusan dari kepala sekolah meskipun tidak diperhitungkan sebagai tugas tambahan yang dapat dihargai sama dengan jam mengajar. Perencanaan pelaksanaan gerakan literasi sekolah berada dalam kategori baik. Perencanaan gerakan literasi sekolah dimulai dengan menjadwalkan kegiatan membaca selama lima belas menit, seluruh siswa dan guru membaca buku selama limabelas menit sebelum jam belajar dimulai, buku yang mereka baca adalah buku fiksi seperti novel yang dipinjam dari perpustakaan atau membawa sendiri dari rumah. Sebelum melaksanakan program yang dirancang, terlebih dahulu dilakukan sosialisasi mengenai gerakan literasi sekolah. Sosialisasi di lakukan kepada guru, kemudian siswa untuk perekrutan anggota gerakan literasi sekolah West Java Leader Reading Challenge (WJLRC). Kemudian orangtua dari seluruh siswa yang mengikuti kegiatan WJLRC diberikan pengarahan mengenai kegiatan literasi yang akan dilaksanakan. 2. Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah berada pada kategori baik. Gerakan Literasi Sekolah adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Berdasarkan hal tersebut kriteria yang digunakan terkait dengan pelaksanaan gerakan literasi sekolah terdiri dari beberapa indikator yaitu kegiatan membaca, reviu buku dan diskusi. Indikator kegiatan membaca berada pada kategori sangat baik. Kegiatan membaca 15 menit sebelum belajar sudah rutin dilaksanakan setiap hari dengan guru menjadi model. Dalam kegiatan membaca ini, siswa dapat memahami isi buku yang mereka baca, memahami arti dari masingmasing kata dalam bacaan dan dapat mengambil kesimpulan serta hikmah yang di dapat dari buku yang telah dibaca. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Bond dan Wagner yang dikutip Bafadal (2009 hlm. 193) yang menyatakan “membaca adalah proses menangkap atau memperoleh konsep-konsep yang dimaksud oleh pengarangnya, menginterpretasi, mengevaluasi konsep-konsep yang dimaksud oleh pengarangnya, dan merefleksikannya sesuai dengan konsepkonsep tersebut sehingga diperoleh pemahaman yang komprehensif”. Dalam kegiatan membaca, siswa mempunyai jurnal membaca harian yang di isi setiap hari sebagai agenda kegiatan membaca. Dari situ dapat dilihat jangkauan atau kemampuan siswa dalam hal membaca. Untuk memberikan motivasi membaca kepada seluruh siswa, terdapat pohon gelis yang setiap daun dari pohon tersebut adalah nama siswa dan keterangan buku yang telah dibaca sampai tamat. Indikator reviu buku berada dalam kategori baik. Siswa membuat reviu dari buku yang telah dibaca. Untuk memberikan pengetahuan mengenai teknik membuat reviu, siswa diberikan pelatihan dan contoh mengenai teknik reviu buku. Siswa sudah mengetahui berbagai macam bentuk reviu buku dan sudah mampu untuk membuat reviu tanpa bantuan orang lain. Kegiatan reviu ini berkaitan erat dengan menulis. Menulis dapat dijadikan sebagai sarana untuk merekam serta mengungkapkan pikiran dan perasaan ataupun informasi yang ada. Kegiatan reviu buku dapat membuat siswa memahami bacaan dengan lebih mendalam, mengasah kemampuan untuk berpikir kritis dan melatih kemampuan untuk menyampaikan pendapat. Hal tersebut sejalan dengan tujuan dari gerakan literasi sekolah menurut Retnaningdyah, dkk. (2016, hlm. 2) yaitu menumbuhkan budaya membaca dan menulis pada warga sekolah yang berujung pada kemampuan mamahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Indikator diskusi berada dalam kategori baik. Diskusi ini dimaksudkan untuk membiasakan siswa dalam hal berbicara atau menyampaikan gagasannya secara lisan. Siswa berdiskusi mengenai buku yang telah dibaca, siswa menyampaikan hasil yang didapat dari buku telah dibacanya kemudian berdiskusi sehingga siswa dapat menyampaikan pendapatnya secara bebas. Dari sini siswa bisa belajar untuk menerima perbedaan pendapat dan belajar untuk berkomunikasi. Hal tersebut sejalan dengan pandapat Wiedarti, dkk., (2016, hlm.11) yang mengatakan bahwa “Kegiatan diskusi ini dapat membuka kemungkinan untuk perbedaan pendapat sehingga kemampuan berpikir kritis dapat diasah. Darisana siswa dapat belajar untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya, saling mendengarkan, dan menghormati perbedaan pandangan.” 3. Keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah Keberhasilan Geakan Literasi Sekolah berada pada kategori cukup. Berdasarkan buku pedoman pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah melalui West Java Leader Reading Challenge indikator yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan GLS dan WJLRC adalah gerakan membaca menjadi aktivitas keseharian seluruh warga sekolah, terbentuknya komunitas siswa membaca melalui kegiatan west java leader reading challenge, publikasi tulisan hasil karya siswa dan guru, serta meningkatnya dukungan orang tua dan masyarakat terhadap gerakan literasi sekolah. Gerakan membaca sudah berada dalam kategori sangat baik. Kegiatan membaca sudah rutin dilaksanakan setiap hari oleh seluruh siswa dengan guru menjadi model. Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan No.23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti mengatakan bahwa “sekolah hendaknya memfasilitasi secara optimal agar siswa bisa menemukenali dan mengembangkan potensinya, salahsatunya adalah dengan kegiatan wajib menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari).” Selain membaca 15 menit, kegiatan membaca lain yang dilakukan adalah readathon. Readathon dijadwalkan setiap awal bulan pada hari selasa di minggu pertama yang diikuti oleh seluruh warga sekolah dimulai dari kepala sekolah, guru, siswa, dan staf. Dalam kegiatan membaca siswa maupun guru memanfaatkan sarana dan prasarana membaca seperti perpustakaan dan pojok baca yang ada di lingkungan sekolah. Dengan dimanfaatkannya fasilitas seperti perpustakaan ini meningkatkan kunjungan ke perpustakaan. Indikator ini berada dalam kategori cukup. Ini ditunjukan dengan meningkatnya jumlah buku yang dibaca dan dibuat reviunya oleh siswa hal tersebut terlihat pada website literasi, siswa melaporkan reviu yang telah dibuatnya kepada guru lalu guru melaporkan hasil reviu siswa tersebut pada website yang telah disediakan. Dalam hal peningkatan jumlah siswa anggota komunitas WJLRC dan adanya kesinambungan dan keberlajutan kegiatan WJLRC belum terlihat adanya kemajuan atau perkembangan karena sampai saat ini belum dilakukan kembali perekrutan anggota baru dari WJLRC dikarenakan kesibukan pengelola literasi di sekolah. Publikasi tulisan hasil karya literasi berada pada kategori kurang. Aktivitas dan karya literasi siswa pada website WJLRC sudah terlihat, setiap bulan ada hasil reviu siswa yang dilaporkan oleh guru. Sedangkan untuk aktivitas dan hasil karya guru belum terlihat adanya aktivitas. Hal tersebut disebabkan oleh belum adanya kesadaran dari guru-guru untuk menulis. Dalam pelaksanaan gerakan literasi sekolah, guru melaksanakan kegiatan membaca bersama-sama dengan siswa, tetapi setelah itu tidak ada tindak lanjut yang dilakukan seperti membuat reviu mengenai buku ataupun pembuatan artikel oleh guru. Hal tersebut menyebabkan masih belum terlihatnya aktivitas dan publikasi tulisan hasil karya guru yang di pubilkasikan. Untuk mengatasi hal tersebut, sebaiknya sekolah dapat menerapkan program yang hampir sama terhadap guru seperti program yang dijalankan oleh siswa, sehingga guru dapat lebih terprogram untuk menulis, dengan kegiatan membaca dan menulis yang dilakukan oleh guru diharapkan dapat menjadi motivasi dan contoh bagi siswa untuh lebih rajin lagi membaca dan menulis. Keberhasilan gerakan literasi sekolah pada indikator meningkatnya dukungan orangtua dan masyarakat masih berada dalam kategori kurang. Orang tua dalam kegiatan literasi ini mempunyai peran untuk memvalidasi atau memeriksa kesesuaian buku yang akan dibaca oleh siswa. Selain itu orang tua juga memberikan motivasi dan dukungan kepada anaknya untuk menyelesaikan tantangan membaca. Selain orang tua, seharusnya masyarakat juga dapat terlibat dalam kegiatan literasi sekolah, tetapi disini kegiatan literasi yang dilakukan di sekolah belum melibatkan masyarakat sekitar, yang terlibat hanya pihak internal sekolah dan orang tua siswa. Dalam hal ketersediaan buku sebagai penunjang gerakan literasi sekolah, untuk saat ini sekolah hanya mengandalkan pengadaan buku-buku dengan dana dari sekolah. Tidak ada donasi ataupun sumbangan baik dari orangtua, alumni ataupun masyarakat. Tidak adanya sumbangan dari orang tua siswa maupun alumni ini dikarenakan adanya aturan tidak boleh adanya pungutan liar. Pihak sekolah tidak diperbolehkan meminta apapun kepada siswa. Dengan adanya aturan tersebut, sekolah tidak lagi mewajibkan alumni untuk menyumbangkan buku ke perpustakaan ketika mereka lulus dari sekolah seperti sebelum-sebelumnya. Sehingga tidak adanya koleksi yang masuk dari sumbangan orangtua dan hanya mengandalkan dana yang ada di sekolah. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut salah satunya adalah dengan tidak mewajibkan pemberian sumbangan dari alumni, tetapi juga tidak menghentikan. Sumbangan dari alumni kepada sekolah adalah benar-benar karena mereka ingin berkontribusi untuk kemajuan perpustakaan sekolah dengan tidak bersifat memaksa tetapi sesuai dengan keingina dari siswa maupun orang tua siswa sehingga hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai pungutan liar karena sekolah tidak meminta.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa secara umum implementasi gerakan litertasi sekolah di SMPN 2 Tarogong Kidul berada pada kategori baik, artinya kegiatan gerakan literasi sekolah yang dilaksanakan sudah cukup memberikan hasil yang sesuai dengan tujuan dari dilaksanakannya program tersebut, yaitu untuk meningkatkan budaya baca. Hal tersebut ditunjukan dengan ketiga rumusan masalah dimana pada tahap perencanaan sudah sesuai dengan manual pendukung pelaksanaan gerakan literasi sekolah dalam kategori sangat baik. Gerakan literasi sekolah pada tahapan pelaksanaan secara umum sudah berada pada kategori baik, sesuai dengan buku panduan gerakan literasi sekolah. Dan keberhasilan gerakan literasi sekolah berada pada kategori cukup.