PENGEMBANGAN SISTEM LAYANAN PERPUSTAKAAN PADA PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BENGKULU
Universitas Muhammadiyah Bengkulu
Abstrak
KehadiranTeknologiInformasi danKomunikasi mendorong adanya perubahan manajemenorganisasisecarakeseluruhan dan mengubah pendekatan organisasi dalamberhubungan dengan masyarakat.Halinitampak dalamberbagairagamlayananperpustakaanyang dilakukan olehorganisasi pemerintahdanlembaga-lembaganonpemerintah.akses perpustakaan melalui internetkarenasemakin meningkatnyaformat pustaka dalam bentuk elektronik (digital) sehingga menimbulkan perubahan padasistemlayanan perpustakaandalamsegalasegi.Kenyataan ini didukung olehkecanggihanteknologiinformasiyangsemakinluas penggunaannyadan cenderung semakinmurah.Duluberlanggananjurnalcetaksangat mahalmaka sekarang database onlinecenderung lebihmurah.Dengan berlangganan database onlinemaka fasilitasdanoperasionalsistemlayanannyapunberubah. Pustakawanharusberkembangsesuaidengan perubahan. Kirk Hasting(1996) menyebutkanbeberapapersyaratanuntukmenjadi pustakawan digital.Merekaharus membacasecaraterusmenerustetapiselektifdan melakukan eksperimentanpa akhir.Merekaharus mencintai belajar,mampu belajarsendiri,danberani mengambilresiko.Merekaharus memilikikeuletan terhadapteknologi baik potensinyamaupunkesukarannya.Aplikasi SLIMs ( Senayan Library Information Managemnet System)ini sangat membatu para pustakawan dalam melaksanakan tugas di perpustakaan , baik untuk pelayanan peminjaman dan pengembalian buku, untuk membuat laporan kegiatan UPT Perpustakaan seperti statistik kunjungan, laporan peminjaman, statistik anggota perpustakaan, rekap keterlambatan pengembalian
Abstract
The presence of Information Technology and Communication encourages overall organizational management changes and changes the organizational approach in relation to society. Visibility in various service providers is carried out by government organizations and government institutions. Access to the library through the internet increases digital library format, resulting in changes in library service systems in strategic areas. now online databases tend to be cheaper. By subscribing to online databases, facilities and operational services are changed. Librarians must develop according to changes. Kirk Hasting (1996) mentions several requirements to become digital librarians. They must read the literature to produce selective and endless experiments. They should love learning, be able to learn by themselves, and take it seriously. , both for lending and returning books, to make library UPT activity reports such as visit statistics, loan reports, library member statistics, recap of late returns
Keywords:
Service System
· Library
Introduction
Pengembangan layanan perpustakaan harus diawali dengan pengembangan Sumber Daya Manusia yang ada di perpustakaan. Hal ini perlu dilakukan karena saat ini bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Information Technology and Communication) sudah menjadi kebutuhan pokok perpustakaan. Berbagai pendidikan instruksional mengenai literasi informasi yang dikembangkan sebagai sarana pelaksanaan berbagai layanan rujukan, semakin diyakini sebagai suatu mekanisme yang efektif untuk memberikan pemahaman kepada pemustaka mengenai aneka layanan dan sumber daya informasi yang ada diperpustakaan dalam era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Kehadiran Teknologi Informasi dan Komunikasi mendorong adanya perubahan manajemen organisasi secara keseluruhan dan mengubah pendekatan organisasi dalam berhubungan dengan masyarakat. Hal ini tampak dalam berbagai ragam layanan perpustakaan yang dilakukan oleh organisasi pemerintah dan lembagalembaga non pemerintah. Konsekuensinya, perubahan yang terjadi jelasmenuntut kehadiran inovasi dalam mengelola layanan perpustakaan yang disediakan yaitu dari perpustakaan tradisonal menuju perpustakaan digital.Pada awaltahun 1980-an beberapa perpustakaan besar melaksanakan otomasi fungsi-fungsi perpustakaankarena masih mahalnya harga perangkat komputer. Padatahun90-an hampir semua fungsi-fungsi perpustakaan telah diotomasi, serta berkembangnya komunikasi data antar perpustakaan secara elektronik. Pengembangan perpustakaan digital tidak dapat dilakukan secara sembarangan, tetapi perlu suatu formulasi yang terencana dengan rapi. Pengembangan ini menyangkut banyak aspek yang ada diperpustakaan. Formulasi yang dimaksud adalah adanya suatu perencanaan secara menyeluruh terhadap berbagai aspek yang melingkupi suatu perpustakaan. Perencanaan ini diperlukan untuk mentransformasikan sistem dari sistem layanan perpustakaan yang konvensional (tradisional) berbasis koleksi analog ke perpustakaan digital. Pengembangan layananperpustakaan digital perlu mentransformasikan antara lain: formulasi kebijakan, perencanaan strategis, standarisasi, pengembangan koleksi, infrastruktur jaringan, metodeakses, pendanaan, kolaborasi, control bibliografi dan pelestarian untuk menuju keberhasilan dalam pengembangan keformat digital Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan program-program perpustakaan digital. Perpustakaan perlu menyiapkan ruangan yang secara khusus dirancang untuk menyimpan data buku, tulisan, gambar dan suara dalam bentuk elektronik yang dapat diakses menggunakan internet, serta pengalihan dana dari pengadaan bahan pustaka tercetak ke dalam pustaka elektronik (digital). Perubahan model belajar yang selama ini hanya diruang kelas dengan gaya ceramah yang sifatnya tradisional berubah keruang kelas elektronik yang terhubung dengan jaringan komputer dengan perlengkapan multimedia sehingga memungkinkan ‘’sistembelajar jarakjauh’’. Oleh karena itu dibutuhkan pengembangan sistem dan metoda pelayanan perpustakaan yang efisien dan efektif dengan bobot materi informasi yang terpercaya.Semuahal tersebut hendaknya dilakukan oleh instansi/lembaga penyedia informasi secarasi nergi untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap instansi/lembaga penyedia informasi baik dipusat maupun di daerah. Kemajuan Teknologi dan persaingan bisnis memaksa organisasi menata ulang sistem teknologi informasi Organisasi memanfaatkan sistem teknologi informasi (STI) untuk mengimplementasikan strateginya. Tuntutan ketersediaan informasi dalam sebuah sistem informasi berbasis komputer dengan tingkatotomasi yang tinggi Sistem layanan perpustakaan manual dengan penggunaan kertas yang banyak seringkali menyulitkan pengguna akses ibilitas informasi.
Discussion
Pengembangan perpustakaan digital merupakan respon atas lahirnya undang-undang nomor 43/2007 yang bertujuan: 1. Meningkatkan akses kesumberdaya informasi yang tersedia dan layanan perpustakaan yang diselenggarakan oleh perpustakaan yang tergabung dalam jaringan (resourcesharing). Pembangunan perpustakaan digital agar supaya koleksi perpustakaan tersebut cepat dan mudah diakses, ringkasi dalam penyimpanan serta mudah dalam hal penggandaan.Keberhasilan perpustakaan digital dapat diukur dari kemudahan akses bagi penggunanya, bukan sematamata mahalnya pengadaan. Dalam perpustakaan digital yang dikerjakan pustakawan adalah tentang metadata untuk kepentingan pencatatan denganbaik, menyimpan dengan tepat dan menemukan kembali dengan mudah. 2. Menyediakan sumber belajar, mendorong ketersediaan bahan pustaka dan informasi yang mengandung nilai budaya setempat (local content. 3. Melestarikansumber informasi 4. Mendukungpenelitianilmiahmelalui internet. PengembanganLayanan Perpustakaan Dengan memberdayakan perpustakaan secara maksimal, perpustakaan dapat mengembangkan aktivitas dan layanannya dalam segala aspek sebagai suatu bahan kebijakan dalam rangka pengembangan perpustakaan itu sendiri. Perpustakaan kita kenal sebagai tempat peminjaman buku atau pustaka non buku yang dijadikan sebagai suatu ujung tombak pelayanan. Biasanya koleksi yang dipinjamkan adalah koleksi jenis buku dan fiksi yang paling banyak dibutuhkan pemustaka tradisional. Koleksi lain seperti jurnal, hasil-hasil penelitian, referensi, makalah seminar, tesis dan disertasi cenderung diminati oleh pemustaka tertentu. Mereka menggunakan koleksi tersebut dalamrangka menyusun tulisan, melakukan penelitian atau menganalisis kebijakan. Perpustakaan perlu melakukan pengembangan koleksi memperbaiki sistem layanannya serta melakukan promosi perpustakaan secara ekstra. Saat ini fakta menunjukkan bahwa pemustaka lebih suka menggunakan akses perpustakaan melalui internet karena semakin meningkatnya format pustaka dalam bentuk elektronik (digital) sehingga menimbulkan perubahan pada sistem layanan perpustakaan dalam segala segi. Kenyataan ini didukung oleh kecanggihan teknologi informasi yang semakin luas penggunaannya dan cenderung semakin murah. Dulu berlangganan jurnal cetak sangat mahal maka sekarang database online cenderung lebih murah. Dengan berlangganan database online maka fasilitas dan operasional sistem layanannya pun berubah. Perubahan ini harus didukung dengan sumberdaya manusia perpustakaan (Pustakawan) yang lebih kompeten agar dapat memberikan layanan yang baik. Pemberian layanan kepada pemustaka dalam memperoleh informasi dan penggunaan fasilitas perpustakaan dapat dilaksanakan secara manual maupun berbasis teknologi informasi. Layanan secaramanual/ tradisional yaitu pelaksanaan layanan menggunakan perlengkapan nonelektrik (kartu katalog, kartu buku, buku peminjaman dan lain-lain. Layanan berbasis teknologi informasi dalam pelaksanaan memerlukan ketrampilan dan keahlian teknis serta teknologi informasi. Selain keterampilan tersebut juga diperlukan adanya sarana dan prasarana pendukung (perangkat komputer yang meliputi hardware dan software dan segala sarana pendukung lainnya. Sarana seperti perangkat komputer dan sarana pendukungnya berperan sebagai alat untuk mengakses data dan informasi memalui sistem intranet (server lokal) maupun internet (serverweb). Pengembangan layanan berbasis teknologi informasi mempunyai peran yang lebih luas. Pelaksanaan layanan berbasistek nologi informasi melayankan koleksi digital disimpan pada server lokal (client server) sedangkan akses informasi ataudokumen dapat dilakukan di perpustakaan setempat atau melalui jaringan internet (warnet atau wifi). Perpustakaan Digital Perpustakaan Digital merupakan terjemahan langsung dari kata bahasa Inggris Digital Library. Istilah yang digunakan untuk mengungkapkan konsep perpustakaan digital seperti perpustakaan elektronik, perpustakaan maya, perpustakaan hibrida, perpustakaan tanpa dinding danmasih banyaklagi. Sebagaianorang sering menyebut perpustakaan digital dengan istilahvirtual library, electronic library, hybridlibrary dan lain sebagainya. Istilah perpustakaan digital lebih seringdigunakan dalam kegiatan ilmiah dibidangperpustakaan seperti seminar, workshop, simposium atau konferensi. Defisini tentang perpustakaan digital tidaklah seragam. Digital Library Federation (dalam Siregar2009)di Amerika Serikat memberikan defisini perpustakaandigital sebagai organisasi-organisasi yang menyediakan sumber-sumber, termasuk staff dengan keahlian khusus, untuk menyeleksi, menyusun, menginterpretasi, memberikan akses intelektual, mendistribusikan, melestarikan danmenjaminkeberadaankoleksikaryakarya digital sepanjang waktu sehingga kolek sitersebut dapat digunakan oleh komunitas masyarakat tertentu. Romi Satrio Wahono (1999) mendefinisikan perpustakaan digital sebagai suatu perpustakaan yang menyimpan data baik itu buku (tulisan), gambar, suara dalam bentuk file elektronik dan mendistribusikannyadenganmenggunakan protokol elektronikmelaluijaringankomputer.Menurutnya,istilah perpustakaan digital memiliki pengertian yang sama dengan perpuetakaan elektronik (electroniclibrary) danperpustakaanmaya(virtual library). Digitallibraryadalah organisasiyang menyediakansumberdanstafahli untuk menyeleksi,menyusun, menyediakanakses,menerjemahkan, menyebarkan, memeliharakesatuandanmempertahankankesinambungan koleksi-koleksi dalamformat digital sehinggaselalutersediadan mudahuntuk digunakanolehkomunitastertentu. Kompetensi Pustakawan Pustakawan pada awalnya hanya bertugas memberikan layanan sirkulasi dan layanan referensi kepada pemustaka, namun pada masa sekarang ini dibutuhkan pustakawan yang memiliki kompetensi yang menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi. Koleksi digital harus diseleksi, diadakan, diorganisasikan dan dibuat tersedia, serta dipelihara. Pelayanan digital harus direncanakan, diimplementasikan, serta didukung oleh semua unit perpustakaan yang ada. Komputer sebagai peralatan utama dimana perpustakaan digital dibangun, tetapi sumberdaya manusia diperlukan untuk mengintegrasikan seluruhnya dan membuatnya berjalan. Persyaratan umum perpustakaan digital mungkin sama dengan perpustakaan konvensional pada umumnya dimana dalam perpustakaandigital terdapat koleksi, proses pengolahan, layanan, petugas, pengunjung dan lain-lain. Pustakawan digital saat ini menemukan bahwa apa yang mereka lakukanhampir tidak pernah mereka pelajari sewaktu di sekolah dan hanya sedikit familiar dengan lingkungan kerjanya sekarang. Disamping itu, teknologi berkembang pesat yang menyebabkan apa yang dipelajari saat ini akan segera ketinggalan zaman. Oleh karena itu, adalah lebih penting bahwa pustakawan memiliki kualitas personal tertentu daripada memiliki keahlian tertentu yang sebenarnya dapat dipelajari. Pustakawan harus berkembang sesuai dengan perubahan. Kirk Hasting (1996) menyebutkanbeberapa persyaratan untuk menjadi pustakawan digital. Mereka harus membaca secara terus menerus tetapi selektif dan melakukan eksperimen tanpa akhir. Mereka harus mencintai belajar, mampu belajar sendiri, dan berani mengambil resiko. Mereka harus memiliki keuletan terhadap teknologi baik potensinya maupun kesukarannya. Berhadapan dengan perubahan yang terjadi, pustakawan harus memiliki kemampuan untuk melihat apa sesungguhnya yang berubah dan apa yang tetap sama. Nilai dasar profesi pustakawan akan tetap sama, tetapi nilai tersebut diterjemahkan kedalamkegiatan dan operasi mengalami perubahan mendasar. Misi perpustakaan untuk mengumpulkan, mengorganisasikan dan menyediakan akses terhadap sumberdaya informasi tetap relevan, tetapi teknologidan cara untuk melakukannya mengalami perubahan. Pustakawan harus menerima tanggungjawabdan berintegrasi dengan lingkungan jaringan informasi. Internet yang menawarkan cara baru untuk berkomunikasi dan untuk memperoleh akses terhadap berbagai jenis informasi, membuka tantangan baru bagi pustakawan untuk mengeksplorasi dan memanfaatkansum berdaya digital untuk kepentingan pemustaka. Penyediaan sumberdaya informasidigital harus disertai dengan sumberdaya digital yang jumlahdan kecepatan penyebarannya terus meningkat. Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Bengkulu Univeritas Muhammadiyah Bengkulu sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Provinsi Bengkulu yang memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mempunyai kompetensi yang mampu bersaing. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan sistem pendidikan yang mampu menghasilkan output yang memiliki kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat lokal/global melalui pengembangan. Salah satu faktor yang sangat menunjang untuk meningkatkan kualitas lulusan Universitas Muhammadiyah Bengkulu adalah UPT Perpustakaan yang berfungsi sebagai salah satu sarana kelengkapan edukatif dalam melayani civitas akademika Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Tujuan UPT Perpustakaan Unversitas Muhammadiyah Bengkulu adalah menyiapan koleksi baik tercetak maupun digital untuk mendukung proses belajar mengajar mahasiswa dan dosen serta untuk rujukan penelitian dosen. Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan di UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Bengkulu maka pada tahun 2016 UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Bengkulu beralih dari sistem manual menjadi sistem otomasi perpustakaan dengan membuat sistem informasi literature yang baru dengan menggunakan aplikasi SLIMS-7, aplikasi ini dapat membantu dan mempermudah pelayanan dan administrasi serta dapat mempermudah pemustaka dalam mencari literature/ referensi buku secara cepat dan dapat di akses 24 jam. Proses perubahan sistem layanan dari manual ke sistem otomasi perpustakaan memerlukan waktu selama 4 ( empat ) bulan mulai dari proses pendataan koleksi dan keanggotaan perpustakaan serta proses pemasangan barcode pada buku dan kartu perpustakaan. Aplikasi SLIMs (Senayan Library Information Managemnet System)ini sangat membatu para pustakawan dalam melaksanakan tugas di perpustakaan , baik untuk pelayanan peminjaman dan pengembalian buku, untuk membuat laporan kegiatan UPT Perpustakaan seperti statistik kunjungan, laporan peminjaman, statistik anggota perpustakaan, rekap keterlambatan pengembalian dan masih banyak lagi yang ada di aplikasi slims. Dimana sebelum menggunakan aplikasi SLIMs ini semua perkerjaan di perpustakaan dilakukan secara manual, pendataan koleksi dengan mencatat di buku invertaris koleksi, proses playanan oeminjaman dan pelayanan dilakukan dengan manual yaitu pemustaka memberi menunjukan kartu dan koleksi yang akan dipinjam atau dikembalikan kepada pustakawan, terus pustakawan mencatat dan pemberian tanggal stempel tanggal kembali, untuk membuat statistik dilakukan dengan manual sehingga memakan waktu yang lama, setelah UPT Perpustakaan UMB menggunakan teknologi informasi perpustakaan ( SLIMs) perkerjaan pustakawan menjadi sangat terbantu dan pemustaka dapat mencari koleksi melalui OPAC yang bisa di akses 24 jam (kapan pun dan dimana pun) serta berbasis android. Pustakawan Universitas Muhammadiyah Bengkulu untuk mampu menggunakan aplikasi SLIMs ini, dilakukan pelatihan- pelatihan yaitu pelatihan di UPT Perpustakaan Muhammadiyah Yogyakarta dan pustakawan Universitas Muhammadiyah Bengkulu mengikuti pelatihan di Perpustakaan UNISA Yogyakarta yaitu pelatihan aplikasi kitupan dengan Zotero, seminar di Universitas Muhammadiyah Malang dan sosialisasi dengan UPT Batik Universitas Muhammadiyah Bengkulu, sehingga dengan pelatihan ini pustakawan mampu mengoperasikan aplikasi slims dan mengatasi jika terjadi sistem error. Pustakawan Universitas Muhammadiyah Bengkulu sekarang ini tidak hanya melayani peminjaman buku, pengembalian buku, pengolahan buku, tetapi pustakawan Universitas Muhammadiyah Bengkulu sekarang menjadi fasilitator kelas literasi imformasi yaitu memberi pelatihan kepada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu tentang mengakses koleksi digital, akses jurnal nasional, internasional dan akses e-books serta memberi pelatihan tentang aplikasi kutiban ( Aplikasi Zotero). UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Bengkulu sudah terdaftar di Indonesia One search (IOS) sehingga koleksi dan refository Universitas Muhammadiyah Bengkulu bisa di akses secara online.
Conclusion
Dari pembahasan diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan, bahwa perpustakaan saat ini mengalami perubahan dalam sistem layanannya. Pelayanan perpustakaanlebih dititik beratkan pada sistem temu kembali informasi secara elektronik (digital). Penerapan teknologi informasi dengan sistemjaringanperp ustakaan(library network) menunjukkan bahwabegitu banyak kemudahan yang diberikan kepada pengguna untuk mengakses informasi digital yangadadiperpustakaan dengan menggunakan aplikasi SLIMs (Senayan Library Information Managemnet System). Perpustakaan digital sebagai sarana untuk menyimpan, mengemas, mendistribusikan informasi agar mampu beradaptasi dieraglobalisasi untuk memenuhi kebutuhan pemustaka secara akurat, cepat dan relevan.Untuk itu, pustakawan diharapkan mampu segera mengambil prakarsa untuk mengelola informasi danpengetahuan. yang ada dilingkungannya masing-masing serta mengembangkan sistem untuk mendukung pembelajaran, organisasi, penelitian.