Kembali
16
1
2024 Al Maktabah: Jurnal Kajian Ilmu dan Perpustakaan Vol 9 · 1 ISSN 2657-2346

Tren Penelitian Knowledge Sharing di Perpustakaan Perguruan Tinggi

Universitas Indonesia; Universitas Indonesia

Abstrak

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui peta perkembangan mengenai knowledge sharing di perpustakaan perguruan tinggi. Kajian dilakukan pada bulan Desember 2022 dengan cara melakukan penelusuran melalui database Scopus dengan kata kunci knowledge sharing dan university library. Data hasil penelusuran tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif berdasarkan tahun terbit publikasi, negara yang mempublikasikan perkembangan hasil penelitian, dan subjek penelitian. Untuk mendapatkan peta perkembangan penelitian, data tersebut dieskpor ke dalam format file Comma Separated Values (CSV). Data hasil ekspor kemudian diolah dan dianalisis menggunakan program aplikasi VOSViewer untuk mengetahui peta bibliometrik perkembangan penelitian mengenai knowledge sharing di perpustakaan perguruan tinggi dan tentunya memberikan mengenai topik penelitian mengenai Knowledge Sharing di Perpustakaan Perguruan Tinggi yang dapat diteliti di masa depan.

Abstract

This study aims to determine the development map regarding knowledge sharing in the university library. The research was conducted in December 2022 by searching through the Scopus database with the keywords knowledge sharing and university library. Data from search results were analyzed descriptively based on the year of publication, the country that published the progress of the research results, and the research subjects. To obtain a research development map, the data is exported into a Comma Separated Values (CSV) file format. The export data is then processed and analyzed using the VOSViewer application program to find out a bibliometric map of research developments regarding knowledge sharing in university libraries and of course provide research topics regarding Knowledge Sharing in University Libraries that can be researched in the future.
Keywords: knowledge sharing · university libraries · perpustakaan perguruan tinggi · knowledge management

Introduction

Pengetahuan adalah aset yang berpengaruh dan kuat dalam organisasi dan harus dikelola dan dibagikan. Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam mengelola pengetahuan, seperti faktor manusia dan faktor lain seperti teknologi dan budaya organisasi1 . Secara khusus, penggunaan teknologi informasi untuk pengelola informasi saja tidak cukup, dan mereka perlu memiliki soft skill yang sesuai seperti kompetensi berbagi pengetahuan untuk memungkinkan mereka mengambil, memproses, memperbaiki, mengatur, dan berbagi informasi. Berbagi pengetahuan adalah salah satu kegiatan utama dari proses manajemen pengetahuan2 . Sifat berbagi pengetahuan adalah untuk membantu staf menggabungkan sumber daya informasi, meningkatkan efisiensi dan meningkatkan daya saing mereka. Melalui berbagi pengetahuan, orang dapat mengubah segala macam informasi dan membuat akses ke informasi berharga lebih mudah. Perpustakaan, khususnya di lingkungan perguruan tinggi adalah salah satu organisasi yang sangat membutuhkan berbagi pengetahuan dalam kegiatan seharihari mereka. Kebutuhan sivitas akademika di perguruan tinggi akan informasi terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan informasi untuk menunjang proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Peningkatan kebutuhan dari sivitas akademika tersebut tentu menjadi tantangan bagi perpustakaan untuk dapat terus menyediakan informasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Dalam upaya menyediakan informasi yang tepat sesuai, pustakawan harus dapat mengidentifikasi berbagai kebutuhan informasi pengguna. Melalui hasil identifikasi tersebut, pustakawan dapat menentukan sumber informasi yang ditawarkan, apakah memerlukan kebijakan tertentu supaya informasi tersebut dapat terpenuhi, apakah perlu menghubungi jejaring pustakawan lain supaya bisa mendapatkan informasi tersebut.4 Oleh karena itu, dikatakan bahwa pengelola perpustakaan akademik dan pustakawannya tidak hanya perlu memiliki pemahaman menyeluruh tentang perubahan ini dalam lingkungan informasi mereka, tetapi juga menyadari bagaimana menggunakan alat berbagi pengetahuan secara efektif di perpustakaan untuk memfasilitasi pertukaran pengetahuan. Dalam Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4.6 dengan jelas tertuang bahwa tahun 2030, menjamin bahwa semua remaja dan proporsi kelompok dewasa tertentu, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kemampuan literasi dan numerasi5 . Perguruan Tinggi memiliki Tri Dharma yang salah satunya adalah Pengabdian kepada Masyarakat sehingga perpustakaan perlu melakukan berbagi pengetahuan dari koleksi penelitian yang dimiliki. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini akan memberikan gambaran umum mengenai Tren Penelitian mengenai Knowledge Sharing di Perpustakaan Perguruan Tinggi. Hal ini diperlukan untuk melihat perkembangan pola dan budaya berbagi pengetahuan oleh pustakawan perguruan tinggi dari masa ke masa untuk memenuhi kebutuhan pemustakanya. Selain itu, penelitian ini juga akan melihat sebaran penelitian mengenai Knowledge Sharing di Perpustakaan Perguruan Tinggi paling banyak dilakukan di negara mana saja. Ini diperlukan untuk memudahkan adaptasi budaya Knowledge Sharing dan melihat sudah sejauh mana perkembangan Knowledge Sharing di negara-negara tertentu. Apakah perkembangan tersebut juga sudah terjadi di wilayah Asia Tenggara atau bahkan sudah diterapkan di Indonesia. Dengan gambaran umum dan sebagaran penelitian mengenai topik Knowledge Sharing di Perpustakaan Perguruan Tinggi, akan terlihat pula topik penelitian yang sangat mungkin untuk dapat diteliti di masa depan. TINJAUAN PUSTAKA Konsep Knowledge Sharing Berbagi pengetahuan adalah proses mengkoordinasikan kegiatan pembelajaran dimana individu, saling bertukar pengetahuan dan bersama-sama menciptakan pengetahuan baru.6 Berbagi pengetahuan adalah proses yang terdiri dari membawa pengetahuan dan mendapatkan pengetahuan. Belajar dan berbagi pengetahuan sangat erat kaitannya. Proses mengetahui adalah komponen dari berbagi, berpikir dan belajar7 . Mengingat fakta ini, organisasi cenderung untuk mengatur, mengelola, dan menggunakan apa yang tersedia dari pengalaman, keterampilan, dan kemampuan serta informasi implisit dan eksplisit yang dikumpulkan oleh karyawan untuk mendukung proses pengambilan keputusan dan meningkatkan kecepatan respons dan inovasi. Knowledge Management (KM)8 dapat didefinisikan sebagai konsep multi-strategi untuk mencapai target hierarkis dengan memanfaatkan pengetahuan sebaik-baiknya. Ada tiga elemen dasar perpustakaan akademik yang perlu diintegrasikan bersama untuk membuat pengelolaan pengetahuan menjadi menarik. Ketiga elemen dasar tersebut adalah: manusia, proses dan teknologi. Orang dianggap sebagai faktor vital dalam membangun organisasi yang akan tumbuh dengan mengembangkan karyawan mereka. Mengelola pengetahuan telah menjadi subjek penting yang dihadapi perpustakaan saat ini, dan itu harus difokuskan pada hal-hal berikut: penelitian dan pengembangan pengetahuan yang efektif, penciptaan basis pengetahuan, pertukaran dan berbagi pengetahuan antara staf/pengguna perpustakaan, pelatihan pustakawan, percepatan pengolahan pengetahuan implisit dan realisasi pembagiannya9 . Pustakawan dapat dikategorikan sebagai pekerja pengetahuan karena pustakawan adalah mesin perpustakaan, dimana kemajuan dan kekurangan perpustakaan berada di tangan pustakawan. Untuk mendorong terciptanya pengetahuan, seorang pekerja pengetahuan perlu melakukan berbagi pengetahuan. Berbagi ilmu tidak seperti ketika kita memotong kue menjadi beberapa bagian dan membagikannya kepada seluruh orang yang berbagi10 . Tetapi dengan masing-masing orang membawa pengetahuan dan berbagi pengetahuan dengan orang lain, maka orang tersebut akan kembali dengan pengetahuan yang lebih besar. Berbagi pengetahuan adalah tentang bekerja sama, saling membantu, dan berkolaborasi. 11 Berbagi pengetahuan tidak terbatas pada apa yang kita dapatkan, tetapi ketika ada seseorang yang secara sukarela membantu orang lain untuk membangun kapasitas baru yang menghasilkan tindakan, dan berbagi pengetahuan seperti proses pembelajaran. Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan perguruan tinggi merupakan unit pelaksana teknis yang bersama dengan unit lain melaksanakan tri dharma perguruan tinggi, dengan cara menghimpun, memilih, mengolah, merawat dan melayani sumber informasi kepada lembaga induk khususnya, serta masyarakat akademis pada umumnya.12 Adapun yang termasuk dalam perguruan tinggi meliputi universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, dan politeknik. Sarah Okonedo dan Sunday Olarenwaju Popoola13 menemukan bahwa pustakawan juga sering berbagi pengetahuan tentang tren baru dalam kepustakawanan dan dengan berbagi pengetahuan, mereka menggunakan pengalaman yang diperoleh dalam menemukan solusi untuk masalah mereka di tempat kerja. Agar organisasi berhasil dengan praktik KM, organisasi semacam itu perlu menjadi pendukung yang dapat membantu implementasi KM dan hambatan yang dapat mencegah keberhasilannya. Studi Mayekiso menemukan bahwa manfaat berbagi pengetahuan di perpustakaan akademik mencakup staf yang memiliki informasi lebih baik yang pada gilirannya mengarah pada penyampaian layanan yang lebih baik. Dalam penelitian terkait, ditemukan bahwa manfaat berbagi pengetahuan antara lain mengurangi duplikasi tugas, peningkatan produktivitas dan metode kerja, dorongan untuk belajar lebih banyak oleh staf, keahlian dan pengetahuan dari staf yang mengundurkan diri atau pensiun. juga akan dipertahankan, dan ada pembelajaran berkelanjutan oleh setiap orang dalam organisasi karena tidak ada pengetahuan yang hilang sehingga membuat perpustakaan menjadi inkubator untuk pengetahuan yang lebih banyak dan lebih baik, sehingga mempromosikan ide-ide inovatif yang akan menghasilkan layanan yang lebih baik kepada pengguna.14 Ada beberapa contoh keberhasilan penerapan kegiatan berbagi pengetahuan di perpustakaan akademik. Untuk dapat mengadopsi praktik berbagi pengetahuan di perpustakaan, perpustakaan memiliki perpustakaan departemen yang dikelola oleh pustakawan referensi yang mengembangkan database yang dikenal sebagai database pengetahuan umum untuk pengelolaan pengetahuan diam-diam karyawan. Studi lebih lanjut menetapkan bahwa tujuan dari database adalah untuk memungkinkan akuisisi dan berbagi pengetahuan diam-diam untuk meningkatkan dan memfasilitasi layanan referensi melalui komunikasi yang lebih baik dengan tujuan akhir menjadi satu sistem perpustakaan. Ada banyak sekali alat elektronik untuk memfasilitasi berbagi pengetahuan dalam suatu organisasi dan beberapa di antaranya adalah surat elektronik, internet, intranet, portal web, milis email, media jejaring sosial seperti Facebook, alat teknologi kolaborasi seperti audio visual alat, twitter dan sebagainya

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan bibliometrik yang menggunakan filter yang berbeda untuk mempersempit jumlah publikasi ilmiah yang berkaitan dengan knowledge sharing di perpustakaan perguruan tinggi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data publikasi internasional yang didapatkan dari situs web Scopus (www.scopus.com).16 Alasan peneliti memilih menggunakan Scopus adalah proses peer-review yang ketat dan juga mempertimbangkan reputasinya17 . Pengumpulan data dilakukan pada bulan Desember 2022. Gambar 1 menunjukkan diagram yang menggambarkan proses penelusuran dengan empat filter strategi pencarian yang berbeda dan kriteria eksklusi. Banyaknya artikel yang dikumpulkan setelah filter pertama membentuk data untuk analisis data yang dilakukan oleh perangkat lunak VOSviewer. Aplikasi ini dipilih karena Vosviewer menyediakan pemetaan bibliometrik berdasarkan jaringan kata kunci. Vosviewer menerapkan teknik pemetaan, dan analisis data co-occurrence yang menampilkan jaringan bibliometrik antar keyword (kata kunci) dalam bentuk visual18 . Pemetaan VOS (visualisasi kesamaan) menyediakan representasi visual berkualitas tinggi untuk menjelajahi peta secara mendetail dengan menawarkan opsi pembesaran dan pengguliran. Terakhir, publikasi yang dipilih setelah filter keempat dipertahankan dan digunakan untuk tinjauan kuantitatif.19 Figur 1. Kerangka penelitian bibliometrik Strategi Pencarian Pertama: Filter Pertama Langkah ini terdiri dari mendefinisikan filter pertama sebagai persamaan pencarian, yang terdiri dari kata kunci, dan database yang akan dianalisis (Tabel 1). Bidang kata kunci dibagi menjadi dua bagian yang saling melengkapi. Pertama menggunakan kata kunci "knowledge sharing" dan “sharing knowledge, serta yang kedua “university library”, "academic library", dan “college library”. Penggunaan kata kunci ini juga menggunakan operator Boolean untuk mendapatkan hasil yang akurat, sehingga penelusuran menggunakan keywords ( ( "knowledge sharing" OR "sharing knowledge" ) AND ( "university library" OR "academic library" OR "college library" ) ). Tabel 1. Strategi Pencarian Pertama Field Option Introduced Keywords ( ( "knowledge sharing" OR "sharing knowledge" ) AND ( "university library" OR "academic library" OR "college library" ) ) Search in Title, abstract, keywords Database Scopus Setelah menerapkan strategi pencarian melalui kata kunci tersebut, peneliti menemukan 94 publikasi ilmiah di database Scopus® tanpa melakukan exclude apapun. Seluruh database dari 94 makalah menurut judulnya, statistik kata kunci, jumlah kutipan, nama penulis, dan liasi dikumpulkan dan diekspor dari situs web Scopus ke dalam file data CSV. Data tersebut kemudian diunggah ke perangkat lunak VOSviewer. Jumlah data yang besar ini merupakan input untuk pemetaan bibliometrik dan melakukan jaringan kata kunci dan keterkaitannya melalui analisis cooccurrence. Hasil ini dibahas nanti di Bagian Hasil dan Pembahasan. Gambar 1. Hasil pencarian dengan strategi pencarian pertama Strategi Pencarian Kedua: Filter Kedua Dari 94 hasil penelusuran, peneliti melakukan pembatasan untuk melihat topik yang paling banyak diteliti di 5 tahun terakhir. Jumlah publikasi kemudian dipilih atau dikecualikan menggunakan alat pendukung yang tersedia di situs web Scopus. Dua kriteria inklusi utama adalah: lima tahun terakhir publikasi (2018-2022) dan menggunakan Bahasa Inggris. 43 publikasi ilmiah yang tersisa digunakan untuk menyusun statistik data awal. Gambar 2. Hasil pencarian dengan strategi pencarian kedua Dari data yang dihasilkan dilakukan analisis bibliometric secara deskriptif. Pemetaan yang diperoleh dari Vosviewer nantinya dapat dijadikan acuan dalam melakukan analisis konten secara akurat berdasarkan tren riset mengenai Knowledge Sharing di Perpustakaan Perguruan Tinggi, sebaran negara penelitian, serta topik yang belum banyak diteliti. Pada penelitian ini, analisis bibliometrik dilakukan untuk menganalisis kolaborasi penulis dalam penelitian bidang ilmu arsitektur informasi serta menganalisis hubungan bibliometrik berdasarkan kata kunci (cooccurrence).

Result & Discussion

Gambaran Umum Tren Penelitian mengenai Knowledge Sharing di Perpustakaan Perguruan Tinggi Berdasarkan 94 publikasi yang ditemukan dari strategi pencarian pertama dipindahkan sebagai data bibliografi ke aplikasi VOSviewer. Data bibliografi ini digunakan untuk menggambarkan jaringan kata kunci yang ditemukan dengan tautan antar kata kunci tersebut. Seluruh jaringan kata kunci dipetakan pada gambar 1. Dalam jaringan yang digambarkan, lingkaran adalah representasi dari kata kunci, dan diameter dari lingkaran tersebut mewakili frekuensi kemunculan setiap kata kunci. Jarak antara dua kata kunci menunjukkan keterkaitannya dalam hal tautan kejadian bersama. Tautan kejadian bersama ini ditentukan berdasarkan jumlah dokumen di mana kata kunci muncul bersamaan. Jadi, semakin dekat dua kata kunci terletak satu sama lain, semakin kuat keterkaitannya. Gambar 3. Pemetaan menggunakan VOSViewer dengan hasil 93 dokumen Di jaringan, kumpulan kata kunci yang memiliki hubungan kuat menciptakan cluster, masing-masing disajikan dengan warna berbeda. Lima klaster utama jaringan yang diidentifikasi oleh VOSviewer dijelaskan pada Tabel 2, yang mencakup warna, komponen klaster, dan tren penelitian di setiap klaster. Tabel 2. Lima klister utama jaringan yang teridentifikasi oleh VOSviewer Klaster Keywords Utama Keywords Lainnya 1 (merah) Knowledge Management Digital libraries, knowledge acquisition, knowledge creation, knowledge-sharing, peking university, social networks, university libraries 2 (hijau) Libraries Information dissemination, knowledge sharing behaviour, librarians, surveys, university libraries 3 (biru) Information literacy Human, librarian, library, questionnaire, structural equation modelling 4 (kuning) Knowledge sharing Academic librarians, collaboration, information management, Pakistan, staff development 5 (ungu) Academic libraries Information services, institutional repositories, institutional repository, open access Dari hasil penelusuran mengenai knowledge sharing di perpustakaan perguruan tinggi, dilakukan inklusi dengan melimit hasil pencarian menjadi lima tahun terakhir publikasi (2018-2022) dan menggunakan Bahasa Inggris. 43 publikasi yang kemudian dipindahkan sebagai data bibliografi ke aplikasi VOSViewers untuk diolah kembali. Dari hasil pengolahan data bibliografi tersebut, ditemukan bahwa keywords utama yang muncul hanya ada 4, yaitu knowledge sharing, academic libraries, knowledge sharing behaviour, dan university libraries. Keywords utama tersebut terlihat dari gambaran pemetaan VOS berikut. Gambar 4. Pemetaan menggunakan VOSViewer dengan hasil 43 dokumen Dengan menggunakan visualisasi overlay dari VOSviewer, jaringan yang sama dapat menampilkan total kejadian dan periode waktu penelitian dari setiap kata kunci. Pada Gambar 3, warna ditentukan oleh publikasi rata-rata per tahun dari setiap kata kunci, dengan warna kuning mewakili yang terbaru dan biru tua mewakili yang tertua. Dapat diamati bahwa masalah penelitian saat ini adalah topik terbaru dengan waktu publikasi rata-rata berkisar antara 2019 dan 2020. Penelitian mengenai knowledge sharing dikaitkan dengan perpustakaan perguruan tinggi dan perilaku berbagi pengetahuannya banyak dilakukan pada kisaran pertengahan sampai akhir tahun 2019. Sedangkan saat ini, peneliti cenderung lebih berminat pada manajemen informasi dan kolaborasi untuk berbagi pengetahuan di perpustakaan perguruan tinggi. Gambar 5. Visualisasi overlay dari VOSviewer Sebaran Penelitian Negara yang telah melakukan penelitian mengenai Knowledge Sharing di Perpustakaan Perguruan Tinggi Tabel 5 dan Gambar 6 menunjukkan data negara yang paling banyak melakukan penelitian mengenai knowledge sharing di perpustakaan perguruan tinggi. Penelitian mengenai topik ini paling banyak dilakukan di China dan Afrika Selatan, yaitu sebanyak 6 artikel, disusul dengan peneliti dari Pakistan dengan 5 artikel. Peneliti dari China lebih banyak meneliti mengenai layanan yang diberikan oleh perpustakaan perguruan tinggi yang dapat diberikan untuk mendukung proses knowledge sharing. Berbeda dengan peneliti dari China, peneliti dari Afrika Selatan tertarik untuk meneliti manajemen dan akses pengetahuan di perpustakaan perguruan tinggi. Peneliti dari United States menghasilkan 4 artikel, sedangkan peneliti dari India dan Nigeria menghasilkan 3 artikel. Menyusul peneliti dari Iran, Malaysia, United Kingdom, dan Zimbabwe telah menghasilkan 2 artikel, dan negara lainnya menghasilkan 1 artikel. Tabel 2. Data negara yang paling banyak melakukan penelitian Country/Territory Documents China 6 South Africa 6 Pakistan 5 United States 4 India 3 Nigeria 3 Iran 2 Malaysia 2 United Kingdom 2 Zimbabwe 2 Australia 1 Ghana 1 Indonesia 1 Kuwait 1 Philippines 1 Poland 1 Saudi Arabia 1 Spain 1 Taiwan 1 Uganda 1 Undefined 4 Menariknya, di Indonesia sendiri sudah ada artikel mengenai knowledge sharing di perpustakaan perguruan tinggi. Ini artinya budaya knowledge sharing di perpustakaan perguruan tinggi sudah mulai ada di Indonesia. Artikel ini tulis oleh Mutia, F., & Rini, W. L. dari Universitas Airlangga dengan judul “Librarian Knowledge sharing Behavior In University Library”. Penelitian yang dilakukan dengan metode kualitatif ini membahas mengenai adanya relasi jejaring sosial yang dapat memfasilitasi lalu lintas komunikasi antar pustakawan, yang dapat menciptakan perilaku berbagi pengetahuan sebagai strategi atau cara yang digunakan untuk mencapai tujuan perpustakaan.20 Sebagai perbandingan dengan negara yang memiliki budaya serupa dengan Indonesia, terdapat 2 artikel yang dihasilkan oleh peneliti dari Malaysia. Salah satunya adalah Barrie Ahmed, Noor Hasrul Nizan Bin Mohammad Noor, dan Mahfooz Ahmed yang melakukan kajian dengan Theory of Planned Behavior (TPB) sebagai kerangka penelitian yang mendasari untuk menguji sikap, norma subyektif, dan kontrol perilaku yang dirasakan terhadap niat berbagi pengetahuan staf perpustakaan. Hasil penelitian tersebut kemudian diterbitkan pada tahun 2022 dengan judul “Factors influencing knowledge sharing practices among librarians in the Malaysian academic libraries”21. Satu hal yang sangat menarik yang dapat ditarik kesimpulannya, bahwa peneliti Indonesia dan peneliti Malaysia memiliki minat yang sama, yaitu meneliti mengenai perilaku berbagi informasi yang dilakukan di perpustakaan perguruan tinggi. Subjek Penelitian mengenai Knowledge Sharing di Perpustakaan Perguruan Tinggi yang dapat diteliti di masa depan Berdasarkan hasil density visualization dapat terlihat bahwa topik penelitian yang belum banyak dikaji oleh peneliti adalah knowledge sharing behavior, information management, dan collaboration dalam mendukung knowledge sharing di perpustakaan perguruan tinggi. Hal ini terlihat dari gambaran densitas yang diberikan oleh VOSviewer bahwa topik knowledge sharing behavior, information management, dan collaboration memiliki densitas yang rendah. Tingkat densitas ini menunjukkan seberapa banyak topik tersebut diteliti. Semakin tinggi densitas topik tersebut, maka semakin banyak artikel membahas mengenai topik tersebut. Begitupun sebaliknya. Gambar 7. Density visualization pada VOSviewer Penelitian yang sudah dilakukan mengenai knowledge sharing di perpustakaan perguruan tinggi lebih banyak berkaitan dengan subject area social sciences sebanyak 34 dokumen (48,6%) dan dilanjukan dengan subjek Art and Humanities sebanyak 11 dokumen (15,7%). Sedangkan subject area yang paling sedikit dikaitkan dengan knowledge sharing di perpustakaan perguruan tinggi, yaitu bidang Biochemistry, Genetics and Molecular Biology, Decision Sciences, Engineering, Mathematics dan Multidisciplinary. Gambar 8. Grafik penelitian berdasarkan Subject Area Hal ini sangat menarik, karena ternyata penelitian mengenai knowledge sharing di perpustakaan perguruan tinggi bisa sangat berkembang, tidak hanya di bidang ilmu sosial dan humaniora saja.

Conclusion

Berdasarkan hasil dan pembahasan, kesimpulan mengatakan tren penelitian mengenai Knowledge Sharing di perpustakaan perguruan tinggi yang terindeks dalam database Scopus pada 2018-2022 sebanyak 43 publikasi. Dilihat berdasarkan negara, yang paling produktif dalam mempublikasikan mengenai Knowledge Sharing di perpustakaan perguruan tinggi adalah China dan Afrika Selatan sebanyak masing-masing 6 publikasi. Dengan menggunakan software VOSviewer, didapatkan bahwa peta perkembangan penelitian mengenai Knowledge Sharing di perpustakaan perguruan tinggi terbagi menjadi lima kluster, yaitu Knowledge Management, Libraries, Information Literacy, Knowledge Sharing, dan Academic Libraries. Dari density visualization yang didapatkan pada software VOSViewer, topik penelitian yang dapat diteliti di masa depan adalah knowledge sharing behavior, information management, dan collaboration dalam mendukung knowledge sharing di perpustakaan perguruan tinggi. Penelitian selanjutnya juga dapat mengaitkan budaya Knowledge Sharing di perpustakaan perguruan tinggi dengan bidang ilmu lainnya seperti bidang Biochemistry, Genetics and Molecular Biology, Decision Sciences, Engineering, Mathematics dan Multidisciplinary. Hal ini sangat dimungkinkan karena pustakawan melayani sivitas akademika dari berbagai bidang ilmu di luar kepakaran dari pustakawan tersebut. Sehingga perlu diteliti bagaimana pustakawan dapat berbagi pengetahuan untuk bidang-bidang di luar kepakarannya.