Proses dan tahapan pengembangan koleksi (collections development) perpustakaan
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Penelitian ini memfokuskan terdapat enam kriteria proses dan tahapan pengembangan koleksi yakni kriteria analisis kebutuhan, pembuatan kebijakan pengembangan bahan koleksi, pengadaan bahan koleksi (pustaka), seleksi, penyiangan serta evaluasi. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis pendekatan penelitian studi literatur. Dengan mengumpulkan berbagai literatur sebelumnya baik itu dari buku-buku, artikelartikel maupun jurnal-jurnal hasil penelitian mengenai proses dan tahapan pengembangan koleksi (collections development) perpustakaan merupakan teknik pengumpulan data yang akan dilakukan. Data-data yang sudah didapatkan kemudian diorganisirkan, ditafsirkan, dikelolakan, dan dianalisiskan secara berulang-ulang, selanjutnya akan dibuatkan dalam bentuk narasi dan diatur secara sistematis dan terstruktur supaya dapat dimengerti dan dipahami. Data-data yang sudah terkumpul dengan baik setelah itu akan dibandingkan dengan data yang satu dengan data yang lainnya untuk mendapatkan sebuah kesimpulan. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tahapan proses sebuah pengembangan koleksi di perpustakaan itu harus diterapkan dan diimplementasikan secara efektif dan baik serta harus tercantum minimal ada enam kriteria proses dan tahapan pengembangan koleksi sehingga bisa dipakai oleh semua jenis perpustakaan baik itu perpustakaan umum, sekolah, perguruan tinggi dan lain sebagainya.
Abstract
This study focuses on six criteria for the process and stages of collection development, namely needs analysis, making collection materials development policies, procurement of collection materials (libraries), selection, weeding and evaluation. The research methodology used in writing this article is a qualitative research method with literature study approach. By collecting a variety of previous literature, both from books, articles and research journals regarding the process and stages of library collections development, it is a data collection technique that will be carried out. The data that has been obtained is then organized, interpreted, managed, and analyzed repeatedly, then it will be made in narrative form and arranged systematically and structured so that it can be understood. The data that has been collected properly after that will be compared with one data with other data to get a conclusion. The results in this study indicate that the stages of the process of developing collection in the library must be implemented effectively and properly and there must be a minimum of six process criteria and stages of collection development so that it can be used by all types of libraries, be it public libraries, schools, universities. and so forth.
Keywords:
Collection development
· Library
Introduction
Pada awalnya, kegiatan utama yang bisa dilakukan dalam perpustakaan itu adalah pengembangan koleksi (collections development). Jadi, mau tidak mau perpustakaan seharusnya berupaya mengutamakan koleksi secara optimal. Sebagai seorang pustakawan dituntut tidak hanya perlu mengetahui hakikat pengertian pengembangan koleksi, tetapi juga harus mampu mendayagunakan koleksi untuk mencerdaskan para pengguna agar pengguna mampu secara mandiri meningkatkan kesejahteraan hidup. Dari permasalahan di atas, maka proses collections development akan berubah lebih optimal serta dapat meningkatkan para pengguna untuk menggunakannya. Efisiensi dan efektivitas tersebut akan membuat perpustakaan untuk menghemat tenaga, anggaran, dan waktu. Dapat dicontohkan misalnya pengadaan koleksi yang tidak melalui proses seleksi kurang baik mengakibatkan perpustakaan koleksi yang out of date yang dibeli, tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna, atau perpustakaan sudah memilikinya. Sehingga pengadaan koleksi akan mengakibatkan pemborosan dana. Collections development yang efektif akan mengoptimalkan sistem layanan dan nama baik sebuah perpustakaan (Yulia and Sujana 2009). Sebagai pusat aktivitas utama yaitu koleksi perpustakaan, mulai dari pembuatan kebijakan, perencanaan (SDM) sumber daya manusia, perencanaan anggaran, sampai gedung. Pengembangan koleksi perlu ditingkatkan dan diawasi setiap waktu. Pengembangan koleksi diperlihatkan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat dalam mencari informasi. Sehingga, pengembangan koleksi akan membuat perpustakaan menjadi lebih sering dimanfaatkan dan layanan akan diberikan secara optimal. Istilah collections development dapat dipertukarkan dengan manajemen koleksi meskipun terdapat para ahli memberikan perbedaan yang mencolok dari pengertian keduanya. Pembahasan lebih lanjut, konsep dasar tersebut berhubugan erat dengan kemajuan (IT) teknologi informasi yang semakin berkembang pesat. Perkembangan teknologi informasi juga menciptakan kemajuan dunia percetakan, mulai dari koleksi cetak maupun koleksi non cetak (elektronik atau digital), dan diseminasi informasi. Kemunculan penerbitan karya cetak yang berkembang pesat dalam beragam format, beragam bahasa, dan muncul dari semua penjuru dunia. Sejalan dengan itu, perkembangan tersebut menciptakan gaya hidup masyarakat yang berubah, mulai dari masyarakat agraris berubah menjadi masyarakat industri, kemudian berpindah ke masyarakat informasi yang menitikberatkan seluruh aktivitas sehari-hari mereka akan adanya informasi yang berkembang pesat. Dapat dipahami, bahwa ruang lingkup pengembangan koleksi menciptakan konteks tersebut sebagai landasan dasar pemikirannya TINJAUAN PUSTAKA Penulis mendapatkan beberapa penelitian yang berhubungan dengan masalah yang akan ditulis oleh penulis tentang proses dan tahapan pengembangan koleksi bahan Pustaka perpustakaan. Dalam hal mengadakan koleksi perpustakaan yang bermutu serta menciptakan perpustakaan sebagai alat pencarian sumber informasi untuk pengguna (user), hal yang diperlukan yakni proses dan tahapan pengembangan koleksi bahan perpustakaan, antara lain, yakni: 1. Penelitian oleh Yunus Winoto dan Sukaesih yang berjudul “Studi tentang kegiatan pengembangan koleksi (collection development) pada Perpustakaan Perguruan Tinggi di Wilayah Priangan Timur Provinsi Jawa Barat” yang mana penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis penelitian case study. Wawancara, observasi serta studi kepustakaan merupakan teknik pengumpulan data-datanya. Hasilnya menunjukkan bahwa UPT Perpustakaan UNSIL Tasikmalaya serta UPT Perpustakaan UNIGAL Ciamis pada dasarnya sudah melakukan tahapan dalam pengembangan koleksi yakni analisis kebutuhan, kegiatan seleksi, membuat kebijakan seleksi, pengadaan bahan pustaka, serta melakukan evaluasi tetapi kegiatan kurang dilaksanakan secara maksimal. Tahapan penyiangan bahan pustaka UPT Perpustakaan UNSIL Tasikmalaya dan UPT Perpustakaan UNIGAL Ciamis sendiri belum dilakukan disebabkan terdapat beberapa permasalahan misalnya kurangnya bahan pustaka yang dimiliki serta masalah sistem prosedur dan sedikitnya sumber daya manusia (SDM) yang ada (Winoto and Sukaesih 2016). 2. Penelitian oleh Sri Wahyuni dan Elva Rahmah yang berjudul “Pengembangan koleksi perpustakaan di Perpustakaan Kopertis Wilayah X”. Tujuan penulisan makalah ini adalah (1) untuk mendeskripsikan proses pengembangan koleksi di perpustakaan tersebut, dan (2) mendeskripsikan jenis koleksi yang dikembangkan di perpustakaan tersebut. Pengumpulan data melalui metode observasi dan wawancara. Berdasarkan data tersebut dapat menyimpulkan analisis terlebih dahulu, proses pengembangan dilakukan di koleksi perpustakaan Kopertis Wilayah X masih merupakan perpustakaan pilihan pengadaan bahan dan perpustakaan. Kedua, bentuk koleksi yang dikembangkan di perpustakaan tersebut bentuknya cetak. Contoh umumnya kumpulan referensi (ensiklopedia, kamus, buku pegangan, dan direktori), kumpulan majalah (majalah, jurnal dan tabloid), dan publikasi pemerintah kolesi (hukum himpunan). hukum dan peraturan negara). Sedangkan dalam bentuk karya non cetak seperti compact disc, dan kaset. Itu terkandung dalam buku tertentu (Wahyuni and Rahmah 2012). 3. Penelitian yang dilakukan oleh Nuri Ifka Bengi. Penelitian ini membahas proses dan kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan. Kualitatif dipilih sebagai metode dalam penelitian ini dan deskriptif sebagai pendekatannya. Observasi, wawancara dan studi Pustaka merupakan bentuk pengumpulan data. Penelitian ini menghasilkan bahwa tahapan-tahapan proses pengembangan koleksi perpustakaan dibilang dilaksanakan apa adanya tidak ada aturan prosedur pengembangan koleksi yang jelas. Kekurangan pustakawan dan rendahnya keuangan penyebab permasalahan untuk perpustakaan dalam melakukan aktivitas collections development (Bengi 2021). Berdasarkan dari ketiga penelitian di atas maka dapat dipahami bahwa penelitian yang pertama itu melihat seperti apakah proses dan tahapan collection development di perpustakaan tersebut itu sudah sesuai dilaksanakan atau diimplementasikan seperti yang telah diuraikan teori proses dan tahapan pengembangan koleksinya. Sedangkan untuk yang penelitian kedua itu lebih menekankan kepada pemilihan pengadaan bahan pustaka, baik cetak maupun non cetak di perpustakaan kopertis di wilayah X. Penelitian ketiga sama halnya dengan penelitian yang pertama, yaitu untuk melihat seperti apakah tahapan-tahapan pengembangan koleksi di perpustakaan tersebut. Dengan demikian terlihat jelas kelebihan dan kelemahan dari ketiga penelitian sebelumnya. Maka dari itu untuk bisa melengkapi dari kedua penelitian ini penulis mencoba untuk memperjelas dan menguraikan lagi tentang proses dan tahapan pengembangan koleksi (collections development) perpustakaan.
Method
Penelitian kualitatif (qualitatif research) yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini (Sugiyono 2015). Penulis memakai metode kualitatif dengan alasan ingin mengetahui secara lebih rinci dan mendalam sudut pandang proses dan tahapan pengembangan koleksi (collections development) dengan harapan perpustakaan itu apakah kebutuhan akan koleksinya sudah terpenuhi secara maksimal dan lengkap. Dengan jenis pendekatan penelitian studi literatur, yaitu mengetahui dan memahami bahan referensi buku serta hasilhasil penelitian yang sama sebelumnya yang sudah dilaksanakan oleh penelitian-penelitian terdahulu. Hal ini dimaksudkan yang bertujuan untuk mendapatkan sebuah landasan teori yang berhubungan dengan masalah yang akan dilakukan penelitian. Teori merupakan landasan untuk peneliti memahami permasalahan yang diteliti dengan benar serta kerangka berpikir ilmiah yang sesuai (Sarwono 2006). Salah satu literatur primer yang digunakan oleh penulis untuk mendukung penulisan artikel ini adalah sebuah literatur yang berjudul pengembangan koleksi oleh Yuyu Yulia, yang mana dari literatur ini sangat membantu dalam hal mengenai ruang lingkup proses dan tahapan pengembangan koleksi dan salah satu artikel yang berjudul “Tahapan-tahapan dalam proses pengembangan koleksi: Studi kasus Perpustakaan Universitas Gajah Putih Takengon, Kabupaten Aceh Tengah)”, yang memberikan penjelasan mengenai apa itu proses dan tahapan pengembangan koleksi (collections development) perpustakaan. Kajian literatur yang menjadi analisis penelitian dengan mengumpulkan semua bahan pustaka sebelumnya baik itu dari buku-buku, artikel-artikel serta jurnal-jurnal hasil penelitian membahas proses dan tahapan pengembangan koleksi (collections development) perpustakaan. Data-data tersebut kemudian diorganisir, dikelola, ditafsirkan dan dianalisiskan secara terus-menerus, selanjutnya dibuatkan dalam format narasi dan dibuat secara sistematis supaya dapat dimengerti. Data-data yang tersusun tersebut akan dibandingkan data yang satu dengan data-data yang lain untuk didapatkan sebuah kesimpulan.
Discussion
Pengertian Pengembangan Koleksi (Collections Development) Perpustakaan Sebelum membahas masalah pengembangan koleksi, harus terlebih dahulu dipahami apa itu yang dimaksud dengan koleksi (collections) perpustakaan. Sebagaimana dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pada pasal 1 ayat 2 dikatakan bahwa “koleksi perpustakaan merupakan semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah, dan dilayankan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 2007)”. Sedangkan menurut (Kohar 2003), “Koleksi perpustakaan dikatakan bahwa yang mencakup berbagai format bahan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan alternatif para pemakai perpustakaan terhadap media rekam informasi”. Dari dua pengertian yang telah dijabarkan dapat dipahami bahwa semua hal yang berhubungan dengan bahan-bahan pustaka yang ada di perpustakaan itu dilakukan yang namanya mulai dari pengolahan sampai dimanfaatkan oleh pemustaka perpustakaan dan disesuaikan dengan kebutuhan akan informasi bagi pemustaknya. Kemudian akan dibahas mengenai pengembangan koleksi (collections development). Berbicara collections development terdapat sebagian pemikiran yang membahas apa itu makna dari pengembangan koleksi. Menurut (Gabriel 1995) collections development dapat dipahami bahwa proses yang terstruktur dalam membuat koleksi perpustakaan yang bertujuan untuk melayani aktivitas penelitian, pengajaran, rekreasi, serta untuk kebutuhan lain dari user. Prosesnya mulai dari pemilihan, penyiangan koleksi, pengadaan koleksi serta mengevaluasi koleksi perpustakaan untuk meyakinkan user perpustakaan dalam hal melayani kebutuhannya. Sedangan (Soeatimah 1992) mengartikan collections development adalah bagian dari aktivitas kerja di perpustakaan yang bertujuan menyediakan sumbersumber informasi serta memberikan pelayanan informasi kepada pemustaka yang relevan dengan keinginan dan minat pemustakanya (Winoto and Dkk 2018). Batasan lain tentang pengembangan koleksi juga terdapat dalam ALA Glossary of Library and Information Science sebagaimana yang dikutip oleh Peter Clayton memberikan batasan pengembangan koleksi sebagai berikut : A term which encompasses a number of activities related to the development of the library collection, including the determination of the library collection, including the determination and coordination of selection policy, assessment of needs of users and potential users, collection evaluation, identification of collection needs, selection of materials, planning for resource sharing, collection maintenance, and weeding. Dari batasan ALA Glossary of Library Science di atas terungkap bahwa pengembangan koleksi adalah berbagai aktivitas yang berhubungan dengan penentuan dan kebijakan seleksi, analisis kebutuhan pengguna, studi pengguna koleksi, evaluasi koleksi, identifikasi kebutuhan koleksi, seleksi bahan pustaka, melakukan perencanaan kerjasama sumber daya koleksi, pemilihan koleksi serta penyiangan koleksi perpustakaan. Dari penjelasan di atas, Collections development dapat dipahami sebagai bentuk aktivitas dari sebuah perpustakaan seperti analisis kebutuhan pemustaka yang perlu dilakukan, membuat aturan kebijakan prosedur collections development, penyiangan seleksi koleksi pustaka yang harus dilakukan serta pengadaan bahan pustaka yang juga harus dilaksanakan dalam wujud menciptakan layanan yang optimal bagi pengguna (user) serta dapat memenuhi akan kebutuhan pengguna perpustakaan yang memerlukan informasiinformasi yang sangat beragam. Selain dari pengertian pengembangan koleksi perlu diketahui juga apa itu tujuan dan azas pengembangan koleksi (collections development). Tujuan Collections Development Tujuan dari pengembangan koleksi hakekatnya adalah untuk membangun sebuah koleksi perpustakaan baik secara kuantitas maupun kualitas dengan tetap memperhatikan tuntutan (demand), minat (need), dan selera (taste) dari masyarakat pengguna perpustakan. Hal ini sejalan dengan pendapat (Petranaya and Winoto 2012) yang mengatakan bahwa tujuan pengembangan koleksi adalah untuk menambah jumlah, meningkatkan jenis bahan bacaan serta meningkatkan mutunya sesuai dengan kebutuhan pengguna. Adapun secara lebih rinci kegiatan pengembangan koleksi memiliki beberapa tujuan yakni sebagai berikut: 1. Menambah jumlah koleksi atau mengharapkan untuk memilikinya. 2. Memperoleh koleksi yang ditulis oleh pengarang yang populer di kalangan pembaca. 3. Memenuhi kewajiban perpustakaan untuk pencapaian tujuan lembaga. 4. Menambah nilai koleksi melalui pengadaan bahan pustaka yang aktual dan bahan pustaka dasar dalam suatu subjek yang penting. 5. Memperoleh bahan -bahan pustaka atau buku-buku referensi yang mampu mensuplai informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. 6. Melengkapi informasi dalam subyek yang masih kurang atau belum ada sama sekali atau belum mencukupi kebutuhan pemakai. Masih tentang tujuan pengembangan koleksi (RI 2002) menyebutkan beberapa tujuan dari pengembangan koleksi yakni sebagai berikut: 1. Menetapkan kebijakan pada rencana pengadaan bahan pustaka. 2. Menetapkan metode yang sesuai dan terbaik untuk pengadaan. 3. Mengadakan pemeriksaan langsung pada bahan pustaka yang dikembangkan. 4. Menetapkan skala prioritas pada bahan pustaka yang dikembangkan. 5. Mengadakan kerjasama antara perpustakaan pada pengadaan bahan pustaka dan pelayanan setiap unit perpustakaan. 6. Melakukan evaluasi pada koleksi yang dimiliki perpustakaan. Azas Collections Development Dalam melakukan pengembangan koleksi ada beberapa azas yang harus diperhatikan oleh pustakawan. Adapun mengenai azas-azas dalam pengembangan koleksi adalah sebagai berikut: 1. Relevansi Dalam melakukan pengembangan koleksi hendaknya relevan dengan program dari lembaga induknya dan masyarakat secara luas yang memanfaatkan keberadaan perpustakaan tersebut. 2. Berorientasi pada pengguna (user’s oriented) Dalam melakukan pengembangan koleksi harus lebih ditujukkan pada kebutuhan pengguna, sehingga kepentingan pengguna harus menjadi acuan. Oleh karena demikian langkah awal dalam suatu pengembangan koleksi harus dimulai dengan menganalisis kebutuhan pengguna (user’s needs analysis). 3. Kelengkapan Dalam melakukan pengembangan koleksi harus memuat semua komponen koleksi, artinya dalam pengem-bangan koleksi tidak hanya buku teks atau koleksi tercetak saja akan tetapi menyangkut koleksi non-cetak seperti kaset, CD, CD/DVD dan sebagainya. Dengan kata lain dalam pengembangan koleksi semua komponen koleksi harus mendapat perhatian yang wajar sesuai dengan prioritas yang telah ditentukan sebelumnya. 4. Kemutakhiran (Current) Dalam pengembangan koleksi aspek kemutakhiran harus diupayakan semaksimal mungkin, artinya dalam melakukan pengembangan koleksi harus selalu dilakukan pembaharuan koleksi sesuai dengan kebutuhan, tuntutan dan perkembangan teknologi ilmu pngetahuan dan teknologi saat ini. 5. Kerja sama Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakian pesat saat ini, suatu hal yang mustahil suatu perpustakaan atau lembaga informasi lainnya akan mampu memenuhi semua kebutuhan para pengguna (self-sufficiency). Hal ini dikarenakan karena perpustakaan/lembaga informasi menghadapi berbagai keterbatasan misalnya dana, tenaga, tempat, dan lain-lain. Oleh karena itu dalam pengembangan koleksi diperlukan adanya kerjasama dengan berbagai lembaga perpustakaan atau pusat informasi lainnya (Herlina 2014). Proses dan Tahapan Pengembangan Koleksi (Collections Development) Perpustakaan Collections development menurut (Evans and Saponaro 2005) adalah suatu aktivitas yang bersifat cyclical atau dilakukan secara berulang-ulang (continue). Oleh karena demikian, menurut Doll dan Barron dalam pengembangan koleksi hal pertama yang dilakukan harus disusun terlebih dahulu membuat pelaksanaan perencanaan (planning) sehingga koleksi yang tersedia dapat menciptakan dan memenuhi keinginan serta kebutuhan akan informasi bagi para pemakainya (Winoto and Dkk 2018). Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam menyusun rencana pengembangan koleksi ini yakni: 1. Keberadaan dari sebuah lembaga atau institusi perpustakaan serta sebagai pusat informasi itu sangat penting dan harus memiliki visi dan misi yang jelas dan sesuai. 2. Memiliki ruang lingkup dan cakupan yang luas tentang koleksi-koleksi yang akan dikembangkan. 3. Koleksi atau bahan pustaka bacaan harus berkarakter dan menyesuaikan dengan kebutuhan pemakainya 4. Bagian anggaran atau keuangan (budget) haruslah diperhatikan dalam hal pengembangan koleksi. 5. Harus diperhatikan juga dalam hal penyiangan, seleksi atau menarik dan mengganti koleksi. 6. Anggota tim (teamwork) juga harus terlibat baik itu dari segi kuantitas maupun segi kualitas dalam kegiatan dari pengembangan koleksi. 7. Mengutamakan koleksi yang akan dilakukan pengembangan koleksi. 8. Pelayanan terhadap masyarakat, komunitas maupun pemustaka yang lain sebagainya. Kemudian dari penjabaran yang telah diuraikan di atas, dapat dipahami bahwa collections development merupakan sebuah aktivitas atau kegiatan yang dilakukan secara terus menerus (continue). Menurut (Evans and Saponaro 2005), bahwa proses pengembangan koleksi (collections development) itu memiliki 6 (enam) tahapan sebagai berikut: 1. Analisis Komunitas (Community Analysis) Bagian analisis komunitas disebut juga sebagai analisis studi kebutuhan pengguna. Aktivitas analisis studi kebutuhan bisa dilaksanakan dengan dua (2) metode, yaitu metode formal dan metode nonformal. Pada tahap ini bisa menghasilkan profil pemustaka dan kebutuhan akan koleksi perpustakaan yang terpenuhi dan tercukupi. Pada bagian ini juga, pustakawan berkewajiban terus memperhatikan komunitas pengguna secara keseluruhan, baik itu dari pengguna potensial ataupun pengguna aktual. 2. Collection Development Policy Profil pengguna dan akan kebutuhan koleksi bagi pengguna itu didapatkan dengan gambaran yang lengkap, tahap berikutnya adalah membuat collection development policy atau kebijakan pengembangan koleksi. Pada bagian ini semua yang berhubungan dengan perihal yang bersifat umum, seperti planning pengembangan koleksi yang akan dilaksanakan, kriteria koleksi yang dikembangkan, mengutamakan kriteria koleksi yang akan dilaksanakan pengembangan koleksi, pengusulan anggaran (budget), siapa-siapa saja yang akan ikut melaksanakan pengembangan koleksi, dan sebagainya. Pada tahap collection development policy ini juga diharuskan semua pemustaka perpustakaan tanpa terkecuali yang perlu diperhatikan. 3. Pemilihan Bahan Koleksi atau Pustaka Tahapan berikutnya dalam collections development adalah pemilihan bahan koleksi atau pustaka. Pada bagian ini petugas perpustakaan melakukan seleksi koleksi. Pada saat melakukan penyeleksian biasanya bentuan dengan menggunakan alat menyeleksi dan alat memverifikasi. 4. Akuisisi Koleksi (Pengadaan Bahan Pustaka) Jika pada bagian seleksi petugas perpustakaan menyeleksi koleksi yang akan dimiliki maupun dibeli oleh perpustakaan, maka pada bagian pengadaan ini petugas perpustakaan akan melaksanakan pengadaan terhadap bahan pustaka. Akuisisi bahan pustaka ini memiliki cakupan cukup luas, bahwa bukan sekedar hanya pembelian saja, tetapi merupakan tahapan yang cukup luas seperti pemesanan, pengadaan hingga tahapan administrasipun yang berhubungan dengan pengadaan bahan pustaka perpustakaan. 5. Weeding Weeding atau penyiangan bahan pustaka merupakan kegiatan menarik koleksi dari tempatnya (rak/lemari). Terdapat berbagai alasan yang menjadi dasar pertimbangan dalam melakukan tahapan ini, yakni keterbatasan ruang atau demi menghemat tempat, koleksi tidak layak untuk dilayankan (rusak), terbit edisi dan tahun terbaru, dan lainlain. Pentingnya evaluasi pemanfaatan koleksi juga tercermin dari tujuan penyiangan (weeding). Penyiangan yang dilakukan di perpustakaan tentu saja mempunyai tujuan. Menurut (Qalyubi and Dkk 2007) mengatakan ada empat tujuan yang akan dicapai mengapa penyiangan dilakukan, yakni: 1). Memperoleh tambahan tempat (shelf space) untuk koleksi yang baru, 2). Membuat koleksi lebih dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi yang akurat, relevan, up to date (mutakhir/terbaru), serta menarik, 3). Memberikan kemudahan pada pemakai dalam menggunakan koleksi, dan 4). Memungkinkan staf perpustakaan mengelola koleksi secara lebih efektif dan efisien. 6. Evaluasi Pengembangan Koleksi Tahapan terakhir dalam rangkaian kegiatan collections development adalah evaluasi koleksi. Pada tahapan ini terdapat dua cara yang dapat dilakukan dalam evaluasi pengembangan koleksi yakni a). evaluasi proses yaitu mengevaluasi setiap tahapan dalam pengembangan koleksi dan (b). mengevaluasi hasil yaitu dengan mengevaluasi tujuan kegiatan pengembangan koleksi dengan hasil yang didapatkan dalam pengembangan koleksi (Winoto and Dkk 2018). Berdasarkan tahapan pengembangan pengembangan koleksi tersebut, maka dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 1. Proses Collections Development Apabila memperhatikan dari gambar di atas tersebut, staf perpustakaan dalam melakukan tahapan-tahapan pada proses pengembangan koleksi harus selalu memperhatikan aspek pengguna (user,s). Hal ini sejalan dengan konsep penyelenggaraan perpustakaan yang berorientasi pada kebutuhan pengguna (user’s oriented). Oleh karena demikian, hampir semua tahapan dalam pengembangan koleksi kecuali pada tahap pengadaan selalu melihat aspek penggunanya (user).
Conclusion
Dalam penjelasan yang telah peneliti jabarkan di atas maka bisa dipahami dan ditarik sebuah kesimpulan bahwa pengembangan koleksi (collections development) adalah salah satu cara atau upaya untuk memperbanyak dan meningkatkan akan kebutuhan informasi bagi pengguna perpustakaan dan koleksi supaya kesesuaian dan keseimbangan serta termutakhir (up to date). Dalam hal melaksanakan collections development dibutuhkan beberapa kriteria. Secara umum kriteria-kriteria tersebut dibagi menjadi 6 (enam) kriteria, yaitu analisis masyarakat atau komunitas, kebijakan seleksi (collections development policy), menyeleksi koleksi (bahan pustaka), pengadaaan (akuisisi), penyiangan (weeding) dan mengevaluasi koleksi. Sehingga dalam hal proses collections development harus dibutuhkan beberapa perumusan kebijakan pengembangan koleksi (collections development policy) yang bisa digunakan sebagai landasan pedoman atau acuan untuk melakukan keenam kriteria tersebut. Pada kesimpulanya adalah untuk bertujuan yang merupakan usaha supaya dalam hal mencari sumber informasi-informasi itu dengan mudah, cepat, efektif dan efesien. Selain itu, untuk mempertemukan pemustaka dengan bahan pustaka (collections) yang dibutuhkan dalam mendapatkan informasi yang diinginkan atau informasi yang sedang ingin dicari perlu dilakukan proses dan tahapan pengembangan koleksi (collections development) perpustakaan.