PENGEMBANGAN SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI YURISPRUDENSI BERBASISCONTENT MANAGEMENT SYSTEM(STUDI KASUS PERPUSTAKAAN HUKUM DANIEL S. LEV)
Aksaramaya; Universitas YARSI
Abstrak
Perpustakaan Hukum Daniel S. Lev memiliki banyak bahan pustaka berupa himpunan yurisprudensi, akan tetapi sistem temu kembali yang dimiliki masih dinilai belum efektif dan efisien. Beberapa sistem yang telah ada juga belum memenuhi kebutuhan penggunannya. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkansolusi berupa pengembangan sistem temu kembali informasi yurisprudensi berbasiscontent management system(CMS). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menentukan kriteria sistem temu kembali informasi yurisprudensi terhadap masalah dari sistemsebelumnya dan kebutuhan pengguna saat ini; (2) mengembangkan sistem temukembali informasi yurisprudensi berbasis cms di Perpustakaan Hukum Daniel S.Lev; dan (3) mengetahui hasil usability testingdari pengembangan sistem. Metodepenelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif untukmenganalisis kebutuhan sistem dan pendekatan kuantitatif untuk memperoleh datausability test. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah purposivesampling, maka diperoleh 3 sampel sebagai informasi dalam proses analisiskebutuhan sistem dan 8 sampel sebagai partisipan pada proses usability test.Hasil penelitian menghasilkankan: (1) diperolehnya latar belakang pengembangansistem, analisis masalah sistem terdahulu dan berbagai spesifikasi kebutuhan sistemsecara umum dan spesifik; (2) dibangunnya Direktori Yurisprudensi yang dapatmengkatalogisasi, menyimpan dan menemukan kembali data putusanyurisprudensi; (3) Direktori Yurisprudensi dinilai sebagai sistem yang sudah efektifdan efisien, sedangkan kepuasan pengguna terhadap sistem dinilai masihSEDANG
Keywords:
hokum
· yurisprudensi
· sistem temu kembal
Introduction
Yurisprudensi merupakan suatu putusan hakim atas suatu perkara yang belum ada pengaturannya dalam undang-undang yang untuk selanjutnya menjadipedoman bagi hakim-hakim lainnya yang mengadili kasus-kasus serupa (Halim,1988). Menurut Agustine (2018), di Indonesia belum terdapat kesepahamanmengenai pengertian yurisprudensi yang disetujuibersama, karena Indonesiaterpengaruh oleh sistem hukum civil law yang memposisikan putusan yurisprudensisebagai sumber hukum yang tidak mengikat oleh hakim. Jika ditinjau dari konsepfundamentalnya, yurisprudensi dapat diartikan sebagai ilmu, filosofi atau teori darihukum (Stephenson, 2017). Kartini (2015) menjelaskan bahwa yurisprudensimerupakan keputusan pengadilan, khususnya keputusan yang dikeluarkan olehpengadilan negara tertinggi, yaitu Mahkamah Agung. Berbagai keputusan-keputusan tersebut, menjadi dasar keputusan hakim lainnya untuk mengadiliperkara serupa dan menjadi sumber hukum bagi pengadilan yang ada di bawahnya.Yurisprudensi juga merupakan salahsatu sumber hukum yang penting dalam khazanah sumber-sumber formal hukum didalam keluarga sistem hukum manapun(Shidarta, 2012).Koleksi ini sering dibutuhkan oleh parapeneliti hukum yang sedang melakukan penelitian mengenai yurisprudensi.Sehingga, bagi Perpustakaan Hukum Daniel S. Lev, yang sebagian besar pengguna utamanya adalahmahasiswa, praktisi dan peneliti hukum, memiliki tugas untuk memudahkan setiap proses pencarian putusan yurisprudensisecara efektif dan efisien untuk penggunanya.Sebelumnya, telah tersedia beberapa sistem temu kembali yurisprudensi yangkhusus yang memuat putusan yurisprudensi tersebut, di antaranya adalah DirektoriPutusan MA dan Indeks Hukum yang dimilki oleh Lembaga Kajian & AdvokasiIndependesi Peradilan (LeIP). Akan tetapi, kedua sistem tersebut masih dinilaibelum dapat memenuhi kebutuhan pengguna di Perpustakaan Hukum Daniel S.Lev, sebagaimana yang dijelaskan oleh Elnumeri pada diskusi tanggal 30 Juli 2018,beliau menjelaskan bahwa untuk meneliti dokumen mengenai yurisprudensi danputusan penting, masih terdapat beberapa hal yang belum dapat dipenuhi olehsistem temu kembali yurisprudensi Direktori Putusan MA, di antaranya sepertipenelusuran berdasarkan klaster suatu istilah rujukan. Selain itu, terkait Indeks Putusan LeIP, hingga saat artikel ini ditulis, situstersebut tidakdapat diakses atau dalam kata lain telah dinonaktifkan.Berdasarkan dua masalah tersebut, Perpustakaan Hukum Daniel S. Levmemprakarsai pengembangan sebuah sistem temu kembali yurisprudensi sebagaisolusi masalah. Akan tetapi, terdapat kendala karena sumber daya yangterbatas dalam hal dana ataupun tenaga yang ahli untuk mengembangkan sebuahsistem temu kembali yurisprudensi khusus untuk perpustakaan.Ghorecha & Bhatt(2013)menulisCMS adalah alat yang berupa paketperangkat lunak yang memungkinkan penggunanya membangun sebuah websiteyang dapat digunakan untuk mengelola konten situs web dan menyimpan informasidi dalamnya. Martinez-Caro (2018) juga menjelaskan bahwa Web Content Management System(WCMS) merupakan platform perangkat lunak yang secaraumum digunakan untuk kebutuhan website. Selain itu, WCMS mampu untukmembantu berbagai kebutuhan pengembangan web khususnya untuk pengembangweb pemula atau para perusahan kecil. WCMS juga dapat diterapkan tanpamembutuhkan kemampuan pemograman web yang ahli.Waworuntu dan Tanuar (2013) sudah berhasil membuat sebuahDocument Management System(DMS) dengan memanfaatkan sebuah ContentManagement System (CMS), Drupal versi 7. DMS sederhana iniberjalan dengan baik serta jugamemenuhi berbagai kebutuhan utama sebuah DMS, mulai dari membuat datadokumen hingga menemukan kembali dokumen tersebut. Hal tersebut didukungdari CMS yang pada dasarnya sudah memiliki fitur untuk mengelola konten(content management) dan otentikasi pengguna (user authentication). Sehingga,dapat diasumsikan bahwa sebuah CMS dapat menjadi solusi alternatif untukmengembangkan sebuah sistem sederhana yang mampu meminimalisir sumberdaya.Pada penelitian ini,peneiti menawarkan sebuah solusi untuk melakukanpengembangan yang sistem temu kembali informasi yurisprudensi berbasis CMSdengan menggunakan perangkat lunak Drupal sebagai solusi pengelolaan dan temukembali putusan yurisprudensi yang dimiliki oleh Perpustakaan Hukum Daniel S.Lev.Solusi yang ditawarkan sekaligus menjawab tujuan penelitian berupa (1) penetapan kriteria sistem temu kembali informasi yurisprudensi terhadap masalah dari sistemsebelumnya serta kebutuhan pengguna saat ini; (2) membangun sistem temukembali informasi yurisprudensi yang berbasis cms; dan (3) mengetahuisejauh manausability testdari sistemyang dibangun.
Method
Penelitian ini dilakukan dengan melakukan studi kasus dengan pendekatan kualitatif dan kuantitiatif. Pendektatan kualitatif digunakan untuk mengidentifikasikebutuhkan sistem temu kembali informasi yang dibutuhkan oleh Daniel S. Lev.Sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengalisis data dari hasilusability test untuk mengetahui tingkat keberhasilan sistem yang dikembangkan.Dalam pengembangan sistem,model prototypingatau pengembangan purwarupaakan digunakan dalam proses pengembangan. Modelpengembangan sistem ini tidak membutuhkan kebutuhan statis atau tetap. Padamodel ini, langkah awal yang lakukan adalah menciptakan sebuah desain kasar ataupurwarupa, diuji coba dan dikembangkan ulang sebagaimana yang dibutuhkanhingga rancangan purwarupadapat diterima dan memenuhi sasaran kebutuhanproduk yang dikembangankan (Saxena & Upadhyay, 2016).Model purwarupa dikembangkan sesuai dengankebutuhan klien dan tidakmenetapkan kebutuhan sebelum proses perancangan, melainkan menetapkankebutuhan ketika proses perancangan dan pengkodean. Tujuan dari model ini adalahuntuk memungkinkan pengguna dari perangkat lunak untuk mengevaluasi desainproduk dengan cara mencobanya langsung, sebelum produk benar-benar menjadiproduk akhir, dan tidak menginterpretasikan dan mengevaluasi rancanganberdasarkan deskripsi (Gajalakshmi, 2016). Berikut adalah contoh ilustrasi dari alurmodel prototype:Gambar 1Model PurwarupaSumber: Gajalakshmi (2016)Populasi dari penelitian ini merupakan para calon pengguna sistem yang sedangdikembangkan, yang diantaranya adalah para pengguna sistem (mahasiswa, praktisidan peneliti hukum). Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposivesampling, dengan menyediakan kriteria dan pertimbangan khusus untukmenentukan sampel, dalam kata dilihat berdasarkan latar belakang profesi dankeahlian dari sampel. Sehingga, diperoleh 3 informan yang di antaranya:•Praktisi hukum dari LeIP yang memiliki keahlian dalam bidang peradilandan juga merupakan seorang koordinator dari sistem Indeks Hukum LeIP.•Kepala Perpustakaan dari Perpustakaan Hukum Daniel S. Lev yangmerupakan inisiator dari kegiatan pengembangan sistem dan juga seorangpustakawan yang menguasai bidang hukum.•Pustakawan sistem dari Perpustakaan Hukum Daniel S. Lev yangmerupakan calon administrator untuk sistem.Sedangkan untuk, usability test menggunakan 8 orang partisipan yangterdiri atas 6 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum Indonesesia (STHI) Jenterasebagai pengguna potensial sistem dan 2 orang pustakawan dari PerpustakaanHukum Daniel S. Lev sebagai pengelola sistem. Seluruh partisipan tersebutsebelumnya telah diseleksi untuk menyesuaikan dengan kriteria partisipan yangdibutuhkan untuk melakukan uji coba pada sistem. Selain itu, berdasarkanpertimbangan dari teori Tullis & Albert (2013), dalam usability testdirekomendasikan untuk menggunakan hanya 5-10 partisipan untuk menguji sistemyang memiliki ruang lingkup terbatas.Menurut ISO 9241-210 (2010), usability(penggunaan) adalah tingkatsejauhmana suatu produk dapat digunakan oleh penggunanya untuk mencapai tujuantertentu berdasarkan dari aspek efektifitas (effectiveness), efisiensi (effieciency) dankepuasan (satisfaction) dalam konteks penggunaan yang telah ditentukan.Alat untuk mengukur usabilitytesting disesuaikan dengan komponenusability yaitu efektivitas, efisiensi dan kepuasan pengguna. Aspek efektivitas danefisiensi dapat diukur dengan menggunakan berbagai metrik dan penilaianobservatif, sedangkan aspek kepuasan diukur menggunakan post taskkuesioner.Untuk itu diperlukan skenario untuk memandu responden dalam menggunakanaplikasi. Skenario adalah kumpulan tugas yang harus dikerjakan responden padasaat menggunakan aplikasi (Nurhadryani et.al, 2013 )Pengukuran penggunaan sistem (study usabaility) pada penelitian akan dilakukan dengan metode metrik. Metrik keberhasilan tugas atau task success adalah kategori metrik yangpaling umum digunakan pada studi usability. Metrik ini hampir dapat diterapkansecara universal, karena dapat dihitung untuk berbagai macam hal yang sedangdiuji, contohnya seperti dari situs web, selama pengguna memiliki tugas yang cukupjelas (Tullis & Albert, 2013). Secara sederhana, tingkat keberhasilan tugas akan dihitungsecara biner, yaitu berhasil dan tidak berhasil. Tullis & Albert (2013) menjelaskanbahwa binary successdigunakan ketika keberhasilan produk tergantung padapengguna dalam menyelesaikan tugas atau serangkaian tugas. Selain itu, terdapat dua carayang dapat digunakan untuk mengkalkulasikan task success:•Melihat berdasarkan rata-rata tingkat kesuksesan dari setiap tugas yang dikerjakan oleh partisipan•Melihat berdasarkan rata-rata tingkat kesuksesan dari setiap partisipan yang mengerjakan keseluruhan tugasMetrik efesiensi untuk mempelajari kebiasaan pengguna pada penelitian digunakan lostness, sesuai Tullis & Albert (2013).Sharon (2016) menjelaskan bahwa lostness adalahsebuah penilaian efisiensi terhadap penggunaan sebuah produk atau layanan digital,metrik tersebut mampu menilai seberapa tingkat “ketersesatan” sesorang ketikamenggunakan sebuah produk. Kalkulasi pada metrik lostness membutuhkan tiganilai (value) dan diterapkan dalam formula lostnessyang di antaranya adalah (Tullis& Albert, 2013):N :Jumlah halaman web berbeda yang dikunjungi partisipan ketikamenyelesaikan tugasS: Jumlah total halaman web yang dikunjungi partisipan ketikamenyelesaikan tugas, terhitung juga pengulangan halaman R: Jumlah minimum halaman web yang harus dikunjungi untukmenyelesaikan tugas (ditentukan oleh peneliti)Lostness(L) = √(𝑁/S− 1) 2+ (R/ 𝑁− 1)2Berdasarkan hasil dari formula tersebut, jika nilai lostnessyang diperolehlebih dari sama dengan (>=) 0,4 maka dapat diasumsikan bahwa penggunamengalami kendala dalam menyelesaikan tugas yang diberikan dan tidak dapatmenyelesaikan tugas dengan efisien (Sharon, 2016).System Usability Scale(SUS) yang dikembangankan oleh John Brooke pada1986. SUS terdiri atas 10 pernyataan yang diantaranya terdapat masing-masing 5pernyataan positif dan negatif terhadap sistem atau produk dan terdapat 5 poinpenilaian untuk menyatakan kesetujuan pengguna (Tullis dan Albert, 2013).SUS dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur apakah sistem yang dibangun dapat diterima oleh pengguna.Menurut, Bangor et al dalam Brooke (2013) interpretasi terhadap nilai SUSdapat ditentukan berdasarkan:•Jika nilai SUS 0-50, maka sistem dapat dikategorikan pada tingkat tidak dapat diterima (not acceptable)•Jika nilai SUS 50-70, maka sistem dapat dikategorikan pada tingkat batas standar (marginal). Selain itu, pada marginal juga terdapattingkatan yang lebih spesifik, yaitu low marginal (50-62) dan high marginal (63-70)Jika nilai SUS 70-100, maka dinilai sistem dapat diterima (acceptable).
Result
Berdasarkan dari keseluruhan hasil wawancara yang dilakukan kepada FarliElnumeri sebagai pustakawan, Arsil sebagai praktisi hukum dan Triawan Mardiasasebagai administrator sistem, maka diperoleh beberapa data mengenai analisismasalah beserta solusi yang ditawarkan serta komponen kebutuhan sistem yang diantaranya adalah sebagai berikut:Tabel 1Masalah dan solusi yang ditawarkanMasalah darisistem terdahuluSolusi yang ditawarkanSulit menemukan isu yang unikdari spesifik pada sistem DirektoriPutusan MA dan Indeks HukumPembuatan ruas khusus yang memuat katakunci bebas yang tidak terikat olehklasifikasi dan tidak baku
Conclusion
Pada proses analisis kebutuhan sistem, telah diperoleh latar belakangpengembangan sistem, analisis masalah dan proses kerja terhadap sistem terdahuludan berbagai spesifikasi kebutuhan sistem secara umum dan spesifik. Berbagaikirteriasistem yang diusulkan oleh para informan adalah tersedianya sistem temu kembali informasi yang mampu untuk mengkatalogisasikanputusanyurisprudensi putusan berdasarkan metadata khusus yurisprudensi, menyimpan,menemukan kembali dan menampilkan data tersebutbaik untuk pengguna maupun pengelola sistem.Hasil dari produk pengembangan sistem informasiyurisprudensi Perpustakaan Hukum Daniel S. Lev diperoleh sebuah sistem temukembali informasi dengan melakukan kustomisasi berbagai fitur dasar yang dimiliki oleh CMS Drupal. Fitur-fitur dasar inidapat dimanfaatkan dengan optimal untuk memenuhi kriteria atau kebutuhansistem yang diminta. Terdapat beberapa modul tambahan yang mampumeningkatkan fungsi dari sistem temu kembali informasi, seperti mendefinisikandata tanggal secara spesifik, mengelompokan ruas-ruaspengisian data danmenentukan representasi data yang akan ditampilkanHasil usability testingpada sistem Direktori Yurisprudensi, dapatdisimpulkan bahwa sistem temu kembali informasi yurisprudensi dinilai sudahefektif dari konteks efektifitas dan efisien untuk penyelesaian berbagai transaksi tugasyang diberikan untuk setiapskenario. Pada aspek kepuasan atau tingkat pemanfaatan dariperspektif pengguna, sistem Direktori Yurisprudensi yang dibuat dapat dikategorikan sebagaimarginal highatau batas tinggi antara kategori tidak dapat menerima dan dapatmenerima,dalam kata lain cenderung dapat