PROSES KURASI DIGITAL MUSIK DAN FILM PERPUSTAKAAN BATU API
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Musik dan film menjadi bentuk ide kreatif masyarakat Indonesia yang telah didokumentasikan dalam pelbagai bahan, misalnya pada bahan piringan hitam, pita kaset dan cakram padat (CD. Namun, ketiga bahan inimulai kurang digunakan seiring pesatnya penggunaanbahan digital. Agar data bahan elektronik dapat dimanfaatkan kembali maka perlu diadakan kurasi digitalatau alih media. Perpustakaan Batu Api merupakan salah satu perpustakaan yang telah melakukan kurasi digitalsejak tahun 2003. Hal ini yang menjadikan Perpustakaan Batu Api memiliki koleksi musik dan film karyaIndonesia. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis proses kurasi digitalPerpustakaanBatu Apimenggunakan metode penelitian kualitatif melaluipendekatan studi kasus. Penulis menganalisis proses kurasi digital dalam 5(lima) tahap, diantaranya kriteria pemilihan subjekdan penemuanbahan, konsep kurasi digital, klasifikasi dan katalog, interaksi pengguna, dan perawatan.Ke-5 proses kurasi digitalini ditunjang kemampuan pemilik perpustakaandalam memberikan literasi musik dan film pada anggota perpustakaan.Dari proses ini, kami membuat model proses kurasi digitalsebagaialur kerja dalam melakukan kurasi digital di perpustakaan. Kesimpulan: Perpustakaan menjadi jembatan pengetahuan budaya masa lalu. Melalui kurasi digital, perpustakaan berperan sebagai kurator informasi bahan elektronik dari musik dan film. Perpustakaan Batu Api selain sebagai kurator musik dan film telah berperan dalam pelestarian budaya masyarakat Indonesia
Keywords:
Proses kurasi digital
· Perpustakaan Batu Api
· pelestarianbudaya
Introduction
Kebudayaan suatu bangsa dapat terwujud dalam pelbagai kesenian. Tylor dalam E-Learning Gunadarma, mengatakan bahwa, “Kebudayaan sebagai kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, kebiasaan, dan lain-lain”(Elearning Gunadarma, n.d.). Kesenian menjadi bagian keseharian masyarakat. Di Indonesia sendiri, hal inidituangkan dalam bentuk musik dan film. Musik memberikan ciri dalam kebiasaan yang dilakukan orang-orang di suatu wilayahberupaalunan nada. Syair lagu yang ditopang beragam suara pendukung menjadikan halini memiliki makna mendalam dalam penceritaaan kisah tersebut. Sedangkan film, dapat mengaktualisasikan kebiasan yang dianut masyarakat yang tercipta dalamgambar, suara dangerakan. Ada dialog yang terjadi di dalamnya sehingga orang dapat menangkap arti dari pesan yang disampaikan. Musik dan film menjadi bentuk ide kreatif masyarakat Indonesiayang telahdidokumentasikan dalam pelbagai bahan, misalnya pada bahan piringan hitam, pita kaset dan cakram padat(CD).Bila dirunut dari kemunculan ke-3 bahan ini, piringan hitam lebih awal digunakan masyarakat. Piringan hitam digunakan di Indonesiapada tahun 1957. Pada tahun tersebut, beberapa musikus merekam lagu dalam format ini. Tapi, penggunaannya makin berkurang. “Pada masa itu di Indonesia, piringan hitam termasuk mahal, ditambah lagi alat pemutarnya, jadi tidak semua orang Indonesia memilikinya” (DIGILIB Mercu buana, n.d.).Pita kaset sendiri, mulai banyak digunakan di Indonesia sejak tahun 1970-an. Pita kaset mulai membanjiri musik tanah air karena cara penggunaannya yang mudah dan perlengkapan alat putar yang terjangkau harganya. Namun, pita kaset pun jarang digunakan. Alasannya karena pita magnetikdalam kaset mudah tergulung hingga isi musik tidakmampu bertahan lama. Hampir sama dengan kehadiran pita kaset, cakram padat pun terkenal penggunaannya di tahun 1980-an. Alat putar cakram padat mudah digunakan danharganya yang terjangkau. Namun, di sisi lain, kepingan cakrampadat rentan tergoreshingga mengakibatkan isi musik tidak dapat diputar.Dari kelemahan di atas, piringan hitam, pita kaset dan cakram padat menjadi jarang digunakan. Alasannya pertama, penggunaannya memerlukan alat putar sehingga merepotkan saat menggunakannya. Ini membuat masyarakat memerlukan bahan elektronik yang praktis saat digunakan. Kedua, bahan elekronik yang sering diputar membuat kondisi fisiknya mulai rusak, mengakibatkan data dalam bahan elektronik mudah hilang. Akhirnya, sejak tahun 2003, bahan-bahanini menjadi onggokan barang yang tersimpan di rak saja. Padahal, isi dari musik dan film tersebut bernilai tinggi. Musik dan film yang terdapat di dalamnya merupakan musik dan film dari tahun lama, misalnya cakram padat Gamelan Sunda karya Mang Koko. Gamelan Sunda yang menghadirkan musik khas Sundaberupa karawitan dan kliningan dari kombinasi alat-alat gamelan.Dampak negatifnya hal ini, mengakibatkan beberapa musik tradisi Indonesia akan hilang dari ingatan masyarakat. Masyarakat generasi tuatidak bisa memberitahukan kepada generasi muda mengenai tradisi budaya setempat yang 23sebelumnya tertuang dalam musik. Selain itu, musik tradisi Indonesia jarang melakukan dokumentasi salinansehingga rentan terjadinya pengakuan kepemilikan karya oleh pihak lain. Untuk menangani hal tersebut, perpustakaan dapat berperan sebagai pelestari bahan elektronik melalui kurasi digitalatau alih media.Perpustakaan menjadi jembatan untuk menelusuri catatan sejarah suatu budaya melalui kurasi digital. Ini dijelaskan lebih mendalam bahwa, “These early discussions involved archivists, librarians, technologists,and researchers aiming to ensure long-term access to valuable historical records (evidence), data, heritage collections, and scholarship in digital forms”(Sabharwal, 2015). Pustakawan atau pengelola perpustakaan dapat menjadi pelaku kurasi digital.Kurasi digital sebagai salah satuteknik merawat dan menyimpan koleksi perpustakaan. Piringan hitam, pita kaset dan cakram padat dikumpulkan, dialihmediakan dan ditemukan kembali informasinyaoleh pengguna.Untuk melihat aplikasi kurasi digital di perpustakaan, kami mencoba menganalisis temuan di satu perpustakaan, yakni Perpustakaan Batu Api. Proses kurasi digital telah dilakukan perpustakaan ini sejak tahun 2003, yang dilakukan oleh pemilik perpustakaan sendiri, kerap disapa Bang Anton.Perpustakaan Batu Api melakukan kurasi digitalkarena ingin mempertahankan isi musik dan film dari piringan hitam, pita kaset dan cakram padat. Menurut Anton, “Jadi saya menyediakan apapun yang orang butuhkan. Kira-kira yang unik, di mana-mana gaada” (Solihin, 2016d). Memelihara isi ke-3 bahan eletroniktersebut menjadi peluang untuk menarik anggota perpustakaan berkunjung ke perpustakaan. Ini menjadi pembeda Perpustakaan Batu Api dengan perpustakaan lainnya di Kecamatan Jatinangor. Perpustakaan ini mempertahankan kesenian lama agar dapat dinikmati khalayak.Lord dan Macdonald dalam Sabharwal menambahkan bahwa kurasi digital, “Has placed digital curators in an active role of preserving and adding value tocollections for the public good by promoting new science and maintaining a solid community”(Sabharwal, 2015).Adanya kurasi digital telah menambah nilai isi musik dan film yang dihadirkan dalam piringan hitam, pita kaset dan cakram padat. 24Walaupun musik dan film dikeluarkan pada tahun-tahun lama namun kualitas isi masih dapat terdengar dan terlihat. Ketikapemilik perpustakaan telah memindahkan data dari piringan hitam, pita kaset dan cakram padat ke bentuk file komputer, laludiamemindahkan data tersebutdalam bentuk Digital Video Disc(DVD)yang diklasifikasikan sesuai kategori musik dan film. Misalnya,musik diklasifikasikan sesuai waktu pemerolehan dan nama negaraasalnya. Kode klasifikasi ditulis secara lengkap dalam katalog sederhana berbentuk notepad di laptop yang akhirnya diberikan kode nomer penyimpanan di rak.Setelah itu, pemilik perpustakaan menempatkan DVD dalam kantong di rak penyimpanan disertai silica gel. Pemilik perpustakaanmelakukan kurasi digitalseorang diri dan dia pun konsisten dalam mengerjakannya. Padahal, pemilik perpustakaan belum memiliki keahlian secara formaldan non formaldalam melakukan teknik kurasi digital. “Karena kebiasaan ajaawalnya. Karnadata awalnya. Saya banyak baca referensi plus dari kliping yang dibuat sendiri. Klomusik, karnanongkrong di Cihapit lama. Saya udahterbiasa musik nu lama. Akhirnya saya aplikasikan atau mainkan. Dan plusrasa ingin tahu”, ujar pemilik perpustakaan (Solihin, 2016d).Walaupun pemilik perpustakaanbelum menerima pendidikan kurasi digital, beliau memperoleh pengetahuan ini melalui kebiasan membaca dan mencari informasi ke pelbagai sumber. Padahal, tidak adanya keahlian khusus kurasi digital dapat mengakibatkan kualitas suara dan gambar yang dihasilkan tidak bagus. England, Schiphorst, dan Bryan-Kinns menjelaskan, “Otherwisewe have to be selective in our digital preservation tools and either look for ways to transfer old digital works into new formats or platforms, or accept that they will suffer digital decay(England, David; Schiphorst, Thecla; Bryan-Kinns, 2016).” Alat kurasi digital atau media untuk dalam mengalihmediakan data dari bahan elektronik ke digital harus diperhitungkan secara matang. Di mana pemilihan media dan cara penggunaanya jangan sampai membuat data dari bahan elektronik mengalami kerusakan.Dari hal ini, terlihat kalau pengerjaan kurasi digital cukup rumit.Dalam pengerjaannya dituntut orang yang memiliki keahlian mengoperasikan media 25teknologi, sabar dan telaten. Perjalanan kurasi digital di perpustakaan Batu Apisendiritidak selalu berjalan mulus. Kadangkalaada beberapa rekaman yang sudah selesai dialihmediakan ternyata hasilnya tidak bagus. “Kadang bisa nangisjuga klosudah rekam panjang-panjang, kehapus. Berarti gamudah, udahhabis dana dan waktu kehapus,” ujar pemilik perpustakaan(Solihin, 2016d).Panjangnya proses kurasi digital yang harus dilakukanterbayar melalui hasil kurasi digital yang berjumlah puluhan, yakni musik dan film dari Indonesia. Data digital ini menjadi koleksi perpustakaan yang dapat dimanfaatkan oleh anggota perpustakaan. Hal inilah yang menjadikan Perpustakaan Batu Api sebagai fenomena yang unik atau khas sehingga kami menelitinya. Maka, untuk lebih meng-fokuskan tulisan, kami menganalisis dalam proses kurasi digital yang dilakukan pemilik Perpustakaan Batu Api.Kami mencoba menggambarkan proses kurasi digital yang terjadi di Perpustakaan Batu Api, mulai dari pemilihan kriteria subjek, pemilihan bahan, pelaksanaan klasifikasi dan katalog, konsep kurasi digital yang dikerjakan, interaksi pengguna dan perawatan terhadap data digital. Lalu kami analisis mendalam penerapan proses kurasi digital sesuai temuan di perpustakaan.Hasil analisis ini, kami membuat sebuah model proses kurasi digital adaptasi dari temuan di lapangan. Model ini diharapkan dapat menjadi sebuah proses alur kerja dalam penerapan kurasi digital di perpustakaan. Maka, untuk membantu menganalisis penelitian ini, kami mencoba menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan studi kasus.Mengacu padaKirk dkk. dalam Jailani, penelitian kualitatif ialah,“Penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena (fenomenologis) tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian[..]”(Jailani, 2013). Subjek penelitian diamati untuk melihat fenomena atau masalah yang terjadi di dalamnya. Data yang terkumpul merupakan data asli dari subjek penelitian, yang lalu dianalisis dan dikembangkanlah pemahamannya secara mendalam. Shaw dan Gould memberikan karakteristik dari penelitian kualitatif(Shawn, Ian; Gould, 2001). Pertama,fenomena yang diamati terjadi di kehidupan sehari-hari, adanya refleksi dari keseharian individu atau organisasi. Kedua, peneliti sebagai penonton dan pengamat dalam fenomena tersebut. Peneliti memandang fenomena 26secara holistikatau menyeluruh, Ke-3, peneliti mengambil data dari subjek penelitian atau dari lingkungan subjek melalui proses pendalaman, pemahaman, dan pemilahan topik yang dipilih. Terakhir, analisis data diuraikan ke dalam kata-kata.Fenomena yang ditemui ialah adanya kegiatan kurasi digital di Perpustakaan Batu Api. Berdasarkan hasil pengamatan, kami sebutkan fakta yang berkaitan mengenai fenomena ini. Pertama, kegiatan kurasi digital telah dilakukan sejak 2003 hingga sekarang. Kedua, Perpustakaan Batu Api sebagai satu-satunya perpustakaan yang melakukan kurasi digital se-wilayah Kecamatan Jatinangor. Ke-3, pemilik perpustakaan melakukan kurasi digital tanpa melakukan pendidikan kurasi digital secara formal dan non formal. Ke-4, jumlah data digital hasil alih media berjumlah puluhan yang berisi dari musik dan film dari Indonesia.Berdasarkan fakta lapangan di atas, kami kira bahwa pendekatan studi kasus merupakan pendekatan yang sesuai untuk menganalisis fenomena ini. Bila melihat pernyataan Rahardjo, studi kasus ialah, “Suatu serangkaian kegiatan ilmiah yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam tentang suatu program, peristiwa, dan aktivitas, baik pada tingkat perorangan, sekelompok orang, lembaga, atau organisasi untuk memperoleh pengetahuan mendalam tentang peristiwa tersebut. Biasanya,peristiwa yang dipilih yang selanjutnya disebut kasus adalah hal yang actual (real-life events), yang sedang berlangsung, bukan sesuatu yang sudah lewat”(Rahardjo, 2017).Kami ingin mengetahui mengenai kasus yang terjadi yakni kegiatan kurasi digital yang dilakukan oleh pemilik perpustakaan di Perpustakaan Batu Api. Kegiatan kurasi digital sendiri merupakan kegiatan aktual-kegiatan yang masih berlangsung hingga kini. Ini dapat dikatakan fenomena unik karena hanya terjadi di Perpustakaan Batu Api. Untuk mendukung hal ini, Stake dalam Rahardjo mengutarakan persyaratan fenomena yang disebut unik tersebut (Rahardjo, 2017). Pertama, hakikat atau sifat kasus itu sendiri. Bahwa kurasi digital hanya terjadi di Perpustakaan Batu Api. Kedua, latar belakang terjadinya kasus. Pemilik perpustakaan melakukan kurasi digital diawali ketertarikannya pada musik dan film Indonesia. Ke-3, seting fisik kasus tersebut. Kurasi digital terjadi di tahun 27bermunculan produk digital. Ke-4, konteks yang mengitarinya, meliputi faktor ekonomi, politik, hukum, dan seni. Pemilik perpustakaan melakukan kurasi digital karenaingin menyimpan pengetahuan musik dan film rekaman terdahulu. Ke-5, kasus-kasus lain yang dapat menjelaskan kasus tersebut. Kurasi digital di perpustakaan dapat dihubungkan ke dalam kegiatan pelestarian perpustakaan. Ke-6, informan yang menguasai kasus yang diteliti.Kami memperoleh data dari pemilik perpustakaan sekaligus pelaku kurasi digital.Untuk mencoba menganalisis fenomena kurasi digital ini, kami melakukan langkah-langkah penelitian pendekatan studi kasus adaptasi dari Rahardjo. Pertama, pemilihan tema, topik dan kasus. Kurasi digital merupakan salah satu ilmu pelestarian di kajian ilmu perpustakaan. Kedua, pembacaan literatur. Kami mengumpulkan data buku fisik dan elektronik, e-journal, artikel, dan penelitian terdahulu untuk membantu menganalisis danmendukung fenomena ini. Ke-3, perumusan fokus dan masalah penelitian. Kami mengkhususkan penelitian ini pada proses kurasi digital yang terjadi di Perpustakaan Batu Api. Ke-4, pengumpulan data. Kami melakukan wawancara terhadap pemilik perpustakaan sekaligus pelaku kurasi digital, observasi pelibatan melalui ikut bergabung di perpustakaan dan dokumentasi yang terkait kegiatan ini. Ke-5, pengolahan dan analisis data. Data berupa transkrip wawancara dan foto kemudian dianalisis. Ke-6, simpulan penelitian. Setelah dianalisis lalu kami membuat simpulan atas penelitian ini. Analisis mengenai proses kurasi digital tidak akan mendalam bila tidak disertai penggunaan teori. Teori menurut Turner dalam Prijana, Erwina dan Winoto ialah, “Sebuah proses pengembangan ide-ide yang membantu menjelaskan bagaimana (how) dan mengapa (why) suatu peristiwa itu terjadi” (Prijana; Erwina, Wina; Winoto, 2017). Adanya teori membantu kami untuk menggambarkan proses kurasi digital yang berlangsung di Perpustakaan Batu Api. Kurasi digital merupakan kegiatan mengumpulkan bahan elektronik, mengalihmediakan bahan tersebut ke bahan digital lalu diadakan proses temu kembali oleh pemustaka. Beagrie dalam Sabharwal menambahkan kalau kurasi digital, “The Actions needed to maintain digital research data and other digital materials over their entire lifecycle and over time for current and future generations 28of users”(Sabharwal, 2015). Kegiatan ini menitikberatkan perawatan data berupa pemindahan data bahan elektronik menjadi bahan digital. Lalu data tersebut disimpan menjadi database hingga dapat digunakan kembali.Proses kegiatan kurasi digital yang terus berlangsung, menjadikankami menggunakan model teori Digital Curation Unit(DCU)dari Constantopoulos.“The DCU model emphasizes more explicitly the need for registering and maintaining how the stored, curated and preserved informationis utilized and accessed by the users through theirqueries and their interaction”(Constantopoulos, 2009). Teori model DCU lebih mengkhususkan dalammanajemen pengelolaan dan penyimpanan datalama yang diproduksi kembali.Ini berawal dari adanya kebutuhan informasi dari pengguna.Hasil dari proses kurasi digital dapat berfungsi memperpanjang nilai bahan elektronik sekaligus memberikanpelayanan digital sebagai nilai tambahsebuahperpustakaan. Berikut gambar di bawahiniuntuk lebih memperjelasproses kurasi digital.Gambar 1. Model DCU dalam Proses Kurasi DigitalSumber: (Constantopoulos, 2009)Sesuai model DCU di atas, proses kurasi digital terdiri dari beberapa tahap, diantaranya: 1.appraisal, yakni pengembangan kriteria sebagai sumber pemilihan dalam subjek proses kurasi digital;2.ingest, yakni jenis bahan elektronik yang akan mengalami proses kurasi digital, dari mulai bahan audio, video dan jenis lainnya; 293.classification, indexingand cataloguing, yakni 3 (tiga) produk manajemen informasi yang digunakan untuk memudahkan menyimpan dan menemukan kembali ketika diminta pemustaka;4.knowledge enhancement, yakni menitikberatkan pada tujuan mendalam dilakukannya kurasi digital, yang dihubungkan dengan kondisi lingkungan perpustakaan;5.presentation, publicationand dissemination, yakni hasil proses kurasi digitalyang digunakan lembaga perpustakaan sebagai koleksi baru perpustakaan yang dapat digunakan oleh pelbagai kalangan;6.user experience, yakni proses interaksi antara pemustaka dengan media pencarian;7.repository management, yakni fungsi penyebaran data hasil kurasi digital melalui repository virtual, sebagai mekanisme akses;8.preservation, yakni perlindungan terhadap data hasil kurasi digital.Selama proses kurasi digital ini berlangsung, terdapat 3 (tiga) hal yang mendukungnya, diantaranya:1.goal dan usage modeling,yakni pemustaka sebagai penerima informasi dapat menggunakan data hasil kurasi digital dan menerima pesan yang ingin disampaikan oleh lembaga perpustakaan sebagai kurator-pelaku kurasi digital2.domain modeling, yakni pengetahuan kuratordalam melakukan kurasi digitaldalam website3.authority management, yakni konsep awal dalam melakukan kurasi digital, ini berhubungan erat dengan klasifikasi, indexdan katalog-ketiga produk manajemen informasi. PERPUSTAKAAN BATU APISebelumkami membahas proses kurasi digital yang berlangsung di Perpustakaan Batu Api, kami membahas terlebih dahulu profil Perpustakaan Batu Api. Perpustakaan ini bermula dari pemilik perpustakaan, Anton Solihin yang memiliki minat dalam dunia musik dan film. Dia terbiasa membaca berbagai literatur 30yang mengulas mengenai perkembangan musik dan film, contohnya membaca di Perpustakaan British Council, Bandung. Di sana, dia memperoleh gambaran mengenai berbagai ulasan musik dan film dari seluruh dunia. Dia mencari sendiri musikdan filmyang telah dipelajarinya di Jalan Cihapit, Bandung,dan Mangga Dua, Jakarta-jalan ini merupakan pusat penjualan musik, film dan buku bekas.Setelah dirasakoleksi buku, musik dan film telah lengkap, kemudian dia membangun sebuah perpustakaanpada 1 April Tahun 1999, bernama Perpustakaan Batu Api. Perpustakaan ini berlokasi di depan rumahnya, seluas 7 x 6 meter, di Jalan Raya Jatinangor, Sumedang.Gambar.2Peta Lokasi Perpustakaan Batu ApiSumber Dokumentasi Perpustakaan Batu ApiPada tahun 2003, Anton, mengalami kerepotan saat melayani anggota perpustakaan yang meminta data musik dari pita kaset dan piringan hitam. Anton harus memindahkan datanya terlebih dahulu ke dalam pita kaset kosong dan memainkan alat putarnya. Dari situ, Anton berinisiatif memindahkan data elektronik ke digital agar mudah meng-transfer data ke anggota perpustakaan, contohnya anggota perpustakaan tinggalmembawa plasdisatau hardisk exsternalyang tersambung ke komputer.Pada tahun tersebut, Anton melakukan alih media bahan elektronik ke bahan digital atau disebut kurasi digital. Bahan elektronik yang dialihmediakan diantaranya bentuk piringan hitam, pita kaset dan cakram padat(CD). Koleksi musik dan film di Perpustakaan Batu Api merupakan hasil konsistensi pemilik perpustakaan selama bertahun-tahun sehingga kedua koleksi ini berjumlah puluhan.
Conclusion
Untuk mengulas analisis yang dibahas di atas, kami membuat beberapa kesimpulan di bawah ini.1.Bahan elektronik yang tidak digunakan lagi dapat diproduksi kembali melalui kurasi digital. Isi dari bahan elektronik piringan hitam, pita kaset dan cakram padat dialihmediakan ke dalam bentuk file digital. Ini memperkaya isi dari musik dan film yang terkandung di dalamnya;2.Bila dianalisis sesuai adaptasi dari teori Digital Curation Unit (DCU), Perpustakaan Batu Api melakukan proses kurasi digitaldimulai darikriteria pemilihan subjek dan penemuan bahan, adanya konsep kurasi digital, dilakukannya klasifikasi dan katalog, adanya interaksi pengguna, dan perawatan;3.Setelah adanya analisis dari temuan proses kurasi digital di Perpustakaan Batu Api, kami membuat model proses kurasi digitalyang diharapkan dapat menjadi alur kerja dalam melakukan kurasi digital di perpustakaan;4.Kurasi digital tidak hanya pemahaman teknis dalam pengoperasian alih media bahan elektronik saja. Tapi, melalui kurasi digital kita dapat belajar pengetahuan masa lalu yang tertuang dalam bahan elektronik lama