Kembali
16
1
2018 Visi Pustaka: Buletin Jaringan Informasi Antar Perpustakaan Vol 20 · 2 ISSN 2685-7138

PENGGUNAAN NEAR FIELD COMMUNICATION DALAM KEGIATAN STOCK OPNAME DI LIBRARY & KNOWLEDGE CENTER BINUS UNIVERSITY INTERNATIONAL

Bina Nusantara University; Bina Nusantara University

Abstrak

Stock opname merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Library & Knowledge Center (LKC) Binus University setiap tahunnya sebagai salah satu kegiatan pengembangan koleksi. Proses stock opname di LKC menggunakan aplikasi yang terintegrasi dengan sistem basis data koleksi. Sistem aplikasi yang digunakan untuk stock opname merupakan aplikasi mandiri, pengembangan dari Sistem Informasi Perpustakaan yang dibuat oleh tim IT Development Binus University. Sistem tersebut berupa aplikasi desktop yang dipasang ke sebuah perangkat komputer dan diintegerasikan dengan perangkat keras berupa RFID reader sebagai pembaca sensor RFID tag yang dipasang di koleksi. Metode penelitian yang digunakan adalah deksriptif. Metode tersebut digunakan karena penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi alasan penggunaan sistem aplikasi pada smartphone yang berbasis teknologi NFC dalam kegiatan stock opname di LKC. Kegiatan stock opname dengan RFID system yang digunakan oleh LKC dapat digabungkan dengan teknologi NFC pada smartphone dan dapat diterapkan pada salah satu kegiatan LKC yaitu kegiatan stock opname agar prosesnya lebih praktis

Abstract

The Library & Knowledge Center (LKC) of Binus University conducts annual stock opname as one of its collection development activities. The stock opname process in LKC uses an integrated application with the collection database system. The application system used for stock opname is a standalone application, a development of the Library Information System and created by the Binus University IT development. The system is a desktop application plugged into a computer device and integrated with hardware in the form of RFID reader as RFID tag reader sensor installed in the collection. A descriptive research method was used in this research because it aimed to find out the reason for the use of application systems on smartphone based on NFC technology in the activities of stock opname in LKC. The activity of stock opname with an RFID system used by LKC can be combined with NFC technology on smartphone and can be applied to one of LKC activies namely stock opname that makes the process more practical.
Keywords: stock opname · near field communication · RFID · Library Technology · Android

Introduction

Stock opname merupakan salah satu kegiatan pengembangan koleksi perpustakaan. Kegiatan ini berupa pemeriksaan kesesuaian data koleksi yang tersimpan di pangkalan data milik perpustakaan. Bentuk kegiatan tersebut adalah melihat jumlah dan kondisi fisik koleksi yang ada di rak apakah masih sesuai dengan yang terdata atau sudah berubah. Library and Knowledge Center (LKC) Binus University International rutin melakukan kegiatan stock opname setiap setahun. Stock opname dilaksanakan saat libur perkuliahan karena selama kegiatan berlangsung tidak boleh ada yang melakukan transaksi peminjaman dan pengembalian buku. Durasi stock opname di LKC dilakukan selama tiga hari, kemudian waktu validasi dari temuan stock opname adalah satu sampai dua bulan. Proses stock opname di LKC menggunakan aplikasi yang terintegrasi dengan sistem basis data koleksi. Sistem aplikasi yang digunakan untuk stock opname merupakan aplikasi mandiri pengembangan dari Sistem Informasi Perpustakaan yang dibuat oleh IT Development Binus University. Sistem tersebut berupa aplikasi desktop yang dipasang ke sebuah perangkat komputer dan diintegerasikan dengan perangkat keras berupa RFID reader sebagai pembaca sensor RFID tag yang dipasang di koleksi. Stock opname di LKC memerlukan beberapa persiapan sebelum dilaksanakan, salah satunya yaitu merakit perangkat pendukung kegiatan. Satu set perangkat stock opname terdiri dari komputer yang sudah terpasang aplikasi stock opname di desktop dan satu buah RFID reader. Selain itu, diperlukan juga beberapa peralatan pendukung berupa satu buah troli yang digunakan untuk membawa perangkat komputer mengelilingi rak koleksi, kabel gulung 10 meter, dan kabel LAN sepanjang 15 meter yang dihubungkan dengan jaringan LAN sebagai koneksi ke server pangkalan data. Peralatan persiapan menjadi kurang praktis. Tak hanya itu, ketika proses stock opname berlangsung, ruang gerak juga terbatas karena panjang kabel LAN dan kabel listrik tidak mencukupi dikarenakan oleh luas ruangan. Ukuran troli yang besar membuat kegiatan memeriksa koleksi sulit karena jarak antara rak kurang lebar. Permasalahan stock opname yang kurang praktis ini membuat IT Development Binus University membangun aplikasi mobile library stock opname agar kegiatan stock opname menjadi lebih efektif dan efisien. Dalam tulisan ini penulis memaparkan tentang uji coba penggunaan aplikasi mobile library stock opname yang telah dibuat oleh IT Development dalam pelaksanaan stock opname di LKC. Tujuannya untuk mengetahui apakah aplikasi tersebut dapat membantu pustakawaan selama kegiatan stock opname. Tinjauan Pustaka Tren Penggunaan Teknologi di Perpustakaan Teknologi merupakan sebuah metode yang fokus pada memahami, mengembangkan, mengimplementasikan dan menggunakan sistem yang bertujuan untuk memecahkan masalah (Baker, 2004: 17). Selain itu, Baker (2004) berpendapat bahwa penggunaan teknologi telah meningkat di berbagai bidang untuk keunggulan kompetitif, meningkatkan kualitas, efisiensi, efektifitas, atau kombinasi dari keempatnya. Dampak tersebut juga terjadi di perpustakaan dengan tujuan seperti yang disebutkan oleh Baker tadi. Hampir di setiap bidang di perpustakaan bersentuhan dengan teknologi yang menimbulkan suatu keterkaitan satu sama lain. Hal itu sejalan dengan pendapat Baker (2004) bahwa sistem di dalam sebuah teknologi terdiri dari komponen-komponen yang memiliki hubungan satu sama lain dan integral dengan sistem tersebut. Tren teknologi di perpustakaan terus berubah seiring dengan perkembangan yang terjadi. Komputerisasi menjadi fokus perkembangan teknologi yang diikuti oleh perpustakaan. Perpustakaan yang sudah terkomputerisasi mulai mengintegrasikan sistem yang mereka miliki untuk kesinambungan pekerjaan antara satu bagian dengan bagian lain. Sistem RFID di Perpustakaan RFID ditemukan pada tahun 1948, walaupun begitu versi sederhananya sudah digunakan selama Perang Dunia oleh Inggris untuk mengidentifikasi pesawat yang dikenal dengan menggunakan sistem Identifikasi Teman atau Musuh (Shien-Chiang, 2007: 59). Perkembangan RFID terus berlanjut setelahnya dengan sistem yang semakin disempurnakan. Menurut Kern (2004), ada tiga komponen di dalam sistem RFID, antara lain: 1. RFID tag (atau transmisi). 2. RFID reader (atau pemeriksa). 3. Sistem aplikasi yang digunakan alat pembaca untuk mengirim atau menerima data dari lag. RFID tag menggunakan sinyal radio untuk memindahkan data yang telah dikumpulkan. Yusof, at.al (2015) mengungkapkan: "Ada dua tipe tag, yaitu chip dan antenna. Chip digunakan untuk menyimpan informasi, sementara itu antena dapat merespon penerimaan dan pengiriman informasi. RFID tag dapat dipisah menjadi dua kategori, yaitu aktif dan pasif. RFID tag yang aktif memiliki sumber daya sendiri (seperti baterai) untuk mengirimkan tenaga ke chip dan menyebarkan sinyal kembali ke RFID reader. Pada RFID tag yang pasif, sumber daya diperoleh dari pengiriman sinyal oleh antena. Dalam hal biaya, RFID tag pasif lebih murah daripada yang aktif." Menurut Ollivier (1995), pada tahun 1980, konsep yang sama dengan RFID telah diakui kegunaannya secara komersial dan diaplikasikan di beberapa industri. Perkembangan sistem RFID yang semakin stabil membuat teknologi ini digunakan secara luas saat ini. Perpustakaan menjadi salah satu institusi yang menggunakan sistem RFID di dalam operasionalnya. Menurut Satoglu, et.al (2013), ada enam bagian utama di perpustakaan yang menggunakan sistem RFID, yaitu pendataan anggota baru, tagging, sirkulasi, deteksi anti pencurian, inventarisasi, dan administrasi. Keenam bagian itu saling berhubungan melalui satu jaringan yang sama dan terhubung ke pangkalan data. Satoglu, et.al (2013) menggambarkan hubungan keenam komponen tersebut pada ilustrasi berikut: Gambar 1. Ilustrasi Penggunaan RFID pada Sistem Informasi Perpustakaan Teknologi Near Field Communication Sistem RFID terus dikembangkan dengan menghasilkan teknologi baru bernama Near Field Communication atau NFC. Teknologi NFC mulai dikenal dalam satu dekade ini. Menurut Coskun, et al (2012), konsep NFC merupakan desain dari beberapa teknologi, seperti wireless communication, perangkat mobile, aplikasi mobile, dan smart cards. NFC beroperasi di antara dua perangkat dengan jarak komunikasi yang sangat pendek. Komunikasi NFC menggunakan spectrum 13,56 MHz seperti pada sistem RFID. Saat ini, pilihan kecepatan transfer datanya adalah 106, 212, dan 424 kbps. Teknologi NFC beroperasi di dalam model operasional yang berbeda; reader/writer, peer-to-peer, dan kartu emulasi dimana komunikasi timbul aritara NFC mobile pada satu sisi dengan sebuah RFID tag pasif dan NFC mobile atau NFC reader pada sisi lainnya. (Coskun, et.al, 2012: 7). Menurut Coskun, et.al (2012), NFC mobile adalah ponsel yang juga bertindak sebagai NFC mobile adalah peralatan NFC yang sangat penting. Baru-baru ini integrasi teknologi NFC dengan ponsel menciptakan peluang besar untuk meredakan penggunaan dan penerimaan ekosistem NFC. Sementara itu NFC reader mampu melakukan transfer data dengan komponen NFC. Sedangkan NFC tag sendiri merupakan RFID tag yang tidak memiliki sumber daya terintegrasi. Menurut Coskun, et.al (2012), model reader/writer memungkinkan NFC mobile mengubah data dengan satu NFC tag. Model peer-to-peer memungkinkan dua NFC mobile untuk mengubah data satu sama lain. Pada model kartu emulasi, sebuah ponsel dapat digunakan sebagai kartu untuk berinteraksi dengan sebuah alat pembaca NFC. Setiap model operasi memiliki infrastruktur teknik yang berbeda disesuaikan dengan kegunaan pengguna. Web Services Web services adalah sebuah aplikasi perangkat lunak yang diidentifikasi oleh sebuah URL, yang mana alat penguhubung dan pengikat dapat didefinisikan, dideskripsikan, dan ditemukan sebagai XML (Alonso, et.al, 2004: 124). Menurut Alonso, et.al (2004), sebuah web service mendukung secara langsung interaksi dengan perangkat lunak lain menggunakan pesan berbasis XML yang diubah melalui protocol berbasis internet. Pada dasarnya web services adalah suatu jalan untuk membuka operasional bagian dalam melalui web. Alonso, et.al (2012) memberikan contoh yaitu pada sebuah implementasi yang membutuhkan sistem untuk dapat menerima permintaan melalui web dan untuk melewatinya di bawah sistem IT. Alonso, et.al (2012) menjelaskan tentang cara kerja web services pada infrastruktur berikut: Gambar 2. Infrastruktur sederhana dari web services Infrastruktur pada gambar 2 terdapat permintaan layanan dari klien ke penyedia layanan yaitu provider. Informasi permintaan tersebut diubah melalui sebuah pesan yang dilakukan Simple Object Access Protocol (SOAP). Pesan ini digunakan sebagai amplop dimana aplikasi mengelilingi informasi apapun yang perlu dikirimkan. Dengan kata lain, web services menjadi penghubung antara pengguna dengan pangkalan data.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Creswell (2013), penelitian kualitatif digunakan untuk menyelidiki dan menggali sebuah makna di dalam masalah sosial. Sementara itu metode penelitian yang digunakan adalah deksriptif. Metode deskriptif menggambarkan detail yang spesifik tentang sebuah situasi, keadaan sosial, atau hubungan (Neuman, 2013: 38). Penggunaan metodologi penelitian tersebut karena penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu alasan penggunaan sistem stock opname di LKC yang awalnya menggunakan aplikasi di komputer menjadi menggunakan aplikasi pada smartphone yang berbasis teknologi NFC. Pengumpulan data dilakukan dengan mewawancara beberapa informan penelitian. Informan dipilih dengan metode purposive sampling berdasarkan beberapa kriteria, antara lain: 1. pustakawan LKC berjumlah delapan orang, dan 2. Tim IT pengembang sistem stock opname berbasis NFC yang berjumlah tiga orang, yaitu satu orang project leader dan dua orang mahasiswa yang statusnya sekaligus sebagai staf. Data yang sudah didapat kemudian direduksi untuk mencocokkan informasi dari manajemen LKC dan IT yang membuat aplikasi stock opname berbasis NFC. Informasi yang sudah direduksi tersebut akan ditarik suatu kesimpulan mengenai alasan dibuatnya aplikasi tersebut dan digunakan menggunakan smartphone.

Discussion

Sejarah Sistem Perpustakaan di Library & Knowledge Center Binus University Pengembangan Library & Knowledge Center (LKC) Binus University telah dirintis sejak tahun 1982 guna mendukung kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu kegiatan belajar mengajar, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. LKC telah mengalami beberapa kali pergantian nama seiring dengan pergantian nama perguruan tinggi itu sendiri. Nama pertama yang dipakai adalah Perpustakaan Akademik Teknik Komputer (ATK). Tahun 1982 adalah awal pemberian jasa kepada civitas akademika Binus University. Jasa layanan yang diberikan menggunakan sistem manual dan tertutup (closed access services), artinya pengguna tidak dapat langsung menuju rak koleksi untuk mencari atau mendapatkan koleksi yang diinginkannya. Seiring dengan perkembangan Binus University, layanan yang diberikan pun semakin berkembang. LKC berpindah tempat ke gedung M di lantai dasar pada tahun 1986. Begitu pula namanya berubah menjadi Perpustakaan Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Bina Nusantara. Pada tahun 1994 LKC menempati gedung K dan J dengan sistem perpustakaan yang sudah terkomputerisasi (otomasi) dan menggunakan program Visual Foxpro. Sementara itu, layanan Sirkulasi masih menggunakan sistem layanan tertutup. Nama yang masih melekat sejak tahun 1996 adalah Perpustakaan Binus University. Tahun 1999 layanan LKC telah terkomputerisasi dengan sistem informasi yang kemudian diberi nama Sistem Informasi Perpustakaan (SIPus). SIPus ini meliputi layanan bagian pengadaan, pengolahan, serta sirkulasi. Sistem layanan pun sudah terbuka (open access sevices), sehingga mahasiswa, dosen, dan karyawan dapat mencari buku sendiri di rak. Jasa peminjaman koleksi diberikan kepada mereka yang menjadi anggota perpustakaan. Dengan berubahnya sistem layanan, diharapkan UPT Perpustakaan akan semakin dekat dengan penggunanya. Pada September 2001, Perpustakaan The Joseph Wibowo Centre (JWC) yang berlokasi di Jalan Hang Lekir I No. 6 resmi dibuka. Perpustakaan JWC khusus melayani dosen, mahasiswa S2, dan Kelas Internasional dengan sistem layanan terbuka (open access services). Pengembangan perpustakaan masih berada dibawah koordinasi LKC Anggrek sebagai pusatnya. Perkembangan LKC Binus University terus berlanjut hingga tahun 2002. Hal yang sama juga terjadi terhadap SIPus yang dikembangkan dengan memberikan beberapa penambahan layanan. SIPus yang baru saat ini sudah dapat melayani penggunanya yang ingin menelusur, memesan (booking) koleksi buku, dan memperpanjang pinjaman koleksi buku lewat website. Pada Agustus 2007, nama Library and Knowledge Center (LKC) digunakan hingga saat ini. Layanan intra library loan ditambahkan sebagai layanan bersama antara sirkulasi Anggrek dan JWC. Pada tahun 2008, penggunaan RFID (Radio frequency identification) system mulai dilakukan di LKC Binus. RFID system digunakan dalam kegiatan LKC juga untuk sistem Sirkulasi LKC, baik peminjaman dan pengembalian manual mau pun peminjaman mandiri (Auto Borrowing). Selain itu, penggunaan RFID juga berfungsi sebagai sistem keamanan koleksi LKC. Penggunaan RFID System di Library & Knowledge Center Binus University Ada banyak jenis koleksi yang diolah di LKC, salah satunya koleksi tercetak seperti buku, terbitan berkala (majalah dan jurnal) serta koleksi thesis (S1 dan S2). Dalam pengolahan koleksi salah satu teknologi yang digunakan adalah RFID system. Kesemua koleksi ini dipasang RFID tag pada tiap-tiap eksemplar pada bagian belakang koleksi. Pada koleksi buku, setiap nomor induk buku (nomor pereksemplar koleksi) didata di dalam RFID tag. Ketika dilakukan peminjaman dan pengembalian koleksi, RFID tag ini akan menampilkan data buku di sistem. Sehingga ketika ada peminjaman dan pengembalian buku, data di RFID tag terbaca oleh sistem Sirkulasi LKC melalui RFID reader dan tersimpan di dalam sistem. Berbeda dengan koleksi terbitan berkala dan tesis yang hanya dipasang RFID tag, namun dengan kondisi aktif tanpa ada pendataan di sistem untuk nomor induknya. RFID tag yang dipasang pada setiap eksemplar koleksi tercetak terhubung dengan sistem pengaman di LKC. Apabila terjadi usaha pencurian koleksi LKC, security gate akan berbunyi. Oleh karena itu, selain untuk pendataan koleksi, pemasangan RFID tag juga berfungsi sebagai salah satu bagian dari sistem pengaman koleksi di LKC. Penggunaan RFID System dalam Kegiatan Stock Opname Library & Knowledge Center Binus University Untuk melakukan kegiatan pengecekan koleksi, LKC JWC melakukan stock opname secara rutin setiap setahun sekali. Kegiatan dilakukan di saat libur perkuliahan di semester ganjil. Waktu tersebut dipilih karena seluruh kegiatan Sirkulasi akan dihentikan pada saat stock opname berlangsung. Tujuannya agar kondisi status buku pada sistem tidak berubah. Durasi stock opname di LKC JWC dilakukan antara 2-3 hari, kemudian dilakukan validasi selama dua sampai tiga bulan. Aplikasi yang digunakan untuk stock opname merupakan aplikasi mandiri pengembangan dari Sistem Informasi Perpustakaan(SIPus)yang dibuat menggunakan Microsoft Visual Basic Studio dan program basisdata SQL Server. Aplikasi ini dibuat oleh IT Technology Development Binus University yang berupa aplikasi desktop dan dipasang ke sebuah perangkat komputer yang kemudian diintegerasikan dengan perangkat keras berupa RFID reader sebagai pembaca sensor RFID tag yang dipasang di koleksi. Pustakawan harus mempersiapkan beberapa hal sebelum kegiatan stock opname dilaksanakan di LKC JWC. Secara umum, persiapan stock opname yang diperlukan adalah sebagai berikut: 1. Menyusun jadwal pelaksanaan stock opname. 2. Membuat Surat Pemberitahuan (announcement) tentang kegiatan stock opname, yang mana selama kegiatan ini berlangsung pemustaka tidak dapat melakukan peminjaman koleksi perpustakaan dan hanya dapat melakukan pengembalian peminjaman koleksi perpustakaan. 3. Melakukan pembagian tugas kegiatan stock opname. 4. Menata buku di rak berdasarkan urutan Nomor Panggil Buku (shelving) minimal satu hari sebelum pelaksanaan stock opname. 5. Mempersiapkan peralatan dan perlengkapan kegiatan stock opname. Beberapa perangkat diperlukan untuk kelancaran kegiatan stock opname yang disusun di sebuah troli dan dihubungkan dengan jaringan LAN (Local Area Network) sebagai koneksi ke database server. Dalam persiapan peralatan dan perlengkapan, stock opname membutuhkan satu set perangkat pendukung, antara lain: * Seperangkat komputer (yang sudah terpasang aplikasi stock opname desktop). * 1 buah troli. Kabel LAN sepanjang 15 meter. Kabel gulung listrik sepanjang 10 meter. 1 buah RFID reader Jumlah perangkat pendukung dirakit sesuai kebutuhan atau ketersediaan alat pendukung. Setelah semua sudah dirakit menjadi satu set perangkat maka pustakawan perlu memastikan kabel jaringan LAN dan listrik terpasang dengan baik dan aman. Apabila semua sudah terpasang maka kegiatan stock opname dapat dimulai. Setiap satu set perangkat stock opname dibawa berkeliling di antara barisan rak untuk memindai koleksi satu-persatu (Gambar 3). Gambar 3. Contoh set perangkat pendukung kegiatan stock opname Secara umum proses kegiatan stock opname adalah sebagai berikut: 1. Login ke aplikasi dan pilih jenis koleksi dan lokasi yang sesuai. Save Gambar 4. Pengaturan lokasi dan jenis koleksi stock opname 2. Ambil koleksi buku satu persatu. 3. Letakkan buku di RFID Reader untuk dipindai. Gambar 5. Kegiatan pemindalan koleksi pada saat stock opname 4. Lihat status yang ada dilayar monitor, jika tidak sesuai atau kondisi koleksi perlu perbaikan maka koleksi tersebut dipisahkan. Losalon CJWC Type 01-Tea 2013000000404 The 00000404 0001040 201007191 Sales management cond and caree JWC Candidon Type Status Tea ACTIVE Gambar 6. Tampilan aplikasi desktop stock opname Persiapan dan proses pengerjaan $$stock$$ $$opname$$ pada uraian di atas memperlihatkan proses yang cukup merepotkan dan memiliki resiko cukup tinggi. Resiko yang dapat terjadi adalah kerusakan pada perangkat pendukung. Oleh karena itu, memerlukan perangkat yang lebih praktis dan lebih fleksibel. Teknologi NFC pada Aplikasi Stock Opname LKC Binus University Pada tahun 2015 tim IT di Technology Development Department Binus University sedang fokus mempelajari beberapa fitur teknologi $$mobile$$ yang ada pada $$smartphone$$. Mereka mencoba menerapkan teknologi tersebut pada kegiatan yang ada di area Binus University terutama sekali yang memerlukan. Teknologi $$mobile$$ yang di-explore salah satunya adalah teknologi NFC. Tim Technology Development mengamati kegiatan yang ada di Binus University, terutama LKC. Dari beberapa kegiatan yang ada di LKC mereka melihat teknologi NFC $$mobile$$ dapat diterapkan pada RFID $$system$$ yang sudah digunakan LKC. Salah satu kegiatan rutin LKC yang menggunakan RFID $$system$$ adalah $$stock$$ $$opname$$. Menurut mereka dalam kegiatan tersebut persiapan perlengkapan dan proses pengerjaannya kurang praktis, seperti masihnya memerlukan banyak kabel dan terbatasnya ruang gerak dalam pengerjaan. Setelah melakukan pengamatan, Tim Technology Development membangun sebuah aplikasi pada $$smartphone$$ yang dinamai $$Mobile$$ $$library stock opname$$. Aplikasi ini digunakan untuk kegiatan $$stock opname$$ yang menggunakan teknologi NFC yang ada di $$smartphone$$. Ada pun perangkat lunak yang digunakan untuk pembuatan aplikasi : 1. Microsoft Visual Studio 6 (untuk aplikasi pada $$desktop$$) pengembangan dari aplikasi desktop yang digunakan sebelumnya. 2. Eclips (untuk aplikasi pada Android). SQL Server Database, yaitu program basis data yang digunakan dari aplikasi desktop stock opname. Teknologi NFC yang ada pada smartphone mulai diujicoba di LKC Binus University, yaitu pada kegiatan stock opname di LKC Kijang dan Anggrek pada bulan Agustus 2015 dengan menggunakan aplikasi mobile library stock opname. Kemudian disusul uji coba di LKC JWC pada bulan September 2015. Aplikasi yang digunakan dalam kegiatan stock opnarne kali ini terdiri dari dua bagian yaitu satu aplikasi desktop berbasis Windows dan satu aplikasi mobile berbasis Android. Aplikasi desktop stock opname ini merupakan pengembangan dari aplikasi terdahulu yang dipakai oleh LKC. Pada aplikasi tersebut ditambahkan menu mobile yaitu fitur yang berisi sinkronisasi data dari server ke smartphone yang digunakan. Aplikasi ini dipasang pada perangkat komputer yang menggunakan sistem operasi Windows XP atau Windows 7 32 Bit. Kemudian, untuk aplikasi Mobile library stock opname dipasang pada perangkat smartphone sebagai media untuk memindai RFID Tag. Perangkat smartphone yang digunakan minimal menggunakan sistem operasi Android 2.3.3 Ginger Bread dan tersedianya fitur NFC pada smartphone tersebut. Persiapkan peralatan dan perlengkapan kegiatan stock opname setelah menggunakan teknologi NFC sedikit berbeda. Dalam persiapan peralatan dan perlengkapan stock opname kali ini membutuhkan beberapa perangkat pendukung, antara lain: 1. Seperangkat komputer (yang sudah terpasang aplikasi desktop stock opname) 2. Satu buah smartphone yang memiliki fitur NFC (contoh yang digunakan oleh LKC JWC adalah Asus Zenfone 2 ZE551ML). 3. Jaringan Wifi yang terintegrasi web service Binus University. 4. Kabel data USB. Setelah kedua aplikasi stock opname sudah terpasang, ada dua hal yang dilakukan pada proses pertama yaitu mempersiapkan aplikasi Mobile library stock opname di smartphone dan desktop stock opname. Untuk mempersiapkan aplikasi di smartphone yang perlu dilakukan adalah mengaktifkan fitur NFC. Kemudian melakukan login ke aplikasi Mobile library stock opname yang ada di smartphone (Gambar 7). 01000 Wireless & networks Cellular networks Tethering Airplane mode NFC Ardote exchange advice ches anerker device Android Be Library Stack Ope Gambar 7. mengaktifkan fitur NFC pada smartphone dan login pada aplikasi Mobile library stock opname Sementara itu, untuk mempersiapkan aplikasi desktop stock opname yang harus dilakukan adalah login ke aplikasi tersebut (Gambar 8). Setelah login dilakukan kemudian memasang kabel data USB ke perangkat komputer untuk sinkronisasi basis data. Dengan menekan tombol 'generate database' pada menu 'mobile' aplikasi desktop stock opname. Setelah proses generate berhasil lalu pilih tombol 'transfer database' (Gambar 9) atau dengan cara menekan tombol 'synchronize' pada aplikasi mobile library stock opname (Gambar 10). Gambar 8. Tampilan login aplikasi desktop stock opname Gambar 9. Tampilan menu pada aplikasi Desktop stock opname untuk sinkronisasi data dengan aplikasi mobile library stock opname Stock Opname k 72 0 Synchronize Vien Une conced Books Cher Saved 50 la Suttings Lagest Gambar 10. Tampilan menu pada aplikasi mobile library stock opname untuk sinkronisasi data dengan aplikasi desktop stock opname Untuk login pada aplikasi mobile library stock opname diperlukan jaringan Wifi yang terintegrasi dengan database server melalui internet menggunakan teknologi web service Binus University (Gambar 11). Tujuan digunakan jaringan Wifi pada smartphone agar terkoneksi dengan database server. Jaringan Wifi sangat berpengaruh dalam penggunaan aplikasi ini sehingga harus disiapkan dengan baik. Gambar 11. Bentuk koneksi jaringan teknologi web service antara database LKC dengan aplikasi Kegiatan Stock Opname di Library & Knowledge Center Binus University International Menggunakan Aplikasi Mobile Library Stock Opname Jenis koleksi yang ada di LKC ada bermacam-macam dan lokasi LKC pun sudah ada di beberapa tempat, maka setelah proses sinkronisasi antara aplikasi desktop dan mobile library stock opname selesai dilakukan, proses selanjutnya adalah memilih jenis dan lokasi koleksi yang akan dipindai (Gambar 12). Location Angge Ang Tape Test Te Referanci JWe AS FX Palohe Motong 000000000 Gambar 12. Memilih lokasi kampus dan jenis koleksi untuk stock opname Gambar 14. Tampilan laporan buku tidak terpindai pada aplikasi Mobile library stock opname Kendala Penggunaan Mobile Library Stock Opname Pada uji coba aplikasi mobile library stock opname berbasis NFC tahun 2015 dan pelaksanaan kegiatan stock opname tahun 2016 dan 2017 terdapat beberapa kendala yang cukup signifikan untuk diperbaiki pada aplikasi, yaitu : 1. Smartphone driver Dalam mengkoneksikan smartphone pada perangkat komputer beberapa smartphone membutuhkan driver pendukung. Namun tidak semua perangkat smartphone yang dicoba oleh LKC terbaca dengan baik pada perangkat komputer, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama dan bahkan tidak dapat ditemukan dalam mencari smartphone driver melalui internet. 2. Pengaturan status keaktifan RFID Tag Saat ujicoba, beberapa RFID Tag pada buku-buku yang dipindai oleh RFID Reader statusnya berubah menjadi tidak aktif, sehingga membuat tim LKC memindai ulang buku-buku tersebut 3. Sinkronisasi data Sinkronisasi data aplikasi mobile stock opname dengan basis data pada server harus berjalan dengan baik, dikarenakan pada pelaksanaan stock opname tahun 2017, hasil pemindaian tidak dapat diupload ke basisdata pada server Meskipun mengalami kendala, hingga saat ini LKC JWC masih tetap menggunakan aplikasi mobile library stock opname dalam kegiatan yang sama, dikarenakan teknologi ini dinilai masih cukup efektif dalam penggunaannya menyusuri posisi rak buku yang agak sulit dijangkau, kemudian beberapa error yang ditemukan pada aplikasi masih dapat diperbaiki dan adanya dukungan dari IT development yang turut membantu saat terjadi error pada sistem. Selain permasalahan dari segi sistem, laporan yang tersedia melalui aplikasi mobile library stock opname masih terbatas. Laporan yang tersedia hanya dapat menampilkan buku yang tidak terpindai, sehingga untuk mendapatkan laporan yang lebih detall LKC JWC masih harus menggunakan aplikasi desktop stock opname.

Conclusion

Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan aplikasi mobile library stock opname selama uji coba dilakukan hingga pelaksanaan stockopname pada tahuntahun berikutnya masih menemukan error. Meskipun temuan error dalam bentuk yang berbeda namun dapat segera diperbaiki pada saat kegiatan stock opname berlangsung oleh IT development yang turut membantu. Kemudian dengan melihat kebutuhan yang ada, aplikasi masih dapat ditambahkan fitur-nya untuk pengembangan seperti menambahkan fitur beberapa pilihan laporan sebagai acuan hasil dari kegiatan stock opname di masa yang akan datang.