Kembali
16
1
2024 Visi Pustaka: Buletin Jaringan Informasi Antar Perpustakaan Vol 26 · 3 ISSN 2685-7138

IMPLEMENTASI BUDAYA RISET SEBAGAI MEDIAPENGEMBANGAN POTENSI PUSTAKAWAN PADA TAMAN BACAAN MASYARAKAT WADAS KELIR PURWOKERTO

Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto; Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto

Abstrak

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) merupakan salah satu bentuk sarana pembelajaran sepanjang hayat yang diharapkan mampu meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat. Secara lebih luas, TBM memberikan akses terhadap informasi dan sumber daya edukatif yang dapat menstimulasi masyarakat untuk melakukan riset. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi budaya riset sebagai upaya pengembangan potensi pustakawan di Taman Bacaan Masyarakat Wadas Kelir Purwokerto. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskriptif. Penelitian ini secara metodologis dekat dengan field research atau penelitian lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data ini dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi, dan uji keabsahan data. Hasil penelitian ini adalah: 1) budaya riset bagi pustakawan dibentuk dengan harapan agar pustakawan dapat mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum TBM melalui publikasi karya ilmiah, harapan agar pustakawan bisa hidup mandiri, dan harapan agar pustakawan dapat merawat tradisi membaca dan menulis; 2) implementasi budaya riset diutamakan untuk internal pustakawan TBM Wadas Kelir dan masyarakat umum dengan menyelenggarakan berbagai pelatihan menulis jurnal, pelatihan manajemen referensi, dan praktik menulis “satu minggu satu riset”; 3) Metode pembelajaran riset pustakawan TBM dilakukan dengan ceramah, dialog, dan tugas membuat artikel riset, sedangkan strategi yang diterapkan adalah dengan peningkatan motivasi, pengenalan teori, dan praktik baik menulis artikel riset dan publikasi karya ilmiah; 4) Hasil dan Manfaat Budaya Riset bagi pustakawan yakni adanya peningkatan baik dari sumber daya manusianya(berprestasi, jumlah publikasi ilmiah tinggi) maupun sumber daya materinya (reward/honorarium pembuatan karya ilmiah); dan 5) budaya riset sebagai kurikulum TBM semi-otonom pada dasarnya merupakan kegiatan inovatif yang mencerminkan tujuan didirikannya TBM. Oleh karena itu, dukungan ini tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran lain yang termasuk dalam kurikulum resmi TBM. Sebagai bagian dari proses kompetensi riset, TBM menawarkan kesempatan kepada para pustakawan untuk bekerja sebagai tim Rosette dalam bentuk layanan. Kegiatan fasilitasi oleh TBMini disebut “tujuan jangka pendek” dan bertujuan untuk mencapai hasil yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan finansial.

Abstract

Community Reading Gardens (TBM) is a form of lifelong learning facility that is expected to beabletoincrease people's interest in reading and literacy. More broadly, TBM provides access to informationand educational resources that can stimulate the public to conduct research. The purpose of this studyis to analyze the implementation of research culture as an effort to develop the potential of librariansinthe Wadas Kelir Purwokerto Community Reading Park. This research is a qualitative-descriptiveresearch. This research is methodologically close to field research. Data collection techniquesareused by observation, interviews, and documentation. Meanwhile, this data analysis techniqueiscarried out by means of data collection, data reduction, data presentation, conclusion drawingandverification, and data wetness test. The results of this study are: 1) the research culture for librarianswas formed with the hope that librarians can follow the TBM curriculum development activities throughthe publication of scientific papers, the hope that librarians can live independently, and the hopethat librarians can maintain the tradition of reading and writing; 2) the implementation of research cultureisprioritized for the internal librarians of TBM Wadas Kelir and the general public by organizing variousjournal writing trainings, reference management training, and writing practices "one weekoneresearch"; 3) The research learning method of TBM librarians is carried out by lectures, dialogues, andthe task of making research articles, while the strategies applied are to increase motivation, introduction to theory, and good practice in writing research articles and publishing scientific papers; 4) Results and Benefits of Research Culture for librarians, namely an increase in both their humanresources (achievement, high number of scientific publications) and material resources(reward/honorarium for loading scientific papers); and 5) the research culture as a semi-autonomousTBM curriculum is basically an innovative activity that reflects the purpose of the establishment of TBM. Therefore, this support cannot be separated from other learning included in the official TBMcurriculum. As part of the research competency process, TBM offers librarians the opportunity to work asaRosette team in the form of a service. These facilitation activities by TBM are called "short-termgoals" and aim to achieve results that are used to meet financial needs.
Keywords: pustakawan · budaya riset · taman bacaan masyarakat

Introduction

TBM adalah perpustakaan khusus yang dapat didirikan oleh pemerintah sebagai program dari layanan pemerintah, oleh organisasi tertentu sebagai bentuk tanggung jawab sosial atau secara mandiri yang berasal dari kepedulian masyarakat setempat (Sopiatun dan Jamjam, 2021). Taman Bacaan Masyarakat atau yang akrab dengan sebutan TBM seringkali dikenal hanya sebagai tempat membaca dan meminjam buku (Misriyani and Mulyono, 2019). Dalam hal ini TBM memiliki peran yang strategis dalam menyediakan bahan bacaan yang mampu menjangkau masyarakat pedesaan agar tercipta masyarakat yang gemar membaca (reading society). Akan tetapi pada hakikatnya TBM turut berperan aktif dalam membina dan mengembangan sumber daya masyarakat yang unggul (Nurohayati, Fauzi, and Siregar, 2023). TBM sebagai lembaga pendidikan non formal telah berperan dalam mewujudkan masyarakat yang berdaya, beraksara, cerdas, dan mandiri (Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat, 2013). Terdapat kurang lebih 5.000 TBM yang ada di Indonesia berpeluang melakukan inovasi dan pengembangan kegiatan literasi masyarakat (Ati, 2015). Saat ini, sarana aktivitas membaca, seperti perpustakaan terkesan hanya dapat diakses oleh akademisi dan kaum terpelajar (Tyas, 2019). Padahal TBM dapat menjadi media untuk meminimalisir buta aksara dan persoalan membaca karena kemudahan akses bagi masyarakat yang menyatu dan terbuka (Jene, 2013). Keberadaan TBM dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai pusat rujukan informasi sekaligus wadahuntukpemberdayaan masyarakat setempat (Sitepu, 2017). Agar masyarakat menjadi pembelajar sepanjang hayat makakehadiran dan inovasi TBMini menjadi penting (Sinaga, 2023). Akhirnya, masyarakat memiliki peluang untuk belajar secara mandiri dan kebutuhannya terpenuhi (Suwanto, 2015). Upaya meningkatkan kualitas SDMsejatinya telah dilakukan sejak tahun50anmelalui aktivitas Taman PustakaRakyat (TPR), yang selanjutnya pada tahun1992atau 1993 berubah menjadi TamanBacaanMasyarakat. Harapannya dengankeberadaan TBM ini dapat membentukmasyarakat yang tekun dalambelajar dancinta membaca (NS, 2006). Sejalan dengan hal di atas, pemerintahturut mendorong pengembanganTBMdengan memberikan bantuan operasional. Tujuannya agar masyarakat melek aksara(Gunawan, 2017). Tidak dapat dinafikan, TBM sebagai akses pendidikan nonformal bagi masyarakat turut memfasilitasi danmembentuk warga masyarakat yanggemar membaca, menguasai ilmu pengetahuan, dan merefreksikan dalamkehidupansehari- hari (Sartika, 2023; Annisa and Primadesi, 2023). TBM menjadi wadah yangdidesaindari masyarakat, oleh masyarakat, danuntuk masyarakat guna membangkitkansemangat membaca masyarakat setempat dan masyarakat umum(Martini, 2018). Berdasarkan pada uraian tersebut makafungsi TBM adalah menunjang kebutuhan- kebutuhan masyarakat dalammengaksesinformasi. TBM juga dapat berfungsi untuk membantu berbagai aspek kehidupan masyakat mulai dari pendidikan, kesehatan, perekonomian, maupun kebudayaan (Saepudin, Sukaesih, and Rusmana, 2017). Sampai saat ini keberadaan TBM tetap eksis dan dituntut untuk membentuk sumber daya masyarakat unggul dan berdaya (Winoto and Sukaesih, 2019). SDM demikianlah yang diperliukan pada era disrupsi. Sebab SDM yang mumpuni dan berkualitas inilah yang mampu menghadapi tantangan di era disrupsi. Upaya peningkatan mutu, pelayanan, serta minat baca masyarakat ini perlu sekali dilakukan sebab sekarang ini teknologi makin canggih dan beragam (Nourhikmah, 2020). Adanya perubahan zaman yang semakin kompleks mengondisikan TBM untuk terus berperan, berinovasi, dan berkembang agar tidak tertinggal dengan perkembangan zaman (Prayogi, Firdausi, and Putri, 2023). Sehingga Masyarakat harus memiliki berbagai keterampilan yang mampu menjawab tantangan kekinian, mendorong perkembangan masyarakat, kesejahteraan sosial, serta beradaptasi dengan berbagai perubahan (Nada, 2021). Namun, mereposisi peran TBM tidaklah mudah. Persoalan pengembangan model atau kurikulum TBM dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi topik hangat dalam pembahasan gerakan TBM hari ini. Maraknya pembahasan mengenai topik ini tidak lepas dari kenyataan empiris bahwa keberadaan TBM saat ini tidak dapat mengoptimalkan potensinya. Berdasarkan fenomena tersebut, TBM Wadas Kelir Purwokerto tampil sebagai TBM yang telah melakukan improvisasi kurikulum dan metodologi pendidikan non formal. Berbeda dengan kebanyakan TBM lainnya di Indonesia, TBM Wadas Kelir mencoba melakukan improvisasi metodologis yaitu memperluas diskusi dan diseminasi ilmu melalui budaya riset dengan program “one week one research article”. TBM Wadas Kelir memiliki visi dan misi untuk membimbing dan mendidik masyarakat agar siap menghadapi masadepan melalui penelitian. Kegiatantersebut merupakan perpaduan antaraunsur profesional dan pengembanganilmupengetahuan. Pustakawan TBMdibimbinguntuk menjadi ilmuwan yangsiapmenghadapi masa depan, dermawandanberjuang dengan ilmunya. Pustakawan diberi kebebasanuntukmemilih jalan sesuai dengan keterampilandan kemampuannya sebagai bagiandari penelitian, mengidealkan karyanya, yangdidokumentasikan dan dipublikasikandi jurnal bereputasi nasional dan internasional. Penyaluran visi dan misi melalui programbudaya sains setidaknya memiliki tigamanfaat. Pertama, improvisasi metodologisuntuk ilmu pengetahuan sukarela; kedua, penerapan keterampilan menulis/penelitian(profesional); dan ketiga, memperkenalkanprinsip condong ke arah pengetahuanataubelajar untuk memperoleh pengetahuanuntuk pembelajaran lebih lanjut (learningbydoing). Dengan kata lain, belajar untukmemiliki kompetensi dasar dalamkaitannyadengan kelompok kerja yang berbeda. Budaya riset sendiri merupakankegiatanyang mengarahkan para pustakawankhususnya pada profesionalismeriset. Dengan kata lain, budayaini mengembangkan potensi penelitianparapustakawan yang menitikberatkanpadaaspek praktis daripada teori. Untuk itu, kitaharus melihat terlebih dahulu bagaiamanbudaya riset di TBMWadas Kelir; dankedua, apa hasil dan manfaat dari upayapengembangan potensi kepustakawananmelalui program “One Week One ResearchArticle”. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis implementasi budayariset sebagai upaya pengembangan potensi pustakawan di Taman Bacaan Masyarakat Wadas Kelir Purwokerto. KAJIAN PUSTAKA 1. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Taman Bacaan Masyarakat (TBM) merupakan salah satu bentuk sarana pembelajaran sepanjang hayat yang diharapkan mampu meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat. TBM berfungsi sebagai : 1) sarana belajar bagi masyarakat untuk belajar secara mandiri dan mendukung program Kembali di luar sekolah, khususnya program literasi, 2) sumber informasi dari berbagai buku dan bahan bacaan lainnya sesuai dengan kebutuhan belajar masyarakat setempat, 3) sumber informasi dari berbagai bahan bacaan lainnya sesuai dengan kebutuhan belajar masyarakat setempat, 4) menggunakan buku dan sumber bacaan lain yang dapat diakses untuk melakukan penelitian (studi kepustakaan), 5) sumber referensi yang mendukung pembelajaran dan tugas akademik lainnya dengan menggunakan sumber referensi, dan 6) sumber hiburan rekreasi yang memberikan bahan bacaan rekreasional untuk memanfaatkan waktu senggang untuk mempelajari pengetahuan atau informasi baru yang menarik dan berharga (Kemdikbud, 2006). TBM memiliki peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di sekitar wilayah tersebut. TBM menawarkan minat layanan secara langsung memenuhi kebutuhan warga sebagai wadah penyediaan barang-barang perpustakaan. Sebab taman baca memiliki tujuan yang hamper sama dengan perpustakaan Kabupaten, desa, atau kecamatan, mungkin ada banyak taman baca. Selain itu, dibandingkan dengan perpustakaan kabupaten atau lainnya, pengelolaan taman baca lebih sederhana. Secara lebih luas, TBM memberikan akses terhadap informasi dan sumber daya edukatif yang dapat menstimulasi masyarakat untuk melakukan riset kecil, misalnya melalui penelusuran informasi yang mendalam dari buku-buku, artikel, dan sumber referensi lainnya. TBM menjadi penting karena di beberapa daerah, akses terhadap perpustakaan formal terbatas, sehingga TBM dapat mengisi kekosongan tersebut. TBM berperan tidak hanyasebagai pusat membaca, tetapi jugasebagai ruang belajar yangdapat mengembangkan potensi intelektual masyarakat, termasuk dalammemperkenalkan budaya riset. Budayariset sangat penting dalampengembangankeilmuan, inovasi, dan pemecahanmasalahdi masyarakat. 2. Budaya Riset Budaya riset adalah nilai, norma, dantindakan riset yang terbangun menjadi polakegiatan akadmik dan perilaku sistemikpelakunya dalam penyelenggaraankegiatanakademik. Budaya riset juga dapat diartikansebagai kebiasaan dan praktik yangberkelanjutan dalammengumpulkan, menganalisis, dan menyebarluaskaninformasi secara sistematis dan ilmiah. Borgdan Gall (2003) menjelaskan bahwariset bukan hanya terkait dengan aktivitasakademik, tetapi juga bagian dari budayamasyarakat yang kritis dan inovatif. Budayariset menjadi suatu lingkungan atauiklimdalam suatu organisasi, institusi, ataukomunitas yang mendorong, memfasilitasi, dan menumbuhkan kegiatan penelitiansecara berkelanjutan. Budayariset mencakup berbagai nilai, norma, kebiasaan, dan praktik yang mendukungprosespencarian pengetahuan baru, pengujianteori, dan penerapan metode ilmiahuntukmemecahkan masalah. Fungsi budaya riset sangat pentingdalampengembangan ilmu pengetahuan, institusi, dan masyarakat secara keseluruhan. Beberapa fungsi utama budaya riset antaralain: 1) menciptakan lingkunganyangmendukung kreativitas dan pemikirankritis, yang pada gilirannya mendorongmunculnya inovasi dan penemuanbarudi berbagai bidang ilmu pengetahuan, 2) membantu meningkatkan kualitaspendidikan karena mahasiswa danstaf akademik terlibat aktif dalamkegiatanpenelitian yang memperkaya wawasandanpemahaman mereka, 3) membantuindividumengembangkan keterampilan berpikir analitis, kritis, dan problem-solving, serta menanamkan sikap terbuka terhadap kritik dan pembelajaran berkelanjutan, 4) untuk menemukan solusi atas berbagai masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dihadapi masyarakat, dan 5) Lembaga yang memiliki budaya riset yang baik cenderung lebih kompetitif secara global. Mereka menarik talenta terbaik, mendapatkan lebih banyak pendanaan, dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam bidang keilmuan. Secara keseluruhan, budaya riset berfungsi untuk memajukan peradaban dengan menyediakan dasar ilmiah untuk inovasi, pendidikan yang lebih baik, dan solusi nyata bagi masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Dalam konteks ini, peran TBM adalah mendorong pola pikir kritis dan rasa ingin tahu, yang merupakan dasar dari kegiatan riset.

Method

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskriptif. Yakni penelitian yang berusaha mengesksplor fenomena kejadian yang bermakna dalam menggali dan mengumpulkan segala sesuatu yang ada di lapangan yang berkaitan dengan penelitian ini (Arikunto, 2013). Penelitian kualitatif bertujuan menarasikan data atau mengkondisikan perihal segala sesuatu yang ada dalam subjek penelitian baik berupa sudut pandang, tindakan, dan lainnya secara holistik (Moleong, 2007). 1) Jenis Penelitian Penelitian ini secara metodologis dekat dengan field research atau penelitian lapangan. Artinya peneliti terjun secara langsung ke lapangan untuk melakukan pengamatan. Tujuannya agar peneliti lebih jeli dan obejktif dalam mengumpulkan data yang nantinya data-data yang telah diperoleh akan disajikan secara kualitatif dan empiris (Moleong, 2007). Pada penelitian ini, peneliti berupaya mengeksplorasi TBM dari sudut pandang kurikulum budaya riset. 2) Tempat dan Waktu PenelitianLokasi penelitian terletak di TBMWadas Kelir Purwokerto yangsecarageografis berada di Jl. Wadas Kelir Rt 07 Rw 05 Karangklesem, KecamatanPurwokerto Selatan, KabupatenBanyumas. TBM Wadas Kelir dipilihmenjadi objek penelitian karenamenjadi TBM yang aktif dansecarakontinyu menyelenggarakan kegiatanliterasi dan budaya riset. Penelitianini dilakukan pada bulan September- Oktober 2024. 3) Subjek Penelitian Subjek penelitian bersumber dari dataprimer (founder TBM, pustakawan, danrelawan TBM Wadas Kelir) dandatasekunder (literatur hasil penelitianyangrelevan). 4) Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan datayangdigunakan dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi (Creswell, 2005). Observasi merupakan kegiatanpengamatan pada aktivitas danmenulisdengan sistematis terhadap kejadianatau objek yang diteliti. Peneliti melakukan percobaan dalammelakukan observasi secaraterbukadan menjadi bagian dari anggotadari sekumpulan manusia yangditeliti secara sadar. Observasi melibatkanketua dan pustakawan TBMWadasKelir yang selanjutnya dijadikanmitrapeneliti. Adapun data yang diperolehpada observasi ini meliputi: kondisi lingkungan TBMWadas Kelir Purwokerto, kegiatan dan programTBM Wadas Kelir, iklimbudayariset yang kompetitif, prestasi dan publikasi pustakawan TBM, dan programpengembangan potensi pustakawanTBM Wadas Kelir. Dari datadaninformasi yang didapatkanini dimanfaatkan untuk menjawabsetiapfokus rumusan masalah dalampenelitian. Wawancara merupakan kegiatan berdialog dengan beberapa narasumber dengan melontarkan berbagai pertanyaan kepada informan atau responden untuk mendapatkan data atau informasi yang valid guna kebutuhan penelitian (Moleong, 2007). Di sini peneliti melakukan wawancara secara mendalam. Adapun informanya yaitu ketua, pengelola/pustakawan, dan anggota TBM Wadas Kelir Purwokerto. Sedangkan dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan data terkait profil, struktur, kurikulum, program pengembangan potensi pustakawan, dan database prestasi dan publikasi pustakawan TBM Wadas Kelir. Untuk mengoptimalkan hasil pengumpulan data, maka dilakukan pencarian artikel dari Google Scholar dengan kata pencarian nama-nama pustakawan TBM Wadas Kelir yang dijadikan subjek penelitian. 5) Teknik Analisis Data Analisis data merupakan suatu cara mendalami dengan mengidentifikasi, merangkai, mengelompokkan data dari hasil observasi untuk memecahkan rumumasan masalah dalam pemelitian. Analisis data dilakukan secara induktif. Yakni peneliti membuat simpulan yang berdasarkan temuan di lapangan secara komplit. Teknik analisis data ini dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi, dan uji kebasahan data (Moleong, 2007). a) Pengumpulan Data Dalam mendapatkan data maka membutuhkan pengumpulan data. Data menjadi bahan utama informasi. Adapun data yang dikumpulkan oleh peneliti adalah profil, struktur, kurikulum, program pengembangan potensi pustakawan, dan database prestasi dan publikasi pustakawan TBM Wadas Kelir. b) Reduksi Data Reduksi data merupakan aktivitasmenarasikan data penelitian dari umumke khusus. Di sini peneliti menyortir data yang dapat memenuhi kebutuhanpenelitian. Sehingga mana datayangtidak mendukung dapat dipisahkandanmana tidak perlu digunakan. c) Penyajian Data Penyajian data merupakan aktivitasmenyajikan data dari hasil pengamatansecara terstruktur dan menyeluruhyang dapat dijadikan bahandalamkegiatan analisis peneltian. Di sini peneliti menyiapkan notulen agar tidaklupa dan informasi dapat disimpandengan baik. d) Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi Aktivitas menarik simpulan merupakanaktivitas menarasikan inti/pokokdari hasil penelitian. Kemudian verifikasi disampaikan untuk mengkonfirmasi kembali dengan sumber data-datayangdapat dipertanggungjawabkankevalidannya. e) Uji Keabsahan Data Dalam menguji keabsahan suatadatadapat dilakukan dengan tekniktringgulasi. Trianggulasi merupakanteknik pengecekan ulangataumebandingkan kembali antaradatayang sudah diperoleh dandatapendukung. Di sinilah, peneliti penerapan trianggulasi teknikdansumber. Trianggulasi teknik merupakanmencari sumber data yang memiliki kesamaan. Adapun trianggulasi sumber yakni mencari sumber datayangmempunyai perberbedaan.

Result & Discussion

1. Pembiasaan Budaya Riset Taman Bacaan Masyarakat Wadas Kelir diinisiasi oleh Heru Kurniawan ditahun2016 melihat keprihatinan anak-anak sekitar yang cenderung menghabiskan waktu untuk bermain game. Melihat realita yang demikian kemudian ia berusaha untuk mendekatkan buku pada anak-anak melalui TBM yang didirikan olehnya. Selanjutnya TBM Wadas Kelir terus berimprovisasi dan aktif dan kontinyu menyelenggarakan program kegiatan pendidikan masyarakat secara gratis. Salah satu program kegiatan unggulan yang dibentuk dan masuk dalam kurikulum TBM adalah budaya riset bagi pustakawan TBM yang terprogram melalui kegiatan ‘satu minggu satu riset’. Program budaya riset ini memiliki tujuan tertentu. Secara umum, tujuan tersebut terbagi menjadi tiga hal; Pertama, budaya riset dibentuk dengan harapan agar pustakawan dapat mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum melalui publikasi karya ilmiah sesuai dengan fokus keilmuan yang dimiliki dan melihat background pendidikan masing- masing pustakawan. Kemampuan dan bakat pustakawan dalam bidang riset ini diharapkan dapat merawat pengetahuan dan membangun kecintaannya terhadap aktivitas membaca maupun dunia keliterasi-an. Pustakawan dapat menuangkan ide dan gagasan melalui kajian riset yang selanjutnya dipublikasikan ke jurnal nasional hingga jurnal internasional. Pustakawan yang memiliki latar pendidikan yang berbeda-beda diharapkan dapat mengembangkan keilmuannya melalui kegiatan riset tersebut. Pustakawan yang merupakan mahasiswa atau lulusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini dapat melakukan kajian riset tentang segala hal yang berkaitan dengan dunia anak. Pustakawan yang memiliki background Pendidikan Bahasa Indonesia dapat menggali riset tentang pembelajaran atau praktik baik bahasa dan sastra. Begitu juga dengan pustakawan lainnya kajian risetnya dikembangkan sesuai dengan bidang keilmuannya masing-masing. Kedua, dengan budaya riset ‘satu minggu satu artikel’ para pustakawan dapat hidup mandiri, sebab founder TBM mengkondisikan semua pustakawan untuk tidak menggantungkan hidupnya pada orangtua. Dengan termuatnya artikel hasil riset di berbagai prosiding dan jurnal akan mendapatkan honor, baik dari pihak pengelola jurnal maupun funding yang sanggup membiayai proses kegiatan riset. Dari kegiatan ini para pustakawan telah mapan dalam dunia riset, hasil honor yang diterima dapat membiayai hidupnya baik untuk membayar kuliah, kos, maupun untuk kebutuhan hidup sehari-harinya. Artinya, kemandirian pustakawan dapat tercapai melalui keterampilan risetnya. Ketiga, dengan budaya riset ‘satu minggu satu artikel’ diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan pustakawan untuk merawat tradisi membaca dan menulis. Kedua hal ini merupakan senjata yang paling mendasar dalam dunia riset. Sebab Terdapat hukum sebab akibat berupa semakin kaya bacaannya maka semakin berbobot tulisan atau kajian risetnya. Secara demikian, membaca dan riset menjadi sebuah kebutuhan dan tradisi yang melekat dalam pustakawan. Dari ketiga hal inilah maka prinsip learning to know dan learning to do telah menjadi prinsip dalam ekosistem taman baca masyarakat. Jika sebuah TBM telah memiliki prinsip yang jelas, maka cenderung mendatangkan manfaat yang lebih besar. Dari sinilah kemudian kebiasaan riset dapat membimbing menuju pendewasaan mental. 2. Implementasi Budaya Riset Pelaksanaan Budaya Riset diorientasikan untuk internal pustakawan TBM dan masyarakat umum. Adapun kegiatan utamanya adalah pelatihan menulis artikel jurnal, pelatihan manajemen referensi, dan praktik menulis ‘satu minggu satu riset’. a) Pelatihan Internal Pustakawan TBM Kegiatan pelatihan ini adalah inti dari tujuan TBM dalam membimbing dan membina pustakawan agar menjadi pustakawan yang berkualitas dan unggul. Karena orientasi utama adalah pustakawan, maka yang diprioritaskan adalah kompetensi para pustakawan TBM Wadas Kelir itu sendiri. Pelatihan menulis ini dilaksanakan seminggu sekali, yaitu setiap senin malam pukul 20.00-22.00 WIB. Tujuan dari pelatihan menulis ini adalah untuk menggugah motivasi pustakawan dalam dunia kepenulisan dan aktualisasi karya. Pelatihan ini dilakukan dengan model tutor sebaya. Artinya pustakawan yang telah memiliki skill menulis yang baik, membimbing pustakawan lain yang masih kesulitan dalam menulis artikel riset. Untuk karya tulis yang dibuat disesuaikan dengan fokus dan background keilmuan yang dimiliki masing-masing pustakawan, sekalipun dalam pelatihan tersebut menargetkan satu tulisan setiap minggunya. Penugasan tersebut merupakan langkah aktualisasi karya dan strategi untuk membangun budaya riset di TBM Wadas Kelir itu sendiri. Selain itu, juga untuk mengidentifikasi sejauh mana potensi dan kecenderungan kompetensi yang dimiliki setiap pustakawan. Dengan demikian untuk mengarahkannya menjadi lebih mudah. Dari sini dapat diidentifikasi ada tiga metode yang diterapkan dalam pelatihan internal pustakawan, yaitu menggugah motivasi pustakawan untuk melakukan riset, menyajikan teori-teori praktis dengan menulis/meneliti artikel dan melaksanakan praktik menulis sebagai karya. Ketiga Hal ini akan dibahas dalam studi berikut pada Metode dan Strategi Budaya Riset Pustakawan. Untuk memaksimalkan pelaksanaan bimbingan, pada akhirnya sebagai follow up pelatihan, selain bimbingan langsung dengan founder TBM, ditunjuklah beberapa pustakawan senior yang telah cukup mapan di dalam dunia riset untuk membimbing para pustakawan baru dalam menjalani proses kepenulisan. Pembimbingan Ini oleh pustakawan dikenal dengan istilah Pendampingan Tutor Sebaya. Gambar 1. Sekolah Literasi dan Pendampingan Tutor Sebaya antar Pustakawan TBM Wadas Kelir dalam kegiatan menulis artikel riset Untuk mendukung para pustakawan dalam memupuk ketajaman analisis, terutama kaitannya dengan persoalan dan isu-isu aktual, dalam kurikulum TBM juga dibentuk “Sekolah Literasi”. Sekolah literasi ini dipimpin oleh Musyafa Ali. Bentuk kegiatan sekolah literasi ini berupa membaca dan menulis buku bersama minimal satu buku dalam sebulan. Dalam pelaksanaan pelatihan internal pustakawan ini dapat dikatakan berhasil, terbukti dengan terpublikasinya tulisan pustakawan di berbagai prosiding dan jurnal, mulai dari skala regional hingga internasional. Dari 25 pustakawan ada 17 pustakawan yang tulisannya telah termuat. Jadi prosentase keberhasilan sekitar 86%. Adapun data tersebut dapat dilihat berikut ini: Tabel 1. Publikasi Karya Ilmiah Anggota TBM Wadas Kelir Purwokerto Tahun 2020-2024 No Nama Pustakawan TBM Publikasi Karya Ilmiah Posiding JumlahNasional Prosiding Internasional Jurnal Nasional Jurnal Nasional Terakreditasi Jurnal Internasional / Scopus 1 Heru Kurniawan 12 10 12 93 8 135 2 Musyafa Ali 2 3 5 18 3 31 3 Umi Khomsiyatun 4 4 7 12 3 30 4 Mukhamad Hamid Samiaji 2 3 8 15 1 29 5 Nur Hafidz 1 1 5 12 - 19 6 Bayu Suta Wardiyanto 1 2 1 10 - 14 7 Muhammad Iqbal 1 1 1 10 - 13 8 Cesilia Prawening 1 1 1 8 - 11 9 Endah Kusumaningrum 2 - 1 7 - 10 10 Risdianto Hermawan 1 1 1 6 1 10 11 Feny Nida Fitriani - 1 1 6 - 8 12 Titi Anisatul Laely - - 1 4 - 5 13 Farhati Riska Novianti - 1 1 - - 2 14 Dian Wahyu Sri Lestari - 1 1 - - 2 15 Nur Aini Rahmawati - 1 1 - - 2 16 Amalia Nur Baiti - 1 1 - - 2 17 Rofikoh Ngilmiyah - 1 - 1 - 2 b) Pelatihan untuk Masyarakat Umum Budaya riset yang tumbuh di TBM Wadas Kelir rupanya mampu mengundang minat masyarakat di luar lingkungan wadas kelir. Sehingga TBM Wadas Kelir kemudian menyelenggarakan pelatihan riset untuk masyarakat umum. Kegiatan pelatihan menulis artikel riset ini dilaksanakan sebulan sekali. Dimana kegiatan ini diselenggarakn melalui tiga materi pokok, yakni menggali ide dan tips untuk menulis artikel riset, pengelolaan manajemen referensi artikel riset (mendeley atau zotero), dan publikasi artikel riset. Selain itu, peserta pelatihan dari luar juga mendapatkan fasilitas review artikel, dimana setiap artikel akan direview, diberikan catatan dan rekomendasi untuk publikasinya. Sebelum pelatihan dilaksanakan, tim TBM membentuk tim khusus untuk mengelola pelatihan bagi masyarakat umum. Adapun kepengurusanya diketuai oleh Heru Kurniawan, sekretaris Amalia Nur Baiti, bendahara Farhati Riska Novianti, dan pematerinya adalah Heru Kurniawan, Musyafa Ali, Risdianto Hermawan, Umi Khomsiyatun, dan Mukhamad HamidSamiaji. Kegiatan pelatihan untuk masyarakat umum ini dilaksanakan secara berbayar. Registrasi sebesar Rp 50.000dan publikasinya Rp 250.000. Dana tersebut kemudian dialokasikan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang ada di TBM Wadas Kelir. 3. Metode dan Strategi Pembelajaran Riset Metode yang digunakan di dalam pembelajaran riset adalah ceramah, dialog dan penugasan (membuat artikel riset). Ceramah dilakukan sebagai sarana transformasi materi dari pembimbing kepada peserta, forum dialog digunakan sebagai waktu bertanya-jawab dan membicarakan materi dan penugasan sebagai tindak lanjut dan aktualisasi teori yang telah disampaikan mengenai dunia ke-reset-an. Dalam rangka mencapai efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran riset diperlukan strategi dan langkah yang tepat. Dengan strategi tersebut pihak TBM mengharapkan tujuan pelatihan dapat tercapai dengan optimal. Strategi yang diterapkan ada tiga langkah, yaitu pertama Peningkatan Motivasi sebagai Dasar Utama Pengembangan Potensi Riset di TBM Wadas Kelir, kedua Pengenalan Teori-teori Praktis dalam Pembelajaran Riset Praktis, dan ketiga Praktik Menulis dan Publikasi Karya. a) Peningkatan Motivasi sebagai Dasar Utama Pengembangan Potensi Riset di TBM Wadas Kelir Pengelola TBM berupaya untuk menumbuhkan budaya riset dalam diri pustakawan, melalui tiga cara, yaitu bimbingan karya, bedah artikel, dan membangun iklim kompetitif riset relawan. a. Bimbingan Karya Bimbingan karya dilakukan untuk membangun motivasi pustakawan agar terbiasa melakukan riset. Bimbingan karya dilaksanakan setiap malam hari mulai pukul 20.00-22.00 WIB di teras Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Wadas Kelir. Para pustakawan dibimbing langsung oleh Heru Kurniawan sebagai pendiri TBM Wadas Kelir. Metode yang digunakan untuk melaksanakan panduan ini adalah ceramah, dialog dan latihan. Ceramah dilakukan untuk menyampaikan materi, dialog memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya dan memberikan jawaban jika kurang jelas atau ada masalah. Tugas tersebut dimaksudkan sebagai langkah lanjutan dari teori yang diterima peserta kegiatan ke praktik penulisan artikel ilmiah. Dalam praktiknya, tugas para pustakawan adalah menulis makalah seperti yang diteliti pada topik yang relevan. Dengan memberikan tugas kepada semua pustakawan tersebut, dapat memberikan beberapa keuntungan terutama bagi para pustakawan, yang pertama adalah keterlibatan langsung para pustakawan dalam studi yang dibahas. Saat menyelesaikan tugas, setidaknya seseorang mencoba menggali informasi tugas untuk menyelesaikan tugas. Kedua, mengetahui seberapa lama para pustakawan memiliki bakat dan kecenderungan terhadap materi ajar. Berdasarkan kecenderungan ini, para pemandu lebih mudah untuk mengarahkan dan secara optimal membimbing apakah para pustakawan ini lebih cocok di bidang akademik atau praktis. Untuk menjaga dan memperkuat motivasi para pustakawan, kepemimpinan dari waktu ke waktu dilengkapi dengan self-management. Berdasarkan penelitian ini, pendiri TBMmencoba dengan segala teknikretorikanya untuk membangkitkansemangat para pustakawan agar merekadapat melanjutkan kecintaan mereka pada ilmu dan pekerjaan, menggabungkan ilmu dan etos kerja. b. Bedah Artikel Setelah para pustakawan selesai mengerjakan penugasan, maka yang dilakukan selanjutnya adalah mempresentasikan apa yang ditulisnya dan dikupas oleh founder TBM Wadas Kelir. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan tulisan yang telah dibuat. Dengan kegiatan tersebut penulis atau pustakawan dapat menyempurnakan artikel riset nya sebelum di submit ke jurnal online. Gambar 2. Bedah Artikel Pustakawan TBM Wadas Kelir c. Membangun Iklim Kompetitif Riset Pustakawan Langkah lain yang digunakan pustakawan untuk meningkatkan motivasi dan antusiasme anggota dalam menulis adalah dengan menciptakan "iklim kompetitif". Menciptakan lingkungan yang kompetitif berarti menciptakan lingkungan TBM yang mendukung anggota secara tertulis. Perkembangan iklim ini dapat dibentuk dengan menciptakan lingkungan yang kompetitif untuk menulis (termasuk para pendiri), penelitian yang berfokus pada penulisan, mempromosikan budaya membaca, dan kegiatan serupa lainnya. Sebagai sarana penerbitan kariadi media, yang berhasil ditawari majalah dinding, di mana karya atau tulisan yang diterbitkan di media didistribusikan. Dalam model seperti itu, tentunya mereka yang belum pernah diekspos merasa canggung dan malu, baik di depan pimpinan maupun di depan teman-teman. Diharapkan dengan rasa sungkan ini pustakawan akan semakin gigih dalam mengejar kesuksesan dalam penulisan. Gambar 3. Pustakawan TBM Wadas Kelir (Nur Hafidz, Musyafa Ali, M. Hamid Samiaji, dan Cecilia Prewedding) sekaligus dosen UNU Purwokerto mendapatkan prestasi Hibah Internal Dosen Pemula b) Pengenalan Struktur Artikel Riset Praktis Menulis adalah kegiatan yang lekat dengan praktek, sebab menulis menjadi sebuah keterampilan yang berkaitan dengan pikiran. Terutama dalam menulis, penting bagi seorang penulis untuk mengenali struktur artikel riset. Sebab Proses penulisan riset dilakukan secara sistematis dan terstruktur, berbeda dengan jenis tulisan lainnya. Untuk mengidentifikasi perbedaan setiap orang maka harus dapat menguasai teori perihal karakteristik karya tersebut. Artinya dalam kegiatan praktik menulis tetap mengacu pada teori yang ada. Dari sini kemudian founder TBM mengenalkan pada pustakawan kaitannya dengan struktur artikel riset praktis, yang terdiri dari judul, abstrak, pendahuluan atau latar belakang masalah, metode penelitian, uraian hasil dan analisis pembahasan, kesimpulan, dan daftar pustaka. c) Praktik Menulis Riset dan Publikasi Karya Karena target audiensnya adalah jumlah orang yang tidak ditentukan, tidak dapat dikatakan mudah untuk menulis. Untuk memenuhi tuntutan editor, kita harus bisa mengenali arah dan ruang lingkup jurnal yang dituju. Untuk memahami hal ini, kita harus berusaha untuk belajar dari pengalaman, literatur, atau orang lain yang secara teratur terlibat dalam dunia penelitian. Untuk bisa membaca focus and scope, tidak cukup hanya belajar teori tanpa praktek dan trial and error. TBM Wadas Kelir percaya bahwa menulis dan berulang kali mengirimkan ke jurnal yang berbeda, diikuti dengan observasi, dianggap lebih efektif daripada membangun teori terlebih dahulu dan kemudian mempraktikkannya. Terlalu banyak teori dengan aturan yang kaku bisa membingungkan penulis yang belum berpengalaman dan membuat mereka merasa stuck dengan berbagai aturan yang ada. Oleh karena itu, disarankan untuk berlatih terlebih dahulu, karena pengembangan teori dan pembelajaran lainnya dapat diarahkan sepanjang jalan. Menulis dan menerbitkan makalah penelitian merupakan salah satu strategi TBM untuk mempercepat proses penelitian. Menulis, khususnya, dipraktekkan melalui penugasan yang diberikan pada setiap akhir sesi pelatihan. Setiap peserta harus menyerahkan makalah yang berkaitan dengan topik atau pembahasan yang dibahas dalam pelatihan dan mengirimkannya pada pertemuan berikutnya. Hasil tugas ini diperiksa dan dipilih oleh pengawas. Dan, jika perlu, kami akan menerima bimbingan khusus dan mendalami masalah dan kesulitan yang dihadapi setiap individu. Kami mendorong pengajuan ke jurnal terakreditasi dan bereputasi jika dianggap bermanfaat. Biasanya, setelah pengarahan, kami menunjuk seorang pembicara membaca dan menugaskan suka pustakawan senior untuk memberikan instruksi, yang biasa disebut sebagai 'dukungan'. Latihan dan strategi pencarian ini dimaksudkan untuk membantu para pustakawan dengan cepat memproses dan menemukan sendiri apa yang mereka butuhkan. Bimbingan dan motivasi diri penyidikan dianggap lebih efektif daripada mengajar dan ceramah karena mereka membuat kesan yang lebih kuat dan lebih dalam. Apalagi dengan kepahitan, suka dan duka, praktik yang melibatkan seseorang dalam prosesnya akan melahirkan banyak inspirasi, terutama dalam dunia penelitian. Untuk mendukung hal tersebut, TBM Wadas Kelir sengaja menciptakan lingkungan penulisan penelitian yang kompetitif, lingkungan penulisan yang kompetitif dalam komunitas TBM. Hal ini sudah pernah dibahas, terutamadalampembahasan motivasi sebagai dasar utamapengembangan potensi penelitian. 4. Hasil dan Manfaat Budaya Riset Budaya Riset adalah kegiatan yang dilakukan di TBM Wadas Kelir dengan tujuan utama mengembangkan potensi pustakawan di bidang riset. Dari kegiatan ini maka dapat ditemukan dua hasil, yakni peningkatan kualitas sumber daya pustakawan dan peningkatan sumber daya materi. Pertama, dampak terhadap peningkatan kualitas SDM dapat dilihat dari tiga perubahan, yaitu perubahan pada aspek kognitif, perubahan pada aspek afektif dan perubahan pada aspek psikomotorik. Dari karya cipta sebagai hasil budaya riset ini, masyarakat [terutama pustakawan] mendapatkan prestasi. Prestasi ini dapat dilihat dari sebagian besar pustakawan berprestasi baik prestasi akademik maupun non akademik, seperti wisudawan terbaik, pustakawan mendapatkan beasiswa unggulan kemdikbud, karya artikel riset terpublikasikan di beberapa jurnal nasional terakreditasi, jurnal bereputasi, hingga jurnal scopus. Gambar 4. Portofolio publikasi artikel riset Pustakawan TBM Wadas Kelir Kedua, dampak yang timbul dari implementasi selanjutnya adalah peningkatan materi yang kemudian menjadikan TBM mandiri dalam mengelola kegiatan pendidikan literasi masyarakat. Hasil peningkatan materi dapat diidentifikasi dari berbagai sumber produksi seperti honorarium pembuatan jurnal, maupun honor dari founding yang siap membiayai proses riset. Budaya penelitian ini memiliki dua kategori manfaat. Yang pertama adalah manfaat "langsung", yang kedua bersifat "tidak langsung". Manfaat langsung disini diartikan sebagai manfaat yang diterima oleh pustakawan sebagai akibat dari posisinya sebagai pustakawan di TBM (internal), manfaat tidak langsung adalah yang melibatkan pustakawan sebagai pelajar atau orang lain (eksternal). Heru Kurniawan mengatakan kegiatan penelitian dan budaya secara langsung dapat memberikan dampak positif bagi para pustakawan secara umum. Dampak positifnya, kebiasaan yang ditanamkan di komunitas TBM menumbuhkan etos kerja, kemandirian, dan kepercayaan diri dalam berbagai wacana di kampus, dalam berbagai diskusi, atau di dalam organisasi. 5. Budaya Riset sebagai Kurikulum TBM Kesimpulannya, berdasarkan penjelasan dan klarifikasi pembahasan sebelumnya, yaitu budaya riset praktis sebagai media pengembangan potensi riset di TBM Wadas Kelir, pada dasarnya kita dapat berbicara tentang pendidikan yang berhasil. Hasil tersebut tercermin dari publikasi tulisan para pustakawan TBM di berbagai jurnal ilmiah, dengan tingkat keberhasilan 86%. Dari visi dan misi yang dirumuskan di TBM, dapat dilihat bahwa budayariset sebagai kurikulum TBM semi-otonom didasarnya merupakan kegiatan inovatif yang mencerminkan tujuan didirikannya TBM. Oleh karena itu, dukungan ini tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran lain yang termasuk dalam kurikulum resmi TBM. Langkah-langkah diambil untuk membekali para pustakawan dengan keterampilan penelitian untuk memberi mereka pengetahuan terkini. Wahana Pembekalan ini adalah kegiatan penelitian dan kebudayaan yang pelaksanaannya senantiasa didukung oleh kegiatan-kegiatan TBM lainnya. Sebagai bagian dari proses kompetensi riset, TBM menawarkan kesempatan kepada para pustakawan untuk bekerja sebagai tim Rosette dalam bentuk layanan. Kegiatan fasilitasi oleh TBMini disebut “tujuan jangka pendek” dan bertujuan untuk mencapai hasil yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan finansial.

Conclusion

Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa pada dasarnya apa yang dilakukan oleh pihak TBM tersebut adalah salah satu alternatif yang bisa dikatakan unik untuk komintas TBM. TBM Wadas Kelir telah berusaha mengintegrasikan antara vocational dengan pengembangan keilmuan. Vocational dapat dilihat dari kegiatan jasa (jasa untuk founding) dan kegiatan riset itu sendiri. Riset dalam hal ini dapat dimasukkan ke dalam vocational dan pengembangan keilmuan, karena pada dasarnya kedua hal tersebut dapat dicapai dalam dunia kepenulisan. Riset sebagai sebuah ketrampilan, jika dilakukan dengan maksimal dan telah mencapai kemapanan yang akan mendapatkan konsekwensi finansial, yaitu berupa honor. Untuk publikasi artikel dapat honor dari jurnal ataupun founding. Untuk Honor yang didapat, khususnya jurnal nasional milik pemerintah atau kampus tetu. Misalnya Jurnal Visi, Jurnal Pancasila, Jurnal Integritas dan lainnya. Yang paling penting disini adalah nilai positif yang dapat dipetik, khususnya kebiasaan membaca dan riset yangakanterpupuk jika seseorang gemar menulis. Bagi orang- orang yang terlibat di dalam dunia pendidikan dan memerlukan banyak wacana tentunya akan lebih peka dalam memahami maksud yang terkandung di dalam berbagai literatur sebagai efek dari sebuah kebiasaan membaca.