Kembali
16
1
2024 Visi Pustaka: Buletin Jaringan Informasi Antar Perpustakaan Vol 26 · 3 ISSN 2685-7138

PROGRAM LAYANAN TAMAN BACAAN MASYARAKAT RUMAH KREATIF WADAS KELIR

Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto; Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto; Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto

Abstrak

Program Layanan Taman Bacaan Masyarakat Rumah Kreatif Wadas Kelir merupakan inisiatif pemberdayaan literasi yang berfokus pada pengembangan minat baca dan kreativitas masyarakat, terutama di kalangan anak-anak, remaja, dan orang tua. Program ini dilaksanakan di Kelurahan Karangklesem, Purwokerto Selatan, Jalan Wadas Kelir sebagai upaya untuk menyediakan akses terhadap bahan bacaan berkualitas serta kegiatan-kegiatan kreatif yang mendukung pembelajaran di luar sekolah formal. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara dengan pengelola TBM, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program layanan Taman Bacaan Masyarakat Rumah Kreatif Wadas Kelir melalui empat pelayanan yaitu layanan pinjam-meminjam, layanan pengembangan kreativitas anak, layanan fasilitas belajar, dan layanan bimbingan belajar. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas literasi, membangun karakter positif, dan membuka peluang bagi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pengembangan sosial dan budaya. Dari sinilah, proses partisipasi masyarakat dan keberlanjutan kegiatan, program layanan TBM ini berperan penting dalam memperkuat ekosistem literasi di tingkat lokal dengan dampak jangka panjang bagi masyarakat sekitar.

Abstract

Rumah Kreatif Wadas Kelir Community Reading Park Service Program is a literacy empowerment initiative that focuses on developing reading interest and creativity of the community, especiallyamong children, adolescents, and the elderly. This Program was held in KarangklesemVillage, South Purwokerto, Jalan Wadas Kelir as an effort to provide access to quality reading materialsand creative activities that support learning outside of formal schools. This research methodusesdescriptive qualitative with Case Study approach collected through participatory observation, interviews with TBM managers, and documentation. The results showed that the Reading GardenCommunity Service Program Wadas Kelir Creative House through four services, namely lendingand borrowing services, children's creativity Development Services, learning facilities services, andtutoring services. This Program is expected to improve the quality of literacy, build positivecharacter, and open opportunities for the community to actively participate in social and cultural development. From here, the process of community participation and sustainability of activities, theTBM service program plays an important role in strengthening the literacy ecosystemat thelocal level with long-term impacts on the surrounding community.
Keywords: Program · Layanan Literasi · Taman Bacaan Masyarakat

Introduction

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) merupakan perpustakaan mini yang bergerak di wilayah desa atau kelurahan untuk meningkatkan potensi kemajuan minat baca literasi masyarakat Indonesia. Program TBM menjadi pembaruan dari Taman Pustaka Rakyat (TPR) yang didirikan pada tahun 1950-an (Nafiyahet al., 2022). TBM juga menjadi program pemerintah di bidang pendidikan yang ditangani oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Sekolah (PLS). TBM menyediakan bahan bacaan dan tempat untuk belajar dan pembinaan kemampuan membaca. Febriana, menjelaskan pengembangan budaya literasi, negara bertanggung jawab memenuhi hak-hak warga negaranya, terutama dalam memperoleh layanan akses buku bacaan (Febriana, 2021). Namun kenyataannya penerbitan buku belum sepenuhnya dilaksanakan. Buku hanya ada di kota-kota besar, ditandai dengan hadirnya berbagai perpustakaan, baik berbayar maupun pinjaman, dan keadaan ini tidak merata di pulau-pulau kecil dan pinggiran. Sekalipun undang-undang tidak melakukannya 3 Tahun 2017 tentang sistem akuntansi telah mengaturnya sedemikian rupa untuk menciptakan sistem akuntansi yang adil dan wajar. Memang pemerintah pusat dan daerah menjamin penyediaan buku yang berkualitas, murah dan adil tanpa diskriminasi (Prabowo et al., 2023). Di tengah kesenjangan penyediaan layanan buku inilah muncul kelompok yang peduli terhadap pemberdayaan literasi. Kelompok taman baca, pojok baca, taman baca komunitas, dan lain-lain, merupakan aktor gerakan literasi di Indonesia. Dengan satu visi: mencerdaskan kehidupan bangsa. Komunitas-komunitas di atas berkumpul membentuk sebuah forum yang diberi nama Forum Komunitas Taman Bacaan (Forum TBM). Forum ini merupakan perkumpulan para penggiat literasi yang berkumpul di berbagai daerah. Data Forum TBM penyelenggara pusat tahun 2023 menunjukkan jumlah TBM dan komunitas literasi yang terdaftar sebanyak 2.388 tumbuh dan berkembang sangat pesat melalui berbagai kegiatan. Dalam konteks masyarakat sipil, TBM merupakan kelompok yang fokus pada kegiatan komprehensif di bidang pendidikan, kemasyarakatan, lingkungan hidup, dan ekonomi untuk kemajuan masyarakat. Meminjam pandangan Tilaar dan Prabowo mengenai masyarakat sipil, TBM merupakan kelompok yang mengedepankan nilai-nilai demokrasi, mengedepankan pembebasan, dan menjamin hak asasi manusia bagi semua orang dengan memberikan akses terhadap berbagai bahan bacaan bagi masyarakat. (Prabowo et al., 2023; Tillaar, 2010). TBM melaksanakan gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan akses terhadap bahan bacaan bagi semua anggota masyarakat, tanpa memandang status sosial atau ekonomi. Gerakan Ini juga berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan literasi dan pengetahuan, sehingga dapat memberikan kontribusi positif dalam pembangunan sosial dan ekonomi. Dengan mengedepankan nilai-nilai demokrasi, TBM berupaya menciptakan lingkungan yang inklusif dan partisipatif, dimana semua anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses dan menggunakan bahan bacaan. Selain itu, forumini juga menggalakkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk menciptakan kebijakan dan program yang mendukung peningkatan literasi dan pendidikan di tingkat lokal dan nasional (Misriyani & Mulyono, 2019). Salah satu TBM yang masih bergerak dan aktif adalah TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir. TBM tersebut berdiri sejak tahun 2014, lahir karena melihat anak- anak suka bermain dan belajar dari majalah bobo yang berserakan di depan Rumah Bapak Heru Kurniawan. Saat itulah, anak-anak mengutarakan ingin membuat pojok baca. Sebab, buku yang dikonsumsi dari koleksi Bapak Heru Kurniawan. Akhirnya, Bapak Heru Kurniawan menyepakati dan membentuk pengelola pojok baca. Tahun 2016, pojok baca Rumah Kreatif Wadas Kelir diganti nama TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir yang dikelola oleh relawan dan remaja lokal. Tahun 2017 Penghargaan Taman Baca Masyarakat Kreatif- Rekreatif dalam Rangka Hari Aksara Internasional tahun 2017 dan Penghargaan Praktik Baik Pendidikan Masyarakat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI 2019. Data yang diperoleh setiap tahunnya ada penghargaan. Hal ini atas kerjasama dari masyarakat Wadas Kelir dalam mengkampanyekan budaya literasi sampai sekarang. TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir berdiri sejak tahun 2013 sejak itu anak- anak Wadas Kelir bermain di Rumah Bapak Heru Kurniawan yang halaman rumahnya banyak berserakan buku-buku majalah Bobo. Anak-anak dan Pak Heru menginisiasi pustaka kecil yang disebut dengan TBM (Taman Bacaan Masyarakat). TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir setiap harinya melayani pinjam meminjam buku secara gratis, mendampingi anak-anak dalam berkarya, memfasilitasi belajar anak dalam mengerjakan tugas, dan membuat program pengembangan kreativitas anak melalui bercerita, mewarnai, puisi, menulis, dan menari. Dari sinilah, peneliti tertarik akan meneliti lebih dalam bagaimana program layanan taman bacaan masyarakat di Rumah Kreatif Wadas Kelir?. Dari sinilah, peneliti akan mengungkap empat hal dari program layanan TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir yaitu, layanan pinjam meminjam buku, layanan pengembagan kreativitas anak, layanan fasilitas belajar, dan layanan pendampingan belajar. KAJIAN PUSTAKA Layanan adalah setiap kegiatan yang diperoleh dari satu pihak ke pihak lain yang pada hakikatnya tidak berwujud dan tidak menimbulkan hak kepemilikan apapun. Menurut Payne, pelayanan adalah suatu kegiatan dengan unsur- unsur yang tidak berwujud, termasuk sejumlah interaksi dengan pelanggan. Pelayanan juga dapat dipahami sebagai perasaan gembira yang diberikan kepada orang lain disertai kemudahan dan terpenuhinya segala kebutuhannya. (Sinaga et al., 2023). Selain itu, layanan sebagai usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan(uang) atau jasa dan membantu menyiapkan (mengurus) apa-apa yang diperlukan seseorang. Dari sinilah, kualitas layanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan(Hidayah et al., 2024). Sedangkan kata programdiartikandari Kamus Besar Bahasa Indonesia adalahrancangan mengenai asas danusahayang akan dijalankan, terutama dalam bidang ketatanegaraan dan perekonomian atau urutan perintah yang diberikan kepada komputer untuk membuat fungsi atau tugas tertentu atau sebuah aplikasi yang dibuat untuk menyelesaikan tugas tertentu, atau kumpulan aktivitas yang terstruktur (Departemen Pendidikan Nasional, 2014). Dari sinilah, dua variabel yakni, program dan layanan merupakan serangkaian kegiatan yang direncanakan untuk memberikan pelayanan dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran tertentu. Landasan para ahli dalam mendukung layanan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) biasanya didasarkan pada teori dan konsep yang terkait dengan literasi, pendidikan nonformal, dan pemberdayaan masyarakat. Berikut adalah beberapa landasan dari para ahli yang relevan(Prabowo et al., 2023): Pertama, teori literasi dari Freire(1970), dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed, Paulo Freire menekankan pentingnya literasi sebagai alat pemberdayaan masyarakat. Literasi tidak hanya sekedar kemampuan membaca dan menulis tetapi juga memahami dan mengkritisi lingkungan sosial. Kemudian, Vygotsky (1978), menjelaskan bahwa pembelajaran terjadi melalui interaksi sosial. TBM sebagai ruang komunitasmemungkinkan masyarakat belajar bersama melalui aktivitas membaca dan diskusi. Kedua, Pendidikan Nonformal. Coombs dan Ahmed (1974), adalah proses pembelajaran di luar sistem pendidikan formal yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan individu atau kelompok. TBM termasuk dalam pendidikan nonformal yang fleksibel dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ketiga, Pemberdayaan Masyarakat. Chambers (1997), bahwa pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan mendekatkan sumber daya kepada komunitas. TBM sebagai sarana membaca dan belajar berkontribusi pada peningkatan kapasitas masyarakat. Korten (1987), Menekankan pendekatan pembangunan berbasis masyarakat, di mana layanan seperti TBM membantu memperkuat modal sosial, budaya, dan intelektual komunitas. Keempat, Fungsi Perpustakaan dan Informasi. Ranganathan (1931), dalam Five Laws of Library Science, Ranganathan menyebutkan bahwa “buku adalah untuk digunakan” dan “setiap pembaca memiliki buku”. TBM mengimplementasikan prinsip ini dengan menyediakan akses buku secara luas kepada masyarakat. UNESCO (2005), Menegaskan pentingnya literasi informasi dalam mempersiapkan masyarakat untuk era pengetahuan. TBM berfungsi sebagai jembatan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber informasi digital atau cetak. Kelima, Psikologi Perkembangan. Piaget (1950), menjelaskan bahwa pembelajaran efektif terjadi ketika individu aktif dalam mengeksplorasi dan memahami lingkungan mereka. TBM menyediakan ruang dan bahan untuk anak-anak maupun orang dewasa belajar secara mandiri (Fathira et al., 2018). Dari sinilah, TBM berperan penting dalam menyediakan akses literasi untuk kelompok marjinal dan masyarakat terpencil. TBM sebagai wujud nyata dari berbagai teori ini, menjadi fasilitas yang relevan. Dalam penyusunan program layanan, beberapa langkah yang dapat dilakukan melalui (1) Identifikasi kebutuhan, (2) Menyusun rencana kerja, (3) Kolaborasi dengan stakeholder, (4) Pelaksanaan Kegiatan, dan (5) Evaluasi dan pemantauan. Dari penjabaran diatas berkaitan dengan program layanan, variabel selanjutnya adalah TBM(Taman Bacaan Masyarakat). Salah satu usaha pemerintah untuk mencerdaskan masyarakat pesisir adalah mendirikan Taman Bacaan Masyarakat yang disingkat TBM. TBM adalah tempat belajar yang sangat strategis dan menjadi ujung tombak dalam memasyarakatkan gemar dan kebiasaan membaca bagi masyarakat. Pemerintah berupayamengembangkan dan memberdayakanTBM sehingga menjadi wadahyangmampu menyediakan berbagai bahan bacaan yang dibutuhkan masyarakat serta sekaligus sebagai tempat penyelenggaraan pembinaan kemampuan membaca dan belajar serta tempat untuk mendapatkan berbagai informasi yang diperlukan masyarakat. TBM dapat memotivasi dan memberdayakan warga belajar untuk belajar secara berkelanjutan (Elva Rahma, 2018). Program TBM bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan budaya baca masyarakat, serta untuk meningkatkan kemampuan aksarawan baru. Program tersebut sangat terkait dengan program keaksaraan fungsional dalam rangka pemberantasan buta aksara sehingga masyarakat tidak buta aksara kembali. TBM diharapkan menjadi media peningkatan gemar membaca masyarakat menuju kepada terciptanya budaya baca sebagai prasyarat terciptanya masyarakat yang cerdas dan gemar belajar. Pengembangan budaya baca masyarakat melalui TBM harus dibangun sejak dini. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh Tim Pengembang Model TBM BP PAUDNI Regional III (Pokja Dikmas, 2012) menunjukkan bahwa TBM menjadi media untuk membangun masyarakat menjadi masyarakat yang cerdas, terampil, maju, dan mandiri melalui kegiatan yang diselenggarakannya. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa TBM memiliki peran signifikan dalam mencerdaskan masyarakat yang tinggal disekitarnya(Putri Dewanti et al., 2024). Hasil studi dari Muhammad Aras Prabowo, dkk. meneliti tentang program taman bacaan masyarakat Sahitya sebagai upaya membangun budaya literasi di Desa Candali. Hasilnya, banyak anak yang putus sekolah dari siswa pelajar. Sebab, ekonomi keluarga tidak mencukupi, kasus amoral yang membuat anak tidak mau melanjutkan, dan pembullyan terhadap lawan jenis. Dengan menghadirkan TBM Sahitya Desa Candali menjadi jalan alternatif dalam pemberdayaan masyarakat untuk melek literasi yang berlanjut sampai anak-anak mau berjuang dan termotivasi untuk pendidikan yang lebih tinggi. Penelitian di atas ada kesamaan tujuan dari layanan TBM yaitu memberdayakan masyarakat melek dengan literasi melalui kegiatan pinjam meminjam, membaca buku, mengasah keterampilan, menggunakan fasilitas TBM dan mengembangkan budaya kearifan lokal. Dari sinilah, TBM hadir untuk memberdayakan masyarakat dengan gerakan literasi yang sesuai dengan tindak lanjut pemerintahan pendidikan (Prabowo et al., 2023).

Method

Metode penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif deskriptif. Peneliti mencari pemahaman yang berkaitan capaian kebenaran dari sumber dan pangkal fenomena yang benar-benar terjadi di TBM Rumah Kreatif WadasKelir, Kelurahan Karangklesem, PurwokertoSelatan. Peneliti memperoleh datadari informasi kepala madrasah, pendidikTBMRumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK), petugas TBM bersama Kak FitriaNurul Azizah, Asyifa Dian Tresna, danAlfianaNuraeni sebagai pengelolanya. Sumber data penelitian ini melalui person, place, dan paper. Person berkaitan denganwawancara dengan narasumber yaituBapak Heru Kurniawan, kemudianparapengelola TBM Rumah Kreatif WadasKelir (Sugiyono, 2010). Place berkaitan sumber data berupatempat atau sumber data yangmenyajikan gambaran berupa keadaandiam, gerak, dan berubah-ubah, yangmeliputi fasilitas gedung, situasi lokasi, kegiatan belajar mengajar, kinerja, aktivitas lainnya yang ada di RARumahKreatif Wadas Kelir. Kemudian, paper berkaitan dengan berupa benda-bendayang tertulis seperti buku-bukuarsip, catatan, dokumen yang ada di TBMRumah Kreatif Wadas Kelir. Adapunteknik pengumpulan data menggunakanobservasi, wawancara, dandokumentasi(Lexy J. Moleong, 2018). Metode pengumpulan datamenggunakan, (1) Wawancara kepadaKak Fitria Nurul Azizah dan Safitri sabagi pengelola TBM Rumah Kreatif WadasKelir guna untuk menggali informasi detail terkait pengalaman, pandangan, ataupersepsi mereka. (2) Observasi, peneliti mengamati langsung perilaku, interaksi, atau situasi dalamkonteks alami, Observasi non-partisipatif (peneliti hanyamengamati tanpa terlibat) di TBMRumahKreatif Wadas Kelir. (3) Dokumentasi, berupa dokumentasi catatan, foto, danvideo yang sudah diinformasikan melalui Instagram @rumahkreatifwadaskelir danwibesite: www.rumahkreatifwadaskelir.com. Dari tiga metode pengumpulan datainilah, peneliti dapat mengambil data-datasebagai validasi peneliti yang mendalam sesuai lapangan (Muhammad Rizal Pahleviannur, Anita De Grave, Dani Nur Saputra, Dedi Mardianto, Lis Hafrida, Vidriana Oktoviana Bano, Eko Edy Susanto, Ardhana Januar Mahardhani, Amru Muhammad Rizal Pahleviannur, Anita De Grave, Dani Nur Saputra, Dedi Mardianto, Lis Hafrida, 2024). Kemudian, teknik analisis datanya dengan menggunakan model Miles and Huberman yakni: (1) Reduksi data berarti meringkas, memilih hal-hal yang pokok serta memfokuskan pada hal-hal yang penting, dengan menyesuaikan tema dan polanya serta menghilangkan hal-hal atau data yang tidak berkaitan langsung dengan topik pembahasan, (2) penyajian data, dimana data yang sebelumnya telah dipilih oleh peneliti kemudian disajikan. Penyajian data yang akan dilakukan oleh peneliti yakni berupa teks naratif yang berkaitan dengan habituasi literasi keluarga melalui pembiasaan literasi di TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir. (3) penarikan kesimpulan, dimana dari data yang disajikan dan dianalisis kemudian peneliti mencoba menarik kesimpulan dari penelitian ini. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah apabila tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung tahap pengumpulan berikutnya (Huberman, 1992).

Result & Discussion

Salah satu unit yang ada di Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) adalah layanan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Kami biasa menyebutnya TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir. Kami memiliki dua ruangan TBM yang masih sangat sederhana. Pertama, ruang TBM yang berada di area kegiatan belajar Rumah Kreatif Wadas Kelir dengan ruangan yang sempit. Hanya ada dua rak buku yang bertingkat. Buku-bukunya kebanyakan novel dan buku anak. Ruangan kedua berada di kontrakan relawan dan berisi buku-buku pengetahuan umum. Layanan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Rumah Kreatif Wadas Kelir membuka peminjaman buku setiap Senin- Jumat dengan periode waktu: pukul 07.00-10.00 WIB khusus untuk layanan anak-anak KB dan RA Rumah Kreatif Wadas Kelir; pukul 10.00-16.00 WIB dan pukul 16.00-21.00 WIB untuk layanan masyarakat umum. Setiap harinya, 10-50 orang terlibat aktif dalam peminjaman buku-buku di TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir. Layanan ini diselenggarakan dengan tujuan untuk memberikan akses membaca pada masyarakat sekitar mulai dari kanak-anak hingga orang dewasa. Dengan akses membaca ini, maka masyarakat akan terbiasa dengan mengakses ilmu pengetahuan dan informasi melalui aktivitas membaca sehingga pengetahuan masyarakat semakin luas. Keluasan pengetahuan inilah yang nantinya akan memberikan dampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, tidak terkecuali, peningkatan dalam bidang pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan Peneliti mengamati program layanan TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir telah memperoleh empat layanan yaitu(1) layanan pinjam-meminjam buku, (2) layanan pengembangan kreativitas anak, (3) layanan fasilitas belajar, (4) layanan pendampingan belajar. b) Layanan Pinjam Meminjam Buku Pinjam meminjam merupakan suatu kegiatan menerima dan menyerahkan barang dengan tujuan untuk mengambil kemanfaatan dari barang tersebut. Objek Yang dibahas disini yaitu buku, makabisadi jabarkan bahwa pinjam meminjam buku merupakan kegiatan menerima dan menyerahkan buku guna untuk mengambil kemanfaatan dari buku tersebut baik berupa ilmu, pengetahuan serta pengalaman (Putri Dewanty et al., 2024). Keinginan dari Heru Kurniawan selaku pendiri TBM merubah tatanan kehidupan Masyarakat dengan memasukan Pendidikan di lingkungan Masyarakat sehingga derajat Pendidikan di Masyarakat meningkat. Hal itu tidak semudah membalikan telapak tangan, membutuhkan kerja keras serta totalitas tanpa batas. Tahun 2013 sebagai tonggak awal berdirinya TBM Wadas Kelir, yang dilatar belakangi oleh keadaan Masyarakat sekitar yang pada waktu itu cenderung minim literasi serta anak-anak yang putus sekolah dan kasar dalam bersikap dan bertutur. Melihat kejadian tersebut, perlahan-lahan Heru Kurniawan merintis pendirian Taman Bacaan Masyarakat tepatnya di Jalan Wadas Kelir Purwokerto Selatan. Tidak lain hanya Upaya kecil untuk menarik dan meningkatkan minat baca anak-anak di sekitar rumahnya. Pelayanan yang disuguhkan di TBM sangat menarik dengan fasilitas yang memadai.TBM Wadas Kelir beroperasi setiap hari Senin-Kamis dengan jam operasional dari pagi jam 08:00 sampai 22:00. Selain pelayanan yang menarik TBM tersebut juga menyuguhkan berbagai buku, baik fiksi maupun non fiksi. Pinjam meminjam buku di TBM Wadas Kelir gratis bagi siapapun yang ingin meminjam dengan estimasi waktu peminjaman satu minggu, Adapun waktu tambahan dalam membaca apabila belum selesai. Perkembangan program pinjam meminjam ini sangat berkembang pesat setiap bulan, tercatat pada bulan Oktober 2024 antara buku yang dipinjam kan dan peminjam terus meningkat setiap minggunya. Gambar 1. Laporan Peminjaman Buku TBMR KWK Layanan pinjam meminjam buku memiliki banyak sekali kemanfaatan, terutama dalam meningkatkan minat baca anak-anak. hal ini di latar belakangi karena minimnya literasi di masyarakat yang cenderung putus sekolah di jenjang menengah pertama serta bersikap kasar baik dalam bertingkah laku dan bertutur. selain itu, bentuk pelayanan pinjam meminjam buku juga memiliki misi yang signifikan salah satunya meningkatkan daya pikir anak serta meningkatkan prestasi dalam bidang akademik. seperti contohnya di TBM Wadas Kelir banyak sekali para remaja dan relawan yang menempuh pendidikan di bidang literasi di TBM, dan ketika di jenjang sekolah mereka menorehkan banyak sekali prestasi terutama dalam literasi c) Layanan Pengembagan KreativitasAnak TBM Wadas Kelir selain menawarkan layanan pinjam meminjam buku, juga ikut serta dalam pengembangan kreativitas anak. menurut munandar pengembangankreativitas anak memiliki 4 alasanyaitu: Pertama, karena berkreasi anak mampu menunjukkan jati dirinya dan potensi padadirinya ini merupakan kebutuhanpokokmanusia. Kedua, berpikir kreatif mampu menajamkan pikiran anak-anak dalam mencari solusi dalam suatu permasalahan. Ketiga, dengan bersikap kreatif atau bersibuk diri, mampu mengajak anak- anak berpikir fokus, dengan kata lain membangun jiwa disiplin bagi anak dalam belajar dan berkarya. Keempat, dengan berkarya mampu meningkatkan kualitas seorang anak, dengan kreativitas mendorong anak-anak membuat ide-ide baru (Hidayah et al., 2024). Salah satu program pengembangan kreativitas anak di TBM Wadas Kelir, dalam rangka melestarikan kekayaan budaya indonesia serta sebagai sarana untuk mengenalkan kepada generasi sekarang akan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai jati diri bangsa, yaitu adanya layanan sanggar tari. Sanggar tari di TBM Wadas Kelir dikelaskan menjadi dua yaitu remaja dan anak-anak. Sanggar tari di TBM Wadas Kelir dilaksanakan setiap akhir pekan, dengan jadwal yang terstruktur dan pelatih yang berbeda antara kelas anak- anak dan remaja. selain mencetak generasi berintelektual, TBM Wadas Kelir juga ikut andil dalam mencetak generasi yang multi talent. sesuai dengan visi misi dari sanggar tari adalah, sebagai wadah untuk memunculkan serta mengembangkan bakat, aspirasi dan daya kreativitas anak dengan itu, diharapkan TBM Wadas Kelir bisa menjadi fasilitator terbaik di lingkungan masyarakat. Gambar 2. Performa Remaja dengan menari di acara pertunjukkan Komunitas Sastra 2024 Sanggar Tari di TBM Wadas Kelir bisa dibilang masih baru. pada mulanya program hari ini dikhususkan untuk acara festival Cerita Rakyat Banyumas. denganmempertimbangkan berbagai alasanakhirnya Pak Heru Kurniawan selakufounder TBM Wadas Kelir menganjurkan program sanggar tari tersebut tetap diterapkan dan dijalankan setiap akhir pekan. tidak lain tujuan dari penerapan tersebut adalah sebagai sarana untuk menumbuhkan ataupun mengasah bakat seorang anak-anak. akhirnya setelah berjalan sekian bulan sanggar tari dalam rangka pengembangan kreativitas anak masih dijalankan sampai sekarang. Harapan dengan langkah ini TBM Wadas Kelir bisa mencetak generasi yang paripurna dan multi talent serta bisa bersaing di kancah yang lebih tinggi. d) Layanan Fasilitas Belajar Fasilitas adalah komponen penting dalam proses pembelajaran yang harus ada di sekolah maupun di rumah untuk mendukung kebutuhan siswa (Wulandari & Muhiddin, 2019). Siswa dapat belajar dengan lebih baik dan dengan cara yang menyenangkan jika sekolah menyediakan semua yang diperlukan. Berdasarkan Peneliti mengamati fasilitas belajar TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir memiliki fasilitas sarana prasarana yang berkaitan dengan dua jenis, yaitu fasilitas sarpras belajar dan fasilitas sarpras bermain. Fasilitas sarpras belajar di TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir terdiri dari penggunaan Wi-fi gratis, penggunaan printer gratis, dan ruang belajar terbuka. Sedangkan fasilitas sarpras bermain terdiri dari fasilitas bermain indoor dan bermain outdoor yang masih tersedia di halaman TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir. Proses belajar mengajar di sekolah akan berlangsung dengan efektif dan lancar jika didukung oleh sarana yang memadai, baik dari segi jumlah, kondisi, maupun kelengkapannya. Fasilitas belajar merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses belajar mengajar. Seseorang Yang belajar tanpa dukungan fasilitas seringkali mengalami kendala dalam menyelesaikan kegiatan belajar. Fasilitas belajar adalah salah satu faktor eksternal yang berkontribusi terhadap hasil belajar siswa di sekolah. Oleh karena itu, keberadaan fasilitas ini harus diperhatikan dalam konteks pendidikan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 45 ayat 1 menyatakan bahwa setiap satuan pendidikan formal dan nonformal wajib menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi kebutuhan pendidikan, sesuai dengan perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik. Fasilitas belajar berupa Wifi gratis memiliki manfaat yang signifikan terutama dalam proses belajar mengajar baik kelas PAUD ataupun kelas paket, gunanya sebagai sistem jaringan supaya lancar dalam menyusun ataupun memuat data. selain itu, adanya Wifi gratis juga membantu para remaja dan relawan dalam mengakses berbagai informasi terkait literasi dan sastra. lalu selanjutnya penyediaan fasilitas belajar berupa printer gratis. printer gratis juga ditujukan kepada siapapun yang hendak memakannya dengan tujuan supaya lebih mempermudah seseorang dalam menunjang ilmu pengetahuan yang dipelajari. dan yang terakhir yaitu tersedianya sarpras berupa indoor dan outdoor, ini dikhususkan kepada anaka- anak. adapun sarpras outdoor mencakup taman bermain anak-anak seperti jungkat jungkit dan lain sebagainya. dan indoor berupa alat permainan edukatif yang berupa alat bermain eksploratif dan konstruktif seperti puzzle, balok bangunan dan lain sebagianya, yang di antara tujuanya adalah sebagai modal awal dalam membentuk karakter peserta didik dan melatih kemampuan motorik serta konsentrasi peserta didik. Gambar 3. Anak-anak sedang meminjam buku di TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir Dengan tersedianya berbagai fasilitas belajar, diharapkan setiap fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai prestasi yang baik. Beberapa faktor mempengaruhi prestasi anak, salah satunya adalah penggunaan fasilitas belajar yang belum maksimal. Untuk meningkatkan hasil belajar, TBM Wadas Kelir memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan setiap fasilitas yang tersedia, sehingga bisa memberikan pemahaman terkait maksud dari adanya layanan yang disediakan, dan para warga sekitar khususnya anak-anak lebih mudahmengembangkan bakat yang dimiliki. Kesadaran masyarakat dan anak-anak juga penting, di mana mereka diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas belajar yang ada sebagaimana mestinya sehingga bisa mengambil kemanfaatan. Fasilitas adalah sarana dan prasarana yang perlu ada untuk mendukung kelancaran kegiatan pendidikan di sekolah. Dengan demikian, untuk mencapai prestasi belajar yang baik, diperlukan motivasi belajar yang tinggi dan fasilitas belajar yang memadai yang dapat dimanfaatkan dengan efektif. Motivasi belajar dapat membangkitkan semangat dan antusiasme masyarakat maupun anak-anak, sementara fasilitas yang lengkap juga dapat secara otomatis meningkatkan semangat belajar. Fasilitas Yang baik dapat mendukung kegiatan belajar dan memberikan motivasi tambahan bagi para pecinta ilmu. Dengan motivasi belajar yang kuat, masyarakat dan anak-anak akan lebih bersemangat dalam belajar, yang pada gilirannya akan berkontribusi pada pencapaian prestasi belajar yang baik. e) Layanan Pendampingan Belajar Layanan pendampingan belajar adalah layanan bimbingan dan konseling yang membantu peserta didik untuk mengembangkan diri, terutama dalam hal sikap dan kebiasaan belajar. Pendampingan belajar juga bertujuan untuk membantu peserta didik mengatasi masalah belajar, memberikan dorongan, motivasi, dan dukungan. Dari penjelasan pendampingan di atas adalah dari relawan mengajar bimbingan belajar atau bimbel untuk mengajari tugas-tugas yang diberikan oleh guru di sekolah (Habsyi, 2020). Layanan Pendampingan belajar ini setiap pertemuan satu anak akan terkena tarif Rp 12.000 sampai Rp 15.000/jam. Anak-anak yang bergabung bimbel di layanan ini sudah ada 20 – 30 anak yang bergabung dari anak calistung dan anak kelas 1,2, dan 3. Dalam layanan bimbel ini dikelola oleh Kak Alfiana Nur Aeni, S.Pd. dan Kak Ninik. Jadwal setiap hari senin-jumat pukul 14.00-15.00 WIB di TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir. Anak-anak yang mengikuti bimbel dari orang tua yang sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak mampu untuk mengajari anaknya belajar. Alternatif ini menjadi kebermanfaatan bagi masyarakat untuk membantu anak-anak mau belajar. Di sisi lainnya, ketika anak-anak datang mau belajar, standar sebelum belajar adalah meminjam buku dan membaca buku selama 15 menit di tempat. Jika ada pertanyaan dan pernyataan bisa disampaikan oleh tutor bimbel yang sedang mengajar. Bimbel menjadi sarana pendapatan finansial bagi pengelola TBM. Tutor bimbel setiap harinya ada yang ikut bergabung seperti Kak Suci Wulandari dan Kak Fitria Nurul Azizah. Merekainginmengembangkan bimbel sampai anak- anak betah dengan belajar di TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir. Dari sinilah, pusat belajar masyarakat tumbuh karena adanya layanan bimbingan belajar semakin ramai dalam dunia pendidikan sampai sekarang.

Conclusion

Program Layanan Taman Bacaan Masyarakat Rumah Kreatif Wadas Kelir berhasil menjadi sarana pemberdayaan literasi dan kreativitas yang signifikan bagi masyarakat Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. Melalui penyediaan akses bacaan, pelatihan keterampilan, dan kegiatan kreatif, program ini telah berhasil meningkatkan minat baca, memperkaya pengetahuan, dan membentuk karakter positif, terutama di kalangan anak-anak, remaja, dan orang tua. Selain berfungsi sebagai pusat literasi, program ini juga berkontribusi dalam membangun kesadaran sosial dan mempererat hubungan antar warga. Dengan dukungan yang terus berkelanjutan, program layanan TBM Rumah Kreatif Wadas Kelir telah memperoleh empat poin program yaitu, (1) layanan pinjam-meminjam buku, (2) layanan pengembangan kreativitas anak, (3) layanan fasilitas belajar, (4) layanan pendampingan belajar. Dari sinilah, peneliti memberi kontribusi berkaitan dengan pengembangan keilmuan dan pengabdian literasi yang diharapkan dapat memperkuat budaya literasi lokal, memberikan dampak positif yang berkelanjutan, dan menciptakan masyarakat Kelurahan Karangklesem Di wilayah Wadas Kelir yang lebih kreatif, kritis, dan teredukasi di masa mendatang.