Kembali
16
1
2024 Visi Pustaka: Buletin Jaringan Informasi Antar Perpustakaan Vol 26 · 2 ISSN 2685-7138

KECERDASAN BUATAN DAN PERAN PUSTAKAWAN DALAM REVOLUSI PENELITIAN

Perpustakaan Nasional RI; Perpustakaan Nasional RI; Perpustakaan Nasional RI; Perpustakaan Nasional RI

Abstrak

Kecerdasan buatan dan peran pustakawan saat ini menjadi kombinasi yang unik dalam dunia perpustakaan, terutama perpustakaan digital. Satu sisi, pustakawan telah menempati posisi utama perpustakaan sebagai individu yang mencari, mengelola, dan mendistribusikan pengetahuan. Kemudian, hadir kecerdasan buatan yang melengkapi dan menutupi hal-hal yang belum bisa dipenuhi oleh pustakawan. Salah satunya adalah membantu mengeksplorasi topik-topik penelitian yang belum terjamah oleh peneliti maupun masyarakat akademik dan umum. Teknologi ini tentunya tidak dapat berjalan sendirian melainkan perlu adanya individu yang mengarahkan dan memandu agar informasi yang diperoleh sesuai dengan permintaan pemustaka, berguna secara tepat, dan efisien dalam penggunaannya. Sederhana tetapi tetap berusaha menjawab pertanyaan tentang bagaimana pustakawan menggunakan kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi topik-topik yang belum tereksplorasi secara maksimal. Tulisan ini dibuat dengan menggunakan metode bibliometrik dan studi literatur. Metode bibliometrik dan studi literatur dimulai dengan penentuan topik penelitian dan pengumpulan data dari sumber yang relevan, diikuti oleh analisis dan interpretasi hasil untuk mengidentifikasi trend dan kesenjangan dalam penelitian. Setelah itu, literatur yang diperoleh dievaluasi dan dikategorikan berdasarkan tema untuk menyusun analisis kritis yang komprehensif. Akhirnya, hasil analisis disusun dalam laporan yang mencakup ringkasan temuan, implikasi, dan rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut. Berdasarkan hal tersebut peran pustakawan dapat dimaksimalkan dengan memanfaatkan AI untuk mengidentifikasi penelitian yang belum tereksplor terutama di bidang ilmu perpustakaan dan informasi dan perlu melihat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh kecerdasan buatan dalam dunia penelitian. Beberapa diantaranya adalah 1. Kecerdasan buatan dapat meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi penelitian; 2. Kecerdasan buatan dapat mengidentifikasi kesenjangan penelitian; 3. Pustakawan dapat memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengoptimalisasi pengembangan kurikulum suatu bidang ilmu; 4. Pustakawan Dapat menggunakan kecerdasan buatan untuk memberikan layanan jarak jauh; 5. Pustakawan Dapat membantu para peneliti dan masyarakat akademisi untuk membuat maupun menghubungkan jaringan peneliti berdasarkan publikasi dan aktivitas penelitian. Kesimpulan dari tulisan ini adalah, pustakawan yang dapat memanfaatkan kecerdasan buatan akan mampu mengidentifikasi dan membantu mengeksplorasi berbagai penelitian. Hal ini akan menciptakan revolusi dalam penelitian di suatu bidang.

Abstract

Artificial intelligence and the role of librarians are currently a unique combination in the world of libraries, especially digital libraries. On the one hand, librarians have occupied the main position in libraries as individuals who search, manage, and distribute knowledge. Then, there is artificial intelligence that complements and covers things that librarians have not been able to fulfill. One of them is helping to explore research topics that have not been touched by researchers or the academic and general public. This technology certainly cannot run alone unless there are individuals who direct and drive so that the information obtained is in accordance with the needs of the library users, is useful appropriately, and efficient in its use. Simple but still trying to answer the question of how librarians use artificial intelligence to identify topics that have not been maximally explored. This paper was written using bibliometric methods and literature studies. The bibliometric method and literature studies begin with determining the research topic and collecting data from relevant sources, followed by analysis and interpretation of the results to identify trends and deviations in the research. After that, the literature obtained is evaluated and recommended based on the theme to compile a comprehensive critical analysis. Finally, the results of the analysis are compiled in a report that includes a summary, implications, and recommendations for further research. Based on this, the role of librarians can be maximized by utilizing AI to identify unexplored research, especially in the field of library and information science and it is necessary to see several things that artificial intelligence can do in the world of research. Some of them are 1. Artificial intelligence can increase the accessibility and efficiency of research; 2. Artificial intelligence can evolve research; 3. Librarians can utilize artificial intelligence to optimize the development of a curriculum in a field of science; 4. Librarians can use artificial intelligence to provide remote services; 5. Librarians can help researchers and academics to create or connect researcher networks based on publications and research activities. The conclusion of this paper is that librarians who can utilize artificial intelligence will be able to identify and help explore various studies. This will create a revolution in research in a field.
Keywords: kecerdasan buatan · pustakawan · perpustakaan digital

Introduction

Pendayagunaan kecerdasan buatan atau dikenal dengan artificial intelligence (AI) semakin memudahkan manusia untuk menciptakan, mengolah dan mendistribusikan informasi dalam berbagai bentuk (West & Allen, 2018). Kemampuan tersebut terus berkembang seiring perjalanan zaman. Dahulu, saat manusia belum mengenal huruf dan aksara, manusia membagikan informasi menggunakan simbol dan gambar di dinding, di batu, di tanah dan berbagai media yang ditemui. Sekarang, ketika penggunaan media komunikasi semakin beragam, manusia membagikan informasi melalui berbagai cara sesuai kebutuhannya. Keberagaman cara dan media yang digunakan ini tidak lepas dari AI. Perpustakaan sebagai salah satu organisasi informasi melihat AI sebagai rekan bekerja yang dapat membuka peluang-peluang baru bagi masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perpustakaan tidak bergerak sendiri melainkan ada pustakawan di dalamnya sebagai pengelola. Sesuai dengan yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 1 ayat 6, pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Adanya pelaksanaan dan pelayanan perpustakaan sebagai tujuan utama, maka dapat digaris bawahi, pustakawan wajib untuk mendapatkan, mengelola dan mendistribusikan ragam ilmu yang tersimpan dalam wadah bernama perpustakaan. Atas dasar itu, pustakawan dituntut tidak hanya mengelola perpustakaan dan isi di dalamnya tetapi juga turut berkontribusi di masyarakat untuk membantu membuka peluang baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Ragam penelitian yang dilakukan oleh akademisi dan masyarakat umum tentunya memerlukan masukandanketerbaruan sehingga suatu bidang ilmu tidak berhenti dieksplorasi. Salahsatu Bidang ilmu yang hendak dikaji dalam penulisan ini adalah ilmu perpustakaan dan informasi. Fokus penulisan tidak lagi membahas apakah pustakawan perlu bersaing dengan AI atau bagaimana cara agar pustakawan tidak tersaingi oleh AI, melainkan Bagaimana pustakawan memanfaatkan AI untuk mengidentifikasi penelitian yang belum tereksplor terutama di bidang ilmu perpustakaan dan informasi?Fokus tersebut mengatakan bahwasannya pustakawan danAI merupakan partner bekerja yang seharusnya saling menguntungkan. Keberadaan perpustakaan digital yang juga mulai tersebar dan diminati masyarakat menjadi penguat kerjasama antara pustakawan dan AI. Pustakawan Melalui perpustakaan digital dapat menyediakan informasi terkait lokus penelitian terbaru kepada akademisi melalui bantuan AI dan membantu mendistribusikannya kepada masyarakat maupun akademisi lainnya sebagai bentuk kerjasama. Kemampuan AI untuk meningkatkan aksesibilitas, efisiensi penelitian, dan pengalaman pengguna dapat digunakan untuk mengidentifikasi lokus penelitian yang sering tereksplor dan yang jarang tereksplor. Adanya Kesenjangan penelitian antar satu lokus dengan lokus lainnya yang sebenarnya dapat disambungkan dan dieksplorasi lebih lanjut menggunakan AI, yang mana tujuan utamanya adalah mendorong terjadinya inovasi dalam satu bidang. KAJIAN PUSTAKA Sejarah Kecerdasan Buatan Jalan baru penelitian yang dibuka oleh kecerdasan buatan, dapat digunakan sebagai sarana mengungkapkan topik topik yang selama ini jarang atau belum banyak dieksplorasi. Kekosongan ini diharapkan dapat diisi dengan penelitian yang nantinya dapat mengembangkan topik baru dan menghasilkan perkembangan suatu ilmu. Kemunculan AI sendiri hadir sebagai cabang ilmu dari Computer Science yang menjanjikan banyak manfaat dalam menjawab kebutuhan manusia di masa depan. Literatur mengenai kecerdasan buatan menyebutkan bahwa ide mengenai kecerdasan buatan diawali pada awal abad 17 ketika Rene Descartes mengemukakan bahwa tubuh hewan bukanlah apa-apa melainkan hanya mesin-mesin yang rumit (Budiharto, 2018). Kata intelligence berasal dari bahasa Latin “intelligo” yang berarti “saya paham”. Berarti dasar dari intelligence ialah kemampuan untuk memahami dan melakukan aksi. Kata intelligence merupakan istilah yang komplek yang dapat didefinisikan dengan ungkapan yang berbeda seperti logika, pemahaman, self-awareness, pembelajaran, perencanaan, dan pemecahan masalah. Sedangkan “Artificial” adalah sesuatu yang tidak nyata, seperti tipuan karena merupakan hasil simulasi. Sejarah AI bermula ketika di tahun 1956, John McCarthy (September 4, 1927 – October 24, 2011) dari Massachusetts Institute Technology (MIT) mengusulkan istilah “Artificial Intelligence”. Beliau menyelenggarakan konferensi untuk menarik bakat dan keahlian orang lain yang tertarik pada kecerdasan buatan dengan nama kegiatan "The Dartmouth summer research project on artificial intelligence”. Konferensi Dartmouth itu antara lain mempertemukan para pendiri dalam AI serta peneliti dari Carnegie Mellon University (CMU), MITdan IBM, dan bertugas untuk meletakkandasar bagi masa depan pemgembangandanpenelitian AI. McCarthy mendefinisikanAI sebagai, “The goal of AI is to develop machines that behave as though they were intelligent. It is the science and engineering of making intelligent machines, especially intelligent computer programs. It is related to the similar task of using computers understand human intelligence, but AI does not have to confine itself to methods that are biologically observable” Dapat dipahami bahwa tujuandibuatnya AI adalah mengembangkanmesin yang berperilaku seolah-olahcerdas, khususnya melalui programcerdas yang diperuntukkan bagi manusia. Oleh karena itu, dapat disimpulkan AI adalah teknik dan ilmu untuk membuat suatu mesin menjadi cerdas, terutama untuk program komputer. Kecerdasanyang dimaksud adalah kecerdasan seperti yang dimiliki manusia, sehingga sebuah komputer dapat mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah kompleks sekalipun dengan pemikiran seperti seorang manusia. Supaya komputer dapat bertindak seperti atau serupa dengan manusia, maka komputer harus diberi bekal pengetahuan melalui proses pelatihan (training), dan mempunyai kemampuan untuk menalar. Pada akhirnya, ilmu informasi ini menjadi objek studi yang semakin luas, meskipun penulisan ini fokus pada bidang perpustakaan. Dalam Konteksini, perpustakaan digital tidak hanya sebagai tempat penyimpanan informasi, tetapi juga sebagai sarana penting untuk melakukan transfer data, informasi, dan pengetahuan yang semakin kompleks, yangmemerlukan eksplorasi danpengembangan lebih lanjut olehparaakademisi dan masyarakat. Olehkarenaitu, keberadaan AI menjadi revolusi baru dalam membantu pustakawan mengeksplorasi lokus keilmuan di bidang perpustakaan dan informasi, terutama ketika dipadukan dengan peran pustakawan di perpustakaan digital. Penelitian Terdahulu Dasar pemikiran terhadap AI dan perpustakaan digital terhadap eksplorasi lokus baru dalam penelitian adalah, 1. Perkembangan teknologi semakin membuka peluang-peluang baru bagi pengembangan perpustakaan yang murah, mudah diimplementasikan, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Perpustakaan digital dapat menghadirkan AI sebagai partner baru dalam mengelola dan mendistribusikan informasi yang dimiliki. 2. Pustakawan sebagai penanggung jawab di perpustakaan memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi AI melalui perpustakaan digital yang hadir dan berkembang saat ini. Harapannya, pustakawan dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat akademisi melalui program yang berbasis AI (Subrata, 2009). Perpustakaan digital yang selama ini digabungkan menjadi satu dari sekian sarana bagi peneliti dan akademisi lainnya untuk membangun kolaborasi, dapat menggunakan AI untuk bersama membuka jalan baru penelitian di bidang perpustakaan. Penelitian yang dijadikan acuan dalam penelitian ini adalah penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya yang sama-sama membahas mengenai bagaimana AI dapat memberikan gambaran mengenai penelitian suatu bidang, yang salah satunya menggunakan metode bibliometrik. Beberapa penelitian yang menjadi acuan dalam penulisan ini adalah, Artificial Intelligence in Education: A Bibliometric Study, Artificial Intelligence in Science Education: A Bibliometric Review, Artificial Intelligence: A Powerful Paradigm for Scientific Research. Penelitian tersebut sama-sama menunjukkan benang merah bahwa AI dapat digunakan untuk memprediksi lokus-lokus penelitian yang belum banyak dieksplorasi oleh peneliti. Oleh karena itu, dalam penulisan artikel ini, keterbaruan yang akan diangkat melihat dari kata kunci yang digunakan dalam artikel-artikel jurnal Sinta 3 khusus bidang Ilmu Perpustakaan. Penelitian berjudul Artificial Intelligence in Education: ABibliometricStudy ditulis oleh Talan pada tahun 2021. Penelitian tersebut berbicara mengenai bagaimana penggunaan kecerdasan buatan pada kajian yang berbasis studi literatur di bidang pendidikan, dengan metode bibliometric. Data yang dikumpulkan berasal dari WoS(Web Of Science) yang dianalisis dan divisualisasikan dengan aplikasi VOSviewer. Pengumpulan kata kunci diambil dari tahun 2020-2021 dan diperoleh 2.686 publikasi yang terkumpul. Hasil dari penelitian menunjukkanbahwajurnal yang paling melakukan publikasi artikel ilmiahnya adalah Computer &Education and International Journal of Emerging Technology dalam bidang pembelajaran. Kemudian, diketahui juga untuk institusi yang secara produktif menerbitkan publikasi adalah Carnegie Mellon University, University of Memphis, dan Arizona State University. Adapun Peneliti yang secara rutin produktif ikut mempublikasikan penelitiannya yaitu, Vanlehn, K dan Chen, C. Rata-rata, co- authorship yang aktif mempublikasikan penelitiannya berasal dari negara Amerika, Taiwan, dan Inggris (United Kingdom). Kata kunci yang terpetakan melalui AI meliputi artificial intelligence, intelligent tutoring systems, machine learning, deep learning, and higher education. Penelitian selanjutnya adalah Artificial Intelligence in Science Education: A Bibliometric Review yang ditulis oleh Akhmadieva dan kawan-kawanpadatahun 2023. Penelitian ini membahas mengenai publikasi data bibliometric dengan menggunakan AI, dengan bidang yang diteliti yaitu, sains pendidikan. Pengambilan data menggunakan Scopus, dengan rentang waktu antara tahun 2002 sampai akhir Mei 2023. Terdiri dari 7 kategori yang diteliti yaitu, 1) Jumlah Artikel dan sitasi pertahun, 2) Negara Dengan publikasi paling produktif, 3) Penulis dengan publikasi terbanyak, 4) Afiliasi paling banyak, 5) Institusi yang mendanai, 6) Sumber publikasi, dan 7) Topik yang diteliti. Hasil penelitian tersebut menggambarkan jumlah artikel yang paling banyak dipublikasikan ada di tahun 2016 dan 2022. Negara Amerika, Inggris (United Kingdom), dan Cina menjadi negara dengan publikasi terbanyak. Adapun jumlah publikasi yang tersitasi secara signifikan terus berkembang dan mencapai puncaknya di tahun 2022 dengan jumlah sitasi sebanyak 178 sitasi. Penulis yang paling banyak melakukan publikasi adalah Salles P dengan empat publikasi. Kemudian, untuk institusi yang paling banyak berafiliasi adalah Carnegie Mellon University, University of Memphis, dan University of Southern California. Institusi lainnya yang turut serta dalam pendanaan publikasi adalah, The National Science Foundation. Sumber publikasi dengan jumlah paling produktif dilakukan oleh Proceedings Frontier in Education Conference Fie. Hasil untuk topik yang paling banyak diteliti merujuk pada computer science, social science, science education, technology and engineering education respectively. Pada intinya, penelitian ini memberikan gambaran di amsa depan mengenai dunia penelitian sekaligus perspektif global mengenai kecerdasan buatan di bidang pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, Math). Penelitian lainnya yang juga menjadi acuan adalah Artificial Intelligence: A Powerful Paradigm for Scientific Research yang ditulis oleh Xu dan kawan- kawan pada tahun 2021. Penelitian dilakukan pada tahun 2021 dengan menghasilkan pemahaman mengenai AI sebagai mesin yang dikembangkan untuk menganalisa data keluaran dengan melihat insight, pengkategorian, prediksi, dan pengambilan keputusan berdasarkan kebaruan, yang mana ini untuk keberlangsungan kecerdasan buatan. Penelitian ini mencoba menjelaskan dan mengkonfirmasi melalui survey komprehensif mengenai pengembangan dan aplikasi AI yang meliputi aspek-aspek pada subjek, information science, mathematics, medical science, material science, geoscience, life science, physics, and chemistry. Hasil penelitian ini menggarisbawahi bahwa tren penelitian terbaru meningkatkan integrasi kecerdasan buatan ke dalam setia disiplin ilmu. Tujuannya, menyediakanpedoman bagi penelitian secara lebihluaskhususnya untuk disiplin ilmu sains dasar, dengan memanfaatkan AI. Secara Garis Besar, penelitian ini ingin agar setiap peneliti termotivasi untuk memahami secara mendalam keterbaruan aplikasi AI berdasarkan sains dasar dan memastikan keberlanjutan pengembangan subjek sains tersebut. Ketiga penelitian ini sama-sama membahas mengenai bagaimana AI dapat memberikan gambaran mengenai penelitian suatu bidang, yang salah satunya menggunakan metode bibliometric. Penelitian ketiganya sama- sama menunjukkan benang merah bahwa AI dapat digunakan untuk memprediksi lokus-lokus penelitian yang belum banyak dieksplorasi oleh peneliti. Oleh karena itu, dalam penulisan artikel ini, keterbaruan yang akan diangkat melihat dari kata kunci yang digunakan dalam artikel-artikel jurnal Sinta 3 khusus bidang Ilmu Perpustakaan. Research gap yang kami soroti adalah, Penelitian yang ada, seperti Artificial Intelligence in Education: ABibliometric Study dan Artificial Intelligence in Science Education: ABibliometric Review, lebih menekankan pada aplikasi AI dalam pendidikan, baikdi bidang pendidikan umum maupun pendidikan sains. Namun, belum ada kajian yang mendalam tentang penerapan AI dalam konteks lain, seperti perpustakaan digital atau pengelolaan informasi di lembaga pendidikan, yangdapat memberikan perspektif barudalampengembangan peran pustakawanmelalui kecerdasan buatan.

Method

Penelitian ini menggunakan metode bibliometrik dengan tools VOSviewer, sebuah metode studi yang memanfaatkan analisis konten dengan menyertakan hubungan seperti penanggungjawab atau penulis, publikasi, kata kunci dengan hasil akhir berupa gambaran visual (Zupic & Čater, 2015). Sejalan dengan topik penelitian kami mengenai pemanfaatan AI, objek penulisan dalam penulisan ini adalah artikel-artikel ilmiah yang diambil dari jurnal-jurnal bidang Ilmu Perpustakaan yang termasuk dalam kategori Sinta 3. Jurnal yang terindeks Sinta 3 (Science and Technology Index ) merupakan jurnal yang telah diakui oleh Kementerian Riset dan Teknologi atau Badan Riset dan Inovasi Nasional dengan memenuhi kriteria kualitas tertentu. Sinta memiliki 6 (enam) level yaitu Sinta 1 sampai dengan Sinta 6. Namun untuk jurnal-jurnal yang memiliki skup atau subjek Ilmu Perpustakaan dan Informasi sejumlah 34 jurnal yang terdiri dari 3 (tiga) jurnal berada pada Sinta 2, 4 (empat) jurnal berada pada Sinta 3, 19 jurnal berada pada Sinta 4, 7 (tujuh) jurnal berada pada Sinta 5, 1 (satu) jurnal berada pada Sinta 6. Jurnal pada Sinta 3 ini dipilih untuk menjadi sampel pada penelitian ini karena Jurnal pada Sinta 3 ini memiliki nilai 60 (enam puluh) ≤ n ≤ 70 (tujuh puluh) atau terakreditasi Arjuna (Jurnal Nasional) , sehingga memiliki nilai yang cukup untuk diteliti. Menurut Aulia (2023) SINTA mengklasifikasikan jurnal terakreditasi berdasarkan skor yang diperoleh, di mana Sinta 3 mencakup jurnal dengan nilai antara 60 hingga 70. Jurnal-jurnal yang terindeks Sinta 3 ini di antaranya 1. EDULIB: Journal of Library and Information Science yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia 2. Lentera Pustaka yang diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro 3. Pustakaloka: Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan yang diterbitkan oleh Institut Agama Islam Negeri Ponorogo 4. Record and Library Journal yang diterbitkan oleh Prodi Teknisi Perpustakaan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga Pengambilan data setiap artikel jurnal dari masing-masing jurnal dengan menjaring seluruh artikel jurnal yang terbit dari awal mula terbit sampai terakhir terbit. Jurnal EDULIB menjaring artikel pertamanya di tahun 2011 sampai artikel terakhir di tahun 2023. Jurnal Lentera Pustaka menjaring artikel dari tahun 2016 sampai tahun 2023. Adapun jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Mulai menjaring artikel di tahun 2013 sampai tahun 2023. Kemudian, untuk Record Library Journal, menjaring artikel dari tahun 2015 sampai tahun 2023. Perbedaan tahun ini dikarenakan ada jurnal yang baru merilis artikel jurnal pertamanya masing-masing di tahun 2011, 2016, 2013, dan 2015. Tahun 2023 Diambil sebagai tahun akhir penjaringan artikel jurnal karena di website masing- masing jurnal, artikel terakhir yang kami temukan ada di tahun 2023. Analisis data menggunakan Excel dan VOSviewer. Sebelumnya, seluruh artikel dikelompokkan masing-masing sesuai dengan jurnal terbitannya. Masing- masing artikel diambil judul, tahun terbit, pengarang, dan kata kunci yang digunakan. Tujuannya untuk mengetahui trend dari subjek yang sering dijadikan penelitian dengan subjek yang jarang dibahas. Gambar 1. Diagram alur proses seleksi artikel jurnal Sumber: Dokumen diolah, 2023 VOSviewer VOSviewer memberikan analisis berupa gambaran jaringan bibliometrik secara langsung. Data yang dihasilkan berasal dari hubungan sitasi baik langsung maupun tidak langsung. Jaringan yang terbentuk akan berbentuk kumpulan titik. Akan tetapi, karena keterbatasan komputasi dan memori, jaringan dengan lebih dari 10.000 kumpulan titik akan sulit ditangani oleh VOSviewer. Kumpulan titik tersebut akan direlasikan dengan garis-garis yang menjelaskan adanya hubungan antar satu titik dengan titik lainnya. Semakin besar titik maka, semakin banyak topik tersebut disebut atau diteliti, begitu juga sebaliknya. Kumpulan titik pada VOSviewer akan membentuk klaster yang semakin besar nilai resolusinya maka, akan semakin besar klasternya. Hal yang menarik dari VOSviewer ini adalah adanya visualisasi warna yang berbeda untuk setiap klasternya. VOSviewer yang merupakan salah satu kecerdasan buatan ini dapat mengolah dan memvisualisasi data karena adanya algoritma yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data dengan baik (Waldman et al., 2010, 2013). Data bibliografi yang telah tersedia dikonstruksikan dengan melihat jaringan co-authorship, co-occurrence, dan sitasi. Data teks ini kemudian diproses dengan menggunakan algoritma pemrosesan bahasa alami (NLP). VOSviewer kemudian menghasilkan gambaran peta yang tervisualisasi meliputi item. Item Merupakan objek yang dilihat seperti publikasi, peneliti, atau kata kunci. Secara Umum, gambaran peta meliputi satu jenis item saja. Antara item-item tersebut terdapat penghubung (link) yang mengkoneksikan antar dua item berbeda. Contohnya, publikasi dihubungkan dengan kata kunci. Penghubung Ini juga umumnya hanya terdiri dari satu jenis saja. Setiap penghubung memiliki nilainya masing-masing. Semakin tinggi nilainya, semakin kuat penghubungnya. Kekuatan Nilai ini tergantung dari misalnya, jumlah sitasi yang dihasilkan, jumlah artikel yang dipublikasikan, jumlah kata kunci yang muncul. VOSviewer tidak menunjukkan angka nilai penghubung tetapi hanya memberikan gambaran adanya relasi. Melalui analisis Co-Occurrences pada VosViewer dapat disaring istilah-istilah yang memiliki frekuensi kemunculan dan relevansi tertentu. Adapun dalam visualisasinya, dapat diketahui juga 3 jenis jaringan yaitu Network Visualization, Overlay Visualization dan Density Visualization. Dalam penelitian ini, data bibliografis dari keempat jurnal yang menjadi objek penelitian dikompilasi ke dalam sebuah file berformat CSV. File ini memuat data Judul artikel, Kata kunci, Pengarang, dan Tahun Terbit. Selanjutnya file ini dijadikan input untuk diolah VOSviewer dengan terlebih dahulu memilih Created Based on Text Data. Pilihanini dimaksudkan untuk membuat visualisasi term co-occurrence. Hingga akhirnya, hasil visualisasi yang ditampilkan VOSviewer kemudian dijadikan bahan untuk analisis lebih lanjut.

Result & Discussion

Jumlah terbitan dan kata kunci Pada penulisan ini, total terdapat 694 unit data bibliografis yang dianalisis. Data jumlah artikel setiap jurnal dapat dirinci sebagai berikut: 1. Jurnal EDULIB memiliki total 205 artikel yang diterbitkan dari tahun 2011 sampai 2023. 2. Jurnal Lentera Pustaka memiliki total 101 artikel yang terbit dari tahun 2016 sampai tahun 2023. 3. Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan memiliki total 180 artikel yang diterbitkan dari tahun 2013 sampai tahun 2023. 4. Jurnal Record and Library memiliki total 208 artikel yang terbit dari tahun 2015 sampai tahun 2023. Gambar 2. Jumlah artikel yang terbit pada masing-masing jurnal Sumber: Dokumen diolah Gambar 3. Jumlah keseluruhan artikel yang terbit dari setiap jurnal Sumber: Dokumen diolah Rata-rata artikel jurnal diterbitkan pertama kali dari tahun 2011 sampai 2015 pada setiap jurnal, dengan tahun terbitan terbaru di tahun 2023. Melalui hasil analisis VOSviewer, terdapat 151 kata kunci yang dihasilkan dari masukan data jumlah partikel dari empat jurnal yang dipilih. Gambar 4. Ilustrasi topik-topik penelitian yang dihasilkan VOSViewer Sumber: VOSviewer Pada ilustrasi diatas, VOSviewer memberikan gambaran mengenai topik-topik penelitian yang sering dieksplorasi dan yang jarang dieksplorasi. Pustakawan dalam hal ini dapat membantu memberikan masukan kepada akademisi untuk topik-topik penelitian yang sedang tren. Selain itu, beberapa penelitian yang jarang diteliti juga dapat dijadikan masukan untuk pembaruan kurikulum bidang ilmu perpustakaan dan informasi. Gambar 5. Ilustrasi dari VOSviewer untuk subjek-subjek yang telah dieksplorasi Sumber: VOSviewer Ilustrasi di atas menunjukkan subjek- subjek dari kata kunci yang dihasilkan dari setiap artikel yang diambil dari empat jurnal Sinta 3. Semakin besar lingkarannya, semakin banyak subjek tersebut diteliti, begitu juga sebaliknya. Garis-garis berwarna menunjukkan jalur penelitian, jauh-dekatnya setiap subjek yang diteliti. Pustakawan dalam hal ini tidak hanya dapat memberikan hasil ilustrasinya saja tetapi membantu menghubungkan antar subjek yang ingin diteliti oleh peneliti. Banyak subjek yang dapat dihubungkan dan diteliti tetapi masih belum tereksplorasi dengan baik, memerlukan bantuan pustakawan untuk menguraikannya. Ilustrasi tersebut juga menghasilkan 151 kata kunci dari artikel jurnal yang dipilih. Berikut adalah hasilnya, Tabel 1. Kata Kunci dari Artikel Jurnal yang Digunakan Alumni Analisis Sitiran Ancient Manuscript Android Anri Apriori Algorithm Assistive Technology Association Rule Mining Bahasa Bandung Barat Behaviour Bencana Alam Biblioterapi Budaya Sunda Citra Perpustakaan Clustering Competence Improvement Correlation Coworking Space Creativity Creativity Desain Interior Desain Pembelajaran Development Strategy Dewey Decimal Classification Digital Archives Digital Curation Dynamic Archive Management E Learning E Resource East Java Province Electronic Record Electronic Resource Ellis Model Emotional Branding Era Digital Exploratory Study Facebook Fake News First Year Undergraduate Fulfillment Information Need Gempa Bumi Google Scholar Habits Hak Harapan Health Information High School Human Resource Ilmiah Fakulta Ilorin Metropolis Impact Implementasi Manajeman Indigenous Knowledge Infografis Information Needs Information Resources Information Retrieval Information Science Information Science Student Information Sharing Information Source Preference Innovation Hub Institut Pertanian Bogor International Journal Jakarta Selatan Jaringan Perpustakaan Jurnal K Mean Kearsipan Brin Kebiasaan Membaca Kegiatan Perpustakaan Sekolah Kemampuan Literasi Kemiskinan Kenya Kepuasan Kerjasama Perpustakaan Konsep Kredibilita Kultur Layanan Prima Layanan Sirkulasi Library Development Library Information SystemLibrary Resource Library Science Library Technical Processing Library University Library User Lifelong Learning Lontar Manajemen Pengetahuan Manuskrip Masyarakat Pedesaan Meaning Media Literacy Minat Kunjung Mobile Library Obstacle Online Database Outcome Pandemi Pemanfatan Pemasaran Perpustakaan Pembelajaran Pemetaan Penggunaan Peningkatan Perilaku Belajar Perpustakaan Dan Pusat Perspective Pillar Plagiarism Political Science Predictor Profesionalism e Pustakawan Professional Development Promotion Media Public University Rare Newspaper Realita Reference Service Relationship Representasi Representasi Perpustakaan Scholarly Communication Scientific Publication Scientific Writing Sconul Senior High School Service Enhancement Sistem Informasi Smartphone SMP Spine Label Book Standard Studi Sumber Belajar Dan Peserta Systematic Literature Review Tek Teks Ilmu Pengetahuan Terhadap Kinerja Pustakawan Text Mining Tools Kit Universitas Indonesia Library University Archive University Student Usability User Satisfaction Webqual Website Perpustakaan Sumber: Dokumen diolah Kata kunci yang muncul dan tervisualisasikan oleh VOSviewer secara tidak langsung memberikan gambaran topik-topik apa saja yang telah diteliti dalam kurun waktu tertentu. Peran Pustakawan Hasil dari aplikasi maupun program yang menggunakan kecerdasan buatan, dianggap tidak maksimal karena diperlukannya aturan-aturan atau biasa disebut sebagai prompt. Prompt merupakan instruksi atau pertanyaan yang diberikan kepada model AI untuk membimbingnya dalam menghasilkan jawaban atau hasil yang diinginkan. Tanpa prompt yang sesuai, AI mungkin tidak dapat memahami konteks atau maksud pengguna, sehingga hasil yang dihasilkan menjadi kurang relevan atau tidak maksimal. Dalam konteks AI, kualitas output sangat dipengaruhi oleh kualitas input. Sebuah studi menunjukkan bahwa desain prompt yang baik dapat meningkatkan performa AI dalam berbagai aplikasi, mulai dari pemrosesan bahasa alami hingga analisis data (Fox, 1983). Oleh karena itu, para pengguna perlu belajar untuk merumuskan pertanyaan dan instruksi dengan cara yang optimal agar AI dapat berfungsi dengan baik. Aturan ini digunakan untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan tepat. Kecerdasan buatan yang mampu menjaring dan mengelola berbagai informasi, hanya akan menjadi “sampah” jika prompt yang digunakan tidak sesuai. Lantas, siapakah yang mampu menggunakan prompt ini dengan maksimal? Tentu pustakawan sebagai individu yang mengelola informasi, menjadi salah satu orang yang mampu memasukkan prompt ini dalam penggunaan kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan dapat menghasilkan ilustrasi yang menarik karena data yang dikumpulkan dan dimasukkan ke dalamnya, telah dipilih dan dipilah oleh pustakawan. Ilustrasi yang dihasilkan ini kemudian dimaknai, dieksplorasi, dan dijelaskan oleh pustakawan kepada pemustaka. Perpustakaan dan pustakawan sebagai organisasi tentunya membutuhkan inovasi untukmengembangkan ilmu pengetahuan. Melalui kecerdasan buatan sebagai salah satu sarananya, pustakawan dapat memaksimalkan peran perpustakaan dengan membantu menemukan lokus lokus penelitian yang belum banyak dieksplorasi sehingga suatu bidang ilmu akan menemukan keterbaruan dan keterkaitan dengan bidang ilmu lainnya di masa kini dan masa depan. Menjawab pertanyaan terkait penulisan ini, bagaimana pustakawan memanfaatkan AI untuk mengidentifikasi penelitian yang belum tereksplor terutama di bidang ilmu perpustakaan dan informasi, kita perlu melihat apa saja yang dapat dilakukan oleh kecerdasan buatan dalam dunia penelitian. Beberapa diantaranya adalah, 1. Kecerdasan buatan dapat meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi penelitian dalam perpustakaan digital melalui kemampuan mencari dan mengumpulkan informasi secara cepat. Algoritma mesin kecerdasan buatan dapat memahami konteks pencarian secara manual maupun spesifikasi sesuai dengan permintaan pemustaka. Pustakawan Dapat memberikan prompt yang tepat agar hasil pencarian sesuai dengan permintaan dan pustakawan dapat memberikan rekomendasi bahan bacaan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan spesifik pemustaka melalui hasil pencarian pada kecerdasan buatan. 2. Kecerdasan buatan dapat mengidentifikasi kesenjangan penelitian melalui analisis artikel jurnal maupun dokumen penelitian lainnya. Hasil dari analisis tersebut digunakan pustakawan untuk menjelaskan tren penelitian menemukan area penelitian yang sedikit jumlahnya. Kecerdasan Buatan juga menggunakan teknik Natural Language Process (NLP) sehingga nantinya akan menghasilkan kesenjangan suatu topik di suatu bidang ilmu melalui visualisasi yang menarik. 3. Pustakawan dapat memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengoptimalisasi pengembangan kurikulum suatu bidang ilmu dengan melakukan analisis kebutuhan pendidikan dan menyesuaikan dengan materi pembelajaran yang diberikan oleh pengajar. Pustakawan dengan bantuan kecerdasan buatan juga dapat ikut mengembangkan bahan ajar yang mencakup topik topik yang kurang dieksplorasi dalam pembelajaran. Pelayanan perpustakaan digital yang efisien dan efektif 4. Pustakawan dapat menggunakan kecerdasan buatan untuk memberikan layanan jarak jauh dari perpustakaan digital untuk membantu mencari informasi dan memberikan analisis singkat terhadap informasi yang dibutuhkan. 5. Pustakawan dapat membantu para peneliti dan masyarakat akademisi untuk membuat maupun menghubungkan jaringan peneliti berdasarkan publikasi dan aktivitas penelitian mereka. Adanya platform kolaborasi yang dapat dibuat pustakawan di setiap perguruan tinggi memungkinkan setiap peneliti untuk berbagi ide, data, dan hasil penelitian secara efektif dan efisien. Hubungan antara pustakawan, kecerdasan buatan, dan perpustakaan digital dapat digambarkan seperti; Gambar 6. Hubungan antara pustakawan, perpustakaan digital, dan kecerdasan buatan Sumber:hasil pembahasan Perkembangan teknologi muncul dalam bentuk perpustakaan digital. Pustakawan sebagai pengelola informasi di perpustakaan membuka peluang baru dengan menggunakan kecerdasan buatan. Perpustakaan digital melalui pustakawan dapat menghadirkan kecerdasan buatan sebagai partner baru dalam mengelola dan mendistribusikan informasi yang dimiliki. Pustakawan yang terlibat dalam perpustakaan digital dapat mengeksplorasi kecerdasan buatan untuk memaksimalkan pelayanan dan pengelolaan perpustakaan.

Conclusion

Kecerdasan buatan dan pustakawan sejatinya adalah partner kerja yang saling melengkapi. Keberadaan perpustakaan digital yang gaungnya semakin nyaring di era ini, memungkinkan pustakawan untuk mengeksplorasi banyak hal melalui kecerdasan buatan. Salah satu hal yang dapat dilakukan pustakawan yang memanfaatkan kecerdasan buatan, berkaitan dengan revolusi penelitian di bidang ilmu perpustakaan dan informasi adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi penelitian, 2. Mengidentifikasi kesenjangan penelitian, 3. Mengoptimalisasi pengembangankurikulum suatu bidang ilmu, 4. Memberikan layanan jarak jauh, 5. Membuat maupun menghubungkan jaringan peneliti maupun masyarakat.