SURVEY KONDISI DAN PELESTARIAN NASKAH KUNO DI MUSEUM SIGINJAI PROVINSI JAMBІ
Perpustakaan Nasional RI
Abstrak
Kekayaan budaya di Indonesia berupa naskah-naskah kuno perlu dilestarikan dengan baik agar dapat digunakan oleh generasi saat ini maupun generasi yang akan datang tak terkecuali naskah kuno yang tersimpan di Museum Siginjai di Provinsi Jambi. Keberadaan naskah-naskah di Museum Siginjai merupakan warisan budaya yang mempunyai nilai-nilai luhur yang mencerminkan kehidupan masyarakat Provinsi Jambi pada masa lalu. Berdasarkan survey kondisi yang dilakukan penulis dan tim konservator bahan pustaka Perpustakaan Nasional RI, ditemukan berbagai jenis kerusakan yang menimpa naskah-naskah kuno di museum tersebut, seperti kertas yang sudah rapuh, jilidan naskah yang rusak, dan naskah yang belum terlindung dengan kotak pelindung. Untuk itu dilakukanlah teknik perbaikan terhadap naskah-naskah tersebut yaitu dengan menggunakan teknik mending atau menambal dan menyambung, teknik laminasi secara manual, teknik penjilidan, dan teknik pembuatan kotak pelindung/portepel. Dengan berbagai teknik yang dilakukan dengan tepat, efektif, dan efisien sebagian naskah-naskah di Museum Siginjai yang tadinya rusak dapat diperbaiki dan dilestarikan sehingga bermanfaat bagi generasi saat ini dan generasi yang akan datang.
Abstract
The richness of Indonesian culture in the form of ancient manuscripts needs to be preserved properly in order to be used for present and future generations. The ancient manuscripts in the Museum Siginjai in Jambi Province are no exception. The existence of manuscripts in the Museum Siginjai is a cultural heritage that has noble values that reflect the life of the people of Jambi Province in the past. Based on a survey of condition conducted by the author and the team of conservator of library material of National Library, various types of damage were found in those ancient manuscripts in the museum; such as fragile papers, broken binding texts, and manuscripts unprotected by protective box. Accordingly, techniques to improve the manuscripts by using mending or patching and connecting techniques, manual lamination techniques, binding techniques, and the manufacture of protective / portepel boxes were conducted. With a variety of techniques that were conducted precisely, effectively, and efficiently some of broken manuscripts in Museum Siginjai could be repaired and preserved so as to benefit the present and future generations.
Keywords:
pelestarian naskah kuno
· teknik perbaikan naskah kuno
· museum Siginjai
Introduction
Negeri Indonesia memiliki berbagai macam kekayaan yang melimpah, baik itu kekayaan alam, kekayaan suku dan budaya, kekayaan bahasa, dan juga kekayaan peninggalan sejarah masa lalu baik berupa kekayaan sejarah yang berbentuk fisik (seperti candi-candi, monumen, bangunan bersejarah, dan naskah kuno), dan kekayaan yang berbentuk nonfisik, (tari-tarian, lagu, sastra, cerita, dsb). Berbagai macam kekayaan tersebut menyebar ke berbagai daerah dan pulau di Indonesia termasuk kekayaan sejarah masa lalu yang berupa naskah kuno. Apakah itu naskah kuno? Naskah kuno menurut Undang-undang RI Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yaitu semua dokumen tertulis yang tidak dicetak atau tidak diperbanyak dengan cara lain, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, dan yang mempunyai nilai penting bagi kebudayaan nasional, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Naskah kuno yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia usianya ada yang mencapai 50 tahun bahkan ratusan tahun dengan berbagai kondisi, ada yang masih bagus namun ada juga yang sudah mulai rusak dan rapuh. Sebagian naskah sudah diinventarisasi oleh pemerintah daerah setempat dan sebagian lagi masih berada di tangan masyarakat. Salah satu dari sekian banyak naskah kuno yang keberadaannya sudah di inventarisasi oleh pemerintah daerah yaitu naskah kuno di museum Siginjai Provinsi Jambi. Museum yang terletak di jalan Urip Sumoharjo, Sungai Putri, Telanaipura Provinsi Jambi ini mempunyai sekitar lebih kurang seratus naskah kuno yang tersimpan dengan baik. Naskah kuno tersebut keberadannya sangat berarti bagi daerah setempat sebab merupakan peninggalan sejarah masa lalu yang ditulis oleh para ulama, kyai, pendeta, dan pujangga. Isi naskahnya pun memiliki makna dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat seperti berisi tentang pengobatan tradisional, mantra-mantra penyembuh penyakit, fiqh/ pengajaran agama Islam, Al-Quran yang ditulis dengan tangan dan sebagainya. Karena begitu pentingnya isi dari naskah kuno tersebut, banyak filolog dari dalam dan luar negeri meneliti isi dari naskah kuno di museum Siginjai agar bisa dibaca oleh generasi saat ini. Namun demikian kondisi dari naskah kuno di museum Siginjai ada yang masih baik tapi ada juga yang kondisinya sudah mulai rusak karena termakan usia dan terpapar cuaca. Untuk itu agar keberadaannya dapat terus lestari dan bermanfaat bagi generasi di masa mendatang, perlu ada upaya untuk melestarikannya. Pada tahun 2016, penulis dan beberapа konservator bahan perpustakaan Perpustakaan Nasional RI berkesempatan untuk melakukan survey kondisi dan pelestarian terhadap naskah kuno di Museum Siginjai dan hasilnya ditemukan beberapa naskah di museum itu yang memang harus diperbaiki dan dilestarikan. Kerusakan yang ditemui yaitu mulai dari kertas yang sudah lapuk, cover yang sudah copot dari isinya, tinta luntur, jilidan ada yang terlepas dan sebagainya, sehingga perlu ada upaya pelestarian. Untuk itu, penulis dan beberapa konservator dari Pusat Preservasi BP bekerjasama dengan pihak museum Siginjai berupaya untuk memperbaiki naskah-naskah yang rusak dan mengalih mediakan isi dari naskah tersebut agar dapat dimanfaatkan bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Tulisan ini merupakan hasil dari pengalaman penulis bersama tim konservasi BP Perpustakaan Nasional RI dalam memperbaiki dan melestarikan naskah kuno di museum Siginjai yang rusak. Penulis membagi pengalaman ini kepada pembaca agar pembaca dapat mengetahui bagaimana tahap dan proses serta teknik yang dipakai dalam memperbaiki dan melestarikan naskah kuno yang rusak tersebut secara ringkas dan jelas sehingga diharapkan dari tulisan ini pembaca mengetahui proses perbaikan naskah kuno dan sekaligus mengenalkan ilmu preservasi naskah kepada masyarakat.
Discussion
Il.1. Sekilas Tentang Pusat Preservasi Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional RI Pusat Preservasi Bahan Pustaka merupakan bagian organisasi dari Perpustakaan Nasional RI. Sejak dibentuk pada tahun 1983, dan setelah mengalami beberapa perubahan organisasi, Pusat Preservasi BP mempunyai tugas melaksanakan pelestarian informasi dan fisik bahan pustaka. Dalam melaksanakan tugas, Pusat Preservasi Bahan Pustaka menyelenggarakan fungsi : a. Pelaksanaan pelestarian fisik melalui penelitian, perawatan, restorasi dan penjilidan bahan pustaka b. Pelaksanaan pelestarian kandungan informasi bahan pustaka melalui alih media mikrografi dan fotografi c. Pelaksanaan pelestarian kandungan informasi bahan pustaka melalui alih media digital ke media baru Selain itu pusat preservasi juga turut menjalankan fungsi pendidikan dan pelatihan di bidang Pelestarian BP dan naskah kuno. Oleh karena itu Pusat Preservasi BP menjadi acuan dan contoh dalam pelestarian bp dan naskah kuno bagi seluruh perpustakaan di Indonesia. Dalam struktur organisasinya Pusat Preservasi membawahi tiga bidang yaitu Bidang Konservasi, Bidang Reprografi, dan Bidang Transformasi Digital. Selain itu dibawah bidang-bidang terdapat Sub Bidang Perbaikan dan Perawatan Bahan Pustaka, Sub Bidang Teknis Penjilidan Bahan Pustaka, Sub Bidang Mikrofilm, dan Sub Bidang Reproduksi Foto. Semua bagian tersebut memiliki tugasnya masing-masing dalam pelestarian naskah dan bahan perpustakaan. II.2 Sekilas tentang Museum Negeri Siginjai Dalam buku "Mengenal Museum Negeri Propinsi Jambi" terbitan tahun 1992 disebutkan bahwa pembangunan Museum Negeri Propinsi Jambi pada hakekatnya merupakan perwujudan nyata dari gagasan sebuah Museum di wilayah Provinsi Jambi yang telah tumbuh semenjak mula lahirnya Propinsi ini. Peletakan batu pertama pembangunan Museum Negeri Jambi pada tanggal 18 Februari 1981 oleh Gubernur Jambi Bapak Masjchun Syofwan, SH. merupakan titik awal gerakan program pembangunan museum di Provinsi Jambi. Lokasi pembangunan Museum Negeri Jambi merupakan milik Organisasi Persatuan Pamong Marga Desa (PPMD) Provinsi Jambi yang terdiri dari para Ninik Mamak dan Tuo Tangganai masyarakat Daerah Jambi yang dihibahkan kepada Gubernur untuk membangun Museum. Sedangkan Museum Negeri Jambi sendiri diresmikan pada tanggal 6 Juni 1988 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Prof. Dr. Fuad Hassan. Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti, maka Museum Negeri Jambi telah dapat dikunjungi oleh para pelajar, siswa dan mahasiswa serta masyarakat dan peneliti. Bendabenda warisan budaya yang terhimpun di Museum Negeri Jambi merupakan warisan budaya yang mempunyai nilai-nilai luhur yang mencerminkan kehidupan masyarakat Provinsi Jambi pada masa lalu. Semenjak berlakunya Undang-undang No. 22 Th 1999 tentang otonomi daerah, nama Museum Negeri Propinsi Jambi berubah menjadi Museum Negeri Jambi. Perda No. 26 Tahun 2012 tanggal 12 Juni 2012, nama Museum Negeri Jambi berubah menjadi Museum Siginjai yang diresmikan oleh Bapak Gubernur tanggal 30 Oktober 2012. II.3. Fungsi, Visi, dan Misi Museum Siginjai Dalam situs jambikota.go.id disebutkan bahwa Museum Siginjai Jambi adalah museum umum yang mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas tertentu yang diberikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam bidang pengumpulan, perawatan, pengawetan, penyajian, penelitian koleksi dan penerbitan hasilnya, memberikan bimbingan edukatif kultural benda-benda yang mempunyai nilai budaya dan ilmiah bersifat lokal dan regional (propinsi Jambi). Adapun mengenai fungsi dari museum Siginjai yaitu 1. Melakukan pengumpulan, perawatan, pengawetan, dan penyajian bendabenda yang mempunyai nilai budaya dan ilmiah. 2. Melakukan urusan perpustakaan dan dokumentasi ilmiah. 3. Memperkenalkan dan menyebarluaskan hasil penelitiaan benda koleksi yang 4. mempunyai nilai budaya dan ilmiah. Melakukan bimbingan edukatif kultural. 5. Melaksanakan urusan tata usaha. Visi dari Museum Siginjai yaitu mewujudkan Museum Negeri Jambi sebagai cerminan budaya daerah dan menjadi pusat pendidikan dan penelitian serta pesona rekreasi. Adapun misi dari museum Siginjai yaitu: 1. Menjadikan Museum Siginjai Jambi sebagai pusat studi ilmiah, pendidikan, rekreasi budaya, pelestarian budaya dan kepariwisataan. 2. Menyelamatkandanmendokumentasikan warisan budaya penting bagi sejarah, iptek, kebudayaan, religi, dan seni. 3. Memelihara dan memanfaatkan benda warisan budaya untuk kemajuan adab dan persatuaan bangsa. 4. Mendorong pengembangan iptek, religi, budaya, dan seni dengan memanfaatkan museum sebagai sumber inspirasi dan apresasi budaya dari generasi ke generasi. 5. Melestarikan nilai luhur budaya bangsa dalam memperkukuh jati diri serta rasa persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara. 6. Memberikan cerminan pengembangan sumber daya alam, sejarah perjuangan, seni, iptek, religi, dan peradaban manusia. 7. Menjadikan museum sebagai sarana promosi potensi daerah melalui kegiatan pameran dan kerjasama dengan pihak luar. II.4. Jenis Koleksi Museum Siginjai Sebagai museum umum, Museum Siginjai Jambi mengumpulkan dan merawat semua jenis koleksi umum, yaitu benda yang mempunyai nilai budaya dan ilmiah yang meliputi: 1. 2. GEOLOGIKA - Benda koleksi yang merupakan objek disiplin ilmu geologi antara lain meliputi batuan, mineral, fosil dan benda-benda bentukan alam lainnya (permata, Granit, andesit dll). BIOLOGIKA - Benda koleksi yang masuk katagori benda objek penelitian / dipelajari oleh disiplin ilmu biologi, antara lain berupa; tengkorak atau kerangka manusia, tumbuh-tumbuhan atau hewan. 3. ETHNOGRAFIKA - Koleksi yang menjadi objek penelitian/disiplin ilmu antropologi, benda-benda tersebut merupakan hasil budaya atau menggambarkan identitas suatu etnis 4. ARKEOLOGIKA - Koleksi yang menjadi objek penelitian/disiplin ilmu arkeologi, seperti: peninggalan masa prasejarah "batu selendrit, kapak batu, dll. 5. HISTORIKA- Koleksi yang menjadi disiplin ilmu sejarah, sejak masuknya budaya barat, benda yang berkaitan dengan peristiwa sejarah 6. NUMISMATIKA dan HERALDIKA Koleksi mata uang dan lambang, seperti tanda jasa dil 7. FILOLOGIKA - Koleksi yang menjadi objek penelitian filologi berupa naskah kuno dll. 8. KERAMOLOGIKA - Koleksi keramik terbuat dari tanah liat yang dibakar dengan suhu tertentu, seperti: piring, mangkok, dll 9. SENI RUPA - Koleksi seni yang mengekspresikan pengalaman artistik manusia melalui objek dua dan atau tiga dimensi. 10. TEKNOLOGIКА menggambarkan Koleksi yang perkembangan teknologi tradisional sampai dengan teknologi modern. (sumber http://jambikota.go.id/id) I1.5. Koleksi Naskah Kuno di Museum Siginjai Museum Siginjai memiliki beberapa koleksi naskah kuno yang cukup banyak dan beragam. Berbagai naskah tersebut di tulis oleh para ulama, kiyai, dan pujangga di abad 16 sampai 19 Masehi. Koleksi naskahnaskah kuno ini terhimpun dalam koleksi Filologika yang merupakan bagian dari asset yang berharga. Koleksi ini merupakan salah satu daya tarik tersendiri bagi museum dan banyak masyarakat terutama para peneliti, mahasiswa, filolog ataupun pemerhati naskah kuno yang memanfaatkan keberadaannya. Beberapa naskah kuno ada yang di pamerkan untuk pengunjung dan ada yang tidak dipamerkan, kitab yang dipamerkan antara lain Kitab Manhaj (Book of Manhaj), Kitab Nahu (Book of nahu), Kitab Fiqh (Book of Fiqh), Kitab Mujarabat (Book of Mujarabat), Kitab Sharaf (Book of Sharaf), Kitab Fiqh (Book of Fiqh), Kitab Balaghah (Book of Balaghah) dan sebagainya. Contoh sebagian penampakan naskah kuno koleksi Museum Siginjai : Adapun naskah kuno yang tidak dipamerkan disimpan di tempat khusus yang terjaga. Berikut ini naskah yang disimpan di tempat dan lemari khusus. II. 6. Pengertian Preservasi Bahan Pustaka Ada beberapa istilah yang digunakan dalam rangka pelestarian bahan pustaka, antara lain: preservasi, konservasi, restorasi. Di dalam buku "Preservation in Libraries: Principles, Strategies and Practices for Libraries" karya Roos Harvey, 1992 disebutkan bahwa, Preservation includes all the managerial and financial considerations including storage and accomodation provisions, staffing levels, policies, techniques and methods involved in preserving library and archive materials and the information contained in them. Conservation denotes those specific policies involved in protecting library and archive materials from deterioration, damage and decay, including the methods and techniques devised by technical staff. Restoration Denotes those techniques and judgements used by technical staff engaged in the making good of library and archive materials damaged by time, use and other factors. Sedangkan pengertian dari kata atau istilah tersebut diatas dimuat dalam berbagai sumber diantaranya adalah di dalam Buku the Principles for the Preservation and Conservation of Library Materials yang disusun oleh J.M. Dureau & D.W.G. Clements, Preservasi mempunyai arti yang lebih luas, yaitu mencakup unsur-unsur pengelolaan, keuangan, cara penyimpanan, tenaga, teknik dan metode untuk melestarikan informasi dan bentuk fisik bahan pustaka, sedangkan konservasi adalah teknik yang dipakai untuk melindungi bahan pustaka dari kerusakan dan kehancuran Menurut prinsip-prinsip konservasi yang ditulis dalam buku "Introduction to Conservation" terbitan Unesco tahun 1979, ada beberapa tingkatan dalam kegiatan konservasi, yaitu: prevention of deterioration, preservation, consolidation, restoration dan reproduction yang masingmasing diterjemahkan sebagai berikut: Prevention of deterioration : tindakan preventif untuk melindungi bahan pustaka dengan mengendalikan kondisi lingkungan dan melindungi bahan pustaka dari kerusakan lainnya, termasuk cara penanganan. Preservation : penanganan yang berhubungan langsung dengan bahan pustaka. Kerusakan oleh udara lembab, faktor kimiawi, serangga dan mikro organisme harus dihentikan untuk menghindari kerusakan lebih lanjut. Consolidation: memperkuat bahan yang sudah rapuh dengan memberi perekat (sizing) atau bahan penguat lainnya. Restoration: memperbaiki koleksi yang telah rusak dengan jalan menambal, menyambung, memperbaiki jilidan dan mengganti bagian yang hilang agar bentuknya mendekati keadaan semula. Reproduction: Membuat salinan (foto copy) dari bahan bahan asli, termasuk bentuk mikro dan foto reproduksi, replika, miniatur dan alih media ke media baru. II.7. Tujuan dan Cakupan Kegiatan Preservasi Bahan Pustaka Pelestarian merupakan upaya untuk memperpanjang usia pakai bahan pustaka untuk generasi saat ini ataupun yang akan datang. Kurun waktu (lamanya) bahan pustaka yang akan dilestarikan sangat tergantung dengan fungsi perpustakaan tersebut, karena hal ini akan berpengaruh pada metode perawatan dan perbaikan yang akhirnya akan berdampak pada besarnya anggaran, penyediaan sarana prasarana serta SDM yang memadai. Dengan demikian tidak semua perpustakaan harus melaksanakan pelestarian selama mungkin, namun perawatan yang baik dan intensif hendaknya selalu dilakukan. Ada dua tujuan pelestarian di perpustakaan, yaitu: 1. melestarikan bentuk fisik bahan pustaka: misalnya menetralisir keasaman kertas, memperkuat kertas ataupun dengan melaminasi bagian-bagian yang rapuh, menjilid, memperbaiki cover/ sampul yang terlepas, serta memperbaiki jilidan yang rusak dan 2. melestarikan informasi yang terkandung dalam bahan pustaka, yaitu melalui alih media III. Preservasi Naskah Kuno di Museum Siginjai Perlu ada upaya untuk melestarikan naskah kuno museum "Siginjai" agar informasi yang ada di dalamnya dapat di wariskan bagi generasi selanjutnya. Pelestarian naskah kuno ini merupakan kewajiban bagi seseorang atau lembaga yang memilikinya. Di dalam Bab 3 pasal 7 Peraturan Pemerintah RI Nomor 24 tahun 2014 tentang pelaksanaan UndangUndang No.43 tahun 2007 tentang Perpustakaan menyebutkan bahwa pemerintah memberikan penghargaan bagi masyarakat yang menyimpan, merawat, dan melestarikan naskah kuno yang dimilikinya serta mendaftarkannya. Upaya-upaya pelestarian naskah kuno harus dibekalidengan ilmu konservasinaskah dan mengetahui tata cara serta bahanbahan dan peralatan untuk memperbaiki dan melestarikan naskah kuno yang rusak. Jika tidak ada pengetahuan tentang ilmu konservasi naskah maka upaya perbaikan dan pelestarian naskah pun menjadi tidak maksimal bahkan cenderung memperparah kerusakannya. Berdasarkan survey yang kami lakukan terhadap naskah kuno di Museum Siginjai, beberapa naskah kuno yang di koleksi kondisinya ada yang masih baik namun ada juga yang sudah rusak. Kerusakan ini disebabkan karena usia naskah yang sudah lama dan juga karena faktor cuaca dan serangga. Beberapa jenis kerusakan yang kami jumpai yaitu kertas yang sudah lapuk, jilidan yang sudah copot dari covernya dan tidak adanya kotak pelindung naskah dari kerusakan. Berikut ini naskah kuno yang sudah mulai rusak : Kertas yang sudah rapuh Jilidan yang sudah terlepas Tidak ada cover III.1. Tahapan Memperbaiki Naskah Knuo yang Rusak Dalam Pedoman Teknis Pelestarian Bahan Pustaka (Konservasi Kuratif Bahan Perpustakaan Media Kertas, Perpusnas RI, 2014)), untuk memperbaiki naskah kuno yang rusak perlu memperhatikan tahapannya, berikut ini merupakan tahapan dalam memperbaiki naskah yang rusak, Penjelasan dari proses diatas sebagai berikut, langkah pertama yang kita lakukan yaitu melakukan identifikasi terhadap bahan perpustakaan secara lengkap dan detil sehingga kemungkinan terjadinya perubahan, kegagalan atau bencana dapat diperkecil. Dalam identifikasi ini dilakukan analisis baik analisis struktur kertasnya, analisis fisik yaitu menentukan arah serat, uji ketebalan dan uji berat bahan, lalu analisis kimia seperti uji keasaman (pH), uji tinta, dan perekat. Langkah selanjutnya yaitu pendokumentasian. Kegiatan ini bertujuan untuk pembuatan data bibliografis, pencatatan kondisi fisik, pembuatan foto, entry data pada pangkalan data. Setelah pendokumentasian selesai langkah berikutnya yaitu Pembersihan (cleaning). Pembersihan ini meliputi pembersihan secara mekanik terhadap debu dengan kuas, pembersihan secara kimiawi seperti terhadap noda dan selotape. Dan langkah terakhir yaitu menentukan teknik perbaikan naskah, seperti bleaching (memutihkan kertas), deasidifikasi (menghilangkan pengaruh asam pada kertas), menambal dan menyambung (mending) baik secara manual dan menggunakan mesin leaf caster, laminasi (memperkuat kertas dengan tissue jepang), lining (memperkuat kertas dengan lapisan penguat pada satu sisi), sizing (mengembalikan kekuatan kertas), dan enkapsulasi (memperkuat kertas dengan plastik bebas asam), penjilidan, dan pembuatan kotak pelindung. III.2. Memperbaiki Kertas Naskah Kuno yang rusak Setelah mengetahui tahapan pelestarian naskah kuno, tahapan selanjutnya yaitu mengetahui tentang prosedur pelestarian naskah. Masih dalam Pedoman Teknis Pelestarian Bahan Pustaka (Konservasi Kuratif Bahan Perpustakaan Media Kertas, Perpusnas RI): 2014, 32 dokumen yang akan dikonservasi sebelumnya dicek terlebih dahulu kondisi awalnya dengan cara memotret kondisi awal dengan fokus terhadap gambar, tulisan, warna, dan kertas. Selanjutnya simpan hasil foto tersebut dalam folder tertentu. Lakukan pengisian data fisik dan kimia yang ada pada dokumen pada lembar survey kondisi, yang isinya meliputi, 1. judul koleksi, tahun, no inventaris, ukuran, objek, teknik, lokasi ruang, jumlah halaman, jumlah eksemplar, material, pencipta, rak 2. Tes Keasaman pH, Tes Tinta; luntur atau tidak luntur 3. Deskripsi, yaitu isi singkat naskah 4. Kondisi naskah seperti rusak jilidan, sampul lepas, kotor noda, robek, berlubang, selotape, rapuh, jamur, serangga, korosi tinta, atau bagian yang hilang 5. Keterangan 6. Usulan Perbaikan 7. Dengan teknik konservasi atau dengan teknik penjilidan 8. Tanggal survey dan disurvey oleh.. juga harus diisi. Berdasarkan survey kondisi yang kami lakukan, teknik perbaikan naskah kuno yang kertasnya rusak dilakukan dengan teknik Menambal dan Menyambung (mending), dan teknik laminasi secara manual. Apakah itu teknik mending? Teknik mending yaitu menutup bagian naskah kuno yang berlubang sehingga tampak utuh seperti semula. Sedangkan menyambung yaitu merekatkan bagian yang robek agar tidak menjadi bertambah lebar, semua teknik ini menggunakan Japanese tissue paper (tebal 27g) atau hand made paper dengan CMС (carboxyl methyl cellulose) sebagai perekat (pedoman teknis: 2014, 25). Sedangkan teknik laminasi secara manual yaitu teknik memperkuat kertas atau naskah melalui pelapisan dua lembar tissue (Japanese tissue) pada permukaan kertas atau naskah. Adapun laminasi manual dapat dilakukan dengan cara melembabkan kertas menggunakan sprayer air lalu dikuas secara perlahan, kemudian kedua permukaan diletakkan tissue dan diberi perekat atau CMC. (Pedoman Teknis: 2014, 27). Namun sebelum teknik tersebut dilakukan, langkah pertama setelah melakukan pengisian data yaitu melakukan: 1. Paginasi 2. Paginasi yaitu pemberian nomor ulang pada naskah kuno terjilid. Pada naskah kuno terjilid kadang kala ada lampiran, sisipan, gambar, dan lain-lain, tanpa nomor halaman, terkadang ada halaman yang hilang atau tidak berurutan. Oleh karena itu kita harus memberi nomor ulang walaupun sudah ada nomor halaman tercetak. Paginasi harus menggunakan pensil lunak (2B) karena apabila ada kesalahan bisa dihapus. Setelah rangkaian proses perbaikan selesai kita dapat mengurutkan kembali halamannya. (Pedoman Teknis Pelestarian Bahan Pustaka: 2014, 32) Pengujian Kelunturan Tinta Uji kelunturan tinta menggunakan kapas yang telah dibasahi air kemudian diusapkan secara perlahan pada tulisan tangan atau gambarnya, jika kapas terdapat noda tinta maka dokumen luntur oleh air. 3. Pengukuran pH Yaitu mengukur keasaman kertas Sumber gambar: Presentasi Power Point (PPT) Made Ayu Wirayati, 12 Mei 2017 Setelah itu langkah selanjutnya yaitu melakukan tahapan-tahapan perbaikan naskah kuno. Seperti telah dipaparkan sebelumnya, teknik yang dipakai untuk melakukan perbaikan naskah kuno yaitu dengan teknik menambal dan menyambung (mending) dan laminasi secara manual. Berikut ini merupakan tahapan dari teknik mending: (pedoman teknis: 2014, 80-91) 1. Alat dan bahan yang diperlukan yaitu adalah kuas kecil, lem CMC, Tissue jepang 6 gram dengan ukuran lebar 1 cm dan panjang sesuai panjang naskah, non woven sheet dengan ukuran lebih besar dari kertas dokumen, dan cutter serta cutter mat 2. Cara kerjanya yaitu: letakkan kertas naskah yang akan di tambal di atas non woven sheet, perhatikan tumpang tindih robekan jangan sampai terbalik, letakkan tissue jepang ditaruh di atas kertas naskah yang robek sepanjang robekannya, ambil lem CMC dengan kuas kecil, oleskan lem CMC secara tipis dan merata pada tissue jepang sepanjang robekan yang ada di atas kertas naskah sehingga tissue jepang akan menempel pada kertas naskah. Potong sisa tissue jepang yang lebih. Kertas naskah yang robek akhirnya berhasil disambung. Kemudian jemur dan biarkan mengering sendiri pada suhu ruangan Tahapan cara mending (Sumber gambar: Presentasi Power Point (PPT) Made Ayu Wirayati, 12 Mei 2017) im konservator BP sedang melakukan mending dan menjemur naskah kuno museum siginjai (Sumber gambar: koleksi gambar Pusat Preservasi BP) Teknik Laminasi dilakukan setelah proses manambal manual dilakukan. Peralatan yang digunakan hampir sama dengan teknik menambal hanya saja ditambah dengan strimin (kasa nyamuk), kuas besar, sprayer. Cara kerjanya yaitu letakkan kertas naskah di atas kertas strimin. Lapisi lagi bagian atas kertas naskah dengan strimin. Siapkan sprayer isi dengan air lalu semprot secara merata pada satu sisi kertas naskah. Balikkan kertas naskah, lakukan hal yang sama pada sisi lainnya sampai kertas naskah basah secara merata. Ratakan air yang berlebih dengan kuas bersih. Buka bagian atas strimin. Letakkan tissue jepang di atas naskah. Letakkan kembali strimin pada bagian atas tissue jepang. Oleskan tissue jepang di atas permukaan strimin secara merata. Kemudian balikkan kertas naskah beserta kedua lembar striminnya sehingga strimin dan kertas naskah yang sudah dilem ada di bagian bawah. Buka bagian atas strimin yang belum di lem. Letakkan tissue jepang di atas sisi/ permukaan kertas naskah. Letakkan kembali strimin di atas tissue jepang. Oleskan lem CMC di atas seluruh permukaan strimin sampai rata. Buka strimin bagian atasnya. Siapkan non woven sheet. Angkat dan balikkan strimin yang berisi kertas naskah pada non woven sheet. Buka strimin yang ada di atas kertas naskah. Biarkan kertas naskah yang telah dilaminasi mengering dengan sendirinya dengan suhu ruangan. Setelah kering potong pinggir kertas tissue yang berlebih. Kertas naskah yang sudah rapi siap untuk dilipat dan dijilid kembali sesuai urutan nomornya.(Pedoman Teknis: 2014, 118-127) Tahapan cara laminasi manual dan naskah yang sudah jadi dan siap dijilid (Sumber gambar: Presentasi Power Point (PPT) Made Ayu Wirayati, 12 Mei 2017 & koleksi foto Pusat Preservasi BP Perpusnas RI) Dari hasil konservasi kertas yang diterangkan di atas kita bisa membandingkan naskah sebelum di konservasi dengan yang sudah di konservasi, terlihat lebih rapi dan kertasnya juga lebih kuat, dan tentunya bisa di manfaatkan lebih lanjut untuk penelitian dan ilmu pengetahuan sehingga dapat berguna bagi generasi selanjutnya. Gambar sebelum naskah kuno di konservasi dengan yang sudah di konservasi III.3. Perbaikan Naskah Kuno dengan Teknik Menjilid Perbaikan naskah kuno tidak hanya memperkuat kertas yang sudah rapuh saja. Berdasarkan survey yang kami lakukan, kerusakan naskah kuno di museum siginjai juga karena jilidan naskahnya sudah ada yang copot. Sehingga untuk memperbaiki kerusakan seperti ini diperlukan teknik Penjilidan naskah. Apa itu penjilidan? Menurut buku "Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip" karya Muhamadin Rajak dkk, 1992 disebutkan bahwa, penjilidan adalah menghimpun atau menggabungkan lembaran-lembaran lepas menjadi satu, yang dilindungi dengan sampul. Selain memperbaiki jilidannya yang rusak, penjilidan naskah juga dilakukan setelah proses perbaikan kertas sudah selesai. Seperti yang sudah diterangkan pada proses sebelumnya yaitu dengan teknik mending dan laminasi, bahwa setelah proses ini selesai dilakukan maka langkah terakhir yaitu menggabungkan kembali lembaran naskah tersebut menjadi satu jilidan dengan cara dijilid sehingga kembali kepada bentuk semula dan nyaman dibaca. Adapun proses ringkasnya sebagai berikut : 1. Siapkan naskah yang akan dijilid ulang, contohnya yaitu naskah dari proses mending dan laminasi 2. Siapkan peralatan penjilidan sebagai berikut: a. Peralatan menjilid seperti penggaris, gunting, kuas segitiga, cutter, tulang pelipat, kain, b. Bahan Menjilid seperti, lem ponal, kertas bebas asam, karton board bebas asam, Buckrum. 3. Tahapan Menjilid Buku dengan multi kuras bagian isinya lebih dari satu kuras. Setiap kuras berisikan lembar halaman yang telah disusun berdasarkan nomor urutnya. Kuras-kuras tersebut kemudian digabungkan menjadi satu dan dijahit dengan benang di atas pita yang berfungsi sebagai pengikat dari gabungan antara kuras yang satu dengan kuras lainnya. Pada blok buku bagian muka dan belakang ditempel lembar pelindung yang berfungsi sebagai engsel yang menyatukan sampul dengan blok buku. Agar dapat bertahan lama maka kertas lembar pelindung harus lebih tebal dan kuat daripada kertas halaman isi. Penyampulan untuk multi kuras dapat mempergunakan karton biasa (soft cover/paperback) ataupun dengan bord (hardcover). Contoh gambar dengan teknik menjilid Sumber gambar: Buku pedoman teknis penjilidan BP, 2014, Perpusnas RI Seorang konservator BP melakukan perbaikan naskah kuno dengan teknik dijilid di museum siginjai (Sumber gambar: koleksi foto Pusat Preservasi BP Perpusnas RI) 4. Hasil Akhir Naskah yang telah selesai dijilid dan diberi cover (koleksi foto Pusat Preservasi BP Perpusnas RI) Gambar sebagian naskah yang telah selesai dijilid dan diberi cover (koleksi foto Pusat Preservasi BP Perpusnas RI) Dari hasil teknik penjilidan naskah kuno yang diterangkan secara ringkas, kita bisa membandingkan naskah sebelum di jilid dengan yang sudah dijilid ulang. Hasilnya jelas jauh berbeda dari sebelumnya dan setelah dijilid ulang naskah kuno dapat dibaca dengan nyaman dan tahan lama dari kerusakan. Seorang konservator BP melakukan perbaikan naskah kuno dengan teknik dijilid di museum siginjai (Sumber gambar: koleksi foto Pusat Preservasi BP Perpusnas RI) 4. Hasil Akhir Naskah yang telah selesai dijilid dan diberi cover (koleksi foto Pusat Preservasi BP Perpusnas RI) III.4. Memberi Kotak Pelindung untuk Naskah Kuno Naskah kuno amat rentan rusak karena cuaca dan gangguan serangga. Oleh karena itu naskah-naskah kuno tersebut sebaiknya dilindungi dengan kotak pelindung naskah atau dalam hal ini kita sebut dengan Portepel. Apa yang dimaksud dengan portepel? Portepel dapat diartikan sebagai wadah atau tempat menyimpan koleksi seperti gambar, peta, blueprint, naskah kuno, atau bahan cetak berukuran besar, yang terbuat dari bahan karton board dengan ukuran sesuai dengan bahan perpustakaan (Pedoman Pembuatan Portepel, 2014:13) Berdasarkan survey yang kami lakukan, naskah kuno museum siginjai disimpan di lemari khusus. Semua naskah yang tidak dipamerkan disimpan di lemari ini. Proses penyimpanannya memang sudah sesuai standar penyimpanan bahan pustaka, namun alangkah lebih baik apabila setiap naskah dilindungi oleh kotak pelindung agar terhindar dari gangguan serangga dan cuaca. Tampak pada gambar di atas, beberapa naskah kuno yang belum di beri kotak pelindung dan gambar di samping kanan naskah yang sudah diberi kotak pelindung. Setelah diberi portepel naskah-naskah tersebut tampak lebih rapih dan lebih aman disimpan. Jika ada gangguan dari luar entah serangga atau air, udara, dan debu, maka yang terlebih dahulu rusak adalah portepelnya bukan naskahnya.
Conclusion
Naskah-naskah kuno di Museum Siginjai merupakan salah satu aset daerah yang sangat berharga terutama bagi pemerintah provinsi Jambi, karena isinya mengandung pelajaran dan sejarah yang sangat bermanfaat. Seiring dengan usianya yang sudah tua, naskah-naskah kuno tersebut mengalami berbagai kerusakan walaupun diantaranya juga masih ada yang baik. Untuk itu bagi naskah-naskah yang rusak perlu ditangani dengan cara melestarikannya dengan teknik perbaikan sesuai dengan jenis kerusakannya. Selain itu diperlukan juga pelestarian kandungan informasinya dengan teknik alih media, maksudnya agar naskah tersebut memiliki cadangan infomasi apabila sewaktu-waktu naskah tersebut benar-benar rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi atau sewaktuwaktu hilang. Dalam memperbaiki naskah kuno yang rusak diperlukan keahlian dan ilmu serta prosedur yang benar sehingga tingkat kerusakan dapat diperbaiki, jadi jangan sampai kerusakan naskah bertambah parah hanya karena kita tidak punya keahlian dalam memperbaikinya. Saran-Saran Perbaikan naskah di museum siginjai yang dilakukan oleh penulis dan Tim Preservasi BP Perpustakaan Nasional dilakukan dengan waktu yang sangat singkat dan padat (selama empat hari) sehingga dengan waktu yang sesingkat tersebut tidak semua naskah yang rusak dapat diperbaiki. Selain itu peralatan memperbaiki naskah pun tidak selengkap dari yang ada di Perpustakaan Nasional. Untuk itu bagi naskah kuno yang belum sempat diperbaiki, penulis berharap dapat diteruskan oleh para karyawan di museum siginjai dan penulis menyarankan kepada Museum Siginjai untuk menyiapkan tenaga-tenaga yang ahli dalam konservasi naskah kuno serta menyiapkan peralatan dan perlengkapan perbaikan naskah kuno.