PROMOSI PERPUSTAKAAN MELALUI VIDEOBLOGGING (VLOGGING)
Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie
Abstrak
Perkembangan teknologi informasi menyebabkan informasi mudah diakses, sehingga fungsi perpustakaan sebagai wahana informasi menjadi kurang diminati dan menyebabkan minat kunjung pemustaka ke perpustakaan menjadi berkurang. Perpustakaan perlu melakukan promosi perpustakaan dengan memanfaatkan teknologi informasi yakni melalui video blogging (vlogging). Proses promosi perpustakaan melalui vlogging ini sebaiknya dilakukan dengan konsep dan perencanaan yang baik oleh pustakawan. Tujuan dari promosi perpustakaan melalui vlogging antara lain meningkatkan minat kunjung pemustaka ke perpustakaan, meningkatkan citra perpustakaan di masyarakat, mempromosikan bahwa adanya jurusan ilmu perpustakaan, dan memperkenalkan ke masyarakat luas bahwa pekerjaan pustakawan bukan hanya sebagai penjaga buku saja.
Abstract
The development of information technology causes information easily accessible, so the function of the library as a vehicle of information becomes less desirable and cause the interest of visitors to the library to be reduced. The library needs to do library promotion by utilizing information technology that is through video blogging (vlogging). The library promotion process through vlogging should be done with good concept and planning by the librarian. The purpose of library promotion through video blogging (vlogging) is to increase the interest of visitors to libraries, improve the library's image in the community, promote the existence of library science department, and introduce to the public that the work of the librarian is not just a book keeper.
Keywords:
Promosi
· teknologi informasi
· video blogging
· pustakawan
· publikasi
· iklan
Introduction
Perpustakaan merupakan sistem informasi yang dalam prosesnya terdapat aktivitas pengumpulan, pengolahan, pengawetan, pelestarian, dan penyajian (Lasa, 2009: 262). Pasal 3 undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan menjelaskan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Namun, adanya perkembangan teknologi informasi menyebabkan informasi mudah diakses, sehingga fungsi perpustakaan sebagai wahana informasi menjadi kurang diminati dan menyebabkan minat kunjung pemustaka ke perpustakaan menjadi berkurang. Apabila hal ini dibiarkan secara terus-menerus tanpа adanya perhatian khusus dari perpustakaan, maka tidak heran jika perpustakaan akan selalu dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Fakta menunjukkan bahwa apresiasi masyarakat terhadap perpustakaan masih sangat rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari rendahnya pemanfaatan perpustakaan oleh masyarakat (Qalyubi, 2003: 259). Dari data survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016, ditemukan bahwa 132.700.000 penduduk Indonesia dari total populasi yang berjumlah 256.200.000 adalah pengguna internet. Data tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap internet begitu tinggi. Memperhatikan fenomena yang terjadi saat ini, sebaiknya perpustakaan memandang teknologi informasi bukan sebagai saingan, tetapi perpustakaan hendaknya mampu memanfaatkan teknologi informasi sebagai sarana untuk mendukung fungsi perpustakaan. Dewasa ini, kita telah banyak menjumpai pemanfaatanteknologiinformasidiperpustakaan misalnya automasi perpustakaan, teknologi RFID untuk shelf-service, perpustakaan digital, dan lain-lain. Agar citra perpustakaan dapat terus meningkat dan tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat, maka perpustakaan perlu melakukan promosi perpustakaan. Qalyubi (2003: 264) mengatakan bahwa pemasaran bisa membantu perpustakaan dalam menentukan masa depannya dan mengidentifikasikan produk-produknya, kualitas layanan, program kegiatan, dan koleksi. Promosi adalah suatu kegiatan yang biasa dilakukan oleh organisasi bisnis, tetapi bukan hal aneh jika perpustakaan melakukan promosi terhadap produk, serta sarana dan prasarana yang dimilikinya. Tujuan dari promosi perpustakaan adalah untuk menarik minat kunjung pemustaka ke perpustakaan untuk memanfaatkan fasilitas yang ada, karena sebagus dan selengkap apapun koleksi yang dimiliki suatu perpustakaan akan tetap sepi jika pustakawan masih pasif menunggu datangnya pemustaka ke perpustakaan bukan menjemputnya. Fauzah (2006: 16) mengatakan bahwa keberhasilan promosi perpustakaan ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya oleh kesesuaian antara materi promosi dan cara promosi dengan kebutuhan pemakai potensial. Hasil survei APJII bahwa 51,8% penduduk Indonesia adalah pengguna internet dapat dijadikan acuan bagi perpustakaan untuk dapat memanfaatkan internet sebagai sarana promosi perpustakaan. Salah satu cara promosi perpustakaan yang dapat dilakukan dengan mengikuti trend saat ini adalah melalui videoblogging (vlogging). PENGERTIAN PROMOSI PERPUSTAKAAN Promosi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu perpustakaan. Jika dulu bekerja di bidang atau keagenan promosi merupakan pilihan terakhir, sekarang justru menjadi sektor bisnis yang sangat menjanjikan (Suryadi, 2006: 32). Tjiptono (1997: 219) mengatakan bahwa promosi adalah suatu bentuk komunikasi pemasaran, yakni aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, memberi dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Menurut Darmono (2001: 175), promosi adalah mekanisme komunikatif persuasif pemasaran dengan memanfaatkan teknik-teknik hubungan masyarakat. Promosi merupakan forum pertukaran informasi antara organisasi dan konsumen dengan tujuan utama memberi informasi tentang produk atau jasa yang disediakan oleh organisasi. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa promosi perpustakaan adalah bentuk komunikasi kepada pengguna perpustakaan dalam menyebarluaskan dan memasarkan informasi, jasa atau produk yang dimiliki oleh perpustakaan agar dapat dimanfaatkan oleh penggunanya. TUJUAN PROMOSI PERPUSTAKAAN Segala kegiatan yang dilakukan pasti memiliki tujuan begitu pula promosi yang dilakukan oleh perpustakaan. Menurut Yusuf (2001: 21), tujuan dilakukannya promosi perpustakaan adalah memperkenalkan segala informasi dan sumbersumber informasi yang dimiliki perpustakaan kepada masyarakat luas supaya mereka pada akhirnya berminat memanfaatkannya secara optimal. Hal ini didukung pula oleh pernyataan Badollahi (1996: 33), bahwa tujuan akhir promosi adalah meningkatkan pemanfaatan perpustakaan. Jika kemampuan perpustakaan telah diketahui masyarakat pengguna, dan produk serta layanan telah dimanfaatkan, perpustakaan akan memperoleh dukungan yang tinggi dari pengguna. Dukungan pengguna merupakan tolak ukur keberhasilan perpustakaan. BENTUK-BENTUK PROMOSI PERPUSTAKAAN Perpustakaan sebaiknya menentukan cara atau metode yang akan digunakan dalam melakukan promosi. Adapun bentuk-bentuk promosi perpustakaan dapat dilakukan melalui cara atau metode sebagai berikut: 1. Publikasi Publikasi terkait produk atau jasa dapat dilakukan melalui brosur, internet, televisi maupun radio. 2. Iklan Iklan merupakan bentuk promosi yang dilakukan dengan cara membayar. Dalam pelaksanaannya ada 2 bentuk iklan yakni melalui media cetak seperti surat kabar, majalah atau melalui media elektronik seperti memasang iklan di media sosial. 3. Kontak Perorangan Fungsi kontak perorangan dalam promosi adalah: 1. Menjual Artinya organisasi berusaha meningkatkan jumlah konsumen dengan langsung mencari konsumen baru 2. Memberi layanan Dengan kontak perorangan, organisasi mencoba memberikan pelayanan langsung kepada konsumen 3. Meneliti 4. Mengawasi perkembangan yang terjadi di antara konsumen dan juga di antara pesaing-pesaing organisasi (Kotler, 1996: 121) Insentif Menurut Wirawan (1993: 38), insentif adalah pemberian sesuatu yang bernilai (uang atau bukan uang) sebagai tambahan terhadap penawaran yang diajukan dengan maksud untuk mendorong perubahan sikap konsumen terhadap penawaran itu. 5. Penciptaan lingkungan dan suasana perpustakaan Penciptaan lingkungan dan suasana perpustakaan yang baik dan nyaman akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pemustaka untuk mengunjungi perpustakaan. Sudah seharusnya pengelola perpustakaan memperhatikan desain interior perpustakaan agar lingkungan dan suasana di perpustakaan menjadi nyaman. VIDEOBLOGGING (VLOGGING) Videoblogging menunjukkan eksistensi yang signifikan pada tahun 2004 dan baru meningkat popularitasnya pada awal tahun 2005. Hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya keanggotaan grup videoblogging Yahoo! secara dramatis pada tahun 2005. Videoblogging termasuk kategori berbagi yang sangat popular di situs YouTube. Youtube sendiri merupakan situs tempat berbagi video terpopuler di dunia yang menyediakan informasi dan video menarik. Dalam Educause Learning Initiative (2005: 1), videoblog atau vlog adalah web log (blog) yang menggunakan video di atas penggunaan teks atau audio sebagai sumber media utama. Ponsel dilengkapi dengan kamera, kamera digital yang dapat merekam video, atau kamera murah yang dilengkapi dengan mikrofon merupakan modal utama untuk membuat vlog, serta Internet Service Provider (ISP). Videoblogging biasanya dilengkapi dengan keterangan teks atau foto. Beberapa videoblogging menyantumkan metadata lainnya (data yang mendeskripsikan isi dari file, seperti kata kunci) untuk membubuhi keterangan situs. Software digital video-editing memungkinkan videoblogger untuk mengkombinasikan video, suara, gambar, dan teks guna meningkatkan kandungan informasi dan menambah daya tarik pengguna untuk melihat aktivitas video blogging yang dipublikasi. Videoblogging biasanya diperbarui secara teratur dan memiliki laman komentar, serta menawarkan mekanisme untuk berlangganan (subscribe). Adapun video yang dapat diupload idealnya berkisar antara 1 sampai 3 menit saja. Berikut hasil screenshoot tampilan akun dan vlog milik Raditya Dika yang diambil melalui YouTube (Gambar 1). Gambar 1. Tampilan akun dan vlog Raditya Dika Pengguna Videoblogging dapat memiliki dan mengelola halaman video milik mereka sendiri untuk berbagi komentar, cerita dan opini. Wen (2010: 5) menyebutkan bahwa vlog dibuat oleh vidoeblogger atau vlogger, sementara aktivitas yang dilakukan disebut sebagai videoblogging or vlogging. Vlog ada bersama-sama sebagai komunitas atau jejaring sosial. Tiga tahap siklus hidup vlog, yakni: 1. Memproduksi (Producing) 2. Pada tahap ini, vlogger membuat dan mengedit video dan upload ke situs dan kemudian vlog baru dihasilkan. Kadangkadang, vlogger dapat mengedit video online, tanpa software yang diinstal. Mempublikasi (Posting) Vlog baru didistribusikan dan dimulai untuk mendapatkan pengakuan dalam vlogosphere dan sering mendapatkan link oleh vlog lain. Pada tahap ini, vlog dapat dilihat dan diberi komentar oleh vlogger lainnya. Bebera vlog bahkan menjadi pihak berwenang dalam bidang tertentu. Daripada harus selalu mengingat untuk mengunjungi situs, pembaca vlog dapat mengkonfigurasikannya atau browser RSS nya untuk secara otomatis berlangganan update secara tepat waktu dengan situs vlog yang diinginkannya 3. Menyimpan (Archiving) Ketika vlog menjadi out of date atau kehilangan kegunaannya, maka itu dapat disimpan atau dihapus. PROMOSI PERPUSTAKAAN VIDEOBLOGGING (VLOG) MELALU Perpustakaan merupakan lembaga informasi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat penggunanya. Adanya perkembangan teknologi informasi dapat dimanfaatkan oleh perpustakaan sebagai upaya mempromosikan produk yang dimiliki perpustakaan. Darmono (2001: 175) menyebutkan bahwa promosi merupakan forum pertukaran informasi antara organisasi dan konsumen dengan tujuan utama memberi informasi tentang produk atau jasa yang disediakan oleh organisasi, sekaligus membujuk konsumen terhadap promosi dapat muncul dalam berbagai ragam dan bentuk, mulai dari tumbuhnya kesadaran sampai pada tindakan untuk memanfaatkannya. Terlihat jelas bahwa tujuan dari promosi adalah memberikan informasi tentang produk atau jasa yang disediakan oleh organisasi dalam hal ini yakni perpustakaan. Hasil survei APJII menunjukan bahwa 51,8% penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Hal ini dapat dijadikan acuan bagi perpustakaan untuk dapat memanfaatkan internet sebagai sarana promosi perpustakaan. Salah satu cara promosi perpustakaan yang dapat dilakukan dengan mengikuti trend saat ini adalah melalui videoblogging (vlogging). Video blogging termasuk kategori berbagi yang sangat popular di YouTube. Seperti yang kita tahu banyak sekali video yang manjadi viral di YouTube karena banyak mendapatkan like. Videoblogging atau vlogging adalah web log (blog) yang menggunakan video di atas penggunaan teks atau audio sebagai sumber media utama yang dapat dibuat dengan memanfaatkan ponsel yang dilengkapi kamera atau kamera digital yang dapat merekam video. Pustakawan sebagai tenaga perpustakaan yang mengetahui seluk beluk perpustakaan dapat membuat vlogging yang menarik dalam rangka mempromosikan perpustakaannya. Agar tujuan perpustakaan dapat tercapai untuk mempromosikan perpustakaan, maka sebaiknya pembuatan vlogging dilakukan dengan konsep dan perencanaan yang baik. Adapun informasi utama yang perlu disampaikan pustakawan melalui vlogging antara lain: 1. Informasi buku baru yang dimiliki oleh perpustakaan 2. Kemas ulang informasi 3. Fasilitas sarana dan prasarana 4. Suasana dan ruangan perpustakaan 5. Bimbingan pemakai 6. Kegiatan di perpustakaan yang meliputi pengadaan, pengolahan, pelayanan Informasi yang disampaikan pustakawan melalui vlogging memiliki tujuan yang sangat penting, yakni: 1. meningkatkan minat kunjung pemustaka ke perpustakaan 2. meningkatkan citra perpustakaan masyarakat di 3. mempromosikan bahwa adanya jurusan ilmu perpustakaan 4. memperkenalkan ke masyarakat luas bahwa pekerjaan pustakawan bukan hanya sebagai penjaga buku saja. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pustakawan dalam membuat vlogging sebagai promosi perpustakaan adalah sebagai berikut: 1. Adanya persetujuan dari kepala perpustakaan untuk promosi perpustakaan melalui vlogging 2. Membuat konsep vlogging yang terencana dengan baik 3. Menentukan nama channel vlog yang menarik 4. Menentukan bahasan yang akan dibahas pada vlogging 5. Merekam aktivitas vlogging dengan menggunakan kamera 6. Melakukan editing 7. Melakukan posting aktivitas yang telah direkam 8. Mengarsipkan dan melakukan back up vlogging yang telah dibuat 9. Vlogging sebaiknya dilakukan secara rutin
Conclusion
Perpustakaan perlu melakukan promosi perpustakaan dengan memanfaatkan teknologi informasi. Adapun salah satu cara yang dapat dilakukan untuk promosi perpustakaan yakni melalui video blogging (vlogging). Video blogging termasuk kategori berbagi yang sangat popular di YouTube. Seperti yang kita tahu, banyak sekali video yang manjadi viral di YouTube karena banyak mendapatkan like. Perpustakaan pun juga dapat membuat video yang menarik terkait produk perpustakaan, koleksi, informasi buku baru, kemas ulang informasi, fasilitas sarana dan prasarana, bimbingan pemakai serta kegiatan di perpustakaan. Tujuan dari promosi perpustakaan melalui video blogging (vlogging) ini antara lain meningkatkan minat kunjung pemustaka ke perpustakaan, meningkatkan citra perpustakaan di masyarakat, mempromosikan bahwa adanya jurusan ilmu perpustakaan, dan memperkenalkan ke masyarakat luas bahwa pekerjaan pustakawan bukan hanya sebagai penjaga buku saja. Adanya video blogging (vlogging) yang menarik diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi masyarakat luas tentang perpustakaan, serta koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan.