Kembali
16
1
2021 Al-ma'mun: Jurnal Kajian Kepustakawanan dan Informasi Vol 2 · 1 ISSN 2746-0509

Pengembangan Literapreneur di Rumah Kreatif WadasKelir Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas

Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

Abstrak

Literasi yang menjadi salah satu wacana populer dan digaungkan oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat hingga di tingkat komunitas-komunitas masyarakat. Literasi sebagai sebuah kecakapan bernalar, berpikir dan belajar agar dapat beradaptasi di sebuah lingkungan sosial dan budaya, dikembangkan juga oleh sebuah komunitas di Purwokerto bernama Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK). Selain berfokus pada pengembangan literasi masyarakat, RKWK juga membidik industri kreatif berbasis literasi yang disebut dengan konsep literapreneur. Tulisan ini fokus membahas tentang upaya-upaya yang dilakukan di RKWK dalam mengelola dan mengembangkan konsep literapreneur dalam kehidupan komunitas mereka hingga mampu memberi dampak bagi lini kehidupan kognisi sekaligus kehidupan ekonomi para pelakunya. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) berjenis penelitian kualitatif-deskriptif. Perolehan informasi didapat dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi dilakukan dengan metode partisipatif maupun non partisipatif di lingkungan RKWK, wawancara dilaksanakan pada pimpinan RKWK dan para relawan, dokumentasi yang dikumpulkan berhubungan dengan persoalan yang diteliti berupa buku, kliping karya yang terbit di media massa, jurnal ilmiah. Hasil penelitian bahwa kegiatan pengembangan literapreneur di RKWK dilakukan dengan beberapa poin penting di antaranya meningkatkan kompetensi keilmuan (kognisi) serta pengembangan kreativitas melalui kegiatan-kegiatan pelatihan dan pendampingan, kegiatan komunitas berfokus pada pengembangan komunitas berbasis kreativitas dan literasi dan program-program yang dilaksanakan di RKWK dibuat sesuai dengan potensi dan minat para anggotanya.

Abstract

Literacy has become a popular discourse encouraged by many parties, form central government to communities. Literacy as a skill of reasoning, thinking, and learning to adapt to any social and cultural environment is developed by a community in Purwokerto called Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK). In addition to the literacy-related community development, RKWK also develops literacy-based creative industry which is called literapreneur. This study focuses on the investigation of the activities carried out by RKWK in developing the concept of literapreneur, its implementation to the lives of their members, and its effects to the members cognitive and economic development. This study is a field research with a qualitative-descriptive approach. Data are collected through observation, interviews, and documentation. Participative and non participative observations are done to the activities at RKWK compound, interviews are carried out with the founder and the volunteers of RKWK, documentation is done by collecting the paper works involved in the activities of RKWK including books, scarps of the community’s works published in mass media, and scholarly journal articles. The results revealed that the literapreneur program at RKWK is carried out in several activities namely scientific (cognitive) competency development, creativity development through workshops and assistantship programs, creativity and literacy-based community development, and managing the programs and activities of RKWK in accordance of the members’ potentials and interests.
Keywords: Literacy · Literapreneur · RKWK · Literacy Movement · Community Literacy

Introduction

Satu dekade terakhir, geliat kegiatan literasi menjadi salah satu wacana yang populer dan digaungkan oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat hingga di tingkat komunitas-komunitas masyarakat. Hal tersebut tampak pada program-program serta kebijakan pemerintah yang berfokus pada bidang keliterasian yaitu Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang mencakup Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan Literasi Keluarga (GLK), hingga Gerakan Literasi Masyarakat (GLM) yang memasyarakatkan enam literasi dasar mulai dari literasi baca-tulis hingga literasi digital (Chodidjah, 2017; Kemendikbud, TT; Nugraha dkk., 2020). Namun sayang, pemahaman masyarakat luas, terutama awam, pada “literasi” masih sekedar kegiatan baca-tulis yang semata memberi dampak pada aspek pengetahuan (kognitif saja), seperti yang dinyatakan Caroline (2000:2), bahwa “literacy is how young children learn to read and write” literasi adalah tentang seorang anak yang belajar baca-tulis. Literasi cenderung belum dipandang sebagai sebuah paradigma yang lebih luas yang mampu berdampak spesifik pada lini-lini lain dalam kehidupan, salah satunya dampak pada segi ekonomi. Padahal, pada dasarnya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis semata. Literasi mesti dipahami dalam sudut pandang yang lebih luas sebagai sebuah kecakapan bernalar, berpikir dan belajar agar dapat beradaptasi di sebuah lingkungan sosial dan budaya. UNESCO (dalam Kern, 2000) menyebutkan bahwa literasi melibatkan sebuah kontinum pembelajaran yang memungkinkan seorang individu mencapai tujuannya, membangun pengetahuan serta potensinya dan turut serta dalam pembinaan masyarakat. Musthafa (dalam Damayantie, 2015:115) menyatakan bahwa literasi merupakan kemampuan membaca, menulis dan berpikir kritis. Literasi menggambarkan kemampuan berinteraksi, berkomunikasi dan beraktualisasi yang dinyatakan baik secara lisan dan tertulis (Irianto dan Lifia, 2017: 640). Konsep literasi sebagai sebuah kontinum yang luas tersebutlah yang dipahami serta diterapkan di lingkungan Rumah Kreatif Wadas Kelir. Sebuah komunitas yang berdiri dan aktif berkegiatan sejak tahun 2013 ini berfokus pada pengembangan literasi masyarakat (Kurnia-wan, 2019: 410). Kegiatan operasional di RKWK dikelola oleh para pegiat literasi yang menamakan diri sebagai “relawan pustaka” yang rata-rata adalah para mahasiswa S-1 hingga S-3. Selain berfokus pada pengembangan literasi masyarakat dengan sejumlah kegiatan pengabdian di bidang literasi, pelan tapi pasti para relawan RKWK juga merambah industri kreatif di bidang literasi yang mereka sebut sebagai konsep literapreneur. Kurniawan (2019:410) menyatakan bahwa komunitas literasi yang sukses menerapkan model pengembangan literapreneur buku bacaan anak adalah komunitas RKWK di Purwokerto. Komunitas ini telah menulis dan menerbitkan ratusan buku bacaan anak yang mendatangkan keuntungan materi, eksistensi dan prestasi yang bisa menyejahterakan para anggota dan masyarakat sekitarnya. Konsep literapreneur di RKWK merupakan sebuah gagasan yang dicetuskan oleh pimpinan (founder) RKWK, Dr. Heru Kurniawan, M.A. (seorang dosen di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto) yaitu mengambil peluang dan memberdayakan industri kreatif di bidang literasi sebagai sebuah kegiatan yang bisa memberikan dampak ekonomi (penghasilan) pada para pelakunya. Istilah literapreneur sendiri merupakan kombinasi dari kata literasi dan entrepreneur (wirausaha) yaitu kegiatan wirausaha dengan basis pemberdayaan literasi sebagai bentuk kerja kreatif yang bisa memberikan dampak ekonomi (Hasil Wawancara pada Heru Kurniawan pada 4 Januari 2021). Salah satu contoh kegiatan pengembangan literapreneur yang dilakukan oleh para relawan di RKWK adalah dengan membidik industri kreatif anak. Industri kreatif anak merupakan salah satu industri yang cukup subur bertumbuh di Indonesia, mulai dari industri penerbitan buku bacaan anak hingga pelatihan-pelatihan keterampilan literasi aplikatif seperti mendongeng, menulis puisi, menulis cerita pendek, main drama, mewarnai dan lainlain. Di RKWK, para relawan pustaka yang menggeluti industri kreatif kepenulisan dongeng misalnya, mereka telah berhasil menerbitkan ratusan judul buku di berbagai penerbit di Indonesia dan memperoleh royalti dari hal tersebut. Artinya, kegiatan literasi yang mereka geluti tidak sebatas berdampak pada sisi kognisi dalam dirinya tetapi juga memberikan dampak pada sisi ekonomi dalam kehidupan mereka bahkan lingkungan sekitarnya. Munculnya gagasan untuk menyasar industri kreatif berbasis literasi dengan konsep literapreneur ini selain karena adanya peluang menerbitkan karya berupa buku, juga karena benturan ekonomi yang dirasakan oleh para penggerak komunitas RKWK ini, terutama oleh para relawan pustaka yang bergiat disana. Kebutuhan hidup yang perlu dicukupi, biaya kuliah yang perlu dipenuhi, keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi mendorong pengembangan literapreneur di RKWK semakin berkembang dengan cukup pesat. Untuk itulah, tulisan ini fokus membahas tentang upaya-upaya yang dilakukan di RKWK dalam mengelola dan menerapkan konsep literapreneur dalam kehidupan komunitas mereka hingga mampu memberi dampak bagi lini kehidupan kognisi sekaligus kehidupan ekonomi para pelakunya. B. LANDASAN TEORI Dewasa ini, perkembangan iptek telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia. Dampaknya adalah globalisasi yang tidak bisa dihindari. Globalisasi dari segala bidang, mulai dari pengetahuan hingga persoalan ekonomi. Hal tersebut juga mendorong persaingan yang kuat terjadi di dunia. Fenomena ini mengharuskan individu untuk berpikir kreatif agar dapat bersaing dan bertahan hidup dalam kompetisi. Berangkat dari alasan tersebut, ekonomi kreatif menjadi salah satu wujud dari upaya mencari pengembangan berkelanjutan yang berbasis kreativitas. Stenberg dan Lubart (dalam Anwar, 2012) menjelaskan bahwa faktor-faktor umum yang dibutuhkan bagi kreativitas sebagai sesuatu yang baru (contoh keoriginalitas dan kebaruan) dan kesesuaian. Begitu pula Van Hook dan Edwards yang menambahkan bahwa kreativitas itu mencakup terbukanya ide-ide dan keinginan untuk mendorong ketidaktahuan bahkan jika ketidaktahuan tersebut tidak bisa secara mudah diketahui. Utomo (2007: 1367) menjelaskan bahwa ekonomi kreatif sebagai kegiatan ekonomi dalam masyarakat berfokus untuk menghasilkan ide, tidak hanya melakukan hal-hal rutin dan berulang. Sebab, bagi masyarakat yang kreatif, menghasilkan ide adalah hal yang harus dilakukan untuk kemajuan. Di dalam sudut pandang ekonomi, kreativitas merupakan fenomena berupa seseorang mampu menciptakan sesuatu yang baru, baik yang luarannya dalam bentuk produk secara fisik seperti barang maupun jasa, hingga dalam bentuk pemecahan masalah (problem solving) pada suatu persoalan maupun kebaruan barang dan jasa yang memiliki nilai ekonomi (Asy’ari, 2016: 97).

Method

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) (Suryabrata, 2007:22) berjenis penelitian kualitatif-deskriptif. Penelitian ini diorientasikan untuk menemukan dan mengeksplorasi fakta-fakta lapangan secara holistik-komprehensif (Faisal, 2010: 20). Dalam hal ini peneliti mengumpulkan informasi dari sumber data dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi untuk memperoleh data. Peneliti melakukan pengamatan, baik dengan metode partisipatif maupun non partisipatif terhadap aktivitas di lokasi penelitian yaitu di lingkungan RKWK. Peneliti juga melakukan wawancara mendalam terhadap pimpinan RKWK dan para relawan pustaka. Selain itu, peneliti mengumpulkan dan menganalisis dokumentasi yang berhubungan dengan persoalan yang diteliti berupa buku, kliping karya yang terbit di media massa jurnal ilmiah, notula rapat-rapat rutin, laporan kegiatan dan lain sebagainya. Setelah data terkumpul, analisis data dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas, berupa reduksi data hingga penarikan kesimpulan.

Result & Discussion

1. Geliat Literasi di RKWK Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) berdiri dan mulai beroperasi pada tahun 2013. Berlokasi di Jl.Wadas Kelir RT07 RW05, Kelurahan Karangklesem, Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Sejumlah kegiatan pengabdian yang dilaksanakan di RKWK melibatkan masyarakat sekitar dari segala kalangan dan usia dengan basis utama literasi dan pendidikan (Sumiarti, 2016:219). Kegiatan- kegiatan dikelola oleh relawan pustaka yang berjumlah 25 orang. Para relawan tinggal di lingkungan RKWK dengan menyewa kamar-kamar di rumah para warga di lingkungan Wadas Kelir. Pada dasarnya perihal tinggalnya para relawan pustaka di lingkungan RKWK dengan menyewa kamar-kamar di rumah para warga sekitar juga dianggap telah memberi dampak yang baik pada kondisi ekonomi masyarakat sekitar. Lebih dari itu, warungwarung tempat para relawan pustaka memenuhi kebutuhan sehari-hari juga semakin terangkat omzetnya, bahkan membuka peluang beberapa warga relawan pustaka dan masyarakat sekitar RKWK. Kegiatan di RKWK berawal dari sebuah hal yang sederhana yaitu mengajak anakanak di lingkungan sekitar RKWK untuk tertarik pada bacaan, bahkan belum pada tujuan supaya gemar membaca. Awalnya, anak-anak yang bermain di lingkungan sekitar RKWK disuguhi bacaan-bacaan anak seperti majalah Bobo, komik-komik remaja dan novel secara gratis. Penyediaan bahan bacaan tersebut kemudian diorganisasikan menjadi sebuah taman bacaan untuk masyarakat dengan nama Taman Baca Masyarakat (TBM) Wadas Kelir di bawah bimbingan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Perpusarda) Kabupaten Banyumas. TBM Wadas Kelir cukup berkembang pesat sebagai pusat literasi bagi lingkungan sekitarnya. Banyak anak-anak yang mencari referensi pelajaran dari sana, bahkan berkembang pada para orang tua (warga sekitar) yang juga tertarik untuk ikut mengakses bahan bacaan dari TBM ini. Padahal, rata-rata warga sekitar bukan merupakan warga yang mengenyam pendidikan tinggi. Rata-rata para warga di lingkungan RKWK hanya tamat SD dan bekerja di lingkup bawah seperti tukang parkir, buruh cuci atau ibu rumah tangga. Namun, dampak hadirnya TBM Wadas Kelir mampu memberi geliat minat baca pada warga ini, meski sekedar bacaan berupa kumpulan buku resep, tabloid wanita dan lainlain. Lambat laun, kegiatan keliterasian tersebut semakin berkembang menjadi kegiatan belajar menulis kreatif untuk anak-anak lingkungan sekitar RKWK yang difasilitasi oleh para relawan pustaka. Kegiatan itu dinamai dengan “sekolah kreatif”, dilaksanakan tiap akhir minggu pada sore hari. Kegiatan tersebutlah yang kemudian menjadi cikal bakal pengembangan litera-preneur di RKWK. Hasil dari pembelajaran di sekolah kreatif tersebut, selain dipajang di majalah dinding milik RKWK juga coba dikirim ke berbagai media massa, mulai dari media lokal hingga nasional. Akhirnya, puluhan karya anak-anak di lingkungan tersebut berhasil dimuat bahkan beberapa berhasil memenangi lomba tingkat nasional. Dari situlah atensi para warga sekitar semakin besar dan semakin baik pada kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pengelola RKWK. Mereka mendukung sepenuhnya kegiatan edukatif yang diselenggarakan di sana. Tidak hanya itu, perhatian publik yang makin luas juga semakin besar sehingga banyak relawan yang tertarik mengabdikan diri dan ikut mengembangkan diri di RKWK. Pada akhirnya, seiring bertambahnya jumlah relawan yang ikut berpartisipasi di RKWK, kegiatan pengembangan literasi di RKWK pun semakin berkembang, tidak sebatas mengembangkan literasi baca-tulis (literasi baca-tulis) melalui sekolah kreatif, tetapi juga mengembangkan keterampilan literasi lain seperti belajar teater (membaca puisi, bermain pantomim), mengembangkan literasi teknologi dengan mengajarkan pada anak-anak bagaimana cara mengakses informasi melalui internet atau sekadar menggunakan aplikasi Microsoft Word untuk mengetik karya mereka supaya bisa dikirim ke media massa, mengajarkan literasi finansial dengan mengajak anak menabung dari honor yang diperoleh dan lain-lain. Keterampilan-keterampilan literasi yang dikembangkan di sana disesuaikan dengan kemampuan para relawan dari bidang yang digelutinya masing- masing. Salah satu contoh relawan yang mengembangkan literasi finansial ada Ro’fatul Fuad atau yang akrab disapa Kak Ufa yang merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) di IAIN Purwokerto (Hasil wawancara dengan relawan pada 7 Januari 2021). Para relawan pustaka ini, selain mengabdi, mengembangkan literasi untuk anak dan warga di lingkungan sekitar RKWK, mereka juga secara kolektif menghimpun gagasannya, belajar bersama, hingga menerbitkan karya-karya yang tersebar diberbagai media massa dan terbit di penerbit-penerbit besar di Indonesia. Hingga 2020, tercatat tak kurang dari 100 karya terbit dari tangan para relawan pustaka hingga tahun 2021 ini. Tabel 1 Beberapa Judul Buku yang Ditulis oleh Para Relawan Pustaka RKWK (Hasil Observasi pada Tanggal 7 Januari 2021) Tidak hanya itu, kompetisi, baik di tingkat regional seperti di kampus tempat mereka berkuliah, hingga tingkat nasional. Beberapa relawan juga berkesempatan pergi ke luar negeri karena prestasi-prestasinya, beberapa juga berhasil meraih beasiswa mahasiswa berprestasi di kampusnya. Tabel 2 Beberapa Wujud Prestasi Relawan PustakaRKWK (Hasil Observasi pada Tanggal 7 Januari 2021) Tahun Bentuk Prestasi 2015-2016 2 relawan (a.n Feny Nida Fitriani dan Endah Kusumaningrum) menjadi pengajar BIPA di Thailand Selatan 2017 Dana 20 juta hasil 10 judul penelitian lolos di IAIN Purwokerto 2017 Juara Lomba Karya Nyata TBM Terbaik Tingkat Kabupaten Banyumas 2017 Relawan a.n M. Hamid Samiaji Juara Lomba Pemuda Pelopor Tingkat Kabupaten Banyumas 2018 2 relawan raih beasiswa “Beasiswa Unggulan” dari Kemendikbud untuk jenjang S-2 2019 10 relawan pustakan raih beasiswa S-1 jalur prestasi dari BRI di IAIN Purwokerto 2020 3 relawan lolos menjadi ASN dan yang telah lulus S-2 menjadidosen di beberapa perguruan tinggi di wilayah Jawa Tengah. Hal tersebut membuat nama RKWK dikenal semakin luas oleh masyarakat dengan citra yang semakin baik dan amat lekat dengan “literasi”. Dampaknya, banyak orang yang merasa penasaran dan ingin ikut serta menimba ilmu serta pengalaman di RKWK, meski tidak terlibat menjadi relawanpustaka. 2. Wujud Literapreneur di RKWK Penerapan konsep literapreneur di RKWK bukan semata berfokus pada perolehan profit atau mencari keuntungan finansial saja, tetapi juga tetap pada tujuan utama komunitas ini berdiri yaitu mengembangkan literasi masyarakat. Seperti yang dijelaskan secara sekilas pada sub bab sebelumnya bahwa salah satu alasan yang mendorong RKWK menerapkan konsep literapreneur dalam kehidupan komunitasnya adalah karena benturan ekonomi yang diperlukan untuk menghidupi kegiatan operasional komunitas serta kehidupan pribadi para pelaku yang menggerakkan kegiatan komunitas tersebut, yaitu para relawan pustakanya. Berangkat dari alasan itulah, pada akhirnya muncul kreativitas para relawan untuk memanfaatkan kemampuan mereka di bidang literasi untuk sekaligus mendapatkan profit yang bermanfaat bagi kehidupan mereka. Hal tersebut senada dengan yang dijelaskan oleh Asy’ari (2016:65) bahwa kreativitas dapat muncul didorong oleh beberapa unsur di antaranya pengetahuan yang merupakan pemahaman relevan seorang individu yang membawa pada upaya kreatif, kegiatan berpikir kreatif yang berkaitan dengan upaya seseorang dalam melakukan problem solving serta motivasi yang dipandang sebagai kunci kreativitas seseorang. Supardi (2012:256) menyatakan bahwa kreativitas adalah perkembangan dan keinginan. Sebuah formulasi pikiran yang menumpahkan cara berpikir yang tidak konvensional yang akan menuntun menuju lompatan besar dalam pengetahuan dan aplikasinya. Demikian pula yang digagas oleh RKWK dalam mengelola rumah tangga komunitasnya yaitu memanfaatkan kreativitas dan pola berpikir kreatif untuk mempertahankan serta mengembangkan komunitasnya. Oleh karena itu, untuk dapat mewadahi hal tersebut, maka pusat kegiatan di RKWK dibagi menjadi tiga lini yaitu: Pusat Pendidikan Masyarakat, Pusat Pengembangan Lingkungan dan Kemasyarakatan dan Pusat Pengembangan Ekonomi Kreatif. Ketiga lini tersebut sama-sama berbasis literasi namun memiliki fokus kegiatan dan orientasi masing-masing. Pertama, Pusat Pendidikan Masyarakat berorientasi mengembangkan pendidikan untuk masyarakat. Unit yang dinaungi di bawah Pusat Pendidikan Masyarakat ini di antaranya adalah lembaga PAUD Wadas Kelir, lembaga Pendidikan Paket B (Setara SMP) dan Paket C (Setara SMA) Wadas Kelir dan Bimbingan Belajar Wadas Kelir. Kedua, Pusat Pengembangan Lingkungan dan Kemasyarakatan mengembangkan kegiatan sosial dan pengembangan kreatifitas masyarakat. Unit yang dinaungi di bawah Pusat Pengembangan Lingkungan dan Kemasyarakatan ini diantaranya adalah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Wadas Kelir yang mengasuh kegiatan pembelajaran islami di dua musala di lingkungan Wadas Kelir (Musala Baitul Hidayah dan Musala Nurul Hidayah), TBM Wadas Kelir yang merupakan perpustakaan gratis dan terbuka bagi masyarakat, serta sekolah literasi sebagai divisi yang mengembangkan kreativitas dan literasi anak dan remaja di lingkungan RKWK. Ketiga, Pusat Pengembangan Ekonomi Kreatif, pusat yang menaungi kegiatan kreativitas berbasis literasi yang berorientasi pada profit. Konsep literapreneur dikembangkan di Pusat Pengembangan Ekonomi Kreatif. Unit yang berada di bawah naungan Pusat Pengembangan Ekonomi Kreatif di antaranya adalah Penerbitan RKWK (sebelum tahun 2021 bernama Wadas Kelir Publisher), Pusat Studi dan Pengembangan Kreativitas Anak (PSPKA), Sekolah Menulis Wadas Kelir (SMWK) dan Toko Buku RKWK. a. Penerbitan RKWK Unit Penerbitan RKWK khusus melayani penerbitan buku yang bersifat indie (terbit dengan pembiayaan mandiri dari pihak penulis) untuk masyarakat umum. Unit yang memiliki tagline “Siap menerbitkan naskah bukumu tanpa ragu-ragu!” ini memfasilitasi para pemilik naskah buku untukmenerbitkan karyanya secara resmi (terdaftar di Perpusnas RI dan memiliki ISBN). Sejak berdiri tahun 2018, terhitung tak kurang dari 100 naskah terbit menjadi buku melalui lini penerbitan ini. Konsumen yang menerbitkan naskah di Penerbit RKWK rata-rata adalah guru, dosen, komunitas kepenulisan, pihak sekolah yang menyusun antologi karya para siswa maupun guru, dan lain-lain. Pada awal-awal masa promosinya (tahun 2018 di awal masa berdiri), Penerbit RKWK memberi fasilitas pelatihan penulisan cerpen dan puisi pada beberapa sekolah dengan segmen guru dan siswa. Hasilnya adalah karya tersebut diantologikan dan diterbitkan di Penerbit RKWK. Bentuk promosi tersebut dirasakan efektif karena membuat Penerbit RKWK cukup dikenal di kalangan para guru yang kemudian banyak menjadi konsumen di PenerbitanRKWK. Pihak sekolah juga merasa diuntungkan dengan wujud promosi kreatif yang dilaksanakan oleh Penerbit RKWK tersebut karena mendorong kreativitas sekaligus memberikan pengalaman kepenulisan kreatif bagi para siswa di sekolahnya (hasil wawancara pada 9 Januari 2021 dengan Rafli Adi Nugroho, relawan pustaka dan tim PenerbitRKWK). Para relawan pustaka yang memegang kendali pada unit ini harus memiliki kemampuan literasi bahasa (terutama bahasa tulis) yang baik. Oleh karena itu, RKWK juga mengadakan pelatihan rutin berjenjang (dengan kompetensi yang semakin meningkat tiap kali pelatihan) tentang editing naskah buku untuk para relawannya, terutama untuk mengembangkan kompetensi para editor di unit penerbitan tersebut. Dari wawancara yang dilakukan pada seorang relawan pustaka bernama M. Hamid Samiaji (editor Penerbit RKWK) dirinya mengatakan bahwa pelatihan rutin dan berjenjang tersebut amat membantunya memahami konsep editing dan gramatikal bahasa yang baik. Hal itu amat membantu selain dalam kehidupan profesional kerja sebagai editor juga membantunya dalam kehidupan akademik sebagai seorang mahasiswa yaitu dalam hal penulisan karya-karya ilmiah/tugas kampusnya. Wujud literapreneur yang terimplementasi pada unit ini adalah adanya profit yang diperoleh oleh para pengelola sekaligus pengembangan kegiatan literasi berupa peningkatan kemampuan tata bahasa (gramatika) dan kemampuan editing para relawan. Profit yang diperoleh tiap bulannya oleh Penerbit RKWK dikelola dan digunakan untuk menggaji relawan yang bekerja secara profesional di unit tersebut. Selain itu, 10% dari total pendapatan yang diperoleh oleh unit tersebut diinfakkan ke pengelola keuangan rumah tangga di RKWK. Dana sebesar 10% tersebut dikelola dan digunakan untuk membiayai kegiatan dan operasional sehari-hari di RKWK. Gambar 01 Contoh Buku yang diterbitkan oleh Penerbit RKWK (Sumber: Dokumentasi RKWK) b. Pusat Studi dan Pengembangan Kreativitas (PSPK) Unit ini merupakan pusat yang menaungi kegiatan yang bersifat pengembangan kognitif dan keilmuan para relawan pustaka. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh divisi ini di antaranya adalah “program pendampingan relawan dan remaja menulis buku”, “program pendampingan relawan dan remaja menulis di media massa”, serta “program relawan dan remaja ikut lomba”. Ketiga program tersebut berorientasi pada produk literasi berupa karya-karya kreatif seperti artikel, opini, esai, cerpen, puisi, buku hingga artikel jurnal ilmiah. Program-program pendampingan untuk relawan dan remaja (remaja dalam hal ini adalah remaja yang tinggal di lingkungan RKWK). Selain tiga program unggulan tersebut, tugas lain unit PSPK adalah memetakan minat pasar perbukuan dan bekerja sama dengan penerbit (mulai dari Gramedia hingga penerbit lokal), memetakan lomba-lomba atau kompetisi menulis dengan sasaran peserta sesuai usia relawan pustaka dan remaja, memetakan data media massa di Indonesia, serta memfasilitasi pertemuan-pertemuan untuk membahas upaya-upaya tersebut secara bersama-sama. Produk-produk yang mengimplementasikan wujud literapreneur dalam unit ini di antaranya adalah berupa pengelolaan dan penerbitan jurnal ilmiah bernama “EDUCREATIVE”. Gambar 02 Jurnal EDUCREATIVE (Sumber: Dokumentasi RKWK) Jurnal ilmiah ini difungsikan untuk kalangan internal (relawan pustaka) dan untuk umum yang memiliki karya ilmiah dan memerlukan wahana terbit berupa artikel jurnal resmi. Pengelolaan jurnal ini memberikan profit pada para pengelolanya. Selain itu, produk lain adalah buku-buku para relawan yang terbit di berbagai penerbit besar di Indonesia juga artikel dan karya sastra relawan yang tersebar di berbagai media massa seperti KOMPAS hingga media lokal seperti Radar Banyumas. Buku-buku serta artikel yang terbit tersebut memberi profit pada para relawan yang berwujud honorarium dan royalti. Gambar 03 Artikel Relawan yang Dimuat di Media Online (Sumber: Dokumentasi RKWK) Gambar 04 Buku Karya Relawan yang Terbit (Sumber: Dokumentasi RKWK) Dalam sebuah wawancara yang dilakukan dengan seorang relawan yang sedang menempuh j e n j a n g studi S-2, Cesilia Prawening, dirinya menyatakan bahwa ia merasa amat diuntungkan dengan kegiatan koordinasi menulis di RKWK tersebut. Ia mengaku dapat membiayai sebagian dari biaya kuliahnya dari honor dan royalti yang diperolehnya dari menulis. Selain itu, karya-karyanya juga dapat dimanfaatkan sebagai portofolio diri sehingga saat mendaftar beasiswa dia dapat memperoleh penilaian unggul dan berhasil mendapat beasiswa jalur prestasi. c. Sekolah Menulis Wadas Kelir (SMWK) Sebelum pandemi Covid-19 merebak di Indonesia dan di seluruh dunia, unit Sekolah Menulis Wadas Kelir (SMWK) ini bernama Wisata Karya Wadas Kelir (WKWK). Unit ini merupakan divisi yang dirancang agar masyarakat umum (di luarRKWK) yang tertarik mengenal dan belajar di RKWK bisa berkunjung ke RKWK untuk belajar kepenulisan, belajar pengelolaan organisasi, sekaligus berwisata ilmu. Jenis kegiatan yang dilaksanakan adalah menyelenggarakan workshop, pelatihan kepenulisan atau seminar yang dilaksanakan secara luring (langsung). Kegiatan ini biasanya dilaksanakan satu kali seminggu, antara hari Sabtu dan Minggu. Dipilihnya hari tersebut karena mayoritas relawan dan masyarakat pada umumnya memiliki waktu luang lebih longgar. Terdapat dua opsi dalam program ini yaitu program kelas berbayar dan program berbagi (gratis) untuk komunitas nonprofit. Pertama, program kelas berbayar. Program berbayar ini dilaksanakan tidak gratis namun tetap ekonomis, satu kali pertemuan peserta hanya dikenai biaya kisaran Rp. 20.000,- sampai Rp. 50.000,- untuk dua jam pelatihan dan pendampingan intensif. Setiap kelas yang digelar akan terselenggara jika kuota peserta minimal 10 orang terpenuhi. Program ini diisi oleh para relawan yang profesional di bidangnya. Pembayaran yang masuk dari para peserta dibagi secara rata antara pelatih (60%), pihak penyelenggara (20%) untuk keperluan teknis dan administrasi, serta untuk kas rumah tangga RKWK (20%). Program pelatihan yang dilaksanakan adalah pelatihan menulis, pelatihan produksi film pendek/iklan dan pelatihan teater. Fasilitas yang didapat oleh setiap peserta di antaranya adalah pelatihan yang diselenggarakan di lingkungan RKWK, penampilan dari anak-anak sekolah kreatif RKWK (baca puisi, pantomim, tarian tradisional, tari kreasi dan lain-lain), snack dan makan siang, serta sertifikat penghargaan jika karya peserta telah tampil di media massa atau dimuat dalam sebuah antologi karya, tujuannya agar para peserta terpacu dan tetap semangat berkarya. Namun, sejak masa pandemi Covid-19, kegiatan-kegiatan tersebut sempat terhenti. Pada akhirnya, para relawan menginisiasi program tersebut agar tetap terlaksana meski dalam masa pandemi yaitu dengan dilaksanakan secara virtual. Kegiatan tersebut akhirnya fokus pada kegiatan pelatihan kepenulisan, sehingga unit ini kemudian bertransformasi menjadi Sekolah Menulis Wadas Kelir (SMWK). Sejak April 2020, tak kurang dari 500 anggota tergabung secara virtual di SMWK dan mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan di sana. Wujud pengembangan literapreneur pada unit ini, baik saat masih bernama WKWK atau saat sudah bertransformasi menjadi SMWK adalah pengembangan kemampuan para relawan untuk menjadi seorang fasilitator/pelatih/pemateri pada kelas kepenulisan sekaligus memperoleh honor dari kerja profesional yang dilakukannya. Sebelum diterjunkan menjadi fasilitator/pemateri dalam kelas-kelas di SMWK, RKWK melakukan semacam pengkaderan pada para relawan pustaka dengan kegiatan pelatihan hingga kegiatan microteaching untuk mengevaluasi persiapan para relawan yang akan menjadi pemateri. Hal tersebut dilakukan agar para relawan yang akan menjadi pemateri menjadi lebih siap. Asumsinya, pemaparan materi dikelas-kelas di SMWK akan memuaskan para peserta, sehingga kepercayaan peserta juga semakin kuat. Dalam sebuah wawancara yang dilakukan pada 9 Januari pada salah seorang relawan yang pernah menjadi salah satu pemateri di kelas SMWK, Titi Anisatul Laely, dirinya menyatakan bahwa ia merasa sangat terbantu dengan adanya kegiatan di SMWK, baik dari segi keterampilan mengajar serta dari segi finansial. Ia menggunakan pengalaman mengajar/sebagai fasilitator di kelas-kelas yang diselenggarakan SMWK sebagai laboratorium pengajaran yang amat baik sebagai seorang calon pengajar profesional di lingkungan akademik. Selain itu, ia juga merasa beruntung karena mendapatkan honor yang sepadan dari kegiatan tersebut. Setelah ia mengisi kelaskelas di SMWK ia merasa lebih percaya diri ketika diminta menjadi pemateri/pembicara di seminar atau acara-acara lain. Artinya, pengkaderan yang dilaksanakan oleh SMWK juga berdampak pada keterampilan para relawan. Gambar 05 Dokumentasi Kelas SMWK via Zoom (Sumber: Dokumentasi RKWK) d. Toko Buku Wadas Kelir Awalnya, tim dalam unit Toko Buku Wadas Kelir ini hanya bertugas mengarsipkan dan menyimpan karya-karya para relawan yang terbit di berbagai penerbit di Indonesia. Pada 2017, unit ini mulai menerima pesanan buku karya para relawan yang rata-rata dipromosikan secara massif oleh semua relawan pustaka di sosial media masing-masing. Sampai pada akhirnya unit ini diresmikan menjadi “Toko Buku Wadas Kelir” oleh 3 orang perwakilan dari Kantor Pusat Gramedia yang sedang berkunjung ke RKWK untuk menjalin kerja sama. Unit ini memiliki tugas pokok berupa distribusi produk hasil karya kreatif para relawan pustaka RKWK berupa buku pada masyarakat luas (konsumen). Hampir 90% buku yang dijual di Toko Buku Wadas Kelir merupakan karya para relawan pustaka. 10% sisanya adalah titipan karya dari Penerbit RKWK yang merupakan fasilitas penerbitan di sana. Selain itu, Toko Buku Wadas Kelir beberapa kali juga menjual souvenir khas RKWK berupa mug (cangkir) dengan sablon gambar logo RKWK, bantal leher dengan bordir logo RKWK, serta kaos-kaos kegiatan (event) yang diselenggarakan oleh RKWK. Penjualan barang-barang selain buku tersebut memang tidak terlalu massif (sesekali jika ada event kegiatan atau pesanan khusus) saja. Penjualan buku- buku di Toko Buku Wadas Kelir tersebut juga dilakukan dengan kerja sama dengan para penerbit yang bersangkutan. Hal itu merupakan salah satu strategi kerja sama yang efektif dengan penerbit-penerbit di Indonesia. Karena kerja sama yang terjalin dengan baik itulah, RKWK mendapatkan keuntungan berupa fasilitas-fasilitas khusus dari para penerbit tersebut, diantaranya peluang buku karya relawan yang terbit lebih tinggi karena melihat peluang pasar yang baik di Toko Buku RKWK. Selain itu, diakui oleh pengelola toko bahwa pihak toko juga kerap kali mendapat fasilitas berupa harga dengan diskon khusus dari penerbit sehingga unit ini dapat memperoleh profit lebih banyak dari penjualan buku-buku karya relawan. Selain pihak toko, para relawan yang memiliki naskah yang telah terbit juga merasa terbantu karena penjualan buku-buku karyanya yang semakin tinggi, sehingga royalti yang diperoleh oleh para relawan ini pun notabenenya semakin naik. Unit ini memang lebih terlihat berfokus atau berorientasi pada profit. Namun, meskipun begitu ada beberapa hal yang mengimplementasikan bentuk literapreneur juga dalam unit ini. Beberapa kegiatan keliterasian yang dilakukan oleh unit ini adalah mengadakan lombalomba gratis untuk para konsumennya, di antaranya lomba menulis puisi untuk anak dan remaja, lomba mewarnai, lomba mendongeng,hingga lomba menulis takarir (caption) foto di sosial media bersama dengan produk buku yang dibeli di Toko Buku Wadas Kelir. Rata-rata kegiatan lomba tersebut dilakukan secara daring melalui media sosial berupa Instagram, sebab unit ini juga cukup aktif melakukan kegiatan niaga melalui sosial media. Terlebih ketika pandemi Covid-19, Toko Buku Wadas Kelir fokus melakukan penjualan buku-buku karya relawan melalui jalur daring (online). Dari wawancara yang dilakukan dengan Fitria Nur Azizah atau biasa disapa Kak Fifi pada 9 Januari 2021, relawan yang bertugas mengelola Toko Buku Wadas Kelir, ia menyatakan bahwa dirinya merasa beruntung dapat bekerja mengelola toko tersebut dengan baik. Apalagi dirinya berasal dari latar belakang pendidikan ekonomi. Toko Buku Wadas Kelir seperti menjadi laboratorium belajar yang nyata baginya dalam mengelola manajerial dan melatih kepekaannya membaca peluang pasar seperti mengadakan kegiatan lomba, membuat kegiatan diskon, belanja stok buku dan lainlain. Pengalaman-pengalaman tersebut diakui telah mendorongnya untuk berani bercita-cita menjadi seorang pengusaha. Tidak hanya itu, dari profit yang diperoleh oleh Toko Buku Wadas Kelir, dirinya juga mendapat gaji secara profesional. Gaji tersebut ditabung olehnya untuk membiayai studi jenjang S-2 secara mandiri. Artinya, kegiatan pengelolaan Toko Buku Wadas Kelir tidak hanya mendorong para relawan pustaka untuk memperoleh profit belaka, tapi juga menimbulkan semangat wirausaha, hingga keinginan mengenyam pendidikan lebih tinggi. Gambar 06 Display di Toko Buku Wadas Kelir Gambar 07 Karya Peserta Lomba Instagram yang diselenggarakan oleh Toko Buku Wadas Kelir

Conclusion

Berdasarkan hasil analisis pengembangan konsep literapreneur di RKWK, dapat diketahui bahwa dorongan pemenuhan aspek ekonomi pada sebuah kondisi dapat memunculkan kreativitas pada para pelakunya tanpa harus meninggalkan visi utama yang menggerakkan komunitas tersebut yaitu mengembangkan literasi masyarakat. Pengembangan literapreneur dalam unit-unit kegiatan di RKWK bahkan dapat memberi manfaat dengan menaikkan taraf kehidupan para pelakunya dari aspek kognitif-akademik dan kesejahteraan ekonomi. Kegiatan pengembangan literapreneur di RKWK dilakukan dengan beberapa poin penting di antaranya meningkatkan kompetensi keilmuan(kognisi) serta pengembangan kreativitas melalui kegiatan-kegiatan pelatihan dan pendampingan, kegiatan komunitas berfokus pada pengembangan komunitas berbasis kreativitas dan literasi dan programprogram yang dilaksanakan di RKWK dibuat sesuai dengan potensi dan minat para anggotanya.