Tradisi Tutur Lisan Dongeng di Era Digital oleh Orang Tua Terhadap Anak di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur
Universitas YARSI; Universitas YARSI; Universitas YARSI
Abstrak
Tradisi mendongeng merupakan salah satu kearifan lokal yang berfungsi menyampaikan pesan moral oleh orang tua terhadap anak melalui dongeng. Keberadaan dongeng di era digital menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua untuk dituturkan sebagai bagian pelestarian nilai moral dan budaya. Karena dongeng digital mampu menyajikan visual yang menarik bagi anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana keberlangsungan tradisi tutur lisan dongeng di era digital oleh orangtua terhadap anak di bawah usia 11 tahun di Kampung Kaum Cianjur. Metode yang digunakan yaitu kombinasi. Teknik pengambilan sampling menggunakan sampling jenuh. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tradisi mendongeng di Kampung Kaum Cianjur masih berjalan baik. Hal ini terlihat dari jawaban orang tua yang masih gemar mendongeng sebanyak 74% dan orang tua tidak mengalami kesulitan saat mendongeng sebanyak 86%. 93% orang tua di Kampung Kaum Cianjur masih meyakini bahwa mendongeng mampu menjadi salah satu cara untuk menasehati anak. Selain Itu para orang tua di Kampung Kaum Cianjur masih mengenali dongeng khas Cianjur seperti mitos Kuda Kosong, Eyang Suryakancana, dan Pangguyangan Badak Putih, walaupun sebagian besar orang tua mengatakan sudah jarang menceritakan dongeng khas Cianjur dibandingkan dongeng populer lainnya.
Abstract
The tradition of storytelling is one of the local wisdoms that serves to convey moral messagesbyparents to children through fairy tales. The existence of fairy tales in the digital era is a challengefor parents to tell as part of the preservation of moral and cultural values. Because digital tales areabletopresent interesting visuals for children. This study aims to analyze how the continuity of the traditionof oral fable speech in the digital era by parents of the children under the age of 11 in KampungKaumCianjur. The method used is a combination. The sampling technique uses saturated sampling. Theresult of this study indicated that the tradition of storytelling in Kampung Kaum Cianjur is still goingwell. This can be seen from the answers of parents who are still doing of storytelling as much as74%and parents have no difficulty when storytelling as much as 86%. 93% of parents in KampungKaumCianjur still recognize the typical Cianjur tales such as the myth of the Kuda Kosong, EyangSuryakancana, and Pangguyangan Badak Putih, even though most parents said they had rarelytoldCianjur tales compared to other popular tales.
Keywords:
Dongeng
· Tutur lisan
· Digital
Introduction
Mendongeng merupakan salah satu tradisi tutur lisan yang dilakukan sejak zaman dahulu. Mendongeng juga merupakan salah satu metode pembelajaran pada anak. Melalui kegiatan ini, orang tua atau anggota keluarga lainnya dapat menyampaikan pesan moral pada anak-anak melalui dongeng. tidak hanya di rumah, kegiatan mendongeng dilakukan juga di sekolah tingkat dasar. Dongeng adalah cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi secara lisan. Lalu menurut Michalopoulus & Xue (2017) dongeng merupakan kumpulan kepercayaan tradisional, adat istiadat, mitos, legenda, dan cerita dari suatu komunitas, melewati generasi ke generasi dari mulut ke mulut. Dongeng di Indonesia Sudah ada dari beberapa abad yang lalu. Pada Zaman kerajaan, dongeng merupakan hiburan bagi raja. Para pendongeng sering diundang ke istana untuk menghibur raja sebagai pelipur lara. Ada berbagai macam jenis dongeng di Indonesia seperti yang dikemukakan oleh Dudung (Habsari, 2017) bahwa dongeng dibagi 7 jenis, yaitu mite, sage, fabel, legenda, cerita lucu, cerita pelipur lara, dan perumpamaan. Selain menjadi hiburan bagi anak, dongeng juga memiliki manfaat di dalamnya. Manfaat dari dongeng menurut Smith (2016) yaitu cerita rakyat menggambarkan nilai-nilai moral masyarakat, meningkatkan kompetensi lintas budaya siswa, untuk pengetahuan tentang sejarah, dan membantu dalam melek huruf. Selain itu menurut Erickson (2018), seseorang dapat secara efektif membimbing anak-anak ke bahasa yang mereka butuhkan untuk mengkomunikasikan emosi mereka dan memahami emosi orang lain melalui bercerita. Sedangkan menurut Kim (2016), mendengar cerita juga bermanfaat dalam mempelajari struktur cerita, kosakata, dan pemahaman, dan juga untuk merancang kreativitas dan imajinasi anak. Sejak dulu dongeng di Indonesia diceritakan pada anak-anak oleh orang tuanya secara turun-temurun. Selain itu, manfaat orang tua memberikan dongeng pada anak-anak yaitu untuk menambah perbendaharaan kata pada anak. Karena pada masa kanak-kanak (di bawah usia 11 tahun) atau dalam jenjang pendidikan TK dan Sekolah Dasar, orang tua harus memperhatikan apa saja yang dapat ditangkap oleh anak termasuk kata-kata yang baik dan benar. Bahkan menurut Hurlock (Intani, 2018) mengatakan bahwa usia dini merupakan masa kritis bagi perkembangan selanjutnya. Dalam masa pembentukan kepribadian anak, peran orang tua sangatlah penting. Karena dengan menceritakan dongeng secara lisan, anak-anak lebih merasakan dan mendapatkan isi cerita yang disampaikan dengan bimbingan langsung dari orang tuanya. Di Indonesia banyak sekali dongeng yang ada di setiap daerahnya sehingga membuat negeri ini kaya akan kearifan lokalnya. Salah satu daerah yang memiliki kearifan lokal yaitu Jawa Barat. Dongeng sendiri merupakan salah satu kearifan lokal yang cukup terkenal di daerah tersebut. Di Jawa Barat sendiri terdapat banyak dongeng seperti dongeng Tangkupan Perahu, dongeng Situ Bagendit, dongeng Telaga Warna, dongeng Ciung Wanara, dan masih banyak lagi. Seperti di Cianjur, ada beberapa dongeng antara lain dongeng pangguyangan badak putih, mitos eyang suryakancana, dan mitos kuda kosong. Penelitian yang pernah dilakukan terkait dongeng sudah cukup banyak. Contohnya seperti dongeng sebagai pembentuk karakter anak oleh Habsari (2017), efektivitas mendongeng untuk meningkatkan pemahaman respek kepada lingkungan pada anak usia 5-6tahun oleh Melissa Tuanakotta, dan peranan orang tua dalam dongeng sebelum tidur oleh Anita Rosalina. Berbeda dengan penelitian- penelitian sebelumnya, penelitian ini lebih untuk menggambarkan fenomena tradisi mendongeng di era digital yang dimana dongeng ikut berkembang seiring berkembangnya teknologi. Sehingga kondisi tradisi mendongeng saat ini perlu diketahui keberlangsungannya. Tentunya Peran penelitian ini sangat bermanfaat bagi orang tua agar tetap menjaga pelestarian tradisi mendongeng. KAJIAN PUSTAKA 1. Pengertian Dongeng Menurut Habsari (2017) dongeng merupakan suatu bentuk karya sastra yang ceritanya tidak benar-benar terjadi atau fiktif yang bersifat menghibur dan terdapat ajaran moral yang terkandung dalam cerita dongeng tersebut. Lalu menurut Michalopoulos &Xue(2017) dongeng adalah kumpulan kepercayaan tradisional, adat istiadat, mitos, legenda, dan cerita dari suatu komunitas, melewati generasi demi generasi dari mulut ke mulut. Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa dongeng merupakan suatu bentuk karya sastra yang bersifat fiktif yang terbagi dalam jenis-jenis dongeng. Dongeng Yg bersifat menghibur dan terdapat nilai moral yang terkandung. Karya sastra ini menjadi tradisi dari generasi ke generasi yang diturun temurunkan secara lisan. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelestarian Tradisi. Cerita rakyat yaitu cerita yang disebarluaskan dan diwariskan secara lisan dan digolongkan menjadi kelompok besar yaitu mite, legenda dan dongeng. Dalam Hal ini dongeng merupakan salah satu objek pelestarian tradisi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu. Intani (2018) mengatakan bahwa dari semua informan yang diwawancara, mereka “terbiasa” dengan kegiatan mendongeng untuk putra-putrinya dengan alasan yang berbeda-beda. “Terbiasa” dalam hal ini diartikan dengan dilakukan setiap hari, sering, ataupun hanya sesekali. Dengan Kata lain tidak absen atau nol sama sekali. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya korelasi antara tradisi “orang tua” yang gemar mendongeng dengan pembudayaan nilai-nilai dalam keluarga pada zaman sekarang di Kelurahan Cisaranten Wetan Kecamatan Cinambo Kota Bandung. 2. Jenis-jenis Dongeng Menurut Dudung (Habsari, 2017), dongeng dapat dibagi menjadi 7 jenis, yaitu mitos, sage, fabel, legenda, cerita lucu, cerita pelipur lara, dan perumpamaan. Jenis-jenis dongeng antara lain (1) mitos: bentuk dongeng yang menceritakan hal-hal magis seperti cerita tentang dewa-dewa, peri atau Tuhan; (2) sage: dongeng kepahlawanan, keberanian, atau sihir seperti sihir dongeng Gajah Mada; (3) fabel: dongeng tentang binatang yang dapat berbicara atau berperilaku seperti manusia; (4) legenda: bentuk dongeng yang menceritakan tentang sebuah peristiwa tentang asal-usul suatu benda atau tempat; (5) cerita jenaka: cerita yang berkembang di masyarakat dan dapat membangkitkan tawa; (6) cerita pelipur lara: biasanya berbentuk narasi yang bertujuan untuk menghibur tamu di pesta dan kisah yang diceritakan oleh seorang ahli; dan (7) cerita perumpamaan: bentuk dongeng yang mengandung kiasan, contohnya adalah didaktik dari Haji Pelit. Cerita tersebut tumbuh dan berkembang di daerah dan dinamakan cerita lokal. Jenis-jenis dongeng yang dijelaskan sebelumnya sangat bermanfaat untuk anak. Namun orang tua perlu memilihkan dongeng yang sesuai dengan usia dan minat anak. 3. Manfaat Dongeng Manfaat dari dongeng menurut Smith (2016) yaitu cerita rakyat menggambarkan nilai-nilai moral masyarakat, meningkatkan kompetensi lintas budaya siswa, untuk pengetahuan tentang sejarah, dan membantu dalam melek huruf. Lalu Isik (2017) mengatakan bahwa salah satu efek dari dongeng yaitu membantu mereka (anak- anak) memahami perbedaan baik dan jahat karena mereka diberikan gambaran nyata melalui penjahat dan pahlawan. Selain itu menurut Habsari (2017), dongeng memiliki beberapa manfaat bagi anak. Manfaat- manfaat dongeng dijelaskan sebagai berikut: a) Mengajarkan budi pekerti pada anak. Banyak cerita dongeng yang dapat memberikan teladan bagi anak serta mengandung budi pekerti, misalnya cerita tentang si kancil anak nakal, tentang perlombaan antara siput dan kelinci, tentang si kerudung merah, dan masih banyak lagi. Setiap cerita dongeng anak-anak selalu memiliki tujuan baik yang diperuntukan untuk si kecil. Untuk itu, jika si kecil sulit mengerti tentang apa itu budi pekerti, pendidik dapat menjelaskan dengan menggunakan perumpamaan dari sebuah dongeng. b) Membiasakan budaya membaca. Kebanyakan anak-anak yang gemar membaca biasanya dikarenakan orang tuanya sering membiasakan budaya membaca pada anak sejak kecil adalah dengan membacakan cerita seperti membacakan dongeng sebelum tidur. Ketika Pendidik biasa membacakan anak banyak buku cerita, anak makin lama akan tertarik untuk belajar membacanya sendiri sejak kecil. Dengan begitu, anak akan menjadi gemar membaca sejak kecil, dan ketika anak membiasakan budaya membaca, hal ini dapat membantunya menjadi lebih pintar di sekolah. c) Mengembangkan imajinasi. Cerita dalam sebuah dongeng bagi anak terkadang memiliki cerita yang diluar logika orang dewasa. Meskipun demikian, cerita- cerita seperti itulah yang dapat membantu anak untuk meningkatkan daya imajinasinya. Walaupun terlihat berlebihan, cerita ini bertujuan untuk membuat anak dapat meningkatkan daya kreasinya. Biasanya, anak yang memiliki imajinasi yang tinggi memiliki rasa ingin tahu yang besar sehingga dia akan lebih cepat berkembang. Membacakan dongeng pada anak dapat mengasah kreativitas dan minat anak dalam membaca. Selain itu, anak juga bisa belajar nilai-nilai karakter yang ada dalam cerita. Jika Kebiasaan baik seperti ini terus diterapkan, maka akan memberikan manfaat positif bagi tumbuh kembang mental anak, bahkan memberikan pengaruh yang baik bagi kehidupannya di masa depan. Jika beberapa peneliti tersebut memaparkan tentang manfaat dongeng untuk anak dengan nilai-nilai yang ada, menurut Sophya (2014) manfaat dongeng tidak hanya terpaut untuk anak-anak, tetapi juga orang tua yang mendongeng untuk anaknya. Aktivitas mendongeng dapat mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dengan anak.mengingat begitu pentingnya dongeng bagi perkembangan dan psikologi anak, semestinya para pendidik di rumah maupun di lembaga tetap mempertahankan tradisi mendongeng pada anak-anak. 4. Nilai-nilai dalam Dongeng Dongeng diyakini memiliki peran penting dalam membantu perkembangan kognitif seperti bahasa dan pemikiran, dan sosioemosional anak seperti emosi dan kepribadian (Ipriansyah, 2011). Menurut Juanda (2018), dengan mendongengkan anak kecil, secara tidak langsung kita telah menanamkan nilai-nilai dalam dirinya, baik nilai personal maupun nilai pendidikan pada anak itu. Melalui menceritakan atau mendongeng kita dapat meningkatkan daya imajinasi, emosional, intelektual, rasa sosial, rasa etis dan religius. Lalu menurut Chaeruddin (2016), dengan mendengarkan cerita anak memperoleh pengetahuan, nilai-nilai moral (seperti kejujuran, keberanian, keramahan, ketulusan) dan sikap yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Method
1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian kombinasi. Sugiyono (2014, hlm.404) mengatakan bahwa metode penelitian kombinasi adalah suatu metode penelitian yang mengkombinasikan atau menggabungkan antara metode kuantitatif dan metode kualitatif untuk digunakan secara bersama-sama dalam suatu kegiatan penelitian, sehingga diperoleh data yang lebih komprehensif, valid, reliabel dan obyektif. Penelitian kuantitatif dalam penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan terhadap orang tua dengan menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data. Sementara penelitian kualitatifnya yaitu dilakukan terhadap anak-anak dengan wawancara. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam serta membuktikan kebenaran jawaban yang diberikan orang tua dari kuesionernya. 2. Teknik Pengambilan Data Adapun teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: a) Kuesioner Menurut Sugiyono (2014, hlm.192) kuesioner merupakan teknik pengumpulan data, dimana partisipan/atau responden mengisi pertanyaan atau pernyataan yang diberikan oleh penulis. Pembuatan Kuesioner ini menggunakan SkalaLikert dan terdapat beberapa pertanyaan yang dapat memberikan kebebasanbagi responden untuk menjawab, SkalaLikert digunakan untuk mengukur sikap, pendapt, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2017, hlm.93). Dalam penelitian ini yang menjadi responden ialah orang tua yang masih memiki anak di bawah usia 11 tahun. Skala pengukuran likert ini akan diberi nilai 5-4-3-2-1. Bentuk yang digunakan untuk skala likert sebagai berikut: Tabel 1. Skala Likert No Pertanyaan SS S KS TSSTSSkor 5 4 3 2 1Keterangan: SS : Sangat setuju S : Setuju KS : Kurang setuju TS : Tidak setuju STS : Sangat tidak setuju b) Wawancara Menurut Sugiyono (2014, hlm.316) wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Dalam Penelitian ini yang akan diwawancarai adalah anak. Cara Kerjanya yaitu anak akan diwawancarai dengan pertanyaannya dibacakan oleh penulis, lalu penulis mencatat semua jawaban anak dalam kuesioner untuk anak. Wawancara untuk anak dilakukan setelah orangtuanya selesai mengisi kuesioner. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam serta membuktikan kebenaran jawaban orang tua dalam mengisi kuesioner.
Result & Discussion
1. Tingkat Kegemaran orang tua Mendongeng Berikut adalah diagram tingkat kegemaran orang tua mendongeng di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur. Gambar 1. Tingkat kegemaran orang tua mendongeng Data pada gambar 1 menunjukan bahwa orang tua di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur relatif menjawab "Setuju", yaitu sebanyak 74% dari keseluruhan responden. Hasil data tersebut diperoleh dari responden yang menjawab “Sangat setuju” sebanyak 6% dan responden yang menjawab “Setuju” sebanyak 68%. Dilihat dari jenjang usia orang tua yang masih produktif yaitu 20-40 tahun membuat orang tua di daerah tersebut masih memiliki minat untuk mendongeng, lalu dari sisi pekerjaan, kebanyakan ibu di kampung tersebut bekerja sebagai ibu rumah tangga yang nampaknya mempunyai banyak waktu untuk melakukan kegiatan mendongeng. Dengan demikian hal ini dapat menandakan bahwa orang tua di daerah tersebut masih melaksanakan tradisi mendongeng. Data di atas juga didukung dengan data lain bahwa mayoritas anak-anak lebih menyukai didongengkan oleh orang tua . Berikut ini alasan mengapa anak-anak lebih menyukai didongengkan oleh orang tua : Tabel 2. Alasan Anak Senang Didongengkan Orang tua Jawaban Frekuensi Lebih menarik. 6 Lebih jelas dan mengerti. 2 Mendapatkan pelajaran. 2 Total 10 2. Tingkat Kesulitan orang tua Saat Mendongeng Berikut adalah diagram tingkat kesulitan orang tua saat mendongeng di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur. Gambar 2. Tingkat kesulitan orang tua saat mendongeng Data pada gambar 2 menunjukan bahwa orang tua di kampung Kaum Kabupaten Cianjur relatif tidak mengalami kesulitan saat mendongengkan anaknya yaitu sebanyak 86%dari keseluruhan responden. Hasil data tersebut diperoleh dari responden yang menjawab "Kurangsetuju" sebanyak 71%dan responden yang menjawab “Tidak setuju” sebanyak 15%. Mendongeng memang memerlukan keterampilan khusus seperti menguasai kosakata yang baik dan baku, intonasi yang baik, lalu mampu menyampaikan makna yang terdapat pada dongeng agar menjadi pembelajaran bagi anak-anaknya. Namun Demikian, para orang tua di kampung tersebut tidak mengalami kesulitan yang berarti pada saat mendongeng. 3. Tingkat Kegemaran Anak Ketika Didongengkan orang tua Berikut adalah diagram tingkat kegemaran anak ketika di ceritakan/dongengkan orang tua . Gambar 3. Tingkat kegemaran anak di dongengkan orang tua Data pada gambar 3 menunjukan bahwa orang tua di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur relatif mengatakan anaknya senang saat didongengkan sebanyak 90% dari keseliruhan responden. Hasil data tersebut diperoleh dai responden yang menjawab "Setuju" sebanyak 85% dan responden yang menjawab “Sangat setuju” sebanyak 5%. Data tersebut menggambarkan bahwa mayoritas anak di kampung tersebut masih senang di dongengkan menurut orangtuanya. Hal ini terjadi karena saat dongeng disampaikan langsung oleh orang tua , akan membangun kedekatan personal antara pendongeng dan yang didiongengkan. Selain itu, anak akan langsung merasakan makna yang terdapat dalam sebuah dongeng karena keterampilan orangtuanya yang membuat isi cerita tersampaikan dengan baik. 4. Pernah dan Tidaknya orang tua Menceritakan Dongeng yang Mengandung Nilai Moral. Berikut adalah diagram tentang pernah/tidaknya orang tua menceritakan dongeng yang mengandung nilai moral agar anak menyadari kesalahannya. Gambar 4. Tingkat kegemaran orang tua menceritakan dongeng yang mengandung nilai moral Data pada gambar 4 menunjukan bahwa orang tua di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur relatif pernah menceritakan dongeng yang mengandung nilai-nilai moral yaitu sebanyak 93%dari keseluruhan responden. Hasil data tersebut diperoleh dari responden yang menjawab“Setuju” sebanyak 90%dan responden yang menjawab “Sangat setuju” sebanyak 3%. Sebagai contoh, orang tua menceritakan dongeng “Malin Kundang” kepada anak. Lalu setelah isi dan makna dongeng tersebut tersampaikan, anak mendapatkan pelajaran bahwa tidak boleh durhaka kepada orang tua dan menyadari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Dengan demikian, hasil ini menandakan bahwa orang tua di kampung tersebut masih menggunakan dongeng sebagai salah satu cara untuk mengajarkan nilai-nilai moral pada anaknya. 5. Anak Gemar Mendengar/menonton Doengeng dari Televisi dan Internet Berikut adalah diagram persepsi anak yang lebih senang mendengarkan dongeng dari acara televisi, atau dari internet seperti video-video dongeng di youtube ketimbangdidongengkan oleh orang tua . Gambar 5. Anak Gemar Mendengar/menonton Dongeng dari Televisi dan Internet Data pada gambar 5 menunjukan bahwa anak di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur relatif menjawab "Setuju" yaitu sebanyak 35 responden. Hal ini menandakan bahwa kebanyakan dari mereka lebih senang mendengarkandongeng dari media sosial ketimbangdidongengkan orangtuanya. Peran televisi dan internet sepertinya mampu memalingkan perhatian anak dalam mendapatkan dongeng dengan fitur-fitur yang membuat anak senang. Beberapa alasan anak yang lebih senang mendengarkan dongeng dari media sosial ketimbang didongengkan orangtuanya. Tabel 3. Alasan Anak Senang Mendengar/menonton Dongeng Lewat Media Sosial Jawaban Frekuensi Lebih menarik jika menonton dongeng di youtube. 4 Lebih asik dan tidak membosankan. 12 Karena lebih banyak pilihan. 15 Lebih suka dongeng yang ada di televisi. 3 Total 34 6. Jenis-jenis Dongeng yang Biasa di Ceritakan orang tua Berikut adalah diagram jenis-jenis dongeng yang biasa diceritakan orang tua . Dalam pertanyaan ini responden dapat menjawab lebih dari satu jawaban. Gambar 6. Jenis-jenis dongeng yang biasa di ceritakan orang tua Data pada gambar 6 menunjukan bahwa mayoritas orang tua di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur menjawab "Fabel" sebanyak 37 responden dan adapun yang menjawab “Legenda” sebanyak 32 responden. “Fabel” adalah jenis dongeng yang menceritakan tentang binatang yang dapat berbicara atau berperilaku seperti manusia. Sedangkan “Legenda” adalah jenis dongeng yang menceritakan tentang sebuah peristiwa dan tentang adal-usul suatu benda atau tempat. Kedua jenis dongeng tersebut merupakan jenis dongeng yang paling banyak dipilih oleh orang tua di daerah tersebut. penyebab terjadinya kedua jenis dongeng tersebut menjadi favorit di kalangan orang tua tidak jauh dari popularitas dongeng- dongeng tersebut di Indonesia. Bahkan Ada Acara televisi yang menceritakan kembali dalam bentuk film hingga orang tua mudah teringat tentang kedua jenis dongeng tersebut. Selain itu, kedua jenis dongeng tersebut mempunyai daya tarik tersendiri. Seperti “Fabel” dengan karakter-karakter yang lucu sehingga menarik perhatian anak, dan “Legenda” yang menyajikan nilai-nilai sejarah tentang suatu tempat atau benda sehingga orang tua merasa bahwa jenis dongeng ini akan memberikan pengetahuan pada anak. 7. Waktu Untuk Mendongeng Berikut adalah diagram waktu yang biasa digunakan orang tua untuk mendongeng pada anaknya. Dalam Pertanyaan ini responden dapat menjawab lebih dari satu jawaban Gambar 7. Waktu yang biasa digunakan orangtuauntuk mendongeng pada anaknya Data pada gambar 7 menunjukan bahwa orang tua di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur relatif mendongengkan anaknya saat sebelum tidur yaitu sebanyak 37 responden. Hal ini menandakan bahwa saat sebelum tidur adalah waktu yang dipilih ditengah rutinitas dan kesibukan orang tua sehingga saat sebelum tidur menjadi waktu yang digemari orang tua untuk mendongeng. Menurut pengamatan penulis, terpilihnya saat sebelum tidur sebagai waktu untuk mendongeng dikarenakan hal psikologis dan keluangan waktu orang tua beserta anaknya. Sebagai contoh dalam hal psikologis, orang tua maupun anak dapat lebih berkonsentrasi untuk mendongeng dan mendengarkan yang mendekatkan hubungan batin antara orang tua dan anak karena tidak ada lagi kegiatan yang harus dipikirkan atau dikerjakan di saat sebelum tidur. Lalu dari sisi keluangan waktu, orang tua memilih waktu tersebut untuk mendongeng dikarenakan dari pagi hingga sore hari mereka selalu memiliki kegiatan entah itu di tempat kerja ataupun di rumah. Sama halnya dengan anak yang memiliki berbagai kegiatan dan bermain sebelum malam tiba. 8. Anggota Keluarga Lain yang Gemar Mendongeng Berikut adalah diagram anggota keluarga lain yang gemar mendongeng selain orang tua . Dalam pertanyaan ini responden dapat menjawab lebih dari satu jawaban. Gambar 8. Anggota keluarga lain yang gemar mendongeng selain orang tua Data pada gambar 8 menunjukkan bahwa sebagian orang tua di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur menjawab "Bibi" sebagai anggota keluarga lain yang gemar mendongeng pada anaknya yang dikatakan sebanyak 22 responden. Hal ini menggambarkan bahwa yang gemar mendongeng di kampung tersebut selain orang tua adalah bibi. Ternyata selain orang tua , ada juga peran dari orang-orang terdekat untuk menyampaikan dongeng pada anak. Karena semakin banyak anggota keluarga yang gemar mendongeng, maka tradisi mendongeng pun akan sangat terjaga kelestariannya. Disamping itu, dengan banyaknya orang-orang terdekat seperti “Bibi” yang gemar memberikan dongeng, maka akan banyak juga nilai-nilai moral dan nilai kehidupan yang dapat menjadi pelajaran bagi anak. 9. Akses orang tua Mendapatkan Bahan Cerita/dongeng Berikut adalah diagram akses orangtua dalam mendapatkan bahan cerita/dongeng. Dalam Pertanyaan Ini responden dapat menjawab lebih dari satu jawaban. Gambar 9. Akses orang tua dalam mendapatkan bahan cerita/dongeng. Data pada gambar 9 menunjukan bahwa orang tua di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur relatif mendapatkan bahan cerita/dongeng secara turun temurun yang dikatakan oleh 37 responden. Dengan mendapatkan bahan cerita/dongeng secara turun-temurun, maka dapat dikatakan bahwa ditengahteknologi yang semakin berkembangtradisi mendongeng di daerah tersebut masihberjalan. Pentingnya penyampaian dongeng secara turun-temurun yaitu untuk menjaga keaslian cerita dan menjaga nilai- nilai yang terkandung di dalamnya agar dapat tersampaikan ke generasi-generasi yang akan datang. Selain itu denganberkembangnya teknologi, di era digital ini orang tua dapat memperoleh bahan cerita dari berbagai sumber. Sehingga orang dapat mengeksplor lebih banyak bahan cerita yang belum diketahuinya untuk disampaikan pada anak. Karena dengan lebih banyaknya opsi atau pilihan untuk orang tua dalam mencari bahan cerita/dongeng, maka orang tua akan lebih mudah untuk memberikan dongeng- dongeng yang sesuai untuk anaknya. Dengan segala kemudahan orangtua mendapatkan bahan cerita/dongeng, dapat meningkatkan minat orang tua untuk mendongeng. 10. Judul-judul Dongeng yang diCeritakan orang tua Berikut adalah diagram judul-judul dongeng yang pernah diceritakan orang tua di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur. Gambar 10. Judul-judul dongeng yang pernah diceritakan orang tua Data pada gambar 10 menunjukan bahwa sebagian orang tua di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur menjawab "Si Kancil", yaitu sebanyak 21 responden, disusul oleh dongeng “Malin Kundang” sebanyak 19 responden dan dongeng “Sangkuriang” sebanyak 16 responden. Ketiga judul dongeng tersebut merupakan judul dongeng yang pernah diceritakan oleh banyak orang tua di kampung tersebut. Dari ketiga judul dongeng tersebut ada satu hal yang menarik bahwa dongeng “Malin Kundang” yang merupakan dongeng dari Minang menjadi salah satu dongeng yang paling digemari orang tua di kampung tersebut sebagai bahan untuk mendongengkan anaknya. Hal ini dikarenakan dongeng tersebut mengandung nilai moral yang baik bagi anak seperti tidak boleh durhaka terhadap orang tua . Dengan begitu dongeng- dongeng tersebut terpilih sebagai judul dongeng paling favorit untuk diceritakan orang tua pada anaknya. 11. Alasan orang tua Terkait Pemilihan Dongeng Berikut adalah tabel yang berisi beberapa alasan orang tua terkait dongeng yang diceritakan pada anaknya. Tabel 4. Alasan orang tua terkait dongeng yang diceritakan Jawaban Frekuensi Persentase Karena cerita tersebut memberikan pembelajaran dan banyak hal positif yang dapat diambil. 16 39%Cerita tersebut mengajarkan nilai moral pada anak. 6 15%Agar anak dapat membedakan benar dan salahnya suatu hal. 4 10%Agar anak tahu dongeng-dongeng tersebut. 10 24%Karena cerita tersebut disukai anak. 2 5%Karena dongeng tersebut diberikan secara turun-temurun. 2 5%Agar anak mengenal dan belajar budaya dongeng. 2 5%Cerita tersebut membentuk karakter pada anak. 2 5%Karena anak menyukai cerita tentang binatang. 1 2%Karena hanya itu dongeng yang diketahui. 1 2% 12. Dongeng/cerita Moral yang Didongengkan orang tua Berikut adalah diagram dongeng/cerita moral yang pernah orang tua ceritakan yang mengandung nilai-nilai agar anak- anak menyadari kesalahan/kekeliruannya. Gambar 11. Dongeng/cerita moral yang pernah orang tua ceritakan Data pada gambar 11 menunjukan bahwa hampir sebagian orang tua di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur menceritakan dongeng "Si Kancil" agar anak mendapatkan nilai moral dan dapat menyadari kesalahannya yang dijawab oleh 19 responden. Hal ini menandakan bahwa selain menjadi dongeng favaorit untuk di ceritakan orang tua pada anaknya, dongeng tersebut juga dapat digunakan orang tua untuk menyampaikan nilai moral pada anaknya. Dongeng “Si Kancil” merupakan cerita tentang karakter binatang yaitu seekor kancil yang memiliki kecerdikan untuk melewati segala rintangan yang menghampirinya serta semangat pantang menyerah yang membuat karakter ini menjadi daya tarik bagi semua orang yang mendengarkan dongeng tersebut. Tidak aneh jika salah satu dongeng terpopuler di Indonesia ini menjadi favorit dikalangan orang tua dan anak di kampung tersebut. 13. Persepsi orang tua Terkait Pengaruh Dongeng Berikut adalah diagram persepsi orang tua tentang berpengaruh atau tidaknya dongeng-dongeng tersebut terhadap sikap anaknya. Gambar 12. Persepsi orang tua tentang berpengaruh atau tidaknya dongeng Data pada gambar 12 menunjukan bahwa hampir semua orang tuadi Kampung Kaum Kabupaten Cianjur menjawab "berpengaruh" sebanyak 98%dari keseluruhan responden. Hal ini menandakan bahwa peran dongeng cukup penting bagi perkembangan sikap perilaku anak. sebagai contoh, dari hasil wawancara yang dilakukan pada anak. Pengaruh yang datang melalui kegiatan mendongeng yaitu seperti meningkatkan keberanian anak dalam melakukan sesuatu, meningkatnya daya berpikir anak sehingga anak menjadi lebih cerdas dalam menaklukan masalah yang dihadapinya, dan melalui kegiatan mendongeng anak pun menjadi pribadi yang lebih penurut terhadap kedua orangtuanya. 14. Cerita Rakyat Khas Cianjur yang Dikenal orang tua Berikut adalah diagram cerita rakyat khas/berasal dari Cianjur yang dikenal oleh orang tua . Dalam pertanyaan ini responden dapat menjawab lebih dari satu jawaban. Gambar 13. Cerita rakyat khas/berasal dari Cianjur yang dikenal oleh orang tua Data pada gambar 13 menunjukan bahwa orang tua di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur relatif menjawab "Kuda Kosong", yaitu sebanyak 30 responden sebagai dongeng khas Cianjur yang diketahui orang tua . Hal ini menandakan bahwa dongeng Kuda Kosong merupakan dongeng yang paling familiar di kalangan orang tua di kampung tersebut. Dari beberapa dongeng khas yang berasal dari Cianjur seperti Mitos Kuda Kosong, Pangguyangan Badak Putih, dan Mitos Eyang Suryakancana. Mitos Kuda Kosong merupakan dongeng yang paling terkenal di daerah Cianjur, bahkan tidak sedikit orang dari daerah lain pun yang mengetahui tentang dongeng tersebut. Kuda Kosong terlahir dari sebuah peristiwa tradisional Cianjur pada zaman kolonial Belanda tahun 1707 ketika pemerintahan Cianjur dipimpin oleh Rd. Ariawiratanu 2 yang memiliki nama asli Rd. Wirata Manggala (1691-1707). Seiring dengan berjalannya waktu dan budaya yang semakin berkembang, perayaan arak- arakan kuda kosong harus diawali dahulu dengan sebuah ritual di lingkungan pendopo Cianjur. Kini kuda kosong menjadi pawai yang dikemas dengan kesenian yang lebih enak ditonton pada setiap perayaan hari kemerdekaan. Dengan begitu, orang- orang mudah mengingat mitos tersebut. 15. Pernah dan Tidaknya orangtuaMendongengkan Cerita Rakyat Khas Cianjur Berikut adalah diagram tentang pernah atau tidaknya orangtua mendongengkan salah satu cerita rakyat khas/berasal dari Cianjur. Gambar 14. orang tua pernah mendongengkan salah satu cerita rakyat khas/berasal dari Cianjur Data pada gambar 14 menunjukan bahwa mayoritas orang tua di KampungKaum Kabupaten Cianjur pernah mendongengkan salah satu dongeng khas Cianjur dilihat dari 59%dari keseluruhan responden menjawab "Ya". Hal ini menandakan bahwa orang tua di kampung tersebut masih mengingat dan menceritakan kembali dongeng-dongeng tersebut yang merupakan budaya lokal di daerah tersebut. Karena dengan mereka masih gemar menceritakan dongeng- dongeng tersebut dari generasi ke generasi, maka dapat dikatakan di kampung tersebut masih melakukan tradisi mendongeng. 16. Dongeng/fantasi Modern yang Dikenal orang tua Berikut adalah tabel dan diagram dongeng/fantasi modern yang dikenal oleh orang tua . Dalam Pertanyaan Ini responden dapat menjawab lebih dari satu jawaban. Gambar 15. Dongeng/fantasi modern yang dikenal oleh orang tua Data pada gambar 15 menunjukan bahwa hampir semua orang tua di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur mengenal "Cinderella" sebagai dongeng/fantasi modern yang dijawab oleh 40 responden. Dari keempat kategori tersebut, pilihan “Lainnya” mendapatkan beberapa suara dari orang tua yang dimana dongeng tersebut adalah dongeng “Timun Mas”. Fantasi modern merupakan cerita yang bersumber dari imajinasi pengarang dan sesuai dengan keadaan pada saat cerita tersebut dibuat, sehingga memliki alur cerita yang menarik. Hal ini menggambarkan bahwa dongeng tersebut merupakan dongeng yang tidak asing lagi bagi orang tua di kampung tersebut.
Conclusion
Tradisi mendongeng khas Cianjur masih berlangsung di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur dengan baik. Para orang tua masih menceritakan dongeng-dongeng yang adadi Indonesia khususnya dongeng khas Cianjur sebagai upaya transfer nilai dan budaya melalui dongeng khas Cianjur yang disampaikan secara turun-temurun. Hal ini terlihat dari jawaban kuesioner orang tua yang mayoritas masih gemar mendongeng baik dongeng sehari-hari maupun dongeng khas Cianjur. Selain Untuk Hiburan, dongeng memiliki banyak manfaat seperti meningkatkan minat baca, mengajarkan budi pekerti, serta meningkatkan kreativitas anak dengan berbagai jenis yang ada. Sebagian Besar orang tua di Kampung Kaum Kabupaten Cianjur menyampaikan dongeng yang mengandung nilai moral dengan tujuan membuat anak membentuk kepribadian yang baik. Di sisi lain seiring dengan berkembangnyateknologi, minat anak untuk mendengarkan dongeng dari orang tuanya mulai teralihkan oleh acara dongeng di televisi dan video-video dongeng yang ada di youtube yang menghadirkan fitur-fitur dan karakter menarik. Hal ini terlihat dari pernyataan responden anak bahwa mereka lebih senang mendengar/menonton dongeng dari televisi dan internet ketimbang dari orang tuanya. Hal ini hendaknya dapat mendorong para orangtua dan masyarakat untuk tetap mengimbangi kemajuan teknologi informasi ini dengan membiasakan lagi tradisi mendongeng secara kreatif dan inovatif.