Efektivitas Storytelling dalam Meningkatkan Minat Baca Anak: Studi Kasus Program Kejar Baca di Perpustakaan Cinta Baca Medan
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Abstrak
Berdasarkan hasil survei Program for International Student Assessment (PISA) pada 2022, skor Indonesia mengalami penurunan, khususnya pada skor kemampuan membaca. Skor kemampuan membaca di Indonesia pada PISA 2018 sebesar 371 sedangkan PISA 2022 turun menjadi 359. Dari hasil observasi lapangan awal, penulis menemukan bahwa terdapat kegiatan literasi berupa storytelling atau bercerita di Perpustakaan Cinta Baca Medan. Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap minggu sekali untuk meningkatkan minat baca anak. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti dan mengamati secara mendalam bagaimana kegiatan storytelling pada Program Kejar Baca dapat dilaksanakan secara efektif untuk meningkatkan minat baca anak di Perpustakaan Cinta Baca Medan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan tipe studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis model Miles dan Huberman yang terdiri dari 3 kegiatan, yakni reduksi data, data display, dan verifikasi atau kesimpulan. Berdasarkan hasil wawancara bersama informan dan pengamatan secara langsung, storytelling dapat dikatakan efektif dalam meningkatkan minat baca anak. Hal tersebut dapat dilihat dari anak-anak yang antusias pada cerita dan aktif dalam menanggapi pertanyaan dan diskusi tentang cerita. Secara tidak langsung, anak-anak telah ikut berperan dalam membaca cerita. Sebagian anak yang mengikuti storytelling menjadi aktif mengunjungi perpustakaan dan meminjam buku bacaan. Lingkungan yang tidak baik dan kurangnya motivasi menjadi tantangan dalam melaksanakan kegiatan storytelling di perpustakaan. Selain itu, perubahan usia dan aktivitas lain juga menjadi tantangan yang tidak dapat dihindari.
Abstract
Based on the results of the Program for International Student Assessment (PISA) survey in 2022, Indonesia's score has decreased, especially in reading ability scores. Indonesia's reading score in PISA 2018 was 371 while PISA 2022 dropped to 359. From the initial field observations, the author found that there are literacy activities in the form of storytelling at Cinta Baca Library Medan. The activity is routinely carried out once a week to increase children's interest in reading. This study aims to examine and observe in depth how storytelling activities in the Kejar Baca Program can be implemented effectively in increasing children’s interest in reading at the Medan Cinta Baca Library.This research uses a qualitative descriptive method with a case study type. Data collection techniques in this study used observation, interviews, and documentation. The data analysis technique used is the Miles and Huberman model analysis technique which consists of 3 activities, namely data reduction, data display, and verification or conclusion. Based on the results of interviews with informants and direct observation, storytelling can be said to be effective in increasing children's interest in reading. This can be seen from children who are enthusiastic about the story and active in responding to questions and discussions about the story. Indirectly, children have taken part in reading the story. Some children who participated in storytelling became active in visiting the library and borrowing reading books. Poor environment and lack of motivation are challenges in implementing storytelling activities in the library. In addition, age changes and other activities are also unavoidable challenges.
Keywords:
storytelling
· children’s reading interes
· cinta baca library
Introduction
Berdasarkan hasil survei Program for International Student Assessment (PISA) pada 2022, yang dikeluarkan oleh Organization for Economic Cooperationand Development (OECD) pada 5 Desember 2023 (PISA, 2023), peringkat literasi di Indonesia naik 3-4 poin dari hasil survei tahun 2018. Namun hal tersebut bukan serta-merta menjadi kabar yang baik bagi Indonesia. Dilihat dari skor survei PISA, Indonesia justru mengalami penurunan, khususnya pada skor kemampuan membaca. Skor kemampuan membaca di Indonesia pada PISA 2018 sebesar 371 sedangkan PISA 2022 turun menjadi 359. Hal tersebut menjadi cerminan bagi Indonesia, bahwa tantangan untuk meningkatkan minat baca anak harus selalu menjadi perhatian utama di Indonesia. Sebab, memberantas buta huruf saja tidak cukup untuk mempersiapkan generasi emas di abad 21. Generasi emas adalah generasi yang dapat membudayakan literasi di kehidupan sehari-hari. Memahami apa yang dibaca, berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan mandiri dalam menyelesaikan masalah (problem solving) merupakan dampak dari membiasakan kegiatan literasi di sekolah maupun diluar sekolah. Menurut penelitian Mansyur (2019), semua negara industri memiliki budaya literasi yang kuat yang melampaui lingkungan pendidikan resmi dan sudah tertanam dalam masyarakat mereka sebagai tradisi (Alfien & Himmawan, 2022). Menurut Rahmawati, mayoritas masyarakat Indonesia masih membutuhkan dorongan untuk rutin membaca. Hal ini menunjukkan bahwa satuan pendidikan formal (sekolah) saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran masyarakat yang heterogen (beragam). Meskipun demikian, lembaga pendidikan non-formal harus berperan dalam mendorong, memfasilitasi, dan menerapkan inovasi pendidikan dalam proses keberhasilannya (Rahmawati, 2020). Pendidikan non-formal dapat diperoleh dari kegiatan-kegiatan kreatif yang dibuat oleh pustakawan atau relawan dalam suatu komunitas di perpustakaan, pos baca, taman bacaan masyarakat, dan yayasan-yayasan yang peduli dengan pendidikan. Minat secara etimologi merujuk pada upaya dan keinginan seseorang untuk mempelajari dan mengejar sesuatu. Secara terminologi, minat dapat didefinisikan sebagai dorongan, ketertarikan, dan keinginan terhadap suatu hal tertentu. Menurut Anjani, Dantes, & Arawan (2019) minat baca ialah kecenderungan batin seseorang yang ditandai oleh rasa senang dan keinginan yang kuat untuk membaca tanpa ada unsur paksaan (Wijayanti & Susanti, 2024). Maharani mengungkapkan bahwa minat baca tidak secara otomatis dimiliki oleh seorang anak tetapi harus dibentuk. Namun, tidak semua anak mendapatkan buku yang berkualitas dan sesuai dengan usianya. Faktor kurangnya ekonomi serta kurangnya kesadaran orang tua pada ketersediaan buku dan keterampilan membaca yang harus dimiliki setiap anak. “Not all children get quality and ageappropriate books. Economic factors or the lack of awareness of parents in providing books for children cause children not to get the books they need. Maharani (2016) explained that reading interest was not automatically owned by a child but must be formed” (Gustianing & Ariyanti, 2022). Indikator minat baca pada anak menurut Kusmiadi (2008) dapat terlihat dengan sebuah kerangka tindakan AIDA (Attention, Interest, Desire and Action). Dalam hal ini, kegiatan storytelling dapat mempengaruhi kerangka tindakan AIDA tersebut, diantaranya sebagai berikut: 1. Perhatian (attention).Anak-anak yang menunjukkan tanda-tanda minat membaca buku selama dan setelah waktu bercerita mungkin akan diamati untuk mendapatkan perhatian. 2. Ketertarikan (interest). Ketertarikan ditunjukan dengan anakyang aktif menanggapi cerita dan tertarik untuk membaca buku setelah kegiatan storytelling. 3. Keinginan (desire).Anak-anak yang berminat membaca dan mampu merangkum apa yang telah dibacanya dengan kata-katanya sendiri dapat menjadi contoh dan membantu menentukan tingkat pemahaman anak. 4. Tindak lanjut (action). Anak-anak muda akan bersemangat mengunjungi perpustakaan dan meminta untuk membaca buku untuk dibaca di rumah (Napisah & Anna, 2020). Praktik menyampaikan sastra lisan seperti cerita rakyat, legenda, atau fable dengan cara yang menarik dan ekspresif disebut dengan storytelling. Selain menarasikan cerita dengan lantang, pendongeng biasanya dapat memperkuat narasi dengan alat bantu visual seperti boneka, wayang, foto, atau alat peraga. Biasanya akan ada perbincangan mengenai moral atau pelajaran yang bisa dipetik dari narasi setelah selesai (Adhitya, 2020). Greene dan Del Negro dalam bukunya Storytelling: Art and Technique, 4th ed berbagi keyakinan bahwa tradisi dan teknik bercerita sebagai seni lisan akan terus relevan dalam kehidupan masyarakat, sebab terdapat dampak positif dari cerita dan interaksi pribadi antara pencerita dan pendengar. “Storytelling is one of humanity’s oldest cultural traditions; since the dawn of language, people have used stories to define the experience of being human. The traditions and techniques of storytelling as an oral art continue to be relevant, perhaps particularly relevant, in our visually oriented and mediasaturated society, and Greene and Del Negro share a belief in the positive effects of stories and the personal interaction between storyteller and audience.” (Howard, 2011). Menurut Carolin & Ekawati (2019) metode storytelling adalah salah satu metode yang di sukai anak-anak (Salsabila et al., 2021). Perkembangan kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), sosial, dan konatif (penghargaan) anak semuanya dapat ditingkatkan dengan cara storytelling. Ada kemungkinan bahwa pendongeng secara tidak langsung menumbuhkan minat membaca pada pendengar muda dengan menggunakan cara bercerita untuk membangkitkan minat mereka pada buku. (Agnes, 2022). Buku bergambar penuh warna dapat digunakan oleh storyteller (pencerita) untuk memberikan pengalaman yang menarik dan menghibur kepada anak-anak. Anak-anak yang pertama kali diperkenalkan dengan sastra mungkin mendapat kesan negatif karena praktik pengajaran yang kaku. Pengalaman membaca awal seorang bayi tertanam dalam ingatannya. Mayoritas anak merasa tertekan untuk belajar membaca. Namun, anak dapat memperoleh beragam pengalaman melalui bercerita. Anak-anak akan belajar membaca cerita tanpa merasa tertekan untuk melakukannya (Novari et al., 2020). Efektivitas berasal dari kata efektif. Efektif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Efektif - KBBI VI Daring, n.d.) berarti a) terdapat dampak, pengaruh, atau akibat; juga, b) dapat membuahkan hasil dan mujarab dalam ikhtiar dan perbuatan. Sejauh mana suatu tujuan berhasil dan tercapai adalah efektivitasnya. Menurut Ravianto (2014) dalam (Hanun & Kurniawan, 2021) seberapa baik pekerjaan dilakukan dan seberapa besar output yang dihasilkan sesuai dengan harapan merupakan indikator efektivitas. Hal ini menunjukkan bahwa suatu tugas dapat dikatakan efektif apabila dapat diselesaikan sesuai dengan rencana, baik dari segi biaya, waktu, dan mutu. Menurut Budiani (2007) tingkat efektivitas program dapat diukur dengan menggunakan indikator sebagai berikut: a. Ketepatan sasaran program Pembuatan program sudah sesuai atau sejalan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. b. Sosialisasi program Kapasitas untuk merencanakan suatu program sedemikian rupa sehingga informasi mengenai program tersebut dapat dibagikan kepada komunitas yang dituju dan orangorang yang akan berpartisipasi di dalamnya. c. Tujuan program Sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya terpenuhi, dan sejauh mana tujuan dan hasil program sejalan satu sama lain. d. Pemantauan program. Bagaimana cara mengawasi hal-hal yang dilakukan pembuat program setelah program mulai digunakan agar dapat memperhatikan pengguna program. Dari hasil observasi lapangan awal, Perpustakaan Cinta Baca Medan merupakan salah satu perpustakaan cabang dari Yayasan Cinta Baca yang memiliki Program Kejar (Kelompok Belajar) sebagai upaya mengatasi rendahnya tingkat literasi anak di Indonesia. Salah satu bentuk Program Kejar adalah Kejar Baca. Kelompok belajar ini berfokus memberikan stimulus kepada anak agar tertarik dan berminat membaca buku. Kegiatan utama pada Program Kejar Baca adalah storytelling atau menyampaikan isi buku melalui cerita dan ekspresi. Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap seminggu sekali, yakni dilaksanakan pada setiap hari Jumat. Dalam penelitian ini penulis menemukan bahwa terdapat berbagai macam tantangan bagi pustakawan sebagai storyteller (pencerita) dalam kegiatan storytelling. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti dan mengamati secara mendalam bagaimana kegiatan storytelling pada Program Kejar Baca dapat terlaksanakan secara efektif dalam meningkatkan minat baca anak di Perpustakaan Cinta Baca Medan. Dengan harapan, penelitian ini dapat bermanfaat bagi pustakawan dalam mengembangkan program-program kreatif yang ada di perpustakaan, taman bacaan masyarakat, maupun yayasan. Relawan literasi anak membentuk pendidikan nonformal untuk mendukung kegiatan literasi dan membentuk kebiasaan atau budaya literasi pada anak. Kegiatan storytelling pada Program Kejar Baca di Perpustakaan Cinta Baca Medan dapat dikatakan efektif jika kegiatan tersebut berhasil mencapai tujuan pembentukan program, yaitu meningkatkan minat baca anak.
Method
Pembuatan program sudah sesuai atau sejalan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. b. Sosialisasi program Kapasitas untuk merencanakan suatu program sedemikian rupa sehingga informasi mengenai program tersebut dapat dibagikan kepada komunitas yang dituju dan orangorang yang akan berpartisipasi di dalamnya. c. Tujuan program Sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya terpenuhi, dan sejauh mana tujuan dan hasil program sejalan satu sama lain. d. Pemantauan program. Bagaimana cara mengawasi hal-hal yang dilakukan pembuat program setelah program mulai digunakan agar dapat memperhatikan pengguna program. Dari hasil observasi lapangan awal, Perpustakaan Cinta Baca Medan merupakan salah satu perpustakaan cabang dari Yayasan Cinta Baca yang memiliki Program Kejar (Kelompok Belajar) sebagai upaya mengatasi rendahnya tingkat literasi anak di Indonesia. Salah satu bentuk Program Kejar adalah Kejar Baca. Kelompok belajar ini berfokus memberikan stimulus kepada anak agar tertarik dan berminat membaca buku. Kegiatan utama pada Program Kejar Baca adalah storytelling atau menyampaikan isi buku melalui cerita dan ekspresi. Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap seminggu sekali, yakni dilaksanakan pada setiap hari Jumat. Dalam penelitian ini penulis menemukan bahwa terdapat berbagai macam tantangan bagi pustakawan sebagai storyteller (pencerita) dalam kegiatan storytelling. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti dan mengamati secara mendalam bagaimana kegiatan storytelling pada Program Kejar Baca dapat terlaksanakan secara efektif dalam meningkatkan minat baca anak di Perpustakaan Cinta Baca Medan. Dengan harapan, penelitian ini dapat bermanfaat bagi pustakawan dalam mengembangkan program-program kreatif yang ada di perpustakaan, taman bacaan masyarakat, maupun yayasan. Relawan literasi anak membentuk pendidikan nonformal untuk mendukung kegiatan literasi dan membentuk kebiasaan atau budaya literasi pada anak. Kegiatan storytelling pada Program Kejar Baca di Perpustakaan Cinta Baca Medan dapat dikatakan efektif jika kegiatan tersebut berhasil mencapai tujuan pembentukan program, yaitu meningkatkan minat baca anak. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif deskriptif gaya studi kasus. Penelitian studi kasus adalah proses pengumpulan data dan informasi yang menyeluruh, mendetail, intensif, holistic, dan sistematis tentang orang, kejadian, sosial setting (latar sosial), atau kelompok dengan menggunakan berbagai metode dan teknik serta sumber informasi untuk memahami bagaimana individu, peristiwa, latar sosial, atau kelompok tersebut berfungsi secara afektif dalam konteksnya (Yusuf, 2014). Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan storytelling pada Program Kejar Baca menjadi objek penelitian. Subjek penelitian diambil melalui cara purposive sampling, informan yang dipilih untuk diwawancara adalah Indah Darmawati Nababan selaku Staf Program Perpustakaan Cinta Baca dan anakanak menjadi subjek yang diamati selama penelitian. Sedangkan dokumentasi akan melengkapi data dan bukti penelitian terkait kegiatan storytelling pada program kejar baca di perpustakaan. Teknik analisis data pada penelitian ini yaitu metode analisis model yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Tiga proses terdiri dari model mereduksi data, menampilkan data, dan memverifikasi atau menarik kesimpulan. Waktu pengambilan data dilaksanakan pada setiap hari Jumat, selama 4 (empat) kali dalam sebulan. Hal itu disebabkan oleh penyesuaian waktu kegiatan storytelling di Perpustakaan Cinta Baca Medan, yakni pada setiap hari Jumat. Minggu pertama dilaksanakan observasi awal, minggu kedua dilaksanakan wawancara, minggu ketiga dan minggu terakhir dilaksanakan pengamatan terhadap anak-anak yang mengikuti kegiatan storytelling.
Result & Discussion
Perpustakaan Cinta Baca Medan Perpustakaan Cinta Baca merupakan lembaga non-profit yang berdiri dibawah naungan Yayasan Cinta Baca. Yayasan Cinta Baca adalah sebuah komunitas yang berdiri sejak 14 September 2001 dengan latar belakang kepedulian pada perkembangan literasi dan pendidikan di Indonesia. Terletak di Jl. Raya Bogor Baru, Blok A2 No. 17, Jawa Barat, Indonesia (Cinta Baca-Cerdas dan Berbudi Luhur, n.d.). Yayasan Cinta Baca memiliki visi yaitu terciptanya manusia Indonesia yang cerdas dan berbudi luhur, sedangkan tujuan Yayasan Cinta Baca adalah menciptakan pos baca dan perpustakaan yang berfungsi sebagai pusat pembelajaran komunitas informal yang dapat ditiru. Yayasan Cinta Baca mempunyai 203 lembaga pembelajaran masyarakat, termasuk 15 taman bacaan, 181 pos baca, dan 7 perpustakaan kota. Yayasan Cinta Baca kini memiliki jumlah terbanyak di sepuluh provinsi (Maulidia, 2021). Perpustakaan Cinta Baca Medan merupakan salah satu perpustakaan kota yang didirikan oleh Yayasan Cinta Baca dan terletak di Jl. Perumahan Sunggal Bumi Seroja Permai II No. A8-A9, Sunggal, Sumatera Utara, 20128. Program Kejar (Kelompok Belajar) Yayasan Cinta Baca memiki 4 strategi untuk mewujudkan visinya. Strategi tersebut dibuat dalam bentuk program kegiatan yang disebut program Kelompok Belajar (Kejar). Terdapat program Kejar Baca, Kejar Cerdas, Kejar Sehat, dan Kejar Luhur. Program Kejar dibentuk sebagai tahapan menuju puncak visi. Kejar Baca bertujuan untuk mengajarkan anakanak membaca, meningkatkan minat terhadap buku dan perpustakaan dengan cara yang menyenangkan. Kejar Cerdas bertujuan untuk membantu orang tua agar dapat berperan dalam meningkatkan minat baca anak. Kejar Sehat adalah kejar lanjutan dari kejar cerdas, bertujuan membantu orang tua dalam menjaga kesehatan anak karena anak cerdas juga harus sehat. Kejar Luhur merupakan puncak tujuan dari Yayasan Cinta Baca dengan visi adalah dapat menciptakan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi berbudi luhur. Berikut penuturan dari informan saat wawancara. “Perpustakaan Cinta Baca punya 4 Program Kejar, singkatan dari Kelompok Belajar. Pertama ada Kejar Baca, kami melakukan storytelling untuk anak. Terus ada Kejar Cerdas yang berdominan ke ibu dan anak, bagaimana ibu berperan dalam meningkatkan minat baca pada anak. Ketiga Kejar Sehat, kelanjutan dari Kejar Cerdas karena anak yang cerdas adalah anak yang sehat. Terakhir adalah Kejar Luhur, puncak goals dari Yayasan Cinta Baca yaitu ‘Terciptanya Manusia Indonesia yang Cerdas dan Berbudi Luhur’.” Setiap program memiliki cara atau metode yang digunakan untuk merealisasikan tujuan dari masing-masing program. Program Kejar Baca sendiri bertujuan untuk meningkatkan minat baca anak. Dalam mencapai tujuannya, Perpustakaan Cinta Baca menggunakan storytelling sebagai kegiatan utama di Program Kejar Baca. Storyteling Pada Program Kejar Baca Kegiatan storytelling di Perpustakaan Cinta Baca Medan sudah ada dan telah dilaksanakan sejak berdirinya perpustakaan tersebut pada tahun 2009. Kegiatan tersebut dilaksanakan rutin setiap seminggu sekali pada hari Jumat di Perpustakaan Cinta Baca. Target sasaran kegiatan ini adalah anak-anak mulai usia 1 sampai dengan 12 tahun. Selain itu, kegiatan ini juga dilaksanakan di sekolah-sekolah pada acara tertentu, yang disebut Kejar Baca go to school. Kegiatan storytelling dipromosikan melalui akun instagram Perpustakaan Cinta Baca Medan, yakni @cintabaca_sumut. Selain itu, kegiatan ini disosialisasikan secara langsung kepada orang tua dan anak yang berada di sekitar perpustakaan dan pengunjung perpustakaan. Setiap pertemuan rutin kegiatan storytelling di Perpustakaan Cinta Baca Medan, anak-anak yang ikut dan hadir sebanyak 3 sampai 20 anak. Para storyteller memiliki beberapa cara dalam menyajikan cerita, diantaranya sebagai berikut: (1) Memilih buku cerita yang menarik. Pemilihan buku cerita dapat dilihat dari bentuk fisik buku, mulai dari gambar sampai isi cerita, (2) Menjadikan fisik buku sebagai media visual bercerita. Buku akan diperlihatkan kepada anak-anak ketika cerita berlangsung, (3) Mengajak anak untuk aktif berinteraksi ketika cerita berlangsung, seperti tanya jawab dan berdiskusi tentang tokoh, bunyi, suasana, dan lain sebagainya sambil menunjuk tulisan dan gambar, (4) Diakhir cerita, storyteller akan menyampaikan pesan yang terkandung dalam cerita kepada anak-anak. Melalui cara tersebut, secara tidak langsung anak diajak untuk membaca dan melatih anak untuk berpikir serta berimajinasi. Setelah selesai bercerita, storyteller mengajak anak untuk berkreasi seperti menggambar atau mewarnai dan membuat suatu prakarya yang berkaitan dengan objek atau subjek dari cerita. Sebagaimana penuturan dari informan saat wawancara terkait kegiatan storytelling. “Kegiatan storytelling ini, selain kita membaca dan bercerita, kita akan berkreatifitas. Nah, kreatifitas ini disesuaikan dengan buku yang telah dibaca atau diceritakan. Misalnya di dalam cerita terdapat tokoh si kupu-kupu, maka kita akan berkreatifitas membuat kupu-kupu dari origami atau dari kawat bulu, ataupun mewarnai. Jadi, selain bermanfaat untuk menarik minat bacanya, kita juga bisa membentuk imajinasi anak dari cerita dan merealisasikannya dengan kreatifitas dari anak-anak.” Gambar 1. Storytelling di Perpustakaan Cinta Baca Medan Sumber: Dokumentasi Pribadi (2024) Gambar 2 dan 3. Berkreasi setelah storytelling Sumber: Dokumentasi Pribadi (2024) Berdasarkan hasil observasi atau pengamatan secara langsung, storytelling efektif dalam meningkatkan minat baca anak. Maknanya bahwa kegiatan storytelling telah berhasil mencapai tujuan dari program Kejar Baca dengan target sasaran yang tepat, yaitu anak-anak sekitar perpustakaan dan anak-anak sekolah, seperti para anak SD (Sekolah Dasar) dan anak TK (Taman Kanak-kanak) atau PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Tabel 1. Pedoman Observasi Lapangan No Indikator Pernyataan Ya Tidak 1. Perhatian (Attention) Anak-anak menyimak cerita yang disampaikan oleh storyteller Anak-anak memperhatikan buku atau alat bantu atau peraga cerita 2. Ketertarikan (Interest) Anak-anak tertarik dan antusias untuk mendengarkan cerita Anak-anak tertarik pada buku bacaan Anak-anak aktifbertanya, menanggapi, dan berdiskusi tentang cerita yang disampaikan oleh storyteller 3. Keinginan (Desire) Anak-anak mengikuti cerita hingga selesai Anak-anak mencari buku untuk dibaca Anak-anak ikut mengeja atau membaca judul buku, tokoh, objek, dan lain-lain. 4. Tindak Lanjut (Action) Anak-anak membaca buku setelah mengikuti storytelling Anak-anak meminjam buku Anak-anak sering mengunjungi perpustakaan Tantangan dalam Melaksanakan Kegiatan Storytelling di Perpustakaan Cinta Baca Medan Adapun tantangan dalam melaksanakan kegiatan storytelling adalah berkurangnya jumlah partisipasi anak yang mengikuti kegiatan tersebut. “Kalau untuk di perpustakaan, jumlah anak-anak yang mengikuti kegiatan storytelling ini memang sedikit. Paling banyak itu kalau kami adakan di pos baca yang kami buat di PAUD atau TK.” Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, diantaranya sebagai berikut: (1) Perubahan usia anak menuju remaja sehingga anak-anak yang aktif mengikuti kegiatan storytelling sudah tidak membutuhkan kegiatan tersebut, (2) Anak-anak memiliki aktivitas lain diluar sekolah, seperti ekstrakurikuler, les, dan lain-lain yang jadwalnya bersamaan dengan jadwal storytelling, (3) Kurangnya motivasi dari lingkungan, contohnya orang tua yang tidak mendukung dengan beberapa alasan seperti lokasi perpustakaan yang jauh, tidak sempat memantau, khawatir jika anak pergi sendirian ke perpustakaan, dan lain sebagainya.
Conclusion
Kegiatan storytelling yang dilaksanakan di Perpustakaan Cinta Baca Medan adalah kegiatan yang efektif untuk meningkatkan minat baca anak. Hal tersebut dapat dilihat dari para anak yang antusias pada cerita dan aktif dalam menanggapi pertanyaan dan diskusi tentang cerita. Secara tidak langsung, anak-anak telah ikut berperan dalam membaca cerita. Sebagian anak yang mengikuti storytelling menjadi aktif mengunjungi perpustakaan dan meminjam buku bacaan. Namun, lingkungan anak-anak menjadi tantangan dalam melaksanakan kegiatan storytelling di perpustakaan. Kurangnya motivasi dan beberapa alasan dari orang tua yang tidak mendukung, menghambat anak-anak dalam mengikuti kegiatan tersebut. Selain itu, perubahan usia dan aktivitas lain juga menjadi tantangan yang tidak dapat dihindari. Dalam menghadapi tantangan tersebut, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan dan dipertimbangkan, diantaranya adalah sebaiknya pihak perpustakaan mensosialisasikan kegiatan storytelling kepada orang tua lebih intens lagi. Selain itu, sebaiknya pihak perpustakaan mempertimbangkan perubahan jadwal kegiatan, agar dapat meminimalisir bentrok pada aktivitas anak diluar sekolah.