Kembali
16
1
2024 Jurnal Pustaka Ilmiah Vol 10 · 2 ISSN 2685-8363

Analisis Kesiapan Jurnal Akademik di Lingkungan Universitas Tidar menuju Bereputasi Nasional

Universitas Tidar; Universitas Tidar; Universitas Tidar

Abstrak

Jurnal ilmiah memegang peran penting sebagai salah satu media utama publikasi ilmiah sekaligus penyedia rujukan terbaru dalam berbagai bidang keilmuan sehingga riset apapun yang tidak merujuk kepada jurnal yang mutakhir dan relevan akan kehilangan signifikansi dan kebaruannya. Oleh karena itu perlu adanya usaha yang sungguh-sungguh untuk menghasilkan jurnal yang berkualitas khususnya di lembaga perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap kesiapan jurnal-jurnal yang ada di Universitas Tidar untuk menuju jurnal bereputasi nasional terakreditasi SINTA. Analisis yang dilakukan mengacu pada instrumen dan kriteria yang dipersyaratkan oleh sistem akreditasi jurnal nasional (ARJUNA). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode kepustakaan melalui penelusuran website jurnal yang dilakukan secara online. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode kepustakaan melalui penelusuran website jurnal yang dilakukan secara online. Hasil pengumpulan informasi dianalisis menggunakan metode analisis isi untuk memperoleh informasi kesiapan jurnal sesuai kriteria pedoman akreditasi jurnal ilmiah. Hasil penelitian menemukan dari 34 jurnal yang ada di Universitas Tidar, 23 jurnal atau 68% di antaranya belum terakreditasi. Dari hasil analisis jurnal-jurnal yang belum terakreditasi tersebut berpotensi didorong untuk melakukan akreditasi. Jurnal-jurnal yang telah memenuhi syarat untuk diakreditasi adalah Journal of Aquaculture Development and Environment (JADE), Journal of Livestock Science and Production (JaLSPro), THETA OMEGA: Journal of Electrical Engineering, Computer, and Information Technology, Jurnal Rekayasa Infrastruktur Sipil, ABDIPRAJA dan Jurnal Pengabdian Masyarakat (KASTARA). Sementara jurnal lainnya masih perlu melengkapi beberapa persyaratan seperti DOI, 2 tahun terbitan, dan indeksasi google scholar. Berdasarkan temuan ini, perguruan tinggi perlu memberikan dorongan dengan memfasilitasi pelatihan dan pendampingan bagi para editor jurnal dalam meningkatkan pengelolaan jurnal sehingga mampu meraih peringkat akreditasi nasional.

Abstract

Scientific journals are crucial for disseminating research and providing up-to-date references in various fields. As such, any research that does not refer to current and relevant journals will lose its significance and novelty. Therefore, earnest efforts are necessary to produce quality journals, particularly within higher education institutions. This study aims to analyze the readiness of journals at Tidar University to achieve accreditation as nationally reputable journals through SINTA accreditation. The analysis refers to the instruments and criteria required by the national journal accreditation system (ARJUNA). This research is a descriptive quantitative study using a literature review method by conducting an online search of journal websites. The collected information is analyzed using content analysis methods to obtain information on the readiness of the journals according to the scientific journal accreditation guidelines. Findings indicate that out of 34 journals at Tidar University, 24 (70%) are unaccredited. These unaccredited journals have the potential to pursue accreditation. Journals meeting accreditation requirements include the Journal of Aquaculture Development and Environment (JADE), Journal of Livestock Science and Production (JaLSPro), THETA OMEGA: Journal of Electrical Engineering, Computer, and Information Technology, Jurnal Rekayasa Infrastruktur Sipil, ABDIPRAJA, and Jurnal Pengabdian Masyarakat (KASTARA). Other journals need to fulfill requirements such as obtaining a DOI, having two years of publication history, and Google Scholar indexing. Based on these findings, the university should support by providing training and mentoring for journal editors to improve management, thereby achieving national accreditation.
Keywords: journal accreditation · scientific journals · journal indexing · ojs · sinta

Introduction

Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Keberhasilan suatu bangsa sering kali diukur dari kemajuan pendidikan tingginya, dan peran dosen sangat penting dalam mencapai tujuan ini (Kromydas, 2017). Firmansyah et al. (2020) menjelaskan bahwa hasil penelitian memiliki peran besar dalam tridarma perguruan tinggi, baik bagi karir fungsional seorang dosen, maupun dalam peningkatan akreditasi program studi dan akreditasi institusi dalam suatu lembaga pendidikan tinggi. Dosen dianggap memiliki kualitas yang baik apabila dosen tersebut mampu untuk mempublikasikan hasil penelitiannya dalam jurnal nasional dan jurnal internasional yang bereputasi (Hayati & Lolytasari, 2017). Amaliyah (2019) menambahkan bahwa publikasi karya ilmiah dosen di jurnal nasional dan jurnal internasional, terutama jurnal yang bereputasi mencerminkan produktivitas dosen dalam suatu bidang ilmu tertentu. Hal senada juga disampaikan Hasmiati (2023) bahwa tuntutan pemenuhan kebutuhan artikel ilmiah yang bereputasi pada jurnal yang terindeks nasional maupun Scopus dan Web of Science bagi dosen tidak hanya untuk kualitas kinerja pribadi dosen namun juga pada tingkat kualitas perguruan tinggi. Berdasarkan gambaran tersebut kebutuhan jurnal untuk dosen dan peneliti sangatlah besar sehingga perlu adanya usaha yang sungguh-sungguh untuk menghasilkan jurnal yang berkualitas. Peraturan Menteri Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2018 Tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah. Pasal 1 menyebutkan bahwa jurnal ilmiah adalah bentuk pemberitaan atau komunikasi yang memuat karya ilmiah dan diterbitkan berjadwal dalam bentuk elektronik dan/atau tercetak. Sedangkan akreditasi adalah kegiatan penilaian untuk penjaminan mutu jurnal ilmiah melalui kewajaran penyaringan naskah, kelayakan pengelolaan, dan ketepatan waktu penerbitan jurnal ilmiah. Dengan demikian akreditasi jurnal ilmiah adalah pengakuan resmi atas penjaminan mutu dari suatu jurnal ilmiah. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diperoleh informasi bahwa kualitas suatu jurnal akan dilihat dari profesionalisme dalam manajemen, kemampuan untuk menerbitkan artikel yang memiliki substansi, dan konsistensi dalam penerbitannya. Selain itu, kualitas jurnal juga tercermin dari sejauh mana artikel-artikel yang diterbitkannya didiseminasi, dikutip, dan berkontribusi pada perkembangan keilmuan. Dengan demikian, meningkatkan kualitas akreditasi jurnal yang dimiliki oleh perguruan tinggi bukan hanya relevan untuk memenuhi kewajiban tridarma perguruan tinggi, tetapi juga memiliki dampak yang signifikan pada kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia, kualitas penelitian, dan peran perguruan tinggi dalam pengembangan masyarakat serta ilmu pengetahuan secara keseluruhan. Berdasarkan paparan tersebut, maka sangat penting bahwa jurnal harus terakreditasi agar dapat menunjang atau mendorong nilai akreditasi institusi agar lebih baik lagi (Atmaja et al., 2023). Menurut Nashihuddin et al. (2016) program akreditasi jurnal bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah masyarakat sehingga mampu bersaing pada jurnal atau terbitan berkala ilmiah internasional. Sistem indeksasi dan akreditasi Indonesia yaitu science and technology index (SINTA) diinisiasi oleh Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti untuk memudahkan pendataan dan pemetaan publikasi ilmiah yang dilakukan oleh akademisi dan peneliti. SINTA menggunakan teknologi berbasis web untuk mengukur kerja peneliti dan institusi berdasarkan kualitas dan jumlah publikasi serta peringkat jurnal berdasarkan jumlah artikel dan sitasinya (Lukman et al., 2017)). Peringkat jurnal yang ditampilkan dalam SINTA memiliki 6 kategori mulai S1 hingga S6. Jurnal dengan peringkat tertinggi yaitu S1 dianggap memiliki reputasi internasional yang dikelola secara profesional baik dari sisi konten maupun manajemennya. Salah satu kriteria penilaian jurnal adalah indeksasi jurnal yang terbagi menjadi tiga yaitu bereputasi tinggi, sedang dan rendah. Lembaga pengindeks berputasi tinggi adalah scopus dan web of science. Pengindeks bereputasi sedang adalah DOAJ, Gale, dan Pubmed. Pengindeks bereputasi rendah adalah Google Scholar, Portal Garuda, Moraref dan lain sebagainya (Muriyatmoko, 2019). Sementara itu, terdapat database ilmiah yang lebih baru, yaitu Dimensions yang disebut sebagai salah satu pesaing dari database Web of Science dan Scopus (Singh et al., 2021). Penelitian oleh Thelwall (2018) juga mengindikasikan bahwa database Dimensions bisa menjadi alternatif database yang ada. Namun, karena database Dimensions juga menyertakan preprints, yang berarti kutipan dari artikel yang belum ditinjau oleh rekan sejawat juga disertakan, sehingga menimbulkan peluang teoretis untuk permainan kutipan manipulatif. Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, Dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 134/E/KPT/2021 tentang Pedoman Akreditasi Jurnal Ilmiah menyebutkan bahwa akreditasi jurnal ilmiah terdiri dari 8 unsur penilaian yaitu penamaan jurnal ilmiah, kelembagaan penerbit, penyunting dan manajemen jurnal, substansi artikel, gaya penulisan, penampilan, keberkalaan, penyebarluasan. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan, Universitas Tidar sebagai satu-satunya perguruan tinggi negeri baru yang berada di kota Magelang telah memiliki 34 jurnal ilmiah yang ditujukan untuk memfasilitasi civitas akademika Universitas Tidar khususnya dalam melakukan publikasi ilmiah. Dari 34 jurnal tersebut 11 di antaranya telah terakreditasi dengan rincian 1 jurnal terakreditasi SINTA 2, 4 jurnal terakreditasi SINTA 3, 3 jurnal terakreditasi SINTA 4, dan 3 jurnal terakreditasi SINTA 5. Adapun jurnal terakreditasi SINTA 2 yaitu Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia merupakan jurnal yang sebelumnya dikelola oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Sementara itu, 23 jurnal lainnya belum terakreditasi. Berdasarkan observasi lanjutan terdapat pula beberapa jurnal yang akan habis masa berlaku akreditasinya pada tahun 2024 sehingga diperlukan upaya untuk mempersiapkan reakreditasi jurnal secepatnya. Adapun penelitian yang terkait analisis jurnal sebelumnya pernah dilakukan oleh Sudiar dan Latia (2020) yang meneliti mengenai indeksasi jurnal di Universitas Lancang Kuning (Unilak). Penelitian fokus pada menelusuri indeksasi yang telah diperoleh jurnal-jurnal di Universitas Lancang Kuning dengan hasil lembaga pengindeks yang paling banyak dimiliki jurnal Unilak adalah lembaga pengindeks bereputasi rendah yaitu 95,11%, lembaga pengindeks bereputasi sedang 4,89% dan belum memiliki lembaga pengindeks bereputasi tinggi. Penelitian lain oleh Rahmawati (2018) juga melakukan analisis indeksasi jurnal oleh lembaga DOAJ khusus untuk jurnal ilmiah bidang pertanian yang ada di Indonesia. Selanjutnya penelitian oleh Marchitelli et al. (2017) mengkaji hasil dari proses baru dan kemampuan lembaga pengindeks DOAJ untuk meningkatkan kualitas direktori dan keandalan informasi yang terkandung di dalamnya. Alasan dikeluarkannya jurnal dari DOAJ adalah penerbit gagal menyelesaikan aplikasi tepat waktu, telah berhentinya publikasi, masalah etika, bukan akses terbuka, dan beberapa alasan lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa jurnal yang dihapus termasuk dalam daftar Beall, jurnal yang diindeks dalam DOAJ termasuk dalam Scopus atau JCR. Analisis ini menunjukkan bahwa, adanya peningkatan yang nyata dari indeks jurnal yang diindeks dalam DOAJ berkat kriteria penerimaan yang baru, untuk proses penyaringan dan pengelompokannya. Penelitian senada mengenai pengelolan jurnal dilakukan Junandi (2018) mengenai pengelolaan jurnal elektronika bidang perpustakaan menuju jurnal terakreditasi. Hasil penelitian ini mendeskripsikan bagaimana pengelolaan jurnal ilmiah dalam rangka mencapai jurnal ilmiah terakreditasi nasional memerlukan sistem manajemen dan pengelolaan jurnal yang efektif sesuai dengan instrumen dan kriteria yang disyaratkan oleh akreditasi jurnal nasional dan lembaga pengindeks internasional. Pengelola Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi telah menerapkan sebagian besar instrumen dan kriteria yang ditetapkan sesuai Peraturan Direktur Jenderal Dikti Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah sehingga berhasil lolos meraih status akreditasi sebagai jurnal bidang ilmu perpustakaan terakreditasi yang pertama kali di Indonesia. Beberapa penelitian terdahulu yang telah dipaparkan lebih berfokus dalam mengkaji indeksasi jurnal dan akreditasi pada jenis jurnal tertentu. Kebaruan dalam penelitian ini yaitu mencoba melakukan langkah awal dengan melakukan analisis terhadap kesiapan seluruh jurnal yang ada di Universitas Tidar untuk menuju jurnal bereputasi nasional terakreditasi SINTA. Analisis yang dilakukan akan mengacu pada instrumen dan kriteria yang dipersyaratkan oleh sistem akreditasi jurnal nasional (ARJUNA). Hasil dari penelitian ini akan membantu pengelola jurnal untuk mendapatkan informasi awal mengenai kesiapan jurnalnya untuk terakreditasi serta diharapkan dapat menjadi masukan bagi pimpinan dalam menentukan kebijakan maupun upaya-upaya yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas jurnal di lingkungan Universitas Tidar.

Method

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode kepustakaan. penelitian kepustakaan merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi dan data melalui berbagai literatur seperti buku referensi, hasilhasil penelitian sejenis, catatan, artikel, dan berbagai jurnal yang berkaitan dengan masalah yang diteliti (Sari dan Asmendri, 2020). Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan penelusuran secara online melalui laman website Open Journal System universitas tidar yaitu https://jurnal.untidar.ac.id/ (untuk sistem OJS 2) dan https://journal.untidar.ac.id/ (untuk sistem OJS 3). Penelusuran dilakukan dengan menelaah masing-masing website jurnal. Adapun jurnal yang akan dianalisis dalam penelitian ini difokuskan pada jurnal-jurnal yang belum terakreditasi untuk melihat kesiapannya menuju terakreditasi. Hasil pengumpulan informasi selanjutnya dianalisis menggunakan metode analisis isi (content analysis) untuk memperoleh informasi kesiapan jurnal sesuai dengan kriteria pedoman akreditasi jurnal ilmiah yang meliputi aspek kesiapan administrasi dan manajemen. Berikut adalah diagram alir penelitian. Gambar 1. Diagram Alir Penelitian (Sumber: Olah data penulis, 2024)

Result & Discussion

Perilaku informasi merujuk pada bagaimana individu mencari, menggunakan, dan menyebarkan informasi dalam berbagai konteks. Dalam penggunaan media sosial, perilaku informasi Gen-Z dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti motivasi pribadi, norma sosial, dan teknologi yang digunakan (Hadiapurwa et al., 2023). Teori Penggunaan dan Kepuasan (Uses and Gratifications Theory) menjelaskan bahwa individu secara aktif memilih media dan konten yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka, seperti mencari informasi, berinteraksi dengan teman, atau hiburan (Sundar & Limperos, 2013). Perilaku informasi Gen-Z di media sosial sangat beragam dan kompleks, mencerminkan kebutuhan mereka akan hiburan, validasi sosial, dan pengetahuan. Disinformasi, atau informasi yang salah yang disebarkan dengan sengaja untuk menipu, memiliki dampak yang signifikan terhadap perilaku informasi individu dan masyarakat. Teori Aksi Rasional (Theory of Reasoned Action) dapat digunakan untuk memahami bagaimana sikap dan norma sosial mempengaruhi niat dan perilaku individu terkait dengan disinformasi. Sikap terhadap verifikasi informasi dan norma sosial yang mendukung perilaku kritis terhadap informasi dapat menentukan bagaimana Gen-Z merespons disinformasi (Hassoun et al., 2023b). Jika sikap terhadap verifikasi informasi positif dan ada dukungan sosial untuk praktik tersebut, Gen-Z lebih mungkin untuk terlibat dalam perilaku yang melawan disinformasi. Oleh karena itu, literasi informasi yang ditingkatkan dan kampanye kesadaran sosial dapat menjadi strategi efektif untuk melawan disinformasi, dengan mendorong sikap yang positif terhadap verifikasi informasi dan membentuk norma sosial yang mendukung perilaku kritis terhadap informasi. Literasi Informasi Literasi informasi melibatkan kemampuan mengidentifikasi kebutuhan informasi. Individu yang memiliki literasi informasi yang baik mampu merumuskan pertanyaan dan tujuan informasional secara jelas, sehingga dapat memandu mereka dalam pencarian informasi yang relevan. Hal ini diperkuat oleh Jones-Jang et al. (2021) yang menekankan pentingnya literasi informasi dalam proses pencarian dan identifikasi sumber informasi yang dapat dipercaya. Selain itu, literasi informasi melibatkan keterampilan dalam mengakses dan mengelola sumber informasi (Fernández-Ramos, 2019; Tejedor et al., 2020). Hal tersebut mencakup pemahaman terhadap berbagai jenis sumber, termasuk literatur akademis, media massa, dan sumber informasi digital. Dalam kerangka teoritis, literasi informasi membantu individu mengembangkan keterampilan navigasi yang efektif dalam mengakses informasi dari berbagai platform, serta kemampuan untuk menyusun dan mengorganisir informasi yang ditemukan. Keberadaan evaluasi kritis terhadap informasi menjadi elemen penting dalam literasi informasi. Individu yang literat secara informasional mampu mengevaluasi keandalan dan relevansi sumber informasi, serta mengidentifikasi potensi bias atau manipulasi (Ripoll & Matos, 2020; Vamanu & Zak, 2022). Literasi informasi relevan dalam membentuk pemikiran kritis dan kemampuan individu untuk menyaring informasi yang benar-benar bermanfaat. Selain hal tersebut, Molloy et al. (2020) berpendapat bahwa literasi informasi juga mencakup kemampuan untuk menggunakan informasi secara efektif. Literasi informasi menekankan bahwa literasi informasi tidak hanya bersifat pasif dalam mengonsumsi informasi, tetapi juga aktif dalam menerapkan informasi tersebut untuk memecahkan masalah, mengambil keputusan, atau mengkomunikasikan ide dengan jelas. Literasi informasi berkaitan erat dengan literasi media. Literasi media memperluas cakupan literasi informasi dengan menekankan pemahaman terhadap media massa, termasuk analisis terhadap pesan visual dan auditif (Cooke, 2021; Garcia et al., 2021). Ini mencerminkan bagaimana literasi informasi dihubungkan dengan kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan merespons informasi yang disajikan melalui berbagai saluran komunikasi. literasi informasi tidak hanya bersifat individual, tetapi juga bersifat sosial. Keberadaan literasi informasi sosial menggambarkan bagaimana individu dapat berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat, berkontribusi dalam pertukaran informasi, dan mengenali peran literasi informasi dalam pembentukan opini publik (De Paor & Heravi, 2020). Literasi informasi memainkan peran kritis dalam mengatasi tantangan informasi palsu atau disinformasi di era digital ini. Dengan eksponensialnya jumlah informasi yang tersedia di internet dan media sosial, kemampuan untuk memilah, mengevaluasi, dan menyaring informasi menjadi lebih penting daripada sebelumnya (Camacho et al., 2020). Literasi informasi membekali individu dengan keterampilan pemikiran kritis dan kehati-hatian yang diperlukan untuk mengenali dan menghindari penyebaran informasi yang tidak benar. Melalui literasi informasi, individu dapat mengembangkan kemampuan untuk menilai keandalan sumber informasi, mengidentifikasi potensi bias, dan mengukur akurasi suatu berita. Menurut Howell & Brossard (2021) pemahaman yang mendalam tentang cara kerja media, struktur informasi, dan proses editorial dapat membantu individu memahami konteks di balik setiap informasi yang mereka temui. Dengan demikian, literasi informasi bukan hanya tentang memahami bagaimana menggunakan teknologi informasi, tetapi juga tentang membentuk pola pikir kritis yang memungkinkan individu untuk bersikap skeptis dan analitis terhadap informasi yang mereka temui. Keterampilan pemikiran kritis yang diperoleh melalui literasi informasi dapat membantu individu menyusun pertanyaan kritis, mengidentifikasi kelemahan argumen, dan memahami implikasi dari informasi yang mereka hadapi. Dengan demikian, literasi informasi tidak hanya menjadi alat pertahanan terhadap informasi palsu, tetapi juga menjadi landasan untuk partisipasi yang lebih efektif dalam masyarakat informasional (Brisola & Doyle, 2019; Righetto et al., 2021). Individu yang memiliki literasi informasi yang baik dapat berperan aktif dalam mendukung diskursus yang berbasis bukti, mengatasi disinformasi, dan membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang isu-isu kompleks di tengah-tengah masyarakat. Kemampuan Analisis Media Sosial Dalam era di mana informasi tersebar dengan cepat dan melimpah di media sosial, kemampuan analisis media sosial membantu individu dalam mengidentifikasi informasi yang dapat dipercaya dan menghindari penyebaran berita palsu atau disinformasi. Pentingnya kemampuan analisis media sosial juga tercermin dalam studi yang dilakukan oleh Parady et al. (2021), yang menyoroti bahwa media sosial bukan hanya tempat untuk bersosialisasi, tetapi juga merupakan platform untuk membentuk dan memelihara hubungan sosial. Kemampuan untuk menganalisis dengan tepat informasi yang disajikan oleh orang lain di media sosial dapat meningkatkan kualitas interaksi sosial tersebut (Hruska & Maresova, 2020; Walter et al., 2021). Dengan melihat lebih dari sekadar teks atau gambar, individu dapat memahami konteks dan maksud di balik postingan atau komentar, membangun kedekatan yang lebih autentik dan mendalam. Seiring dengan dampak positifnya, penggunaan media sosial juga dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis individu (Widjaya & Komara, 2023). Oleh karena itu, kemampuan analisis media sosial tidak hanya berkaitan dengan pemahaman informasi eksternal, tetapi juga melibatkan kesadaran terhadap dampak yang mungkin timbul dari interaksi di dunia maya terhadap kesejahteraan pribadi. Kemampuan analisis media sosial dapat meningkatkan efektivitas komunikasi secara keseluruhan (Ebrahim, 2020). Individu yang mampu membaca konteks dan nuansa di media sosial dapat menyampaikan pesan mereka dengan lebih tepat, meminimalkan risiko kesalahpahaman, dan membangun koneksi yang lebih mendalam dengan audiens mereka. Kemampuan menganalisis media sosial memungkinkan individu untuk lebih responsif terhadap perubahan opini atau tren, membantu mereka tetap relevan dalam percakapan digital yang terus berubah (Zhao & Zhu, 2023). Keberlanjutan kemampuan analisis media sosial juga dapat memperkaya kehidupan sosial secara lebih luas. Dengan memahami tren, topik, dan isu-isu yang muncul di media sosial, individu dapat lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi publik, memperluas jaringan sosial, dan bahkan berkontribusi pada perubahan sosial positif (Hung et al., 2020; Mavrodieva et al., 2019). Oleh karena itu, kemampuan analisis media sosial bukan hanya menjadi alat individu, tetapi juga menjadi kekuatan yang dapat membentuk dinamika sosial di tingkat yang lebih besar. Kemampuan analisis media sosial dapat berperan dalam mengelola reputasi digital individu. Memahami cara informasi diinterpretasikan dan direspon oleh audiens, Lou et al. (2023) berpendapat individu dapat lebih efektif membentuk citra online yang autentik dan positif. Era di mana identitas digital menjadi semakin penting, kemampuan analisis media sosial dapat menjadi solusi menjaga dan membangun reputasi yang baik di dunia maya. Pentingnya kemampuan analisis media sosial juga terkait dengan keamanan digital. Dalam lingkungan yang dipenuhi dengan ancaman keamanan cyber, individu yang mampu menganalisis tautan, mengenali perilaku phishing, dan memahami risiko keamanan di media sosial memiliki perlindungan tambahan terhadap potensi penipuan atau kebocoran informasi pribadi (Al-Charchafchi et al., 2020; Jain et al., 2021). Melihat ke depan dari perkembangan teknologi, kemampuan analisis media sosial menjadi semakin penting seiring dengan terus berkembangnya teknologi. Sebagai alat yang efektif untuk memahami kompleksitas interaksi sosial dan informasi di era digital, kemampuan analisis media sosial akan tetap relevan. Disinformasi Kerangka teoritis mengenai berita disinformasi, atau yang sering disebut sebagai disinformasi atau disinformasi informasi palsu, memerlukan pemahaman mendalam tentang dinamika, sumber, dampak, dan upaya penanganannya. Berita disinformasi, atau sering disebut juga dengan berita palsu atau disinformasi, merupakan fenomena yang semakin meresahkan di era digital saat ini. Istilah "disinformasi" sendiri berasal dari kata Belanda "hoax" yang berarti tipuan atau kebohongan. Berita disinformasi tidak hanya bersifat menyesatkan, tetapi juga dapat memiliki dampak serius terhadap masyarakat dan institusi (Giglietto et al., 2019; Zannettou et al., 2019b). Keberadaannya telah mencuat seiring dengan perkembangan teknologi dan mudahnya penyebaran informasi melalui platform media sosial. Salah satu ciri utama dari berita disinformasi adalah ketidakakuratan informasi yang disampaikan. Kontennya seringkali tidak didukung oleh fakta yang valid atau bahkan bertentangan dengan kebenaran. Sumber yang tidak terverifikasi dan kurangnya crosschecking menjadi faktor utama yang memungkinkan berita disinformasi untuk menyebar dengan cepat (Lamprou et al., 2021). Hal ini menciptakan lingkungan informasi yang penuh dengan ketidakpastian dan merugikan integritas informasi secara keseluruhan. Berita disinformasi dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari teks hingga gambar, audio, dan video. Kehadiran teknologi manipulatif, seperti deepfake, semakin meningkatkan tingkat kesulitan dalam membedakan antara konten yang asli dan yang dipalsukan (Kietzmann et al., 2020; Tolosana et al., 2020). Hal ini menimbulkan risiko tinggi terhadap penyebaran informasi palsu yang dapat memengaruhi persepsi publik terhadap suatu isu atau individu. Peran media sosial dalam penyebaran berita disinformasi menjadi sangat signifikan. Platformplatform tersebut memfasilitasi penyebaran informasi dengan kecepatan yang luar biasa, terutama karena banyaknya Penelitian ini menghasilkan informasi mengenai jurnal-jurnal yang ada di lingkungan Universitas Tidar. Adapun berdasarkan hasil penelusuran yang peneliti lakukan pada laman website Open Journal System Universitas Tidar yaitu https://jurnal.untidar.ac.id/ dan https://journal.untidar.ac.id/ diperoleh sejumlah 34 jurnal di mana 13 jurnal menggunakan platform OJS 2 dan 21 jurnal telah menggunakan platform OJS 3. Dari 34 jurnal tersebut masih terdapat 23 atau 68% jurnal yang belum terakreditasi yang akan dianalisis dalam penelitian ini. Adapun persyaratan pendaftaran akreditasi jurnal mengacu pada website Arjuna meliputi E-ISSN, ruang lingkup jurnal, terbitan bersifat ilmiah (adanya proses review), minimal dua tahun berturutan, satu tahun minimal 2 nomor, minimal 5 artikel setiap terbitan, DOI, akun google scholar jurnal, dan mendaftar melalui Arjuna. Oleh karena itu data yang diperoleh dalam penelitian ini akan dianalisis menurut ketersediaan E-ISSN, minimal 2 tahun terbitan berurutan, minimal 5 artikel per nomor, DOI, dan indeksasi nasional (memiliki akun google scholar). Data disimbolkan menggunakan pewarnaan yang meliputi warna hijau jika sudah memenuhi, warna merah muda jika sudah ada namun belum lengkap, dan warna biru muda jika belum ada. Tabel 1. Hasil analisis daftar jurnal belum terakreditasi SINTA di Universitas Tidar No. Nama Jurnal Persyaratan Akreditasi E-ISSN Minimal 2 Tahun Terbit Berurutan Minimal 5 Artikel Pernomor DOI Terindeks Google Scholar 1 Journal of Aquaculture Development and Environment (JADE) 2 VIGOR: Jurnal Ilmu Pertanian Tropika dan Subtropika 3 Journal of Livestock Science and Production (JaLSPro) 4 Journal of Junior Agricultural Science (JASS) 5 Journal of March "Management Research" Hanya 1 terbitan per tahun terakhir 2022 6 DINAMIC: Directory Journal of Economic 7 J.A.A.P (Jurnal Akuntansi, Auditing, dan Perpajakan) 8 Lontar Merah 9 Jurnal Mozaik Komunikasi 10 JMAN (Jurnal Mahasiswa Administrasi Negara) 11 NECTAR : Jurnal Pendidikan Biologi 12 Journal of Research on Applied Linguistics, Language, and Language Teaching Edisi 2022 masih kurang satu nomor, Edisi 2023 sudah lengkap 2 nomor 13 THETA OMEGA: Journal of Electrical Engineering, Computer, and Information Technology 14 Journal of Mechanical Engineering 15 Jurnal Rekayasa Infrastruktur Sipil 16 Jurnal Teknik Mesin MERC No. Nama Jurnal Persyaratan Akreditasi E-ISSN Minimal 2 Tahun Terbit Berurutan Minimal 5 Artikel Pernomor DOI Terindeks Google Scholar (Mechanical Engineering Research Collection) 17 Journal of Community Service in Public Education (CSPE) 18 ABDIPRAJA (Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat) 19 Jurnal Pengabdian Masyarakat (KASTARA) 20 Jurnal RAK (Riset Akuntansi Keuangan) 21 Indonesian Journal of Mathematics Education 22 Literasi Hukum 23 Indonesian Journal of Biology Education Sumber: website OJS Universitas Tidar Dari 23 jurnal yang belum terakreditasi terdapat 2 jurnal yang belum memiliki E-ISSN yaitu Journal of Junior Agricultural Science (JASS) dan Jurnal Mozaik Komunikasi. Syarat jurnal terakreditasi yaitu minimal terbitan 2 tahun berturut-turut. Terdapat 1 jurnal yang belum terbit 2 tahun berturut-turut yaitu Jurnal Teknik Mesin MERC (Mechanical Engineering Research Collection). Dari 23 jurnal yang belum terakreditasi terdapat 11 jurnal yang belum lengkap nomor terbitannya. Syarat jurnal terakreditasi adalah jumlah artikel harus minimal 5 per terbitan per nomor. Di Universitas Tidar terdapat 1 jurnal yang belum memiliki 5 artikel per terbitan yaitu Jurnal Teknik Mesin MERC (Mechanical Engineering Research Collection). Terdapat 8 jurnal yang belum memiliki Digital Object Identifier (DOI). Jurnal yang belum memiliki DOI adalah Journal of Junior Agricultural Science (JASS), Journal of March "Management Research”, J.A.A.P (Jurnal Akuntansi, Auditing, dan Perpajakan), Lontar Merah, Jurnal Mozaik Komunikasi, JMAN (Jurnal Mahasiswa Administrasi Negara), Jurnal Teknik Mesin MERC (Mechanical Engineering Research Collection) dan Jurnal Pengabdian Masyarakat (KASTARA). Sementara itu terdapat 12 jurnal yang belum terindeks google scholar. Sebagian besar jurnal di Universitas Tidar yaitu 63,16% belum terindeks google scholar. Selanjutnya, peneliti juga melakukan evaluasi berdasarkan tata kelola jurnal elektronik yang mengacu pada Peraturan Menteri Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2018 Tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah. Evaluasi tata kelola jurnal elektronik difokuskan pada penamaan/perubahan/history, focus & scope, kelembagaan penerbit, mitra bestari, dewan editor, author guidelines (memiliki contoh formatted template), jadwal penerbitan teratur, dan indeksasi. Hasil analisis terhadap 23 jurnal tersebut berdasarkan penelusuran di website OJS Universitas Tidar dijelaskan sebagai berikut. 1. Journal of Aquaculture Development and Environment (JADE) Website jurnal telah memiliki menu penamaan/perubahan/history, focus & scope, kelembagaan penerbit, mitra bestari, dewan editor, author guidelines (memiliki contoh formatted template), jadwal penerbitan teratur, dan indeksasi yaitu google scholar, garuda, dan dimensions. 2. VIGOR: Jurnal Ilmu Pertanian Tropika dan Subtropika Website jurnal telah memiliki menu penamaan/perubahan/history, focus & scope, kelembagaan penerbit, mitra bestari, dewan editor, author guidelines (memiliki contoh formatted template), jadwal penerbitan teratur, dan indeksasi. Namun ditemukan bahwa pada dewan editor hanya terdiri dari editor in chief 1 orang, editor 1 orang, dan secretariat 1 orang. Pada author guidelines, format template tidak dapat diakses. Sedangkan untuk indeksasi baru pada google scholar dan garuda. 3. Journal of Livestock Science and Production (JaLSPro) Website jurnal telah memiliki menu penamaan/perubahan/history, focus & scope, kelembagaan penerbit, mitra bestari, dewan editor, author guidelines (memiliki contoh formatted template), jadwal penerbitan teratur, dan indeksasi yaitu google scholar, garuda, dan dimensions. 4. Journal of Junior Agricultural Science (JASS) Pada website jurnal ditemukan bahwa (1) focus & scope terlalu umum dengan menu yang tidak ditampilkan di sidebar; (2) kelembagaan penerbit sudah ada namun kurang informatif; (3) menu mitra bestari tidak ditampilkan di sidebar; (4) menu author guidelines tidak ditampilkan di sidebar dan tidak memiliki formatted template; (5) pada jadwal penerbitan banyak issue yang tidak lengkap; (6) tidak terdapat indeksasi. 5. Journal of March "Management Research" Pada website jurnal ditemukan: (1) menu focus & scope tidak ditampilkan di sidebar; (2) kelembagaan penerbit ada, namun kurang informatif; (3) menu mitra bestari tidak ditampilkan di sidebar; (4) menu author guidelines tidak ditampilkan di sidebar dan tidak memiliki formatted template; (5) hanya terdapat 1 terbitan per tahun; (6) baru terindeks pada google scholar saja. 6. DINAMIC: Directory Journal of Economic Pada website jurnal ditemukan: (1) menu focus & scope tidak ditampilkan di sidebar; (2) kelembagaan penerbit ada, namun kurang informatif; (3) menu mitra bestari tidak ditampilkan di sidebar; (4) menu author guidelines tidak ditampilkan di sidebar dan tidak memiliki formatted template; (5) terbitan terakhir tahun 2021; (6) terindeks pada google scholar, neliti, BASE, garuda, dan ROAD. 7. J.A.A.P (Jurnal Akuntansi, Auditing, dan Perpajakan) Pada website jurnal ditemukan: (1) menu mitra bestari tidak ditampilkan di sidebar, jumlah reviewer hanya 2 dan belum ada keterangan afiliasi; (2) menu dewan editor tidak dimapilkan di sidebar; (3) tidak ada menu author guidelines dan tidak memiliki formatted template; (4) terbitan terakhir tahun 2021; (5) tidak terdapat terindeks. 8. Lontar Merah Pada website jurnal ditemukan: (1) menu focus & scope, mitra bestari, dewan editor, dan author guidelines tidak ditampilkan di sidebar; (2) tidak ada nama dewan editor yang dicantumkan; (3) pada author guidelines formatted template tidak dapat diakses; (4) terindeks pada google scholar, Indonesia one search, dan garuda. 9. Jurnal Mozaik Komunikasi Pada website jurnal ditemukan (1) menu focus & scope tidak ditampilkan di sidebar (2) kelembagaan penerbit ada, namun kurang lengkap; (3) menu mitra bestari tidak ditampilkan di sidebar; (4) menu dewan editor tidak ada dan menu tidak ditampilkan di sidebar; (5) menu author guidelines tidak ditampilkan di sidebar dan template tidak dapat diakses; (6) tidak ditemukan indeksasi. 10. JMAN (Jurnal Mahasiswa Administrasi Negara) Pada website jurnal ditemukan (1) menu focus & scope tidak ditampilkan di sidebar (2) kelembagaan penerbit ada, namun kurang lengkap; (3) menu mitra bestari tidak ditampilkan di sidebar; (4) menu dewan editor tidak ditampilkan di sidebar; (5) tidak terdapat template author guidelines; (6) tidak terdapat indeksasi. 11. NECTAR: Jurnal Pendidikan Biologi Pada website jurnal ditemukan (1) menu focus & scope tidak ditampilkan di sidebar (2) menu mitra bestari tidak ditampilkan di sidebar; (3) menu dewan editor tidak ditampilkan di sidebar; (4) tidak terdapat template author guidelines; (5) indeksasi google scholar. 12. Journal of Research on Applied Linguistics, Language, and Language Teaching Pada website jurnal ditemukan (1) menu focus & scope tidak ditampilkan di sidebar (2) menu mitra bestari tidak ditampilkan di sidebar; (3) jadwal penerbitan pada tahun 2022 hanya 1 dan tahun 2023 2 terbitan; (4) indeksasi google scholar dan garuda. 13. THETA OMEGA: Journal of Electrical Engineering, Computer, and Information Technology Pada website jurnal ditemukan bahwa tidak ada indexing yang ditampilkan pada website. 14. Journal of Mechanical Engineering Pada website jurnal ditemukan bahwa tidak ada formatted template pada author guidelines dan terindeks garuda dan dimensions. 15. Jurnal Rekayasa Infrastruktur Sipil Pada website jurnal ditemukan bahwa tidak ada indexing yang ditampilkan pada website. 16. Jurnal Teknik Mesin MERC (Mechanical Engineering Research Collection) Pada website jurnal ditemukan (1) menu focus & scope tidak ditampilkan di sidebar (2) menu mitra bestari tidak ditampilkan di sidebar; (3) penulisan nama-nama editor perlu diperbaiki; (4) tidak terdapat template author guidelines; dan (5) tidak ada indexing yang ditampilkan di website. 17. Journal of Community Service in Public Education (CSPE) Pada website jurnal ditemukan bahwa tidak ada indexing yang ditampilkan pada website. 18. ABDIPRAJA (Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat) Pada website jurnal ditemukan bahwa kelembagaan penerbit ada, namun kurang informatif, serta indeksasi pada google scholar, dimensions, dan garuda. 19. Jurnal Pengabdian Masyarakat (KASTARA) Pada website jurnal ditemukan bahwa tidak ada indexing yang ditampilkan pada website. 20. Jurnal RAK (Riset Akuntansi Keuangan) Terindeks pada google scholar, garuda, dan dimensions. 21. Indonesian Journal of Mathematics Education Terindeks google scholar, garuda, crossref, dan dimensions. 22. Literasi Hukum Baru terindeks pada google scholar dan garuda, 23. Indonesian Journal of Biology Education Terindeks pada google scholar, garuda, crossref, dimensions, harus segera mengajukan reakreditasi jurnal. Berdasarkan analisis yang dilakukan, terdapat beberapa jurnal yang sangat berpotensi untuk segera diajukan akreditasi. Jurnal-jurnal ini tidak memiliki kendala dalam tata kelola jurnal atau hanya memiliki 1 atau 2 kekurangan dalam tata kelola jurnal sehingga berpotensi untuk mengajukan akreditasi jurnal. Jurnal-jurnal tersebut adalah Journal of Aquaculture Development and Environment (JADE), Journal of Livestock Science and Production (JaLSPro), THETA OMEGA: Journal of Electrical Engineering, Computer, and Information Technology, Jurnal Rekayasa Infrastruktur Sipil, ABDIPRAJA (Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat) dan Jurnal Pengabdian Masyarakat (KASTARA). Sementara itu untuk Jurnal RAK (Riset Akuntansi Keuangan), Indonesian Journal of Mathematics Education, Literasi Hukum, dan Indonesian Journal of Biology Education merupakan jurnal yang sebelumnya telah terakreditasi dan berakhir masa akreditasi pada 2023 namun mengalami keterlambatan pengajuan reakreditasi. Oleh karena itu perlu upaya untuk mempercepat pengajuan proses akreditasi bagi jurnal-jurnal yang telah memenuhi syarat. Upaya dapat dilakukan dengan memberikan pendampingan terkait syarat yang belum dilengkapi serta pendampingan dalam mengisi borang isian sistem akreditasi jurnal nasional (ARJUNA). Hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas jurnal yang ada di lingkungan Universitas Tidar. Sementara itu, peneliti juga melakukan wawancara terhadap beberapa pengelola jurnal untuk mengetahui kendala atau hambatan yang dialami dalam mengelola jurnal. Responden 1 yang merupakan pengelola jurnal terkareditasi Sinta 4 menyatakan bahwa dirinya mengalami kesulitan dalam menjalankan pengelolaan jurnal dikarenakan masih kurangnya pengetahuan mengenai teknis pengaturan OJS utamanya dalam hal pengaturan tampilan. Apalagi dari sebelumnya menggunakan OJS 2 kemudian menjadi OJS 3 perlu menyesuaikan terhadap pengaturan yang baru. Selain itu kurangnya SDM dimana pengelola juga merupakan seorang dosen dengan berbagai tanggung jawab menyebabkan pengelolaan kurang maksimal. Dukungan dana juga diperlukan khususnya demi kelancaran proses review dan editing jurnal. Responden menyatakan perlu adanya pendampingan bagi pengelola jurnal baik dalam hal manajemen (tata kelola) jurnal maupun dalam hal substantif. Perlu ada pendamping yang siap sedia dan dapat dijadikan sebagai tempat bertanya apabila pengelola mengalami kesulitan, yang dapat mendampingi sehingga kesulitan tersebut dapat teratasi. Responden selanjutnya yaitu pengelola jurnal terakreditasi Sinta 3 menyatakan dirinya juga mengalami kendala dalam pengaturan tampilan website jurnal di sistem OJS 3. Responden yang juga seorang dosen menyatakan bahwa dirinya juga kesulitan meluangkan waktu untuk mengelola jurnal karena SDM/sangat kurangnya SDM yang membantu dalam pengelolaan jurnal. Dukungan dana juga diperlukan demi kelancaran proses review, editing, dan penerbitan jurnal. Saat ini dana yang ada yang bersumber dari Fakultas belum mencukupi untuk membiayai pengelolaan secara keseluruhan. Perlu diketahui juga bahwa mayoritas jurnal di lingkungan Universitas Tidar tidak menarik Article Processing Fee (APC) sehingga dana pengelolaan hanya bersumber dari internal perguruan tinggi. Selanjutnya juga terdapat masalah mengenai kualitas artikel untuk menuju peringkat akreditasi yang lebih tinggi. Hal ini tentu juga harus menjadi perhatian apabila ingin meraih peringkat akreditasi yang lebih tinggi. Selanjutnya untuk indexing jurnal, dari pendataan yang dilakukan dapat dilihat bahwa belum semua jurnal terindeks di lembaga pengindeks jurnal nasional dan/bereputasi. Mayoritas jurnal baru terindeks pada pengindeks jurnal bereputasi rendah seperti google scholar. Rahmatulloh dan Gunawan (2020) menyebutkan bahwa google scholar menyediakan fitur pembuatan profil untuk setiap peneliti, pakar atau dosen. Setiap artikel ilmiah yang telah diterbitkan pada jurnal online, hanya memerlukan waktu yang singkat untuk dapat terindeks oleh google scholar. Sehingga tidak sulit bagi pengelola jurnal untuk mengatur indeksasi jurnalnya di google scholar. Cukup dengan membuat profil jurnal di google scholar agar dapat menganalisis sitasi jurnal. Selanjutnya, dari hasil analisis yang dilakukan juga diperoleh informasi bahwa belum ada jurnal yang terindeks pada pengindeks jurnal bereputasi tinggi seperti Web of Science (Thomson Reuters) dan Scopus (Elsevier). Untuk jurnal terindeks DOAJ baru dua jurnal saja. Hasil penelitian Muriyatmoko (2019) menemukan bahwa DOAJ tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah sitasi jurnal. Namun demikian, DOAJ menjadi salah satu lembaga pengindeks bereputasi sedang berdasarkan sistem akreditasi jurnal nasional, sehingga masih harus menjadi perhatian bagi para pengelola jurnal untuk dapat meningkatkan indeksasi DOAJ. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Sudiar dan Latiar (2020) yang melaporkan indeksasi paling banyak yang dimiliki oleh jurnal-jurnal di Universitas Lancang Kuning adalah lembaga pengindeks bereputasi rendah yaitu 95,11%, lembaga pengindeks bereputasi sedang 4,89% dan belum memiliki lembaga pengindeks bereputasi tinggi. Dengan demikian hasil temuan ini dapat ditindaklanjuti oleh Universitas Tidar dengan upaya peningkatan peringkat akreditasi jurnal melalui pengadaan lokakarya akselerasi peringkat akreditasi jurnal dan pendampingan proses pengajuan akreditasi jurnal di sistem akreditasi jurnal nasional (Arjuna).

Conclusion

Jurnal-jurnal yang belum terakreditasi di lingkungan Universitas Tidar berpotensi didorong untuk melakukan akreditasi. Jurnal-jurnal tersebut sudah memiliki syarat untuk diakreditasi atau hanya memiliki 1-2 syarat akreditasi yang belum terpenuhi. Jurnal-jurnal tersebut adalah Journal of Aquaculture Development and Environment (JADE), Journal of Livestock Science and Production (JaLSPro), THETA OMEGA: Journal of Electrical Engineering, Computer, and Information Technology, Jurnal Rekayasa Infrastruktur Sipil, ABDIPRAJA (Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat) dan Jurnal Pengabdian Masyarakat (KASTARA). Berdasarkan hasil penelitian ini diperlukan upaya dari institusi untuk memberikan pendampingan pengelolaan jurnal dan dorongan kepada jurnal-jurnal yang berpotensi agar segera terkreditasi. Langkah yang dapat dilakukan antara lain melalui pengadaan lokakarya di lingkungan Universitas Tidar atau dengan memfasilitasi pengelola jurnal untuk mengikuti bootcamp akselerasi akreditasi jurnal. Di masa depan perlu diinisasi pembentukan pusat layanan jurnal yang dapat berperan dalam memberikan pendampingan kepada pengelola jurnal secara internal.