SELEKSI BAHAN PUSTAKA DALAM PENGEMBANGAN KOLEKSI DI PERPUSTAKAAN AKPER KARYA BAKTI HUSADA YOGYAKARTA.pdf
Akper Karya Bakti Husada Yogyakarta
Abstrak
Penelitian ini membahas tentang seleksi bahan pustaka dalam pengembangan koleksi di perpustakaan Akper Karya Bakti Husada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses seleksi bahan pustaka dalam pengembangan koleksi di Perpustakaan Akper Karya Bakti Husada. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah seleksi bahan pustaka di Perpustakaan Akper Karya Bakti Husada dilakukan dengan mendaftar usulan dari mahasiswa dan dosen.
Abstract
This research discuss about material library selection of collection development in Akper Karya Bakti Husada library. This research aims to know how the material library selection have been processed in Akper Karya Bakti Husada library. Methode that used in this research has result that material library selection in Akper Karya Bakti Husada library do taking down student and lectures suggestion
Keywords:
collection
· collection selection
· collection development
Introduction
A. Latar Belakang Perpustakaan merupakan suatu lembaga yang menyediakan kebutuhan pengguna dengan menyediakan koleksi-koleksi. Artinya, perpustakaan merupakan salah satu lembaga di mana lembaga tersebut mempertemukan antara pencari informasi dengan penulis informasi melalui karya yang ditulisnya. Untuk itu perpustakaan diharapkan selalu update dalam mengembangkan koleksi. Pengembangan koleksi merupakan aktivitas yang terdapat di perpustakaan guna untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Jika tidak ada pengembangan koleksi dari suatu perpustakaan, maka perpustakaan tersebut bisa jadi tidak dapat melayani penggunanya dengan baik sehingga tidak dapat memberi kepuasan kepada pengguna karena kebutuhan pengguna kurang terpenuhi secara maksimal. Pengembangan koleksi yaitu suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan pengguna dengan meningkatkan kualitas layanan perpustakaan pada penyediaan bahan perpustakaan khususnya. Pengembangan koleksi merupakan pemilihan buku untuk perpustakaan. Pemilihan buku berarti memilih buku yang tidak layak untuk perpustakaan. Kebutuhan pengguna yang dimaksud meliputi kesesuaian terhadap sebuah koleksi yang diharapkan oleh pengguna. Suatu layanan perpustakaan dapat dinilai baik dan tidaknya dilihat dari kualitas koleksi yang dimilikinya. Di mana koleksi tersebut sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan pengguna perpustakaan. Maka dari itu pemilihan koleksi perpustakaan akan menentukan kegiatan yang ada di perpustakaan. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan koleksi di perpustakaan sangat penting guna untuk meningkatkan layanan suatu perpustakaan. Selain itu, pengembangan koleksi juga untuk meningkatkan koleksi sesuai dengan kebutuhan pengguna agar perpustakaan dapat didayagunakan secara optimal. Pengembangan koleksi tidak lepas dari proses seleksi. Seleksi koleksi dilakukan guna untuk memilih bahan pustaka mana yang akan dijadikan sebagai koleksi perpustkaan. Seleksi merupakan proses mengidentifikasi suatu bahan pustaka yang akan ditambahkan pada koleksi yang telah ada di perpustakaan, dan merupakan kegiatan inti dalam pengelolaan koleksi. Struktur organisasi di setiap perpustakaan berbeda-beda, tergantung tipe perpustakaan untuk menentukan ketentuan tentang bagaimana melakukan seleksi dan siapa yang berhak melakukan seleksi. Perpustakaan Akper Karya Bakti Husada misalnya, perpustakaan ini merupakan perpustakaan perguruan tinggi yang bersifat khusus, karena lembaga pendidikan ini hanya memiliki satu prodi saja yaitu keperawatan. Namun walaupun hanya memiliki satu prodi saja, bukan hal mudah dalam melakukan seleksi untuk pengembangan koleksinya. Apalagi belum terdapat kebijakan tertulis dalam pengembangan koleksi. Pustakawan yang bertugas harus benar-benar memikirkan apa saja yang menjadi kebutuhan pengguna. Banyak kasus yang sering terjadi di perpustakaan seperti koleksi yang tersedia kurang memenuhi kebutuhan penggunanya, atau koleksi yang dibutuhkan hanya sedikit dibanding koleksi pendukungnya. Hal ini bisa terjadi karena proses seleksi yang kurang maksimal. Pustakawan tidak dapat memperhatikan betul apa saja yang menjadi kebutuhan pengguna. Untuk perpustakaan Akper Karya Bakti Husada, selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk pengguna. Proses seleksinya pun dengan melakukan berbagai cara agar bahan pustaka yang akan dijadikan koleksi benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna. Meskipun begitu, seleksi yang dilakukan tidak selalu sesuai dengan prosedur yang ada. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana proses seleksi untuk pengembangan koleksi yang terdapat di perpustakaan Akper Karya Bakti Husada? Apakah proses seleksinya sudah sesuai dengan prosedur seleksi? C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses seleksi di perpustakaan Akper Karya Bakti Husada, sehingga koleksinya dapat memenuhi kebutuhan pengguna dan untuk mengetahui apakah sudah sesuai atau belum.
Result & Discussion
A. Pengembangan Koleksi Pengembangan koleksi merupakan serangkaian proses atau kegiatan seperti menyusun kebijakan pengembangan koleksi, pemilihan, pengadaan, pemeliharaan dan promosi, serta penyiangan dan evaluasi pendayagunaan koleksi dengan tujuan untuk mempertemukan pengguna dengan sumbersumber informasi yang ada di perpustakaan. Pengembangan koleksi meliputi kegiatan memilih dan kegiatan dalam mengadakan bahan pustaka di mana kegiatan tersebut sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh pustakawan bersama dengan civitas academica. Arti lain dari pengembangan koleksi adalah proses untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan informasi untuk pengguna perpustakaan dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi yang ada secara tepat waktu dan tepat guna di mana pengetahuan dan kemampuan pustakawan diperlukan dalam melakukan seleksi. Pengembangan koleksi menurut UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan merupakan upaya peningkatan sumber daya, pelayanan, dan pengelolaan perpustakaan, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Di mana pengembangan koleksi dilakukan berdasarkan karakteristik, fungsi dan tujuan, serta dilakukan sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Pengembangan koleksi merupakan peran penting dalam kegiatan perpustakaan untuk memenuhi keberhasilan program pendidikan keterampilan/ kecakapan yang dianalisis sesuai dengan kebutuhan sehingga perpustakaan sebagai input pendidikan dapat memfasilitasi institusinya. Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan koleksi dilakukan untuk membangun koleksi yang kuat demi kepentingan pengguna perpustakaan. Di mana pengembangan koleksi tersebut harus sesuai dengan kebutuhan pengguna perpustakaan yang harus memperhatikan kebijakan untuk pengembangan, sehingga dapat mendukung keberhasilan sebuah perpustakaan dalam memfasilitasi institusinya. B. Seleksi Bahan Pustaka Seleksi bahan pustaka merupakan suatu proses untuk mengidentifikasi bahan pustaka yang akan ditambahkan ke dalam koleksi yang ada di suatu perpustakaan, dan merupakan hal penting yang harus dilakukan, karena hal ini menyangkut dengan mutu suatu perpustakaan. Apabila perpustakaan tidak dapat menyeleksi bahan pustaka dengan baik atau tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna perpustakaan tersebut, maka koleksi tersebut kurang bermakna bagi pengguna. Sebaliknya, jika perpustakaan menyeleksi koleksi dengan baik sesuai dengan kebutuhan pengguna, maka pengguna akan memanfaatkan koleksi dengan baik dan sesuai dengan harapan. Peran utama perpustakaan sebagai pendidik yaitu bertanggung jawab hanya untuk memberikan bahan berkualitas tinggi, dengan kualitas yang didefinisikan oleh pustakawan. Menurut McColvin, dalam seleksi buku yaitu (1) informasi harus seakurat mungkin, (2) buku harus lengkap dan seimbang, sesuai dengan subjek dan cakupan, (3) pengarang harus membedakan antara fakta dan opini, (4) kemutakhiran informasi merupakan faktor penentu, (5) gaya penulisan dan pengulasan subjek harus sesuai dengan kebutuhan pemakai, (6) utamakan buku yang mencerminkan nilainilai budaya negara asal, (7) ciri fisik buku pada umumnya kurang penting, kecuali jika ada dua buku dengan isi serupa. Jika ini terjadi, maka faktor-faktor seperti huruf, ilustrasi, penjilidan, kertas, indeks, bibliografi, dan lain sebagainya, dapat dijadikan sebagai alat bantu untuk pengambilan keputusan. Oleh karena itu, setiap bahan pustaka hendaknya dipilih secara cermat, sesuai dengan kebutuhan pengguna perpustakaan itu sendiri. Pemilihan bahan pustaka atau seleksi ditujukan untuk mengembangkan koleksi perpustakaan yang sesuai dengan perpustakaan tersebut, sehingga dapat melayani kebutuhan pengguna sesuai dengan perkembangan zaman tanpa adanya perubahan yang mendasar. Tugas utama dari seleksi bahan pustaka pada setiap perpustakaan yaitu membangun koleksi yang kuat demi kepentingan pengguna perpustakaan. Kualitas jasa yang diberikan serta kepuasan pengguna banyak bergantung pada tersedianya koleksi perpustakaan. Staf perpustakaan tidak akan berdaya bila koleksi yang tersedia tidak mendukungnya. Koleksi yang tersedia dikembangkan dengan prosedur pemilihan yang terencana. Dari pemilihan bahan pustaka inilah perpustakaan akan mampu memberikan pelayanan terbaiknya untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Di mana dari kebutuhan pengguna yang terpenuhi tersebut akan menjadikan keberhasilan bagi perpustakaan sebagai sumber informasi. Namun dalam memilih bahan pustaka, pustakawan harus memenuhi kecakapan seperti, menguasai sarana bibliografi yang tersedia dan memahami seluk beluk yang berkaitan dengan dunia penerbitan, mengetahui latar belakang para pengguna perpustakaan dengan memahami kebutuhkan pengguna, mencerminkan sifat netral, mengetahui secara lebih mendalam koleksi perpustakaan, serta menguasai teknik membaca dan menganalisis bacaan dengan baik. Walapun pustakawan diharapkan dapat memenuhi kecakapan di atas, tidak semua pustakawan yakin dapat memilih bahan pustaka yang baik, benar dan bagus atau identifikasi primer yang akan mengarahkan pembaca ke level yang lebih tinggi. Maka dari itu, lebih dikhususkan agar pustakawan sebisa mungkin dapat menguasai kecakapan tersebut sesuai dengan bidangnya. Selain koleksi harus sesuai dengan kebutuhan pengguna, perpustakaan juga hendaknya menyediakan koleksi yang besar dalam mengantisipasi kebutuhan pengguna. Menurut Bruce A. Shuman, standar koleksi yang harus dimiliki oleh perpustakaan kirakira 35.000 judul dalam subjek utama. Jumlah koleksi tersebut setidaknya terpenuhi sehingga menjadikan perpustakaan dapat menangani kebutuhan pengguna. Namun, Bruce A juga menyatakan bahwa kualitas koleksi lebih penting daripada jumlah koleksi. Sehingga dapat disimpulkan, besarnya koleksi tersebut belum menunjukkan mutu yang baik dari sebuah perpustakaan apabila kualitas koleksinya kurang maksimal karena koleksi tidak memberi manfaat bagi pengguna. Terdapat tiga pandangan dalam membangun atau menyeleksi koleksi perpustakaan, yaitu pandangan tradisional, liberal, dan pluralistik. Pandangan tradisional mengutamakan nilai intrinsik bahan pustaka. Sehingga kualitas koleksi merupakan sasaran utama dalam pengembangan koleksi. Pandangan liberal menekankan pada popularitas bahan pustaka. Koleksi mana yang banyak disukai dan dibaca, akan masuk dalam pengembangan koleksi. Sedangkan pandangan pluralistik menekankan pada kombinasi antara keduanya, yaitu adanya keseimbangan antara kuantitas dan kualitas dalam memilih koleksi perpustakaan. C. Prinsip dalam Seleksi Bahan Pustaka Diperlukan prinsip dalam menyeleksi bahan pustaka untuk perpustakaan. Prinsip dari seleksi merupakan suatu acuan yang digunakan perpustakaan untuk menambah koleksinya. Prinsip dasar dalam pemilihan koleksi perpustakaan meliputi: 1. Bahan pustaka yang menjadi koleksi perpustakaan hendaknya dipilih dengan cermat, disesuaikan untuk keperluan pengguna dengan mengacu pada skala prioritas yang telah ditetapkan oleh perpustakaan. Dikarenakan jenis perpustakaan yang berbeda-beda dan pengguna yang dilayani pun berbeda setiap jenis perpustakaannya, maka dalam hal ini skala prioritasnya pun berbeda-beda. 2. Pengadaan bahan pustaka harus sesuai dengan peraturan tertulis yang menjadi kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan yang telah disahkan oleh penanggung jawab lembaga perpustakaan. Prinsip lain dalam pemilihan bahan pustaka untuk perpustakaan yaitu dengan minat dan kebutuhan pengguna seperti tujuan, fungsi, dan ruang lingkup perpustakaan, kemajuan pengetahuan, serta pustaka yang memenuhi kualitas persyaratan. Kebutuhan pengguna terhadap koleksi perpustakaan pastinya semakin meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Maka dari itu, perpustakaan harus mengantisipasi dengan memperhatikan sistem pengembangan koleksi dan tidak mengabaikan prinsip-prinsip pengembangan koleksi. Dengan begitu, koleksi perpustakaan akan selalu berada dalam kondisi yang sesuai dengan perkembangan zaman, sesuai dengan kurikulum. Perpustakaan yang menjaga kualitas koleksinya akan memberi dampak positif bagi pelayanan perpustakaan itu sendiri, dan pengguna akan selalu kembali memanfaatkan koleksi perpustakaan yang dapat memenuhi kebutuhannya. Sehingga dalam pemilihan bahan pustaka, hendaknya harus sesuai dengan prinsip tersebut. Untuk itu, bahan pustaka harus dipilih secara cermat berdasarkan skala prioritas, pengarang atau penulis, subjek dan kebijakan tertulis dari perpustakaan itu sendiri. Untuk pelaksanaannya, diperlukan tata cara atau prosedur. Diperlukan pula tata cara atau prosedur ini agar pemilihan bahan pustaka tersebut sesuai dengan kebutuhan pengguna. Tata cara atau prosedur pemilihan bahan pustaka ini meliputi, (1) Pemustaka atau pengguna dapat melakukan sendiri dalam pemilihan bahan pustaka, baik secara inisiatifnya sendiri maupun secara permintaan pustakawan, (2) Pemustaka atau pengguna mengisi daftar usulan yang telah disediakan oleh perpustakaan dengan data bibliografis yang dibuat secara lengkap seperti pengarang, judul, edisi, tahun terbit, penerbit, ISBN (jika ada), jumlah yang dipesan, dan harga satuannya untuk data usulan buku, (3) Daftar usulan tersebut diserahkan kepada pimpinan perpustakaan untuk ditindaklanjuti, (4) Melakukan verifikasi terhadap bahan pustaka yang telah dipilih dengan menggunakan alat bantu seleksi berupa katalog perpustakaan yang sudah ada, dan dilakukan pengecekan terhadap anggaran. Jika anggaran perpustakaan terbatas, kemungkinan usulan yang dipenuhi hanya sebagian saja, selanjutnya usulan yang lain akan dipenuhi pada anggaran tahun berikutnya. D. Alat Bantu dan Petunjuk dalam Seleksi Bahan Pustaka Alat bantu seleksi merupakan petunjuk yang digunakan oleh pustakawan dalam menetukan seleksi. Untuk mendukung proses seleksi bahan pustaka, hendaknya menggunakan alat bantu seleksi, antara lain bibliografi nasional atau internasional, bibliografi subjek khusus dalam berbagai bidang ilmu, katalog penerbit dalam dan luar negeri, iklan dalam majalah, surat kabar, majalah khusus, tinjauan/resensi/ timbangan buku, pangkalan data perpustakaan lain, sumber-sumber lain dari internet. Tinjauan adalah alat bantu seleksi yang paling sering digunakan. Karena pustakawan akan kurang mampu jika melihat sendiri juduljudul baru untuk dievaluasi. Hal ini disebabkan dari banyaknya jumlah buku dan bahan pustaka yang terbit setiap tahunnya sehingga tidak memungkinkan untuk dibaca dan dievaluasi. Jarang perpustakaan yang memiliki spesialis subjek di semua bidang subjek. Dengan tinjauan, perpustakaan memperoleh penilaian dari pakar subjek. Di dalam pemilihan bahan pustaka atau seleksi, terdapat kriteria khusus yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan, yaitu, (1) Judul hendaknya sesuai dengan program lembaga yang bersangkutan, (2) Judul juga disesuaikan dengan tingkatan pengguna, (3) Pengarang sudah sangat terkenal dibidangnya, (4) Isi dari buku dapat bertahan lama, berbobot, dan tidak cepat berubah, (5) Penerbit cukup terkenal pada bidangnya, (6) Tahun edisi terbaru, (7) Harga buku cukup pantas. Dari kriteria ini, akan memudahkan pustakawan untuk fokus dalam menyeleksi bahan pustaka yang akan dijadikan sebagai koleksi perpustakaan. Untuk kriteria yang diterapkan dalam pemilihan bahan pustaka atau seleksi bahan pustaka antara lain yaitu tujuan, cakupan dan kelompok dari pengguna, tingkatan koleksi, otoritas dan kredibilitas pengarang, harga sebuah bahan pustaka, kemutakhiran dari isinya, penyajian fisik buku, struktur dan metode penyajian, indeks dan bibliografi. Dipaparkan pula cara dalam pemilihan bahan pustaka atau seleksi, yaitu pemilihan dilakukan berdasarkan sarana pengguna perpustakaan, dengan menggunakan alat-alat bantu pemilihan buku, mengevaluasi buku secara langsung berdasarkan hasil pembicaraan atau diskusi tentang buku yang dikelompokkan dari kelompok diskusi atau media komunikasi. Dengan beberapa penjelasan di atas, untuk pemilihan bahan pustaka atau seleksi hendaknya didasari dengan prinsip-prinsip seleksi, prosedur dalam seleksi, dan menggunakan alat bantu seleksi agar perpustakaan dapat memberikan layanan yang maksimal kepada pengguna, yaitu layanan pemenuhan informasi. Untuk perpustakaan perguruan tinggi, biasanya dalam pemilihan bahan pustaka atau seleksi sesuai dengan permintaan dosen, usulan dari mahasiswa, dan sesuai dengan kurikulum yang ada. Perpustakaan perguruan tinggi yang memiliki banyak prodi akan bekerja lebih dibanding dengan perpustakaan perguruan tinggi khusus atau perguruan tinggi yang hanya memiliki satu prodi saja. Sedangkan pihak yang berwenang untuk melakukan seleksi di perpustakaan perguruan tinggi adalah pimpinan di suatu universitas, pimpinan dari fakultas atau dosen. Bisa juga sebuah komisi penasihat/ pengawas perpustakaan yang dibentuk khusus dengan salah satu tugasnya yaitu memilih atau mengusulkan terbitan berseri yang akan dilanggan. Komisi di sini terdiri dari pimpinan fakultas, dosen, pustakawan, dan lain-lain. E. Seleksi di Perpustakaan Akper Karya Bakti Husada Perpustakaan Akper Karya Bakti Husada merupakan perpustakaan yang menganut pada lembaga induknya yaitu keperawatan. Untuk pemilihan bahan pustaka atau seleksi perpustakaan dilakukan dengan cara mendaftar usulan dari mahasiswa yang telah mengisi daftar usulan yang disediakan oleh perpustakaan. Selain itu, pustakawan juga menanyai kepada sebagian besar dosen yang mengajar di Akper Karya Bakti Husada, sehingga dalam pengembangan koleksinya dapat tepat sasaran sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pengguna. Namun, pustakawan juga melihat daftar koleksi yang lama. Ketika suatu koleksi masih dibutuhkan dan diperlukan pembaharuan pada tahun terbitnya, maka pustakawan akan mendaftar koleksi tersebut dalam daftar usulan pengembangan koleksi. Untuk proses seleksinya, perpustakaan Akper Karya Bakti Husada menggunakan katalog yang ada dari penerbit yang mendatangi perpustakaan saja. Perpustakaan Akper Karya Bakti Husada mempunyai satu langganan penerbit untuk pembelian bahan pustaka, yaitu penerbit EGC. Hal tersebut disebabkan penerbit itu dirasa cukup memenuhi untuk koleksi bahan pustaka, khususnya koleksi untuk bidang keperawatan yang ada di perpustakaan, dan dilihat dari segi isi, pengarang, dan harga juga sudah sesuai dengan perpustakaan. Proses seleksi untuk pengembangan koleksi di Perpustakaan Akper Karaya Bakti Husada sudah hampir sesuai dengan prosedur yang ada. Yaitu dengan mendaftar usulan buku dari dosen dan mahasiswa. Meskipun usulan yang diterima dari mahasiswa hanya berupa judul buku, namun pustakawan dengan teliti mencari detail buku tersebut dengan bantuan dosen yang ada. Untuk itu dosen diminta untuk ikut andil dalam pemilihan bahan pustaka yang sesuai dengan kebutuhan pengguna perpustaka. Sesudah itu, dimulai pendataan dari judul, penerbit, penulis dan tahunnya. Setelah dirasa cukup, daftar usulan tersebut akan diajukan kepada pengampu perpustakaan yaitu pembantu direktur 1. Jika tidak ada masukan dari dosen, ditakutkan bahan pustaka yang dijadikan untuk koleksi tidak sesuai dengan harapan sehingga koleksi tersebut tidak akan berguna. Namun untuk koleksi pendukung, pustakawan melakukan sendiri proses seleksinya. Karena koleksi pendukung hanya berupa novel dan sejenisnya.
Conclusion
Keberhasilan dari pengembangan koleksi dapat terwujud bila melakukan tahapan seleksi bahan pustaka dengan baik dan benar. Terciptanya mutu yang berkualitas dari sebuah koleksi merupakan langkah penting dari seleksi bahan pustaka, di mana kualitas perpustakaan bergantung pada koleksinya, dan koleksi tersebut bergantung pada proses seleksinya. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa seleksi memang sangat penting untuk perpustakaan. Jika seleksi tidak diperhatikan dengan baik, bisa jadi koleksi yang terdapat di perpustakaan tidak dapat memberi kebutuhan kepada pengguna, juga tidak dapat memberi kepuasan kepada pengguna. Dengan begitu, harapan pengguna terhadap perpustakaan pun akan memburuk. Pengguna bisa saja tidak menggunakan perpustakaan lagi karena pengguna merasa tidak mendapat informasi yang diinginkan. Maka dari itu, pustakawan harus dapat dengan cermat dan bijak dalam memilih serta menyeleksi bahan koleksi perpustakaan. Seleksi di perpustakaan Akper Karya Bakti Husada dilakukan dengan cara mendaftar usulan dari mahasiswa dan dosen. Dalam hal ini, dosen diikutsertakan dalam proses seleksi agar perpustakaan dapat dengan tepat menuju sasaran kepada kebutuhan pengguna, karena koleksi tersebut yang akan digunakan juga dalam proses pembelajaran. Alat bantu seleksi yang digunakan adalah dengan melihat katalog yang sudah berlangganan, karena penerbit tersebut yang sesuai dengan koleksi perpustakaan yaitu keperawatan. Proses seleksi dengan bantuan dosen ini akan memudahkan pustakawan juga dalam pengadaan koleksi. Rekomendasi Sebaiknya pustakawan dalam melakukan seleksi bahan pustaka untuk dijadikan koleksi menggunakan alat bantu seleksi seperti yang sudah dipaparkan di atas yaitu bibliografi nasional dan internasional, bibliografi subjek khusus, katalog penerbit dari dalam dan luar negeri, iklan dalam majalah, surat kabar, majalah khusus dan tinjauan/resensi, serta pangkalan data perpustakaan lain. Sehingga tidak hanya menggunakan satu katalog dari penerbit berlangganan saja. Hal ini menyebabkan kemungkinan tidak diketahuinya bahan pustaka lain yang ada selain dari katalog tersebut. Juga dalam memberi arahan kepada mahasiswa dalam memberi usulan buku, setidaknya mahasiswa dapat menyertakan pengarang dan terbitan dari bahan pustaka tersebut, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman antara pustakawan dan pemustaka.