PERPUSTAKAAN ANAK DI ERA DIGITAL
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Pada zaman sekarang ini ialah zamannya modern, di indenesia sendiri perpustakaan anak itu sudah mulai bermunculan dalam rangka memperkenalkan perpupustakaan pada anak sedini mungkin, memberikan stimulus pada anak agar ketika anak beranjak remaja dia akan terbiasa mendengar kata perputakaan dan diharapkan anak memiliki minat terhadap buku yang mana buku sendiri ialah sumber daripada ilmu pengatahuan. Selain itu perputakaan di era modern ini anak senantiasa diperkenalkan dan di diberikan beberapa fasilitas, seperti desain interior yang menarik, tatanan interior yang cocok untuk anak sehingga anak tertarik untuk berkunjung ke perputakaan, dan sususnan buku yang pas dan layanan pada anak juga berbeda dengan yang ada diperpustakaan tradisional, penulisan ini akan membahas tentang perpustakaan anak di era modern dilihat dari segi interior, layanan, dan juga tatanana interior. Penulisan ini hanya gambaran dari perputakaan anak yang ada di indonesia di harapkan dengan hadirnya perputakaan tersebut mampu menumbuhkan rasa cinta anak terhadap perputakaan, dan memperkenalkan perpustakaan yang serba menarik (era modern) dan menghilangkan kesan perpustakaan yang kaku (tradisional). Pedekatan pada penelitian ini ialah pendekatan kualitatif dengan metode pengupulan data melihat dari hasil penelitian terdahulu kemudian dianalisis.
Abstract
In this day and age is a modern era, in Indonesia, the children’s library has begun to emerge in order to introduce the library to children as early as possible, to provide stimulus to children so that when children are teenagers they will be accustomed to hearing the words of childbirth. the book itself is a source of knowledge. Apart from that, children in the modern era are always introduced and given several facilities, such as attractive interior design, interior arrangements that are suitable for children so that children are interested in visiting the library, and the appropriate composition of books and services for children is also different from those available in traditional libraries, this paper will discuss children’s libraries in the modern era in terms of interiors, services, and also interior settings. This writing is only a description of the existing children’s institutions in Indonesia. It is expected that the presence of the library can foster a sense of love for children, and introduce an interesting library (modern era) and eliminate the impression of a rigid (traditional) library. The approach in this study is a qualitative approach with the method of collecting data looking at the results of previous studies then analyzed.
Keywords:
digital era
· children's library
Introduction
A. Latar Belakang Perpustakaan merupakan suatu unit kerja yang didalamnya ada organisasi, oleh karena itu, tanpa adanya sebuah organisasi dalam perpustakaan maka perpustkaan tersebut tidak berbeda dengan individunya. Sehingga dapat diartikan bahwa perpustakaan melibatkan beberapa individu dan saling bekerja sama (terorganisasi) Organisasi sendiri ialah orang yang mengatur, dan orang yang mengatur terdiri dari sekelompok individu yang kemudian bekerja sama untuk beberpa tujuan tertentu. Sehingga dapat dikatakan bahwa organisasi merupakan sekelompk orang yang bekerja sama atas dasar memiliki tujuan dan misi yang sama yang telah ditentukan. Jadi jika kita menemui isltilah pengorganisasian , istilah tersebut sebenanrnya berasal dari kata organize yang berarti menciptakan struktur dengan bagianbagian yang diintegrasikan sedemikian rupa sehingga hubungannya satu dengan lainnya terikat oleh hubungan terhadap keseluruhan. (Wiji Suwarno, 2011: 13) Perpustakaan digital sebagai penyedia layanan berbatis teknologi informasi dan komunikasi atau yang disingkat (TIK) memerlukan alat teknologi informasi yang kemudian digunakan untuk mengakses informasi yang tersebar di berbagai tempat. Adapun layanan informasi digital itu membutuhkan lebih sedikit ruang dan waktu dari pada informasi dalam bentuk cetak atau buku yang ada di perputakaan tradisional, sehingga perpustakaan digital dapat membantu mengurangi biaya terhadap informasi tersebut berupa kalimat, suara ataupun gambar. (Widia Permana dkk, 2012: 3) Perpustakaan anak diera digital, di era yang serba digital seperti sekarang ini sangat disayangkan sekali jika orang tua tidak memberikan kesempatan untuk anaknya bermain sesuai dengan tingkatan usia si anak, dewasa ini perpustakaan bukan lagi sebuah kumpulan buku-buku yang serba tradisional, dengan sistem yang kaku dan buku-buku yang sulit untuk di cari, di inonesia sendiri sudah anyak berhamburan perpustakaan digital baik untuk orang dewasa juga tidak lepas dari perpustakaan untuk anak-anak, dengan hadirnya perpustakaan anak diera digital ini sangat membantu para orang tua khususnya dalam memberikan pengalaman kepada anaknya dalam belajar sambil bermain. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana perpustakaan anak di era digital ?. Bagaimana desan interior perpustakaan anak di era digital ?. Dan apa saja tujuan layanan anak di perpustakaan di era digital itu ? C. Tujuan Penulisan Adapun dari tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui perpustakaan anak di era digital ?. Desan interior perpustakaan anak di era digital ?. Dan Tujuan layanan anak di perpustakaan di era digital itu ?
Discussion
A. Perpustakaan Anak 1. Pengertian perpustakaan Perpustakaan ialah berasal dari kata “pustaka. Yang diawali oleh per dan diakhiri dengan an, yang dapat diartikan sebagai kumpulan dari bahan pustaka. (Soeatminah, 1992: 32) perpustakaan sendiri juag dapat diartikan sebagai unit kerja yang terdapat beberapa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, ataupun memelihara koleksi bahan pustaka yang di kelola dan diatur secara sistematis dengan cara-cara yang sudah dirumuskan, kemudian digunakan secara terus menerus oleh pemustaka sebagai bahan informasi. (Muljani A. Nurhadi, 1993: 13) Mengutip dalam bukunya Sulistyo Basuki mengatakan bahwa, batasan perpustakaan ialah berbentuk ruangan, kemudian bagian-bagian dari geduk itu dijadikan ruangan dalam penyimpanan buku dan susunan buku yang biasanaya disimpan menurut tata susunana tertentu sehingga memudahkan pengunjung alam mencari buku. (Sulistyo Basuki, 1991: 3) Dari pemaparan diatas dapat diambil kesmpulan bahwa perpustakan ialah suatu lembaga ataupun alat belajar yang mana dalam prosesnya itu terdapat aktivitas seperti pengumpulan, pengelolaan, pelestarian, dan menyuguhan informasi kepada masyarakat secara luas dan menyeluruh. 2. Fungsi perpustakaan Perpustakaan apabila menurut fungsinya ialah memposisikan dirinya sebagai tempat yang memberikan fasilitas dalam berbagai informasi, baik itu berkaitan dengan sosial, politik, ekonomi, ataupun informasi lainnya, diperguruan tinggi sendiri perpustakaan memiliki peranan yang sangat penting karena perpustakaan diistilahkan sebagai jantungnya perguruan tinggi, jika jantungnya lemah, maka bagian tubuh yang lainnya akan ikut melemah. Itu artinya jika perpustakaan lemah, maka akan berdampak terhadap lembaga perpustakaan bernaung. Dan akan berbanding terbalik jika perpustakaan baik, maka akan baik pula lembaga perputakaannya, perpustakaan dengan informasi juga tidak boleh dipiisahkan sebab kekuatan perpustakaan ada pada informasi yang disajikannya.( Wiji Suwarno, 2010: 16) Di era digital ini juga merubah pola pikir masyarakat untuk mampu menyesuaikan dengan baik pada keadaan saat ini. Apalagi dengan paradigma perpustakaan yang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengatahuan teknologi informasi dan komunikasi. Adapun beberapa fungsi perpustakaan dikalangan masyarakat diantaranya ialah: a) Simpan saji karya, perpustakaan difungsikan untuk menyimpan suatu karya, dan kemudian karya tersebut nantinya akan dijadikan bahan informasi yang dapat diakses oleh pemustakanya, sebagaimana yang tertuang dalam UndangUndang No.43 Tahun 2007, bahwa koleksi yang ada diperpustakaan diseleksi, dilayankan, disimpan, dan dikembangkan dan disesuaikan dengan kepentingan pemustaka. b) Pusat sumber daya informasi, yaitu fungsi perpustakaan yang menggali dan mengelola informasi, yang dapat dijadikan bahan bagi pemustaka untuk menghasilkan sebuah karya-karya baru yang kemudian dapat diakses oleh pemustaka lainnya sebagai suatu informasi yang baru. c) Pusat sumber belajar dan penelitian masyarakat, yaitu fungsi perpustakaan sebagai tempat yang dijadikan sarana belajar dan penelitian bagi masyarakat sehingga masyarakat menjadi peribadi yang cerdas d) Rekreasi dan re-kreasi, perpustakaan berungsi sebagai tempat yang nyaman dan menyajikan informasi-informasi yang sifatnya menyenangkan, dan juga sebagai tempat yang menghasilkan kreasi (karya) yang berpijak pada karya-karya orang lain yang telah dipublikasikan. e) Perpustakaan sebagai tempat untuk mengembangkan kebudayaan dengan melalui informasi yang di sajikan, serta penanaman nilai-nilai kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan, seperti pemutaran film dokumentar, belajar menari, belajar bahasa dan lain sebagainya. (Wiji Suwarno, 2010: 23) 3. Jenis layanan anak diperpustakaan Berbicara tentang layanan anak diperpustakaan tidak lepas dari kata perpustakaan, karena anak-anak merupakan bagian dari masyarakat yang mana merekalah sesungguhnya yang menjadi sasaran dari layanan yang telah diadakan oleh perpustakaan tersebut. Menurut Joan M. Reitz dalam tulisannya febriana mengatakan bahwa layanan anak ialah pelayanan perpustakaan yang ditunjukkan untuk anak berumur 12-13 tahun, dan didalamnya termasuk juga pengembangan koleksi remaja, seperti mendongeng, membantu mengajar dalam mengerjakan beberapa tugas anak ataupun pekerjaan rumah lainnnya, dan ini biasanya disediakan oleh pustakawanan anak diruang anak yang ada diperpustakaan. Dam menurut Bowler yang dikutip oleh febriana mengatakan bahwa tujuan utama dari layanan anak di perpustakaan ialah sebagai berikut: a) Memfasilitasi berbagai koleksi bahan pustaka yang mana bentuk penyajiannya dikemas secara menarik dan juga mudah digunakan oleh anak-anak b) Dapt memberikan arahan ataupun bimbingan kepada anak-anak pada saat memilih buku ataupun bahan koleksi lainnya c) Membimbing, mengembangkan, dan menumbuhkan rasa senang terhadap membaca sebagai suatu hobi sehingga dengan layanan itu diharapkan mampu membuat anak untuk belajar mandiri. d) Merangkul masyarakat untuk dijadikan sebagai kekuatan sosial bersama-sama dengan lembaga lain yang mana sangat erat kaitanya dengan kesejahteraan anak e) Membantu mengembangkankan kepintaran dan menambah pengatahuan. (Febriana, 2012: 7) Dari paparan diatas dapat diambil kesmpulan dari diadakannya layanan anak diperpustakaan ialah sebagai pendorong dalam mengembangkan minat baca anak sehingga mereka menyukai hubungan mereka dengan buku yang sangat dekat dengan kehidupan merek sehari-hari, mulai mereka mengenal beberapa huruf, gambar hingga tiba saatnya layanan untuk orang dewasa dapat memenuhi kebutuhan yang ada pada mereka, dengan kebebasan dalam memilih dengan catatan bimbingan suatu saat akan dibutuhkan anak ketika anak membutuhkannya. B. Perpustakaan Di Era Digital 1. Pengertian perpustakaan digital Menurut Abdul rahman Salah dalam bukunya membangun perputakaan digital mengatakan bahwa perpustakaan digital merupakan seperangkat sistem perpustakaan yang mana sistem tersebut menggunakan teknologi elektronik dalam menyampaikan informasi dan sumber yang dimilikinya. Media elektronik tersebut bisa saja berbentuk sepeti komputer, telepon, ataupun internet, sehingga perpustakaan digital dapat diartikan sebagai perpustakaan yang mengelola semua atau sebagian yang substansi dari koleksi-koleksinya dalam bentuk komputerisasi sebagai bentuk alternatif pelengkap terhadap cetakan komvensional dalam bentuk mikro material yang saat ini didomiasi koleksi perpustakaan, dan perputakaan digital juga merupakan organisasi yang menyediakan sumber-sumber dan staf ahli yang menyeleksi, menyusun, menyediakan akses, menerjemah, menyebarkan, memelihara kesatuan dan mepertahankan kesinambungan koleksi-koleksi dalam bentuk digital sehingga akan selalu tersedia dan murah untuk dipergunakan oleh berbagai komunitas. (Abdul Rahman Saleh, 2010: 3) Pendapat diatas sejalan dengan pendapatnya Lucy A Tedd yang mengatakatan bahwa Perpustakaan digital ialah setelan seperangkat sumber daya elektronik dan teknologi terkait pencarian, dan penggunaan informasi. Dalam pemaham ini ialah perluasan dan peningkatan penyimpanan informasi dan sistem pengambilan yang memanipuasi data digital dimanapun seperti teks, gambar ataupun suara. Dan ada jaringan yang terdistribusi konten perpustakaan digital termasuk data, metadata yang menggambarkan kemampuan nikal untuk menciptakan berbagai aspek data. dan metadata yang terdiri dari tautan atau hubungan ke data atau meta data lain, baik internal maupun eksternal perpustakaan digital. Pepustakaan digital sendiri dibangun, dikumpulkan dan diatur oleh komunitas pengguna, dan kemampuan fungsional mereka mendukung kebuthun dan penggunaan informasi dari komunitas itu. Dalam pengertian ini mereka adalah perluasan, peningkatan, dan integrasi berbagai lembaga informasi sebagai tempat fisik dimana sumber daya pilih, dikumpulkan, diorganisir, diawetkan dan diakses untuk mendukung komunitas pengguna. Lembaga informasi ini termasuk, ialah perpustakaan, musium, arsip dan sekolah. Akan tetapi perpustakaan digital juga memperluas dan melayani pengaturan komunitas lainnya, termasuk ruang kelas, kantor, labolaturium, rumah dan ruang publik. (Lucy A. Tedd & Andrew Large , 2005: 16-17) 2. Kelebihan perpustakaan digital Adaapun beberapa kelebihan dari perpustakaan digital ketika dibandingkan denga perpustakaan tradisional ialah bsebagai berikut : a) Perpustakaan digital lebih hemat ruangan Koleksi dari perpustakaan digital ialah seperti dokumen-dokumen dalam bentuk digital, sehingga penyimpanan sangat efesien. Yang mana hardisk dengan kapasitas 30 KB dapat berisi e-book sebanyak 10.000-12.000 judul dengan jumlah halaman rata-rata 500-1000 halaman, jumlah ini sangat banyak, dan kalau dibandingkan akan sama banyaknya dengan yang ada diperpustakaan tradisional. b) Perpustakaan digital dapat mengakses ganda atau Multiple acces Adapun kekurang dari perpustakaan tradisional ialah koleksi bukunya bersifat tunggal, dalam artian bahwa ketika ada pengunjung meminjam satu buku maka yang lain tidak bisa meminjam buku yang sama dengan peminjam yang pertama, sehingga untuk pemijaman buku tersebut peminjam harus menunggu sampai buku yang pertama di kembalikan telebih dahulu. Lain halnya dengan perpustakaan digital, yang mana pemakainya dapat secara bersamaan menggunakan sebuah koleksi buku digital, baik hanya untuk dibaca atau di unduh dan dipindahkan ke komputer peribadinya. c) Perpustakaan digital tidak dibatasi oleh ruang maupun waktu Dalam artian perpustakaan digital ini dapat diakses dimana saja dan kapan saja, dengan syarat memilki jaringan komputer yang memadai atau komputer internetnetworking. Sedangkan perputakaan tradisional hanya bisa dinikmati dan diakses ketika perputakaan tersebut membuka layanan. Dan ketika perpustakaan tradidional tersebut tutup maka layanan tidak bisa dinikmati ataupun diakses. d) Perpustakaan digital koleksinya bisa berbentuk mulitimedia Koleksi perpustakaan digital tidak hanya koleksi berbentuk tekst atau gambar saja, akan tetapi perpustakaan digital juga dapat berbentuk campuran antara gambar dan teks, ataupun suara. Bahkan koleksi perpustakaan dapat menyimpan dokumen yang hanya bersifat gambar bergerak dan suara(film) tidak mampu kalau hanya digantikan dengan bentuk teks. e) Perpustakaan digital dilihat dari segi biaya lebih murah Jika dilihat dari tinjauan biaya perpustakaan digital terbilang murah, karena kita melihat dari sifat e-book yang bisa digandakan dengan jumlah yang tidak terbatas dan tentunya dengan biaya yang sangat murah, walaupun awal pembuatan e-book sendiri terbilang cukup mahal, akan tetapi hal itu tertutupi dengan banyaknya buku yang bisa digandakan sesuai keinginan dan biaya menggandakannya itu terbilang sangat murah. (Abdul Rahman Saleh, 2010: 4) sehingga dapat penulis simpulkan bahwa dokumen elektronik tersebut biayanya sangat murah. 3. Perpustakaan anak di era digital Di Era yang serba digital seperti sekarang ini sangat disayangkan sekali jika orang tua tidak memberikan kesempatan untuk anaknya bermain sesuai dengan tingkatan usia si anak, dewasa ini perpustakaan bukan lagi sebuah kumpulan buku-buku yang serba tradisional, dengan sistem yang kaku dan buku-buku yang sulit untuk di cari, di inonesia sendiri sudah anyak berhamburan perpustakaan digital baik untuk orang dewasa juga tidak lepas dari perpustakaan untuk anakanak, dengan hadirnya perpustakaan anak diera digital ini sangat membantu para orang tua khususnya dalam memberikan pengalaman kepada anaknya dalam belajar sambil bermain, adapun isi perpustakaan anak sendiri itu terdiri dari beberapa zona yaitu sebagai berikut : a) Zona membaca, didalam area ini buku-buku yang tersedia ialah seperti buku-buku anak baik itu lokal maupun impor, dari bayi hingga anak usia sekolah. Di perpustakaan ini pengunjung bebas meminjam dan membaca ditempat ataupun dibawa pulang kerum b) Zona permainan edukatif, di area ini anak bebas dalam bermain yang mana ragam permainan yang tersedia mainan dari bahan kayu yang aman, seperti, puzzel, fingurine, ataupun pretand play dan di area ini sangat rentan dengan mainan yang berserakan di manamana. c) Zona playground, di zona ini anak bebas bermain berlarian, permainan yang disediakan sendiri jumlahnya cukup banyak, seperti jungkitjungkit, mandi bola, terowongan, transportasi mini yang cara mainnya sering dikenadarai oleh anak (mobil, motor, ataupun mini scooter) adapun usia anak yang diperbolehkan masuk biasanya berkisar antara 0-5 tahun (a family fun journey http://jendelakeluarga. com/2015/11/19perpustakaandaerah-dki-jakarta-cikini, 02 November 2018). 4. Karakteristik perpustakaan digital Adapun beberapa karakteristik perpustakaan digital yang dikutip penulis dari (G.G Chowdhury and Sudatta, 2003: 8-9) ialah sebagai berikut: a) Perpustakaan digital memiliki banyak sumber-sumber informasi digital ada yang berupa teks, video, audio ataupun gambar b) Perpustakaan digital mengurangi kebutuhan pada ruang fisik c) Pengguna perpustakaan digital tersebar diseluruh dunia akses mudah dijangkau d) Perngguna perpustakaan digital memungkinkan membangun koleksi secara peribadi atau personal e) Perpustakaan digital menyediakan akses ke berbagai bentuk sumbersumber infoemasi yang terletak pada server yang berbeda. f) Pengguna dengan sangat mudah menggunakan sumber informasi yang sama dan diwaktu yang sama yang mana ketika kita lihat di perpustakaan tradisional akan sangat sulit terjadi karena buku yang tersedia terbatas. g) Perpustakaan digital harus erta merta diikkuti dengan berbagai fasilitas untuk mencari atau searching dan retrieval untuk kembali h) Informasi perpustakaan bisa saja dipandang atau masyarakat yang berbeda yang mana juga disesuaikan dengan kebutuhan individu mereka masing-masing i) Perpustakaan digital bisa menembus ruang, waktu dan bahasa, jadi pengguna-pengguna dari berbagai dinuia bisa mengakses ataupun menggunakan perpustakaan digital kapan dan ndimana saja. Adapun karateristik perpustakaan menurut ulasan dari Tedd dan Large yang penulis kutip dari buku nya Putu Luxman ialah sebagai berikut: a) Memakai teknologi yang menghubungkan kemampuan mencipta, mencari, ataupun menggunakan berbagai informasi dalam banyak bentuk diantaranya seperti sebuah jaringan digital yang tersebar luar diseluruh dunia. b) Koloksi yang memiliki cakupan data ataupun matadata salang berkaitan, baik dilingkungan internal maupun dilingkungan eksternal. c) Adapun kegatan dalam mengoleksi dan mengatur sumberdaya digital yang merupakan hasil dari pengembangan dari komunitas yang kemudian memakai jasa untuk memenuhi kebutuhan informasi komunitas tersebut. (Putu Laxman Pendit, 2007: 31-32) Selain dari pada itu juga dikatakan bahwa, karakteristik perpustakaan digital yang perlu diperhatikan ialah keberadaan dari keberadaannya komunitas pemakai yang ikut meramaikan dan menentukan keberlangsungan perpustakaan itu sendiri. Tanpa adanya teknologi dan pengaturan sosial yang memadai, maka perpustakaan digital didak akan berjalan dengan baik dan optimal manakala pemakai tidak memiliki kemampuan ataupun fasilitas untuk menggunakan koleksi perpustakaan seperti alat untuk mengakses perpustakaan tidak menunjang dan lain sebagainya. Perpustakaan digital juga tidak akan berjalan dengan baik ketika pemakai tidak memiliki akses yang cukup dan tidak memiliki pengatahuan bagaimana mengakses perpustakaan digital tersebut, sehingga penulis menyarankan sebelum nya masyarakat harus diberikan pelatihan dalam menggunakan dan mengakses perpustakaan digital sehingga halhal yang seperti kurangnya pengatahuan dan informasi bisa teratasi sesegera mungkin. C. Desain interior diperpustkaan Anak Desain interior merupakan suatu karya artistik yang secara khusus menyangkut bangunan. Pada dasarnya desain interior ialah merupakan suatu cabang dari disiplin ilmu arsitektur dan desain interior berkaitan erat dengan kebutuhan pada fungsi pemakai dalam suatu bangunan yang berupa pemecahan masalah objektif yang mengacu kebenaran sistem pengelolaan ruang secara manusiawi. Dan dari pernyataan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa desain inetrior ialah perencanaan bagian dalam ruang perpustakaan yang mempunyai beberapa tujuan yang disesuaikan dengan fungsinya yang mana memiliki unsur keindahan sehingga dapat memberikan rasa nyaman bagi penggunanya, seperti kenyamanan ruang baca, penataan dalam susunan buku dalam rak koleksi, penerangan yang pas, pewarnaan dinding yang menarik, dan fasilitas yang mampu mendukung sebagai sarana dalam memenuhi kebutuhan pengunjung ialah sebagai berikut: 1. Sifatnya fleksibel, yang mana pengunjung perpustakaan dapat sewaktu-waktu mengubah lay out ruang kerjanya agar dapat difungsikan secara maksimal. Sehingga dalam hal ini dapat mengatasi kebosanan yang sewaktu-waktu bisa saja menghampiri 2. Kekompakan bentuk, seperti rak buku harus disesuaikan ketinggiannya sehingga terlihat rapi. Kemudian dalam pemilihan wakrna harus dikelompokkan, dan perabotan juga harus di perhatikan agar serasi dan nyaman dipandang. 3. Akses mudah, kemudahan dalam akses sangat diperlukan agar pemustaka dapat dengan mudah mengakses. 4. Mudah dikembangkan, perpustakaan dirancang agar kedepannya masih bisa dikembangkan, contohnya seperti penambahan ruang layanan. 5. Variasi yang beragam, tersedianya ruang layanan perpustakaan yang memiliki beraneka ragam fungsi sesuai dengan kebutuhan pemustaka 6. Nyaman, faktor kenyamanan perpustakaan juga sangat diperlukan karena dengan lingkungan perpustakaan yang kondusif maka akan melahirkan berbagai inspirasi positif juga bagi pemustaa. Lingkungan yang menyenangkan dengan berbagai fasilitas yanglengkap menjadi penarik untuk pemustaka dalam berkunjung ke perpustakaan tersebut. (widiyastuti, 2017: 203) Desain interior untuk anak-anak ialah harus memperhatikan beberapa faktor-faktor selain untuk membuat perpustakaan lebih terlihat estetika juga harus diperhatikan bagaimana perpustakaan anak tersebut sesuai dengan usia si anak kemudian juga aman untuk semua orang. Anak-anak dengan fasilitas yang ada diperpustakaan tersebut merasa nyaman, pengaturan, serta bahan-bahan yang ditawarkan. Tatanan mengatur ruangan pada anak juga termasuk kedalam dekorasi, agar penataan ruangan menjadi selaras, maka perlu adanya sebuah perhatian dalam penataan variasi, tanpa adanya tatanan dalam variasi maka akan mengakibatkan adanya sifat monoton dan juga membosankan, dan variasi tanpa adanya tatanan maka akan kacau tanpa beraturan. Anak-anak dari segi usia harus ditempatkan ke perpustakaan yang serba terbuka, yang sifatnya itu mengundang, menarik, menantang dan tidak mengundang bahaya pada pengunjungnya. Sehingga tatanan interior dalam perpustakaan pada anak ialah sesuatu hal sangat di peroiritaskan karena bersifat sangat penting, dan yang perlu diperhatikan diantaranya ialah seperti ruangan layanan untuk anak, dan ketika salah dalam penataan maka akan berdampak pada anak dan akan mengakibatkan masalah besar. (Karina Putri Adita, 2015: 18)
Conclusion
Pada zaman sekarang ini ialah masuk kepada era modern, di indenesia sendiri perpustakaan anak itu sudah mulai bermunculan dalam rangka memperkenalkan perpupustakaan pada anak sedini mungkin, memberikan stimulus pada anak agar ketika anak beranjak remaja dia akan terbiasa mendengar kata perputakaan dan diharapkan anak memiliki minat terhadap buku yang mana buku sendiri ialah sumber daripada ilmu pengatahuan. Selain itu perputakaan di era modern ini anak senantiasa diperkenalkan dan di diberikan beberapa fasilitas, seperti desain interior yang menarik, tatanan interior yang cocok untuk anak sehingga anak tertarik untuk berkunjung ke perputakaan, dan sususnan buku yang pas dan layanan pada anak juga berbeda dengan yang ada diperpustakaan tradisional, penulisan ini akan membahas tentang perpustakaan anak di era modern dilihat dari segi interior, layanan, dan juga tatanana interior. Penulisan ini hanya gambaran dari perputakaan anak yang ada di indonesia di harapkan dengan hadirnya perputakaan tersebut mampu menumbuhkan rasa cinta anak terhadap perputakaan, dan memperkenalkan perpustakaan yang serba menarik (era modern) dan menghilangkan kesan perpustakaan yang kaku (tradisional).