Kembali
16
1
2019 Jurnal Pustaka Ilmiah Vol 5 · 1 ISSN 2685-8363

SENI KOMUNIKASI SEBAGAI BEKAL PUSTAKAWAN DALAM PRESENTASI

Institut Seni Indonesia Surakarta; Institut Seni Indonesia Surakarta

Abstrak

Seni Komunikasi Sebagai Bekal Pustakawan Dalam Presentasi. Penulisan artikel ini mempunyai tujuan yaitu untuk memberi pengetahun kepada pustakawan agar mampu melakukan presentasi secara baik dengan seni komunikasi dan memiliki gaya berkomunikasi. Seni komunikasi dipengaruhi oleh gaya komunikasi, gaya adalah cira khas seseorang dalam berkomunikasi, ada dua aspek yang bisa dilihat dalam gaya komunikasi yaitu bahasa dan retorika. Seni komunikasi yang efektif adalah menggunakan model 7 C, yaitu : completeness, conciseness, conciderration, clarity, concreteness, courtesy, correctness. Agar presentasi seorang pustakawan sukses maka perlu ada tips yang harus dilakukan, yaitu : 1) Mengetahui PAL (purpose, audience, logistics) dengan baik, 2) Memperhatikan waktu, 3) Tetap relevan, 4) Memainkan tombol emosional, 5) Menciptakan catatan yang gampang dilakukan.

Abstract

Arts of Communication as a Librarian in Presentation. Writing this article has a purpose, namely to give knowledge to librarians in order to be able to make presentations well with the art of communication and have a communication style. The art of communication is influenced by the style of communication, style is the characteristic of a person in communication, there are two aspects that can be seen in the style of communication, namely language and rhetoric. The art of effective communication is to use the 7 C model, namely: completeness, conciseness, conciderration, clarity, concreteness, courtesy, correctness. In order for a librarian’s presentation to be successful, there needs to be tips to do, namely: 1) Know PAL well (purpose, audience, logistics), 2) Pay attention to time, 3) Stay relevant, 4) Play emotional buttons, 5) Create notes easy to do.
Keywords: communication · art of communication · presentation

Introduction

Pustakawan adalah sebuah jabatan yang memiliki ruang lingkup, kewajiban, peran, tanggungjawab, dan hak untuk menjalankan agenda kepustakawanan. Tugas pokok Pustakawan ialah pekerjaan di bidang kepustakawan yang mencakup pengolahan perpustakaan, pelayanan perpustakaan, dan pengembangan sistem kepustakawanan yang dikerjakan oleh individu pustakawan sesuai tingkat jabatannya. Perpusnas RI (2015:12). Selain itu pustakawan juga harus bisa melakukan pengembangan profesi. Pengembangan profesi ialah pengembangan intelektual, kemampuan, skill, sikap dan bakat yang berguna untuk profesi pustakawan dalam mengerjakan tugas kepustakawanan, Perpusnas RI (2015:81). Pengembangan profesi untuk jabatan fungsional pustakawan antara lain: menyampaikan prasaran berupa tinjauan, gagasan dan/atau ulasan ilmiah di bidang kepustakawan pada pertemuan ilmiah. Kegiatan membuat karya tulis ilmiah yang membahas satu pokok bahasan yangmerupakan tinjauan atau ulasan dari berbagai pendapat atau sumber informasi tertulis di bidang kepustakawanan, Perpusnas RI (2015:86). Di samping melakukan tugas pokok dan pengembangan profesi, pustakawan juga diharapkan melakukan tugas penunjang. Penunjang tugas pustakawan merupakan kegiatan yang mendukung pelaksanaan tugas pustakawan. Salah satunya yaitu mengikuti seminar/lokakarya/konferensi di bidang kepustakawanan sebagai pemrasaran, Perpusnas RI (2015:90). Pustakawan yang akan menjadi pemrasaran atau pembicara diharuskan mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi. Keahlian dalam berbicara di depan umum tentunya dapat menjadikan sesorang untuk menggapai keinginannya secara maksimal. Pelafalan kalimat dan ucapan yang bisa dimengerti dalam komunikasi sangat dibutuhkan sehingga inti pembicaraan akan sampai kepada penerimanya secara baik tanpa ada halangan (noise). Quantum of communication adalah keselarasan antara sisi positif komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks datar yang ditengarai dengan sebuah etika, kesantunan, kesederhanaan, kejujuran, kelembutan dalam berbicara, Mulyana (2006:149). Gaya komunikasi seseorang sangat erat hubungannya dalam berkomunikasi. Bahasa yang digunakan oleh seorang komunikator, pemilihan diksi kata, retorika yang digunakan serta bahasa tubuhnya merupakan gaya komunikasi. Seperti diungkapakan Sidik Suhada seorang Jurnalis media dan televisi, bahwa “bahasa menunjukan bangsa. Cara berkomunikasi seseorang mencerminkan identitas dan citra diri seseorang di mata orang lain. Selain itu juga pemilihan kata, istilah serta intonasi (tekanan suara). Semua akan dapat mencerminkan identitas dan citra diri seseorang yang sedang berbicara, Ferdian (2013:3). Dalam teknik penyampaian materi tersebut terjadi proses komunikasi. Melalui kegiatan komunikasi yang dijalankan, semua yang terkait dalam teknik penyampaian materi tersebut mengetahui kehendak dari setiap individu. Demikian halnya dengan pustakawan sebagai seorang presentator, pustakawan juga diharapkan untuk memiliki seni berkomunikasi dalam penyampaian materi (presentasi). Jika pustakawan tidak memilki seni berkomunikasi maka dapat berdampak terhadap citra diri sebagai pustakawan. Melihat arti penting seni berkomunikasi dalam presentasi maka perlu adanya kajian khusus tentang seni berkomunikasi. Artikel ini membahas tentang pengertian komunikasi, seni komunikasi yang efektif, tips agar presentasi sukses, hambatan dalam presntasi dan solusinya. Penulisan artikel ini memiliki tujuan yaitu untuk memberi pengetahun kepada pustakawan agar mampu melakukan presentasi secara baik dengan seni komunikasi dan memiliki gaya berkomunikasi.

Discussion

1. Definisi Kata a. Seni Suzanne K. Langer dalam Titian Bengawan (2019) yang diambil dalam buku yang berjudul The Principles of Art oleh Caollingwood (1974), mengatakan definisi seni sebagai “seni merupakan simbol dari perasaan. Seni merupakan kreasi bentuk simbolis dari perasaan manusia. Bentuk-bentuk simbolis yang mengalami transformasi yang merupakan universalisasi dari pengalaman dan bukan merupakan terjemahan dari pengalaman tertentu dalam karya seninya, melainkan formasi pengalaman emosionalnya yang bukan dari pikiran semata”. Batasan ungkapan seni tersebut di atas adalah menjelaskan bahwa seni disamping untuk memenuhi kebutuhan secara fisikal juga untuk memenuhi spiritual. Seni merupakan alat komunikasi pengungkapan perasaan batin seniman untuk di komunikasikan kepada penghayatnya. b. Komunikasi Secara makna bahasa berasal komunikasi merupakan terjemahan dari kata latin “communicatio”. Istilah ini bersumber dari pelafalan “communis” yang berarti sejajar, sejajar dalam hal ini adalah sejajar maknanya dan sejajar artinya. Jadi komunikasi ini dapat terjadi manakala terdapat kesejajaran makna mengenai suatu pesan yang disampaikan oleh seorang komunikator dan diterima oleh seorang komuikan. Effendy (2003:30). Sedangkan komunikasi dalam KBBI (2005) dimaknai sebagai pengiriman dan penerimaan pesan atau informasi antara dua manusia atau lebih sehingga pesan yang dikehendaki dapat diketahui. Makna tersebut menguatkan bahwa komunikasi adalah agenda mengirim suatu pesan atau informasi dari seseorang ke orang lain sehingga pesan yang disampaikan tersebut dapat dimengerti oleh si penerima informasi. Dari uraian yang telah disampaikan di atas bisa disimpulkan bahwa seni komunikasi merupakan symbol dari perasaan dan kreasi bentuk simbolis dari perasaan seseorang / komunikator dalam kegiatan menyampaikan pesan atau informasi dari seseorang ke orang lain dengan harapan bahwa pesan yang disampaikan tersebut dapat dimengerti oleh si penerima pesan. c. Pustakawan Pustakawan merupakan tenaga kependidikan pada institusi pendidikan. Peran pustakawan sebagai manajer informasi pada hakikatnya sama seperti tenaga fungsional lainnya. Mereka membutuhkan profesionalisme dalam bekerja, ijazah sarjana sebagai bukti memiliki kualifikasi akademik, samasama memiliki peran dalam sektor jasa layanan yang diperlukan masyarakat luas. Aziz (2012:78). d. Presentasi Dalam https://kbbi.web.id/presentasi, dijelaskan bahwa arti presentasi adalah /préséntasi/ n 1) pemberian (tentang hadiah); 2) pengucapan pidato (pada penerimaan suatu jabatan); 3)perkenalan (tentang seseorang kepada seseorang, biasanya kedudukannya lebih tinggi); 4) penyajian atau pertunjukan (tentang sandiwara, film, dan sebagainya) kepada orang-orang yang diundang; Mempresentasikan / mem·pre·sen·ta·si·kan/ v menyajikan; mengemukakan (dalam diskusi dan sebagainya). 2. Seni Komunikasi Seni komunikasi ialah kode dari isi hati dan kreasi bentuk simboleis dari isi hati seseorang / komunikator dalam kegiatan menyampaikan pesan atau informasi dari seseorang ke orang lain sehingga pesan yang disampaikan tersebut bisa dimengerti oleh si penerima pesan. Ada enam hal yang harus ada dalam quantum of communication, keenam hal tersebut merupakan unsur-unsur dalam berkomunikasi yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, unsur-unsur adalah sebagai berikut : a. Sumber, sumber merupakan pomdasi yang dipakai dalam mengirim pesan, yang dipakai dalam rangkat meguatkan pesan itu sendiri. Sumber bisa berwujud manusia, institusi, pustaka dan sejenisnya, Widjaja (2002:11). b. Penyampai pesan, komunikator bisa secara personal yang sedang berpidato, menulis, komunikas, dan organisasi komunikasi, misalnya : harian surat kabar, media TV, film dan yang lainnya. Widjaja (2002:12). c. Pesan, pesan secara menyeluruh dari apa yang dikatakan oleh seorang komunikator. Pesan bisa berupa informasi anggota-anggota yang selanjutnya komunikan bisa menyimpulkan sendiri. Persuasi bujukan, yaitu menumbuhkan dan menyadarkan seseorang bahwa apa yang dikatakan kepada anggota merupakan pendapat, gagasan atau sikap, selanjutnya aka nada perubahan. d. Saluran, saluran komunikasi selalu mengirim pesan yang bsa diperoleh melalui kelima pancaindra maupun media. e. Penerima pesan, seorang komunikan atau penerima pesan bisa dibagi dalam 3 jenis, yaitu individu (personal), kelompok dan massa. f. Efek, efek merupakan tujuan akhir dari suatu komukasi, yaitu perilaku sesorang, seperti yang kita inginkan atau tidak inginkan. Seni komunikasi seseorang dipengaruhi oleh gaya komunikasi. Dalam KBBI, gaya mempunyai banyak makna sikap, irama/ lagu, kekuatan, elok dan ragam (cara, rupa, bentuk) yang spesifik, mengenai coretan tangan, karangan pemakaian bahasa dan bangunan rumah, Umardjo (1999:146). Reaksi komunikasi seseorang berhubungan dengan gaya komunikasi. Gaya komukasi antara manusia yang satu dengan manusia yang lain pasti ada perbedaanya. Ketidaksamaan gaya komunikasi antara manusia yang satu dengan manusia yang bisa berwujud perbedaan jenis-jenis model dalam berkomunikasi, prosedur berkomunikasi, ekspresi wajah dalam berkomuikasi dan respon yang disampaikan pada saat berkomunikasi. Menurut teori, Edward T. Hall yang tercantum dalam buku Deddy Mulyana, mengungkapkan bahwa dalam lingkungan budaya, gaya komunikasi bisa dibagi menjadi 2, yaitu gaya komunikasi tingkat tinggi dan gaya komunikasi tingkat rendah. Gaya bicara komunikasi tingkat tinggi mempunya karakteristik bahwa seorang komunikator lebih senang berbicara secara halus, diam-diam, tidak langsung dan suka bertele-tele. Hal demikian bertujuan untuk menjaga keseimbangan komunitas (kelompok) dan tidak ingin bertentangan, maksudnya supaya tidak gampang menyinggung perasaan hati orang lain. Sementara model komunikasi tingkat rendah, lebih sering digunakan oleh orangorang yang mempunyai pemikiran searah. Selain itu, komunikasi tingkat rendah, cepat dan gampang berganti karena tidak mengikat kelompok, Mulyana (2005:129). Gaya komunikasi seseorang dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu : a. Bahasa. Bahasa adalah istrumen komunikasi antar individu dalam masyarakat yang berupa symbol suara yang diciptakan melalui lisan manusia. Komunikasi melalui bahasa itu menyebabkan setiap manusia untuk menyamakan dirinya terhadap lingkungan fisik dan lingkungan masyarakatnya. Dari bahasa memungkinkan setiap manusia untuk belajar mengenai kebudayaan, kebiasaan, dan adat istiadat serta latar belakangnya masing-masing, Gorys Keraf (1994). b. Retorika Ilmu berbicara adalah retorika. Retorika dapat menggambarkan gaya komunikasi seseorang. Dalam bahasa Inggris, yaitu rhetoric dan dari kata Latin rehetorica yang berarti ilmu bicara, Effendy (2007:53). Bagi Aristoteles retorika adalah seni persuasi, suatu yang harus singkat, jelas dan meyakinkan, dengan keindahan bahasa yang disusun untuk hal-hal yang bersifat memperbaiki, memetintah, mendorong dan memepertahankan (defensive), Effendy (2007:4). Selanjutnya terdapat dua syarat yang harus dipenuhi bagi seseorang yang akan tampil dalam panggung atau tempat untuk berpidato. Syarat yang nomor satu adalah kredibilitas sumber, dan syarat yang nomor dua adalah daya tarik sumber, Effendi (2007:68). 3. Komunikasi Efektif Menurut Mulyana (2006:149), gaya komunikasi efektif adalah kombinasi antara sisi positif komunikasi tingkat tinggi dan komunikasi tingkat rendah yang dikuti dengan sebuah kesantunan, kesederhanaan, kejujuran, kejernihan dan ketulusan dan berkomunikasi. Selanjutnya Effendi (2007:41-42) menyebutkan syarat-syarat yang bisa menunjang dalam komuniasi efektif, beliau menguraikan seperti yang disampaikan oleh Wilbur Schramm ““the condition of success in communication”, yaitu kondisi yang padat jika menyampaikan supaya suatu pesan membangkitkan reaksi yang dikehendaki, faktor-faktor tersebuat yaitu : a. Pesan harus didesain dan diberikan sedemikian rupa, sehingga bisa memancing reaksi dari seorang komunikan. b. Pesan wajib memakai simbol-simbol yang sesuai terhadap pengetahuan yang sejajar antara pemberi pesan dan penerima pesan, sehingga sama-sama faham. c. Pesan wajib menumbuhkan kepentingan personal bagi komunikaan dan memberi masukan bermacammacam cara agar mendapatkan keinginan tersebut. 4. Seni Komunikasi Yang Efektif Komunikasi efektif terdapat dua kata, yaitu komunikasi dan efektif. Komunikasi ialah prosedur dalam memberi atau berbagi informasi, pikiran, dan perasaan melalui mulut, coretan tangan atau bahasa tubuh. Sedangkan “efektif” menurut KBBI bermakna “ada efeknya” (akibatnya, pengaruhnya, kesannya) atau “dapat mebawa hasil: berhasil guna”. Kata efektif juga sering dimaknai sebagai “mencapai tujuan yang dikehendaki”. Dengan demikian, komunikasi efektif (effective communication) bisa dimaknai sebagai “komunikasi yang berhasil dan mencapai tujuan yang dikehendaki, seperti dipahami, mengubah pandangan, bisa diterima, dan merubah perilaku atau melakukan aksi”. Berbagai cara yang dismpaikan para pakar komunikasi untuk mempraktekkan komunikasi efektif, seperti menggunakan bahasa yang gampang difahami, bahasa tubuh yang tidak ambigu, penekanan kata dan kalimat yang tepat, kontak pandangan, dan ekspresi muka yang sesuai, termasuk di dalamnya menjadi seorang pendengar yang baik. Komunikasi yang efektif merupakan metode yang tepat dalam bersikap, pengiriman, dan pelafalan yang dipakai seseorang dalam mengirim pesan dan menghendaki kepada orang lai sehingga maksud keinginannya bisa teecapai. Pendirian dalam berkomunikasi ialah membujuk orang lain agar mau berpikir, bertindak dan mau melakukan sesuai keinginan komunikator. Komunikasi efektif menurut Sugiyanto (2012) mengandung tujuh C atau sering disebut dengan formula 7 C, yaitu : a. Clarity, memakai diksi kata yang pas dan tidak menimbulkan arti lain, bermakna tunggal sehingga tidak menyebabkan multi tafsir. b. Completeness, komunikasi harus menyeluruh dan lengkap. Mengirimkan seluruh kebenaran yang dibutuhkan oleh seorang komunikan. c. Concreteness, pesan yang jelas (konkret) yang disertai dengan fakta dan bukti menggunakan angka sehingga komunikan tidak memiliki tafsir yang lain. d. Courtesy, ini tentang etika dalam penyammpaian. Pesan disampaikan dengan, antusias, reflekstif, bijak, sopan, santun serta melihat situasi dan kondisi dan perasaan penerima pesan, di dalamnya termasuk menjaga perasaan dan respon dari penerima pesan. e. Correctness, pesan yang diberika harus benar dari segi isi dan aturan tata bahasa, juga tepat dari sisi waktu dan sasaran. f. Conciseness, meminimalisir katakata. Tidak memakai kata-kata yang berlebihan dan tidak dibutuhkan. Pesan yang sedikit akan lebih cantik dan elegan serta mudah dimengerti. Memakai kalimat yang paling efektif. g. Consideration, melihat secara detail sudut pandangan orang lain, emosinya, kepentingan, keperluan, minat, tingkat pendidikan serta pola pikirnya. 5. Bekal Agar Presentasi Sukses Dalam sebuah karier seseorang pasti pernah mengalami gagap dan demam panggung sedang memberikan presentasi di hadapan para pimpinan tentang tugas baru, mengerjakan proyek maupun sedang promosi jabatan. Begitu juga dengan seorang pustakawan, dalam presentasi disebuah event seminar, call for apaer atau pun presentasi makalah untuk lomba, ada kalanya mengalami ganguan, tidak lancar, terburu-buru, dan sebagainya. Hapsari (2013) memberikan bekal untuk mengurangi gagap dan demam panggung ketika sedang tampil, aadapun bekal tersebut adalah sebagai berikut : a. Mengatahui PAL (purpose, audience, logistics) dengan baik. . Purpose : Presentasi yang disampaikan itu bertujuan utnuk apa? Presentasi bisa dipetakan untuk menghibur, membujuk orang lain, memberikan informasi tentang sesuat hal yang penting atau hanya bagian dari fit and proper test? Audience: Siapakah sasaran presentasi saat itu? Sebagai wakil suatu kelompok kah? Mereka berdomisili dimana? Bagaimana karakter sikap mereka? Logistics: ini adalah hal-hal yang wajib diatur dengan baik. Seorang Presentator harus memahami durasi waktu yang diberikan. Bagaimana situasi dan suasana tempat untuk presentasi? b. Memperhatikan waktu, merencanakan, mempersiapkan dan berlatih agar waktu yang diberikan bisa digunakan seefisen mungkin. Apabila presentasi selesai lebih awal tidak ada yang merasa dirugikan. Sebaliknya apabila waktu melebihi dari batas yang diberikan berarti seorang presentator kurang mengaturnya dengan baik. Apabila seorang presentator ingin mengajak audien untuk berinteraksi maka gunakan waktu 50 persen untuk menyampaikan materi selebihnya untuk sesi tanya jawab. c. Tetap relevan, ketika presentasi belum dimulai, pertimbangkanlah hal-hal yang wajib difahami, yang sebaiknya difahami, dan yang tidak difahami. Membatasi matersi presentasi sesuai waktu yang diberikan dan minat dari audien. d. Mainkan tombol emosional, untuk memnacing emosional audein maka perlu menyisipkan cerita, analogi, metafora dan anekdot untuk mendukung poin-poin dalam presentasi. Dengan demikian seorang presentator mempunai lebih banyak efek daripada sekedar menggunkan data asli. e. Menciptakan catatan yang gampang dilakukan, Wiston Churchill pernah mengatakan ketika ada yang bertanya mengapa ia membawa catatan tetapi jarang digunakannya, beliau menjawab bahwa “saya membawa asurasi kebakaran tetapi jarang menggunakannya, saya membawa asuransi kebakaran tetatpi saya tidak berharap rumah saya terbakar”. Jadi, menggunakan catatan penting ketimbang menuliskan sebuah kalimat. 6. Hambatan Dalam Presntasi dan Solusinya Dalam presentasi sering kali ada hambatan dan masalah yang dialalmi oleh seorang presentator. Setiap hambatan atau masalah dalam presentasi tentu harus dicari jalan keluarnya. Hal ini menjadi catatan, karena sudah berulang kali masalah ini menjadi rintangan keberhasilan dalam presentasi. Maka Firmansyah (2016) dalam artikelnya membahas 5 hambatan presentasi dan solusinya. Adapun penjelasannya sebagai berikut : a. Gugup. Gugup atau demam panggung merupakan masalah yang sering ditemui ketika presentasi. Penyebab demam panggung bermacam-macam, missal: seorang presentator gugup karena audien yang dihadapi memiliki status sosial yan lebih tinggi. Jalan keluar untuk masalah tersebut adalah memahami lebih jauh tentang asalusul dari para audiens, contoh : siapa saja auidens, bagaimana latar belakang pendidikannya sampai diketahui apa saja hobinye, ini terkesan sepele tapi hal tersebut menjadi penting untuk menghindari kegugupan dalam presentasi. Demam panggung hadir disebabkan karena diri kita sendiri yang merasa ada banyak perbedaan dengan audens. Maka solusinya dalah memperkecil perbedaan itu sendiri dan mencari kelerasannya. b. Tidak menguasai Materi yang akan disampaikan. Seorang presentator harus mengusai materi yang akan disampaikan. Apalagi jika profesinya sebagai seorang triner atau motivator. Jika pustakawan memahami bahwa pengusaan materi merupakan hal yang sangat penting, maka suka tidak suka dan mau tidak mau pustakawan wajib menghafal di luar kepala materi tersebut. Lantas caranya bagaimana, tentunya adalah dengan berlatih, melakukan eksperimen, menghapal skrip dalam presentasi dan menyuruh oaring lain untuk menilainya. Dengan cara ini pustakawan akan semakin jelas dalam pengusaan materi. c. Blank Saat Presentasi. Begitu banyak seseorang yang tiba-tiba lupa dalam presentasi. Apalagi yang lupa tersebut tentang kelanjutan dari isi materi presentasi. Apabila ini terjadi, seorang presentator harus memastikan persiapan agar presentasi dapat berjalan dengan baik dan lancer. Agar presentasi lancer, jangan malu untuk membuat check list apa saja yang wajib dikerjakan secara lengkap dengan target waktu persiapannya. d. Berubahnya Durasi Presentasi. Apabila seorang pustakawan kerap menjadi mengisi presentasi karena menjadi menjadi nara sumber dalam sebuah acara, terkadanga durasi presentasi dirubah oleh panitia. Apalagi durasi waktu yang ditetapkkan untuk memulai acara, ternyata audiens belum hadir, atau salah satu pejabat berwenang yang akan membuka acara belum sampai ke tempat presentasi. Presentasi yang awalnya dua jam, terpotong menjadi satu jam atau malah hanya sekitar 45 menit. Jika ini yang terjadi, maka seorang presentator harus persiapan dengan materi presentasi yang efisien. e. Tidak diperhatikan oleh Audiens. Audiens tidak memperhatikan sebuah presentasi antara lain disebabkan oleh dua hal, yang pertama yaitu karena seorang presentator tidak menyampaikan kontrak aturan dalam presentasi, yang kedua presentator langsung masuk ke dalam materi presentasi tanpa diawali dengan ice breaking (pencairan suasana). Ada beberapa penyebab audiens tidak memperhatikan saat presentasi, dua diantaranya adalah seorang presntator tidak memberikan kontrak aturan presentasi di awal, atau langsung masuk materi presentasi tanpa pencairan suasana.

Conclusion

Pustakawan selain melakukan tugas pokok kepustakawanan juga dituntut untuk melakukan pengembangan profesi dan melakukan tugas unsur penunjang yaitu menjadi pemrasaran atau pembicara. Tidak semua pustakawan bisa menjadi pembicara yang baik, apalagi bila berbicara di depan umum berupa presentasi. Untuk menjadi seorang presentator yang handal dalam menyampaikan presentasi maka perlu bekal seni berkomunikasi. Seni komunikasi dipengaruhi oleh gaya komunikasi, gaya adalah cira khas seseorang dalam berkomunikasi, ada dua aspek yang bisa dilihat dalam gaya komunikasi yaitu bahasa dan retorika. Dalam presentasi, seorang pustakawan harus berkomunikasi yang efektif, yaitu kondisi yang dipenuhi jika kita menginginkan agar suatu pesan membangkitkan tanggapan yang kita kehendaki. Faktor-faktor tersebut yaitu: 1) Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan. 2) Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama mengerti. 3) Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut. Seni komunikasi yang efektif adalah menggunakan formula 7 C, yaitu : Completeness, Conciseness, Consideration, Clarity, Concreteness, Courtesy, Correctness. Agar presentasi seorang pustakawan sukses maka perlu ada bekal yang harus dilakukan, yaitu : 1) Mengetahu PAL (purpose, audience, logistics) dengan baik, 2) Memperhatikan waktu, 3) Tetap relevan, 4) Memainkan tombol emosional, 5) Menciptakan catatan yang gampang dilakukan.