IMPLEMENTASI KERJASAMA PERPUSTAKAAN DARUL ILMI NAGARI TAEH BUKIK DAN LEMBAGA INFORMASI DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA
Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar; Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar; Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar; Institut Agama Islam Negeri Curup; Institut Agama Islam Negeri Curup; Institut Agama Islam Negeri Curup
Abstrak
Pokok persoalan yang dibahas pada penelitian ini adalah bagaimana cara penerapan kerjasama di perpustakaan Darul Ilmi Nagari Taeh Bukik Kabupaten Lima Puluh Kota dan Lembaga Informasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemahaman pustakawan tentang kerja sama yang dilaksanakan di perpustakaan serta implementasi kerjasama antara perpustakaan dan lembaga informasi di perpustakaan Darul Ilmi Nagari Taeh Bukik Kabupaten Lima Puluh Kota. Jenis penelitian yang dipakai adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini melalui observasi, wawancara dan juga dokumentasi. Teknik analisis data dimulai pada reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penjaminan keabsahan data pada penelitian ini memakai triangulasi sumber. Hasil pada penelitian ini memperlihatkan bahwa ada beberapa kerjasama yang dilaksanakan perpustakaan dan lembaga informasi di perpustakaan Darul Ilmi Nagari Taeh Bukik Kabupaten Lima Puluh Kota. Kerjasama tersebut dilakukan dengan perpustakaan daerah kabupaten daerah Lima Puluh Kota dan perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, kemudian dengan organisasi masyarakat, dan dengan Perguruan Tinggi Politani Payakumbuh. Kerjasama ini dilaksanakan dalam usaha untuk mendukung program transformasi perpustakaan yang berbasis inklusi sosial yang perpustakaan tersebut bukan sekedar sebagai tempat meminjam atau mengembalikan buku, namun juga menjadi lembaga pusat kegiatan bagi masyarakat. Dalam melaksanakan kerjasama, ada terdapat beberapa kendala dihadapi perpustakaan Darul Ilmi Nagari Taeh Bukik Kabupaten Lima Puluh Kota. Saran untuk perpustakaan Darul Ilmi adalah diharapkan kegiatan kerjasama dengan lembaga informasi lainnya dapat meningkatkan minat baca masyarakat sehingga mampu meningkatkan pengetahuan dan ekonomi keluarga.
Abstract
The main problem discussed in this study is how to implement cooperation in the Darul Ilmi Nagari Taeh Bukik Library, Lima Puluh Kota district, and the Information Institute. The purpose of this study was to describe the understanding of librarians about collaboration carried out in libraries and the implementation of collaboration between libraries and information institutions at the Darul Ilmi Nagari Nagari Taeh Bukik Library, Lima Puluh Kota district. The type of research used is descriptive qualitative research. Data collection techniques through observation, interviews, and documentation. Data analysis techniques start from data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Guarantee the validity of the data in this study using source triangulation. The results of the study show that there are several collaborations carried out by libraries and information institutions in the Darul Ilmi Nagari Taeh Bukik library, Lima Puluh Kota district. The collaboration was carried out with the regional library of the Lima Puluh Kota district and the library of West Sumatra Province, then with community organizations, and with the Payakumbuh Politani College. This collaboration is carried out to support a social inclusion-based library transformation program where the library is not only a place to borrow and return books but also a center for community activities. In carrying out this collaboration, there were several obstacles faced by the Darul Ilmi Nagari Taeh Bukik Library, Lima Puluh Kota District.
Keywords:
Implementasi
· Kerjasama Perpustakaan
· Lembaga Informasi
Introduction
Mengatasi tuntunan informasi pengguna, sangat penting bagi berbagai pihak untuk bekerjasama sambil mengatur perpustakaan untuk layanan perpustakaan. Untuk layanan perpustakan kerjasama antar perpustakaan mengacu pada tindakan yang diambil oleh sebanyak dua atau lebih perpustakaan yang ingin untuk mencapai tujuan sama.(Dalimunthe et al., 2023) Menurut peraturan UU Perpustakaan No. 43 Tahun 2007, Bab XI pada Pasal 42yang mengatur kerjasama di perpustakaan yaitu sebagai berikut: 1. Bersama-sama pemangku kepentingan yang berbeda uuntuk meningkatkan layanan pengguna 2. Peningkatan banyak pengguna yang dapat dilayankan dan peningkatan mutu pelayanan dsi perpustakaan merupakan tujuan bagian pelayanan. 3. Peningkatan pelayan sebagimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 dilakukan mealui kerjasama. (NASIONAL, 2007) Adapun beberapa bentuk kerjasama antara perpustakaan nagari Darul Ilmi dengan lembaga informasi lainnya adalah dengan perpustakaan kabupaten dan provinsi dalam bentuk pembinaan dan peminjaman koleksi buku (perpustakaan keliling), kemudian dengan organisasi masyarakat dalam bentuk narasumber kegiatan pelatihan dan mendanai perpustakaan, dan juga bekerja sama dengan perguruan tinggi(politani) dalam bentuk narasumber untuk mengisi kegiatan pelatihan dan penyuluhan kepada masyarakat.(Student et al., 2021) Keberadaan perpustakaan Darul Ilmi Taeh Bukik berfungsi dan berperan cukup penting dalam upaya memenuhi kebutuhan pemustaka yang mengunjungi perpustakaan sehingga kebutuhan tersebut dapat terwujudkan. B. KAJIAN TERDAHULU Sebuah penelitian dilakukan di Perpustakaan Darul Ilmi Nagari Taeh Bupik, kabupaten Lima Puluh Kota, yang berfokus pada implementasi kerja sama antara perpustakaan dan lembaga informasi. Penelitian tersebut menggambarkan pemahaman pustakawan tentang kolaborasi dan kendala yang dihadapi perpustakaan dalam melakukan kolaborasi. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh (Rahayu et al., 2023) Melalui kerjasama perpustakaan, pembaca dapat diberikan layanan informasi yang terbaik, baik di daerah terpencil maupun di kota metropolitan. Kerjasama perpustakaan juga membantu menyediakan akses yang lebih luas ke koleksi, meningkatkan layanan pemustaka, mengembangkan kegiatan di seluruh sumber daya, mengurangi kesamaan, dan membentuk layanan yang efektif. Dalam era keterbukaan saat ini, kerjasama dan jaringan antar lembaga informasi, termasuk perpustakaan, sangat penting untuk memenuhi kebutuhan pengguna dan memberikan layanan yang optimal. Kerjasama perpustakaan dapat membantu menyampaikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat. Dengan demikian, kesimpulan yang dapat diambil adalah kerjasama dan jaringan perpustakaan memiliki peran penting dalam meningkatkan layanan informasi, memenuhi kebutuhan pengguna, dan membangun hubungan yang lebih luas dengan komunitas pengguna. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Husna, 2017) mengemukakan bahwa Berdasarkan sumber yang dikutip, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan memainkan peran penting dalam menyebarluaskan pengetahuan dan mendukung penelitian di lembaga akademik. Untuk meningkatkan operasional dan layanannya, perpustakaan perlu menjalin kemitraan dan kolaborasi dengan institusi lain. Kemitraan ini dapat mengarah pada kemajuan dalam layanan perpustakaan, seperti penggunaan teknologi, program pelatihan untuk pustakawan, dan perluasan akses informasi. Selain itu, perpustakaan harus proaktif dalam merangkul perubahan dan menangkap peluang untuk pengembangan dan pemasaran. Dengan membentuk kemitraan, perpustakaan dapat bekerja sama, berkontribusi bersama, dan saling menguntungkan sumber daya dan keahlian masing-masing. Secara keseluruhan, kemitraan dan kolaborasi sangat penting untuk pertumbuhan dan peningkatan perpustakaan. Ditambah penelitian yang dilakukan oleh (Yusniah et al., 2022) mengemukakan bahwa kerjasama dan jaringan antar lembaga informasi, khususnya perpustakaan, sangat penting dalam memenuhi beragam kebutuhan informasi pengguna dan memberikan layanan yang optimal. Perpustakaan di perguruan tinggi berperan penting dalam menyediakan berbagai jenis sumber informasi untuk menunjang kegiatan akademik. Namun, perpustakaan menghadapi tantangan dalam memenuhi harapan pengguna yang tinggi karena sumber daya yang terbatas. Oleh karena itu, menjalin kerjasama dan jejaring dengan perpustakaan lain dapat membantu memenuhi kebutuhan koleksi, meningkatkan sumber daya manusia, dan meningkatkan akses informasi. Kolaborasi ini dapat melibatkan kegiatan seperti berbagi sumber daya, pengadaan bersama, penyimpanan, dan pemrosesan informasi. Selain itu, kerja sama antar pustakawan dan kolaborasi pendidikan dan pelatihan sangat penting untuk berbagi pengetahuan dan pengembangan profesional. Dengan membangun jaringan informasi dan kerjasama perpustakaan, perpustakaan dapat meningkatkan layanan mereka dan memenuhi kebutuhan penggunanya secara lebih efektif.
Method
Metode penyusunan pada penelitian ini memakai deskriptif kualitatif dengan pendekatan penelitian lapangan (field research). Menurut Djunaidi deskriptif kualitatif adalah langkah yang digunakan untuk menceritakan dan menjelaskan suatu objek, fenomena atau latar sosial pada sasaran penelitian yang digambarkan pada tulisan naratif terdapat metode pengumpulan data dalam metode ini yaitu, Wawancara, Observasi dan, Dokumenstasi. Pada penelitian ini, metode untuk mengumpulkan data digunakan dengan analisis dokumen yang berbentuk cetak dan bentuk dokumen elektronik, dan sumber data atau informasi lain yang sesuai dengan kajian penelitian. Peneliti memakai teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk teknik dalam observasi menggunakan observasi partisipatif, data ditemukan langsung dengan proses pengamatan dan memperhatikan suasana dilapangan. Proses wawancara yang lakukan memakai teknik wawancara terstruktur dan proses pendokumentasian dilakukan dengan merekam data, data penelitian yang sudah ada dicatat dibuku catatan, informasi dan yang diberikan narasumber maupun informasi dari dokumentasi meliputi struktur organisasi, geografi, keadaan tenaga kerja serta keadaan sarana dan prasarana.
Result & Discussion
Perpustakaan Darul Ilmi merupakan reingkarnasi dari pustaka Sentra Penyuluh Kehutanan Pedesaan (SPKP) Bungsu Sejati yang berdiri pada tahun 2014 melalui tangan dingin bapak Mukhtar Yunus yg menjabat sebagai penyuluh kehutanan waktu itu. Bantuan pustaka dari pemerintah itu tidak bertahan lama (mungkin hanya 3 bulan sejak diresmikan), karena tidak ada yang bisa mengelola dengan baik. Pengurus yang ditunjuk tidak bisa membuat pustaka berjalan sesuai harapan yang akhirnya rumah tempat aset pustaka diletakkan berupa buku, rak buku, dan kursi, diminta oleh yang punya, sehingga aset itu harus pindahkan. Darul Ilmi yang artinya Gudang ilmu menjadi pilihan. Distruktur organisasi atas nama Ritawati, SP, MP diletakkan di posisi koordinator. Posisi ini membuat saya merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan aset negara yang sudah dihibahkan kepada nagari Taeh Bukik. Waktu peresmian pustaka SPKP itu buk Rita belumlah siapa-siapa, baru seorang anak nagari yang baru tamat Master Pertanian yg bertugas sebagai Sarjana Pemberdayaan Masyarakat Nagari (SPMN), buk Rita belum punya daya untuk berbuat lebih, sehingga aset pustaka berserakan entah kemana. Sejak saat itu pendiri bertekad untuk membangun pustaka sendiri, di rumahnya. Pendiri sadar bahwa keberadaan pustaka sangat penting untuk memperbaiki SDM masyarakat, apalagi nagari Taeh Bukik berada dipelosok negeri yang jauh dari pustaka kabupaten. Orang akan memilih beli beras dari pada baca buku. Tahun 2014 merupakan masa transisi buk Rita dari SPMN menjadi dosen di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Seiring berjalannya waktu, perekonomianpun mulai membaik, buk Rita dan suami Efral diizinkan Allah untuk membangun rumah sendiri. Sejak awal didirikan rumah itu sudah dirancang untuk dijadikan pustaka. Rumah yang kecil berukuran 6x8 m dibuat senyaman dan seunik mungkin agar bisa menarik pembacanya kelak. Rumah itu dibuat dari bahan kayu, lemarinya kami desain khusus, bisa dilipat kesamping agar bisa memuat banyak orang, jika ditutup akan jadi satu ruangan. Lemari dibuat setinggi 3 m agar mampu memuat banyak buku. Karena keterbatasan dana rumah itu baru bisa ditempati pada september 2018 setelah 2 tahun proses pembangunan. Sekitar bulan april 2019 aset pustaka SPKP yang masih tersisa dibawa ke rumah, yaitu sejumlah buku-buku dan 1 rak buku. Sejak itu lemari buku yang sudah didesain khusus untuk pustaka itu kami isi dengan beberapa koleksi pribadi dan buku-buku dari pustaka SPKP. Bukunya banyak bertemakan pertanian dan peternakan. Sekitar bulan juni 2019 ibu Firda Rawasiyah seorang guru di SD Raudatul Jannah Payakumbuh yang diundang sebagai guru Tahsin ke Taeh Bukik menawarkan bagaimana kalau pustaka di rumah buk Rita dijadikan pustaka binaan sudut baca oleh bunda literasi. Nevi Zuairina. Dan akan diresmikan langsung oleh ibu Nevi, tawaran itu diterima pendiri dengan senang hati. Tujuan pendirian perpustakaan darul ilmi adalah untuk mendekatkan masyarakat dengan buku. Dan juga untuk mendukung program pemerintah yaitu literasi berbasis inklusi yang perpustakaan tidak hanya sebagai tempat membaca buku, tetapi banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan untuk memperbaiki ekonomi keluarga, seperti pelatihan memasak, membuat kerajinan tangan dan lain sebagainya.(Irhamna, 2017) Layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial diharapkan bisa menyediakan informasi yang menjadi stimulan masyarakat dalam ekonomi kreatif untuk menunjang ekonomi dan kesejahteraan hidup masyarakat sekitar perpustakaan.(Purwantini et al., 2021) Selain itu perpustakaan darul ilmi juga berupaya untuk meningkatkan minat baca anak di nagari Taeh Bukik, Kabupaten Lima Puluh Kota, dengan mengadakan lomba cerdas cermat untuk anak-anak, sebagai cara untuk menarik anak-anak datang ke rumah baca. Anak-anak ialah proses manusia yang sedang menjalankan sebuah perkembangan yang cepat dan penting untuk kehidupan selanjutnya. Dalam masa perkembangan tersebut anak membutuhkan ransangan stimulus yang berguna mengembangkan semua hal dan aspek yang berkaitan dengan perkembangan mereka. Masa ini menunjukkan bahwa dunia anak-anak adalah dunia petualangan, mereka ingin tau terhadap semua hal yang ada dilingkungannya. Disini perpustakaan berperan dalam memberi informasi untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anak tersebut, ilmu, pengetahuan, dan informasi yang diperoleh dengan kegiatan baca diperpustakaan bisa dijadikan bekal pembelajaran bagi mereka dimasa yang akan datang. Hal ini membuat pustakawan berperan untuk bisa membuat meningkatnya minat membaca pada perpustakaan seperti dengan cara mengadakan lomba-lomba seperti lomba cerdas cermat, di perpustakaan darul ilmi diadakan kegiatan wajib baca buku sebelum kegiatan lomba dimulai, kegiatan ini bisa dijadikan cara untuk membuat meningkatkannya minat baca anak yang sekaligus menjadi strategi pengenalan perpustakaan kepada anak.(Los, n.d.) Dalam hal ini pustakawan bisa menentukan bacaan yang tepat sesuai kemampuan anak ketika membaca. Seperti buku tentang cerita, majalah anak dan mainan edukasi lainnya. Semua hal itu harus menghibur sehingga anak tidak bosan ketika membaca diperpustakaan. Untuk bisa melaksanakan pembinaan pada kemampuan membaca anak, pustakawan harus bisa paham dengan kegiatan membaca agar kegiatan tersebut menjadi menyenangkan anak dan berfaedah sehingga pustakawan dapat membuat minat baca anakdi perpustakaan darul ilmi meningkat (Nurhani, 2017). 1. Kerjasama Perpustakaan Berdasarkan pengetahuan, kerjasama perpustakaan dapat didefinisikan sebagai kegiatan antara perpustakaan bekerjasama untuk mencapai tujuan tersebut yang sama dan mendukung satu sama lain dalam melaksanakantanggung jawabnya. Kerjasama merupakan tindakan membantu atau dilakukan bersama-sama. Sulistio Basuki mendefinisikan kerjasama yang dilaksanakan perpustakaan sebagai kerjasama yang menghubungkandua atau lebih perpustakaan (V.A.R.Barao et al., 2022). Kerjasama perpustakaan merupakan sebuah kegiatan yang menjadikan terlibatnya lembaga perpustakaan atau organisasi lain dan saling berfungsi dengan dasar bahwa setiap perpustakaan mempunyai sumber informasi yang sama, letaknya berdekatan, atau memiliki karakteristik lain yang sama. Jadi bisa disimpulkan kerjasama di perpustakaan mengacu pada kolaborasi dan melibatkan dua buah atau lebih (Winoto et al., 2018), Tujuan dan Manfaat Kerjasama Perpustaan, Tujuan kegiatan kerjasama di perpustakaan, dan Tujuan Kerjasama di perpustakaan dapat di gunakan sebagai bentuk aktivitas bersama yang melibatkan banyak kelompok dan saling mempunyai keuntungan agar tujuan dalam kerjasama yang dilakukan tercapai (Wibowo, 2017). Tujuan dari kerjasama di perpustakaan yaitu: a. Mempermudah dan meningkatkan akses pada layanan sumber dari informasi b. Bisa meningkatkan elastisitas dan reaksi dari kebutuhan informasi oleh pengguna di perpustakaan dengan memanfaatkan program kerjasama. c. Membuat kualitas dan efesiensi layanan di perpustakaan menjadi meningkat. d. Kegiatan promosi fasilitas, sarana dan prasarana secara terintekrasi memakai media informasi yang di sepakati. e. Sedangkan Manfaat dari Kerjasama Perpustakan f. Adanya bentuk perubahan dalam sebuah aspek pada sistem layanan dan penggunaanya secara maksimal di perpustakaan g. Bisa memecahkan beberapa masalah dengan berbagai resiko, keuntungan dan tanggung jawab, serta pengalaman perpustakaan. h. Membuat peningkatan hubungan yang awalnya sangat sederhana menjadi sistem jaringan yang lebih komplek yang melibatkan berbagai jenis organisasi baik dalam maupun luar negeri (V.A.R.Barao et al., 2022). Adapun beberapa bentuk kerjasama perpustakaan yaitu: a. Kerjasama berupa pengadaan Bentuk kerjasama berupa pengadaan yang banyak dilaksanakan diberbagai perpustakaan karena memperoleh banyak keuntungan seperti tepatnya anggaran, memudahkan kegiatan penyeleksian dan proses pemesanan terutama buku dari luar negeri, menghindari penduplikasian koleksi, dll. b. Bentuk pertukaran publikasi Kerjasama pertukaran publikasi ini perlu dilaksanakan terhadap buku pada bidang subyek yang sudah kurang diperlukan di perpustakaan tertentu tapi buku tersebut dibutuhkan oleh perpustakaan yang lain dan seperti itu juga sebaliknya, membuat koleksi tersebut dapat digunakan secara sepenuhnya. c. Kerjasama pelayanan teknis Bentuk kerjasama berupa layanan teknis meliputi pelaksanaan kegiatan kerja pengatalogan, klasifikasi dan penentuan tajuk subyek. Keuntungan yang bisa diambil ketika melakukan kerjasama di bidang ini adalah bentuk katalog yang seragam agar proses pertukaran data menjadi mudah, efisien atas penggunaan sumber daya manusia (pustakawan) serta dapat membuat kemampuan kerja pustakawan masing – masing perpustakaan menjadi lebih meningkat. d. Kerjasama pinjam antar perpustakaan Bentuk kerjasama pinjam meminjam antar perpustakaan sudah dilaksanakan dari ratusan tahun yang telah lalu. Kerjasama ini bisa dibedakan menurut kawasan daerah lokal, regional dan kawasan nasional.(Pangaribuan, 2008) 2. Lembaga Informasi Informasi adalah sebuah data yang dikelola dalam suatu bentuk yang memiliki arti bagi pemustaka atau pengguna informasi tersebut. Informasi adalah suatu yang bisa dijadikan sebagai dasar dalam mengambil keputusan untuk melaksanakan kegiatan atau pekerjaan oleh masyarakat dalam mencapai kehidupan yang baik. Lembaga informasi adalah sebuah lembaga yang memiliki berbagai tujuan untuk melaksanakan preservasi, konservasi, dan penyebaran konsep dan konten informasi. Lembaga informasi juga bisa dijelaskan sebagai lembaga yang mempunyai dan berbagi misi untuk melaksanakan preservasi, konservasi, dan penyebaran objek informasi dan konten informatifnya. Contoh lembaga informasi yaitu perpustakaan, arsip dan museum, kemudian lembaga informasi ini juga meliputi lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah yang bisa pengelola dan penyebar informasi terhadap pembahasan dan topic tertentu (Yusup et al., 2020). Contoh lembaga informasi yaitu: a. Perpustakaan, yaitu lembaga pengelola koleksi berupa karya yang tertulis, karya tercetak dan karya terekam secara kompeten dengan metode tepat yang bertujuan untuk terpenuhinya keperluan pendidikan, pelestarian, penelitian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. (Utama et al., 2017). b. Museum, yaitu suatu institusi sifatnya baku, yang bukan memerlukan keuntungan, kemudian memberikan pelayanan untuk masyarakat serta perkembangannya, terbuka terhadap umum, dan merawat hasil kebudayaan, menghubungkan, dan bertujuan studi untuk memamerkan, pendidikan dan kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya. (Matitaputy, 2007) c. Lembaga kearsipan, ialah sebuah institusi dibangun untuk melestarikan materi yang berkaitan dengan kearsipan yang dihasilkan dan bisa diterima oleh badan korporasi atau perorangan (Maslahah & Rahmawati, 2019). Beberapa tujuan adanya lembaga informasi bagi perpustakaan yaitu: a. Meningkatkan keterlibatan lembaga untuk memajukan perpustakaan yang ditata dan dikelola dengan sehat dan sehat baik dan bercitra. b. Menyediakan sebuah pelayanan berupa komunikasi dan teknologi informasi yang berkapasitas untuk seluruh pengguna informasi. c. Mengembangkan keuntungan center bidang teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung finansial perpustakaan.(Tujuan et al., n.d.) 3. Penerapan Kerja Sama di Perpustakaan Darul Ilmi Bentuk-bentuk kerjasama perpustakaan darul ilmi dengan lembaga informasi. Adapun bentuk kerjasama perpustakaan darul ilmi dengan lembaga lainnya yaitu: Melakukan kerjasama dengan perpustakaan daerah kabupaten lima puluh kota dan perpustakaan provinsi sumatera barat. Bentuk kerjasama perpustakaan darul ilmi dengan perpustakaan daerah kabupaten lima puluh kota yaitu melakukan peminjaman koleksi buku (perpustakaan keliling) dimana perpustakaan daerah Kabupaten Lima Puluh Kota mendatangi perpustakaan darul ilmi dengan pelayanan perpustakaan keliling. Pemustaka sangat terbantu dengan adanya layanan perpustakaan keliling ini karena mereka dapat mendapatkan koleksi terbaru atau yang belum ada di perpustakaan darul ilmi (Irhamna, 2017). Selain itu perpustakaan darul ilmi juga bekerja sama dengan perpustakaan Provinsi Sumatra Barat dalam bentuk pembinaan perpustakaan, pembinaan adalah suatu cara atau usaha yang selalu dilakukan agar perpustakaan dapat dipakai oleh pemustaka dalam mendapatkan informasi. (Rosita, 2021) System pembinaan suatu perpustakaan tidak bisa dipisahkan dari fungsi perpustakaan tersebut, karena system pembinaan perpustakan adalah upaya yang dapat meningkatkan kemampuan perpustakaan dalam melaksanakan fungsinya yang bertujuan untuk meningkatkan mutu dan kualitas penyelenggaraan perpustakaan agar bermanfaat bagi pemustaka pada perpustakaan darul ilmi (Wulansari et al., 2021). a. Melakukan kerjasama dengan ORMAS (Organisasi Masyarakat) Organisasi masyarakat ialah lembaga yang didirikan dari kelompok yang memiliki kesamaan tujuan yang berperan untuk pembangunan dalam masyarakat. Kerjasama dengan ormas ini berupa kerjasama dalam bentuk pendanaan, kegiatan pendanaan erat kaitannya dengan biaya. Ormas yang ada di Nagari Taeh Bukik memberikan dana untuk perpustakaan darul ilmi agar dapat melakukan pengadaan sarana, prasarana, koleksi, dan fasilitas sesuai yang dibutuhkan pemustaka perpustakaan darul ilmi (Dedi, 2015). b. Melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi politani. Kegiatan penyuluhan pertanian dari tim pengabdian masyarakat program studi Hortikultura kepada kelompok tani dengan tema mengoptimalkan lahan pekarangan bertujuan untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Kegiatan ini sangat berdampak bagi masyarakat, dimana pada kegiatan ini masyarakat diajak untuk memanfaatkan perkarangan rumah dengan menanam tanaman seperti sayur dan buah-buahan, dimana hasil dari tanaman ini dapat dijual dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Kegiatan ini merupakan program transformasi perpustakaan yang bertransformasi menjadi perpustakaan inklusi, yang perpustakaannya tidak hanya menyediakan layanan berupa meminjamkan buku tetapi juga memberikan kegiatan pelatihan yang diseleggarakan oleh suatu lembaga yang mempunyai tujuan agar kesejahteraan masyarakat meningkatkan. c. Kerjasama dengan Pemerintah Daerah Nagari taeh Bukik. Pemerintahan daerah adalah organisasi atau lembaga yang berfungsi menyelenggarakan pemerintahan local dan menjalankan kegiatan di wilayah local. Pemerintahan Nagari Taeh Bukik menjalankan fungsi kegiatannya dengan mengadakan pembinaan kepada masyarakat atau pemustaka di perpustakaan Darul Ilmi, Tujuan dari pembinaan adalah upaya membangun masyarakat agar bisa dalam melakukan pemecahan masalah yang dihadapi. Sikap mandiri dalam hal, bertindak, berfikir, dan mengendalikan yang dilksanakan dalam proses belajar (Asep Saeful Rohman, Wina Erwina, 20118). Oleh sebab itu, di lingkungan masyarakat harus di adakan sentral kegiatan belajar agar bisa memfasilitasi beragam kegiatan pemberdayaan untuk masyarakat. Sentral kegiatan belajar masyarakat adalah perpustakaan desa disitu ditemukan sumbersumber ilmu yang bisa membantu kegiatan menimba ilmu. Kegiatan pembinaan di perpustakaan darul ilmi seperti pelatihan kuliner seperti, membuat stik ubi kayu, keripik bayam, keripik jamur, dendeng daun singkong dan permen gula aren. Kegiatan pelatihan kuliner ini sangat bermanfaat bagi masyarakat karena informasi dan pengetahuan yang didapatkan dari pelatihan ini dapat diterapkan dalam kegiatan usaha yang dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat di nagari Taeh Bukik Kabupaten Lima Puluh Kota (Djaenuri, 2015). 4. Faktor pendorong perpustakaan darul ilmi bekerjasama dengan lembaga informasi Menunjang segala kegiatan yang di adakan oleh pustaka darul ilmi, maka faktor pendorong perpustakaan melakukan kerjasama dengan lembaga informasi yaitu: adanya sebuah kemajuan dan meluasnya ilmu pengetahuan, aktivitas pendidikan, kemajuan teknologi informasi, terbukanya peluang, penghematan, dan tuntutan masyarakat, dan menguntungkan di perpustakaan. Kendala perpustakaan Darul Ilmi dalam melaksanakan kerja sama dengan lembaga informasi. Kerjasama adalah sebuah kenyataan ketika perpustakaan saling membuat perjanjian dengan sebuah kerangka yang konseptual yang memudahkan mengembangkan pelayanan. Keberadaan kegiatan kerjasama dilakukan diberbagai aktivitas diperpustakaan pinjam meminjam, pertukaran data, atau pelatihan atau pembinaan di perpustakaan. Dalam melakukan kerjasama terdapat kendala yang dihadapi perpustakaan seperti kendala pada anggaran dana, jarak geografis, waktu, teknologi dan keterbatasan ruangan. Selama terjalinnya komunikasi yang baik antara perpustakaan dengan lembaga, maka hambatan yang ada di dalam kerjasama tersebut dapat diatasi.(P-issn et al., 2023). Perpustakaan Darul Ilmi melaksanakan fungsi komunikasi dalam melakukan kerjasama untuk menjadi jembatan bagi kedua pihak, membuat komunikasi akan terlaksana melewati dan menurunkan terjadinya miskomunikasi. Kepala perpustakaan yang terbuka dalam melaksanakan fungsi dalam mengaitkan persetujuan dan diskusi. Kendala yang dihadapi oleh perpustakaan darul ilmi dalam menjalankan kerjasama yaitu: a. Kendala dalam mendapatkan dana atau kurangnya biaya. Biaya ialah salah satu kendala dalam melakukan kerjasama di perpustakaan. Masih banyaknya jumlah perpustakaan yang belum menyediakan dan mempunyai biaya yang cukup untuk bekerjasama misalnya dengan pencarian informasi dengan teknologi, pengiriman buku dan pengembalian buku yang di pinjam (Suhardi, 2011). b. Waktu dan informasi Proses pertemuan yang langsung, seperti adanya kesepakatan kegiatan kerjasama, pembahasan, kegiatan penyuluhan, dan evaluasi dibutuhkan untuk dapat mencapai kegiatan kerjasama yang baik antara kedua belah pihak (Siregar, 2005). Yang menjadi sebuah rintangan oleh perpustakaan Darul ilmi dengan pihak lain untuk memanfaatkan waktu bersama karena jadwal dari lembaga lain tersebut padat. Penyesuaian jadwal dengan lembaga lain menjadi hambatan dalam melakukan kerjasama di perpustakaan Darul Ilmi. Perpustakaan ialah institusi yang berjalan dibidang informasi tapi pertukaran informasi tidak sering telaksana membuat masing-masing perpustakaan tidak tahu mengenai keadaan dan perkembangannya keadaan pada perpustakaan lainnya sehingga tidak termanfaatkan kelebihan dari perpustakaan lain. Dalam masyarakat informasi, membangun jaringan informasi dan komunukasi perlu untuk menggerakkan energi mencapai keberhasilan perpustakaan. Strategi mengatasi kendala kerjasama yang dihadapi perpustakaan darul ilmi yaitu: a. Kendalawaktu menjadi hambatan yang membuat lambatnya proses dilakukannya kerjasama. Untuk mengatasi hal ini maka perpustakaan darul ilmi melakukan fungsi komunikasi dengan menghubungi narasumber jauh-jauh hari sebelum kegiatan dilaksanakan atau membuat narasumber cadangan agar kegiatan pelatihan di perpustakaan Darul Ilmi tetap terlaksana. b. Kendala dana menjadi tantangan terbesar karena tidak adanya dana di perpustakaan maka perpustakaan tidak bisa melakukan kegiatan pengadaan, oleh karena itu perlu adanya sumber fasilitas bujet atau kebutuhan lain bukan hanya dapat mengandalkan salah satu pihak juga bisa di dapatkan dari dukungan kemitraan pihak. Misalnya pemerintah desa atau pemerintah daerah saja. Tetapi dukungan anggaran maupun kebutuhan lain dapat diperoleh melalui dukungan kemitraan dari pihak-pihak lain. (Hartono, 2017) Perpustakaan Darul Ilmi mengatasi hal ini dengan melakukan kegiatan yang menghasilkan dana seperti membuat kerajinan tangan, yang hasil penjualannya dapat dialokasikan untuk perpustakaan Darul Ilmi. Kemudian mencari donatur tetap yang bisa mendanai perpustakaan aggaran perpustakaan Darul Ilmi selalu bisa melakukan kegiatan pengadaan yang bertujuan untuk pengembangkan perpustakaan. 5. Alasan perpustakaan Darul Ilmi ikut serta dalam kerjasama dengan lembaga informasi Alasan perpustakaan darul ilmi ini melaksanakan kerjasama dengan lembaga informasi yaitu untuk mendukung program yang melakukan transformasi di perpustakaan yang berbasis inklusi sosial. Transformasi perpustakaan nagari berperan utama terhadap menambah nilai informasi dan pemberian layanan jasa terhadap pengguna dalam memenuhi kebutuhan informasi pengguna.(Putri & Permata, 2019) Inklusi adalah pendekatan dalam membangun dan mengembangakan sebuah kehidupan yang mengikut sertakan masyarakat dengan berbagai latarbelakang. Perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah perpustakaan yang melakukan penawaran berupa jasa layanan informasi kepada masyarakat untuk bisa meningkatkan potensi diri untuk peningkatan perekonomian.(Utami et al., 2020) Program kerjsama dimanfaatkan darul ilmi guna menjakankan program transformasi perpustakaan yang berbasis inklusi yang perpustakaan bukan sekedar lokasi meminjam dan membaca buku, tapi menjadi sentral kegiatan masyarakat guna meningkatkan ekonomi masyarakat.
Conclusion
Kerjasama Perpustakaan adalah ketangkasan yang membantu dilaksanakan secara bersama, maka dapat disimpukan kerjasama perpustakaan berarti kegiatan antara beberapa perpustakaan secara bersama melakukan suatu usaha yang berguna untuk mencapai sebuah tujuan yang satu atau saling membantu ketika menjalankan tugasnya. Tujuan adanya lembaga informasi bagi perpustakaan yaitu: Meningkatkan peran dan keterlibatan lembaga untuk memajukan perpustakaan yang ditata dan dikelola dengan sehat, baik dan bercitra, dan Menyediakan berupa pelayananan berupa teknologi informasi dan komunikasi yang bermanfaat untuk semua pengguna informasi. Bentuk-bentuk kerjasama perpustakaan darul ilmi dengan lembaga informasi lainnya yaitu: Melakukan kerjasama dengan perpustakaan daerah kabupaten lima puluh kota dengan perpustakaan provinsi sumatera barat, Melakukan kerjasama dengan ORMAS (Organisasi Masyarakat), Melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi politani, dan Kerjasama dengan Pemerintah Daerah Nagari taeh Bukik. Bentuk kerjasama perpustakaan darul ilmi dengan perpustakaan daerah kabupaten lima puluh kota yaitu melakukan peminjaman koleksi buku (perpustakaan keliling) dimana perpustakaan daerah Kabupaten Lima Puluh Kota mendatangi perpustakaan darul ilmi dengan pelayanan perpustakaan keliling. Selain itu perpustakaan darul ilmi juga bekerja sama dengan perpustakaan Provinsi Sumatra Barat dalam bentuk pembinaan perpustakaan, system pembinaan suatu perpustakaan tidak bisa dipisahkan dari fungsi perpustakaan tersebut, karena system pembinaan perpustakan adalah upaya yang dapat meningkatkan kemampuan perpustakaan dalam melaksanakan fungsinya yang bertujuan untuk meningkatkan mutu dan kualitas penyelenggaraan perpustakaan agar bermanfaat bagi pemustaka pada perpustakaan darul ilmi. Kegiatan ini merupakan program transformasi perpustakaan yang bertransformasi menjadi perpustakaan inklusi, yang perpustakaannya tidak hanya menyediakan layanan berupa meminjamkan buku tetapi juga memberikan kegiatan pelatihan yang diseleggarakan oleh lembaga yang mempunyai tujuan dalam meningkatkan kesejahteraan dimasyarakat. Faktor pendorong perpustakaan darul ilmi bekerjasama dengan lembaga informasi Untuk menunjang segala kegiatan yang di adakan oleh pustaka darul ilmi, maka faktor pendorong perpustakaan melakukan kerjasama dengan lembaga informasi yaitu: adanya suatu perkembangan pada bidang pengetahuan, kegiatan pendidikan meluas, teknologi informasi maju, terbukanya peluang, permintaan dari masyarakat, dan penghematan di perpustakaan. Kendala kerjasama di perpustakaan darul ilmi yaitu: Kendala dalam mendapatkan dana atau kurangnya biaya, dan Kendala dana menjadi tantangan terbesar karena tidak adanya dana di perpustakaan maka perpustakaan tidak bisa melakukan kegiatan pengadaan, perpustakaan Darul Ilmi mengatasi hal ini dengan melakukan kegiatan yang menghasilkan dana seperti membuat kerajinan tangan, yang hasil penjualannya dapat dialokasikan untuk perpustakaan Darul Ilmi. Kemudian strategi yang dilakukan untuk dapat mengatasi kendala tersebut adalah mencari donatur tetap yang bisa mendanai perpustakaan aggaran perpustakaan Darul Ilmi selalu bisa melakukan kegiatan pengadaan yang bertujuan untuk pengembangkan perpustakaan. Alasan perpustakaan Darul Ilmi ikut serta dalam kerjasama dengan lembaga informasi Alasan perpustakaan darul ilmi ini melaksanakan kerjasama dengan lembaga informasi yaitu untuk mendukung program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.