PENERAPAN KNOWLEDGE SHARING DI PERPUSTAKAAN: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW
Universitas Indonesia; Universitas Indonesia
Abstrak
Kegiatan mengeksplorasi dan mengelola pengetahuan merupakan bagian dari aktivitas knowledge management dan kegiatan yang paling banyak dilakukan dalam knowledge management adalah kegiatan knowledge sharing. Penerapan knowledge sharing di perpustakaan begitu penting karena dalam kegiatan ini akan terjadi proses berbagi pengetahuan. Penelitian ini menggunakan Systematic Literature Review (SLR) pada artikel jurnal yang terbit di tahun 2017-2021 di Indonesia dengan menetapkan tiga Research Question (RQ). Hasil akhir yang diperoleh yaitu terdapat berbagai kegiatan yang dilakukan dalam rangka penerapan knowledge sharing di perpustakaan, seperti diskusi, seminar, berbagi pengalaman, storytelling, rapat, pertemuan tatap muka, pembuatan SOP, pembuatan modul literasi informasi, laporan hasil seminar dan workshop, notulensi rapat, modul pelatihan, rekaman audio pembelajaran di kelas, pembuatan tautan materi seminar yang dibagikan secara online, kliping surat kabar, berbagi informasi melalui cloud computing, mengajari penggunaan OPAC, dan lainnya. Penerapan knowledge sharing di perpustakaan juga memberikan manfaat yaitu meningkatkan kinerja pustakawan dan kinerja perpustakaan. Penerapan knowledge sharing tidak lepas dari berbagai hambatan yang dominan justru berasal dari SDM perpustakaan sendiri yaitu kurangnya kesadaran diri akan kontribusi dalam proses berbagi pengetahuan, rendahnya keinginan untuk berbagi, kurang percaya diri untuk berbagi pengetahuan, dan kesulitan komunikasi. Sedangkan untuk faktor budaya dan teknologi tidak terlalu menjadi hambatan.
Abstract
The activities of exploring and managing knowledge are part of knowledge management and the activities that are mostly carried out in knowledge management are knowledge sharing. The implementation of knowledge sharing in the library is so important because in this activity there will be a process of sharing knowledge. This study uses a Systematic Literature Review (SLR) on journal articles published in 20172021 in Indonesia by setting three Research Question (RQ). The final result obtained is that there are various activities carried out in the context of implementing knowledge sharing in the library, such as discussions, seminars, sharing experiences, storytelling, meetings, face-to-face meetings, making SOPs, making information literacy modules, reports on the results of seminars and workshops, meeting minutes , training modules, audio recordings of classroom lessons, creating links to seminar materials to share online, newspaper clippings, sharing information through cloud computing, teaching the use of OPAC, and more. The implementation of knowledge sharing in the library also provides benefits, namely improving the performance of librarians and library performance. The application of knowledge sharing cannot be separated from various obstacles, the dominant ones coming from the library's own human resources, namely the lack of self-awareness of the contribution to the knowledge sharing process, low desire to share, lack of confidence in sharing knowledge, and communication difficulties. Meanwhile, cultural and technological factors are not too much of an obstacle.
Keywords:
Knowledge Sharing
· Knowledge Management
· SLR
· Perpustakaan
Introduction
Perpustakaan menghadapi tantangan besar di era digital yang berkembang sangat cepat seperti saat ini. Kebutuhan informasi pemustaka pun semakin kompleks dan menjadi tantangan tersendiri bagi perpustakaan. Namun hal ini menjadi peluang bagi perpustakaan untuk menyediakan sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka secara efektif dan efisien. Pemustaka saat ini lebih banyak memilih mendapatkan informasi melalui internet daripada berkunjung langsung ke perpustakaan. Apabila perpustakaan tidak memiliki inovasi untuk menarik pemustaka, maka perpustakaan akan ditinggalkan oleh pemustaka. Kemajuan sebuah perpustakaan tidak hanya bergantung pada kualitas koleksi tetapi juga pada kualitas dan kreativitas pustakawan sebagai sumber daya manusia perpustakaan. Pustakawan perlu memiliki semangat belajar yang tinggi, berinovasi dan harus memiliki visi ke depan. Sumber daya manusia berapapun jumlahnya, entah itu banyak atau sedikit, apabila tidak dikelola dengan baik, tidak memiliki inovasi dan tidak memiliki visi ke depan, maka tidak akan berdaya guna. Melihat hal ini, perpustakaan perlu beradaptasi, melakukan berbagai kegiatan untuk mengeksplorasi dan mengelola pengetahuan tacit yang dimiliki oleh pustakawan agar dapat berdaya guna dan dapat memajukan perpustakaan dengan segala macam inovasi. Kegiatan mengeksplorasi dan mengelola pengetahuan merupakan bagian dari aktivitas knowledge management, dimana suatu organisasi dapat mengcapture, menyaring, menyimpan, dan mendistribusikan pengetahuan tersebut. Knowledge sharing merupakan salah satu kegiatan yang paling banyak dilakukan perpustakaan dalam proses knowledge management. Penerapan knowledge sharing di perpustakaan begitu penting karena dalam proses ini akan terjadi proses berbagi pengetahuan tacit menjadi pengetahuan eksplisit atau sebaliknya. Knowledge sharing diyakini mampu mendorong kreativitas dan inovasi pustakawan. Banyak perpustakaan yang berharap akan berhasil menerapkan knowledge sharing, namun ada pula yang gagal menerapkannya. Salah satu yang memicu kegagalan penerapan knowledge sharing di perpustakaan antara lain minimnya apresiasi yang diberikan oleh perpustakaan sehingga pustakawan merasa keberatan untuk melakukan transfer pengetahuan. Alasan lain kegagalan penerapan knowledge sharing di perpustakaan yaitu adanya kekhawatiran akan hilangnya kemampuan jika berbagi, dan kurangnya kepercayaan diantara rekan kerja (Anna, 2016). Penelitian mengenai penerapan knowledge sharing di perpustakaan lebih banyak dilakukan di perpustakaan perguruan tinggi salah satunya penelitian penerapan knowledge sharing di Perpustakaan Universitas Mercubuana Cabang Cibubur. Kegiatan knowledge sharing begitu beragam dari kegiatan informal yaitu sekedar bertanya tentang buku dan tugas kuliah sampai dengan kegiatan formal yaitu dengan memberikan pelatihan literasi informasi (Syam, 2017). Penerapan knowledge sharing di perpustakaan khusus, perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah juga telah banyak dilakukan dan hasilnya begitu banyak kegiatan knowledge sharing yang secara tidak sadar telah dilakukan oleh pustakawan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bagaimana penerapan knowledge sharing di perpustakaan, tidak hanya di perpustakaan perguruan tinggi tetapi juga semua jenis perpustakaan untuk mendapatkan keberagaman kegiatan, manfaat dan hambatan dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR). Metode SLR digunakan untuk me-review artikel penelitian sebelumnya sehingga dapat memberikan referensi bagi perpustakaan khususnya dalam rangka penerapan knowledge sharing di perpustakaan. B. KAJIAN TERDAHULU Penelitian mengenai penerapan knowledge sharing di perpustakaan dengan metode kualitatif sudah banyak dilakukan. Namun berdasarkan pengetahuan penulis, penelitian serupa dengan menggunakan metode SLR guna mendapatkan informasi terkait berbagai bentuk kegiatan, manfaat dan hambatan dalam penerapan knowledge sharing dari berbagai jenis perpustakaan belum penulis temukan. Penulis menemukan sebanyak sebelas judul artikel ilmiah berbahasa Indonesia yang sesuai dengan penelitian ini dan melakukan review untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan penelitian yang telah dirancang sebelumnnya. Sebelum jauh membahas mengenai bentuk kegiatan, manfaat dan hambatan terkait penerapan knowledge sharing di perpustakaan, tentunya kita harus paham terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan knowledge sharing. Knowledge sharing diartikan sebagai bagian dari kegiatan knowledge management, yaitu memberikan kesempatan kepada seluruh anggota organisasi secara luas untuk belajar sehingga kompetensi secara mandiri dapat ditingkatkan (Tobing dalam Widuri, 2018). Dalam penerapan knowledge sharing di perpustakaan, tidak terlepas dari pengetahuan tacit dan eksplisit. Pengetahuan tacit yaitu pengetahuan yang berada di dalam pikiran manusia, sulit untuk ditransfer kepada orang lain. Sedangkan pengetahuan eksplisit yaitu pengetahuan yang telah dikodifikasi dalam wujud lain seperti misalnya dalam bentuk dokumen sehingga mudah ditransfer kepada orang lain. Menurut Nonaka dan Takeuchi (1995), penciptaan knowledge dapat dicapai dengan mengkonversi pengetahuan tacit dan eksplisit. Mereka mengemukakan 4 model konversi pengetahuan yang dikenal dengan Model SECI, yang dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Socialization (Tacit to Tacit) Yaitu proses berbagi pengetahuan tacit secara langsung kepada orang lain. Contohnya yaitu percakapan, diskusi dan seminar. 2. Externalization (Tacit to Eksplisit) Yaitu proses berbagi pengetahuan tacit yang diartikulasikan dalam bentuk karya tulis atau dokumen. Contohnya yaitu buku, artikel, dan laporan. 3. Combination (Eksplisit to Eksplisit) Yaitu proses berbagi pengetahuan dengan cara menggabungkan pengetahuan eksplisit yang berbeda ke dalam pengetahuan eksplisit yang baru. Contohnya yaitu melakukan analisis, penyusunan kembali ataupun pengelompokan. 4. Internalization (Eksplisit to Tacit) Yaitu proses berbagi pengetahuan dimana pengetahuan eksplisit dimanfaatkan secara bersama-sama untuk mengembangkan mengembangkan pengetahuan tacit. Pada organisasi perpustakan, kegiatan knowledge sharing dapat dilakukan dengan berbagi pengetahuan dan informasi dari hasil seminar, pelatihan, atau workshop. Selain itu dapat juga dengan berbagi cerita dari sumber informasi yang sudah dibaca, melakukan diskusi melalui mailing list atau grup whatsapp, menulis opini di berbagai media, menulis artikel atau kegiatan apapun yang dapat diambil manfaatnya oleh rekan pustakawan lain (Syam, 2017). Selain itu, saling berbagi pengetahuan di antara pustakawan dengan pemustaka dapat dilakukan dengan cara pengisian melakukan kegiatan literasi informasi, pendidikan pemakai, menyediakan form saran dan kritik, survei dan sebagainya. Knowledge sharing memiliki berbagai manfaat yaitu: 1. Membangun kepercayaan diantara pustakawan dengan manajemen ataupun antara sesama rekan pustakawan. Manfaat adanya kepercayaan ini yaitu akan terbangun komunikasi yang baik dan efektif antara sesama pustakawan dan memperkecil gap komunikasi antar individu di perpustakaan. 2. Membangun keterbukaan yang berkaitan dengan budaya dan personaliti. Kelompok-kelompok diskusi kecil antar pustakawan perlu dilakukan untuk membangun keterbukaan diantara sesama pustakawan. 3. Memberikan akses pengetahuan dan kesempatan belajar untuk para pustakawan. 4. Membantu mempercepat penyelesaian masalah yang terjadi dan memperlancar penyelesaian tugas-tugas. 5. Meningkatkan kompetensi organisasi dan daya saing profesi (Widuri, 2018). 6. Budaya berbagi pengetahuan merupakan kunci sukses dari penerapan manajemen pengetahuan karena individu yang berbagi pengetahuan tidak akan kehilangan pengetahuan yang sudah ada padanya, tetapi semakin menambah nilai dari pengetahuan tersebut, terlebih jika pengetahuan tersebut dimanfaatkan oleh banyak orang (Tobing dalam Syam, 2017). Budaya berbagi pengetahuan dapat ditumbuh dan kembangkan dengan cara: 1. Semangat untuk saling berbagi 2. Adanya iklim keterbukaan 3. Pustakawan bersemangat untuk terus menerus belajar 4. Perpustakaan dapat menerima setiap kritik dan saran pemustaka 5. Adanya kepercayaan dan saling mendukung satu sama lain baik itu antar rekan pustakawan maupun antara pustakawan dengan pimpinan 6. Saling menghargai pendapat orang lain Perpustakaan perlu mempertimbangkan adanya pemberian insentif atau penghargaan kepada para pustakawan yang bersedia berbagi pengetahuan. Pemberian reward tersebut dapat berupa penilaian atas kinerja pustakawan yang nantinya dapat berguna dan menjadi nilai tambah untuk kepentingan peningkatan jenjang karir pustakawan tersebut (Shixing, 2005). Tantangan dan hambatan dalam penerapan berbagi pengetahuan di perpustakaan dibagi menjadi tiga faktor, yaitu: 1. Faktor Manusia Hambatan yang berasal dari faktor manusia merupakan hambatan personal atau berasal dari dalam diri orang yang memiliki pengetahuan tersebut. Contoh hambatan dari faktor manusia yaitu rendahnya keinginan seseorang untuk berbagi pengetahuan, kesulitan dalam mengkomunikasikan pengetahuan, kurang percaya diri akan pengetahuan yang dimiliki, rendahnya kemampuan dan keterampila untuk mempresentasikan pengetahuan, kurangnya kemampuan menyerap pengetahuan yang telah dibagi, dan lain sebagainya. 2. Faktor Budaya Faktor budaya memegang peranan penting dalam mendukung suksesnya proses penerapan knowledge management (Setiarso dalam Nawawi, 2012). Anggota organisasi yang menyadari akan pentingnya pengetahuan, akan rela berbagi pengetahuan kepada anggota organisasi lain. Namun tidak semua anggota organisasi menyadari hal tersebut, sehingga organisasi perlu menumbuhkan budaya berbagi pengetahuan dengan berbagai strategi sebagai contoh dengan mewajibkan setiap anggota organisasi untuk menggali dan membagi pengetahuan, memberikan sistem reward kepada anggota yang melakukan kegiatan berbagi pengetahuan, adanya sistem rotasi kerja dan menyediakan sarana dan prasarana untuk kegiatan berbagi pengetahuan. 3. Faktor Teknologi Teknologi bukan merupakan komponen utama dalam kegiatan knowledge management. Namun, semakin besar suatu organisasi menerapkan knowledge management, maka teknologi juga harus dibangun. Misalnya forum diskusi, maka hasil diskusi tersebut sebaiknya disimpan di repository organisasi untuk kemudian di share kepada yang lain (Widuri, 2018).
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) yaitu pendekatan untuk mensintesis (merangkum) hasil penelitian yang bersifat kualitatif deskriptif. SLR adalah metode penelitian yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi dan menginterpretasi hasil penelitian dengan subyek yang sama atau sejenis untuk menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian, topik atau subyek tertentu ataupun fenomena yang sedang menjadi perhatian. Dari data yang didapat, kemudian akan diidentifikasi, dianalisis, selanjutnya diinterpretasikan sehingga menghasilkan suatu kesimpulan. (Kitchhenham dalam Siswanto, 2010). Metode mensintesis berbagai hasil penelitian kualitatif yang sejenis ini disebut dengan "meta-sintesis". Meta-sintesis adalah sebuah teknik yang dilakukan untuk menggabungkan data yang diperoleh sehingga menghasilkan konsep baru atau pemahaman yang mendalam (Perry & Hammond, 2002). Tujuan dari metasintesis yaitu membantu membuat kesimpulan dari banyaknya informasi yang diperoleh. Terdapat beberapa tahapan yang dilakukan dalam melakukan penelitian SLR, yaitu: 1. Mengidentifikasi pertanyaan penelitian. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apa yang menjadi fokus permasalahan. 2. Mengembangkan istilah pencarian untuk memberikan pedoman berupa literasi terkait. 3. Menetapkan database yang digunakan untuk pencarian artikel penelitian. 4. Menyeleksi artikel penelitian yang sesuai atau relevan dengan topik penelitian. 5. Setelah mendapatkan artikel penelitian yang relevan, selanjutnya melakukan pemilihan kembali artikel penelitian yang berkualitas (sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi). 6. Melakukan analisis dan sintesis temuan-temuan artikel. 7. Membuat kesimpulan. 8. Penyajian hasil (Perry & Hammond, 2002). Pertanyaan Penelitian Dalam mengidentifikasi pertanyaan dan batasan penelitian, strategi yang digunakan peneliti dengan menggunakan pendekatan PICOC, yaitu: 1. Population, yaitu masalah yang akan dianalisis atau populasi. Penelitian mengenai: Penerapan Knowledge Sharing di Perpustakaan. 2. Intervention, yaitu batasan yang diterapkan. Batasan pada penelitian ini yaitu bentuk kegiatan, manfaat dan hambatan penerapan knowledge sharing di perpustakaan. 3. Comparison, yaitu penatalaksanaan yang dilakukan sebagai pembanding. Penulis tidak menerapkan pembanding. 4. Outcomes, yaitu hasil yang diperoleh pada penelitian. Luaran hasil penelitian yaitu mengidentifikasi bentuk kegiatan, manfaat dan hambatan knowledge sharing di perpustakaan yang tidak terbatas pada perpustakaan perguruan tinggi semata, namun juga dari berbagai jenis perpustakaan. 5. Context, yaitu review dari hasil investigasi penelitian. Mengacu pada cakupan penelitian di atas, maka ditetapkan pertanyaan penelitian atau Research Questions (RQ) sebagai berikut: RQ1 : Apa kegiatan yang dilakukan dalam rangka penerapan knowledge sharing di perpustakaan? RQ2 : Apa manfaat penerapan knowledge sharing di perpustakaan? RQ3 : Apa hambatan penerapan knowledge sharing di perpustakaan? Strategi Penelusuran Dalam tahap eksekusi ini strategi penelusuran artikel dilakukan dengan memasukkan formula istilah pencarian, menelusur sumber literatur dari database online yang telah ditentukan, menentukan kriteria inklusi dan eksklusi dan melakukan penilaian kualitas hasil penelusuran. Istilah Penelusuran Peneliti menyusun beberapa formula untuk melakukan penelusuran melalui Google Scholar kemudian menentukan apa saja yang akan menjadi kriteria inklusi dan eksklusi serta melakukan penilaian kualitas hasil penelusuran. Penelusuran dalam penelitian menggunakan metode pencarian Boolean dengan menggunakan fungsi “AND”. Fungsi Boolean “AND” bertujuan agar hasil penelusuran yang dihasilkan merupakan gabungan dari dua atau lebih unsur kata kunci yang berkaitan dengan topik penelitian. Peneliti menyusun formula pencarian dengan menelusuri kata kunci “Penerapan” AND “Knowledge Sharing” AND “Perpustakaan” dengan mengatur rentang waktu pencarian dalam rentang waktu lima tahun yaitu dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2021 pada Google Scholar. Sumber Literatur Dalam melakukan pencarian artikel, penelitian ini menggunakan portal database Google Scholar. Portal database tersebut dipilih karena memiliki cakupan yang luas dan open access sehingga sangat memudahkan dalam melakukan penelusuran terkait topik penelitian yaitu mengenai Penerapan Knowledge Sharing di Perpustakaan. Adapun batasan sitasi yang digunakan adalah publikasi dalam rentang tahun 2017-2021 atau lima tahun terakhir terhitung dari saat penelitian dilakukan yaitu pada Desember 2021. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria inklusi dan eksklusi digunakan untuk menyeleksi artikel yang berkualitas untuk menjawab pertanyaan dalam penelitian ini. Kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini, yaitu: 1. Kriteria inklusi: a. Semua artikel ilmiah yang dipublikasikan dengan Bahasa Indonesia b. Semua artikel ilmiah yang dipublikasi lima tahun terakhir terhitung mulai tahun 2017-2021 c. Semua artikel ilmiah yang tersedia full-teksnya (full-text available) d. Semua artikel ilmiah yang berfokus pada topik penelitian 2. Kriteria eksklusi a. Artikel ilmiah yang dipublikasikan dengan menggunakan selain Bahasa Indonesia b. Artikel ilmiah yang dipublikasikan sebelum tahun 2017 dan sesudah tahun 2021 c. Artikel ilmiah yang tidak tersedia full-teksnya (request full-teks) d. Artikel ilmiah yang tidak sesuai dengan topik penelitian Penilaian Kualitas Penelusuran Pada tahap selanjutnya, artikel penelitian yang digunakan akan dievaluasi berdasarkan kriteria penilaian kualitas atau Quality Assessment (QA) sebagai berikut: QA1 : Menyebutkan kegiatan yang dilakukan dalam rangka penerapan knowledge sharing di perpustakaan. QA2 : Menjelaskan manfaat penerapan knowledge sharing di perpustakaan. QA3 : Menjelaskan hambatan dalam penerapan knowledge sharing di perpustaka
Result & Discussion
Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan melalui Google Scholar dengan kata kunci “Penerapan” AND “Knowledge Management” AND “Perpustakaan”, dengan batasan rentang waktu lima tahun yaitu mulai tahun 2017 sampai dengan tahun 2021, ditemukan hasil sebanyak 166 artikel ilmiah yang berkaitan dengan kata kunci pencarian. Tahap selanjutnya adalah melakukan seleksi terhadap artikel ilmiah hasil penelusuran berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil seleksi menghasilkan 11 artikel ilmiah yang termasuk dalam kriteria inklusi dan dianggap relevan dengan fokus penelitian yaitu peranan knowledge sharing di perpustakaan. Kesebelas artikel tersebut kemudian diberikan kode A1 hingga A11 untuk mempermudah proses review. Gambar 1. Tahapan dan Hasil Seleksi Artikel Adapun kesebelas artikel jurnal ilmiah tersebut adalah sebagai berikut. Tabel 1. Kode dan Judul Artikel Kode Judul A1 Syam, A. M. (2017). “Penerapan Knowledge Sharing di Perpustakaan: Studi Kasus di Perpustakaan Univ. Mercubuana Cab. Cibubur” A2 Handayani, F. (2019). “Penggunaan Cloud Computing sebagai Knowledge Sharing Pustakawan di Perpustakaan” A3 Sari, S. F. (?). “Pengaruh Knowledge Sharing Enabler Terhadap Kinerja Karyawan” A4 Fauzie, N. D. (2017). “Sharing Knowledge Perpustakaan Embrio Manajemen Pengetahuan UMY” A5 Raihana, R. & Salim, T.A. (2020). “Knowledge Sharing pada Mahasiswa Baru: Studi Kasus pada Mahasiswa Baru Ilmu Perpustakaan Program Sarjana Universitas Indonesia” A6 Widuri, N. R. (2018). “Penerapan Knowledge Sharing (Berbagi Pengetahuan) di Kalangan Pustakawan” A7 Qosiahana, A. & Setyadi, A. (2019). “Analisis Knowledge Sharing pada Kelas Bahasa Arab di Perpustakaan Multimedia Masjid Imam Asy Syafi’i Pekalongan” A8 Adiprabowo, H. N., Yusup, P. M., & Anwar, R. K. (2019). “Berbagi Pengetahuan sebagai Pembelajaran Organisasi di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia” A9 Yunianti, A. D. & Laksmi. (2020). “Penerapan Berbagi Pengetahuan Staf Perpustakaan Lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Wilayah DKI Jakarta” A10 Susiati, T. & Rahayuningsih, F. (2020). “Knowledge Sharing In Practice: A Case Study In The Yogyakarta Library” A11 Ragili, B. A. Winoto, Y., & Yanto, A. (2020). “Transfer Pengetahuan di Perpustakaan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia” Diskusi Pada bagian ini peneliti menganalisis pertanyaan yang telah dibuat dan mempresentasikan hasil yang terkait dengan pertanyaan penelitian. RQ1 : Apa kegiatan yang dilakukan dalam rangka penerapan knowledge sharing di perpustakaan? Dari 11 artikel yang ditinjau, peneliti mengumpulkan beragam bentuk kegiatan yang dilakukan dalam rangka penerapan knowledge sharing di perpustakaan, yaitu: 1. Socialization (Tacit to Tacit) Yaitu proses berbagi pengetahuan tacit secara langsung kepada orang lain (Nonaka & Takeuchi, 1995). Ditemukan sebanyak 9 artikel yang memaparkan mengenai kegiatan knowledge sharing di perpustakaan dengan model socialization. Artikel tersebut yaitu artikel A1, A3, A4, A5, A6, A7, A8, A9, dan A11. Bentuk kegiatan yang dapat diterapkan di perpustakaan yaitu diskusi baik tatap muka maupun diskusi melalui whatsapp, storytelling, rapat, seminar, workshop, pelatihan, ceramah dan percakapan Tanya jawab. 2. Externalization (Tacit to Eksplisit) Yaitu proses berbagi pengetahuan tacit yang diartikulasikan dalam bentuk karya tulis atau dokumen (Nonaka & Takeuchi, 1995). Ditemukan sebanyak 4 artikel yang memaparkan mengenai kegiatan knowledge sharing di perpustakaan dengan model externalization. Artikel tersebut yaitu artikel A1, A6, A7 dan A11. Bentuk kegiatan yang dapat diterapkan di perpustakaan yaitu membuat SOP kegiatan perpustakaan, membuat laporan perjalanan dinas, membuat notulensi rapat, membuat modul pelatihan literasi informasi atau pelatihan lainnya, membuat link materi seminar yang pernah diikuti, membuat kliping surat kabar, membuat rekaman audio pembelajaran di kelas, dan membuat laporan dari hasil seminar dan workshop. 3. Combination (Eksplisit to Eksplisit) Yaitu proses berbagi pengetahuan dengan cara menggabungkan pengetahuan eksplisit yang berbeda ke dalam pengetahuan eksplisit yang baru (Nonaka & Takeuchi, 1995). Ditemukan sebanyak 4 artikel yang memaparkan mengenai kegiatan knowledge sharing di perpustakaan dengan metode combination. Artikel tersebut yaitu artikel A2, A4, A7 dan A11. Bentuk kegiatan yang dapat diterapkan di perpustakaan yaitu menggunakan cloud computing untuk memberikan kenyamanan terhadap akses jaringan untuk tujuan berbagi sumber daya komputasi yang telah dikonfigurasi, membuat laporan seminar atau pelatihan dan mempresentasikannya kembali di hadapan pimpinan atau pustakawan lain, dan membuat rekaman audio pembelajaran di kelas kemudian di-share pada grup whatsapp. 4. Internalization (Eksplisit to Tacit) Yaitu proses berbagi pengetahuan dimana pengetahuan eksplisit dimanfaatkan secara bersama-sama untuk mengembangkan pengetahuan tacit (Nonaka & Takeuchi, 1995). Ditemukan sebanyak 4 artikel yang memaparkan mengenai kegiatan knowledge sharing di perpustakaan dengan metode internalization. Artikel tersebut yaitu artikel A1, A4, A5 dan A10. Bentuk kegiatan yang dapat diterapkan di perpustakaan yaitu pustakawan mengajari pemustaka menggunakan OPAC, pelatihan literasi informasi, berbagi pengalaman mengenai strategi penulisan tugas akhir, sharing antar pegawai yang memiliki kompetensi tertentu seperti mengajar bahasa inggris tingkat dasar, pelatihan aplikasi reference manager, pelatihan plagiarisme checker, dan pelatihan akses sumber daya informasi perpustakaan. (lihat tabel 2). Tabel 2. Kegiatan Knowledge Sharing Kode Kegiatan Knowledge Sharing A1 Diskusi, membuat SOP pelayanan, mengajari pengguna menggunakan OPAC, pelatihan literasi informasi, berbagi pengalaman mengenai strategi penulisan tugas akhir. A2 Menggunakan cloud computing untuk memberikan kenyamanan terhadap akses jaringan pada beberapa pengguna yang tujuannya untuk berbagi sumber daya komputasi yang telah dikonfigurasi. A3 Storytelling, diskusi A4 Rapat internal, mempresentasikan kembali ilmu yang diperoleh dari seminar, workshop, dan pelatihan di hadapan pustakawan lain, sharing antar pegawai yang memiliki kompetensi tertentu seperti mengajar bahasa inggris tingkat dasar, pelatihan aplikasi reference manager, pelatihan plagiarisme checker, pelatihan akses sumber daya informasi perpustakaan. A5 Diskusi, presentasi A6 Rapat, training, diskusi di grup whatsapp, seminar, diklat, laporan perjalanan dinas, notulensi rapat, modul pelatihan, link materi seminar, kliping surat kabar A7 Ceramah, proses tanya jawab, diskusi melalui whatsapp, membuat rekaman audio pembelajaran di kelas kemudian di-share pada grup whatsapp. A8 Diskusi, pertemuan secara tatap muka, rapat. A9 Rapat, diskusi, diskusi melalui whatsapp, workshop, seminar A10 Pelatihan literasi informasi A11 Diskusi atau interaksi langsung, grup whatasapp, sharing hasil kegiatan seminar atau workshop, membuat notulensi rapat, membuat laporan dari hasil kegiatan seminar atau workshop RQ2 : Apa manfaat penerapan knowledge sharing di perpustakaan? Berdasarkan hasil review, ditemukan sebanyak 8 artikel yang memaparkan mengenai manfaat dari kegiatan knowledge sharing di perpustakaan. Artikel tersebut yaitu artikel A1, A2, A3, A4, A5, A6, A8, dan A10. Manfaat yang diperoleh dari kegiatan knowledge sharing di perpustakaan, yaitu: 1. Adanya keterbukaan antar pustakawan, perpustakaan terbuka terhadap kritik dan saran dari pemustaka, pustakawan memiliki komitmen untuk membangun perpustakaan yang baik sehingga timbul keinginan untuk terus belajar. 2. Memotivasi pemustaka untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan dan menunjukkan bahwa dengan memanfaatkan perpustakaan maka meningkatkan kualitas dan kelancaran kerja para pemustaka. 3. Meningkatkan kinerja organisasi karena dengan menerapkan knowledge sharing dapat berimbas pada peningkatan kinerja perusahaan. 4. Mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan memberikan motivasi serta melatih kemampuan individu dalam berkomunikasi. Selanjutnya timbul rasa saling menghormati dan menghargai antar pustakawan. 5. Membantu mahasiswa karena terdapat perbedaan pengajaran dan pembelajaran di SMA/SMK sederajat dengan di perkuliahan. 6. Adanya rasa saling percaya, terbuka, saling memberi kesempatan belajar dan mengakses pengetahuan, meningkatkan kompetensi organisasi dan mempercepat penyelesaian baik tugas maupun masalah yang muncul. 7. Membantu meringankan pekerjaan agar tidak terlalu rumit. 8. Memberikan warisan literasi informasi dari pustakawan ke pemustaka dan memberikan keterampilan kepada pemustaka. (lihat tabel 3). Tabel 3. Manfaat Knowledge Sharing Kode Manfaat Knowledge Sharing A1 Adanya keterbukaan antar pustakawan, perpustakaan terbuka terhadap kritik dan saran dari pemustaka, pustakawan memiliki komitmen untuk membangun perpustakaan yang baik sehingga timbul keinginan untuk terus belajar. A2 Memotivasi pemustaka untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan dan menunjukkan bahwa dengan memanfaatkan perpustakaan maka meningkatkan kualitas dan kelancaran kerja para pemustaka. A3 Meningkatkan kinerja organisasi karena dengan menerapkan knowledge sharing dapat berimbas pada peningkatan kinerja perusahaan. A4 Knowledge sharing internal ini selain membagikan pengetahuan yang dimiliki diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan memberikan motivasi serta melatih kemampuan individu dalam berkomunikasi. Selanjutnya timbul rasa saling menghormati dan menghargai antar pustakawan. A5 Membantu mahasiswa karena terdapat perbedaan pengajaran dan pembelajaran di SMA/SMK sederajat dengan di perkuliahan. A6 Adanya rasa saling percaya, terbuka, saling memberi kesempatan belajar dan mengakses pengetahuan, meningkatkan kompetensi organisasi dan mempercepat penyelesaian baik tugas maupun masalah yang muncul. A8 Membantu meringankan pekerjaan agar tidak terlalu rumit A10 Memberikan warisan literasi informasi dari pustakawan ke pemustaka; memberikan keterampilan kepada pemustaka. RQ3 : Apa hambatan penerapan knowledge sharing di perpustakaan? Berdasarkan hasil review, ditemukan sebanyak 6 artikel yang memaparkan mengenai hambatan dari kegiatan knowledge sharing di perpustakaan. Artikel tersebut yaitu artikel A3, A4, A5, A6, A9, dan A11. Hambatan-hambatan tersebut penulis kelompokkan menjadi 3 faktor yaitu manusia, budaya dan teknologi. Hambatan dari faktor manusia ternyata sangat dominan bila dibandingkan dengan faktor budaya dan teknologi. Dari perolehan hasil analisis tersebut, terlihat bahwa yang menjadi hambatan dalam proses penerapan knowledge sharing berasal dari SDM perpustakaan itu sendiri. Berikut adalah hambatan dalam proses penerapan knowledge sharing di perpustakaan: 1. Faktor manusia a. Kurangnya SDM di perpustakaan. b. Ketidakmampuan tenaga ahli. c. SDM terlalu sibuk dengan pekerjaan teknis. d. Kurangnya kesadaran diri akan kontribusinya dalam proses berbagi pengetahuan. e. Rendahnya keinginan untuk berbagi, kurang percaya diri untuk berbagi pengetahuan, kesulitan komunikasi. f. Perbedaan latar belakang pendidikan staf yang tidak berasal dari disiplin ilmu perpustakaan. g. Masih ditemukan pustakawan yang tidak ingin berbagi pengetahuan kepada rekan pustakawan lainnya. h. Kemampuan menyampaikan dan menyerap informasi masih kurang sehingga dapat menyebabkan miskomunikasi maupun kesalahan dalam mengartikan informasi. i. Tidak adanya rasa saling percaya antara individu. 2. Faktor Budaya a. Tidak adanya motivasi dalam diri pustakawan dalam melaksanakan knowledge sharing karena tidak adanya reward yang diberikan. b. Penyerapan anggaran yang tidak sempurna. 3. Faktor Teknologi a. Perpustakaan kurang maksimal dalam menggunakan teknologi informasi sebagai proses knowledge sharing. b. Kurangnya pemerataan pelatihan dan pengenalan pada teknologi informasi. (lihat tabel 4). Tabel 4. Hambatan Knowledge Sharing Kode Hambatan Knowledge Sharing A3 Tidak adanya motivasi dalam diri pustakawan dalam melaksanakan knowledge sharing karena tidak adanya reward yang diberikan. Kurangnya pemerataan pelatihan dan pengenalan pada teknologi informasi (Perpustakaan kurang maksimal dalam menggunakan teknologi informasi sebagai proses knowledge sharing) A4 Keterbatasan teknologi yang digunakan di perpustakan, tidak adanya sumber daya, ketidakmampuan komunitas/tenaga ahli (sibuk), dan isu budaya. Sikap, perilaku dan kultur organisasi yang tidak mendukung kegiatan berbagi pengetahuan dapat menghambat manajemen pengetahuan A5 Kurangnya kesadaran diri akan kontribusinya dalam proses diskusi. Beberapa mahasiswa memainkan handphone selama proses diskusi. Tidak ada umpan balik dari peserta ketika peserta lain sedang melakukan presentasi. A6 Rendahnya keinginan untuk berbagi, kurang percaya diri untuk berbagi pengetahuan, kesulitan komunikasi, tidak adanya sistem reward, kurang maksimal dalam penggunaan teknologi A9 Perbedaan latar belakang pendidikan staf yang tidak berasal dari disiplin ilmu perpustakaan, masih ditemukan pustakawan yang tidak ingin berbagi pengetahuan kepada rekan pustakawan lainnya, tidak adanya rasa saling percaya antara individu A11 Kurangnya SDM sehingga pustakawan masih terfokus pada kegiatan teknis, hambatan terkait penyerapan anggaran yang tidak sempurna, kemampuan menyampaikan dan menyerap informasi masih kurang sehingga dapat menyebabkan miskomunikasi maupun kesalahan dalam mengartikan informasi
Conclusion
Hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan metode Systematic Literature Review menunjukkan bahwa terdapat beragam bentuk kegiatan yang dapat dilakukan perpustakaan dalam rangka penerapan knowledge sharing, seperti diskusi, seminar, percakapan, berbagi pengalaman, storytelling, rapat, pertemuan tatap muka, membuat SOP, membuat modul literasi informasi, membuat laporan dari hasil seminar dan workshop, membuat notulensi rapat, modul pelatihan, membuat rekaman audio pembelajaran di kelas, membuat tautan materi seminar yang dibagikan secara online, kliping surat kabar, berbagi informasi melalui cloud computing, mengajari pengguna menggunakan OPAC, guru memberikan ceramah di kelas, saling memberi pengajaran antar pustakawan contohnya mengajar bahasa inggris tingkat dasar, pelatihan aplikasi reference manager, pelatihan plagiarisme checker, dan pelatihan akses sumber informasi perpustakaan. Penerapan knowledge sharing di perpustakaan juga memberikan manfaat salah satunya yaitu meningkatkan kinerja pustakawan dan kinerja perpustakaan sendiri. Selain memberikan manfaat, penerapan knowledge sharing juga tidak lepas dari berbagai hambatan. Hambatan yang dominan justru berasal dari SDM perpustakaan sendiri seperti misalnya kurangnya kesadaran diri akan kontribusinya dalam proses berbagi pengetahuan, rendahnya keinginan untuk berbagi, kurang percaya diri untuk berbagi pengetahuan, dan kesulitan komunikasi. Sedangkan untuk faktor budaya dan teknologi tidak terlalu menjadi hambatan dalam penerapan knowledge sharing di perpustakaan.