ANALISIS SISTEM LAYANAN DEPOSIT PADA DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
Universitas Muhammadiyah Mataram; Universitas Muhammadiyah Mataram; Universitas Muhammadiyah Mataram; Universitas Muhammadiyah Mataram
Abstrak
Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian Deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yakni mendeskripsikan mengenai fakta tentang bagaimana penerapan layanan deposit di DPKP-NTB, kendala apa saja yang dihadapi serta apa saja manfaat dari penerapan layanan deposit. Dengan metode wawancara, observasi dan juga Dokumentasi. Tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kebijkan penerapan layanan deposit di DPKP-NTB, kendala apa saja yang dihadapi dalam penerapan layanan tersebut, serta untuk mengetahui manfaat dari penerapan layanan deposit di DPKP-NTB. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan layanan deposit menggunakan sistem layanan tertutup untuk menjaga keamanan dan nilai intelektual koleksi deposit yang merupakan koleksi langka memuat tentang NTB ataupun pengarang dan penerbit yang berasal dari NTB. hal ini ditandai dengan tersedianya bahan koleksi di rak dan dapat dibaca oleh pemustaka akan tetapi tidak dapat dipinjam. Adapun kendala yang dihadapi oleh DPKP-NTB adalah kurangnya sumber daya manusia dalam hal pengolahan koleksi, anggaran, dan sulitnya meminta izin kepada pengarang dan penerbit untuk mempublikasikan koleksi sesuai dengan undang-undang. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa Penerapan layanan deposit di DPKP-NTB Sudah terlaksana dengan baik tetapi perlu dilakukan perbaikan. pelatihan dan pengembangan keterampilan dalam bidang teknologi dengan cara mengadakan pelatihan, workshop, atau program pengembangan profesional perlu dilaksanakan untuk meningkatkankan pemahaman dan keterampilan SDM terhadap IT.
Abstract
In this study the authors used descriptive research with a qualitative approach, namely to describe the facts about how deposit services were implemented at the DPKP-NTB, what obstacles were faced and what were the benefits of implementing deposit services. With the method of interviews, observation and also documentation. This final project aims to find out how the policies for implementing deposit services in DPKP-NTB are, what obstacles are encountered in implementing these services, and to find out the benefits of implementing deposit services in DPKP-NTB. The results of this study indicate that the implementation of deposit services uses a closed service system to maintain security and intellectual value of deposit collections which are rare collections containing information about NTB or authors and publishers originating from NTB. this is indicated by the availability of collection materials on the shelves and can be read by users but cannot be borrowed.The obstacles faced by the DPKP-NTB are the lack of human resources in terms of collection processing, budgeting, and the difficulty of obtaining permission from authors and publishers to publish collections in accordance with the law. From the statement above it can be concluded that the implementation of deposit services at the DPKP-NTB has been carried out well but needs to be improved
Keywords:
Layanan deposit
· Perpustakaan
· DPKP-NTB
Introduction
Perpustakaan adalah suatu lembaga atau tempat yang didedikasikan untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan menyediakan akses kepada berbagai jenis bahan pustaka dan sumber informasi, seperti buku, majalah, jurnal, surat kabar, media digital, dan lain sebagainya. Selain itu Perpustakaan mempunyau fungsi sebagai pusat pembelajaran, penelitian, dan kegiatan budaya untuk masyarakat dapat mencari dan mendapatkan informasi yang diperlukan untuk kepentingan pendidikan, pengembangan pribadi, hiburan, ataupun pemeliharaan warisan budaya. Adapun peran perpustakaan adalah untuk mempromosikan literasi, pengembangan pengetahuan, dan memfasilitasi pertukaran informasi di antara anggotanya dan masyarakat umum (Nurjannah, 2: 2017). Menurut salah satu ahli yakni S.R. Ranganathan: "Perpustakaan adalah organisasi yang dikendalikan oleh para pustakawan, yang bertugas mengumpulkan, mengorganisir, menyimpan, mengumpamakan, dan menyediakan buku serta informasi lainnya untuk digunakan oleh masyarakat". Definisi perpustakaan ini mencakup fungsi perpustakaan sebagai tempat penyimpanan dan akses terhadap buku dan informasi, pusat pendidikan, penelitian, dan hiburan, serta peran pustakawan dalam mengelola dan menyediakan layanan informasi kepada pengguna (Yenianti, 2: 2019). Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Nusa Tenggara Barat merupakan Perpustakaan umum yang menyediakan berbagai jenis layanan untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat yang beragam. Salah satu layanan yang di sediakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah layanan Deposit. Seperti keberadaan layanan perpustakaan umum, layanan Deposit juga ada dengan harapan untuk terus meningkatkan kualitas layanan, fasilitas pendukung, dan profesionalisme pustakawannya sehingga dapat melayani dan memenuhi semua kebutuhan pengguna. Hal ini terlihat dalam penggunaan koleksi oleh pengguna dan dalam realisasi informasi yang tersedia di perpustakaan oleh pengguna sesuai dengan kebutuhan informasi yang mereka cari. Pemanfaatan koleksi penting bagi perpustakaan sebagai ukuran keberhasilan perpustakaan dalam perannya dalam memenuhi kebutuhan pengguna dan memuaskan pengguna. Penerapan layanan koleksi Deposit di Dinas perpustakaan dan kearsipan Provinsi NTB ini adalah koleksi yang berada di ruangan deposit yang dimana koleksi di ruang deposit ini merupakan koleksi lokal NTB ataupun pengarang koleksi tersebut berasal dari NTB. Tahun demi tahun, koleksinya deposit terus bertambah seiring tumbuhnya kesadaran pengarang dan penerbit akan penyerahan sukarela. Tren ini bisa dilihat dari koleksi yang terus bertambah hingga tahun 2022 mencapai 10.356 koleksi. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis tertarik untuk membahas dan meneliti mengenai “Analisis penerapan layanan deposit di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB”. B. LITERATURE REVIEW Penelitian Terdahulu adalah usaha peneliti untuk mencari perbandingan, kemudian menemukan inspirasi baru untuk penelitian selanjutnya, selain itu penelitian terdahulu membantu memposisikan penelitian dan menujukan orisionalitis penelitian. pada bagian ini, peneliti mencantumkan dan kemudian merangkum hasil penelitian terdahulu yang releven dengan penelitian yang akan dilakukan, baik penelitian yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan. Di bawah ini adalah penelitian-penelitian terdahulu yang masih releven dengan topik yang sedang penulis kaji. 1. Penelitian yang dilakukan oleh Agus Wahyudi, Teguh Gondomono, Suci Indrawati Irwan, Wijiyanto Wijiyanto, T. Syamsul Bahri yang berjudul Analisis kebutuhan system e-deposit (system serah simpan karya elektronik) Pada tahun 2018. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan dan kebutuhan sistem edeposit bagi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sampai dengan tahap permodelan bisnis proses (requirement development) perangkat lunak e-deposit yang meliputi penghimpunan, pengelolaan dan pelaporan. Data dihimpun melalui observasi lapangan, wawancara, FGD (Focus Group Discussion) dan penyebaran kuesioner ke penerbit. Menganalisis dan mengolah data menggunakan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) dan VORD (View Oriented Requirements Definition) untuk menghasilkan aplikasi simpanan elektronik. Dari kajian ini dapat dilihat bahwa Perpustakaan Nasional Indonesia khususnya tempat penyimpanan bahan pustaka telah siap mengoperasikan sistem penyimpanan elektronik. Hal ini didukung oleh dukungan infrastruktur TIK, regulasi dan anggaran yang dimiliki Perpustakaan Nasional RI, namun masih diperlukan tambahan fasilitas perangkat keras seperti UPS dan server. Hasil analisis VORD diterjemahkan dalam bentuk deskripsi tentang perilaku sistem (aplikasi) yang akan dikembangkan. 2. Penelitian yang dilakukan oleh Ulfaizah dalam skripsi berjudul Menejemen Koleksi Deposit di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Bone Pada tahun 2019, Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan penelitian deskriptif, memaparkan fakta-fakta tentang bagaimana Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bone mengelola koleksi penyimpanan dan kendala yang dihadapi dalam melakukannya. Menggunakan metode wawancara, observasi dan pencatatan. Dan menggunakan reduksi data untuk analisis data. Tulisan ini berupaya untuk memahami proses pengelolaan koleksi di Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Bone, khususnya dalam pengolahan koleksi titipan, dan kendala-kendala yang dihadapi dalam melakukannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan koleksi simpanan di Dispeka Kabupaten Bone sudah dilaksanakan, yang ditunjukkan dengan tersedianya bahan koleksi di rak-rak yang tersedia bagi pengguna perpustakaan. 3. Penelitian yang dilakukan Parhan Hidayat berjudul Layanan Deposit Skripsi di Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora Uin Jakarta pada tahun 2013, Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan layanan penyimpanan disertasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adab dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode penelitian kualitatif. Responden penelitian ini adalah direktur perpustakaan, pustakawan, pustakawan, dan pimpinan fakultas. Masih terdapat beberapa kekurangan yaitu staf yang tidak mencukupi, pemeliharaan sistem yang tidak teratur, otomasi perpustakaan, ruang pemrosesan yang terbatas, sedangkan jumlah makalah akan terus bertambah setiap tahunnya. Perpustakaan telah melakukan berbagai upaya untuk memecahkan masalah tersebut. Studi ini juga membuat berbagai rekomendasi untuk meningkatkan layanan penyimpanan kertas.
Method
Berdasarkan jenisnya penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, Menurut Lexy J. Moleong Penelitian Kualitatif adalah penelitian yang dimaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh objek penelitian dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan Bahasa, pada suatu konteks khusus alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan mengumpulkan data melalui studi literatur, observasi, dan wawancara dengan pustakawan atau staf perpustakaan yang terlibat dalam penerapan layanan deposit. Data yang terkumpul akan dianalisis untuk mengidentifikasi bagaimana penerapan, manfaat, dan kendala yang muncul selama implementasi layanan deposit. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk menyimpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan (Suharsini Arikunto: 2013). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, karena hasil dari penelitian ini berupa data deskriptif dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan dan prilaku dari orang-orang yang diamati serta hal-hal lain terkait dengan masalah yang diteliti. Menurut I Made Winartha Metode analisis deskriptif kualitatif adalah menganalisis, menggambarkan dan meringkas berbagai kondisi, situasi dari berbagai data yang dikumpulkan berupa hasil wawancara atau pengamatan mengenai masalah yang diteliti yang terjadi di lapangan.
Result & Discussion
Berdasarkan jenisnya penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, Menurut Lexy J. Moleong Penelitian Kualitatif adalah penelitian yang dimaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh objek penelitian dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan Bahasa, pada suatu konteks khusus alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan mengumpulkan data melalui studi literatur, observasi, dan wawancara dengan pustakawan atau staf perpustakaan yang terlibat dalam penerapan layanan deposit. Data yang terkumpul akan dianalisis untuk mengidentifikasi bagaimana penerapan, manfaat, dan kendala yang muncul selama implementasi layanan deposit. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk menyimpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan (Suharsini Arikunto: 2013). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, karena hasil dari penelitian ini berupa data deskriptif dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan dan prilaku dari orang-orang yang diamati serta hal-hal lain terkait dengan masalah yang diteliti. Menurut I Made Winartha Metode analisis deskriptif kualitatif adalah menganalisis, menggambarkan dan meringkas berbagai kondisi, situasi dari berbagai data yang dikumpulkan berupa hasil wawancara atau pengamatan mengenai masalah yang diteliti yang terjadi di lapangan. “Adanya koleksi deposit ini tidak terlepas dari peraturan UU yang mewajibkan penulis dan pengarang menyerahkan bukunya kepada perpustakaan daerah dan perpustakaan Nasional” Dinas perpustakaan dan kearsipan Provinsi NTB telah melakukan beberapa upaya dalam mengumpulkan koleksi deposit diantaranya sebagai berikut: 1) Mengadakan program pengumpulan deposit secara berkala di berbagai lokasi, seperti sekolah, universitas, kantor pemerintah, atau tempat umum. Dengan demikian, mereka dapat mencapai lebih banyak orang dan mengumpulkan beragam jenis koleksi. 2) Melakukan kampanye dan promosi untuk meningkatkan kesadaran Penulis dan Pengarang tentang pentingnya menyumbangkan deposit koleksi mereka ke perpustakaan dan kearsipan. Mereka dapat menggunakan berbagai saluran komunikasi, seperti media sosial, surat kabar lokal, radio, dan televisi untuk menyampaikan pesan mereka. 3) Mengadakan program pengumpulan deposit secara berkala di berbagai lokasi, seperti sekolah, universitas, kantor pemerintah, atau tempat umum. Dengan demikian, mereka dapat mencapai lebih banyak orang dan mengumpulkan beragam jenis koleksi. Selanjutnya Proses pengolahan setelah koleksi deposit dikumpulkan adalah sebagai berikut: 1) Inventaris. Kegiatan inventarisasi wajib dilakukan dalam pengolahan koleksi, tujuannya untuk memudahkan pustakawan dalam merencanakan pengadaan koleksi pada tahun yang akan datang. Kegiatan yang dilakukan dalam proses inventarisasi pengolahan koleksi di Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB adalah mengecek daftar hasil pengadaan koleksi, memberi stempel kepemilikan, membuat draft katalogisasi, memberikan nomor klasifikasi, melakukan inventaris/buku induk. 2) Klasifikasi Kegiatan selanjutnya adalah mengklasifikasi bahan koleksi tersebut sehingga dapat dipergunakan oleh pengunjung. Dalam pengklasifikasian koleksi deposit di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB yaitu dengan menentukan notasi subjek atau nomor klas menggunakan sistem klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC). 3) Katalogisasi Katalogisasi diawali dengan kegiatan pengkatalogan deskriptif yaitu menentukan tajuk entri utama dan tajuk entri tambahan. Kegiatan ini berpedoman pada kegiatan peraturan katalogisasi indonesia yang bersumber pada peraturan Perpustakaan Nasional RI. 4) Pelabelan Buku Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan katalogisasi dan klasifikasi. Nomor klasifikasi inilah yang akan diproses dan dijadikan sebagai nomor panggil atau call number dan dicetak ke dalam label. Adapun untuk jumlah koleksi deposit yang berada pada ruangan deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB nampaknya memiliki peningkatan yang cukup bagus pada setiap tahunnya, Dapat dilihat dari data yang didapat oleh penulis pada tahun 2017 Koleksi perpustakaan sebanyak 9.155, dan terus meningkat pada tahun 2022 mencapai 10.365 koleksi, kemudian untuk tahun 2023 ini sudah mencapai 11.000 koleksi. b. Penyimpanan Selanjutnya tentang penyimpanan ibu Dwi Sunariwati,S.Sos., M.I.Kom selaku salah satu pustakawan ahli madya di bagian deposit mengungkapkan “Koleksi layanan deposit termasuk layanan langka, oleh sebab itu untuk menjaga agar tidak terjadi kerusakan bahan pustaka maka disini kami terapkan sistem layanan tertutup yakni pemustaka tidak bisa meminjam koleksi hanya bisa dibaca diruang deposit”. Dinas perpustakaan dan kearsipan Provinsi NTB menyediakan tempat penyimpanan yang aman untuk koleksi deposit yaitu memiliki gedung dan ruangan sendiri. Mereka memastikan bahwa koleksi tersebut terlindungi dari kerusakan fisik, kelembapan, serangga, dan faktor-faktor lain yang dapat merusak materi koleksi. Adapun metode layanan deposit menggunakan sistem layanan tertutup, dimana layanan tertutup adalah pemustaka atau pengguna, tidak boleh langsung mengambil koleksi bahan pustaka yang diinginkannya di rak, tetapi harus melalui petugas perpustakaan Seperti halnya pada layanan depsosit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB Jika ada pemustaka yang berkunjung pustakawan akan melayani dan mengambil koleksi yang dibutuhkan pemustaka dalam ruangan koleksi deposit yang tersusun rapi pada rak koleksi kemudian pemustaka dapat membaca koleksi pada tempat yang telah disediakan. Dinas perpustakaan dan kearsipan Provinsi NTB juga melakukan pengawasan dan pemeliharaan berkala terhadap koleksi deposit. Ini melibatkan pemeriksaan visual rutin, pembersihan, perlindungan terhadap hama, dan perawatan yang diperlukan agar koleksi tetap dalam kondisi baik. c. Pelestarian Pelestarian koleksi Deposit memiliki Dua bentuk pelestarian, yaitu pelestarian fisik dan pelestarian nilai informasi. Bentuk pelestarian dalam bentuk fisik dilakukan dengan cara pemeliharaan, perawatan, pengawetan dan perbaikan. Sedangkan melestarikan nilai informasi dilakukan melalui alih media. Sebagaimana yang diterangkan oleh ibu Assinta Bentuk pelestarian yg dilakukan oleh Dinas perpustakaan dan kearsipan Provinsi NTB adalah alih media koleksi yang kemudian dipublikasikan melalui website Deposit seperti yang Ibu Dwi ungkapkan “Penerapan alih media koleksi kemudian mempublikasikannya pada sistem berbasis website merupakan upaya kami untuk melestarikan koleksi deposit ini”. Bentuk pelestarian yg dilakukan oleh Dinas perpustakaan dan kearsipan Provinsi NTB adalah menggunakan sistem layanan tertutup seperti yang diterangkan oleh ibu Dwi. “Seperti perpustakaan digital pada umumnya bedanya pada website deposit ini koleksi tidak bsa dipinjam hanya bisa dibaca karna sebrangan dengan hak cipta sehingga bersifat layanan tertutup karna buku di deposit ini merupakan buku-buku Ntb yang kebanyakan hanya ada 1 eksample”. Adapun Alih media di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB Dilakukan melalui alur sebagai berikut: 1) Pengumpulan dan seleksi bahan pustaka Bahan pustaka yang dialih media kan diperoleh dari koleksi yang dikumpulkan oleh pengarang dan penerbit NTB. 2) Pengecekan kondisi fisik bahan pustaka Sebelum bahan pustaka akan dialih mediakan maka dilakukan pengecekan kondisi fisik. Bila kondisi fisik bahan pustaka tidak rusak dapat langsung dialih mediakan, tetapi bila ada kerusakan dapat dilakukan konservasi terlebih dahulu sebelum dialih mediakan. 3) Scanning Proses scanning dokumen asli direkomendasikan untuk menggunakan resolusi minimum 300 dpi (dot per inch) dan disimpan dalam bentuk elektronik dalam format JPEG. 4) Editing & compling Proses ini mencangkup pengeditan dokumen yang sudah discan, dilanjutkan dengan proses penyatuan file-file yang sebelumnya terpisah pada saat pengeditan dalam bentuk pdf. 5) Pengemasan akhir Pengemasan akhir pengentrian buku ke dalam website Deposit sehingga buku dapat dibaca seperti layaknya buku asli. Selain pelestarian informasi secara digital, pelestarian juga dapat dilakukan dengan melaksanakan upaya konservasi dan restorasi terhadap koleksi deposit yang membutuhkan perbaikan fisik. Ini melibatkan perawatan khusus untuk memperbaiki kerusakan, menjaga kondisi materi, dan menghentikan proses kerusakan lanjutan. Dinas perpustakaan dan kearsipan Provinsi NTB dapat menjaga kondisi lingkungan yang sesuai untuk melestarikan koleksi deposit. Ini meliputi pengendalian suhu dan kelembapan, pengendalian cahaya, perlindungan terhadap serangga atau hama, serta pencegahan bencana seperti kebakaran atau banjir. d. Layanan Deposit Salah satu peran penting perpustakaan umum adalah sebagai pusat deposit. Layanan deposit berfungsi sebagai tempat penyimpanan karya yang diterbitkan dalam suatu daerah. Menurut Hasmaniah pada tahun 1998, deposit dapat diartikan sebagai tempat penyimpanan bahan pustaka yang terkait dengan suatu daerah, baik yang diterbitkan di daerah tersebut maupun di tempat lain. Sementara itu, Buku Panduan Koleksi Perpustakaan Daerah tahun 1992 menjelaskan bahwa koleksi deposit adalah kumpulan bahan pustaka yang diterbitkan di wilayah provinsi di mana perpustakaan daerah dominan, dengan fokus pada aspek-aspek wilayah tersebut. Koleksi deposit dalam perpustakaan memiliki karakteristik khusus dan layanan yang berbeda dibandingkan dengan koleksi biasa. Biasanya, sistem layanan koleksi deposit menggunakan pendekatan tertutup, di mana pengguna perpustakaan tidak diizinkan untuk mengambil sendiri bahan pustaka dari rak koleksi. Sebagai gantinya, mereka harus meminta bantuan pustakawan untuk mengakses koleksi deposit. Alasan dibalik penerapan sistem layanan tertutup ini adalah sebagai berikut: 6) Koleksi layanan deposit termasuk dalam kategori langka, sehingga untuk menjaga keberlangsungan dan mencegah kerusakan pada bahan pustaka, sistem layanan tertutup lebih diutamakan. 7) Koleksi layanan deposit tidak dipinjamkan, sehingga pengguna tidak diperbolehkan untuk mengakses rak langsung. Dengan demikian, keadaan koleksi di rak dapat selalu terjaga dengan baik. 8) Dengan menggunakan sistem layanan tertutup, risiko kehilangan koleksi dapat diminimalisir. 9) Pengawasan yang diperlukan tidak terlalu ketat, mengingat jumlah pustakawan yang bertugas di layanan deposit tidak terlalu banyak. Oleh karena itu, penerapan sistem ini dianggap lebih menguntungkan dalam upaya penyimpanan dan pelestarian karya cetak dan rekaman. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa layanan deposit dalam perpustakaan menggunakan sistem layanan tertutup untuk menjaga keberlangsungan, mencegah kerusakan, dan menghindari kehilangan koleksi. Hal ini bertujuan untuk memastikan penyimpanan dan pelestarian yang baik terhadap karya cetak dan rekaman. 2. Kendala yang dihadapi pada penerapan layanan deposit Berikut hasil wawancara dengan informan pertama ibu Assinta SS selaku salah satu pustakawan ahli madya di bagian deposit mengenai kendala yang dihadapi pada penerapan layanan deposit di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB: “salah satu kendala kita di deposit ini kami tidak bisa mempublikasikan tanpa izin sementara di deposit ini beragam pengarang dan penerbit yang harus kita mintai izin satu persatu, selanjutnya kendala kami disini sepertinya Anggaran karna deposit ini butuh biaya hosting aplgi mulai dari covid kemarin tidak ada anggaran untuk itu,jadi sedikit yang sudah kami entri sekitar 116 judul yang dimana koleksi deposit itu ada 4000 judul yang sudah di digitalisasikan” Berikutnya wawancara kepada ibu Dwi Sunariwati, S.Sos.,M.I.Kom selaku salah satu pustakawan ahli madya yang bertugas di bidang deposit “Kendala kami diantaranya kekurangan SDM seperti yang kita liat dsini kebanyakan kami yang sudah tidak muda lagi sehingga yang paham IT juga sedikit itu yang membuat pengentrian koleksi deposit itu terhambat dan tidak jarang koleksi yang kami entri tidak ssuai target, Adapun solusi dari kendala tersebut kami akan adakan pelatihan IT kepada pustakawan terlebih lagi untuk menangani bidang deposit ini”. Dapat disimpulkan dari wawancara di atas bahwa kendala dari penerapan layanan deposit ini adalah mendapat izin dari penerbit dan pengarang karena prosesnya cukup panjang sehingga dapat menghambat keberlangsungan pengentrian koleksi, Perpustakaan mungkin menghadapi keterbatasan dalam sumber daya, waktu, dan tenaga kerja untuk mengurus izin tersebut. Proses perizinan sering kali melibatkan prosedur yang rumit dan aturan yang kompleks. Pemahaman yang mendalam tentang hak cipta, lisensi, dan perjanjian penerbitan diperlukan untuk menjalankan proses izin dengan benar. Kurangnya SDM pun menjadi kendala dalam penerapan layanan deposit keterbatasan SDM yang memiliki kemampuan organisasi untuk mengelola, mengoperasikan, dan memelihara sistem deposit perpustakaan dan kearsipan dengan efektif. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas layanan yang disediakan dan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi dengan optimal. Selanjutnya Anggaran, Anggaran merupakan alokasi dana yang dilakukan oleh suatu entitas, seperti organisasi, perusahaan, atau pemerintah, untuk membiayai kegiatan dan proyek yang direncanakan. Dalam konteks e-deposit perpustakaan dan kearsipan di NTB, anggaran dapat menjadi faktor kunci yang memengaruhi implementasi dan pengembangan layanan tersebut. Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Agus wahyudi (2013) yang mengatakan beberapa kendala yang yang dialami seperti SDM dan dana untuk pemrosesan yang tidak mencukupi. 3. Manfaat penerapan Layanan Deposit Berikut hasil wawancara dengan informan ibu Assinta SS selaku salah satu pustakawan ahli madya di bagian deposit mengenai manfaat penerapan layanan deposit di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB: “Seperti yang ibu katakan awal tadi karena koleksi deposit ini merupakan sebagai bentuk dari pelestarian informasi jadi sangat bermanfaat karena pemustaka tidak perlu lagi ke ruang deposit untuk mencari fisik buku sehingga itu akan membuat koleksi deposit menjadi lebih aman” Dari wawancara mengenai manfaat layanan deposit di atas dapat diambil kesimpulan bahwa sistem layanan tertutup koleksi deposit ini sangat bermanfaat pada bidang keamanannya karena pustakawan tidak perlu khawatir lagi dengan kerusakan fisik ataupun kehilangan koleksi. Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Nasrudin Maarif (2017) yang mengatakan penerapan layanan e-deposit bermanfaat untuk menjaga koleksi agar tetap aman, penerapan layanan deposit menggunakan sistem layanan tertutup dianggap lebih pantas untuk menjaga koleksi.
Conclusion
1. Penerapan layanan Deposit merupakan salah satu bentuk tindakan Pengumpulan, Penyimpanan dan pelestarian informasi, Layanan Deposit ini menggunakan sistem layanan tertutup. Koleksi yang berada di deposit merupakan koleksi langka memuat tentang NTB atau pengarang dan penerbitnya berasal dari NTB. 2. Diantara kendala terlaksanakannya penerapan layanan deposit ini adalah kurangnya SDM yang mengerti IT, kendala dalam memperoleh izin dari penerbit, serta anggaran untuk membiayai terlaksananyanya layanan Deposit ini. 3. Selanjutnya manfaat penerapan layanan Deposit yang umumnya menggunakan sistem layanan tertutup dan dipisah dengan layanan umum diantaranya perlindungan terhadap kerusakan fisik koleksi, Pengurangan risiko kehilangan, Aksesibilitas yang lebih luas, Pengamanan dan perlindungan data. terlebih lagi koleksi deposit yang merupakan koleksi langka.