LITERASI KOMUNIKASI WARGANET GENERASI MILENIAL DI MEDIA SOSIAL (STUDI KASUS WARGANET DI KOTA MATARAM)
Universitas Muhammadiyah Mataram; Universitas Muhammadiyah Mataram; Universitas Muhammadiyah Mataram; Universitas Muhammadiyah Mataram
Abstrak
Penelitian ini dilatar belakangi oleh sebuah fenomena bahwa pentingnya literasi Komunikasi WargaNet terutama untuk Generasi Milenial yang sedang menggandrungi media sosial yang selama ini menyebabkan banyak terjadi prilaku yang anomali, para generasi milenial semakin lama kepedualian terhadap lingkungan sosial semakain memudar, banjirnya informasi yang tidak mendidikan menyebabkan generasi milenial kurang cerdas dalam memanfaatkan informasi di media sosial, bahkan generasi milenial kita saat ini terkadang tidak bertanggung jawab dalam mendownload serta menyebarkan infomasi lewat flatform media facebook dan WatShap. Hasil dari penelitian ini bahwa perilaku warganet generasi milenial yang senang menggadrungi media sosial seperti Facebook dan watsahap menjadi keharusan untuk memiliki keterampilan komunikasi, untuk itu lierasi komunikasi sangat penting agar warganet generasi milenial lebih cerdas dan beratnggung jawab dalam memanfaatkan informasi serta menyebarkan informasi lewat media sosial seperti facebook, Watshap, twiter dan lain-lain.
Abstract
This research is motivated by a phenomenon that the importance of WargaNet Communication literacy, especially for the Millennial Generation who is fond of social media which has been causing a lot of anomalous behavior, the millennial generation is increasingly concerned about the social environment fading, the flood of information that is not educated causes generations to Millennials are less intelligent in utilizing information on social media, even our current millennial generation is sometimes irresponsible in downloading and disseminating information via Facebook and WatShap media platforms. The results of this study are that the behavior of millennial generation netizens who like to use social media such as Facebook and WhatsApp is a must to have communication skills, for that communication literacy is very important so that millennial generation netizens are smarter and responsible in utilizing information and disseminating information through social media such as facebook, watshap, twiter etc.
Keywords:
Literasi
· Komunikasi
· Geberasi Milenial
· Media Sosial
Introduction
Era digital yang ditandai dengan perkembangan Teknologi Informasi Komunikasi terus berlangsung dan berkembang begitu cepat dan semakin canggih, Inovasi teknologi dengan pemanfaatan media sosial menjadikan arus informasi mengalir dengan deras dan cepat, pola-pola komunikasi linier mulai digantikan dengan pola-pola komunikasi simetris, real time melintas batas ruang dan waktu, dengan mengedepankan kecepatan, sekaligus menandakan pola komunikasi dewasa ini sesungguhnya telah memasuki fase interactive communication era. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content". Saat ini sebagian besar penduduk dunia telah menjadikan media sosial sebagai salah satu kebutuhan hidup yang boleh dikatakan primer. Berdasarkan data dari Koran Kompas.com yang dikutif dari Agensi Marketing We Are Social dan platform manajemen media sosial Hootsuite mengungkap bahwa lebih dari separuh penduduk di Indonesia telah "melek" alias aktif menggunakan media sosial pada Januari 2021. Dalam laporan berjudul Digital 2021 The Latest Insights Into The State of Digital itu, disebutkan bahwa dari total 274,9 juta penduduk di Indonesia, 170 juta di antaranya telah menggunakan media sosial. Dengan demikian, angka penetrasinya sekitar 61,8 persen. Angka pengguna aktif media sosial di Indonesia tersebut tumbuh sebesar 10 juta atau sekitar 6,3 persen dibandingkan bulan Januari 2020. Dalam periode yang sama, pengguna internet di Indonesia tumbuh 27 juta atau 15,5 persen menjadi 202,6 juta. Generasi milenial yang umum disebut generasi Y serta generasi Z mendominasi penggunaan media sosial, yang paling banyak berasal dari kalangan muda dengan rentang usia 25-34 tahun. Hampir semua (99,1 persen, atau 168,5 juta) pengguna media sosial mengakses lewat perangkat mobile seperti smartphone. (https://tekno.kompas.com/read/2021/02 /24/08050027/riset-ungkap-lebih-dariseparuh-penduduk-indonesia-melekmedia-sosial). Implikasinya masyarakat dapat melihat berita-berita di media massa yang memuat tentang dampak yang ditimbulkan dari media sosial, mulai dari berita kesuksesan yang didapatkan dari memanfaatkan media sosial sampai berita tentang penculikan, prostitusi dll sebagainya, semua itu hanyalah sebagian kecil saja, dampak-dampak tersebut telah memberi semacam sugesti terhadap masyarakat untuk bagaimana lebih bijak dalam memanfaatkan media social tersebut terutama para remaja millenial, namun hal tersebut tidak begitu berpengaruh dari sebagian besar remaja millenial yang bergelut dengan media sosial, bagi kalangan remaja millenial media sosial adalah dunia ke dua bagi mereka, terutama pada jejaring sosial setenar facebook dan twitter, tentunya media sosial menawarkan kepada remaja millenial bagaiman berinteraksi, berkomunikasi, dan bersosialisasi dengan cara yang mudah dan baru, dan hal itu telah mengubah sebagian besar pola fikir remaja millenial dalam bergaul dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tanpa kita sadari bahwasanya media sosial telah menjadi semacam konstruksi sosial dalam masyarakat moderen. Penggunaan secara berlebihan ketika memnafaatkan media sosial dapat berbanding lurus dengan jumlah perilaku buruk khalayak, terutama pada khalayak anak-anak dan remaja yang sebagian besar dapat meniru isi teks atau konten media sosial. Disamping itu, masyarakat utamanya orang dewasa masih minim terhadap pemahaman literasi media yang mana pemahaman ini akan membantu masyarakat menjadi kritis terhadap media. Dalam mengakses sekian banyaknya informasi yang diproduksi media sosial, manusia dirasa perlu untuk memiliki kemampuan literasi yang baik dalam mencernanya. Orang bisa dikatakan melek atau memahami literasi informasi jika mampu untuk mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, menyusun, menciptakan, menggunakan, dan mengkomunikasikan informasi kepada orang lain untuk mencari atau mengambil solusi terhadap masalah dan hambatan yang ada. Literasi informasi yang menurut pengertian sederhananya biasa disebut dengan kemelekan informasi, sangat dibutuhkan oleh setiap manusia saat ini. Tidak sebatas literasi informasi saja, namun juga literasi media dan internet. Karena dengan segala kegiatan dan pola hidup manusia yang kini telah bermigrasi ke arah hal-hal yang berhubungan dengan internet, menyebabkan mudahnya membuat dan menyebarkan informasi melalui media. Sehingga terjadi derasnya informasi yang mengalir di tengah-tengah masyarakat, yang terkadang tak terkendali dan tak tersaring kebenarannya. Namun dengan memiliki kemampuan literasi informasi dan media yang baik, seseorang akan dapat meminimalisir resiko akibat derasnya informasi tersebut. Seseorang akan dapat memilah informasi sebelum dapat dikonsumsi dan disebar-ulangkan secara luas kepada orang lainnya lagi, sebab kini media informasi seringkali dianggap sebagai sumber kebenaran. Kendati demikian, tidak banyak yang mengetahui bahwa media dapat memiliki kepentingan untuk memonopoli makna yang terkandung dalam informasi yang akan dilempar ke publik. WargaNet masih belum terlalu menyadari adanya penipuan melalui media sosial. Maka dari itu, kesadaran generasi milenial mengenai dampak negatif dalam menggunakan media sosial masih perlu ditingkatkan. Salah satunya yaitu dengan meningkatkan kemampuan literasi komunikasi dan informasi media. Dari latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui Literasi Komunikasi Warganet Kaum Milenial Di Media Sosial yang berada di Kota Mataram Nusa Tenggara Barat. B. KAJIAN PUSTAKA 1. Pengertian Literasi Literasi yang dalam bahasa Inggris literacy berasal dari bahasa Latin yaitu litera (huruf) sering diartikan sebagai keaksaraan. Jika dilihat dari makna harfiah literasi berarti kemampuan seseorang untuk membaca dan menulis. Menurut Musfiroh & Listyorini dalam Indriyani (2019, hlm. 111) mengemukakan hal mengenai literasi sebgai berikut : Literasi saat ini tidak hanya diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis tetapi memiliki makna dan implikasi dari keterampilan membaca dan menulis dasar ke pemerolehan dan manipulasi pengetahuan melalui teks tertulis, dari analisis metalinguistik unit gramatikal ke struktur teks lisan dan tertulis, dan dampak sejarah manusia ke konsekuensi filosofis dan sosial pendidikan barat. “Literasi mencakup berbagai jenis keterampilan seperti membaca, menulis, memproses informasi, ide dan pendapat, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah” (Tavdgiridze dalam Indriyani, 2019, hlm. 111). “Literasi pada awal kemunculannya dimaknai sebagai keberaksaraan atau melek aksara yang fokus utamanya pada kemampuan membaca dan menulis, dua keterampilan yang menjadi dasar untuk melek dalam berbagai hal. Namun selanjutnya, literasi dimaknai sebagai melek membaca, menulis dan numeric” (Priyatni dalam Devianty, 2019, hlm. 6). 2. Pengertian Komunikasi Komunikasi menjadi peranan terpenting bagi kehidupan manusia dalam berinteraksi di kehidupannya sehari- hari. Terutama komunikasi yang terjadi didalam masyarakat terkecil yaitu keluarga. Di dalam sebuah komunikasi feedback merupakan hal yang diharapkan, untuk mampu mencapai tujuan yang dimaksud dalam berkomunikasi. Komunikasi berasal dari bahasa latin cum yaitu kata depan yang berarti dengan, bersama dengan, dan unus yaitu kata bilangan yang berarti satu. Dari kedua kata- kata itu terbentuk kata benda cummunio yang dalam bahasa Inggris menjadi cummunion yang berarti kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, hubungan. Ilmu komunikasi sebagai ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner, tidak bisa menghindari perspektif dari beberapa ahli yang tertarik pada kajian komunikasi, sehingga definisi dan pengertian komunikasi menjadi semakin banyak dan beragam. Masing- masing mempunyai penekanan arti, cakupan, konteks yang berbeda satu sama lain, tetapi pada dasarnya saling melengkapi dan menyempurnakan makna komunikasi sejalan dengan perkembangan ilmu komunikasi. Menurut Hovland, Jains dan Kelley, komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata- kata) dengan tujuan untuk membentuk perilaku orang- orang lainnya (khalayak). Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain- lain. Melalui penggunaaan symbol- symbol seperti kata- kata, gambar- gambar, angkaangka dan lain- lain. 3. Pengertian WargaNet (Netizen) Dalam KBBI warganet memiliki makna warga internet (orang yang aktif menggunakan internet). Menurut Estu Suryowati, sebutan warganet atau netizen sebelumnya tidak dijumpai ketika masih menggunakan media cetak, radio, maupun televisi. Sebutan warga internet diartikan sebagai warganet atau netizen karena istilah tersebut merupakan gabungan suku kata yang kemudian ditulis serta dilafalkan dengan sebagaimana mestinya tanpa tambahan apa pun atau biasa disebut dengan akronim dari internet dan citizen (warga). Selain itu, Netizen adalah sebutan bagi “internet word community” atau warganet, yaitu orang-orang yang aktif menggunakan internet untuk berkomunikasi. Dikutip dari Kompas.com 08,Maret 2022. Jam. 13.33 Wita. Masyarakat massa kini memiliki julukan atau sebutan dengan nama netizen atau warganet. Tentunya ini adalah masyarakat modern yang telah bergelut dengan media baru berbasis internet. Netizen ini lah yang sering disangkut pautkan dengan setiap komentar pada postingan pemberitaan di media sosial. Terkait dengan penelitian ini, yang dimaksud dengan netizen adalah pengguna, pembaca, penonton media sosial yang mengungkapkan pendapat dan perasaannya dalam mengomentari informasi lewat media sosial. 4. Pengertian Generasi Milenial Konsep tentang generasi sudah cukup lama menjadi topik pembahasan, menurut Mannheim (1927), generasi adalah kelompok individu yang memiliki kesamaan dalam rentang usia dan pengalaman dalam mengikuti sebuah atau berbagai peristiwa sejarah penting dalam suatu periode waktu yang sama. Dan selanjutnya individu ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena mereka melewati masa sosio-sejarah yang sama. Lalu kemudian topik generasi ini dikembangkan oleh Strauss dan Howe (1991) yang mendefinisikan generasi sebagai kelompok dari semua orang yang lahir selama rentang waktu tertentu yang berkisar sekitar dua puluh tahun atau dalam suatu fase yang dimulai dari masa kanak-kanak, dewasa muda, usia pertengahan dan usia tua, yang kemudian memiliki sebuah kesamaan dalam sejarah, kepercayaan dan perilaku. Terdapat hal yang menarik dari pendapat Strauss dan Howe (1991 ; 1997) adalah terdapat kecenderungan setiap generasi akan cenderung menjadi oposisi generasi lainnya, hal ini dikarenakan setiap generasi akan mencoba untuk memperbaiki dan mengkompensasi atas apa yang mereka persepsikan terhadap generasi diatasnya atau generasi yang berkuasa saat itu, sehingga akan memunculkan sebuah siklus generasi. Generasi milenial mengalami pesatnya perkembangan teknologi informasi, mulai dari maraknya penggunaan komputer hingga ketergantungan terhadap akses internet. Pesatnya perkembangan teknologi informasi yang dialami oleh generasi milenial membentuk ciri khas yang digambarkan dari kumpulan sikap dan perilaku mereka. Kemunculan beragam jejaring sosial, buku harian digital (blog), dan media-media lain di era cyber memungkinkan generasi milenial menyalurkan ekspresinya secara leluasa (berandainovasi.com, 2014).
Method
Penelitian ini merupakan jenis riset kepustakaan (library research). Apa yang disebut dengan riset kepustakaan atau sering juga disebut studi pustaka, ialah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. Sedangkan menurut Mahmud dalam bukunya Metode Penelitian Pendidikan menjelaskan bahwa penelitian kepustakaan yaitu jenis penelitian yang dilakukan dengan membaca buku-buku atau majalah dan sumber data lainnya untuk menghimpun data dari berbagai literatur, baik perpustakaan maupun di tempattempat lain. Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa penelitian kepustakaan tidak hanya kegiatan membaca dan mencatat data-data yang telah dikumpulkan. Tetapi lebih dari itu, peneliti harus mampu mengolah data yang telah terkumpul dengan tahaptahap penelitian kepustakaan.
Result & Discussion
1. Literasi Komunikasi Warganet Generasi Milenial di Media Sosial Memiliki keterampilan komunikasi yang baik dapat membantu seseorang berinteraksi dengan oarang lain, interaksi seseorang bisa berlangsung dalam kehidupan profesional hingga kehidupan pribadi dan segala sesuatu yang ada di antaranya. Kita ambil dari sudut pandang bisnis, semua transaksi dihasilkan dari komunikasi. Keterampilan komunikasi yang baik sangat penting agar orang lain dan diri kita sendiri dapat memahami informasi dengan lebih akurat dan cepat. Tingginya keterampilan komunikasi tidak terlepas dari peran literasi. Jenis literasi yang berkontribusi cukup besar terhadap keterampilan komunikasi terdiri dari literasi bahasa dan literasi informasi. Keterampilan komunikasi tidak lepas dari keterampilan berbicara dan keterampilan menyimak yang merupakan bagian dari literasi bahasa. Sementara itu, literasi informasi bermanfaat bagi individu untuk menyeleksi informasi yang tepat untuk dijadikan topik berkomunikasi. Literasi bahasa dan literasi informasi sangat penting dikuasai warganet karena pada abad 21 mereka dituntut untuk mahir berkomunikasi. Pernyataan tersebut diperkuat oleh pendapat Purvis, Mc Neill, & Sutherland (2014) yang menerangkan bahwa salah satu upaya untuk mengurangi kesulitan warganet berkomunikasi yaitu dengan mengembangkan literasi. Menurut istilah, “literasi” merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Latin litteratus (littera), yang sepadan dengan kata letter dalam bahasa Inggris yang merujuk pada makna ‘kemampuan dalam membaca dan menulis’. Adapun literasi dimaknai ‘kemampuan membaca dan menulis’ yang kemudian berkembang menjadi ‘kemampuan menguasai pengetahuan bidang tertentu’. Dalam Undang-Undang No 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan literasi dimaknai sebagai “kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Lebih lanjut, hasil penelitian Purvis, Mc Neill, & Sutherland (2014) di Univsersitas New Zealand menemukan fakta bahwa sekitar 67% warganet terutama generasi milenial mempunyai literasi yang rendah. Kemudian minat warganet terhadap kegiatan berbicara dan membaca dikategorikan rendah. Minat warganet yang rendah disebabkan karena warganet lebih mudah terbawa arus informasi global terutama disaat-saat mengakses media sosial seperti Fecebook, WA, Twiter, youtube dll. Warganet saat ini mudah memercayai informasi yang terseber lewat media sosial tanpa melakukan verifikasi dan pengecekan sumber atau kebenaran dari informasi tersebut, ditambah lagi warganet malas menemukan informasi yang berasal dari sumber terpercaya tetapi sebaliknya warganet menyukai informasi yang ditemukan lebih praktis dan instan. Meskipun perolehan informasi saat ini lebih praktis akan tetapi sangat disayangkan warganet kurang peka terhadap kredibilitas sumber informasi. Oleh sebab itu, literasi komunikasi dan informasi juga diperlukan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi mahasiswa. Kata atau istilah komunikasi Communication berasal dari bahasa latin communicatus atau communicatio atau communicare yang berarti berbagi atau menjadi milik bersama. Kata komunikasi menurut kamus bahasa mengacu kepada suatu upaya yang bertujuan untuk mencapai kebersamaan. Komunikasi adalah proses interaktif dua arah, ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Shannon dan Weaver mendefinisikan komunikasi sebagai transmisi pesan, sehingga memunculkan efek bukan persoalaan makna. Menurut Effendi (dalam Sa’diyah, 2015) komunikasi adalah penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat atau pikiran, baik secara langsung maupun tidak langsung Komunikasi merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia sejak awal kehidupan. Bertambahnya usia mengakibatkan kebutuhan berkomunikasi semakin banyak dan semakin kompleks, karena semua yang dialami individu pada umumnya terkait dengan bahasa dan kebutuhan berkomunikasipun menjadi semakin penting. Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya. Literasi media adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan berbagai media guna mengakses, analisis serta menghasilkan informasi untuk berbagai keperluan dalam kehidupan sehari-hari seseorang yang akan dipengaruhi oleh media yang ada disekitar kita berupa televisi, film, radio, musik terekam, surat kabar dan majalah. Dari media itu masih ditambah dengan dengan internet bahkan kini pun melalui telepon seluler dapat diakses. Istilah literasi digital mulai populer sekitar tahun 2005 ( Davis & Shaw, 2011 ), literasi digital bermakna kemampuan untuk berhubungan dengan informasi hipertekstual dalam arti bacaan tak berurut berbantuan komputer. Istilah literasi digital pernah digunakan tahun 1980-an (( Davis & Shaw, 2011 ), secara umum bermakna kemampuan untuk berhubungan dengan informasi hipertekstual dalam arti membaca nonsekuensial atau nonurutan berbantuan komputer ( Bawden, 2001 ).
Conclusion
Literasi media dan literasi digital merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari informasi. Informasi adalah suatu hal tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia karena informasi manusia dapat melakukan berbagai hal. Dari waktu ke waktu informasi terus mengalami perkembangan yang diikuti dengan perkembangan media elektronik atau digital dan telekomunikasi. Informasi bukan hanya berbentuk tercetak lagi, tetapi sudah dapat diakses dengan media digitalisasi. Oleh karena itu, Warganet gernerasi milenial diharapkan dapat mengikuti perkembangan zaman agar tidak ketinggalan informasi serta cerdas dalam memanfaatkan informasi yang ada pada media sosial. Sebagai kelompok masyarakat yang yang menggandrungi media sosial seperti Fecebook, WatShap, Twiter dll maka sangat penting bahkan menjadi keharusan memiliki kemampuan literasi komunikasi agar bisa lebih bertangung jawab dalam memanfaat media sosial.