KERANGKA MODEL KONSEPTUAL PENERIMAAN APLIKASI PLAGIARISM CHECKER UNTUK PENINGKATAN KUALITAS KARYA ILMIAH
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Abstrak
Peningkatan kualitas karya tulis ilmiah telah menjadi perhatian banyak kalangan, terutama oleh perguruan tinggi. Berbagai universitas di Indonesia kini telah melanggan aplikasi atau system berbasis teknologi yang digunakan untuk mendeteksi tingkat kesamaan suatu karya tulis dengan karya-karya lainnya yang sudah ada sebelumnya. Paper ini bertujuan bermaksud menyediakan suatu model kerangka konseptual penerimaan aplikasi atau system plagiarism checker berdasar review berbagai tulisan dan literature yang relean. Model integritas akademik dan kepercyaan terhadap teknologi dipandang memiliki signifikansi bagi penerimaan sivitas akademika terhadap implementasi aplikasi atau system plagiarism checker. Model ini didasarkan atas pembacaan dan analisis terhadap berbagai tulisan atau literatur yang relevan. Berdasarkan hasl tersebut, pihak perguruan tinggi perlu menanamkan pentingnya memiliki integritas akademik dan membekali kemampuan teknologi dalam rangka meningkatkan penerimaan sivitas akademika terhadap penerapan aplikasiplagiarism checker untuk peningkatan kualitas karya ilmiah yang dihasilkan.
Abstract
Improving the quality of scientific papers has become a concern of many circles, especially by universities. Various universities in Indonesia have now subscribed to applications or technology-based systems that are used to detect the level of similarity of a paper with other existing works. This paper aims to provide a conceptual framework model for application acceptance or a plagiarism checker system based on a review of various relevant writings and literature. The model of academic integrity and belief in technology is considered to have significance for the acceptance of the academic community towards the implementation of the plagiarism checker application or system. This model is based on reading and analyzing various relevant writings or literature. Based on these results, universities need to instill the importance of having academic integrity and providing technical skills to increase the acceptance of the academic community towards the application of plagiarism checkers to improve the quality of the scientific work produced.
Keywords:
Plagiarism
· Teknologi
· Karya Ilmiah
Introduction
Isu plagiarisme di perguruan tinggi telah menjadi perhatian dan sorotan luas dari masyarakat Indonesia. Tidak hanya dari kalangan perguruan tinggi, tetapi juga dari pemerintah menyayangkan praktek-praktek ketidakjujuran ilmiah terjadi di kalangan masyarakat terdidik. Mengingat praktek plagiarisme ini merupakan tindakan yang merugikan diri sendiri, orang lain, dan bahkan institusi, maka tindakan plagiarisme perlu dihindari dan dicegah. Banyak faktor yang diidentifikasi menjadi penyebab tindak plagiarisme seperti efikasi diri akademik dan kontrol diri (Aulia, 2015). Tindak plagiarisme merupakan bentuk prilaku yang menyimpang, yaitu menyalahi etika akademik. Aulia (2015) menyebutnya sebagai bentuk kecurangan akademik karena dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain. Meskipun menghilangkan tindak plagiarisme merupakan hal yang mustahil karena tidak mungkin seseorang dapat menghasilkan karya yang benar-benar baru. Akan tetapi, menanamkan kejujuran ilmiah dalam menghasilkan karya ilmiah juga merupakan keharusan. Kejujuran ilmiah merupakan etika dasar seorang peneliti dan akademisi dalam melaksanakan tugas akademiknya. Selain itu, perkembangan teknologi menawarkan kemudahan dalam melakukan riset dan publikasi. Teknologi memfasilitasi para peneliti menemukan sumber daya informasi atau literature yang diperlukan dan menjadikannya sebagai bagian dari riset dan publikasi yang dihasilkan. Sementara pada sisi lain, teknologi juga mampu mendeteksi tindakan plagiarisme yang dilakukan oleh para peneliti. Berbagai aplikasi atau software anti-plagirisme atau plagiarism checker kini banyak digunakan perguruan tinggidalam mendeteksi praktek plagiarisme. Perangkat ini selain dapat mendeteksi kesamaan-kesamaan suatu karya dengan karya yang lain, juga dapat mengukur tingkat kesamaan tersebut. Untuk kalangan perguruan tinggi, perangkat tersebut penting untuk diterapkan guna mencegah tindakan plagiarisme. Dalam kerangka tersebut, di tengah merebaknya penerapan aplikasi plagiarism checker di perguruan tinggi, evaluasi terhadap penerimaan aplikasi atau system pendeteksi tindak plagiarism berbasis teknologi belum dilakukan. Paper ini dimaksudkan menyajikan pentingnya mengukur tingkat penerimaan terhadap aplikasi anti-plagiarisme para sivitas akademika, berdasarkan reiew terhadap literature. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi peneliti untuk melakukan kajian lebih lanjut berkenaan dengan penerimaan sivitas akademika terhadap aplikasi atau system plagiarism checker dalam rangka meningkatkan mutu publikasi ilmiah di perguruan tinggi.
Method
Paper ini seperti dijelaskan sebelumnya merupakan hasil reiew terhadap literature yang relevan. Dalam hal ini, penulis melakukan pengumpulan, pembacaan, dan analisis terhadap literature yang dikumpulkan, baik berupa buku teks, sumber-sumber referensi, dan hasil-hasil penelitian berkenaan dengan topik yang ditulis. Selanjutnya berdasarkan analisis isi literature, penulis sajikan hasil-hasil terdahuluan berdasarkan kategorisasi tertentu.
Result & Discussion
1. Plagiarisme Plagiarisme secara umum didefinisikan sebagai suatu praktek mengambil tulisan atau ide, gagasan orang lain, dan ke dalam suatu karya tanpa menyebutkan sumbernya (Masic, 2012). Praktek plagiarisme ini dapat dilakukan karena kesengajaan, dan dapat juga karena ketidaktahuan atau ketidaksengajaan. Apapun, praktek-praktek plagiarisme ini selain dapat merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain. Pelaku plagiarisme tidak memiliki kepercayaan diri dan diikuti dengan tindakan tidak jujur yang mengakibatkan tidak bisa berlaku adil terhadap orang lain. Banyak faktor yang diidentifikasi sebagai pendorong praktek-praktek plagiarisme. Ananto dan Januarti (2016) menyebutkan bahwa faktor pemahaman dan kemampuan diri seseorang serta adanya fasilitas internet menjadi pemicu terjadinya tindak plagiarisme. Ringkasnya, bahwa plagiarisme merupakan suatu prilaku, baik karena pemahanan yang kurang, atau kemampuan akademik, terutama dalam melakukan sitasi. Melihat faktor penyebab tindak plagiarisme tersebut, banyak usaha atau strategi yang dapat diterapkan untuk mengurangi praktek plagiarisme, terutama di lingkungan perguruan tinggi. Selain pentingnya edukasi terhadap para sivitas akademika berkaitan dengan plagiarisme, deteksi terhadap karya-karya ilmiah yang akan dipublikasikan juga menjadi agenda serius yang mesti dilakukan. Program edukasi tentang plagiarisme ini diharapkan dapat membentuk prilaku akademik sekaligus membekali kemampuan dalam menghindari tindak plagiarisme. 2. Deteksi Plagiarisme Salah satu upaya untuk mencegah tersebarluasnya praktek-praktek plagiarisme di kalangan masyarakat, terutama masyarakat akademik adalah dengan mendeteksi tingkat orisinalitas dan plagiarisme karya-karya yang dihasilkan. Kemajuan teknologi selain dapat menjadi pemicu tumbuh dan berkembangnya praktek plagiarisme, juga menawarkan fasilitas untuk mendeteksi kegiatan plagiarisme melalui alat-alat atau perangkat lunak pendeteksi plagiraisme (Hage, 2007; Ali et.al, 2011; Potthast, 2012). Menurut Ali et.al. (2011) perangkat deteksi plagiraisme ini dapat mendeteksi teks-teks suatu karya yang diduga memiliki kesamaan dengan teks-teks lainnya, dan melakukan penghitungan tingkat kesamaan tersebut. Perangkat-perangkat lunak seperti PlagAware, PlagScan, iThenticate and Turn It In kini banyak digunakan oleh kalangan perguruan tinggi untuk mendeteksi karya-karya yang dihasilkan oleh para sivitas akademika sebelum karya tersbut dipublikasikan. Dengan begitu, praktek-praktek plagiarisme dapat diminimalkan, dan integritas pengarang karya dan integritas institusi tempat pengarang berafiliasi juga terjaga kehormatannya. Meskipun demikian, produk teknologi bukanlah sesuatu yang tanpa kekurangan. Manipulasi terhadap sistem dan kendali teknis lainnya dapat menjadi potensi bagi pengguna teknologi untuk menerima atau menolak menggunakannya. Kepercayaan terhadap teknologi oleh karenanya juga menjadi bagian penting dalam penggunaan produk teknologi, termasuk penggunaan terhadap aplikasi atau software anti-paligiarisme. Di sinilah perlunya juga memberikan edukasi penggunaan teknologi dalam riset dan publikasi ilmiah. 3. Studi yang berkaitan Di kalangan akademisi, masalah plagiarisme telah menjadi objek kajian dalam beberapa tahun terakhir seperti oleh Rosman (2008), Mavrinac et.al. (2010), Walker (2010), Jann & Krumpal (2011), Osman et.al. (2012), dan Howard, Ehrich, and Walton (2014). Di Indonesia, beberapa peneliti seperti Novanta (2009), Nugroho (2011), Zalnur (2012), Isa & Abidin (2013), and Rudiyanto (2015), telah melakukan kajian terhadap persoalan plagiarisme ini. Dari beberapa studi tersebut, terdapat kajian yang lebih menekankan bagaimana cara mendeteksi plagiarisme dengan menggunakan suatu algoritma seperti algoritma Rabin-Karp (Nurgoho, 2011), atau algoritma Smith-Waterman (Novanto, 2012), atau menggunakan Vector Space Model (Isa & Abidin, 2013). Walker (2010) melakukan pengukuran tindakan plagiarisme di kalangan mahasiswa dengan menggunakan software turn it in. Rosman (2008) dan Gullifer dan tayson (2010) melakukan kajiannya terhadap persepsi pelajar atau mahasiswa terhadap praktek plagiarisme. Penelitian yang dilakukan Rosman (2008) di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), para mahasiswa belum memiliki pemahaman yang benar terhadap plagiarisme, dan oleh karenanya diperlukan penjelasan melalui pendidikan. Sementara itu, Gullifer dan tayson (2010) meneliti perspsi mahasiswa terhadap plagiarisme dengan menggunakan metode focus group discussion (FGD). Studi lain tentang metode dalam mengukur persepsi dan sikap terhadap plagiarisme dilakukan oleh Howard, Ehrich dan Walton (2014). Menurut penelitiannya, pendekatan psikometrik tradisional dan modern memiliki rekomendasi yang berbeda dalam pengukuran persepsi dan sikap terhadap plagiarisme di kalangan mahasiswa. Studi yang hampir sama dilakukan olej Jann, Jerke, dan Krumpal (2011). Dengan menggunakan crosswise model, Jann dkk melakukan survei eksperimen untuk mengukur praktek plagiarisme. Menurut penelitian ini, model crosswise dipandang lebih baik dibanding dengan menggunakan pertanyaan langsung dalam hal praktek plagiarisme. Lebih lanjut, Mavrinac (2010) menyusun suatu angket untuk mengukur sikap terhadap plagiarisme, baik sikap negatif maupun positif serta norma subjektif yang berpengaruh terhadap praktek plagiarisme. Di sisi lain, Osman et.al (2012) mencermati beberapa kelebihan dan kekurangan metode deteksi oleh pendekteksi plagiarisme berdasarkan cara kerja masing-masing-perangkat. Zalnur (2012) melalukan penelitian mengenai bentuk-bentuk plagiraisme di kalangan mahasiswa. Hasil penelitiannya menemukan terdapat tiga bentuk praktek plagiarisme di kalangan mahasiswa, yaitu (1) mengambil tulisan orang lain, dan mengakuinya sebagi tulisannnya, (2) mengambil ide orang lain dan menuliskannya dengan bahasanya sendiri, dan (3) mengambil tulisan orang tanpa mengganti ide dan bahasanya. Rudiyanto (2015) di sisi lain menelti atau mengkaji tentang faktor yang menjadi pemicu praktek plagiarisme. Menurutnya, munculnya penerbitan open access memiliki hubungan yang erat dengan praktek plagiarisme di perguruan tinggi. Open access menurutnya memberikan ruang bagi para mahasiswa dalam melakukan tindakan plagiarisme secara mudah. Rohmanu (2017) meneliti masalah integritas akademik dan plagiarisme pada mahasiswa Program Pascasarjana di STAIN Ponorogo. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, lebih dari 50 % mahasiswa terdeteksi melakukan tindak plagiarisme sebagai akibat kurangnya kemampuan dalam melakukan paraphrase. Mahasiswa sering menggunakan kata-kata yang digunakan oleh pengarang lain dalam menuliskan ide atau gagasannya sehingga terdeteksi sebagai suatu kesamaan. Beberapa studi di atas menunjukkan bahwa studi terhadap praktek plagiarisme masih terbuka untuk terus diteliti. Meskipun pengukuran terhadap plagiarisme dengan menggunakan software tertentu seperti turnitin telah dilakukan, studi yang sama masih bisa dilakukan karena memiliki waktu yang berbeda. Studi Walker (2010) selain dilakukan pada waktu lebih dari lima tahun yang lalu, juga cakupan kajian masih terbatas pada mahasiswa. Kajian terhadap penerimaan terhadap penggunaan aplikasi anti-palgiarisme dalam riset dan publikasi ilmiah para dosen belum dilakukan. Oleh karena kajianprilaku plagiarisme, terutama dalam hal kejujuran ilmiah atau academic honesty dan kepercyaan terhadap teknologi perlu dilakukan terutama di kalangan dosen. 4. Model Penerimaan Sistem Plagiarism Checker untuk Pencegahan Tindak Plagiarisme Berdasarkan pembacaan dan analisis terhadap literature yang relevan, penulis memiliki kesimpulan bahwa tindakan plagiarisme berkaitan erat dengan sikap dan tanggung jawab ilmiah, atau integritas akademik. Seorang peneliti atau penulis harus menjunjung tinggi nilai-nilai akademik atau ilmiah dalam menghasilkan karya ilmiah. Pada sisi lainnya, perkembangan teknologi selain memberikan kemudahan bagi peneliti dan penulis dalam menghasilkan karya tulis, juga menghadirkan tantangan untuk menghasilkan karya dengan orisinalitas ide atau gagasan. Dengan perangkat aplikasi teknologi, karya seseorang dapat dengan mudah terdeteksi apakah karya tersebut memiliki kesamaan dengan karya lainnya atau tidak. Beberapa lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi kini telah menerapkan kebijakan pentingnya penerapan aplikasi atau system plagiarism checker bagi publikasi ilmiah para sivitas akademika. Tidak dapat ditawar lagi bahwa setiap karya yang hendak dipublikasikan harus telah memenuhi persyaratan bebas plagirsme, atau memiliki tingkat kesamaan yang rendah dengan publikasi lainnya. Dalam hal ini, integritas akademik dan kepercayaan terhadap teknologi menjadi faktor penting dalam penggunaan aplikasi plagiarism checker untuk menghasilkan karya ilmiah yang benar-benar orisinal dan memiliki kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan. Intergritas akademik yang berupa kejujuran ilmiah atau academic honesty dan kepercayaan individu terhadap suatu produk teknologi (technological trust) merupakan faktor yang mendorong atau mempengaruhi seseorang untuk menggunakan aplikasi tertentu dalam menilai orisinalitas suatu karya. Secara skematik, kerangka konsep penelitian ini digambarkan dalam model penelitian sebagai berikut: [Gambar 1. Model Kerangka Konseptual Integritas Akademik]. Secara bahasa seperti terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (https://kbbi.web.id/), kata integritas memiliki pengertian mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi yang memancarkan kewibawaan, kejujuran. Dalam dunia akademik, atau jika dikaitkan dengan kata akademik, istilah integritas akademik sering dimaknai atau dikaitkan dengan sikap yang perlu dimiliki dalam menghasilkan karya akademik. Integritas akademik memiliki makna yang berkaitan sikap ilmiah yang perlu dimiliki oleh sivitas akademika dalam menghasilkan suatu karya akademik, atau dalam pengertian yang lebih spesifik berkaitan dengan kejujuran ilmiah atau kejujuran akademik. Sikap ini biasanya dintunjukkan dalam penulisan karya ilmiah yang harus terbebas dari tindak plagiarisme. Kejujuran ilmiah sebagai bagian penting dalam kegiatan akademik yang membentuk integritas akademik (Boehm, Justice, & Weeks, 2009). Cavico dan Mujtaba (2009) menjelaskan pentingnya kejujuran ilmiah sebagai variabel yang dapat mengurangi tindak pencurian ide atau gagasan dalam penulisan karya ilmiah. Dalam kaitannya dengan tindak plagiraisme, kejujuran ilmiah ini banyak dikaji oleh peneliti seperti Ryan et.al. (2009), Freisleben (2012), dan Ananto & Januarti (2016). Ananto & Januarti (2016), misalnya, melihat integritas akademik ini berkaitan dengan kesadaran diri, sikap personal, dan kompetensi. Sementara itu, Cavico dan Mujtaba (2009) menjelaskan integritas akademik dalam kaitanyya dengan faktor lesadaran (awareness) dan tanggung jawab professional (professional responsibility). Martina Mavrinac, Gordana Brumini, Lidija Bilić-Zulle, and Mladen Petrovečki (2010) menyatakan bahwa sikap (attitude) baik sikap positif dan sikap negative serta norma-norma subjektif memiliki hubungan dengan tindak plagiarism. Sementara itu, Ryan dkk (2009) menyebutkan rendahnya pengetahuan dan sikap terhadap plagiarism sebagai faktor yang menyebabkan maraknya tindak penyimpangan akademik. [Tabel 1. Variabel & Indikator Integritas Akademik]. a. Kepercayaan Teknologi Selain interitas akademik, peningkatan kualitas karya tulis ilmiah dipengaruhi oleh adanya suatu system yang dapat digunakan untuk mendeteksi tindak plagiarisme. Beberapa literature hasil penelitian menunjukkan pentingnya penerapan aplikasi teknologi untuk pencegahan tindak penyimpangan akademik ini seperti Ledwith, A., &Rísquez, A. (2008), Makhdumi & Soni (2009), Lee, Y. (2011), dan Halgamuge, M. N. (2017). Dalam kerangka penerimaan terhadap aplikasi sebagai produk teknologi, termasuk aplikasi plagiarism checker, atribut teknologi dan kepercayaan terhadap teknologi dipandang sebagai faktor penting. Hubungan kepercayaan terhadap teknologi dengan penerimaan teknologi telah menjadi perhatian banyak peneliti dalam berbagai bidang seperti Grabner-Kräuter, S., & Faullant, R. (2010), Pavlou (2001), Lippert, S. K., &Davis, M. (2006), Ryan et,al (2009), dan Bélanger, F., & Carter, L. (2008). Sebagai contoh, Siegrist (2000) menjelaskan pengaruh kepercayaan terhadap penerimaan teknologi. Seseorang yang percaya terhada teknologi terutama menyangkut kemudahan dan rasa aman yang ditawarkan, ia akan menerima atau menggunakan teknologi tersebut. Penelitian serupa dilakukan oleh Pavlou (2001) pada bidang e-commerce, yaitu bahwa kepercayaan terhadap teknologi akan berpengaruh terhadap penerimaan sistem e-commerce yang diterapkan. [Tabel 2. Variabel & Indikator Technology Trust].
Conclusion
Intergritas akademik dan kepercayaan terhadap teknologi merupakan faktor penting dalam pencegahan terhadap tindak plagiarism dalam penulisan karya ilmiah. Kedua ariabel tersebut memiliki dasar yang cukup kuat secara teori, dan karenanya dimungkinkan memiliki tingkat aliditas dan reliabilitas yang tinggi untuk mengukur penerimaan terhadap penggunaan aplikasi plagiarism checker. Seseorang yang memiliki integritas akademik yang tinggi tidak akan mempermasalahkan perlu tidaknya penggunaan aplikasi untuk mengukur tingkat kesamaaan karyanya dengan karya tulis lainnya, karena baginya mutu dan kejujuran dalam menghasilkan karya menjadi utama. Demikian juga, kepercayaan terhadap teknologi akan mendorong seseorang untuk percaya dan menggunakan aplikasi apapun untuk menjamin karyanya terbebas dari potensi plagiarism. Variable integritas akademik dan kepercyaan terhadap teknologi, karenanya, merupakan konsep penting dalam penerimaan terhadap penerapan aplikasi atau system plagiarism checker guna peningkatan kualitas karya tulis ilmiah.