Kembali
16
1
2023 Jurnal Perpustakaan Pertanian Vol 32 · 1 ISSN 2541-0814

Kajian Penerimaan Aplikasi Inlislite Pada Perpustakaan Lingkup Kementerian Pertanian Study on Acceptance of Inlislite Application in Libraries within Ministry of Agriculture

Kementerian Pertanian; Kementerian Pertanian; Kementerian Pertanian; Kementerian Pertanian; Kementerian Pertanian; Kementerian Pertanian; Kementerian Pertanian

Abstrak

Tujuan pengkajian adalah untuk mengetahui: (1) pengaruh perceived usefulness (kebermanfaatan) terhadap penerimaan (acceptance of IT) aplikasi Inlislite; (2) pengaruh perceived ease of use (kemudahan) terhadap penerimaan aplikasi Inlislite; dan (3) pengaruh faktor sosial terhadap penerimaan aplikasi Inlislite pada perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian. Pengkajian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif, serta menggunakan model TAM (technology acceptance model). Populasi pengkajian yaitu 61 perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian yang telah menggunakan aplikasi Inlislite, dengan jumlah responden sebanyak 73 pustakawan. Pengumpulan data menggunakan angket (kuesioner) pada bulan Maret-April 2021. Data yang dikumpulkan adalah data primer yang meliputi karakteristik responden dan variabel TAM sebagai variabel bebas (X), yang terdiri atas variabel kebermanfaatan (X1), variabel kemudahan (X2), dan variabel faktor sosial (X3). Variabel terikat (Y) adalah penerimaan terhadap aplikasi Inlislite. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa: (1) variabel kebermanfaatan tidak berpengaruh terhadap penerimaan Inlislite (Y), sedangkan variabel kemudahan (X2) dan faktor sosial (X3) berpengaruh terhadap penerimaan Inlislite (Y); (2) secara simultan ketiga variabel X (kebermanfaatan, kemudahan, dan faktor sosial) berpengaruh terhadap penerimaan Inlislite; dan (3) Hubungan antara variabel bebas dan tidak bebas adalah persamaan regresi Y=-1,95+0,069X1+0,165X2+0,499X3. Faktor kemudahan merupakan faktor penting yang memengaruhi penerimaan terhadap aplikasi Inlislite, namun demikian pustakawan masih belum merasakan manfaat dari Inlislite.

Abstract

The objectives of study were to find out: (1) the effect of perceived usefulness on the acceptance of Inlislite applications; (2) the effect of perceived ease of use on the acceptance of Inlislite applications; and (3) the influence of social factors on the acceptance of Inlislite applications in the library within the Ministry of Agriculture. The study used a survey method with a quantitative approach and technology acceptance model (TAM). Population were 61 libraries that had used Inlislite application with 73 librarians as respondents. Data were gathered using a questionnaire from March to April 2021. The primary data included the characteristics of respondents and the TAM variables, namely usefulness (X1), convenience (X2), social factor variables (X3), and acceptance of Inlislite (Y). The results showed that: (1) The usefulness variable did not affect the acceptance of Inlislite. Meanwhile, the convenience variable and social factors affected Inlislite acceptance; (2) Simultaneously, these three variables (usefulness, convenience, and social factors) affected Inlislite’s acceptance; (3) The relationship between the independent and dependent variables was Y=-1.95+0.069X1+0.165X2+0.499X3. The convenience factor was an important factor that influences librarians’ acceptance of the Inlislite application. However, librarians still do not receive the benefits and effectiveness of Inlislite.
Keywords: Library application · inlislite · acceptance

Introduction

Pengembangan sistem informasi perpustakaan di era teknologi informasi dan revolusi industri 4.0 menjadi suatu keharusan bagi perpustakaan. Hal ini dilakukan dalam upaya mengelola sumber daya perpustakaan, menunjang pelaksanaan tugas kepustakawanan dan meningkatkan layanan yang berkualitas bagi pemustaka. Pusat Perpustakaan dan Literasi Pertanian (PUSTAKA) Kementerian Pertanian telah menggunakan berbagai aplikasi sistem informasi untuk menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi institusi. Aplikasi sistem informasi digunakan untuk pengelolaan perpustakaan dan penyebarluasan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian. PUSTAKA mulai tahun 2018 memanfaatkan sistem informasi perpustakaan terpadu atau INLIS (Integrated Library System) versi ringkas (Inlislite) yang merupakan sistem informasi yang dikembangkan oleh Perpustakaan Nasional RI. Sistem informasi tersebut berbasis web yang dapat diakses dari manapun dan kapanpun. Hal ini untuk mempermudah proses penelusuran informasi oleh pengguna. Sistem informasi Inlislite versi 3 telah disosialisasikan kepada seluruh perpustakaan unit kerja/unit pelaksana teknis (UK/UPT) di lingkup Kementerian Pertanian pada tahun 2019. Fitur-fitur yang dimanfaatkan PUSTAKA yaitu (1) back office; (2) akuisisi; (3) katalog; (4) layanan koleksi digital; (5) OPAC (online public access catalogue); (6) artikel; dan (7) keanggotaan. Pengenalan dan sosialisasi aplikasi terus berlanjut sampai tahun 2020. Sampai tahun 2021 baru sebanyak 61 perpustakaan yang telah menggunakan INLIS secara online, lainnya masih offline. Studi tentang penggunaan sistem ini juga memiliki signifikansi dalam mengungkap penerimaan pengguna terhadap sistem informasi yang digunakan di perpustakaan. Memahami pandangan dan harapan pengguna, perpustakaan dapat memodifikasi atau meningkatkan sistem tersebut agar lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain itu, evaluasi juga dapat membantu mengidentifikasi hambatan atau masalah yang mungkin muncul dalam penggunaan Inlislite sehingga dapat diatasi secara efektif. Secara keseluruhan, pengkajian ini akan memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana meningkatkan penggunaan Inlislite di lingkungan Kementerian Pertanian. Selain itu, bagaimana memastikan bahwa sistem ini efektif memenuhi kebutuhan perpustakaan dan penggunanya. Model-model pengukuran penerimaan sistem informasi oleh pengguna telah menjadi fokus penelitian bagi banyak peneliti (Beynon-Davis, 2002; Chuttur, 2009; dan Davis, 1989), dan salah satunya adalah model penerimaan teknologi (technology acceptance model atau TAM) (Fatmawati, 2015; Sembada, 2012; dan Vekantesh and Davis, 2000). Model TAM pertama kali dikembangkan oleh Davis pada tahun 1989. Model ini sebenarnya merupakan adaptasi dari model tindakan yang rasional (theory of reasoned action atau TRA). Perbedaan mendasar antara TRA dan TAM terletak pada penambahan dua variabel kunci dalam TAM, yaitu “perceived usefulness” (kebermanfaatan yang dirasakan) dan “perceived ease of use” (kemudahan penggunaan yang dirasakan). Variabel-variabel ini menjadi pusat perhatian dalam memprediksi sikap penerimaan pengguna terhadap teknologi komputer atau sistem informasi. Model TAM telah menjadi dasar bagi banyak penelitian tentang penerimaan teknologi dan sistem informasi oleh pengguna (Fatmawati, 2015). Ini membantu para peneliti dan praktisi untuk memahami mengapa pengguna menerima atau menolak teknologi tertentu dan bagaimana meningkatkan penerimaan teknologi dalam berbagai konteks. Faktor kebermanfaatan didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang meyakini bahwa penggunaan teknologi/ sistem tertentu akan meningkatkan kinerja. Faktor kemudahan diartikan sebagai tingkat dimana seseorang meyakini bahwa penggunaan sistem informasi adalah mudah dan tidak memerlukan usaha keras dari pemakainya untuk bisa menggunakannya. Faktor sosial didefinisikan sebagai faktor keyakinan dan kepercayaan pengguna kepada sumber informasi Inlislite. Oleh karena itu, berdasarkan studi yang sudah dilakukan oleh Davis (1989) dan Thompson et al. dalam Jin (2003) dapat dikatakan bahwa dalam mengembangkan sebuah sistem informasi (termasuk sistem informasi perpustakaan) perlu dipertimbangkan faktor kebermanfaatan, kemudahan dan sosial dari pengguna sistem informasi (Oktavianti, 2007; Purwanto, 2020; dan Rahmawati, 2003). Thompson et al. dalam Jin (2003) pada penelitiannya menemukan bahwa faktor sosial secara positif memengaruhi penerimaan pengguna terhadap pemanfaatan teknologi informasi. Terbukti pada hasil penelitian Sembada (2012) yang menggunakan variabel faktor sosial menunjukkan bahwa faktor sosial memengaruhi positif penerimaan suatu sistem informasi. Faktor sosial sebagai variabel pemicu keyakinan penggunaan sistem informasi dari segi kepercayaan pada sumber informasi. Berdasarkan uraian tersebut, permasalahan yang dapat dirumuskan yaitu bagaimana penerimaan pengguna terhadap aplikasi Inlislite dilihat dari faktor kebermanfaatan, faktor kemudahan, dan faktor sosial. Untuk dapat menjawab permasalahan tersebut, suatu pengkajian dilakukan dengan tujuan untuk (1) mengetahui pengaruh perceived usefulness (kebermanfaatan) terhadap penerimaan (acceptance of IT) aplikasi Inlislite; (2) mengetahui pengaruh perceived ease of use (kemudahan) terhadap penerimaan Inlislite; dan (3) mengetahui pengaruh faktor sosial terhadap penerimaan Inlislite pada perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian. Hasil pengkajian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan untuk optimalisasi pemanfaatan Inlislite bagi perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian dalam proses bisnis perpustakaan. Selain itu dapat menjadi bahan rekomendasi bagi implementasi pengembangan Smart Library di Kementerian Pertanian.

Method

Pengkajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanatif. Penelitian kuantitatif yang digunakan melalui: (1) survei dan hasilnya berupa data numerik dari pengumpulan data primer dan sekunder yang terkait; (2) tabulasi data; dan (3) analisis data dengan uji statistik (Sugiyono, 2019). Subjek dalam pengkajian ini adalah pustakawan/ pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian yang telah menggunakan aplikasi Inlislite. Objek pengkajian adalah penerimaan pustakawan/pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian terhadap aplikasi Inlislite. Variabel-variabel yang diuji terkait penerimaan perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian terhadap penggunaan aplikasi Inlislite. Pengkajian dilakukan dengan metode survei eksplanatif untuk menjelaskan pengaruh kebermanfaatan, kemudahan dan faktor sosial responden terhadap penerimaan penggunaan aplikasi Inlislite. Populasi pengkajian sebagai objek pengamatan adalah perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian yang telah menggunakan sistem informasi perpustakaan Inlislite, serta para pustakawan/pengelola perpustakaan di lingkup Kementerian Pertanian yang telah mengetahui dan mengikuti sosialisasi Inlislite. Data jumlah perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian yang diperoleh dari data sekunder tercatat sebanyak 107 perpustakaan, namun hanya 61 perpustakaan yang telah menggunakan sistem informasi Inlislite. Selanjutnya sebanyak 54 perpustakaan yang telah terkoneksi secara online untuk tahapan penggunaan aplikasi Inlislite. Pada pengkajian ini tidak digunakan pengambilan sampel, sehingga semua populasi diambil sebagai unit penelitian (Narbuko dan Achmadi, 1997). Oleh karena itu, sebanyak 61 perpustakaan dijadikan sebagai unit analisis yang terdiri atas 73 pustakawan/pengelola perpustakaan menjadi responden. Kerangka pemikiran penelitian membagi dua variabel penelitian, yang terdiri atas variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Terdapat tiga buah variabel bebas atau variabel independent, yaitu 1) variabel kebermanfaatan (X1), 2) variabel kemudahan (X2), dan 3) variabel faktor sosial (X3). Variabel terikat atau variabel dependent adalah variabel penerimaan (Y) terhadap aplikasi Inlislite. Hipotesis penelitian menggunakan teori TAM yang menyatakan bahwa secara signifikan variabel kebermanfaatan, variabel kemudahan, dan faktor sosial berpengaruh terhadap variabel penerimaan aplikasi Inlislite. Gambar 1. Kerangka pemikiran penelitian Variabel kebermanfaatan (X1) adalah persepsi sejauh mana pustakawan percaya bahwa menggunakan Inlislite akan meningkatkan kinerja. Indikator yang digunakan yaitu mempercepat pekerjaan; meningkatkan performa pekerjaan; meningkatkan produktivitas; efektivitas; mempermudah pekerjaan; dan bermanfaat. Variabel kemudahan adalah sejauh mana seseorang percaya bahwa teknologi Inlislite mudah dioperasikan dengan indikator: mudah dipelajari; dapat dikontrol; jelas dan dapat dipahami; fleksibel; mudah menjadi mahir; dan mudah digunakan. Variabel faktor sosial adalah faktor kepercayaan atas kegunaan, kemudahan, dan keamanan; masukan dan penjelasan untuk menggunakannya. Indikator variabel faktor sosial yaitu mendengar dan percaya atas kegunaan sistem, kemudahan, dan keamanan; mendapatkan masukan dari rekan sejawat; dan dukungan atasan terhadap penggunaan sistem informasi. Variabel terikat (Y) adalah penerimaan responden terhadap Inlislite yang dibuktikan dengan rasa puas atau ketergantungan pada sistem dengan indikator: selalu menggunakan Inlislite; kebutuhan dan ketergantungan pada inlislite; kepuasan penggunaan; dan kesinambungan penggunaan. Data pengkajian dikumpulkan melalui survei dan kemudian hasilnya ditabulasikan. Selanjutnya dilakukan eksplanasi dari hubungan antar-variabel yang diperoleh. Validasi pengolahan data menggunakan uji prasyarat dan uji asumsi klasik. Uji prasyarat untuk menguji validitas dengan metode korelasi Pearson Product Moment dan reliabilitas instrumen/kuesioner dengan pengujian Cronbach Alpha (CA), sedangkan uji asumsi klasik untuk menguji pengaruh antara variabel. Analisis data pada pengkajian ini dilakukan pada dua bagian, yaitu analisis regresi dan uji hipotesis. Uji regresi terdiri atas pengujian model, uji F (uji serentak) dan uji-t (uji individu). Pengujian model dilakukan dengan melihat hasil pengolahan regresi berganda yaitu pada koefisien determinasi R2 (Goodness of Fit Model). Uji ini diperlukan untuk mengetahui sejauh mana variasi variabel bebas yang dipakai dalam penelitian mampu menjelaskan variasi dari variabel terikat. Uji F (uji serentak) dilakukan untuk menguji apakah variabel bebas secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat. Terakhir dilakukan uji hipotesis dilakukan menguji semua hipotesis yang telah diajukan.

Result & Discussion

Karakteristik Responden Berdasarkan karakteristiknya, lebih dari separuh responden (65,75%) adalah perempuan, sedangkan lakilaki sebanyak 34,25%. Hal ini menunjukkan bahwa pustakawan atau pengelola perpustakaan di lingkup Kementerian Pertanian sebagian besar adalah perempuan (Tabel 1). Data demografi responden menunjukkan bahwa usia pustakawan dan pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian terbanyak adalah pada rentang 41-50 tahun sebanyak 28 orang atau 38,36%, diikuti responden dengan usia lebih dari 51 tahun sebanyak 24 orang (32,88%). Responden dengan rentang usia 20-30 tahun adalah yang paling sedikit, yaitu hanya 4,11% (Tabel 1). Mayoritas pendidikan terakhir responden adalah D4/S1 sebanyak 56,16%, diikuti D1/D3 sebanyak 21,92%, dan pendidikan S2 sebanyak 15,07%. Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan pustakawan maupun pengelola perpustakaan di lingkup Kementerian Pertanian mayoritas telah mencapai pendidikan tinggi. Hal ini menunjukkan kualitas sumber daya manusia yang cukup baik untuk pustakawan lingkup Kementerian Pertanian. Meskipun demikian, pembinaan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia perlu terus dilanjutkan agar mampu menjawab tantangan yang dihadapi. Berdasarkan jabatan fungsional diketahui bahwa sebanyak 20 orang (27,40%) adalah pengelola perpustakaan tanpa kelas jabatan. Tenaga fungsional pustakawan yang ada sebanyak 72,60%. Jenjang jabatan pustakawan terbanyak adalah pustakawan pertama sebanyak 17 orang (23,29%) , diikuti pustakawan muda 11 orang (15,07%), dan pustakawan terampil 9 orang atau 12,32%. Uji Validitas dan Reliabilitas Data Pengujian validitas menggunakan program SPSS for Windows version 20 yang dilakukan terhadap semua pertanyaan (instrumen) pengkajian menunjukkan bahwa semua variabel yang diuji valid. Hasil uji reliabilitas terhadap instrumen pada setiap variabel dengan menggunakan Cronbach Alpha (CA) menunjukkan hasil reliable. Hasil uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov menunjukkan nilai signifikansi K-S Statistik, bahwa titiktitik berada di sekitar garis linear sehingga disimpulkan data terdistribusi pada ketiga variabel, yaitu X1, X2, dan Y dalam pengkajian ini memiliki distribusi normal. Dari hasil uji yang dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows version 20 menunjukkan nilai korelasi antara Tabel 1. Karakteristik pustakawan dan pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian Variabel Kategori Jumlah Persentase (%) Umur (tahun) 20-30 03 04,11 31-40 18 24,65 41-50 28 38,36 51 24 32,88 Jenis kelamin Laki-laki 25 34,25 Perempuan 48 65,75 Pendidikan formal SLTA Sederajat 5 6,85 (terakhir) D1-D3 16 21,92 D4-S1 41 56,16 S2 11 15,07 Jabatan fungsional Pustakawan Terampil 9 12,32 Pustakawan Mahir 6 08,22 Pustakawan Penyelia 5 06,85 Pustakawan Ahli Pertama 17 23,29 Pustakawan Ahli Muda 11 15,07 Pustakawan Ahli Madya 4 05,48 Pustakawan Ahli Utama 1 01,37 Pengelola Perpustakaan 20 27,40 variabel bebas (X1, X2, dan X3) masing-masing sebesar 0,198; 0,186; dan 0,148, maka model regresi diindikasikan tidak terjadi multikolinearitas. Uji ANOVA atau F test dalam pengkajian ini menghasilkan F hitung sebesar 110,194 dengan tingkat signifikansi 0,000 (p<0,05), maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi variabel penerimaan (Y). Keterangan selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 2. Hubungan antara variabel penerimaan (Y) dengan variabel kebermanfaatan (X1), variabel kemudahan (X2), dan variabel faktor sosial (X3) dapat digambarkan dalam persamaan regresi sesuai Tabel 3. Berdasarkan Tabel 3, dapat dilihat konstanta dan predictor variable (X1, X2, dan X3) untuk memprediksi variasi yang terjadi pada variabel kriteria (Y) melalui Tabel 2. Analisis regresi ganda variabel pengkajian persamaan regresi. Persamaan regresi yang dihasilkan dari pengukuran hubungan kedua variabel tersebut adalah: Y=-1,95+0,069X1+0,165X2+0,499X3, yang berarti setiap penambahan satu nilai variabel kebermanfaatan (X1), maka variabel penerimaan (Y) akan bertambah 0,069, dan setiap penambahan satu nilai variabel kemudahan (X2) akan meningkatkan penerimaan (Y) sebesar 0,165, dan seterusnya. Hasil Pengujian Model Dari hasil analisis regresi berganda diketahui bahwa koefisien determinasi R2=0,811, artinya bahwa variasi dari variabel bebas (X1, X2, dan X3) mampu menjelaskan variasi dari variabel terikat (Y) sebesar 81,1%. Sisanya 18,9% adalah variasi dari variabel bebas yang tidak Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. Regression 0827,442 03 275,814 110,194 a 0 , 0 0 0 Residual 0192,731 77 002,503 Total 1020,173 80 Tabel 3. Koefisien persamaan garis regresi (Constant) -1,950 1,221 Kebermanfaatan (X1) 0,069 0,045 Kemudahan (X2) 0,165 0,059 Faktor sosial (X3) 0,499 0,080 dimasukkan dalam model. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil uji regresi pada Tabel 4. Penerimaan Inlislite Berdasarkan hubungan antara variabel, diketahui bahwa variabel kebermanfaatan dengan nilai signifikansi 0,126 tidak berpengaruh terhadap penerimaan Inlislite (Y). Variabel kemudahan (X2) dan faktor sosial (X3) berpengaruh terhadap penerimaan Inlislite (Y). Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05, artinya variabel bebas secara simultan berpengaruh terhadap variabel terikat Y. Data pada Tabel 5 menunjukkan nilai signifikansi untuk variabel kemudahan (0,006) dan faktor sosial (0,000) lebih kecil dari 0,05, maka artinya variabel bebas (X1, X2, dan X3) secara simultan berpengaruh terhadap penerimaan variabel terikat Y. Berdasarkan hasil pengkajian di atas, diketahui bahwa nilai kebermanfaatan, kemudahan, dan faktor sosial secara simultan berpengaruh pada penerimaan responden terhadap aplikasi Inlislite. Namun demikian, berdasarkan hubungan antar-variabel diketahui bahwa nilai kebermanfaatan aplikasi Inlislite tidak memengaruhi responden terhadap penerimaan Inlislite, sedangkan dari segi kemudahan dan faktor sosial, Inlislite berpengaruh positif. Model R R Square Adjusted R square Std. Error of the estimate Durbin-Watson 1 0,901a 0,811 0,804 1,58209 1,805 Hasil yang menunjukkan tidak ada pengaruh kebermanfaatan terhadap penerimaan aplikasi Inlislite terdapat pada aspek waktu dimulainya implementasi Tabel 4. Ringkasan uji model regresi aplikasi Inlislite di perpustakaan masing-masing. Aplikasi Inlislite mulai disosialisasikan oleh Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2018, yang kemudian segera diadaptasi penggunaannya oleh PUSTAKA. Pada tahun pertama (2018) implementasi Inlislite, hanya satu perpustakaan yang terhubung, yakni PUSTAKA. Hingga pada tahun 2021, telah terhubung 81 perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian yang menggunakan aplikasi Inlislite. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa waktu penerapan aplikasi Inlislite di lingkup Kementerian Pertanian rata-rata 2-3 tahun. PUSTAKA mulai mensosialisasikan aplikasi Inlislite pada periode 2018-2019. Pada kurun waktu tersebut, jumlah perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian yang menggunakan Inlislite pun secara bertahap bertambah. Metode sosialisasi dilakukan dengan cara instalasi program, proses migrasi data dari pangkalan data aplikasi otomasi perpustakaan yang sebelumnya dimiliki, serta pelatihan inputing data menggunakan aplikasi Inlislite (Listina et al., 2021). Wibowo (2018) dalam penelitiannya terhadap salah satu aplikasi keuangan menemukan bahwa proses suatu teknologi bisa diterima kebermanfaatannya dipengaruhi oleh adanya pendampingan yang intensif serta saluran komunikasi sebagai media penyebarannya. Selain itu, peran pimpinan juga memengaruhi karena otoritas yang membuat staf menerapkan aplikasi tersebut. Merujuk pada Teori Difusi Inovasi, Roger (1989) mendefinisikan difusi sebagai proses dimana sebuah inovasi dikomunikasikan melalui berbagai saluran dan jangka waktu tertentu dalam sebuah sistem sosial. Tabel 5. Hasil uji signifikansi Model Beta t Sig (Constant) -1,596 0,115 Kebermanfaatan (X1) 0,172 1,546 0,126 Kemudahan (X2) 0,323 2,813 0,006 Faktor Sosial (X3) 0,476 6,213 0,000 Apabila aplikasi Inlislite ini disebut sebagai suatu inovasi baru dalam pengelolaan perpustakaan, maka diperlukan waktu tertentu sampai aplikasi tersebut diterima oleh penggunanya. Pustakawan lingkup Kementerian Pertanian sudah merasakan kemudahan dari aplikasi Inlislite, faktor sosial dan dukungan terhadap aplikasi juga sudah dirasakan. Namun, lamanya proses difusi aplikasi Inlislite belum terlalu lama, sehingga dalam meningkatkan performa pekerjaan, kebermanfaatannya belum dapat dirasakan oleh pustakawan. Pustakawan masih terus meningkatkan pemahaman terhadap perlu aplikasi Inslislite. Selain itu, Teori TAM itu sendiri merupakan pengembangan dari teori psikologi dimana perilaku pengguna teknologi informasi berdasarkan tiga hal yaitu kepercayaan (belief), sikap (attitude), dan perilaku pengguna (user behaviour) (Purwanto, 2020). Perceived usefulness (kebermanfaatan) sangat terkait dengan belief atau trust, sehingga dari hasil pengkajian ini dapat diketahui bahwa penggunaan aplikasi Inlislite belum begitu lama diterima oleh responden, sehingga belum dapat menimbulkan kepercayaan atau trust dalam diri mereka, dan sebaliknya secara langung juga berdampak pada keraguan terhadap kebermanfaatan aplikasi tersebut.

Conclusion

Kesimpulan Variabel kebermanfaatan tidak berpengaruh terhadap penerimaan Inlislite (Y), sedangkan variabel kemudahan (X2) dan faktor sosial (X3) berpengaruh terhadap penerimaan Inlislite (Y). Secara simultan ketiga variabel tersebut (kebermanfaatan, kemudahan, dan faktor sosial) berpengaruh terhadap penerimaan Inlislite. Hubungan antara variabel bebas dan tidak bebas tersebut adalah Y=1,95 +0,069X1+0,165X2+0,499X3. Faktor kemudahan merupakan faktor penting yang memengaruhi penerimaan pustakawan terhadap aplikasi Inlislite, namun demikian pustakawan masih belum merasakan manfaat dan efektivitas dari Inlislite. Dalam mengembangkan aplikasi untuk perpustakaan, faktor kemudahan menjadi pertimbangan utama. Saran Pelatihan secara intensif tahap demi tahap dalam jeda waktu yang tidak terlalu lama perlu diselenggarakan untuk meningkatkan pengetahuan pustakawan dan pengelola perpustakaan tentang Inlislite. Hal ini untuk meminimalisir kesulitan pada awal penggunaan Inlislite. Pada saat pengenalan Inlislite kepada pustakawan dan pengelola perpustakaan perlu disampaikan keunggulan dan kemudahan Inlislite.