ANALISIS WACANA KRITIS DALAM LINGKUP PENELITIAN DI BIDANG PERPUSTAKAAN
Universitas Diponegoro
Abstrak
Wacana tentang sebuah perpustakaan dapat mempengaruhi pemustaka dalam pemikirannya terhadap suatu perpustakaan. Adanya wacana yang terbangun dapat membentuk citra tertentu dari sebuah perpustakaan. Analisis wacana perpustakaan berarti membahas tentang bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi terkait tema atau topik di bidang perpustakaan. Cara ini dapat membantu peneliti untuk mengungkap motivasi di balik sebuah teks. Teks berjalan berkelindan dengan konteks sosial dimana teks tersebut dibuat dan digunakan. Wacana perpustakaan menjadi suatu cara bagaimana perpustakaan itu dibicarakan secara terbuka pada khalayak sehingga memunculkan pemahaman yang menyebar secara lebih luas. Dalam melakukan analisis wacana kritis bisa menggunakan objek sumber data seperti halnya dokumen, surat kabar, pidato, foto, pamflet, film, maupun sumber media lainnya.
Abstract
Discourse about a library can influence users in their thinking about a library. The existence of discourse that is built can form a certain image of a library. Library discourse analysis means discussing the language used to communicate related themes or topics in the library field. This method can help researchers to uncover the motivation behind a text. The text goes hand in hand with the social context in which the text is created and used. Library discourse becomes a way of how the library is discussed openly to the public so that it gives rise to a wider understanding. In conducting critical discourse analysis, one can use data source objects such as documents, newspapers, speeches, photos, pamphlets, films, and other media sources.
Keywords:
analisis wacana
· perpustakaan
· multimodal
· analisis wacana kritis
Introduction
Pustakawan dalam menjalankan kegiatannya di perpustakaan, tentu ada wacana yang terbangun, baik itu yang berasal dari dalam perpustakaan maupun dari pihak pemustaka sebagai pengguna jasa layanan perpustakaan. Dalam artian bahwa wacana menjadi sebuah konstruksi yang menekankan pada realitas sosial melalui konstruksi bahasa dan simbol tertentu sehingga memiliki dampak setelah wacana tersebut beredar. Jika dari dalam berarti wacana dikemas untuk memberikan informasi kepada pemustaka. Perpustakaan melalui peran aktif pustakawannya wajib membangun wacana dengan memberikan informasi bukan sekedar promosi mengenalkan fasilitas apa yang dimiliki. Namun demikian, justru yang terpenting adalah menginformasikan manfaat apa yang diperoleh pemustaka dari fasilitas yang dimiliki oleh perpustakaan tersebut. Semua wacana itu bisa sebagai alat untuk menyampaikan persepsi dari keberadaan perpustakaan. Wacana yang dibangun bisa disebarkan melalui media surat kabar, berita di website, media sosial perpustakaan, informasi yang masuk di kotak saran, maupun disampaikan secara langsung. Wacana yang positif dapat meningkatkan citra baik perpustakaan, begitu pula sebaliknya jika wacana yang muncul kurang baik maka juga berakibat pada jeleknya citra perpustakaan. Wacana sudah merupakan tindakan sehingga dapat dilihat sebagai suatu bentuk praksis sosial yang menggabungkan antara struktur sosial dan peristiwa sosial. Wacana tentang perpustakaan sebagai praksis sosial bisa diketahui dari adanya interaksi simbolis. Hal ini nampak pada bentuk sebuah tulisan, pembicaraan, gambar, meme, film, novel, komik, pidato, iklan, dan lain sebagainya. Wacana positif maupun negatif akan memiliki dampak bagi reputasi sebuah perpustakaan. Sejauh ini analisis wacana masih belum banyak dilakukan dalam penelitian dalam lingkup perpustakaan. Mahasiswa program studi ilmu perpustakaan maupun pustakawan masih jarang yang melakukan penelitian dengan analisis wacana. Hal ini bisa dicermati dari lulusan S1 Ilmu Perpustakaan dalam skripsinya maupun hasil kajian para pustakawan dalam kegiatan pengembangan sistem kepustakawanan. Dalam artikel ini dipaparkan pengantar analisis wacana dari pengertian, ruang lingkup analisis wacana, analisis wacana kritis, serta contoh perspektif analisis wacana.
Result & Discussion
Analisis Wacana Analisis wacana (discourse analysis) dapat dijelaskan sebagai suatu disiplin ilmu yang mempelajari wacana. Manfaat dari analisis wacana bagi peneliti atau penganalisis wacana adalah dapat mengetahui hakikat bahasa, proses belajar bahasa, maupun perilaku berbahasa. Unsur dalam wacana terdiri dari subjek yang menanyakan, kepada siapa disampaikan, ruang lingkup yang mau direpresentasikan, maupun kontes waktunya. Analisis wacana dalam Arifin dan Rani (2000) dijelaskan sebagai disiplin ilmu yang berusaha mengkaji penggunaan bahasa yang nyata dalam tindak komunikasi. Analisis wacana bisa dilakukan untuk meneliti dalam lingkup bidang perpustakaan. Sejauh ini memang belum banyak mahasiswa program studi ilmu perpustakaan atau pustakawan yang menggunakan analisis wacana dalam risetnya. Padahal analisis wacana menjadi hal yang menarik dan perlu dilakukan. Hasil analisis wacana yang dilakukan dapat memberikan kontribusi manfaat teoritis maupun praktik dalam memberikan konsep penelitian terkait analisis wacana sehingga dapat dikembangkan cakupannya secara lebih luas dalam bidang perpustakaan. Wacana dijelaskan sebagai acuan yang maknanya lebih luas dari hanya sebagai bacaan. Artinya melibatkan penggunaan bahasa secara nyata dalam tindak sosial. Satuan untuk pendukung kebahasaan yang dimaksud diilustrasikan sebagai berikut: Gambar 1. Satuan Pendukung Kebahasaan Dari Gambar 1 dapat dijelaskan bahwa rangkaian bunyi akan membentuk sebuah kata lalu rangkaian kata yang dibentuk akan menjadi suatu frasa. Selanjutnya dari rangkaian frasa akan membentuk kalimat, dan akhirnya rangkaian kalimat akan membentuk paragraf. Pengertian wacana juga sebagai satuan bahasa, hasil dan proses, maupun penggunaan bahasa. Komunikasi dengan bahasa tutur terkadang tidak bisa dipahami dengan efektif ketika tidak disertai dengan aspek komunikasi nonverbal yang menyertainya. Contohnya ketika Pustakawan A menunjukkan letak buku ada di rak 12. Pustakawan A berbicara sambil tersenyum dan menggerakkan tangan kanannya ke arah rak 12 yang ada di sebelah kanan maka pemustaka akan mudah memahami dengan baik dari pesan yang disampaikan pustakawan. Bahasa linguistik bukan satu-satunya alat sebagai penyampai pesan. Contoh pertama, ketika pustakawan memberikan "bunga" bagi pemustaka yang berulang tahun, walaupun ada ungkapan indah bahwa "katakan dengan bunga" tetapi "bunga" dalam konteks ini sebetulnya menjadi simbol untuk mengkomunikasikan makna. Sama-sama bunga mawar segar misalnya, tetapi pemberian setangkai bunga mawar segar dengan satu ranjang bunga mawar juga maknanya jelas berbeda. Contoh kedua, ketika perpustakaan memberikan ucapan selamat dan merchandise bagi pengunjung yang paling banyak frekuensi berkunjungnya ke perpustakaan. Ketika ucapan selamat ditulis dalam kertas seadanya maka menjadi berbeda ketika ucapan selamat ditulis rapi di kertas warna dengan jenis huruf yang menarik dan bermotif batik di tepinya. Contoh ketiga, ketika perpustakaan menggunakan media sosial misalnya instagram untuk unggah foto kegiatan perpustakaan. Dalam konteks instagram yang digunakan berarti ada pembauran linguistik berupa caption dengan berbagai tipografi maupun citra visual perpustakaan yang ditunjukkan dengan pilihan informasi, komposisi warna, bahasa, serta simbol lainnya yang ditunjukkan. Dari ketiga contoh tersebut artinya bahwa aspek di luar bahasa linguistik juga berperan penting dalam segala bentuk praktik komunikasi, seperti: media, warna, pilihan tipografi, tata letak, dan lain sebagainya. Analisis wacana menjadi paradigma kritis dan bisa digunakan untuk menganalisis kajian di bidang perpustakaan. Wacana mengenai perpustakaan dan pustakawan yang berkembang di masyarakat, dapat dilihat melalui teks yang diproduksi di berbagai media. Cakupannya sangat luas dan bisa dieksplorasi lebih jauh. Untuk contoh kajiannya antara lain: - analisis untuk mengetahui citra perpustakaan yang ditinjau dari perspektif analisis wacana yang berkembang; - analisis respon khalayak terhadap informasi tentang perpustakaan; - analisis untuk mengetahui pandangan surat kabar tertentu yang memuat wacana berita tentang perpustakaan; - analisis citra pustakawannya, misalnya untuk mengungkap karakter; - analisis fitur stilistik pada wacana iklan masyarakat terkait promosi perpustakaan; - analisis struktur wacana tulisan terkait perpustakaan dalam rubrik media tertentu; - analisis wacana pada jenis koleksi (misalnya: ensiklopedi), misalnya dilihat dari penyajian informasinya; - analisis wacana terhadap retorika, misalnya dari pidato kepala perpustakaan dengan menganalisis konteks tempat dibacakannya pidato, konteks peserta yang mendengarkan pidato, maupun konteks tujuan dari dibacakannya pidato. - analisis wacana terhadap muatan tanggapan pemustaka dalam pemberian informasi perpustakaan di media sosial; - analisis representasi peran perpustakaan dalam wacana pada novel tertentu; - analisis representasi pustakawan dan perpustakaan dalam film tertentu; - analisis wacana lirik lagu mars perpustakaan; - analisis representasi Undang-Undang tentang perpustakaan pada bab tertentu; - analisis wacana pada program tayangan gemilang perpustakaan nasional yang ditayangkan melalui televisi; - analisis wacana generasi pemustaka milenial dalam karikatur yang ada di media massa, dan lain sebagainya. Pada saat pustakawan menggunakan analisis wacana untuk menganalisis respon pemustaka terhadap iklan tentang perpustakaan yang diunggah di media sosial, maka komentar dari pemustaka yang tertulis pada komentar bisa disebut sebagai wacana tertulis. Hal ini karena komentar tersebut berupa teks yang menarik untuk dianalisis maknanya. Jadi analisis wacana dalam konteks ini merupakan instrumen untuk melihat makna di balik kata-kata yang disampaikan oleh pemustaka melalui komentar yang diunggah. Jadi melalui analisis wacana diharapkan dapat membongkar ideologi di balik tulisan yang ada. 2. Ruang Lingkup Analisis Wacana Analisis wacana berhubungan dengan yang namanya kata, kemudian kalimat, dan juga ungkapan komunikatif, baik itu yang secara lisan maupun tulis. Suatu contoh ada analisis wacana tulis yang pengklasifikasian wacananya berdasarkan bentuk saluran. Jika wacana tulis berarti teksnya berupa rangkaian kalimat dengan bahasa tulis. Dalam konteks ini bisa ditemukan misalnya dalam bentuk buku, artikel, berita surat kabar, maupun makalah. Artinya teks tersebut menjadi rekaman suatu peristiwa komunikatif. Wacana dalam komunikasi tertulis nampak dari ide atau gagasan yang diungkapkan. Analisis wacana yang berupa teks tulis berdasarkan pada bentuk transkripsi kalimat yang dirangkai melalui ragam bahasa tulis. Jadi ada penanda metalingual yang berfungsi memberikan tanda hubungan antara klausa sehingga penganalisis atau peneliti wacana akan berupaya mengkaji untuk apa bahasa tersebut dipakai. Oleh karena analisis wacana berhubungan pada pemahaman entah itu secara verbal dan nonverbal, maka maka pustakawan yang tertarik melakukan kajian dengan analisis wacana memerlukan bekal pengetahuan kebahasaan yang komprehensif dan memperhatikan deskripsi sintaksis kalimat maupun semantiknya. Analisis wacana dalam pandangan Brown dan Yule (1996), bahwa analisis tidak dibatasi pada deskripsi bentuk bahasa yang tidak terikat pada tujuan atau fungsi yang dirancang untuk menggunakan bentuk tersebut. Unsur pendukung wacana dikelompokkan ke dalam unsur internal dan unsur eksternal. Unsur internal terdiri atas satuan kata dan kalimat maupun teks dan koteks. Koteks merupakan alat bantu memahami wacana, ada hubungan dengan teks lain, bersifat sejajar dan koordinatif, serta memiliki struktur yang saling berkaitan sehingga menjadi utuh dan lengkap. Unsur internal dalam wacana terkait dengan aspek sintaksis, kohesi dan koherensi, fungsi konteks, hubungan antar kalimat, maupun aspek internal kebahasaan dan gramatikal lainnya. Sementara itu, unsur eksternal berarti dengan mengeksplorasi wacana dari segi eksternalnya di luar wacana. Artinya tidak nampak secara eksplisit, misalnya melihat hubungan antara wacana dengan berbagai persoalan sosial yang muncul, faktor lingkungan, aspek psikologis, maupun hubungan interdisipliner lainnya. Wacana menjadi satuan bahasa untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Sifatnya bisa transaksional maupun interaksional. Kriteria yang menentukan dalam wacana adalah keutuhan makna atau organisasi semantis yang dimiliki. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Mulyana (2005: 5) bahwa ada tidaknya kesatuan makna itu menjadi pembeda antara bentuk wacana dengan bentuk bukan wacana. 3. Analisis Wacana Kritis Metode menggunakan Analisis Wacana (AW) berbeda dengan Analisis Wacana Kritis (AWK). Haryatmoko (2016: 14) menjelaskan letak perbedaannya pada struktur pengetahuan kerangka acuan, dan tujuannya. Dari struktur pengetahuannya, AW mendeskripsikan tentang fakta dengan ambisi bebas nilai (objektif), sedangkan AWK merupakan pengembangan dari tradisi ilmu sosial kritis bersifat tidak bebas nilai (subjek harus ikut terlibat). Selanjutnya dari kerangka acuannya, AW tidak mau condong ke nilai atau politik tertentu, mengambil jarak, menjelaskan, mengontrol maupun memprediksi. Sementara itu jika AWK, dimotivasi oleh tujuannya memberi dasar ilmiah bagi pertanyaan kritis terhadap kehidupan sosial dalam rangka moral, politik, keadilan sosial dan kekuasaan (berpihak). Apabila dari tujuannya, AW memberdayakan bentuk-bentuk kehidupan sosial agar bisa bekerja lebih efektif dan efisien tanpa merasa terlibat dalam masalah moral dan politik. Sementara itu, AWK menumbuhkan kesadaran kritis dengan membongkar bentuk-bentuk dominasi yang disembunyikan (menjadi agent of change), mendemistifikasi bahasa karena membekukan ideologi dan jadi instrumen kekuasaan, dan menghasilkan pengetahuan untuk melawan cara memerintah yang dominan. Jadi AWK bukan hanya persoalan bagaimana menganalisis teks. Namun juga pada struktur sosialnya, ketidaksetaraan sosial dan posisi analisis wacana dalam hubungan sosial, kuasa, kelompok kekuasaan, dominasi, serta kognisi pada teks yang dianalisis. Dalam van Dijk (1985) dijelaskan sisi perbedaan AWK dengan tipe lainnya. Van Dijk memfokuskan pada peran wacana dalam (re) produksi dan tantangan dominan. Dominan didefinisikan sebagai penggunaan kekuatan sosial seperti halnya elit, institusi, kelompok. Adanya dominan berakibat adanya ketidaksetaraan sosial, termasuk ketidaksetaraan politik, kultural, kelas, etnik, ras, dan ketidaksetaraan gender. Prinsip dan tujuan AWK bahwa seharusnya berhadapan utamanya dengan dimensi wacana dari penyalahgunaan kekuasaan dan ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang diakibatkan dari kondisi. Strateginya dengan menekan isu-isu sosial yang harapannya untuk dapat lebih baik dalam memahami melalui analisis wacana. Target kritikal AWK adalah kekuasaan para elit yang membuat, memberlangsungkan, melegitimasi, mengampuni atau tidak memperdulikan ketidakadilan dan ketidaksetaraan sosial. Satu anggapan penting pada AWK adalah memahami kealamiahan kekuatan sosial dan dominan. Kekuatan sosial adalah melandaskan diri pada akses istimewa pada sumber-sumber nilai sosial (seperti kekayaan, pendapatan, posisi, status, kekuatan, keanggotaan kelompok, pendidikan atau pengetahuan. Hal ini melibatkan kontrol oleh anggota suatu kelompok pada kelompok yang lain dan kekuatan dan dominan biasanya terorganisir. Dalam teori wacana diketahui bahwa fenomena sosial tidak pernah paripurna atau total. Selanjutnya dalam analisis wacana kritis, teks tidak hanya berupa satuan bunyi bahasa saja. Apalagi jika tidak menyertakan sejumlah perangkat praktis yang berorientasi tekstual. Jadi sebagai pengembangan teori wacana perlu melengkapi teori dari pendekatan model atau perspektif lainnya dalam analisis wacana. Jorgensen dan Phillips (2002) menjelaskan bahwa AWK bisa untuk mengkaji perkembangan sosial kultural yang tentunya dalam domain sosial yang berbeda. 4. Contoh Analisis Wacana Beberapa konsep teori dari analisis wacana yang bisa diterapkan untuk menganalisis wacana tentang perpustakaan ada berbagai macam perspektif. Bahan referensi yang mendukung, antara lain: analisis wacana kritis model Norman Fairclough (1995), model Teun A. van Dijk (1985), model van Leeuwen (2005, 2008, 2015); analisis wacana historis model Ruth Wodak (2009); analisis wacana multimodal model Gunther Kress dan Theo van Leeuwen (2001) maupun analisis wacana geopolitik kritis model Argentina Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe (1985). Dalam artikel ini akan dibahas konsep dasar analisis wacana dalam perspektif Mills, van Dijk, maupun van Leeuwen. a. Perspektif Sara Mills Penekanan analisis wacana menurut Mills (2001) yaitu posisi dari berbagai aktor sosial maupun posisi suatu peristiwa atau gagasan yang ada dalam teks. Hal ini bisa dijelaskan bahwa ketika peneliti atau pustakawan melakukan analisis wacana dalam perspektif Mills berarti melihat bagaimana (how) teks dapat memposisikan subjek, dan begitu pula posisi dari pembaca dalam relasi sosial. Jadi untuk menganalisis diskursus tentang perpustakaan bisa menggunakan analisis wacana perspektif Sara Mills. Caranya adalah dengan mengidentifikasi secara cermat dan mencoba untuk menempatkan dirinya dalam penceritaan teks. Selanjutnya adalah menganalisis posisi dari para aktor yang ditampilkan dalam teks wacana. Posisi para aktor yang dimaksud adalah memahami subjek penceritaan dan objeknya sehingga penganalisis bisa melihat struktur teks dan maknanya. Setelah mengetahui cara penceritaan yang ditampilkan dalam teks maka penganalisis wacana bisa mengetahui posisi aktor sosial dan bagaimana posisi gagasan dalam teks. Mills (2001) menyebutkan bahwa setiap subjek memiliki perbedaan sudut pandang dalam memandang suatu objek. Jika dibumikan dalam konteks perpustakaan maka dapat dijelaskan bahwa setiap aktor perpustakaan maupun pihak luar perpustakaan bisa menjadi subjek dirinya sendiri sehingga dapat mendeskripsikan dirinya sendiri dan mampu menggambarkan perpustakaan menurut persepsi dirinya. Dalam hal ini berarti dalam penceritaan perpustakaan akan ditempatkan sebagai objek suatu wacana. Selanjutnya representasi perpustakaan bisa ditampilkan oleh aktor lainnya. Jadi baik pihak perpustakaan maupun pihak di luar perpustakaan akan menghasilkan wacana yang berbeda dalam menceritakan perpustakaan sebagai objek dalam wacana. Penelitian analisis wacana bisa dengan menggunakan data primer melalui observasi pada sejumlah media yang memuat berita atau opini tentang perpustakaan. Media yang dimaksud bisa media cetak maupun online. Selanjutnya untuk memperkuat analisis wacana tentang perpustakaan, maka bisa menggunakan data sekunder yang berupa studi literatur, baik riset terdahulu, maupun buku atau literatur lainnya yang mendukung. b. Perspektif Teun A. van Dijk Dalam perspektif van Dijk, analisis wacana adalah dengan memandang bahasa dikaitkan dengan kekuasaan, ideologi, maupun politik. Elemen-elemen wacana dapat dielaborasikan sehingga praktis digunakan. Tahap analisis dengan menggabungkan dimensi teks, kemudian kognisi sosial, dan juga konteks sosial. Dimensi teks dengan melihat struktur teks maupun strategi wacana untuk menegaskan tema dengan tingkatan struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Struktur makro berarti teks ditinjau dari makna umumnya. Hal ini diamati dengan menganalisis topik maupun tema dalam cerita, maupun struktur argumen dari sebuah deskripsi. Superstruktur dengan menganalisis kerangka teks, bagian teks dalam cerita secara utuh, penjelasan (asumsi), norma, serta nilai yang dipresentasikan. Struktur mikro berarti menganalisis makna wacana dengan mengamati bagian kecil cerita, dengan melihat gaya retorikanya, stilistik, bagian semantik, maupun sintaksisnya. Selanjutnya kognisi sosial menekankan proses produksi pada teks berita sehingga ada kognisi individu dari redakturnya. Kalau konteks sosial berarti terkait masalah yang mempengaruhi kognisi redakturnya. Van Dijk mengembangkan framework dalam analisis terhadap berita (terutama koran) sebagai discourse. Metode atau cara kerjanya adalah: Pertama, naming choice, yaitu melihat pemilihan nama. Hal ini merefleksikan keterlibatan emosi penulis terhadap orang yang disebut. Dalam naming choice ini ada persoalan in group dan out group. Contohnya penyebutan Kepala UPT Perpustakaan (lebih official), Ibu Endang (lebih netral), Ibu Pimpinan (lebih bias). Kedua, lexical choice, yaitu dengan melihat pemilihan kata yang sama oleh orang yang berbeda sehingga akan menunjukkan ideologi yang berbeda. Contohnya walaupun sama-sama menyebut „Ibu kepala‟ tetapi jika diucapkan oleh orang yang berbeda, maka memiliki makna yang berbeda pula (melihat siapa yang menyebut). Analisis wacana dalam perspektif van Dijk juga dikenal dengan nama model Social Cognitive Approach (SCA) misalnya dengan mengembangkan berita di koran dari analisis teks menjadi analisis diskursif. Dalam menganalisis tentang praktik produksi dan pemahaman berita adalah dengan menekankan pada proses kognisi sosial. Sebagai unit analisisnya yang dilihat adalah paragraf sehingga memfokuskan pada pemilihan nama, pemilihan leksikal dan argumen yang diberikan editor (dalam hubungannya dengan deskripsi topik yang dibahas, misalnya tentang relasi kuasa di perpustakaan). Kognisi sosial itu menjadi perantara antara level (mikro dan makro masyarakat), kemudian antara (wacana dan tindakan), serta antara (individual dan kelompok). Norma-norma umum dan nilai-nilai yang yang kemudian diturunkan dalam bentuk-bentuk kepercayaan yang lebih jauh diorganisir ke dalam ideologi yang lebih kompleks, abstrak dan basic sehingga ideologi menjadi kognisi sosial yang fundamental yang merefleksikan tujuan dasar, ketertarikan dan nilai-nilai kelompok. Contohnya berita di surat kabar tentang e-resources di Perpustakaan Nasional adalah berdasarkan model jurnalistik tentang koleksi elektronik, dan model-model ini kemudian dikonstruksikan sepanjang interpretasi dari berbagai sumber teks misalnya media lain, dibentuk oleh pengetahuan yang ada (tentang perpustakaan, akses digital, cara mengunduh, dan lain sebagainya). Proses reproduksi memungkinkan adanya keterlibatan mode-mode wacana yang berbeda relasi kuasa sebagai lebih kurang dukungan langsung atau yang tampak, pembuatan, representasi, legitimasi, pengingkaran, mitigasi atau penyembunyian sang dominan diantara yang lain. Secara spesifik, analisis wacana menekankan pada struktur, perlengkapan lainnya pada sebuah teks, interaksi verbal, maupun peristiwa komunikatif yang memainkan peran dalam mode reproduksi. Menurut pendapat van Dijk mendeskripsi detail, penjelasan dan kritik tentang bagaimana wacana-wacana dominan (secara tidak langsung) mempengaruhi pengetahuan, perilaku dan ideologi yang dibagi secara sosial, melalui peran mereka di dalam manufaktur model-model yang konkret. Pendekatan kritis van Dijk lebih mengarah untuk fokus pada para elit dan strategi diskursif mereka untuk memelihara ketidaksetaraan. Jadi kognisi sosial telah menjadi satu dari kelemahan teoritis dalam hampir semua analisis linguistik dan wacana kritis. Untuk wacana dan akses, maka akses menjadi sesuatu yang menarik sekaligus agak samar secara analitis. Sebuah analisis pada berbagai mode wacana menguak adanya paralelisme antara kekuatan sosial dan akses wacana. Terkait struktur wacana meskipun setiap bentuk dominan memiliki properti sosial, politik dan budaya masing-masing, dan juga perbedaan cara reproduksi diskursif, namun dapat diasumsikan bahwa terdapat domain-domain gender, kelas, kasta, agama, bahasa, pandangan politik, wilayah atau kriteria lain yang memungkinkan kelompok lain dibedakan, ditekan atau dimarjinalkan. Bahkan dalam produksi wacana, terutama ketika mengarah pada anggota kelompok yang didominasi, seringkali akan menjadi kasus adanya penyalahgunaan kekuasaan. Selanjutnya dalam pandangan van Dijk, struktur maupun strategi dipahami sebagai objek tekstual, praktik sosial budaya, serta tindakan dan hubungan. Metode analisis wacana van Dijk dengan cara pemilihan editorial dengan menganalisis bagaimana mempresentasikan argumen/opini pemilik. Dalam editorial ini biasanya memiliki 3 (tiga) skema, yaitu: mendefinisikan sesuatu dan menjelaskan event-event; memberikan evaluasi pada event; dan memberikan kesimpulan (conclusion). Studi van Dijk dengan melihat bahwa para aktor yang berkuasa yang berargumen seringkali melakukan manipulasi dalam argumen-argumen mereka, baik secara eksplisit maupun implisit. Contohnya: “Bagaimana kebijakan tentang perpustakaan dipotretkan editor pada Surat Kabar Suara Merdeka dan Koran Sore Wawasan?” Dengan demikian, saya dapat menganalisisnya dari kedua media massa tersebut yaitu bagaimana sebuah kejadian (events), pemain/aktor (players), dan kebijakan (policy) terkait berita tentang perpustakaan dipotretkan di Surat Kabar Suara Merdeka dan Koran Sore Wawasan. c. Perspektif Theo van Leeuwen Van Leeuwen (2015) menjelaskan bahwa perkembangan teknologi media yang semakin pesat menyebabkan komunikasi menjadi bersifat multimodal. Dalam konteks ini nampak ketika ada interaksi maupun tindakan representasi dalam sebuah praktik komunikasi. Oleh karena itu, multimodalitas menjadi karakter yang kuat dari berbagai macam praktik komunikasi. Multimodal merujuk pada kombinasi moda-moda semiotik yang berbeda. Hal ini tentu produsen teks ikut andil dalam pemilihan modanya. Apalagi saat ini dengan pesatnya perkembangan teknologi media maka juga mengakibatkan munculnya persoalan moda baru dalam membangun sebuah makna tertentu. Contohnya unggahan foto perpustakaan di facebook, lalu pemustaka yang melihat memberikan tanda like, tanda hati, atau pilihan simbol lainnya. Belum lagi pemustaka yang memberikan komentar dengan moda bahasa tulis untuk mengekspresikan sesuatu. Jadi moda semiotik tidaklah bersifat universal, tetapi justru spesifik tergantung oleh orang yang memang memahami karakteristik dari modanya. Analisis wacana multimodal menjadi alat metodis untuk mengkaji konfiguransi wacana yang ada dalam sebuah teks. Dalam Kress dan van Leeuwen (2001) juga jelas disebutkan bahwa makna dalam berkomunikasi multimodal dibentuk melalui tahapan atau strata yang bekerjanya tidak berurutan secara hierarkis, yaitu: discourse, design, production, dan distribution. Hierarkis mengandung makna bahwa kedudukan antara satu strata dengan strata lainnya tidak berarti lebih tinggi atau lebih rendah. Jadi dapat dikatakan dalam multimodalitas itu berarti masing-masing moda mempunyai kapasitas setara atau sejajar. Kress dan van Leeuwen menempatkan wacana sebagai sesuatu yang terpisah berada di luar bahasa/moda relasi lainnya maupun sebagai sesuatu yang ditampilkan yang muncul dalam moda relasi. Film sebagai wacana bisa diungkap maknanya melalui media audio visual yang diperlakukan sebagai teks. Untuk filmnya bisa dibatasi dalam kurun waktu era tahun tertentu. Film era tahun 2000-an bertema perpustakaan, misalnya: The Librarian (2004, 2005, 2008); Heartbreak Library (2008); The Library (2013); Library Wars (2013). Jadi pustakawan bisa melakukan analisis dengan metode AWK dengan objek berupa film dengan memilih film yang di dalamnya ada scene perpustakaan atau menggambarkan adegan cerita di perpustakaan. Hal ini seperti film hantu di perpustakaan, buku hantu, cintaku di perpustakaan, pemustaka yang sedang berkunjung ke perpustakaan, dan cerita perpustakaan lainnya dalam film. Ada film yang di dalamnya menggambarkan pustakawan yang berbaju kurang rapi atau lusuh menunjukkan stereotip tertentu yang bisa dianalisis secara kritis. Misalnya scene film ketika pemustaka berjenis kelamin perempuan masih semester 1 dilayani oleh Pustakawan B dengan baju seragam tertentu (misalnya agal kusuh), kemudian dalam film ada scene lagi beberapa tahun kemudian setelah pemustaka mengurus bebas pustaka mau wisuda, tetap saja digambarkan dengan Pustakawan B yang ditampilkan dengan tidak berubah sama sekali, baik dari sisi tampilan orang maupun bajunya. Padahal dari sisi pemustakanya sudah jauh berbeda tampilannya, misalnya dulu semester satu masih lugu karena barangkali baru lulus SMA, sedangkan saat mau wisuda sudah tampil dengan modis dan berdandan. Hal ini menjadi menarik jika dilakukan kajian dengan AWK dengan unit analisis pada adegan terkait dengan komponen perpustakaan, termasuk koleksi, pustakawan, dan pemustakanya. Analisis dari alur, proses cerita, penokohan, tempat, dan yang lainnya dapat digunakan peneliti untuk mengetahui posisi maupun konteks perpustakaannya sehingga dapat membongkar stereotip yang dimunculkan dalam film tersebut. Contoh lainnya karikatur gambar pustakawan wanita jaman dulu dan jaman sekarang yang merupakan teks yang oleh pemroduksi teksnya memang dirancang untuk membangun wacana tentang pustakawan wanita. Dalam konteks ini peneliti wacana bisa melakukannya dengan analisis wacana multimodal ala Kres dan van Leeuwen. Karikatur pustakawan wanita jaman dulu yang digambarkan dengan perempuan tua berkaca mata tebal, memakai sanggul, dan selalu mengacungkan jari telunjuk di depan mulut (seolah memberikan isyarat sssstttt kepada pemustaka agar diam/tidak ramai). Lalu disejajarkan dengan gambar karikatur pustakawan wanita era digital yang diilustrasikan dengan pustakawan yang masih muda, cantik, enerjik, murah senyum, dan berinteraksi dengan gawai. Karikatur tidak hanya memaki bahasa tulis saja dalam merepresentasikan makna pustakawan wanita, tetapi juga hal lainnya. Hal ini seperti moda visual dengan citra tak bergerak, tipografi, warna, pengaturan spasial, dan yang lainnya. Semua moda tersusun sehingga menyatu sebagai sebuah teks yang koheren. Van Leeuwen (2005: 181) menjelaskan cara yang digunakan untuk membangun koherensi dan kohesi dalam sebuah teks, yaitu: Gambar 2. Cara Membangun Koherensi dan Kohesi Kohesi merupakan kepaduan bentuk yang secara struktural membentuk ikatan sintaktikal dan menekankan aspek (bentuk, lahiriah, formal), sedangkan koherensi merupakan pertalian makna semantis atau isi kalimatnya yang menekankan aspek (makna, batiniah, ujaran). Apabila ditinjau dari sisi dukung terhadap struktur wacana, maka jika aspek arah dari dalam berarti kohesi sedangkan jika dari luar disebut dengan koherensi. Dari Gambar 2 dapat dijelaskan bahwa rhythm menyediakan kohesi untuk teks yang bergerak secara temporal, misalnya: tarian, percakapan, musik, film, televisi. Composition menyediakan kohesi untuk teks yang terorganisir secara spasial, misalnya layout pada halaman, layar, kanvas, tata letak di sebuah bangunan gedung maupun kota. Information linking untuk menghubungkan elemen informasi yang ada dalam sebuah teks maupun hubungan waktu dan kausal. Contoh konkretnya sebuah teks tentang prosedur pemustaka menjadi anggota perpustakaan, berarti ada keterkaitan informasi satu dengan yang lainnya, ada hal yang perlu dilakukan sebelum membuat kartu dan sesudahnya. Selanjutnya dialogue, merupakan interaksi melalui pertukaran dialogis, misalnya pertanyaan jawaban, aksi reaksi, stimulus respons, dan seterusnya. Menurut perspektif van Leeuwen bahwa ada banyak ragam sumber daya yang digunakan untuk mengkomunikasikan makna yang diinginkan. Hal ini termasuk meneliti seseorang atau kelompok yang dimarjinalkan posisinya dalam suatu wacana. Hal ini berarti yang dominan lebih memiliki kekuatan dalam memegang kendali. Lalu yang posisinya lebih rendah berarti menjadi objek pemaknaan yang digambarkan buruk. Dalam wacana ada transformasi realitas sehari-hari menjadi realitas versi wacana dalam konteks tertentu. Van Leeuwen (2005: 110) menyebutkan tipe transformasi realitas ke dalam wacana yang memungkinkan produksi pengetahuan yang berbeda-beda tentang sebuah aspek realitas. Keempat tipe tersebut yaitu: 1. Exclusion, artinya wacana melakukan eksklusi atas beberapa elemen dari sebuah praktik sosial; 2. Rearrangement, artinya wacana menyusun dan mengatur ulang elemen-elemen dari sebuah praktik sosial; 3. Addition, artinya wacana bisa menambah elemen-elemen baru, memberi evaluasi, membubuhkan tujuan maupun membangun legitimasi; 4. Substitution, artinya wacana membangun substitusi untuk elemen-elemen yang konkret dari sebuah praktik sosial. Antara image dan viewer, sebagai “social distance” artinya dalam gambar, jarak bersifat simbolis. Untuk gambar yang jauh (bayang-bayang) menunjukkan jarak dengan viewer, sementara gambar yang nampak secara close up menunjukkan orang dalam gambar sebagai “one of us”. Strategi dalam merepresentasikan orang sebagai “others” sebagai “bukan seperti saya”, untuk viewer ditempatkan dengan gaze mereka. Strateginya ada 3 (tiga), yaitu: 1. Strategi distanciation, merupakan merepresentasikan orang as “not close to us,” as “strangers”; 2. Strategi disempowerment, yakni merepresentasikan orang sebagai “below us,” as “downtrodden”; 3. Strategi objectivation, yakni merepresentasikan orang sebagai objek daripada sebagai subjek. Dalam konteks semiotika, image atau visualisasi adalah penjelasan yang komplit, paling jelas menggambarkan. Kata-kata seringkali menjadi catatan kaki (footnote), label, dan kalau perlu penjelasan. Selanjutnya dalam iklan, image memberikan „mimpi, luxuriousity‟ dan „word‟ menjelaskan apa yang akan dibeli. Selanjutnya dalam konteks popular culture, untuk words dan image memiliki posisi berbeda, kata-kata seringkali disensor, tetapi image lebih sering tidak disensor. Contohnya laki-laki kulit hitam dengan gigi tetap putih, sehingga dalam hal ini image tidak pernah diubah. Representasi inklusi atau eksklusi aktor sosial disesuaikan dengan ketertarikan penulis dan tujuannya berhubungan dengan pembaca yang diinginkan oleh penulis. Setiap pernyataan orang yang menjadi narasumber dalam pemberitaan bisa jadi memang merupakan pilihan seorang pengemas berita sesuai tujuan yang diinginkan. Jika dalam komunikasi, maka word dan image dalam discourse van Leeuwen dijelaskan bahwa word memberikan penjelasan (explanation) dan menceritakan sesuatu yang butuh diceritakan dengan kata-kata. Sementara itu, image menyediakan interpretasi; secara ideologis memberikan warna terhadap „angle-angle‟ (detail); dan tidak secara eksplisit tetapi melalui konotasi-konotasi dan dengan suggestions. Van Leeuwen (2008: 28) menyatakan bahwa “representasi memasukkan dan mengeluarkan aktor sosial agar sesuai dengan minat dan tujuan mereka dalam kaitannya dengan pembaca yang menjadi tujuan mereka.
Conclusion
Wacana dijelaskan sebagai satuan gramatikal, terdiri dari semua unsur kebahasaan yang digunakan untuk berkomunikasi. Unsur pendukung wacana berupa unsur internal berkaitan dengan aspek formal kebahasaan maupun unsur eksternal di luar wacana. Bahasa mampu mendefinisikan dan menghasilkan objek pengetahuan. Pemroduksi wacana tentang perpustakaan diharapkan selalu mewacanakan sesuatu yang positif dari serangkaian peristiwa dalam lingkup perpustakaan ke dalam narasi yang konstruktif. Dalam konteks ini termasuk ketika mengkonstruksi simbol dan bahasa dalam wacana