Kembali
16
1
2025 IKOMIK: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol 5 · 1 ISSN 2798-9607

Deep Mediatization in Satirical Journalism: Meet Nite Live on Metro TV: Critical or Viral-Oriented?

Universitas Terbuka

Abstrak

Jurnalisme satire merupakan fenomena yang semakin berkembang dalam lanskap media modern. Salah satu program yangmerepresentasikan tren ini adalah Meet Nite Live yang disiarkan oleh Metro TV. Program ini menggabungkan elemen berita, wawancara, dan humor sarkastik dalam membahas isu-isu terkini di Indonesia.Artikel ini menganalisis bagaimana Meet Nite Live menggunakan strategi jurnalisme satire dalam mengritik pemerintah, bagaimana aspek deep mediatization berperan dalam penyajian kontennya melalui platform digital, serta agenda apa yang diusung oleh Metro TV melalui program Meet Nite Live. Metode Analisis Wacana Multimodal Kress & Leeuwen digunakan untuk mengeksplorasi salah satu punchlines Meet Nite Live dengan topik terhangat selama bulan Maret 2025 yang ditayangkan di akun TikTok resmi Meet Nite Live, @meetnite.live. Artikel ini memberi hasil bahwa Meet Nite Live adalah praktik bagaimana jurnalisme satire beradaptasi dengan logika deep mediatization. Dengan memanfaatkan multimodalitas, program ini berhasil memposisikan diri sebagai media kritik sosial secara menghibur sekaligus memanfaatkan logika media sosial untuk pemenuhan konten yang ekspansif, cepat, interaktif, dan viral.

Abstract

Satirical journalismis an increasingly prominent phenomenon within the landscape of modern media. One program thatexemplifies this trend is Meet Nite Live, broadcast by Metro TV. The show combines elements of news, interviews, and sarcastic humor to discuss current issues in Indonesia. This article analyzes how Meet Nite Live employs strategies of satirical journalism to critique the government, how the concept ofdeep mediatization shapes its content presentation through digital platforms, and what agenda Metro TV advances through the program. The MultimodalDiscourse Analysis method by Kress & van Leeuwen is used to explore one of Meet Nite Live’s punchlines on a trending topic in March 2025, featured on its official TikTok account, @meetnite.live.The findings suggest that Meet Nite Live represents a form of satirical journalism that adapts to the logic of deep mediatization. By leveraging multimodality, the program successfully positions itself as a form of social critique that is both entertaining and aligned with the logics of social media: expansive, fast-paced, interactive, and viral.
Keywords: deep mediatization · satirical journalism · multimodal discourse · Meet Nite Live · Metro TV

Introduction

Media massa memiliki peran krusial dalam membentuk opini publik, terutamadalam ranah politik. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul tren baru dalam jurnalisme yang menggabungkan unsur hiburan dan satire, yang bertujuan untuk menyampaikan kritik sosial dengan cara yang lebih menarik bagi audiens. Odmark & Nicolai (2024) menyebutnya dengan berita satire (news satire) sebagai situs valid bagi diskursus publik dengan spektrum mulai dari yang absurd dan terlalu dominan unsur komedinya hingga yang lebih jelas bernuansa jurnalistik. Bahkan Odmark (2023) mengeklaim berita satire berfungsi untuk mengungkap ketidakadilan moral dan mengawasi kekuasaan. News satire mulai mendulang popularitas pada awal abad ke 21 yang diawali dengan kemunculan acara-acara seperti The Daily Show dan The Colbert Report dan dianggap sebagai satu jenis jurnalisme alternatif (Odmark & Nicolai, 2024). News satire merupakan paduan antara hiburan dan politik (Brugman et al, 2021) dan banyak dikonsumsi oleh generasi muda (Barnard & Boukes, 2024).Jika ditelaah dari perspektif jurnalisme, belum ada akademisi yang mendefinikan secara tegas jurnalisme satire. Terminologi yang banyak digunakan untukmendeskripsikan fenomena ini selain satire berita/news satire (Doona, 2020: Odmark & Nicolai, 2024), antara lain adalah journalism and satire (Baym, 2017), political satire (Painter, 2022), journalistic news satire (Koivukoski & Odmark, 2020: Odmark, 2023), serta satire and journalism (Peifer & Lee, 2019). Dari sejumlah konsep tersebut, artikel ini menggunakan konsep jurnalisme salire untuk merujuk pada satu genre jurnalistik dalam menghadirkan sajian berita yang berdasar pada fakta, dengan menggunakan strategi wawancara dan liputan dengan memadukan gaya humor dan sarkas dalam merespons berita yang disajikan.Metro TV, sebagai salah satu stasiun berita utama di Indonesia, dikenal memiliki kecenderungan politik tertentu. Hal ini disebabkan pendiri Metro TV, Surya Paloh, dalam perjalanan karir politiknya membentuk Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan melakukan politik praktis. Dengan posisi seperti itu, ada persepsi bias dalam pemberitaan Metro TV dan menjadi alat politik Paloh (Manangka, 2016). Metro TV pun pernah mendapat teguran keras dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada tahun 2017 karena menayangkan kegiatan internal Partai Nasdem dan pidato Surya Paloh sebagai Ketua Umum Partai Nasdem (https://nasional.kompas.com/).Pada awal 2025, Mctro TV mclakukan rebranding pada salah satu programnya,yaitu Midnight Live. Midnight Live merupakan program Metro TV yang mengusung konsep unik dengan memadukan wawancara dan laporan langsung mengenai berbagai isu atau tren dalam kehidupan nyata. Acara ini tayang setiap hari kerja dari tengah malam hingga pukul 01.30 dini hari. Program ini menghadirkan topik-topik spesifik dengan narasumber utama yang diwawancarai langsung di studio, sementara kejadian terkait dilaporkan secara real-time oleh reporter di lapangan. Sebagai program interaktif, Midnight Live memungkinkan pemirsa untuk berpartisipasi dengan memberikankomentar langsung melalui telepon atau SMS.Sejak rebranding menjadi Meet Nite Live tepatnya tanggal 20 Februari 2025, acara ini tampil lebih fresh. Meet Nite Live memadukan elemen berita dan komedi sarkastik dalam menyoroti berbagai fenomena sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia dalam format talk show, reportase lapangan, dan wawancara narasumber. Meet Nite Live tayang dua kali dalam seminggu, yaitu setiap Selasa dan Kamis pukul 22.30 berdurasi sekitar 60 menit. Selain ditayangkan secara live di stasiun Metro TV, Meet Nite Live juga ditayangkan di kanal YouTube Metro TV.Mengikuti tren konsumsi informasi masyarakat digital yang semakin dominanmengakses informasi dari media sosial (Oeldor[-Hirsch & DeVoss, 2019; Broersma & Eldridge II, 2019; Zayani, 2020), Metro TV berstrategi mengikuti logika media sosial.Penayangan secara live streaming di akun YouTube resmi Metro TV, yang kapan pun masih bisa ditonton ulang oleh audiens serta pembuatan punchlines program Meet Nite Live.Punchlines adalah istilah yang muncul dari ranah stand-up comedy yang dimaknai sebagai bagian terlucu dari lawakan yang menjadi kekuatan seorang komedianmembangun dan menggiring pikiran penonton (Odmark & Nicolai, 2024). Punchlines Meet Nite Live merupakan bagian-bagian yang dipotong dari program utuhnya menjadi klip pendek untuk dipublikasikan di akun media sosial Metro TV dan Meet Nite Live, yaitu reels di Instagram, Shorts di kanal YouTube, X, dan TikTok.Andreas Hepp (2020) mengembangkan konsep mediatisasi dengan deepmediatization (mediatisasi mendalam). Menurut Hepp (2020), deep mediatization adalah fase lanjut dari mediatisasi, di mana media bukan hanya menjadi bagian dari kehidupan sosial tetapi telah menjadi elemen yang melekat dan membentuk hampir semua aspek kehidupan. Dalam fase ini, media digital dan teknologi komunikasi semakin kompleks, saling terhubung, dan membentuk struktur sosial secara lebih mendalam.Pembuatan punchlines program Meet Nite Live merefleksikan praktik deepmediatization di mana penyampaian berita tidak hanya berorientasi pada konten tetapi juga pada bagaimana konten tersebut dapat menarik perhatian dan interaksi digital dengan mengikuti logika media, khususnya media sosial. Dengan durasi antara 2-3 menit, punchlines Meet Nite Live berhasil viral di berbagai platform media sosial. Hal ini tentu taklepas dari peran orang-orang di balik layar punchlines Meet Nite Live, mulai dari penulis naskah, produser, editor, hingga Host Valentinus Resa, yang mampu sedemikian rupa menghasilkan punchlines yang merebut perhatian netizen.Meet Nite Live, hanya sekitar satu minggu sejak rebrandingnya, langsung mendapat hati dari kalangan netizen. Ini taklepas dari konteks momen program ini hadir. Pada Februari hingga Maret 2025, di Indonesia banyak terjadi fenomena sosial, ekonomi, dan politik yang cukup meresahkan masyarakat. Mencuatnya kasus mega korupsi, defisit pendapatan negara, disahkannya UU TNI, represi negara terhadap lembaga pers dan jurnalis, hanyalah sebagian kecil dari isu yang mengemuka. Isu-isu inilah yang disorot di program Meet Nite Live dengan cara yang unik. Bahkan bisa dikatakan, Meet Nite Live menjadi viral karena punchlinesnya yang tayang di media sosial, kemudian banyak ditonton, disukai, dikomentari, dan diresharing oleh netizen.Beberapa komentar di punchlines Meet Nite Live di akun TikTok @meetnite.live menyebut program ini adalah alternatif mengikuti berita dengan cara yang berbeda, memberi asupan informasi sekaligus menghibur. Sebagian mengapresiasi Metro TV yang dianggap kembali ke fitrahnya sebagai lembaga pers yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengawas pemerintah (fungsi watchdog). Yang lain mengkhawatirkankeselamatan jiwa Host acara ini karena dianggap sangat kritis terhadap pemerintah.Komentar lain menganggap hadirnya Meet Nite Live sebagai cara baru menikmati isu politik dengan cara unik, mudah dicerna, dan meningkatkan animo audiens muda.Dalam riset ini, platform media sosial yang dipilih adalah TikTok karena data reutersinstitute.politics.ox.ac.uk menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2020 - 2023, TikTok menjadi media sosial yang mengalami kenaikan paling linggi lempal masyarakat mengakses berita, yaitu sebesar 4%.< Meet Nite Live aCara Baru Mt Berita'Selasa & Kamis9230 wD GMevoTvGambar 1. Thumbnail Reels Akun TikTok @meetnite.liveFenomena viralnya punchlines Meet Nite Live menjadi menarik untuk dianalisis lebih jauh dari perspektif kajian media, khususnya dari lensa jurnalisme satire. Artikel ini akan mengeksplorasi tiga hal, bagaimana Meet Nite Livemenggunakan elemenjurnalisme satire dalam mengkritik pemerintah, lalu bagaimana deep mediatization berperan dalam penyebaran dan penerimaan konten Meet Nite Live di media sosial, serta agenda apa yang diusung oleh Metro TV melalui program Meet Nite Live. Pertanyaanpertanyaan tersebut akan memberi jawaban faktor apa sebenarnya dari perspektifjurnalisme satire dan deep mediatization yang membuat program ini secara tiba-tiba menjadi viral dan menyita perhatian publik. Jawaban lain yang diharapkan akan terjawab adalah apakah jurnalisme satire dapat menjadi alat kritik yang efektif terhadap pemerintah, terutama dalam konteks Metro TV yang dimiliki oleh seorang tokoh politik yang kini berkoalisi dengan pemerintahan yang sedang berkuasa, ataukah hanya mencari viralitas semata?Beberapa riset terdahulu telah mengkaji jurnalisme satire. Fadhilla & Almufarid (2021) menganalisis bagaimana komik strip Mice Cartoon menggunakan satire untuk mengkritik kebijakan pemerintah selama pandemi Covid-19 di Indonesia. Studi ini menggunakan pendekatan semiotika untuk memahami representasi dan interpretasi pesan dalam komik tersebut. Dari perspektif satire dan parodi, Utomo (2015) meneliti bagaimana situs Mojok.co yang dikelola oleh para penulis muda menunjukkan bahwa generasi muda yang kerap dianggap apolitis, ternyata mampu merespons isu-isu sosial dan politik dengan gaya komunikasi mereka sendiri. Ramadhan & Achmad (2024) mengungkap bagaimana Stand-Up Comedy dijadikan sebagai aparatus melakukan kritis sosial oleh Bintang Emon. Sementara itu, Rosdiana & Wahyunengsih (2023) menemukan bahwa konten-konten terkait Pilpres 2024 yang disajikan Mojok.co terkadangmencederai etika jurnalistik karena melakukan stereotyping atau menyerang personal subjek salire. Salire berila lernyata memainkan peran dalam ranah politik dengan cara yang melampaui batas-batas jurnalistik, sosial, dan moral (Doona, 2020). Ia mengungkap audiens dewasa muda di Swedia merasakan keterlibatan yang lebih mendalam serta pemahaman yang lebih baik terhadap isu dan performa politik (yang disebut sebagai keterampilan transgresif) melalui keterlibatan mereka di acara news satire. Di antara demarkasi hiburan dan jurnalistik, riset Koivukoski & Odmark (2020) mengungkap para jurnalis satiris di dua negara kawasan Nordik, yaitu Finlandia dan Swedia,mempraktikkan hibridisasi antara mengadopsi nilai tradisional jurnalisme sekaligus juga mengutamakan ekspresi yang lebih emosional, penuh opini, dan hiperbola dibandingkan dengan pelaporan berita konvensional. Sementara, kajian Becker & Bode (2017) menunjukkan relatif signifikannya informasi terkait isu politik yang disajikan dengan strategi komedi satire sebagai bentuk knowledge gain bagi masyarakat Amerika.Berbeda dengan riset-riset terdahulu, artikel ini akan mengelaborasi program Meet Nite Live di Metro TV yang bergenre jurnalisme satire dari perspektif deep mediatization.Riset ini akan mengisi ceruk bagaimana media yang pemiliknya adalah juga pendiri salah satu partai politik di Indonesia dan sudah menyatakan mendukung rezim yang berkuasa, namun tetap memposisikan diri sebagai sebagai media watchdog yang mengritisi pemerintah dalam merespons berbagai fenomena sosial politik. Sebagai sebuah praktik deep mediatization, artikel ini juga berupaya menjawab apa motif di balik strategi penggunaan logika media sosial oleh program Meet Nite Live.

Method

Artikel ini menggunakan metode analisis wacana multimodal yang menelitibagaimana elemen visual, audio, dan kinestetik digunakan dalam produksi makna (Kress & van Leeuwen, 2001). Data diperoleh dari salah satu punchlines acara Meet Nite Live yang diunggah di akun TikTok @meetnite.live dengan topik “Teror Kepala Babi.” Gunther Kress dan Theo van Leeuwen (2001) mengembangkan teorimultimodalitas sebagai pendekatan untuk menganalisis bagaimana berbagai moda komunikasi (seperti teks, gambar, suara, gerak, dan tata letak) berinteraksi untuk menciptakan makna. Mereka berargumentasi bahwa dalam komunikasi kontemporer, makna tidak hanya dibangun melalui bahasa tertulis atau lisan, tetapi juga melalui elemen visual, audio, dan kinestetik (Kress & Leeuwen, 2006). Mereka menekankan bahwa setiap moda memiliki "tata bahasa" sendiri yang mengatur bagaimana makna diproduksi dan dipahami. Wacana multimodal sering kali melibatkan kombinasi berbagai moda yang dipadukan untuk menyampaikan pesan, seperti dalam iklan, media sosial, dan presentasi digital (Jewitt, 2013). Noviani (2018) menyebut multimodal merujuk pada kombinasi dan integrasi moda-moda semiotik yang berbeda. Penekanannya adalah pada penggunaan lebih dari satu moda semiotik untuk membangun makna.Dalam melakukan analisis terhadap sebuah wacana, elemen yang perlu digali dengan pendekatan Multimodalitas Kress dan Leeuwen pertama adalah aspek visual yang menganalisis hal-hal terkait penggunaan gambar, grafik, warna, dan teks. Kedua adalah aspek audio yang melingkupi misalnya penggunaan musik, efek suara, intonasi, dan penekanan kata. Ketiga adalah aspek gerak (kinestetik) yang antara lain mencakup gerakan tubuh dan blocking kamera.Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam melakukan analisis wacanaMultimodal Kress & Leeuwen pertama adalah pengumpulan data yang dalam konteks artikel ini adalah cuplikan salah punchlines program Meet Nite Live dengan topik Teror Kepala Babi yang diposting di akun TikTok @meetnite.live pada tanggal 26 Maret 2025.Kemudian langkah kedua adalah mengidentifikasi aspek multimodal (visual, linguistik, audio, atau gerakan). Ketiga menganalisis makna setiap moda menggunakan kerangka Kress & van Leeuwen. Keempat menghubungkan temuan analisis dengan deepmediatization untuk mencari menjawab bagaimana logika media digital membentuk produksi dan penerimaan satire.

Result & Discussion

Meet Nite Live: The New Reborn Viral Program Metro TV adalah stasiun televisi berita pertama di Indonesia yang mulai mengudara pada 25 November 2000. Sebagai bagian dari Media Group yang dimiliki oleh Surya Paloh, Metro TV berfokus pada penyajian berita selama 24 jam.Dalam beberapa tahun terakhir, Metro TV terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan preferensi audiens. Metro TV aktif di berbagai platform media sosial, antara lain YouTube, Instagram, X, dan TikTok. Di berbagai platform media sosialnya, Metro TV membagikan berita terkini, cuplikan program, dan konten eksklusif lainnya untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan beragam.Pada tahun 2011, Surya Paloh sebagai pemilik Metro TV, mendirikan organisasi massa Nasional Demokrat, yang kemudian berkembang menjadi Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Sejak itu, Surya Paloh menjabat sebagai Ketua Umum Partai Nasdem. Setelah Pemilihan Presiden 2024, meskipun Partai Nasdem awalnya mendukung pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Surya Paloh menegaskan bahwa Nasdem akan mendukung kebijakan pemerintahan Prabowo dan tidak mengambil posisi sebagai oposisi.Media massa idealnya berfungsi sebagai penyampai informasi yang objektif, pengawas kekuasaan (watchdog), dan penyedia forum bagi berbagai pandangan masyarakat. Keterlibatan pemilik media dalam politik dapat menimbulkan potensi bias dalam pemberitaan, yang mungkin mempengaruhi independensi dan objektivitas media tersebut. Dalam kasus Surya Paloh, posisinya sebagai Ketua Umum Partai Nasdem dan pemilik Metro TV, menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana pemberitaan yang disajikan dapat tetap netral dan bebas dari kepentingan politik tertentu. Penting bagi media untuk menjaga keseimbangan antara independensi editorial dan pengaruh pemilik, terutama ketika pemilik tersebut terlibat aktif dalam politik. Transparansi dan komitmen terhadap kode etik jurnalistik menjadi kunci dalam memastikan bahwa media tetap menjalankan perannya sebagai pilar demokrasi yang sehat.Program Meet Nite Livedi Metro TV dikenal karena pendekatannya yang menggabungkan berita, wawancara, dan humor sarkastis dalam menyoroti berbagai isu di Indonesia. Host Meet Nite Live adalah Valentinus Resa, seorang penyiar Metro TV senior yang pernah memegang acara olahraga di Metro TV.Punchlines Meet Nite Live dengan topik Teror Kepala Babi mengulas tentang teror pengiriman bangkai kepala babi yang diterima oleh jurnalis Tempo Fransisca Christy Rosana. Highlight dari punchlines ini adalah respons Kepala Komunikasi Presiden, Hasan Nasbi yang mengeluarkan pernyataan “Ya udah dimasak aja kepala babinya.” Masyarakat banyak yang murka dengan respons Hasan Nasbi tersebut karena dianggap tidak berempati dan abai dengan teror ke jurnalis Tempo. Beberapa kalimat yang diucapkan Host Meet Nite Live, Valentinus Resa, yang merupakan satire terhadap fenomena ini direpresentasikan oleh kalimat-kalimat narasi yang ia ucapkan.Berikut adalah paparan moda-moda yang digunakan Punchlines Meet Nite Live dengan topik Teror Kepala Babi yang diposting di akun TikTok @meetnitleiv e tanggal 26 Maret 2025.1. Moda Audio/LinguistikTabel 1. Moda Audio Punchlines Meet Nite Live No Audio (Narasi) Nada Pesan Analisis 1 "(0:01) Midnight friends, Pada pembukaan gimana? Udah siap mudik program edisi ini lebaran? Udah banyak yang sekaligus kayaknya belanjaannya nih menjadi ~ pembuka ya?" punchlines, nadasuara Host santaidan ramah,membangunsuasana yang akrabdan rileks bagiaudiens sertaberupayamengundangketerlibatan audiens.2 (0:08) Atau malah gak Nada sarkasme Kalimat ini diucapkan belanja karena — harus dengan tujuan — untuk penghematan, efisiensi? menyindir kebijakan efisiensi pemerintah yang (0:13) Ya, mirip lah dengan kondisi perskekinian yang belakangankebebasanmendapat tekanan.(0:20) Kayak ditanya kapannikah pas lebaran. Ingat,kalo ditanya kapan nikahpas lebaran, atau ditanyasekarang kerja dimana,tinggal jawab, Kamu nanya?Kalo kamu gak kuat, biaraku aja ya.(0:39) Jadilalu, redaksibeberapa hariTempomendapat paket spesial.Bukan martabak, bukanbaju lebaran, tapi paketberisi kepala babi.Nadaterhadap berbagaisarkasmetindak represif yangdialami oleh jurnalisketika mengungkapberita isu-isukontroversial kemedia.Gimmick ini adalahselipan humor yangmemanfaatkanmomentummenjelang lebaran.MasyarakatIndonesia terbiasaketika acara kumpuldengan keluargabesar seperti IdulFitri, akanmenanyakan dua halyang kerap dihindariterutama olehgenerasi muda,pertanyaan kapanmenikah dan sudahbekerja di mana.Nada- Nada suaradibuat lambat dandramatis sebelumdramatis:menyebut "kepalababi," menekankanabsurditas situasidengan teknikkejutan.mulai dirasakan dampakpadamasyarakat akar rumput.tekanannya levelMeskipun hingga programini ditayangkan padatanggal 26 Maret 2025belum bisa terungkap siapapelaku teror terhadapjurnalis Tempo, namunpernyataan Host inibernada sarkasmemenyimpan kecurigaanbahwa pelaku adalah pihakyang memiliki power,entah berkorelasi dengannegara atau tidak.Gimmick inimerepresentasikansarkasme yangdiungkapkan Host yangmerupakan semacambentuk kegelisahan budayaIndonesia yangsebaiknya tidak dijadikankebiasaan karenamerupakan ranah pribadiiniseseorang meskipun dalamkonteks keluarga karenamenjadi annoying danmenjadi hal yangmendemotivasi ketikaacara kumpul keluarga.Nadamemberi Kesan penekananpada fenomena yangmerupakan praktikkekerasandramatis inirepresif dansimbolis terhadap jurnalisketika mereka mengangkatyangmengancam posisi merekaisu-isu sensitiveyang memiliki kekuasaan. Beberapa saat sebelum terror ini dilancarkan,program Bocor Alus, salahsatu acara andalan mediaTempo, mengangkat isuisusensitif seputarpengesahan UU TNI,korupsi di Pertamina,Korporasi dan Politikuspenyebab banjir6 (0:49) Menanggapi Nada sarkasme peristiwa itu, Kepala Kantor karena terlampau Komunikasi Kepresidenan, heran dengan Hasan respons Hasan NasbiNasbi, menanggapinya yang menanggapi dengan gaya komunikasi kasus teror dengan yang out of the box. Sampai menganggapnya ‘boxnya aja bingung gitu. sebagai jokes.7 (0:59) Udah dimasak Nada sarkasme: Perbandingan Hasan aja. Iya, katanya dimasak menyindir Nasbi dengan karaktechref aja. Ini Kepala Komunikasi pernyataan Hasan di film apa Ratatouille? Kepala Nasbi yang “Ratatouille” mereduksi Komunikasi apa Kepala menyarankan kepala posisi pejabat pemerintah Koki? Chef Juna insecure babi di masak, jadi menjadi hanya "tukang nih. seolah posisi beliau masak," meremehkan sebagai koki, bukan pernyataannya.Kepala KantorKomunikasiKepresidenan. Nadasuara di bagian initerdengarseperti mengejek,yang memperkuatefek satire denganmembandingkanpejabat pemerintahdengan karakter fiksiRatatouille dan figurpublik (Chef Juna).8 (1:18) Belum juga dimasak Host mempercepat Hal ini menciptakan kepala babinya, Kantor tempo efek kejutan sekaligus Redaksi Tempo lagi-lagi ironi, seolah-olah ada mendapat kiriman 6 eskalasi teror yang semakin bangkai tikus. absurd. (1:26) Dikira kantor media tempat kaliya? Jangan beranikirim paket tikus ke kantorsampahcumamedia, kapan lagi nih kirimtikus-tikus berdasi — kepenjara?(1:43) Kalo mengikuti logikaawal, mungkin jawabannyatikusnya ditumis aja.(1:50) Kepala babi udah,tikus juga udah, besok apalagi? Surat pencabutan izinterbit.(1:56) Santai kawan, jangansampai kemerdekaan pers diBredel. Aktor Ferdi Nurilpun ikut murka mendengarrespon chef, eh chief, ChiefHasan Nasbi. Lewatpostingan di akun X, iamengingatkan sang KepalaKomunikasiPresiden, mulut anda adalahmulut presiden.(2:17) Main-mainjangan. (2:19) Ohmain-main ya?jangan(2:22) Kalo Kepala Babi bisadimasak, Kepala KantorKomunikasi bisaKlarifikasi. (2:28) Pak HasanNada sarkasmeNada sarkasmeNada sarkasmeSindiranKetidakseriusanPejabatterhadapPermainan fonologidanmenciptakanjenakaNada sarkasmekata- kataefekHostpenerormengerdilkankarena hanyaberani mencror jurnalisdan menantang kalauberjiwa besar seharusnyapeneror bukan mengirimbangkai tikus, melainkantikus-tikus berdasi (parakoruptor) ke penjaraMenyindir respons KepalaKantor KepresidenanHasan Nasbi pada terorkepala babi agar babinyasaja. Jikadikonfirmasi lagi ke beliau,dimasakada kemungkinan jawabanagarditumis saja.beliau tikusnyaMempertanyakantindakan represif terhadapjurnalis apakah — akanmeningkat — eskalasinyahingga pencabutanterbit?Kesalahan sengaja dalampenyebutan "chef' alih-alihizin"chief" menyiratkan bahwapejabat ini lebih mirip kokidaripadapolitik.komunikatorJokes ini juga menantangpejabat untuk bertanggungjawab atas pernyataannya.Menyindir Hasan Nasbiyang seolah akan denganmudahnya meresponssesuatu hal — dengan bilang, ia tidak pernyataan yang merendahkan pers dengan kontroversial, namun pernyataannya, tapi justru ketika sudah menimbulkan untuk merendahkan si kegaduhan, maka dengan peneror. mudahnya mudahnya pula beliau mengklarifikasi,seolah masyarakat yangsalah menginterpretasikanpernyataannya.14 (2:36) Ya udah biasa emang Nada sarkasme Gaya sarkasme Host lagigitu polanya ngomong, lagi merupakan sindiran kisruh, kepada Hasan Nasbi yang Klarifikasi. (2:40) Bisa aja terkesan asal merespons sayd. alas sebuah kejadian yang memprihatinkan — duniapers.15 (2:43)Beda dengan cara Nada bicaraformal Karena program Meet Nite Hasan Nasbi, Kapolri Live adalah sebuah karya Jendral Listyo Sigit Prabowo jurnalistik, maka topik menanggapi teror bangke yang diekplorasi oleh Host hewan cincang adalah berita yang itu (2:49) dengan berdasarkan pada fakta menginstruksikan yang benar-benar terjadi Kabareskrim dan diproduksi dengan Polri, (2:52) menyelidiki memegang etika kasus dan berjanji akan jurnalistik.mengusut tuntas — teroritu. (2:55) Kita lihatbersama.16 (3:02) Nah gini kan enak, Mengekspresikan apresiasi udah enak didengar, kepada Kapolri yang langsung gercep, ada dinilai bereaksi sesuai perhatian dan empati. dengan harapan public.17 (3:08) Pers adalah pilar Nada suara lebih Pernyataan Host keempat serius mempertegas pesan bahwa demokrasi. (3:10) Jurnalis jurnalis harus dilindungi, juga dilindungi undang- bukan justru diserang oleh undang profesi. negara.18 (3:14) Gak kayak Kepala Nada sarkasme Lagi-lagi pernyataan Host Komunikasi niatnya siramair, malah siram bensin,bakar emosi.memprotes Kepala KantoryangdinilaiKepresidenanresponsnyamembakar emosi publik.Episode ini dibuka dengan sapaan Host, "Meet Nite Friends, gimana? Udah siap mudik lebaran? Udah banyak kayaknya belanjaannya nih ya?" Nada suara yang digunakan santai dan ramah, menciptakan suasana akrab bagi audiens. Nada ini memperkuat kesan bahwa acara ini adalah ruang diskusi yang santai meskipun membahas isu-isu berat. Sapaan ini sekaligus menjadi pembuka untuk segmen punchlines ini.Saat memasuki isu ekonomi, Host melontarkan pertanyaan bernada sarkasme, "Atau malah gak belanja karena harus penghematan, efisiensi?" Sarkasme ini menyoroti dampak kebijakan efisiensi pemerintah yang mulai dirasakan masyarakat akar rumput.Pemilihan nada yang terdengar sinis menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut bukan sekadar refleksi situasi ekonomi, melainkan juga kritik terhadap pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil.Kritik kemudian berlanjut ke kebebasan pers dengan pernyataan, "Ya, mirip lah dengan kondisi kebebasan pers kekinian yang belakangan mendapat tekanan." Nada suara dalam pernyataan ini letap mengandung unsur sarkasme, menandakan adanya ketidakpuasan terhadap tindakan represif yang dialami oleh jurnalis. Pernyataan ini juga membawa audiens pada konteks yang lebih luas, menghubungkan kondisi ekonomi dengan tekanan terhadap kebebasan berbicara.Untuk menjaga suasana tetap ringan, Host menyelipkan humor dengan mengangkat fenomena budaya yang sering terjadi saat Lebaran: "Kayak ditanya kapan nikah pas lebaran. Ingat, kalo ditanya kapan nikah pas lebaran, atau ditanya sekarang kerja di mana, tinggal jawab, Kamu nanya? Kalo kamu gak kuat, biar aku aja ya." Gaya bicara di bagian ini lebih cepat dan ekspresif, menyesuaikan dengan ritme humor yang familiar bagi audiens muda. Penggunaan frasa viral dari film “Dilan 1990 juga memperkuat koneksi dengan audiens.Ketika masuk ke inti pembahasan, nada bicara Host sedikit lebih formal saat menyampaikan fakta utama, "Jadi beberapa hari lalu, redaksi Tempo mendapat paket spesial. Bukan martabak, bukan baju lebaran, tapi paket berisi kepala babi." Kecepatan bicara diperlambat dan jeda digunakan sebelum menyebut "kepala babi," menciptakan efek kejutan yang memperkuat absurditas situasi namun tetap disampaikan dengan unsur humornya karena diikuti dengan pernyataan “bukan martabak, bukan baju lebaran”.Teknik ini tanpa mengurangi nilai penting isu yang disajikan, namun tetap disampaikan dalam konteks jurnalisme satire yag memamdukan isu penting dengan komedi.Nada sarkasme kembali muncul dalam pembahasan mengenai respons Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi. Ketika membahas pernyataannya, Host mengatakan, "Menanggapi peristiwa itu, Hasan Nasbi menanggapinya dengan gaya komunikasi yang out of the box. Sampai boxnya aja bingung gitu." Penggunaan frasa “out of the box” adalah sebuah bentuk ironi, karena biasanya frasa ini merujuk pada sebuah ide cemerlang, namun yang terjadi adalah pernyataan yang kontroversial. Nada suara dalam bagian ini terdengar sarkas, menunjukkan bahwa respons pemerintah dianggap tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan harapan publik.Sindiran semakin diperkuat dengan pernyataan, "Udah dimasak aja. Iya, katanya dimasak aja. Ini Kepala Komunikasi apa Ratatouille? Kepala Komunikasi apa Kepala Koki? Chef Juna insecure nih." Dalam bagian ini, Host tidak hanya menyindir pernyataan Hasan Nasbi yang menyarankan agar kepala babi dimasak, tetapi juga mengolok-oloknya dengan membandingkan perannya sebagai Juru Bicara Presiden dengan karakter fiksi Ratatouille serta figur publik Chef Juna. Nada suara dibuat lebih ekspresif dan berlebihan untuk meningkatkan efek komedi sekaligus memperkuat kritik terhadap pejabat yang dianggap tidak serius dalam menanggapi teror terhadap jurnalis.Saat membahas eskalasi teror, Host mengubah tempo bicara menjadi lebih cepat dengan pernyataan, "Belum juga dimasak kepala babinya, Kantor Redaksi Tempo lagilagi mendapat kiriman 6 bangkai tikus." Percepatan tempo ini bertujuan menciptakan efek kejutan dan menunjukkan eskalasi ancaman terhadap kebebasan pers. Kemudian, Host menutup bagian ini dengan sindiran tajam, "Dikira kantor media tempat sampah kali ya? Jangan cuma berani kirim paket tikus ke kantor media, kapan lagi nih kirim tikustikus berdasi ke penjara?” Nada suara dibuat dengan jenaka namun tetap sarkas, mendorong audiens untuk berpikir lebih kritis mengenai siapa sebenarnya pihak yang seharusnya dihukum.Menjelang akhir, Host kembali menyentil gaya komunikasi pejabat dengan nada sarkasme, "Kalo Kepala Babi bisa dimasak, Kepala Kantor Komunikasi bisa klarifikasi."Sarkasme ini menyoroti pola komunikasi pemerintah yang sering kali terkesan asal bicara, lalu buru-buru melakukan Klarifikasi setelah muncul reaksi publik. Host kemudian menyimpulkan dengan nada lebih serius, "Pers adalah pilar keempat demokrasi. Jurnalis juga dilindungi undang-undang profesi.” Nada serius ini memberikan kesan bahwa meskipun acara ini mengusung humor dan satir, pesan inti tetap menggarisbawahi pentingnya kebebasan pers. Namun, di akhir punchlines, Host mengucapkan “Gak kayak Kepala Komunikasi niatnya siram air, malah siram bensin, bakar emosi” yang kembali bentuk layangan sindiran kepada pemerintah.Analisis multimodal terhadap aspek audio dalam Punchlines Meet Nite Live menunjukkan bahwa penggunaan nada suara, tempo, dan permainan kata sangat efektif dalam menyampaikan kritik sosial. Perubahan nada dari santai, sarkastik, dramatis, hingga serius memperlihatkan strategi komunikasi yang bertujuan untuk menggugah kesadaran audiens akan adanya ancaman terhadap kebebasan pers. Dengan demikian, unsur audio dalam program ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi alat kritik yang kuat terhadap kebijakan dan aktor politik.2. Moda LinguistikDari moda linguistik, penggunaan diksi dan struktur kalimat dalam program ini sangat berperan dalam membangun kritik sosial. Pemilihan kata yang digunakan banyak mengandung permainan kata, tidak hanya menambah unsur humor tetapi juga memperkuat pesan yang ingin disampaikan. "Main-main jangan. Oh jangan main-main ya?" adalah permainan kata yang mengolok kebijakan pejabat. Contoh lainnya adalah frasa "paket spesial" untuk menyebut kepala babi. Frasa ini secara sengaja dibuat ironis karena istilah "paket spesial’ biasanya digunakan dalam konteks sesuatu yang menyenangkan atau menguntungkan, sementara dalam kasus ini, justru merujuk pada ancaman. Ironi semacam ini menjadi strategi utama dalam gaya komunikasi program.Gaya Bahasa yang digunakan dalam punchlines ini paling tidak ada metafora, sarkasme, ironi, dan personifikasi. Metafora terekspresikan pada frasa "tikus berdasi"untuk menyebut koruptor yang merupakan bentuk kritik sosial yang sudah umum di masyarakat. Frasa ini memperkuat pesan bahwa permasalahan korupsi seharusnya lebih mendapat perhatian dibandingkan teror terhadap jurnalis yang justru diremehkan oleh pejabat pemerintah. "Siram air, malah siram bensin" juga merupakan metafora yang menggambarkan bagaimana respons pejabat justru memperburuk situasi.Gaya bahasa sarkasme dan ironi muncul di banyak narasi yang disampaikan Host, misalnya dalam kalimat "Kepala Komunikasi apa Kepala Koki?" Host tidak hanya menyindir Hasan Nasbi secara langsung, tetapi juga mempermainkan fonologi untuk menciptakan efek humor sekaligus ejekan. Teknik ini semakin diperkuat dengan pernyataan "Chef Juna insecure nih," yang menambah nuansa komedi sekaligus sindiran terhadap pejabat yang dianggap salah kaprah dalam merespons peristiwa serius.Gaya Bahasa personifikasi terefleksikan pada pernyataan "Sampai boxnya aja bingung” yang bertujuan memberikan efek jenaka.Struktur kalimat dalam program ini juga cenderung pendek dan to the point, menyesuaikan dengan format punchlines. Sementara itu, repetisi seperti "udah biasa emang gilu polanya, ngomong, kisruh, klarifikasi" menggarisbawahi pola komunikasi pejabat yang dianggap berulang dan tidak efektif.Analisis multimodal terhadap aspek audio dan linguistik dalam Meet Nite Live menunjukkan bahwa penggunaan nada suara, diksi, struktur kalimat, dan gaya bahasa efektif dalam menyampaikan kritik sosial. Sebagai karya jurnalistik yang dikemas dengan gaya menghibur, program ini memadukan unsur humor dan satire untuk menyampaikan kritik yang tajam terhadap kebijakan pemerintah dan pejabat publik. Dengan demikian, program ini tetap mempertahankan fungsinya sebagai media informasi yang kritis terhadap isu-isu sosial dan politik, bukan sekadar hiburan semata.3. Moda Visual & KinestetikTabel 2. Moda Visual dan Kinestetik Punchlines Meet Nite Live No Visual Eleman Visual Analisis 1 Ketika di detik ke 13 Host Tujuannya untuk memberi mengucapkan “Ya, mirip penekanan bahwa hal yang lah dengan kondisi tidak mengenakan tengah kebebasan pers kekinian dialami oleh Tempo yang yang belakangan merupakan bentuk represi mendapat tekanan” visual terhadap pers.- o I & diberi efek kartun dengan background berwarna-‘warni.2 Ketika di detik ke 20 Host Visual ini adalah satire mengucapkan “Kayak terhadap budaya Indonesia ditanya kapan nikah pas yang pada setiap momen lebaran. Ingat, kalo berkumpul dengan keluarga ditanya kapan nikah pas besar, seperti momen mudik lebaran, atau ditanya di hari raya, maka yang sekarang kerja dimana, ditanyakan adalah kapan tinggal jawab...” visual menikah dan sekarang kerja wajahnya diberi efek di mana, yang bagi sebagian kartun berubah menjadi ‘wajah orang tua.Filter yang biasadigunakan untukmenimbulkan efekdramatis dan humordigunakan pada visual ini.Host ketika mengucapkanjokes dari pernyataanikonik film Dilan 1990“Kamu Nanya” yangdiparodikan dan menjadiviral di dunia media sosial,visual wajahnya berubahmenjadi seperti kartunorang tertawa lebar.Pada detik ke 36 setelahmengucapkan kalimatjokes “Kalo kamu gakkuat, biar aku aja ya” yangmasih merupakan parodipernyataan ikonik filmDilan 1990, efek kartunkembali muncul berupagambar api membara yangmengiringi Host yangmenirukan suara srigalamelolong “Auuuuuu”Ketika Host mengucapkan“Sampai box-nya ajabingung” visualisasi jugaditambahkan dengan efekkartun di bagian belakangHost seperti gambar yangterpelintir.orang itu menjadi momokyang kerap dihindari.Ini merupakan gimmick dariefek yang sengaja diciptakanuntuk membuat program inimenjadi ringan untukdicerna.Efek visual munculnya apiketika Host melolong“Auuuu” adalah selipanhumor yang kemudianmelekat seperti brandingpada sosok Valentinus Resa,Hostacara ini.Efek visual ini menyindirpemerintah yang dianggapblunder denganpernyataannya.Pada menit ke 1 dan detik ke 11 ketika Hostmengucapkan “KepalaKomunikasi apa KepalaKoki?” di kepala Hostmuncul efek kartun topikoki.Pada menit ke 1 dan detikke 14 ketika Hostmengucapkan kalimat“Chef Juna insecure nih”,di visual muncul wajahChef Juna (yangmerupakan sosok Chefterkenal sebagai salahseorang juri di acaraMaster Chef yangditayangkan di salah satuswastaIndonesia), dengan mimikstasiun TVlucu.Pada menit ke 1 dan detikke 32 ketika Hostmengucapkan —— kalimat“Kapan lagi nih kirimtikus-tikus redaksi kepenjara?”, Host kembalimenirukan suara srigalamelolong “Auuuuuu” dankali ini dengan efek kartunyangmengikuti bentuk profiltubuh Host.Pada menit ke 1 detik 50ketika Host mengucapkan“Kepala babi udah, tikusjuga udah, besok apa‘warna-warnilagi? Surat pencabutanizin terbit?” kembali visualefek kartun dimunculkanuntuk memberipenekanan pada kalimatVisual efek topi kokimerupakan bagian darimediatisasi yang mengikutitren di media sosialKemunculan gambar ChefJuna di pojok kanan atasdengan mimic lucumerepresentasikan prosesmediatisasi konten initerhadap apa yang menjaditren di kalangan nctizenVisual ini adalah bagian daripemberian efek dengantujuan gimmick agar kontenini berterima di kalangannetizen yang didominasi anakmudaVisual dengan efek kartunadalah juga bagian darigimmick mengikuti logikamedia sosial sarkas ini.10 Pada menit ke 2 detik ke 3 Efek visual meme dengan ketika mengucapkan wajah Hostyang tertawa lebar kalimat “Oh jangan main- adalah juga bagian dari main ya?” (koreksi mediatisasi yang mengikuti penonton atas pernyataan tren di media sosial Host sebelumnya yangmengucapkan —— kalimat“Main-main jangan”).11 Padamenitke3detikke14 Sebagai visual — penutup ketika Host mengucapkan pemberian efek api yang kalimat penutup “Gak membakar menekankan pada kayak Kepala Komunikasi bagaimana Teror Kepala Babi niatnya siram air, malah dengan respons pemerintah siram bensin, bakar yang blunder membakar emosi” muncul efek emosi masyarakat.kartun berupa api yangmembara.Dalam punchlines Meet Nite Live, elemen visual digunakan secara strategis untuk memperkuat humor sarkastis dan kritik sosial yang menjadi ciri khas acara ini. Dengan pendekatan Analisis Wacana Multimodal Kress dan Van Leeuwen, dapat dilihat bagaimana penggunaan efek visual membantu menciptakan makna dan mendukung pesan yang disampaikan oleh Host.Ketika di detik ke-13 Host mengucapkan "Ya, mirip lah dengan kondisi kebebasan pers kekinian yang belakangan mendapat tekanan," efek kartun dengan latar belakang berwarna-warni muncul di layar. Efek ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan sebuah penekanan visual yang menyoroti isu serius tentang kebebasan pers yang tengah mengalami tekanan. Penggunaan warna-warni yang kontras menegaskan nuansa sarkas dalam penyampaian kritik terhadap kondisi tersebut.Pada detik ke-20, ketika Host membandingkan tekanan terhadap kebebasan pers dengan pertanyaan yang sering muncul dalam momen kumpul keluarga seperti "Kapan nikah?" atau "Sekarang kerja di mana?', wajahnya secara visual menggunakan efek berubah menjadi wajah orang tua. Transformasi ini adalah bentuk satire terhadap budaya masyarakat Indonesia yang sering kali menempatkan pertanyaan-pertanyaan personal tersebut sebagai sesuatu yang lumrah, meskipun bagi banyak orang hal itu menjadi momok yang dihindari. Efek visual ini memperkuat pesan bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam itu bisa dianggap sebagai tekanan yang tidak nyaman, namun disampaikan dengan gaya humoris.Dalam beberapa bagian lain, penggunaan filter dramatis serta efek kartun wajah tertawa lebar turut dimanfaatkan untuk memperkaya humor dalam program ini. Sebagai contoh, ketika Host mengucapkan frasa dari film Dilan 1990 "Kamu Nanya?" yang telah menjadi parodi viral di media sosial, wajahnya berubah menjadi ekspresi kartun dengan tawa lebar. Efek ini menjadi gimmick yang sengaja diciptakan agar program terasa lebih ringan dan menghibur.Pada detik ke-36, setelah IIost mengucapkan parodi lain dari film Dilan 1990, "Kalo kamu gak kuat, biar aku aja ya," efek kartun berupa api membara muncul, diiringi dengan suara lolongan serigala "Auuuuuu." Kombinasi antara efek visual dan suara ini menciptakan hiperbola yang memperkuat ekspresi humor dalam adegan tersebut. Begitu pula ketika Host mengatakan "Sampai box-nya aja bingung," efek kartun berupa gambar yang terpelintir di belakangnya muncul, menggambarkan kebingungan secara visual dan memperkuat unsur komedi.Pada menit ke-1 detik ke-11, ketika Host mengucapkan kalimat "Kepala Komunikasi apa Kepala Koki?" efek kartun berupa topi koki muncul di kepalanya. Efek ini memperkuat permainan kata yang digunakan dalam punchlines, sehingga pesan humor lebih menonjol. Hal serupa terjadi pada menit ke-1 detik ke-14, ketika Host menyebut "Chef Juna insecure nih," wajah Chef Juna muncul dengan mimik lucu.Penggunaan visual ini menambah efek komedi sekaligus memperkuat referensi budaya populer yang diangkat dalam program ini.Pada menit ke-1 detik ke-32, ketika Host mengucapkan "Kapan lagi nih kirim tikustikus berdasi ke penjara?" kembali muncul efek kartun yang mengikuti bentuk tubuh Host dengan warna-warni cerah. Efek ini menambah dimensi visual yang menarik bagi penonton sekaligus menegaskan kritik yang tersirat dalam lelucon tersebut yaitu menghukum koruptor sebagai pelaku kejahatan sesungguhnya yang kerap direpresentasikan sebagai tikus berdasi. Begitu pula pada menit ke-1 detik ke-50, ketika Host mengatakan "Kepala babi udah, tikus juga udah, besok apa lagi? Surat pencabutan izin terbit?" efek kartun kembali dimunculkan untuk menegaskan nada sarkas yang dikandung dalam pernyataan tersebut.Pada menit ke-2 detik ke-3, Host sempat mengalami koreksi dari penonton atas pernyataannya yang terbalik. Koreksi ini menunjukkan bahwa program ini tidak hanya sekadar menyajikan humor, tetapi juga melibatkan interaksi dengan audiens yang membuatnya semakin dinamis.Sebagai penutup, pada menit ke-3 detik ke-14, ketika Host menyampaikan kalimat "Gak kayak Kepala Komunikasi, niatnya siram air, malah siram bensin, bakar emosi," efek kartun berupa api membara muncul untuk menegaskan metafora "bakar emosi." Efek visual ini memperkuat kritik yang ditujukan pada komunikasi yang justru memperkeruh keadaan.Analisis ini memperlihatkan bahwa Meet Nite Live menggunakan elemen visual secara efektif untuk mendukung humor sarkastik dan kritik sosial yang disampaikan.Penggunaan efek kartun, transformasi wajah, dan elemen visual lainnya tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga memperkuat makna dari pesan yang ingin disampaikan. Dengan pendekatan multimodal, program ini berhasil menciptakan pengalaman yang ringan namun tetap tajam dalam menyampaikan isu-isu sosial dan politik.Jurnalisme Satire ala Meet Nite Live Program Meet Nite Live secara gamblang mempraktikkan jurnalisme satire.Brugman et al (2021) menandaskan berita satire sebagai perpaduan moda diskursif antara hiburan dan politik. Multimodalitas yang digunakan dalam Meet Nite Live, mulai narasi yang dipenubhi diksi, gaya bahasa, dan intonasi yang sarat dengan sarkasme hingga visual dengan efek kartun, filter wajah, dan meme bergaya komedi memenuhi tayangan ini.Sarkasme dalam pemilihan diksi dan gaya Bahasa sebagai satire yang mengritik berbagai persoalan bangsa yang terjadi yang dikemas dalam program ini selaras dengan pendapat Baym (2017) dan Holt (2019) bahwa satire dalam jurnalisme digunakan untuk menyampaikan kritik sosial melalui humor dan sarkasme.Dalam konteks Meet Nite Live sebagai karya jurnalistik, analisis deep mediatization memberikan perspektif yang lebih luas mengenai bagaimana media (terutama media digital) tidak hanya digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk membentuk dan mengkritisi realitas sosial serta politik secara kreatif dan sarkastis.Sebagai program yang menggabungkan unsur humor dengan kritik sosial, Meet Nite Live merupakan reprentasi jurnalisme satire yang menggunakan strategi deep mediatization.Dalam teori deep mediatization (Hepp, 2020), media lebih dari sekadar saluran informasi, (elapi juga menjadi agen pembentuk realitas sosial. Meel Nite Live, meskipun mengusung format satire, tidak hanya berfungsi untuk menghibur, tetapi juga untuk membentuk bagaimana audiens memandang isu-isu sosial dan politik krusial. Program ini secara aktif membingkai dan menginterpretasi peristiwa-peristiwa besar, pada data riset ini seperti kebijakan pemerintah dan ancaman terhadap kebebasan pers, melalui lensa humor dan sindiran. Melalui narasi satirenya, acara ini mengajak audiens untuk merefleksikan realitas sosial dan politik, terutama dalam hal ketidakpuasan terhadap tindakan pemerintah dan respons publik yang sering kali tidak efektif.Penyajian informasi dalam konteks data riset ini berupa ancaman terhadap kebebasan pers dan kebijakan pemerintah disampaikan dengan cara yang tidak biasa, yaitu menggunakan visual efek, meme, referensi budaya pop, dan parodi dari film terkenal. Penggunaan elemen-elemen visual dan audio yang memanfaatkan tren media sosial dan budaya pop, seperti parodi dari film atau meme viral yang mengikuti logika media sosial ini membantu menanggalkan kesan serius dan memberikan informasi dengan cara yang lebih mudah dicerna oleh audiens muda. Logika media sosial terbukti mempengaruhi bagaimana berita diproduksi dan dikonsumsi oleh publik (Hjarvard, 2018; Couldry & Hepp, 2021).Kritis vs. ViralisMeet Nite Live jelas mengandung kritik sosial yang tajam. Dalam setiap episode, acara ini menyentil isu-isu serius, meskipun disampaikan dengan gaya humor dan satire.Gaya kritis ini menjadi sangat jelas melalui penggunaan humor sarkastik, punchlines yang menohok, serta sindiran terhadap rezim yang berkuasa. Kritik tersebut memang ditujukan pada kondisi sosial dan politik yang sedang berlangsung, dan gaya ini bisa membuka mata audiens muda terhadap isu-isu yang sebelumnya mungkin terabaikan.Namun, di sisi lain, Meet Nite Live jelas mengandalkan aspek viralisasi untuk mencapai audiens yang lebih luas. Banyaknya konten yang menjadi viral, seperti gaya lolongan serigala Valentinus Resa ("auuuuu") dan punchlines yang direshare di media sosial, menunjukkan bahwa program ini memang sangat bergantung pada viralitas sebagai sarana penyebaran. Gaya penyampaian yang menghibur dan visual dengan efek, meme, dan filter sesuai logika media sosial terkini yang menarik menambah faktor viralisasi acara ini. Punchlines yang bisa dibagikan ulang dengan mudah di platform seperti TikTok dan Instagram memungkinkan Meet Nite Liveuntuk menjadi lebih populer di kalangan audiens muda. Hal ini tidak terlepas dari politik algoritma yang dimiliki platform digital.Nicolai et al (2022) yang mempertanyakan demarkasi antara acara komedi atau jurnalistik pada riset mereka tentang program Zondag met Lubach karena ada kontinum yang cukup luas di antaranya. Program Meet Nite Live Metro TV tetap bisa dikategorikan sebagai karya jurnalistik karena basis konten mereka adalah berita yang dihasilkan melalui kerja-kerja dalam koridor jurnalistik denga serangkaian regulasi. Namun, perlu nantinya melihat perkembangan ke depan dengan riset lebih mendalam apakah posisi Meet Nite Live akan terus mempertahankan nilai-nilai jurnalismenya tanpa tergadai dengan viralitas misalnya untuk tujuan profit semata.Selain itu, konteks bahwa acara ini ditayangkan di Metro TV, yang dimiliki oleh Surya Paloh, menambah dimensi kompleks pada bagaimana pesan dalam Meet Nite Live dipandang. Meskipun dalam ekosistem media di Indonesia posisi Metro TV bias karena ada hubungan dengan kekuasaan politik, namun program Meet Nite Live sampai pada titik ini mampu hadir sebagai aparatus pengritik pemerintah.

Conclusion

Meet Nite Live memadukan keduanya, kritik sosial yang tajam dan viralitas. Tujuan utamanya adalah untuk menyampaikan kritik dengan cara yang menghibur dan sarkastis.Namun untuk mencapai audiens yang lebih luas, acara ini memanfaatkan viralitas yang dihasilkan oleh gaya humor dan logika media sosial serta algoritma. Oleh karena itu, meskipun acara ini tidak sepenuhnya "viralis" dalam arti hanya mengejar popularitas, ia sangat bergantung pada penyebaran viral melalui media sosial untuk memperkuat dampak kritik yang disampaikan. Jadi, acara ini bisa dikatakan sebagai kombinasi dari keduanya, yaitu kritik sosial yang dikemas dalam bentuk yang sangat mudah dikonsumsi dan dibagikan oleh audiens muda, sambil mempertimbangkan konteks politik yang lebih besar dalam penyajiannya dengan mempraktikkan deep mediatization.Riset ini hanya mengelaborasi program Meet Nite Live dari perspektif teks (konten media) saja. Eksplorasi lebih mendalam, misalnya dari perspektif produsen teks dan juga dari aspek konsumsi teks (dari perspektif audiens), akan juga menarik untuk didalami, sehingga bisa memberi hasil yang lebih komprehensif memotret fenomena jurnalisme satire ini.