Kembali
16
1
2023 Jurnal Perpustakaan Pertanian Vol 32 · 2 ISSN 2541-0814

Dukungan Perpustakaan Badan Standardisasi Instrumen Pertanian Dalam Mewujudkan Ekosistem Digital Nasional Library Support of Indonesian Agency for Agricultural Instruments Standardization In Realizing A National Digital Ecosystem

Kementerian Pertanian; Kementerian Pertanian

Abstrak

Perkembangan perpustakaan ke arah digital mempunyai dampak besar dalam pelayanan yang cepat, tepat dan efisien sesuai kebutuhan pemustaka. Pustakawan harus memiliki kompetensi sesuai perkembangan teknologi informasi agar dapat memberikan pelayanan prima. Penerapan ekosistem perpustakaan digital memerlukan sebuah proses pemetaan yang menjadi kunci penting untuk ekosistem digital nasional. Pengkajian bertujuan untuk mengetahui dukungan perpustakaan lingkup BSIP dalam mewujudkan ekosistem digital nasional. Pengkajian dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner melalui google form. Data dianalisis menggunakan pengkategorian skala likert (1-4). Populasi survei adalah pustakawan dan pengelola perpustakaan lingkup BSIP berjumlah 38 responden. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa mayoritas pustakawan/ pengelola perpustakaan lingkup BSIP adalah laki-laki, berumur 2550 tahun dengan tingkat pendidikan diploma dan S1. Pada pengembangan kapasitas, perpustakaan lingkup BSIP sudah menyediakan sarana dan prasarana pendukung dalam pengembangan perpustakaan digital, yang berada kategori setuju dengan nilai interval 75% dan 74,34%. Pada variabel Aktivitas Berbagi Sumber Informasi; Kesadaran Sosial; dan Eksistensi menunjukkan responden setuju sampai sangat setuju dengan interval 71,05%-78,29%. Responden setuju (73,68%) telah melakukan aktivitas menyimpan sumber informasi menggunakan repositori dan sangat setuju (78,95%) menyimpan sumber informasi menggunakan Inlislite/Katalog Induk/ OPAC. Responden menggunakan sumber informasi dari e-resources dengan nilai 69,08% dan Indonesia One Search pada nilai –69,74%. Agar terwujud ekosistem digital nasional di perpustakaan lingkup BSIP, pemangku kebijakan diharapkan dapat menjalin kerjasama, kolaborasi, dan memperluas jejaring dengan perpustakaan lain dalam mengatasi keterbatasan sumber daya manusia, koleksi, sarana dan prasarana melalui penguatan kapasitas perpustakaan digital, pengadaan koleksi perpustakaan serta pelatihan bidang kepustakawanan.

Abstract

The development of libraries towards digital has had a major impact on fast, precise and efficient services according to users. Librarians must have competence according to developments in information technology to provide excellent service. Implementing a digital library ecosystem requires a mapping process which is an important key for the national digital ecosystem. The study aimed to determine the libraries support within IAAIS in implementing a national digital library ecosystem. The study was carried out using quantitative descriptive methods. Data collection uses a survey method by distributing questionnaires via Google Form. Data were analyzed using Likert scale categorization (1-4). The survey population was librarians and library managers within IAAIS of 38 respondents. The results showed that the majority of librarians/library managers within the IAAIS were men, aged 25-50 years with diploma and bachelor’s degrees. In terms of Capacity Development, libraries within IAAIS had provided supporting facilities and infrastructure in developing digital libraries with interval values of 75% and 74.34%. In the Information Source Sharing Activity; Social Awareness; and Existence variables showed that respondents agree to strongly agree with an interval between 71.05%-78.29%. Respondents agreed (73.68%) and had carried out activities to store information sources using repositories and strongly agreed (78.95%) to store information sources using Inlislite/Katalog Induk/OPAC. Respondents used information sources from e-resources with an interval value of 69.08% and from Indonesia One Search 69.74%. In order to realize a national digital ecosystem in IAAIS libraries, policy makers are expected to be able to establish cooperation, collaboration and expand networks with other libraries in overcoming limited human resources, collections, facilities and infrastructure through strengthening digital library capacity, providing library collections and librarianship training.
Keywords: IAAIS Librares · agricultural librarians · digital ecosystem · digital transformation · capacity development

Introduction

Era digital mendorong perpustakaan berperan aktif dalam pengembangan masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan. Perpustakaan di era digital memiliki berbagai keunggulan dalam mendukung tugas-tugas profesional antara lain kemampuan dalam menyediakan informasi, mengorganisasi, menyimpan, mengelola informasi, dan mendiseminasikan sekaligus melestarikan informasi (Hartono, 2020). Perpustakaan telah menjadi ruang publik bagi masyarakat untuk mengubah kualitas hidup mereka menjadi lebih baik. Perpustakaan digital yang berkembang dengan pesat mempunyai dampak besar dalam penyediaan layanan kepada pemustaka. Pustakawan diharapkan dapat melayani kebutuhan pemustaka dengan cepat, tepat dan efisien. Agar harapan tersebut terpenuhi, pustakawan harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi, terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan perpustakaan dan mempunyai kompetensi yang dapat memberikan pelayanan prima (Afrizal, 2019). Perpustakaan khusus adalah suatu organisasi informasi yang didirikan oleh sebuah institusi atau perusahaan, baik swasta maupun pemerintah. Institusi ini bertugas mengumpulkan, menyimpan, dan menyebarkan informasi yang koleksinya hanya berfokus pada suatu bidang tertentu dan bidang-bidang yang berhubungan dengan bidang tersebut, serta untuk pemakai tertentu pula (Tambunan, 2013). Jumlah perpustakaan khusus sebanyak 6.552 perpustakaan (4,0%) dari 164.610 perpustakaan yang ada di Indonesia (Santoso, 2019). Ekosistem digital merupakan sebuah sumber teknologi informasi yang berguna dan saling berkaitan menjadi satu kesatuan utuh antarsistem dan sub-sub sistem lainnya. Manfaat ekosistem digital, yaitu mempercepat adopsi teknologi informasi; kemampuan mengembangkan sumber daya baru secara signifikan; serta menurunkan biaya pemrosesan dan pengiriman. Rouse (2019) dan Afifudin et al. (2020) mengemukakan bahwa ekosistem digital adalah sekelompok sumber daya teknologi informasi saling berhubungan yang terdiri dari pengelompokkan perusahaan, pesaing, pelanggan, penyedia layanan, dan pemangku kepentingan lainnya yang bertukar informasi dan berinteraksi secara elektronik. Ekosistem digital merupakan kolaborasi sistem yang melibatkan interaksi dari satu sistem ke sistem lainnya dan juga dari sistem ke pengguna aplikasi. Pustakawan dalam era ekosistem digital diharapkan mampu mengakselerasikan dirinya untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada para pemustaka. Pustakawan berperan sebagai partner pemustaka dalam melakukan kegiatan penelusuran dengan cara yang cepat, tepat, serta akurat (Utomo dan Hery, 2020). Dalam rangka mengikuti pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pertanian dan mendukung kegiatan lingkup Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP), berbagai upaya untuk mendekatkan informasi kepada pemustaka menjadi sangat penting. Perpustakaan lingkup BSIP mempunyai tugas pokok dan fungsi mengelola sumber daya informasi pertanian untuk berperan aktif terutama dalam penyediaan informasi iptek pertanian kepada pengguna. Dalam penerapannya, ekosistem perpustakaan digital membutuhkan sebuah proses pemetaan yang menjadi sebuah kunci penting untuk menguatkan ekosistem. Pemetaan yang dimaksudkan berupa diagram visualisasi dari seluruh alat-alat digital dan platform yang digunakan dalam sebuah organisasi serta tingkat kesiapan pustakawan dan pengelola perpustakaannya. Menurut Andayani (2014), perpustakaan dalam menjalankan komitmen dan fungsi sebagai lembaga penyedia informasi serta pusat kajian ilmiah harus senantiasa menyediakan sumber-sumber informasi ilmiah terbarukan yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, pengajaran, dan untuk melakukan riset-riset ilmiah. Bondar (2015) menyatakan faktor penyebab rendahnya pemanfaatan perpustakaan adalah implementasi teknologi informasi belum komprehensif dalam menjawab kebutuhan pemustaka dan sumber daya manusia perpustakaan yang belum prestisius. Berdasarkan tagline Perpustakaan Nasional RI Tahun 2020, pengembangan kapasitas kegiatan transformasi perpustakaan untuk mewujudkan ekosistem digital nasional meliputi sarana prasarana, berbagi sumber informasi, kesadaran sosial, dan eksistensi (Perpustakaan Nasional, 2020). Hasil penelitian Risqi (2020) menunjukkan sarana dan prasarana pada pengembangan kapasitas perpustakaan di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang belum memadai, sumber daya manusia perpustakaan masih kurang, tugas dan fungsi staf terjadi perubahan setiap hari. Faktor penghambat pengembangan kapasitas di perpustakaan yaitu koleksi, kurangnya jumlah pustakawan dan staf teknis teknologi informasi, serta reformasi kelembagaan untuk mencapai visi dan misi bertahap dan perlahan. Era revolusi industri 4.0 mengubah gaya hidup masyarakat, terutama pada pemanfaatan teknologi informasi (Danuri, 2019; Risdianto, 2019; Marwati et al. 2021). Perkembangan teknologi informasi mulai merambah berbagai bidang kehidupan yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja suatu organisasi. Meningkatnya pemanfaatan teknologi informasi juga diimbangi dengan kebutuhan sumber daya manusia yang mampu dan cakap dalam bidang digital (Astini 2020; Latip 2020; Marwati et al. 2021). Transformasi digital merupakan proses perubahan yang dirancang dan dijalankan secara aktif yang dipengaruhi oleh teknologi digital (Widnyani & Astitiani, 2021; Zaoui & Souissi 2020; Marwati et al. 2021). Terjadinya transformasi digital didorong oleh adanya perubahan perkembangan teknologi pada organisasi dan lingkungan. Transformasi digital mendorong pelayanan di perpustakaan menjadi lebih tepat dan cepat dalam temu kembali informasi. Kegiatan perpustakaan mendukung transformasi digital mengadopsi tagline Perpustakaan Nasional dalam mendukung transformasi digital yaitu menyimpan sumber informasi di repository; menggunakan katalog induk di OPAC; menyimpan sumber informasi di Katalog Induk OPAC; dan mencari sumber informasi di Indonesia One Search (Perpustakaan Nasional, 2020). Permasalahan yang dihadapi perpustakaan dalam menerapkan sistem otomasi secara optimal sesuai kebutuhan pengelola maupun pengguna perpustakaan adalah masalah kinerja pustakawan. Kinerja pustakawan dapat ditingkatkan melalui pelatihan yang intensif, motivasi kerja yang kuat guna meningkatkan kemampuan diri, memiliki pengetahuan dan kemampuan tentang fasilitas komputerisasi, serta mampu memanfaatkan pengetahuan dalam mendayagunakan sistem otomasi perpustakaan secara optimal (Gardjito, 2005; Hapsari, 2012). Teknologi internet yang semakin canggih memberikan pengaruh terhadap media pembelajaran yang dapat mendukung perpustakaan digital atau digital library. Penerapan digital library sebaiknya didukung oleh kesiapan masyarakat untuk menggunakan organisasinya. Menurut Aeni et al. (2013) perlu dilakukan pengukuran untuk menentukan tingkat kesiapan masyarakat dalam implementasi perpustakaan digital agar dapat berjalan dengan efektif. Berdasarkan latar belakang dan pemasalahan tersebut, tujuan dari pengkajian adalah untuk mengetahui dukungan perpustakaan lingkup BSIP dalam mewujudkan ekosistem perpustakaan digital nasional ditinjau dari pengembangan kapasitas perpustakaan dan kegiatan transformasi digital.

Method

Pengkajian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi yang menjadi subjek pengkajian yaitu pustakawan dan pengelola perpustakaan unit kerja/unit pelaksana teknis lingkup BSIP. Responden yang berpartisipasi dalam pengisian kuesioner berjumlah 38 orang. Pengambilan sampel ditentukan dengan teknik pengambilan sampel jenuh, yaitu pada seluruh populasi untuk mendapatkan data kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner online melalui aplikasi google form. Indikator yang diukur yaitu variabel pengembangan kapasitas dan variabel kegiatan transformasi digital. Pengkajian dilaksanakan di Jakarta pada Januari – Agustus 2023. Pengkajian mengukur persepsi responden terhadap dua indikator, yaitu (1) pengembangan kapasitas dan (2) kegiatan transformasi digital. Indikator pengembangan kapasitas terdiri atas persepsi responden terhadap: (1) sarana prasarana pendukung dalam pengembangan perpustakaan digital; (2) aktivitas berbagi sumber informasi; (3) kesadaran sosial; dan (4) eksistensi. Definisi pengembangan kapasitas perpustakaan tertera pada Tabel 1. Indikator kegiatan transformasi digital terdiri dari persepsi responden terhadap (1) aktivitas penyimpanan sumber informasi di repositori oleh pustakawan; (2) aktivitas menggunakan Katalog Induk di OPAC; (3) aktivitas penyimpanan sumber informasi menggunakan Katalog Induk di OPAC; dan (4) aktivitas pencarian sumber informasi di Indonesia One Search. Secara rinci kegiatan perpustakaan dalam mendukung transformasi digital disajikan pada Tabel 2. Pengumpulan data menggunakan pengkategorian skala Likert (1-4) sehingga indeks interval adalah 25, hasil dari 100% dibagi skala tertinggi (4) (Tabel 3). Analisis data menggunakan analisis frekuensi (proporsi), yaitu menganalisis berdasarkan frekuensi (banyaknya) atau proporsinya (persentase). Hasil frekuensi dan Tabel 1. Definisi pengembangan kapasitas perpustakaan pada kegiatan transformasi digital Pengembangan kapasitas Definisi Sarana dan prasarana Kemutakhiran layanan perpustakaan untuk meningkatkan kemudahan, kenyamanan, kecepatan akses, dan kemutakhiran akses pengetahuan; Berbagi sumber informasi Menyempurnakan layanan berbagai sumber informasi dan pengetahuan guna menyediakan akses pengetahuan bagi publik secara tidak terbatas; Kesadaran sosial Penguatan literasi sebagai kesadaran sosial yang menggerakkan semua komponen masyarakat mulai dari penulis, penerbit, jurnalis, pustakawan, dan berbagai profesi untuk mengkonstruksikan pengetahuan secara sosial Eksistensi Meningkatkan kemampuan menciptakan narasi secara terus menerus dan kontekstual dengan tren yang terjadi pada masyarakat berikut isu-isu aktual yang ada. Sumber: Perpustakaan Nasional (2020). Tabel 2. Definisi kegiatan perpustakaan dalam mendukung transformasi digital Kegiatan perpustakaan dalam mendukung transformasi digital Definisi Repositori Tempat disimpannya berbagai macam program atau aplikasi yang telah dibuat sedemikian rupa sehingga bisa diakses melalui internet tetapi juga dapat menggunakan alternatif repositori lewat distribusi pada media lain seperti DVD yang tentunya sangat membantu sekali untuk kita yang tidak memiliki koneksi internet yang cepat (Universitas Raharja, 2020); Katalog Induk di OPAC OPAC (Open Public Access Catalogue) adalah sebuah fitur yang digunakan memfasilitasi pengunjung untuk mencari katalog koleksi perpustakaan yang dapat diakses oleh umum” (Supriyanto, 2008). Software tersebut dapat membantu pemustaka dalam mencari bahan pustaka atau koleksi-koleksi dalam perpustakaan tersebut dan mempermudah pustakawan dalam membuat katalog. OPAC juga merupakan bentuk kemajuan teknologi yang sangat membantu dalam pelayanan perpustakaan dan mempermudah pemustaka dalam pencarian informasi yang ada di perpustakaan; Indonesia One Search (IOS) IOS merupakan open access discovery system skala nasional yang dikembangkan oleh Ismail Fahmi, Ph.D dan Perpustakaan Nasional sebagai penanggung jawab keberlangsungan program tersebut. Program ini dimulai sejak tahun 2015, berawal dari keinginan mewujudkan Indonesia Open Access agar memudahkan pengembangan penelitian di Indonesia (Fahmi, 2016; Daryanto, 2023). Sumber: Perpustakaan Nasional (2020) proporsi kemudian dipetakan berdasarkan nilai interval dan kriteria yang diperoleh.

Result & Discussion

Karakteristik Responden Berdasarkan karakteristik responden diketahui bahwa lebih dari separuh responden adalah perempuan (52,63%), sedangkan laki-laki 47,37%. Sebanyak 63,16% usia responden berada pada usia produktif (25-50 tahun), sedangkan sisanya (38,84%) berusia di atas 50 tahun. Mayoritas pendidikan responden adalah diploma dan sarjana strata 1 masing-masing 47,37% dan hanya 2 orang (5,26%) yang berpendidikan S2 (strata 2). Pengembangan Kapasitas Perpustakaan Pengembangan kapasitas mengacu kepada proses di mana individu, kelompok, organisasi, kelembagaan, dan masyarakat mengembangkan kemampuannya baik Tabel 3. Nilai interval dan kriteria penilaian Nilai Persepsi Nilai Interval Kriteria 1 0% – 24,99% 2 25% – 49,99% 3 50% – 74,99% 4 75% – 100% Tidak setuju Kurang setuju Setuju Sangat Setuju Tabel 4. Karakteristik responden pustakawan/p lingkup BSIP pengelola perpustakaan Karakteristik responden Jumlah % Usia 25-50 tahun 24 63,16 50 tahun 14 38,84 Jenis kelamin Laki-laki 18 47,37 Perempuan 20 52,63 Tingkat pendidikan Diploma 18 47,37 S1 18 47,37 S2 2 5,26 secara individual maupun kolektif dalam melaksanakan fungsinya, menyelesaikan permasalahan serta mencapai tujuan-tujuan secara mandiri. Pada pengkajian ini pengembangan kapasitas terdiri atas sarana dan prasarana di perpustakaan, berbagi sumber informasi, kesadaran sosial, dan eksistensi. Berdasarkan hasil kajian memperlihatkan bahwa pada indikator pengembangan kapasitas, untuk variabel sarana dan prasarana, pustakawan/pengelola perpustakaan sudah menyediakan sarana dan prasarana pendukung dalam pengembangan perpustakaan digital. Hal ini diketahui dari skor dan interval yang diperoleh yaitu 75% dan 74,34% yang berada pada kategori setuju (Tabel 5). Peran sarana dan prasarana dalam mendukung kapasitas ekosistem digital perpustakaan sangat penting. Namun, beberapa permasalahan atau kendala yang dihadapi oleh pustakawan/pengelola perpustakaan, yaitu (1) masih rendahnya dukungan pengambil kebijakan dalam pengadaan sarana prasarana, (2) sarana prasarana yang mendukung ekosistem perpustakaan digital yang tersedia masih terbatas, kalau pun ada sarana yang ada sudah ketinggalan jaman (out of date) dan perlu pembaruan; dan (3) sumber daya manusia yang ada belum kompeten dalam mengoperasikan sarana pendukung dengan teknologi tinggi. Hal tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Habiburrahman (2017) yang menunjukkan bahwa faktor penghambat kesiapan implementasi teknologi informasi digital di Perpustakaan Pusat UIN Sumatera Utara adalah kualitas infrastruktrur yang belum sesuai dengan standar internasional, belum adanya program pelatihan teknologi informasi secara berkesinambungan, serta belum adanya prosedur dalam analisis dan desain teknologi informasi. Hal ini sebagai syarat agar pustakawan dan staf perpustakaan memiliki kemampuan yang cukup untuk menangani masalah yang terjadi dalam implementasi teknologi informasi. Variabel lain yang diukur, yaitu aktivitas berbagi sumber informasi; kesadaran sosial; dan eksistensi juga menunjukkan interval antara 71,05%-78,29% (Tabel 5). Hal ini berarti responden setuju sampai sangat setuju dengan pernyataan yang ditanyakan peneliti terkait variabel tersebut. Pustakawan/pengelola perpustakaan telah melakukan aktivitas berbagi informasi dan menyediakan akses ke sumber informasi kepada pustakawan lain di lingkup Kementerian Pertanian. Menurut responden hal yang penting dan sangat dibutuhkan dalam mendukung ekosistem digital, yaitu sumber informasi digital; kemudahan dalam mengakses, dan kelengkapan informasi yang dibutuhkan . Dalam era ekosistem digital, pustakawan/pengelola perpustakaan harus memiliki kemampuan literasi sehingga mereka dapat menjawab semua kebutuhan pengguna. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada variabel kesadaran sosial, responden menyadari bahwa kemampuan literasi sangat dibutuhkan dalam ekosistem digital. Pustakawan/pengelola perpustakaan dituntut untuk mampu mengetahui bukan hanya sumber informasi, namun juga mendiseminasikan informasi dengan baik. Oleh sebab itu, pelatihan untuk meningkatkan kemampuan literasi pustakawan perlu dilakukan. Menurut Hartono (2020), dalam ekosistem digital terdapat berbagai keunggulan untuk mendukung tugas perpustakaan, antara lain memiliki kemampuan dalam mengorganisasi, menyimpan, mengelola, dan mendiseminasi informasi sekaligus melestarikan informasi. Namun demikian, kemajuan dan tuntutan zaman tersebut jangan sampai berimbas dalam manajemen perpustakaan digital itu sendiri. Dalam konteks ini, perpustakaan digital berusaha untuk berbagi informasi kepada para pemustaka yang membutuhkan. Tabel 5. Pengembangan kapasitas perpustakaan lingkup BSIP Pengembangan kapasitas Skor Nilai interval Kategori Sarana prasarana Tersedia sarana pendukung dalam pengembangan perpustakaan digital 114 75,00 Sangat setuju Tersedia prasarana pendukung dalam pengembangan perpustakaan digital 113 74,34 Setuju Aktivitas berbagi sumber informasi Aktivitas berbagi sumber informasi kepada perpustakaan di lingkup perpustakaan Kementerian Pertanian 119 78,29 Sangat setuju Aktivitas penyediaan akses sumber informasi perpustakaan di lingkup perpustakaan Kementerian Pertanian 112 73,68 Setuju Kesadaran sosial Memiliki pengetahuan literasi dalam pengembangan kapasitas dalam ekosistem digital perpustakaan 108 71,05 Setuju Terdapat kegiatan literasi dalam pengembangan kapasitas dalam ekosistem digital perpustakaan 114 75,00 Sangat setuju Eksistensi Pustakawan/pengelola dapat meningkatkan kemampuan kapasitas perpustakaan digital 117 76,97 Sangat setuju Pustakawan/pengelola mengikuti perkembangan kemampuan kapasitas perpustakaan digital 114 75,00 Sangat setuju Pada variabel eksistensi, responden menyatakan sangat setuju bahwa mereka perlu meningkatkan kemampuan dalam mengikuti perkembangan teknologi yang terjadi pada era digital. Kemampuan tersebut terkait dengan perlunya eksistensi pustakawan di era digital, yaitu terus belajar dan berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Menurut responden, perpustakaan di era ekosistem digital memerlukan sumber daya manusia yang baik dan mau belajar serta selalu mengikuti isu-isu terkini. Menurut pernyataan Tyas (2023), keahlian pustakawan dalam integrasi informasi, database manajemen, navigator, dan mediator ke berbagai sumber informasi di samping pekerjaan teknis menjadi penting dalam transformasi pustakawan mengelola koleksi digital di perpustakaan Kabupaten Bandung. Pada era big data dan perpustakaan digital, Iskak & Rabita (2019) menemukan beberapa permasalahan terkait dengan peran pustakawan dalam pengelolaan perpustakaan digital, yaitu penyebaran sumber informasi, pemanfaatan sumber informasi, pengakuan (social recognition), dan perubahan dalam berpikir (change in thinking). Eksistensi sangat terkait juga dengan pengakuan dan peran pustakawan dalam era big data yang semakin menurun berdasarkan tren sosial. Terkait dengan hal tersebut, pustakawan/pengelola perpustakaan dituntut untuk selalu meningkatkan kemampuan dan keahlian baik melalui pendidikan formal maupun informal, misalnya pelatihan dan bimbingan teknis bidang kepustakawanan (Maesaroh, 2020). Kegiatan Transformasi Digital Lingkup Perpustakaan BSIP Variabel yang diukur pada indikator transformasi digital lingkup Perpustakaan BSIP, yaitu kegiatan perpustakaan menyimpan sumber informasi di repositori; aktivitas pustakawan menggunakan katalog induk di OPAC; aktivitas pustakawan menyimpan sumber informasi di Katalog Induk OPAC; dan aktivitas pustakawan dalam mencari sumber informasi di Indonesia One Search. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai interval yang diperoleh adalah 69,08%–73,68% (Tabel 6) dengan kategori setuju dan telah melakukan aktivitas menyimpan sumber informasi menggunakan repositori, menggunakan sumber informasi dari e-resources, dan menggunakan sumber informasi dari Indonesia One Search. Pada variabel aktivitas menyimpan sumber informasi menggunakan Inlislite/Katalog Induk/OPAC lain menunjukkan bahwa responden sangat setuju (78,95%) dan telah melaksanakan kegiatan tersebut. Tabel 6. Kegiatan transformasi digital perpustakaan lingkup BSIP Kegiatan perpustakaan khusus dalam mendukung transformasi digital Skor Nilai interval Kategori Perpustakaan menyimpan sumber informasi menggunakan repositori 112 73,68 Setuju Perpustakaan menyimpan sumber informasi menggunakan Inslite/Katalog Induk/OPAC 120 78,95 Sangat setuju Perpustakaan dalam menggunakan sumber informasi dari e-resources 105 69,08 Setuju Perpustakaan menggunakan sumber informasi dari Indonesia One Search 106 69,74 Setuju Menurut Nugrohoadhi (2022) dalam era metaverse seperti sekarang ini, keragaman koleksi yang dilayankan perpustakaan menjadi suatu keharusan dan memberikan keleluasaan pemustaka dalam memanfaatkannya. Oleh sebab itu, pengelola perpustakaan perlu melakukan transformasi layanan, terutama terkait dengan pemanfaatan berbagai sumber informasi baik dari database yang dikelola secara internal maupun dari sumber informasi lainnya baik dari pembelian database maupun kerja sama. Pernyataan tersebut sejalan dengan tanggapan responden yang menyatakan bahwa meskipun perpustakaan khusus ditujukan melayani pemustaka di instansi/lembaganya sendiri, namun peran perpustakaan khusus sebagai penggerak dalam percepatan transformasi perpustakaan digital sangat diharapkan. Kerja sama dan kolaborasi diperlukan untuk mengatasi keterbatasan sumber daya manusia, koleksi, sarana, dan prasarana.

Conclusion

Pada pengembangan kapasitas perpustakaan dalam ekosistem digital, pustakawan/pengelola perpustakaan lingkup BSIP sudah menyediakan sarana dan prasarana pendukung, menyatakan setuju adanya aktivitas berbagi sumber informasi, dan telah menyediakan akses ke sumber informasi kepada pustakawan/pengelola perpustakaan lain di lingkup Kementerian Pertanian, serta memiliki kesadaran sosial pada pengetahuan literasi di perpustakaan.Selain itu responden menyatakan sangat setuju bahwa mereka perlu meningkatkan kemampuan dalam mengikuti perkembangan teknologi yang terjadi pada era digital. Pustakawan/pengelola perpustakaan setuju dan telah melakukan aktivitas menyimpan sumber informasi menggunakan repositori dan Inlislite/Katalog Induk/ OPAC. Pada transformasi digital, pustakawan/pengelola perpustakaan telah menggunakan sumber informasi dari e-resources dan Indonesia One Search . Pemangku kebijakan diharapkan melakukan kerja sama, kolaborasi, dan memperluas jejaring dengan perpustakaan lain untuk mengatasi keterbatasan sumber daya manusia, koleksi, sarana dan prasarana perpustakaan agar terwujud Ekosistem Digital Nasional di perpustakaan lingkup BSIP. Hal tersebut dilakukan melalui penguatan kapasitas perpustakaan digital, pengadaan koleksi perpustakaan, dan pelatihan bidang kepustakawanan.