IMPLEMENTASI ARSITEKTUR INFORMASI PADA INOVASI PERPUSTAKAAN
Institut Agama Islam Negeri Salatiga
Abstrak
Penulisan ini mengambil tema tentang arsitektur informasi dan implementasinya pada inovasi perpustakaan. Penulisan ini berbasis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Objek penelitian berupa best practis perpustakaan. Pada penulisan ini membahas mengenai arsitektur informasi dan implementasi arsitektur informasi di perpustakaan. Hasil dari penulisan ini bahwa informasi yang berkembang ini perlu ada strategi dalam pengelolaanya. Arsitektur informasi menjadi salah satu konsep yang mengatur informasi baik secara struktur maupun infrastrktur sehingga informasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Implementasi arsitektur informasi di perpustakaan IAIN Salatiga adalah pada pembangunan sistem informasi perpustakaan, pengelolaan web, sistem informasi dan media perangkat promosi perpustakaan.
Abstract
This writing takes the theme of information architecture and its implementation in library innovation. This writing is based on qualitative research with a case study approach. The object of research is the best practice library. This paper discusses information architecture and the implementation of information architecture in libraries. The result of this writing is that the information that develops requires a strategy in its management. Information architecture is one of the concepts that regulates information both structurally and infrastructure so that information can be adapted to needs. The implementation of information architecture in the library of IAIN Salatiga is in the development of library information systems, web management, information systems and media for library promotion tools.
Keywords:
Arsitektur informasi
· Inovasi perpustakaan
· Implementasi
Introduction
Teknologi menjadi titik perhatian dalam perkembangan peradaban, dimana teknologi berperan sebagai katalisator dari sumber peradaban, yakni: data, informasi dan ilmu pengetahuan. Perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi seolah-olah menjadi kran besar yang mengalirkan informasi ke berbagai arah lapisan masyarakat. Informasi yang lahir pun seperti lahir tanpa bisa dikendalikan. Setiap waktu dengan tanpa jadwal yang tetap, informasi dimungkinkan untuk muncul yang syarat dengan berbagai pesan di dalamnya. Melimpahkan informasi, padatnya data yang membersamainya seringkali user kesulitan menangkap mana yang penting dan berguna baginya. Karenanya dikenallah dengan istilah banjir informasi. Resiko dari banjir informasi ini akan bermunculan pula informasi-informasi “sampah” yang terbuang karena tidak memiliki nilai guna bagi usernya. Jika beberapa dekade yang lalu tidak sedikit penulis yang mengelami kesulitan mencari informasi (baca: referensi) untuk bahan karya tulis, kini informasi/ referensi ini melimpah, bahkan cenderung mengalami kebingungan memilih referensi yang akan digunakan. Banjir informasi yang melanda dunia maya sehingga menyebabkan meruahnya informasi, salah satu penyebabnya adalah adanya pabrikasi informasi, dimana informasi direkayasa dan diciptakan sedemikan rupa sehingga penerimanya terbuai dan menjadikannya sebagai landasan dalam memproduksi informasi berikutnya. Dengan kata lain, berita hoax karena pabrikasi informasi ini akan berakibat panjangnya mata rantai kesalahan informasi yang diterima oleh user. Akibat lainnya adalah fakta yang dikaburkan atau diistilahkan dengan Post truth. Dalam konteks produksi informasi, Post truth ini merupakan penciptaan informasi yang memiliki kebenaran, tetapi kebenaran ini tidak disampaikan dengan apa adanya, melainkan diberi tambahan-tambahan informasi yang mengaburkan substansi yang sesungguhnya. Kepercayaan terhadap simbol, figur, idola, mengalahkan kebenaran fakta yang sebenarnya. Beberapa fakta ini menjadi menarik dicermati untuk kemudian menjadikannya sebagai bahan kajian untuk melihat secara lebih dalam mengenai diseminasi informasi agar user dapat berselancar dalam menenukan informasi yang dibutuhkannya secara efektif, efisien, dan akurat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan informasi sebagai asset penting dalam suatu organisasi. Informasi sudah menjadi kebutuhan bagi organisasi saat ini karena informasi merupakan salah satu sumber daya yang harus ada pada setiap kegiatan organisasi. Informasi merupakan hasil pengolahan data yang bermanfaat sebagai pendukung pengambilan keputusan organisasi. Informasi yang disampaikan harus berkualitas dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan organisasi sehingga bisnis organisasi dapat berjalan dengan baik. Guna menghasilkan informasi yang berkualitas perlu didukung sistem pengelolaan informasi yang baik dan mendukung bisnis organisasi yakni dengan mengembangkan sistem informasi berbasis komputer terintegrasi. Dalam perkembangannya, sistem informasi bukan hanya sekedar otomatisasi, tetapi juga dapat menjadi strategi organisasi untuk mencapai tujuannya. Organisasi terkadang mengembangkan sistem informasi tanpa mengacu pada arsitektur informasi, dimana arsitektur informasi merupakan sebuah kerangka informasi yang menggambarkan aliran informasi dalam suatu organisasi yang menyebabkan sistem informasi yang ada hanya berupa kumpulan sistem-sistem yang tidak terintegrasi. Informasi yang tidak menentu ini akan bisa dimaksimalkan nilai gunanya jika dikelola dengan sistem yang terstruktur, sistematis dan mudah digunakan. Karenanya diperlukan arsitektur informasi yang baik, terkonsep, dan futuristik. Pada konteks ini penulis mengambil sampel dari materi arsitektur informasi yang disandingkan dengan kurikulum ilmu perpustakaan
Method
Penulisan ini berbasis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Objek penelitian berupa best practis perpustakaan.
Result & Discussion
Implementasi Arsitektur Informasi Untuk Perpustakaan Dalam sebuah desain multimedia yang baik, salah satu hal yang harus diperhatikan adalah arsitektur informasi. Arsitektur informasi akan membantu user untuk menemukan informasi yang dibutuhkannya dengan lebih mudah dan cepat. Suatu aplikasi multimedia dikatakan memiliki arsitektur informasi yang baik jika aplikasi tersebut, melakukan organisasi informasi dengan baik dan terstruktur. Dengan demikian user tidak akan tersesat dalam aplikasi saat membutuhkan suatu informasi, dan akan mendapatkan informasi yang dibutuhkannya dengan cepat.(Vaughan, 2006) Arsitektur informasi dapat diimplementasikan di perpustakaan dalam berbagai produk, diantaranya: 1. sistem informasi perpustakaan Sistem informasi perpustakaan merupakan program aplikasi yang telah dirancang sedemikian rupa guna membantuk pekerjaan pustakawan dalam melaksanakan tugas rutin teknis yang biasa dilakukan secara konvensional seperti pendataan usulan pengadaan buku, pendataan bibliografi, klasifikasi dan pengolahan lainnya, pelayanan, sampai dengan pelaporan. Dengan adanya sistem informasi perpustakaan ini, tentu diharapkan pada pustakawan atau pengelola perpustakaan lainnya memperoleh kemudahan-kemudahan dalam menjalankan tugasnya sehari-hari, serta mendapatkan pengalaman pekerjaan satu entry untuk semua kegiatan teknis. Arsitektur informasi bekerja secara hirarkis menyangkut berbagai menu utama seperti dasboard, transaksi, anggota, pelaporan, statistik, dan lain-lain. Masing-masing menu utama memiliki sub menu yang bertujuan memberikan akses lebih detail terkait dengan pekerjaan teknis yang diperlukan. Sebagai contoh, menu anggota memiliki submenu daftar anggota, input anggota, cetak kartu anggota, blokir anggota, dan beberapa menu keanggotaan lainnya. 2. Web perpustakaan Web perpustakaan menjadi “rumah kedua” perpustakaan IAIN Salatiga, dimana alamat akses dan konten yang dimiliki perpustakaan dapat dijangkau oleh pemustaka melalui web ini. Web ini dirancang sedemikian rupa sehingga memberikan kemudahan dan memberi rasa nyaman kepada pemustaka untuk berselancar menelusur informasi maupun mengakses informas melalui web ini. web ini menyediakan konten berita, informasi kegiatan, akses pada jaringan kerjasama yang sudah dibangun oleh perpustakaan, sumber-sumber informasi digital yang diwadahi dalam menu eresources, dan lain sebagainya. berikut tampilan web perpustakaan IAIN Salatiga yang mengimplementasikan arsitektur informasi pada proses pembentukannya: Arsitektur informasi bekerja secara hirarkis dalam proses mengatur relasi antar menu, estetika tampilan dan efektivitas akses terhadap konten yang disediakan. Relasi antar menu ditunjukkan dengan menu-menu yang disajikan pada interface web perpustakaan yang menginformasikan menu-menu utama dan sub menunya. Sebagai contoh pada gambar dapat dilihat menu informasi umum menginformasikan terdapatnya sub menu sejarah, visi-misi, struktur organisasi dan layanan. Secara estetika web perpustang kaan ini menarik untuk dinikmati karena disajikan varian menu, warna, dan aksesoris tampilan yang memberikan kesan artistik. Sementara aspek efektivitas dilihat dari kemudahan akses terhadap konten. Untuk akses terhadap suatu konten tidak memerlukan cara yang menyulitkan, cukup dengan sekali atau dua kali klik, pemustaka sudah dapat menuju konten yang dimaksudkan atau telah diarahkan pada link tempat konten yang dibutuhkan berada. 3. Media promosi perpustakaan Media promosi yang diproduksi Perpustakaan IAIN Salatiga sebagai upaya menyampaikan pesan-pesan kepada pemustaka dengan cara menggunakan media perantara infografis, diantaranya adalah dengan menggunakan flyer, brosur atau poster. Arsitektur informasi berperan kerja secara linier dalam rangka mengatur tata letak, etika dan estetika. Tata letak dalam konteks ini mengatur letak konten yang pas dan bisa dipahami oleh pembaca. Misalnya meletakkan judul kegiatan, waktu pelaksanaa, sampai dengan informasi pendaftaran. Aspek etika melihat kepantasan dan kemudahan informasi diterima dalam ranah budaya dan sosial masyarakat. Pertimbangan ini penting mengingat informasi dan pilihan kata atau gambar menjadi isu sensitif jika tidak dipiilih infografis yang sesuai dengan kaidah sosial dan budaya. Aspek estetika terjadi pada pemilihan aksesoris pada media infografis ini menyangkut warna, ornamen-ornamen tambahan dan sebagainya sehingga tampilan infografis ini bisa lebih indah dan menimbulkan rasa ketertartikan. Pada pembuatan flyer, brosur atau poster ini informasi dikemas sedemikian rupa, dirancang dengan cara yang efisien, bila diperlukan menyampaikan satu gambar yang dapat memuat lebih banyak pesan. Kelebihan dari model arsitektur linier ini informasi lebih simpel, mudah dipahami, dan memuat lebih detil informasi.
Conclusion
Arsitektur informasi menjadi salah satu konsep yang mengatur informasi baik secara struktur maupun infrastrktur sehingga informasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Implementasi arsitektur informasi di perpustakaan IAIN Salatiga adalah pada pembangunan sistem informasi perpustakaan, pengelolaan web, sistem informasi dan media promosi perpustakaan