PENERAPAN ARSITEKTUR INFORMASI PADA DIGITAL LIBRARY
Universitas Katolik Musi Charitas
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana arsitektur informasi diterapkan pada digital library. Sampel pada penelitian ini yaitu Cambridge Digital Library, Villanova University Digital Library, University of Pittsburgh Digital Collection, dan Tuft Digital Library. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Penelitian yang dilakukan adalah pengamatan terhadap 4 digital library yang dipilih. Data analis yang digunakan yaitu komponen arsitektur informasi yang meliputi organization information, navigation systems, labelling systems, dan search systems. Dari hasil deskripsi menunjukkan tidak semua user interface menerapkan arsitektur informasi. Cambridge Digital Library merupakan digital library yang menerapkan semua komponen arsitektur informasi, sedangkan ketiga digital library lainnya hanya menerapkan 3 komponen arsitektur informasi. Meskipun demikian Cambridge digital library belum menerapkan semua komponen arsitektur informasi dengan baik dikarenakan ada salah satu komponen arsitektur informasi yang belum sepenuhnya diterapkan. Organization information merupakan salah satu komponen arsitektur informasi yang tidak diterapkan sepenuhnya oleh mayoritas digital library. Dari 4 digital library yang dijadikan sebagai objek pengamatan, tidak ada satupun digital library yang menerapkan arsitektur informasi secara penuh dan baik.
Abstract
This study aims to determine the extent to which information architecture is applied to the digital library. The sample in this study was Cambridge Digital Library, Villanova University Digital Library, University of Pittsburgh Digital Collection, and Tuft Digital Library. Data collection method in this research is qualitative descriptive. The research conducted in the observation of 4 digital libraries selected. The data analysis used in information architecture that includes organization information, a navigation system, a labeling system, and a search system. From the description, results show not all user interfaces implement information architecture. Cambridge digital library is a digital library that implements all components of information architecture, while the other three digital libraries apply only 3 components of information architecture. Nevertheless, Cambridge digital library has not implemented all the components of information architecture well because there is one component of information architecture that has not been fully applied. Organization information is one component of information architecture that is not fully implemented by the majority of digital libraries. Of the 4 digital libraries that serve as the object of observation, none of the digital libraries that implement the information architecture in full and well. as Katolik Musi Charitas
Keywords:
arsitektur informasi
· digital library
· organization information
· navigation systems
· labeling systems
· dan search systems
Introduction
Digital library dibangun untuk memudahkan pengguna menemukan berbagai informasi dan pengetahuan melalui koleksi yang dimiliki sebuah perpustakaan. Dari awal berdirinya digital library hingga saat ini, jumlah konten yang diproduksi oleh perpustakaan semakin meningkat kuantitasnya. Kuantitas informasi yang berlebihan dapat mengakibatkan pengguna dirugikan karena mereka perlu membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan informasi yang dicarinya. Ketika pengguna dihadapkan pada informasi yang besar, mereka akan mengalami kesulitan bagaimana memilih dan mendapatkan informasi yang efektif serta relevan dengan kebutuhannya. Bahkan tidak sedikit dari pengguna mengalami kecemasan. Menurut Parandjuk (2010) mengatakan ketika jumlah informasi digital meningkat, layanan perpustakaan harus dibangun pada instruksi untuk penemuan sumber daya elektronik di mana peran pustakawan berperan dalam merancang arsitektur informasi digital koleksi untuk meningkatkan akses pada konten. Hal ini yang menjadi tantangan pustakawan di mana banyaknya kuantitas informasi dan berbagai macam informasi dapat dimanaj e m e n d e n g a n b a i k s e h i n g g a d a p a t meningkatkan kepuasan pengguna. Arsitektur informasi sering dideSinisikan sebagai manajemen konten yang diperlukan untuk meningkatkan akses yang eSisien dan efektif. Saat ini arsitektur informasi menjadi perhatian pada pengembangan e-commerce. Perusahaan yang erbasis e-commerce berupaya agar pelanggannya merasa dimudahkan mengakses took onlinennya. Mereka mengantisipasi agar pelanggannya tidak tersesat dan mengalami kesulitan karena menemui banyaknya informasi pada situs jual belinya. Demikian juga layaknya sebuah perusahaan, digital library haruslah memperhatikan aspek arsitektur informasi supaya pengguna merasa dimudahkan ketika melakukan akses informasi. Chen dan Chen (2010) mengklaim bahwa digital library dengan arsitektur informasi yang terorganisasi dengan baik dapat memfasilitasi pembelajaran yang lebih baik bagi penggunanya. Studi mereka juga mengidentiSikasi pentingnya arsitektur informasi pada sebuah digital library untuk mempermudah pengguna membaca atau mencari informasi. Melihat pentingnya konsep arsitektur informasi pada digital library, maka perlu dilakukan sebuah penelitian pada digital library. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana digital library perguruan tinggi menerapkan arsitektur informasi. Sampel digital library yang dijadikan penelitian yaitu Cambridge Digital Library, Villanova University Digital Library, University of Pittsburgh Digital Collection, dan Tuft Digital Library. Arsitektur informasi yang dijadikan sebagai objek penelitian adalah user interface yang ada pada 4 digital library tersebut. Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan masukan atau saran kepada perpustakaan ketika membangun digital library. TINJAUAN LITERATUR 1. Sejarah dan DeHinisi Arsitektur Informasi Istilah Arsitektur Informasi pertama kali diciptakan pada tahun 1960 oleh Richard Saul Wurman. Richard Saul Wurman merupakan seorang arsitek berpengalaman yang kemudian berSikir dan tertarik bagaimana informasi tentang lingkungan perkotaan bisa dikumpulkan, ditata dan disajikan secara bermakna dengan cara tertentu (Wurman & Bradford, 1996 dalam Hourican, 2002). Namun visi Wurman terhadap konsep arsitektur, desain informasi, tipograSi, dan desain graSik sebagain besar terbengkelai. Kemudian barulah ketika munculnya world wide web pada tahun 1990-an, konsep struktur dan organisasi informasi tersebar luas. Istilah Arsitektur Informasi digunakan pada desain web sebagai kebutuhan akan akses informasi secara digital (Dillon & Turnbull, 2005). Wurman mengemukakan 3 gagasan tentang peran arsitek informasi diantaranya, 1) mengatur kompleksitas pola data menjadi jelas; 2) membuat struktur atau peta informasi yang memungkinkan orang lain menemukan pengetahuan yang mereka butuhkan; 3) pada abad ke21 akan muncul pekerjaan profesional yang mengatasi kebutuhan manusia yaitu tentang pemahaman dan ilmu organisasi informasi (Wurman, 1996 dalam Rosenfeld & Morville, 1998). Selanjutnya Rosenfeld & Morville (1998) dalam bukunya menawarkan beberapa deSinisi arsitektur informasi diantaranya; 1. Kombinasi organisasi, pelabelan, dan skema navigasi dalam suatu sistem informasi. 2. Desain struktural ruang informasi untuk memfasilitasi penyelesaian tugas dan akses intuitif ke konten. 3. Seni dan ilmu penataan dan pengklasiSikasian situs web dan intranet untuk membantu orang menemukan dan mengelola informasi. 4. Disiplin dan komunitas praktik yang muncul dan fokus pada prinsip desain dan arsitektur ke ranah digital. Hingga pada saat ini deSinisi arsitektur informasi masih cenderung bervariasi. Menurut Simon (2008) arsitektur informasi adalah kombinasi arsitektur teknis, fungsional, dan lansekap. Arsitektur informasi adalah disiplin yang menyatukan situs dan layanan informasi. Oleh karena itu sering ditemukan bahwa arsitektur informasi disebut dengan istilah manajemen konten. Dengan kata lain Simon merangkum arsi tek tur in formasi sebagai pekerjaan pengumpulan, pengelolaan, dan penerbitan konten, seringkali dengan bantuan sistem manajemen konten berbasis perangkat lunak yang canggih. 2. Komponen Arsitektur Informasi Menurut Rosenfeld, et al (2015) pengguna informasi akan menemukan kebutuhan informasinya melalui penelusuran atau pencarian ketika mereka memahami beberapa aspek sebuah sistem diantaranya desain, struktur, organisasi, pelabelan, navigasi, dll. Menurut teori Rosenfeld & Morville (1998) terdapat 4 komponen arsitektur informasi pada website diantaranya; organization information, navigation systems, labelling systems, dan search systems. Berikut ini penjelasan untuk masing-masing komponen arsitektur informasi menurut Rosenfeld & Morville (1998). a. Organization Information Organization information merupakan pengelompokan dan katalogisasi konten yang disusun secara logis. KlasiSikasi terhadap informasi ini dibedakan berdasarkan karakteristiknya. Seringkali ditemukan beberapa kesulitan yang menjadi tantangan dalam melakukan pengorganisasian informasi seperti; 1) Ambiguitas yaitu di mana sistem klasiSikasi dibangun atas dasar bahasa yang dipahami lebih dari dua maksud atau pengertian. 2) Heterogenitas yaitu mengacu pada objek atau kumpulan objek yang terdiri dari bagian yang tidak ada kaitanya. 3) Perbedaan perspektif yaitu di mana pengguna atau pengunjung akan memiliki perspektif yang berbeda untuk memahami sebuah informasi. 4). Politik internal yaitu di mana informasi yang disajikan akan berada di bawah kekuasaan organisasi tertentu. Struktur organisasi informasi dalam sebuah situs web dibagi menjadi 2 komponen utama yaitu organization schemes dan organization structure. a). organization schemes terbagi menjadi 2 yaitu exact organization schemes dan ambiguous organization schemes. 1. exact organization schemes terdiri atas; alphabetical, chronological, dan geographical. 2. ambiguous organization schemes terdiri atas; topical, task oriented, audience spesi\ic, dan metaphor driven. 3. hybrid schemes b). organization structure terbagi menjadi 3. 1. the hirarchy 2. hypertext 3. relational database model b. Navigation Systems Navigation systems merupakan bentuk visual pada website biasanya berupa tanda, tab, atau icon yang digunakan pengguna untuk berpindah mencapai informasi / konten selanjutnya. Sistem navigasi dirancang untuk mendukung pembelajaran asosia ti f dengan menampilkan sumber daya yang terkait konten yang sedang ditampilkan. Dengan navigation s y s tem , p e n g g u n a d a p a t m e n e r u s ka n penelusuran informasi yang berhubungan dengan informasinya sebelumnya apabila informasi terebut dirasa cukup penting dan sesuai dengan kebutuhannya. Apabila navigation system yang baik diimplementasikan pada setiap halaman website, maka implikasinya bahwa pengguna tidak akan tersesat dalam penelusuran kebutuhan informasinya. Oleh karena itu navigation system fungsinya dapat dianalogikan sebagai kompas penunjuk kemana pengunjung akan melangkah. Terdapat 4 type navigation system. Dibawah ini merupakan penjelasan 4 tipe navigation system. a). Hierarchical navigation systems Hierarchical navigation system sederhananya dideSinisikan sebagai tab yang diperlukan apabila sebuah konten informasi mempunyai hirarki yang berlapis lapis. Type navigation system ini berfungsi memberi petunjuk ketika pengguna akan meneruskan penelusuran informasi yang terdapat pada hirarki tingkat selanjutnya atau bahkan kembali ke halaman hirarki tingkat satu sebuah website. b). Global navigation systems Global navigation system merupakan tombol atau tautan yang disediakan setelah halaman pertama sebuah website. Contoh kongkritnya bahwa pada halaman 2, halaman 3 dan seterusnya menyertakan tautan kembali sebagai fasilitas umpan balik menuju ke halaman home atau halaman beranda sebuah website. c). Local navigation systems Local navigation systems digunakan apabila sebuah situs lebih kompleks. Local navigation systems merupakan fasilitas yang disediakan pada website apabila pengguna akan berpindah antar sub situs yang lebih detail atau khusus. d). Ad hoc navigation Ad Hoc Navigation merupakan penyematan melibatkan kata-kata, frasa, atau kalimat yang digunakan sebagai tautan sebuah situs website. Type ini disediakan dikarenakan tidak semua konten selalu cocok dengan kategori hirarki, global, maupun lokal. Karena pengguna cenderung memindai halaman dengan sangat cepat sehingga pengguna seringkali melewatkan tautan yang tidak terlalu nampak. Oleh karena itu penggunaan tautan pada type ini perlu mempertimbangkan objek yang mudah diingat oleh pengguna. c. Labeling Systems Labeling systems merupakan bentuk representasi yang biasanya merupakan kata-kata yang mewakili potongan informasi. Misalnya label ‘hubungi kami’, label yang mewakili sebuah potongan informasi, termasuk nama kontak, alamat, telepon, faks, informasi email, dsb. tujuan dari label adalah untuk mengkomunikasikan informasi secara eSisien, artinya penyampaian informasi tanpa menggunakan terlalu banyak ruang vertikal atau ruang kognitif pengguna. Labeling systems mempunyai 2 format yaitu, format teks dan icon. Kedua format ini biasanya digunakan sebagai tautan ke halaman lain, dan sebagai judul yang membagi kumpulan informasi pada halaman yang sama. Terdapat 4 tipe labelling systems. Penjelasannya sebagai berikut. a). Labels within navigation systems yaitu label yang merupakan bagian dari navigasi yang ada pada sebuah website. Sebagai contoh label ini; home, Sind, contact us, FAQ, news, about us, dsb. b). Labels as indexing terms Label ini banyak digunakan sebagai istilah pengindeksan untuk mengklasiSikasikan isi situs besar. Label ini bekerja dalam dua cara yaitu meningkatkan peluang dokumen untuk diambil oleh sistem pencarian, dan mendukung penjelajahan dalam sebuah situs. Label ini umunya merupakan beberapa keyword yang masih ada hubungannya. Misalnya keywords; heart, liver, kidney, lung, transplantation. Label ini disediakan sebagai sarana tambahan di mana pengguna mungkin membutuhkan informasi tambahan. c). Link labels Link labels merupakan potongan informasi sebagai tautan tekstual yang ada di dalam tubuh teks. Link label berbeda dengan ad hoc navigation yang dijelaskan sebelumnya karena link label secara alami digunakan dalam konteks deskriptif teks disekitarnya sehingga link label lebih Sleksibel. d). Labels as heading Label as heading merupakan label yang mewakili informasi dari informasi berikutnya. Terdapat tekanan (misalnya: teks lebih tebal) pada label ini, karena selain memperjelas pengguna namun juga menarik perhatian pengguna. e). Iconic labeling systems Iconic labeling systems merupakan label yang ditampilkan dalam bentuk gambar. Label ini dapat merepresentasikan sebuah informasi ataupun berfungsi sebagai tautan ke halaman lain. d. Searching Systems Searching systems merupakan fasilitas yang disediakan pada website dan berguna bagi pengguna untuk melakukan pencarian atau penelusuran kebutuhan informasinya. Tantangan penyediaan fasilitas ini adalah kebutuhan pengguna yang sangat bervariatif. Sebagai contoh, salah satu pengguna bisa saja menginginkan jenis informasi yang banyak dan variatif, sedangkan pengguna lain menginginkan jenis informasi yang akurat, terperinci, dan berkualitas. Terdapat 4 interface searching system yang mendukung pencarian oleh pengguna. Berikut penjelesannya. a). Fielded searching Fielded searching merupakan fasilitas pencarian yang berdasarkan kelompok kata-kata tertentu. Fielded searching misalnya dapat dibuat dalam bentuk radio button seperti; penulis, kata kunci, Judul, subjek ilmu pengetahuan dsb. b). Familiar query language Familiar query language merupakan fasilitas pencarian yang memungkinkan pengguna menemukan informasi ketika memasukkan berbagai varian kata kunci. Misalnya informasi “date”, pengguna dapat menemukannya meskipun hanya memasukkan kata kunci ddt, dst. c). Longer queries Longer queries merupakan fasilitas pencarian berbasis entri baris tunggal berdasarkan subjek atau kata tertentu. Misalnya fasilitas pencarian yang tersedia tidak hanya penulis saja melainkan bisa juga dilengkapi dengan “topik” dan “tahun” sehingga hasil pencarian lebih eSisien. d). Reusable result sets Reusable results sets merupakan fasilitas pencarian yang mendukung banyak jenis pencarian yang berbeda. Sebagai contoh menggabungkan dua set pencarian kedalam interface yang sama. Kedua set pencarian ini d a p a t m em b a n t u ke ti k a p e n g g u n a melakukan dua pencarian yang berbeda saat bersamaan tanpa keluar dari interface pencarian. 3. Pentingnya Arsitektur Informasi Menurut Spencer (2010, h.5) mengatakan bahwa arsitektur informasi selalu penting yaitu ketika bagaimana berbagai hal dikelompokkan dan diberi label secara langsung dapat mempengaruhi kemudahan penggunaanya. Semakin banyak informasi yang ada, semakin sulit untuk menyaring dan temukan apa yang pengguna butuhkan. Arsitektur informasi yang baik dapat membantu pengguna menemukan jalan mereka melalui informasi, dan mengabaikan apa yang tidak relevan. Arsitektur informasi yang baik lebih sekedar membantu pengguna menemukan kebutuhan informasinya yaitu dapat memberdayakan pengguna untuk belajar membuat keputusan yang lebih baik. Sellmer (2017) mengatakan arsitektur informasi penting agar pengguna dapat menemukan, memahami dan berinteraksi dengan informasi itu. Selain itu juga IA memecahkan banyak masalah berbeda yang ditemukan di lingkungan digital. Sementara Rosenfeld, et al (2015) mengatakan arsitektur informasi mencoba memperbaiki dua masalah di dunia digital yaitu informasi yang berlebihan dan cara menyajikannya konsistensi informasi di seluruh perangkat/platform. IA mencoba untuk memecahkan informasi yang berlebihan dengan mengatur dan menyusun informasi sehingga tidak membanjiri pengguna. Selanjutnya Menurut Wodtke dan Govella (2009) arsitektur informasi penting untuk meningkatkan tiga karakteristik di situs web diantaranya; kemampuan menemukan, kegunaan, dan mudah dipahami. Dari berbagai pendapat diatas terdapat kesamaan bahwa arsitektur informasi penting untuk memudahkan pengguna a tau user memenuhi kebutuhan informasinya. 4. Digital library Digital library perguruan tinggi mempunyai peran penting dalam mengolah, mengarsipkan dan mempublikasikan ilmu pengetahuan dan karya ilmiah. Perpustakaan menjadi pusat informasi dan sumber pengetahuan bagi para penggunanya. Oleh karena itu perpustakaan harus mampu memenuhi kebutuhan informasi pemustakanya. Kebutuhan penelusuran informasi yang semakin banyak mengharuskan perpustakaan untuk dapat menyajikan informasi serba cepat dan mudah. Digital library merupakan pilihan tepat bagi perpustakan untuk memenuhi kebutuhan penelusuran informasi secara lebih cepat dan mudah. Digital Library Federation di Amerika Serikat (dikutip dari Pendit 2007, h.20) mendeSinisikan “Digital Libraries are organizations that provide the resources, including the specialized staff, to select, structure, offer intelectual access to, interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence over time of collections of digital works so that they are readily and economically available for use by a de\ined community or set of communities.” Menurut Cleveland (1998) digital library idealnya memberikan pandangan yang koheren dari semua informasi yang terkandung dalam sebuah perpustakaan, tidak apapun bentuk dan formatnya. Sumber daya yang didukung dalam arsitektur digital library seperti; database bibliograSi, indeks, koleksi dari sumber daya internet, direktori, berbagai koleksi format digital, foto, set data numerik, dan jurnal elektronik.
Method
Penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Kegiatan penelitian yaitu dimulai dengan mengumpulkan kajian pustaka berupa buku yang untuk mencari teori tentang arsitektur informasi. Kemudian untuk melengkapi literatur serta kebaruan tentang arsitektur informasi dilakukan pengumpulan artikel dengan topik yang relevan. Sampel penelitian adalah 4 digital library perguruan tinggi yang dinilai mempunyai kualitas baik. Dikarenakan belum adanya badan atau instansi resmi yang membuat rangking digital library perguruan tinggi di dunia, maka pemilihan sampel ini mengambil dari sumber www.botw.org di mana dalam website tersebut terdapat beberapa top digital library yang terdiri atas beberapa digital library negara dan beberapa digital library perguruan tinggi dunia. Lalu digital library yang dipilih menjadi sampel diantaranya; Cambridge Digital Library (https:// cudl.lib.cam.ac.uk), Villanova University (https:// digital.library.villanova.edu/), University of Pittsburgh Digital Collection (https://digital.library.pitt.edu/), dan Tuft Digital Library (https://dl.tufts.edu/). 4 digital library perguruan tinggi ini akan diamati user interface nya.
Result & Discussion
ini merupakan hasil dan pembahasan keempat digital library. a) Cambridge Digital Library Halaman utama cambridge digital library mempunyai 6 menu diantaranya; home, browse, search, my library, about, dan help. Terdapat 14 user interface yang menjadi objek pengamatan. Tabel 1 dibawah ini menunjukkan deskripsi user interface berdasarkan arsitektur informasi pada Cambridge digital library. Tabel 1. User Interface Cambridge Digital Library Interface Deskripsi 1.1 home atas Labeling system: Ukuran font “Cambridge Digital Library” lebih besar dibandingkan ukuran font lainnya sehingga tulisan ini merupakan label system dengan tipe label as heading. Selain itu gambar yang ditampilkan merupakan beberapa koleksi yang dimiliki oleh cambridge digital library. Setiap gambar ini memiliki tautan link ke halaman lain yang berkaitan langsung dengan koleksi tersebut. Gambar tersebut merupakan label system dengan tipe iconic labeling systems 1.2 home bawah Organization Information: Keempat konten yang terdiri atas (icon, judul, dan tanda ‘>’) merupakan organisasi informasi dalam “collection” namun tampilannya tidak termasuk kedalam jenis organization schemes ataupun jenis organization structure. Dengan kata lain penataan link konten ini tidak menerapkan arsitektur informasi Navigation system: Keenam contoh objek icon ini disebelah kanan bawah terdapat tanda “>” yang berfungsi untuk mengantar pengguna menelusuri informasi ke hirarki selanjutnya sehingga objek ini merupakan navigation systems dengan tipe Hierarchical Navigation Systems. 2. browse Organization Information: Kedua konten ini merupakan organisasi informasi dari “browse our collection” dan diurutkan berdasarkan abjad sehingga termasuk dalam kategori exact organization schemes alphabetical. Navigation system: “Read more” berfungsi untuk menelusuri informasi berikutnya atau selengkapnya sehingga “Readmore merupakan navigasi dengan kategori hierarchical navigation systems. 2.1 browse-collection Organization Information: Ketiga konten yang terdiri atas (poultry notebooks, dead book, dan rabbit notebook) merupakan organisasi informasi yang dihimpun didalam “Bateson-punnet notebooks”. Ketiga konten ini tidak termasuk kedalam jenis organization schemes ataupun jenis organization structure. Dengan kata lain penataan link konten ini tidak menerapkan arsitektur informasi Organization Information: Kedua konten yang terdiri atas (poultry breeding notebook “98” dan poultry breeding notebook “99”) diurutkan berdasarkan kronologi yaitu tahun tertua. Dengan demikian kedua konten ini termasuk kedalam organisasi informasi dengan kategori exact organization schemes cronoligical 3. search Organization Information: “Simple search” dan “advanced searched” merupakan organisasi informasi dari “search” yang disusun berdasarkan level kesulitan pencarian sehingga termasuk dalam organization structure hierarchy. 3.1 simple search Search systems: Pencarian ini memungkinkan pengguna menemukan informasi ketika memasukkan berbagai varian kata kunci sehingga pencarian ini merupakan search systems kategori familiar query language. 3.2 advanced search Search systems: advanced search ini termasuk pada kategori longer queries di mana fasilitas pencarian ini berbasis entri baris tunggal berdasarkan subjek atau kata tertentu. 4. my library Organization Information: Pada menu “my library” terdapat “How do I add bookmark?” Langkah-langkah ini merupakan organisasi informasi dengan tipe ambiguous organization schemes task oriented. 5. about Organization Information: Keempat konten yang terdiri atas (introduction the cambridge digital library, news,contributors, dan term and conditions ) merupakan organisasi informasi yang dihimpun didalam “About”. Ketiga konten ini tidak termasuk kedalam jenis organization schemes ataupun jenis organization structure. Dengan kata lain penataan link konten ini tidak menerapkan arsitektur informasi 5.1 about-introduction Organization Information: Pada “introducing the Cambridge digital library” konten (“our mission, vision & values” dan “our story so far”) diurutkan berdasarkan sesuai abjad sehingga termasuk dalam kategori exact organization schemes alphabetical. Selanjutnya konten (access, collaboration, engagement, dan innovation) yang berada didalam “our mission, vision & value” juga diurutkan berdasarkan abjad sehingga juga termasuk dalam kategori exact organization schemes alphabetical. 5.2 about-news Organization Information: Latest update pada news ditampilkan berdasarkan kebaruan berita sehingga organisasi informasi ini termasuk dalam kategori exact organization schemes cronoligical. Labeling systems: Gambar yang ditampilkan merupakan tampilan gambar news, di mana pada setiap gambar ini memiliki tautan link ke halaman lain yang berkaitan langsung dengan berita tersebut. Gambar tersebut merupakan label system dengan tipe Iconic Labeling Systems. 5.3 about-contributors Organization Information: Didalam “funder” konten yang terdiri atas (The Polosky Foundation dan Jisc) merupakan bagian dari organisasi informasi “Founders”. Tampilan konten ini tidak termasuk kedalam jenis organization schemes ataupun jenis organization structure sehingga penataan konten ini tidak menggunakan arsitektur informasi. Selanjutnya konten dibawahnya yang meliputi (BatesonPunnett Notebooks, Board of Longitude Collection, Cairo Genizah Collection, dan Cambridge University Archives) disusun berdasarkan abjad sehingga organisasi informasi ini termasuk dalam tipe penataan exact organization schemes alphabetical. 5.4 about-term & conditions Organization Information: Didalam “Term & Conditions” konten tidak termasuk kedalam jenis organization schemes ataupun jenis organization structure sehingga penataan konten ini tidak menggunakan arsitektur informasi. 6. help Organization Information: Didalam “help” ditampilkan berbagai pertanyaan yang memungkinkan pengguna mengalami kesulitan dan memerlukan bantuan. Tampilan ini termasuk dalam organisasi informasi dengan tipe ambiguous organization schemes task oriented. Dari hasil deskripsi pada tabel 1 diatas, Cambridge Digital Library telah menerapkan keempat komponen arsitektur informasi yang meliputi organization information, navigation systems, labelling system, dan searching systems. Meskipun demikian untuk organization information masih belum sepenuhnya diterapkan dengan baik pada digital library ini. Hal ini ditunjukkan bahwa dari 12 item objek yang diidentiSikasi sebagai organization information, terdapat 4 objek yang tidak memenuhi kriteria dari salah satu tipe organization information tersebut. b) Villanova University Digital Library Pada halaman utama Villanova Digital Library, tidak semua menu ditampilkan secara ekspisit sehingga untuk mengunjungi halaman lainnya pengguna perlu memperhatikan link yang tersedia. Terdapat 8 user interface yang menjadi objek pengamatan. Tabel 2 dibawah ini menunjukkan deskripsi arsitektur informasi pada tampilan digital library. Tabel 2. User Interface Villanova University Digital Library 5.4 about-term & conditions Organization Information: Didalam “Term & Conditions” konten tidak termasuk kedalam jenis organization schemes ataupun jenis organization structure sehingga penataan konten ini tidak menggunakan arsitektur informasi. 6. help Organization Information: Didalam “help” ditampilkan berbagai pertanyaan yang memungkinkan pengguna mengalami kesulitan dan memerlukan bantuan. Tampilan ini termasuk dalam organisasi informasi dengan tipe ambiguous organization schemes task oriented. Interface Deskripsi 1.1 home atas Labeling system: Tampilan “falvey home” dan “Digital Library berfungsi sebagai label sekaligus navigasi sehingga tipe ini merupakan tipe labels within navigation systems. Demikian juga tampilan “Sind” merupakan labels within navigation systems. Selain itu gambar yang ditampilkan merupakan beberapa koleksi yang dimiliki oleh villanova digital library. Setiap gambar ini memiliki tautan link ke halaman lain yang berkaitan langsung dengan koleksi tersebut. Gambar tersebut merupakan label system dengan tipe iconic labeling systems Navigation System: Tampilan “browse all digital collection” berfungsi untuk meneruskan penelusuran informasi tentang koleksi digital sehingga tampilan tersebut termasuk kedalam “hierarchical navigations system” 1.2 home bawah Label systems: Pada “about the collection” dan “contributions” terdapat potongan informasi yang berfungsi sebagai tautan tekstual yang ada di dalam tubuh teks (font berwarna biru) sehingga label tersebut merupakan tipe label link. Organization Information: Pada “News & Update” konten disusun berdasarkan kebaruan update konten sehingga organisasi informasi ini termasuk dalam exact organization schemes cronoligical. 2. collection item Organization Information: Tampilan koleksi dapat diubah susunannya sesuai kebiutuhan pengguna. Pilihan “sequential order”, “title” dan “author” disusun berdasarkan abjad sehingga organisasi informasi ini termasuk dalam tipe exact organization schemes alphabetical. Selanjutnya Pilihan “date ascending” dan “descending” merupakan organisasi informasi kategori organization schemes cronological 3. about Organization Information: Pada menu “about” terdapat beberapa bagian yang secara runtut memberikan informasi kepada pengguna. Penyusunan informasi ini merupakan organisasi informasi tipe ambiguous organization schemes task oriented. Label systems: Informasi tersebut apabila di “klik” akan menunjukkan kelengkapan informasi tersebut sehingga informasi ini disusun dengan tipe labels within navigation systems. 4. new item Labeling systems: Pada “\ind” apabila di “klik” maka akan ditemukan item atau informasi baru sesuai pilihan yang dipilih pengguna. Label “Sind” temasuk dalam jenis labels within navigation systems. 4.1 new item-show Organization Information: Pada tampilan “new item” konten disusun mulai usia publikasi paling tua sehingga organisasi informasi ini termasuk dalam exact organization schemes cronoligical. Label systems: Konten tulisan yang berwarna biru apabila di “klik” maka akan mengantar dan menunjukkan pengguna ke bagian yang bersangkutan sehingga tulisan ini merupakan labels within navigation systems. 5.1 simple search Search systems: Pencarian menyediakan pilihan beberapa kata tertentu seperti “title”, “author”, dan “subject” termasuk dalam searh system jenis \ielded searching. Selanjutnya untuk “all Sields” memungkinkan pengguna menemukan informasi ketika memasukkan berbagai varian kata kunci sehingga pencarian ini merupakan search systems jenis familiar query language. 5.2 advanced search Search systems: Pencarian pada advanced search ini termasuk pada kategori \ielded searching di mana pada pencarian ini telah disediakan opsi kata tertentu untuk melakukan pencarian seperti “title”, “language”, dan“format” dsb. Dari hasil deskripsi pada tabel 2 di atas, Villanova University Digital Library telah menerapkan tiga komponen arsitektur informasi yang meliputi organization information, labelling system, dan searching systems. Dalam hal ini navigation systems tidak diterapkan pada digital library ini. Meskipun demikian ketiga komponen arsitektur informasi tersebut sudah baik diterapkan c) University of Pittsburgh Digital Collection Pada halaman utama University of Pittsburgh Digital Collection mempunyai 5 menu utama yaitu; home, collection, exhibits, partners, dan about. Terdapat 7 user interface yang menjadi objek pengamatan. Tabel 3 dibawah ini menunjukkan deskripsi arsitektur informasi pada University of Pittsburgh Digital Collection. Tabel 3. User Interface University of Pittsburgh Digital Collection Interface Deskripsi 1. home Labeling system: Ukuran font “ULS Digital Collections” lebih besar dibandingkan ukuran font lainnya sehingga tulisan ini merupakan label system dengan tipe label as heading. Organizing information: Pada halaman home bawah ditampilkan beberapa link koleksi yang paling popular seperti “historic pittsburgh”, “documenting pitt”, dsb. Tidak ada penjelasan mengenai pengurutan tampilan ini. Tampilan link ini juga bukan merupakan termasuk dalam tampilan jenis organization schemes ataupun jenis organization structure. Oleh karena itu penataan link konten ini tidak menerapkan arsitektur informasi Pada halaman ini juga ditampilkan fasilitas pencarian yang dilengkapi dengan simple dan advanced search. Penjelasan simple dan advanced akan dijelaskan khusus pada searching systems. 2. collection Organizing information: Koleksi pada digital library ini ditampilkan berdasarkan abjad sehingga organisasi informasi ini termasuk dalam organisasi informasi tipe penataan exact organization schemes alphabetical. 3. exhibits Organizing information: Exhibits pada digital library ini ditampilkan berdasarkan abjad sehingga organisasi informasi ini juga termasuk dalam organisasi informasi tipe penataan exact organization schemes alphabetical Label systems: Apabila pada salah satu label konten di “klik” maka pengunjung akan diantar dan ditunjukkan ke tautan yang bersangkutan sehingga label konten ini merupakan labels within navigation systems. 4. partners Label systems: Terdapat beberapa kata atau kalimat berwarna biru yang ditulis pada “partners”. Kata atau kalimat ini merupakan link untuk tautan tertentu sehingga hal ini termasuk dalam label system dengan link label. Selanjutnya gambar tersebut apabila di “klik” dapat mengantar pengguna pada tautan yang bersangkutan. Icon ini merupakan label system dengan kategori iconic labeling systems. 5. about Label systems: Kata berwarna biru yang ditulis pada “about” merupakan link untuk tautan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa kata berwarna biru merupakan label system dengan tipe link label. 6.1 simple search Search systems: Pencarian ini memungkinkan pengguna menemukan informasi ketika memasukkan berbagai varian kata kunci sehingga pencarian ini merupakan search systems kategori familiar query language. 6.2 advanced search Search systems: Pencarian pada advanced search ini termasuk pada kategori \ielded searching di mana pada pencarian ini telah disediakan beberapa opsi kata tertentu untuk melakukan pencarian seperti “title”, “subject”, dan“date” dsb. Dari hasil deskripsi pada tabel 3 diatas, University of Pittsburgh Digital Collection telah menerapkan tiga komponen arsitektur informasi yang meliputi organization information, labelling system, dan searching systems. Dalam hal ini navigation systems juga tidak diterapkan pada digital library ini. Selanjutnya untuk organization informasi masih belum sepenuhnya diterapkan dengan baik pada digital library ini. Hal ini ditunjukkan bahwa dari 3 item objek yang diidentiSikasi sebagai organization information, terdapat 1 objek yang tidak memenuhi kriteria dari salah satu tipe organization information. d). Tuft Digital Library Tuft Digital Library mempunyai 4 menu utama yaitu; home, search, about, dan contact. Terdapat 5 user interface yang menjadi objek pengamatan Tabel 4 di bawah ini menunjukkan deskripsi arsitektur informasi pada Tuft Digital Library. Tabel 4. User Interface Tuft Digital Library Interface Deskripsi 1. home Labeling system: Ukuran font “Tufts Digital Library” lebih besar dibandingkan ukuran font lainnya. Hal ini memberikan sebuah penekanan tentang halaman instansi digital library sehingga tulisan ini merupakan label system dengan tipe label as heading. Label System: Setiap gambar ini memiliki tautan link ke halaman lain yang berkaitan langsung dengan koleksi tertentu. Gambar tersebut merupakan label system dengan tipe iconic labeling systems. Pada sebelah kiri ditampilkan format koleksi digital library seperti; images, dataset, text, dsb. Penjelasan ini akan dibahas secara khusus pada “search”. Demikian juga di sebelah kanan terdapat fasilitas pencarian yang akan dibahas pada “search” 2. about Organizational Information: Pada “about” terdapat 3 link konten yaitu; about us, contact DCA, dan privacy policy. Ketiga konten ini diurutkan berdasarkan abjad sehingga termasuk kedalam organisasi informasi kategori exact organization schemes alphabetical. Selanjutnya pada “featured exhibits and collections” terdapat 7 link konten yang tidak diurutkan berdasarkan abjad oleh karena itu 7 link konten tersebut tidak menerapkan arsitektur informasi. Label system: Beberapa link-link yang terdapat di bawah (“about”, “featured exhibits and collections”, dan help) apabila di “klik” akan menunjukkan kelengkapan informasi yang bersangkutan. Link-link ini merupakan label systems dengan tipe labels within navigation systems. 3. contact Label system: Pada konten “contact DCA” terdapat kata atau kalimat yang ditulis dengan warna biru. Kata atau kalimat ini merupakan tautan tekstual yang ada di dalam tubuh teks sehingga label tersebut merupakan tipe label link. 4.1 basic search Search systems: Pencarian menyediakan pilihan beberapa kata tertentu seperti “title”, “author”, dan “subject” termasuk dalam searh system jenis \ielded searching. 4.2 advanced search Search systems: advanced search ini termasuk pada kategori longer queries di mana fasilitas pencarian ini berbasis entri baris tunggal berdasarkan subjek atau kata tertentu misalnya keyword, title, author, dsb. Organizational Informaton: Pada “format” terdapat beberapa jenis format seperti; images, datasets, text, dsb. Konten ini disusun berdasarkan urutan paling banyak jumlah koleksi. Penataan konten seperti ini termasuk kedalam organisasi inforamasi tipe organization structure hierarchy Dari hasil deskripsi pada tabel 4 diatas, Tuft Digital Library telah menerapkan tiga komponen arsitektur informasi yang meliputi organization information, labelling system, dan searching systems. Dalam hal ini navigation systems juga tidak diterapkan pada digital library ini. Kemudian untuk organization informasi juga masih belum sepenuhnya diterapkan dengan baik pada digital library ini. Hal ini ditunjukkan bahwa dari 2 item objek yang diidentiSikasi sebagai organization information, terdapat 1 objek yang tidak memenuhi kriteria dari salah satu tipe organization information. Hasil temuan diatas dapat dirangkum menjadi 4 yaitu; 1. Dari keempat digital library yang diamati terdapat satu digital library yang sudah menerapkan keempat komponen arsitektur informasi. Dalam hal ini digital library yang dimaksud adalah Cambridge digital library. 2. Meskipun Cambridge digital library telah menerapkan keempat komponen arsitektur informasi, masih terdapat satu komponen arsitektur informasi yang belum diterapkan dengan baik. Dalam hal ini komponen yang dimaksud yaitu organization information. 3. Villanova University Digital Library, University of Pittsburgh Digital Collection, dan Tuft Digital Library hanya menerapkan 3 arsitektur informasi saja yaitu diantaranya organization information, labelling system, dan searching systems. 4. Organization information merupakan salah satu komponen arsitektur informasi yang tidak diterapkan dengan baik oleh mayoritas digital library.
Conclusion
Dari 4 digital library yang dijadikan sebagai objek pengamatan, tidak ada satu pun digital library yang menerapkan arsitektur informasi secara penuh dan baik. Organisasi informasi adalah komponen yang masih seringkali ditemukan kekurangannya misalnya sebuah konten tidak teratur karena tidak ditampilkan sesuai abjad atau tidak termasuk dalam kategori exact organization schemes alphabetical. Sebagai saran, perpustakaan perlu kembali mengevaluasi arsitektur informasi masing-masing digital library nya terkait dengan keempat komponen arsitektur informasi. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu mengkaji arsitektur informasi sebuah digital library secara lebih detail dan mendalam. Arsitektur informasi juga memperhatikan aspek pengguna sehingga perlu juga dilakukan sebuah kajian tentang manfaat arsitektur informasi digital library ditinjau dari perilaku pencarian informasi.