DIGITAL DIVIDE: STRATEGI PERPUSTAKAAN SEKOLAH MENGHADAPI ERA SOCIETY 5.0 DI MASA PANDEMI COVID 19
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam mengatasi kesenjangan digital dan menjadi prioritas utama dalam menghadapi era society 5.0. Perkembangan TIK ini dipacu oleh kondisi pandemi COVID 19 yang mewabah di seluruh dunia. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metode kualtiatif dengan mengumpulkan data wawancara melalui 6 orang informan. Hasil penelitian menyatakan bahwa perpustakaan sekolah sudah mengambil langkah-langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka dalam menghadapi era society 5.0 dan pandemi COVID 19 yang melanda Indonesia. Mulai dari menyediakan infrastuktur untuk mengatasi kesenjangan akses digital, sampai pada memberikan pelatihan dalam menelusur informasi secara daring untuk mengurangi kesenjangan kemampuan digital siswa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perpustakaan sekolah memiliki kewajiban untuk meminimalisir terjadinya kesenjangan digital dalam menghadapi era society 5.0 dan pandemi COVID 19.
Abstract
The purpose of this research is to determine the development of information and communication technology in overcoming the digital divide and become a top priority in facing the era of society 5.0. The development of ICT was spurred by the COVID-19 pandemic that is endemic throughout the world. The research methodology used is a qualitative method by collecting interview data through 6 informants. The results of the study stated that the school library had taken strategic steps to meet the information needs of users in the face of the era of society 5.0 and the COVID-19 pandemic that hit in Indonesia. Starting from providing infrastructure to overcome the digital access devide, to providing training in searching for information online to reduce the students' digital capability divide. The conclusion of this study is that school libraries have an obligation to minimize the digital divide in facing the era of society 5.0 and the COVID-19 pandemic.
Keywords:
Digital Divide
· Digital Access Divide
· Digital Capability Divide
· Era Society 5.0
· COVID 19
· School Library
Introduction
Peradaban manusia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini dipengaruhi oleh kreatifitas manusia dalam memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) (Sima dkk., 2020). Selain itu, dunia yang saat ini mengalami pandemi COVID 19 juga dengan cepat mengubah peradaban manusia. Saat ini peradaban manusia telah memasuki era society 5.0 (Sarfraz, 2021). Setiap sisi kehidupan manusia harus menyesuaikan diri terhadap kondisi pandemi ini, begitu juga dengan metode belajar mengajar di sekolah. Berdasarkan SKB 4 Menteri Republik Indonesia tentang penyelenggaraan pendidikan di masa COVID 19 di Indonesia yang menyatakan bahwa pembelajaran harus dilakukan secara daring/online. Walaupun sudah memasuki era society 5.0, masih terdapat kesenjangan digital antar siswa. Kesenjangan digital muncul disebabkan oleh faktor perkembangan TIK yang belum merata. Selain itu terdapat juga kesenjangan antara kreatifitas dan sinergi manusia dalam memanfaatkan TIK (Sarfraz, 2021). Di Indonesia sendiri, kesenjangan digital antar siswa terjadi karena berbagai perbedaan, seperti perbedaan sosial ekonomi, dan lokasi geografis. Kesenjangan digital dikategorikan menjadi 2 bagian, yaitu kesenjangan akses digital dan kesenjangan kemampuan digital (Vimalkumar dkk., 2020). Bagaimana strategi perpustakaan sekolah sebagai penyedia informasi dalam menghadapi kedua kategori kesenjangan digital tersebut diatas sehingga Indonesia bisa menghadapi era society 5.0 di masa pandemi COVID 19 ini?
Method
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Jenis penelitian menggunakan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara terhadap beberapa kepala perpustakaan dan pustakawan sekolah serta melakukan studi pustaka terhadap dokumen-dokumen yang berhubungan dengan penelitian. Informan untuk penelitian ini adalah pustakawan yang bekerja di perpustakaan sekolah, baik negeri maupun swasta. Wawancara dilakukan pada tanggal 20-25 Agustus 2021 kepada 6 orang informan. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Setelah melakukan pengumpulan data melalui proses wawancara dan studi pustaka, kemudian data direkduksi, selanjutnya dilakukan penyajian data, dan terakhir dilakukan interpretasi data.
Result & Discussion
Era society 5.0 ini identik dengan era keterbukaan informasi yang bermanfaat untuk kehidupan manusia sehari-hari. Pada era ini perkembangan informasi terjadi secara cepat dan tidak bisa dibendung. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh negara-negara maju. Mereka menggandakan, mengeksploitasi, dan menyebarluaskan informasi ke seluruh dunia. Dengan menguasai informasi menjadi lebih maju, sedangkan yang tidak menguasai informasi akan tersisihkan. (Strover, 2019) Pemustaka bisa memanfaatkan infrastruktur yang sudah disediakan oleh perpustakaan sekolah dalam mengakses informasi, seperti perangkat komputer dan akses internet terhadap perangkat tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Koordinator Perpustakaan Sekolah Athalia di Serpong, Tangerang Selatan bahwa: “Lengkap. Komputer dan WIFI.” (Hana Kristina Purba, selaku Koordinator Perpustakaan Sekolah Athalia Serpong, pada 21 Agustus 2021) Akbar dari Perpustakaan Mondial Batam juga menyatakan bahwa: “Di perpustakaan kami tersedia 4 komputer yang udah dilengkapi dengan fasilitas internet.” (Nurul Hanura Akbar, selaku Pustakawan Perpustakaan Sekolah Mondial Batam, pada 21 Agustus 2021) Luckty sebagai Pustakawan Ahli Pertama di Perpustakaan SMA N 2 Metro Lampung juga menyatakan hal yang sama: “Memiliki komputer untuk pelayanan dan pengolahan yang masih menyatu. Tersedia wifi yang bisa diakses secara umum. Dan CCTV sebagai upaya pengamanan situasi perpustakaan. Serta scan barcode dan printer sebagai pendukung dalam pelayanan maupun pengolahan.” (Luckty Giyan Sukarno, selaku Pustakawan Ahli Pertama Perpustakaan SMA N 2 Metro Lampung, pada tanggal 21 Agustus 2021). Perpustakaan SMA N 1 Suliki 50 Kota juga sudah memiliki infrastruktur TIK yang lengkap. Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Edo berikut ini: “... Kelengkapan internet di Perpustakaan SMA N 1 Kecamatan Suliki sudah lengkap karena komputernya sudah terpasang 20 buah dengan tablet 36 buah untuk pemustaka dan kecepatan internet 40 mbps.” (Ronaldo Asril, selaku Teknisi dan Pegawai Perpustakaan SMA N 1 Suliki 50 Kota, pada tanggal 21 Agustus 2021). Hasil wawancara di atas sesuai dengan pernyataan Lediga. Bagi perpustakaan sekolah sendiri, hadirnya TIK disatu sisi menimbulkan kekhawatiran terhadap eksistensi perpustakaan sekolah karena siswa lebih mudah mengakses informasi dari komputer masing-masing di rumah. Tetapi disisi lain, perpustakaan sekolah tetap akan selalu eksis walaupun pemustaka digempur oleh TIK karena perpustakaan sekolah bisa mengadopsi teknologi ke dalam pelayanan mereka. Untuk meminimalisir kesenjangan akses digital, perpustakaan dapat menyediakan komputer dan akses internet gratis bagi pemustaka. Hal ini bisa menjangkau pemustaka yang kurang beruntung secara digital. (Lediga, 2018) Mengenai bantuan pemerintah selama pandemi ini, disampaikan oleh pustakawan di Perpustakaan SMA N 2 Metro Lampung bahwa: “Sudah beberapa gelombang, siswa yang terdaftar di dapodik mendapatkan bantuan paket (data) dari pemerintah selama pandemi ini.” (Luckty Giyan Sukarno, selaku Pustakawan Ahli Pertama Perpustakaan SMA N 2 Metro Lampung, pada tanggal 21 Agustus 2021). Siswa dan Guru SMA N 1 Suliki 50 Kota juga memperoleh kuota internet gratis, selain itu sumbangan pembinaan pendidikan juga dikurangi, seperti yang dijelaskan berikut ini: “ada, misalkan untuk pembelajaran daring, pemerintah telah memberikan kuota gratis untuk pengajar dan peserta didik, untuk biaya SPP pun dikurangi.” (Ronaldo Asril, selaku Teknisi dan Pegawai Perpustakaan SMA N 1 Suliki 50 Kota, pada tanggal 21 Agustus 2021) Andre dari SMA N 3 Padang juga menyatakan bahwa pemerintah juga memberikan kuota internet gratis untuk para siswa: “Memberikan kuota internet gratis.” (Andre Eka Putra, selaku Pustakawan Perpustakaan SMA N 3 Padang) Hal ini sebelumnya diungkapkan oleh Fakhlina bahwa untuk membantu pemustaka belajar dan menelusur secara daring dengan perangkat komputer dan telepon genggam pribadi, perpustakaan sekolah maupun sekolah itu sendiri dan dinas terkait bisa membantu menyediakan paket data gratis untuk siswa (Fakhlina, 2020). Seperti yang terjadi di beberapa sekolah negeri. Selain itu, sekolah swasta menyikapi dengan melakukan pengurangan biaya sumbangan pembinaan pendidikan atau yang lebih dikenal dengan akronim SPP, sehingga biaya SPP yang dikurangi tersebut bisa dialihkan oleh siswa untuk membeli kuota internet. Seperti yang terjadi pada Sekolah Athalia Serpong dan Sekolah Mondial Batam: “Ya.. pengurangan biaya SPP.” (Hana Kristina Purba, selaku Koordinator Perpustakaan Sekolah Athalia Serpong, pada 21 Agustus 2021) Begitu juga dengan Sekolah Mondial Batam yang melakukan pengurangan biaya SPP siswa, disampaikan oleh Akbar bahwa: “Dari segi SPP, ada pemotongan harga dari sekolah.” (Nurul Hanura Akbar, selaku Pustakawan Perpustakaan Sekolah Mondial Batam, pada 21 Agustus 2021) Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lediga bahwa perpustakaan sekolah juga bisa mengembangkan pengkatalogan digital, koleksi digital, dan nanti akan berkembang menjadi perpustakaan digital. Sehingga pemustaka menjadikan perpustakaan sebagai rujukan penting dalam menelusur informasi di internet. Dengan adanya kemajuan TIK, setiap individu dapat mengikuti, mengetahui, dan menyaksikan berbagai peristiwa yang sedang berlangsung di belahan dunia lain dalam waktu yang hampir bersamaan dengan berlangsungnya suatu kejadian. (Lediga, 2018) Perpustakaan Sekolah Athalia Serpong memiliki beberapa jenis layanan yang dapat dimanfaatkan oleh pemustaka, diantaranya adalah : Layanan sirkulasi, baca buku, referensi, BI Corner, ebook dan internet. Selain layanan perpustakaan, perpustakan juga memiliki berbagai macam jenis koleksi buku tercetak, e-book, multimedia, koran dan juga majalah (http://sekolahathalia.sch.id/perpustakaan/). Dimasa Pandemi COVID 19 ini Perpustakaan Sekolah Athalia fokus memberikan pelayanan melalui ebook dan mengirimkan buku secara manual kepada siswa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hana: “Mengadakan e-book dan delivery buku manual kepada siswa.” (Hana Kristina Purba, selaku Koordinator Perpustakaan Sekolah Athalia Serpong, pada 21 Agustus 2021) Perpustakaan SMA N 5 Padang juga menyediakan bahan pustaka berbasis web dan video pembelajaran serta menghubungkan website perpustakaan sekolah dengan website PNRI dan Kemendikbud: “Menyediakan Pustaka digital berbasis web yg menyediakan bahan ajar yg berbentuk pdf, serta menyediakan video pembelajaran dan menghubungkan website dg Web PNRI, Kemendikbud.” (Ilham Sepriadi, selaku Pustakawan Bag. Layanan TI Perpustakaan SMA N 5 Padang) Perpustakaan SMA N 2 Metro Lampung juga menyediakan ebook untuk buku paket yang sudah disediakan oleh pemerintah: “jika bagi siswa luar daerah yang terkendala untuk datang ke perpustakaan, biasanya akan konfirmasi via wa ke pustakawan untuk dikirimkan pdf buku paket yang sudah disediakan pemerintah. “ (Luckty Giyan Sukarno, selaku Pustakawan Ahli Pertama Perpustakaan SMA N 2 Metro Lampung, pada tanggal 21 Agustus 2021). Walaupun demikian, beberapa perpustakaan tetap melayani peminjaman bahan pustaka secara terbuka, tetapi dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Ada perpustakaan sekolah yang khusus melayani guru dan karyawan sekolah saja secara langsung dimasa pandemi ini, seperti yang terjadi di Perpustakaan Sekolah Mondial Batam: “Selama pandemi siswa melakukan pembelajaran secara daring, sehingga perpustakaan lebih banyak digunakan oleh guru dan karyawan sekolah.” (Nurul Hanura Akbar, selaku Pustakawan Perpustakaan Sekolah Mondial Batam, pada 21 Agustus 2021) Dan ada juga yang tetap melayani peminjaman bahan pustaka berbentuk cetak secara langsung kepada siswa, seperti yang dilakukan oleh Perpustakaan SMA N 2 Metro Lampung berikut ini: “Tetap melayani peminjaman buku secara terbuka dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Pustakawan mengenakan masker. Begitu juga dengan pemustaka yang datang juga mengenakan masker. Di depan pintu masuk perpustakaan, disediakan hand sanitizer, sabun cuci dan juga alat termometer otomatis untuk mendeteksi suhu tubuh bagi siapa saja yang memasuki perpustakaan. Sebelum perpustakaan tutup, disemprot desinfektan yang tersedia di minimarket.... Hanya saja jam pelayanan tidak sama seperti hari biasa sebelum pandemi. Tidak hanya melayani peminjaman dan pengembalian buku, tapi masih melayani pengurusan bebas pustaka bagi siswa yang telah lulus sebagai salah satu syarat pengambilan ijazah.“ (Luckty Giyan Sukarno, selaku Pustakawan Ahli Pertama Perpustakaan SMA N 2 Metro Lampung, pada tanggal 21 Agustus 2021). Perpustakaan SMA N 5 Padang juga melakukan protokol kesehatan yang ketat untuk peminjaman buku paket dan kritik serta saran untuk perpustakaan bisa disampaikan melalui laman web Pustaka. “Pada peminjaman koleksi buku paket per tahun kami sudah menyediakan buku dlm kantong yg sudah dikemas lengkap berdasarkan kebutuhan dr siswa brdsarkan jurusan dan peminatannya, siswa tetap hadir ke sekolah utk mengambilnya dengan sudah diatur berdasarkan jadwal nomor absen mereka, dg menerapkan prokes, utk mengenai kalau ada hal-hal lain, siswa diminta utk mengakses web Pustaka, dan silahkan utk mengisi kotak saran atau utk mengisi form usulan buku yg sudah tersedia di web.” (Ilham Sepriadi, selaku Pustakawan Bag. Layanan TI Perpustakaan SMA N 5 Padang) Selain kesenjangan akses digital, perpustakaan juga bisa menjembatani kesenjangan kemampuan digital. Beberapa Perpustakaan sudah melakukan pelatihan penelusuran informasi kepada pemustaka. Seperti Perpustakaan SMA N 1 Suliki 50 Kota: “Siswa ada diberikan pelatihan tersebut.” (Ronaldo Asril, selaku Teknisi dan Pegawai Perpustakaan SMA N 1 Suliki 50 Kota, pada tanggal 21 Agustus 2021) Hasil wawancara di atas, sesuai dengan hasil penelitian Vimalkumar berikut, bahwa kesenjangan kemampuan digital adalah gap antar individu yang timbul karena perbedaan kemampuan dalam menggunakan dan memanfaatkan infrastruktur TIK secara efektif dan efisien (Vimalkumar, 2020). Kemudian, Hillier juga menyatakan bahwa perpustakaan sekolah bisa memberikan pelatihan dalam melakukan penelusuran informasi kepada pemustaka (Hillier, 2018). Lalu hal yang dilakukan oleh perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan layanan referensi. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Perpustakaan SMA N 2 Metro Lampung: “Layanan peminjaman buku via wa. Update berita perpustakaan maupun sekolah via instagram.“ (Luckty Giyan Sukarno, selaku Pustakawan Ahli Pertama Perpustakaan SMA N 2 Metro Lampung, pada tanggal 21 Agustus 2021) Hal ini sesuai dengan pendapat Van Deursen bahwa perpustakaan memiliki layanan referensi, dimana pustakawan referensi juga bisa diminta bantuan oleh pemustaka untuk menelusur informasi yang mereka butuhkan. (Van Deursen, 2018). Atau perpustakaan juga bisa melayani peminjaman bahan pustaka secara online dan menyebarkan berita perpustakaan melalui sosial media yang mereka miliki. Sedangkan Perpustakaan Sekolah Mondial Batam menyampaikan bahwa: “Perpustakaan tidak mempunyai website khusus, namun tergabung dengan website sekolah. Sekolah kami memiliki sosial media baik dari Instagram, Facebook dan YouTube.” (Nurul Hanura Akbar, selaku Pustakawan Perpustakaan Sekolah Mondial Batam, pada 21 Agustus 2021) Perpustakaan SMA N 5 Padang dan Perpustakaan SMA N 1 Suliki 50 Kota juga memfasilitasi kebutuhan pemustaka melalui online: “OPAC online, Koleksi Digital, Usulan Buku, Daftar Member Secara Online, kotak saran, web sekolah.” (Ilham Sepriadi, selaku Pustakawan Bag. Layanan TI Perpustakaan SMA N 5 Padang) “Saat ini perpustakaan sedang berusaha memenuhi kebutuhan pemustaka dengan maksimal, untuk perkenalan perpustakaan untuk siswa baru kemaren, kami sudah melalui Zoom Meeting, dan untuk pengumuman penting kami melayani dengan WA dan instagram.” (Ronaldo Asril, selaku Teknisi dan Pegawai Perpustakaan SMA N 1 Suliki 50 Kota, pada tanggal 21 Agustus 2021) Selanjutnya Edo juga menyatakan bahwa Perpustakaan SMA N 1 Suliki 50 Kota memberikan layanan informasi dan literasi perpustakaan pada website sekolah dalam sub bagian khusus perpustakaan: “website perpustakaan kami belum punya, namun pada website sekolah ada sub bagian khusus perpustakaan yang memberikan layanan informasi seputar sekolah dan literasi di Perpustakaan SMA N 1 Kecamatan Suliki.” (Ronaldo Asril, selaku Teknisi dan Pegawai Perpustakaan SMA N 1 Suliki 50 Kota, pada tanggal 21 Agustus 2021) Sesuai dengan pernyataan Wijonarko bahwa perpustakaan sebagai penyedia informasi memiliki kesempatan yang banyak untuk menjembatani kesenjangan digital yang timbul di era society 5.0. Peluang untuk memerangi kesenjangan digital di Indonesia sangat besar karena memiliki tiga perpustakaan nasional dan banyak perpustakaan daerah di masing-masing kabupaten dan kotamadya. Selain itu ada juga perpustakaan sekolah dan perpustakaan perguruan tinggi yang juga bisa meminimalisir gap yang timbul pada era 5.0 ini. Karena perpustakaan ada dimana-mana dan mudah ditemukan, seharusnya kesenjangan yang paling mendasar disebabkan oleh daerah perkotaan dan daerah pedesaan dapat diminimalisir dengan baik. (Wijonarko, 2020) Dari wawancara dan studi pustaka yang dilakukan kepada para informan, bisa dikatakan bahwa perpustakaan sekolah sudah mengambil langkah-langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka dalam menghadapi era society 5.0 dan pandemi COVID 19 yang melanda Indonesia. Mulai dari menyediakan infrastuktur untuk akses digital, sampai pada memberikan pelatihan dalam menelusur informasi secara daring untuk mengasah kemampuan digital siswa.
Conclusion
Perpustakaan sekolah sebagai penyedia informasi siswa memiliki peran besar dalam mengatasi kesenjangan digital di era society 5.0 pada masa pandemi COVID 19 ini. Kesenjangan akses digital bisa diatasi perpustakaan sekolah dengan menyediakan infrastruktur TIK untuk pemustaka seperti komputer, internet, katalog digital, koleksi digital, dan perpustakaan digital. Sedangkan untuk mengatasi kesenjangan kemampuan digital dapat diatasi perpustakaan sekolah dengan melakukan pelatihan penelusuran informasi kepada pemustaka dan pustakawan layanan reverensi juga bisa memberikan bantuan dalam menelusur informasi yang dibutuhkan pemustaka.