PERAN REPOSITORI UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Abstrak
Repositori Institusi (IR) telah banyak dimiliki lembaga-lembaga pendidikan tinggi sebagai media pelestarian, penyimpanan, hingga penyebarluasan karya-karya ilmiah. IR juga dikenal sebagai media komunikasi ilmiah para akademisi/ilmuan. Penelitian dengan menggunakan studi kasus ini menggambarkan secara umum peran IR di UIN Alauddin Makassar sejak pertama kali dihadirkan pada akhir tahun 2016 hingga saat ini. Data penelitian diperoleh dari pengalaman dan pengamatan empiris peneliti, kajian literatur, wawancara, serta dokumentasi pendukung lainya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Repositori UIN Alauddin Makassar berperan dalam; preservasi digital, membangun komunikasi ilmiah, menjalin sinergitas perpustakaan dan komunitas fakultas, mendukung proses pembelajaran dan penelitian, dan meningkatkan skil dan layanan perpustakaan. Karena keterbatasan ruang, penelitian ini tidak menggambarkan lebih detil peran-peran yang disebutkan. Penelitian ini berimplikasi pada pengelolaan IR di kampus ini khususnya, dan IR lainnya yang ada di perguruan tinggi lainnya.
Abstract
Institutional Repositories (IR) have been owned by many higher education institutions as a medium for the preservation, storage, and dissemination of scientific works. IR is also known as a scientific communication medium for academics/scientists. This case study describes in general the role of UIN Alauddin Makassar’s IR since it was first launched at the end of 2016 until now. The data were obtained from the experience and empirical observations of the researchers, literature review, interviews, and other supporting documentation. The results showed that the UIN Alauddin Makassar’s IR has been playing roles in; digital preservation, building scientific communication, establishing synergy between libraries and faculty communities, supporting learning and research processes, and improving library skills and services. Due to space limitations, this study does not describe in more detail the roles mentioned. This research has implications for the management of IR at this campus in particular, and other IRs in other universities.
Keywords:
Institutional repository
Introduction
Tersedia dan terbukanya banyak informasi di internet memudahkan siapapun untuk menelusuri, menemukan, mengakses, dan memanfaatkan informasi tersebut. Setiap lembaga, perusahaan, atau organisasi, kini banyak yang telah memiliki sarana informasi daring (online) guna memudahkan dan mempercepat informasi kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Misalnya perpustakaan perguruan tinggi, banyak di antaranya kini telah membangun media-media digital agar konten-konten ilmiah dapat diakses kapan dan di manapun oleh sivitas akademika. Salah satu sarana digital tersebut dikenal dengan istilah repositori institusi. Repositori institusi (institutional repository) atau disingkat dengan IR telah banyak dibangun dan dimiliki di berbagai lembaga di Indonesia, termasuk di perguruan tinggi. Umumnya, IR di sebuah perguruan tinggi merupakan media atau sarana penyimpanan/pelestarian dan diseminasi informasi ilmiah yang telah dihasilkan, baik yang telah diterbitkan ataupun belum diterbitkan oleh institusi tersebut. IR dihadirkan untuk meningkatkan visibilitas dari hasil-hasil temuan ilmiah yang dihasilkan oleh sebuah institusi yang dapat diakses secara terbuka (Kamraninia & Abrizah, 2010). Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, IR yang dijumpai di beberapa perguruan tinggi kini dapat diakses melalui jaringan internet. IR di perguruan tinggi pada umumnya dikelola dan merupakan kewenangan dari perpustakaan dengan melihat tujuan dan fungsi perpustakaan perguruan tinggi sebagaimana yang disebutkan pada Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi (Kepala Perpustakaan Nasional RI, 2017). IR dapat juga dikatakan sebagai perpustakaan digital, karena jika dilihat dari fungsi, kegunaan, dan aksesnya memang terlihat serupa dengan perpustakaan digital, yakni berisi konten digital, dikelola secara online, dan dapat diakses secara luas melalui jaringan internet. Hanya saja, istilah repositori institusi ini sudah begitu familiar di perpustakaan (pustakawan) dan juga di kalangan sivitas akademika. Dengan hadirnya IR di perguruan tinggi maka itu dapat memberikan peran atau dampak yang sangat signifikan terhadap perguruan tinggi tempat di mana IR tersebut berada. Pada akhir tahun 2016, UPT Perpustakaan UIN Alauddin mendapatkan amanah dari pimpinan untuk menyiapkan IR yang dapat digunakan sebagai media pelestarian dan penyebarluasan setiap karya-karya tulis ilmiah yang telah dihasilkan oleh sivitasnya. Sejak amanah itu diberikan, perpustakaan segera menyiapkan rancangan pembangunan IR sekaligus pengembangannya. Perpustakaanlah yang memiliki tanggung jawab dan wewenang terkait dengan research output yang telah dihasilkan oleh seluruh sivitas akademikanya. Maka, tidak berselang lama setelah amanah tersebut diberikan, di akhir tahun ini juga kampus ini akhirnya memiliki IR yang hingga saat ini dapat terus diakses secara daring pada laman https://repositori.uinalauddin.ac.id/. Gambar 1. Citra lokasi pengunjung IR UIN Alauddin di beberapa tempat di Indonesia (Sumber: Google Analytics UPT Perpustakaan UIN Alauddin, diakses Januari 2021) Gambar 2. Statistik jumlah kunjungan ke IR UINAM Januari 2017 – April 2021 (Sumber: Google Analytics UPT Perpustakaan UIN Alauddin) Hadirnya repositori di kampus ini memberikan perubahan nyata pada iklim akademik dalam hal akses informasi. Wacana yang sebelumnya menginginkan adanya media yang dapat digunakan untuk menyebarluaskan karya-karya ilmiah yang telah dihasilkan oleh sivitas akademika kini terwujud, meskipun masih terdapat banyak kekurangan dalam prosesnya. Tulisan ini berupaya menggambarkan secara umum peran yang telah diberikan Repositori UIN Alauddin Makassar sejak awal pendiriannya hingga awal tahun 2021. Tulisan ini memberikan implikasi bagi pengembangan IR di kampus ini khususnya, dan pada repositori-repositori lainnya yang ada di perguruan tinggi pada umumnya. B. Kajian Terdahulu UIN Alauddin Makassar, dapat dikatakan kampus yang ‘terlambat’ menghadirkan media-media untuk menyebarkan hasil-hasil temuan ilmiahnya secara online. Keterlambatan ini disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya kurang mengikutinya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang ada di perguruan-perguruan tinggi lainnya yang telah lebih dulu unggul. Mengikuti perkembangan ini sudah menjadi keharusan bagi setiap perguruan tinggi, terkhusus buat perpustakaan yang mana salah satu tugas pokoknya ialah mendiseminasikan infomasi ilmiah yang menjadi koleksinya. Perubahan pola pencarian informasi (shiftparadigm), ada kecenderungan sivitas akademika lebih senang mengakses sumbersumber informasi elektronik ketimbang versi cetak. Maka dari itu perpustakaan mesti selalu up-to-date dalam hal pemanfaatan teknologi agar tetap bisa memberikan layanan prima kepada para penggunanya. Perpustakaan ialah pustakawannya. Citra positif yang diberikan oleh masyarakat kepada perpustakaan sejatinya dibentuk oleh pustakawannya, begitupun sebaliknya. Berkaitan dengan IR, perpustakaan perguruan tinggi mesti meningkatkan kapasitasnya dalam mengelola sumber-sumber informasi elektronik, IR bisa menjadi media yang dimanfaatkan untuk itu. Pustakawan memiliki peran sentral pada IR (Kamraninia & Abrizah, 2010). Pustakawan referensi (reference librarians) memainkan peran penting dalam merencanakan, membangun, dan mendukung IR (Bailey, 2005). Era keterbukaan informasi saat ini memudahkah siapa saja untuk mengakses dan menemukan informasi. Beberapa IR di perguruan tinggi memiliki kebijakannya masing-masing dalam hal ketersediaan akses informasi yang dimilikinya, ada yang terbuka, tertutup, ataupun perpaduan antara keduanya. Meskipun banyak yang mengharap bahwa IR itu dapat diakses terbuka. Aksesibilitas (open-access) pada IR menjadi harapan pengguna, meskipun hak cipta tetap menjadi isu yang mesti diperhatikan (Abrizah, 2009). Sebagaimana yang terjadi di luar negeri, kehadiran IR di perguruan tinggi di Indonesia juga berperan signifikan. Beberapa kajian di dalam negeri misalnya yang dilakukan oleh Zulfitri (2018) yang menyatakan bahwa IR menunjang akreditasi program studi. Studi kasus lainnya yang dilakukan oleh Novianto (2020) menemukan bahwa ada kontribusi IR dalam meningkatkan reputasi universitas. Dengan kata lain salah satu indikator penilaian reputasi perguruang tinggi ialah IR, termasuk di dalamnya ialah perpustakaannya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pada umumnya IR di perguruan tinggi diamanahkan dan merupakan kewenangan perpustakaan. Tidak sedikit dijumpai kajian-kajian terkait peran perpustakaan terhadap IR ini, misalnya kajian dari Kurniawan (2016) yang menekankan bahwa perpustakaan mesti menyesuaikan dengan perkembangan sumber-sumber informasi elektronik dan juga mediamedianya. Ini tentu menjadi tantangan bagi perpustakaan (pustakawannya). Pustakawan dituntut memiliki kemampuan literasi digital/media. Tantangan ini, misalnya yang disebutkan oleh Suwardi (2014) yakni “sindrom autis” atau sibuk dengan diri sendiri dan lemah dalam penguasaan TIK. IR di perguruan tinggi memiliki peran yang sangat signifikan, seperti misalnya dengan memberikan layanan penuh kepada penggunanya, akses yang lebih luas, sebagai media komunikasi para akademisi/ilmuan (Latif, 2018), serta pelestarian dalam jangka panjang, misalnya kajian yang dilakukan oleh Prabhakar & Rani (2018) dan Velmurugan (2015). Kemudahan yang diberikan IR untuk meng-online-kan setiap karya ilmiah juga harus mempertimbangkan hak cipta (intellectual property) pada tiap karya tersebut. Beberapa kajian terkait terkait ini di antaranya dituliskan oleh Shashi Nath, B., Joshi, & Puneet Kumar (2008) dan Cullen & Chawner (2009). Yang terakhir disebutkan menuliskan pada artikelnya bahwa hak cipta menjadi isu yang penting untuk diperhatikan. Pada temuannya juga mengatakan bahwa IR di New Zealand hadir dengan beragam tujuan. Dari beberapa kajian yang disebutkan di atas, IR yang lebih dari 1 dekade lalu merupakan sesuatu yang baru, kini perkembangannya makin pesat seiring berkembangnya TIK dan juga sumber-sumber informasi dalam bentuk digital/elektronik. Dari sini, IR menjadi lahan yang menarik untuk dikaji dari berbagai sudut, termasuk kontribusinya di era keterbukaan informasi saat ini.
Method
Penelitian deskriptif ini menggunakan pendekatan studi kasus untuk menggambarkan objek penelitian yang dikaji, yakni peran atau kontribusi Repositori UIN Alauddin Makassar. Data penelitian diperoleh dari pengamatan dan pengalaman empiris peneliti yang sejak awal pendirian IR hingga saat ini masih ikut terlibat, beberapa kajian literatur yang relevan, wawancara, dan juga dokumentasi dengan beberapa informan yang terlibat langsung dalam pembangunan, pengoperasian, serta pengembangan repositori ini, yaitu dari unsur Pustipad (Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data), dosen, pustakawan, dan kepala perpustakaan UIN Alauddin Makassar. Data-data yang dikumpulkan selanjutnya diinterpretasikan oleh peneliti yang selanjutnya dianalisis dan diberikan kesimpulan.
Result & Discussion
1) Sekilas Repositori Institusi di UIN Alauddin Makassar UIN Alauddin Makassar termasuk dari salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang hingga tahun 2016 belum memiliki IR yang dapat diakses daring (online) sebagai media penyimpanan, pelestarian, dan diseminasi bagi setiap karya-karya ilmiah yang telah dihasilkan oleh sivitas akademikanya, baik yang telah dipublikasi ataupun yang belum dipublikasi. Sebagai universitas yang terus berkembang, UIN Alauddin Makassar dalam menyediakan sarana dan prasarana media diseminasi informasi ilmiah yang berbasis teknologi dapat dikatakan agak lambat. Sementara itu, kini hampir setiap perguruan tinggi lainnya yang ada di Indonesia telah berupaya untuk membangun dan mengembangkan repositorinya masing-masing. Peningkatan jumlah IR dapat dilihat dari kajian terdahulu (Asmad et al., 2018), bahwa terjadi peningkatan jumlah IR di Indonesia sejak tahun 2008 hingga 2018. Inisiatif untuk memiliki IR online mulai diwacanakan pada akhir tahun 20151 . Konsep pembangunan repositori UIN Alauddin Makassar ketika itu sudah sangat mantap sehingga tinggal ditindaklanjuti. Konsep tersebut dibuat berdasarkan dari hasil beberapa benchmarking, dengan berkunjung ke beberapa perguruan tinggi yang memiliki IR di Indonesia dan luar negeri, baik dengan cara kunjungan langsung ataupus secara daring mengakses IR tersebut. Hingga pada akhirnya, pada akhir tahun 2016 Repositori UIN Alauddin Makassar hadir dan dapat diakses pada laman https://repositori.uin-alauddin.ac.id/. Ini terwujud atas arahan pimpinan, dan kerjasama antara UPT Pustipad (Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data) UIN Alauddin Makassar dengan UPT Perpustakaan. 2) Peran Repositori UIN Alauddin Makassar Jumlah sivitas akademika di UIN Alauddin Makassar dapat dikatakan relatif banyak, yakni terdapat sekitar 23 ribu mahasiswa yang terdata masih aktif di seluruh jenjang strata pendidikan (S1, S2, dan S3). Untuk tenaga pengajar dan tenaga kependidikan, saat ini sudah mencapai lebih dari 1000 dosen, termasuk tambahan 243 dosen baru pada tahun 2019 lalu. Di kampus ini terdapat 8 fakultas dan pascasarjana yang total keseluruhan memiliki sebanyak 64 program studi/jurusan. Dari fakultas dan pascasarjana inilah karya-karya tulis ilmiah, hasil-hasil riset, laporan hasil pengabdian kepada masyarakat, dan sebagainya dihasilkan. Dengan itu, perpustakaan mesti hadir guna mengorganisir setiap aset-aset ilmiah yang telah dihasilkan tersebut. Sejak launching-nya Repositori UIN Alauddin Makassar pada akhir tahun 2016 lalu, dari tahun ke tahun tingkat, selain jumlah dokumennya yang terus bertambah, pengunjung atau pengaksesnya pun menunjukkan peningkatan. IR ini telah diakses, baik yang ada di Indonesia maupun dari luar negeri. Ini menunjukkan bahwa media penyebarluasan informasi ilmiah seperti IR yang menyediakan informasi digital seperti ini lebih mudah diakses, apalagi melihat perkembangan TIK yang semakin canggih. Infrastruktur yang makin baik menjadikan perubahan pola akses informasi masyarakat cenderung ke arah pemanfaatan sumber-sumber informasi elektronik/ digital. Hanya dengan menggunaan gawai atau perangkat-perangkat seperti komputer, laptop, tablet, atau smartphone kini orang dapat mengakses informasi kapan dan di manapun. Repositori UIN Alauddin Makassar yang dapat diakses secara daring tidak membatasi kepada siapa saja yang hendak mengaksesnya. Sebuah perpustakaan perguruan tinggi tidak dapat lagi dikatakan hanya dimiliki oleh masyarakat kampusnya saja akan tetapi dengan adanya layanan daring seperti repositori ini, masyarakat global pun dapat menjadi penggunanya (users). Dengan demikian, kontribusi yang diberikan dalam hal akses informasi tidak lagi terbatas di lingkup UIN Alauddin Makassar, namun juga kepada masyarakat global. Berikut ini beberapa peran umum yang peneliti amati dan beri gambaran singkat pada IR di UIN Alauddin Makassar. Sebagai Media Preservasi Sekaligus Diseminasi Informasi Digital Makin bertambahnya koleksi-koleksi di perpustakaan, khususnya karya tulis ilmiah yang telah dihasilkan oleh sivitas UIN Alauddin, menjadikan IR berperan dalam hal melestarikan koleksi tersebut dengan cara menyediakan format digital pada karyakarya tersebut. Saat ini jumlah item2 di IR ini telah hampir mencapai 14 ribu item. Dengan hadirnya repositori ini pada tahun 2017, perpustakaan tidak lagi menerima bentuk cetak skripsi, tesis, dan disertasi sebagai salah satu syarat pengurusan Bebas Pustaka. Semua jenis karya tulis ilmiah tersebut akan langsung diunggah ke dalam repositori agar segera dapat diakses secara daring. Namun demikian, alumni tetap menyerahkan softfile-nya dalam bentuk CD ROM sebagai bentuk lain pelestarian di perpustakaan. Sebagai Media Komunikasi Ilmiah Beberapa kajian sebelumnya telah menyebutkan bahwa IR menjadi media komunikasi bagi para akademisi/ilmuan, maksudnya setiap karya tulis ilmiah yang telah dihasilkan memiliki hubungan dengan karya tulis yang dihasilkan sebelumnya. Hubungan ini terjalin baik secara langsung ataupun tidak langsung antara penulis dan penulis dan juga kepada pembacanya/komunitasnya. IR di perpustakaan menjadi media yang menghubungkan komunikasi ilmiah tersebut. Misalnya, mahasiswa yang sedang melakukan penelitian dapat merujuk ke beberapa hasil-hasil penelitian sebelumnya yang telah dihasilkan orang lain yang tersedia di Repositori UIN Alauddin Makassar. Secara tidak langsung, ada komunikasi antara si mahasiswa dengan penulis karya-karya sebelumnya. Jika ingin berhubungan lebih jauh lagi, si mahasiswa dapat menghubungi langsung si penulisnya, baik melalui nomor kontak ataupun email si penulis yang biasanya tercantum pada setiap karya tersebut, atau perpustakaan dapat memediasi hubungan tersebut. Sinergitas Fakultas IR pada mulanya kurang begitu dikenal, bahkan sebagian orang di kampus ini sulit untuk menyebut istilah ‘repositori’. Seiring dengan proses, IR kini lebih dikenal dan bahkan menciptakan sinergi ke fakultas-fakultas, menjadi bagian yang penting di kampus. Sinergitas IR di perpustakaan dengan komunitasnya di tiap-tiap fakultas telah terbangun, misalnya fakultas/program studi biasanya mengarahkan kepada mahasiswa atau calon-calon peneliti untuk mengakses laman IR UIN Alauddin Makassar terlebih dahulu sebagai rujukan sebelum menentukan tema penelitian yang akan mereka lakukan. Ini disarankan agar judul penelitian yang sama terhindari dan mahasiswa bisa mendapatkan ide dengan melihat beragam judul yang telah dihasilkan pada disiplin ilmunya. Adapun untuk dosen, belakangan ini IR banyak digunakan di tiap fakultas sebagai media untuk pengiriman dokumen pengurusan jenjang karir tiap dosen karena ada kebijakan bahwa setiap dokumen atau karya tulis yang telah dihasilkan oleh dosen agar dapat diunggah atau dionlinekan di repositori kampus masing-masing. Peran IR di sini sangat membantu dosen. Selain itu, meskipun masih kurang program studi yang mengamatinya, IR ternyata juga dapat digunakan untuk perumusan arah tema-tema penelitian dengan mengamati riset-riset yang selama ini telah dihasilkan pada sebuah disiplin ilmu. Mendukung Proses Pembelajaran dan Penelitian Beberapa dosen juga memanfaatkan IR ini untuk mendukung proses pembelajaran mereka. Misalnya, dengan memasukkan materi-materi kuliah yang diajarkannya yang nantinya para mahasiswa dapat mengaksesnya sebagai bahan pembelajaran. Beberapa dosen yang telah menghasilkan tulisan berupa buku juga telah mengunggah karya-karya tulisnyanya ke dalam repositori dengan maksud agar mahasiswa dapat lebih mudah mengaksesnya dalam format digital. Jurusan biasanya menyarankan kepada calon-calon peneliti yang hendak mengusulkan topik penelitian untuk merujuk IR. Ini dilakukan agar judul-judul penelitian yang diusulkan nantinya tidak serupa apalagi sama dengan judul penelitian terdahulu. Selain itu, jurusan juga mengharapkan dengan merujuk ke IR, mahasiswa dapat menemukan ide baru yang nantinya dapat diangkat sebagai topik penelitiannnya. Meningkatkan Skil Pustakawan Kehadiran Repositori UIN Alauddin Makassar juga berperan penting dalam peningkatan kemampuan pustakawan. Awalnya, repositori ini merupakan sebuah tantangan tersendiri di mana sebelumnya belum pernah ada sama sekali pekerjaan atau bentuk media ilmiah yang dikelola secara digital dan online seperti ini. Seiring dengan itu, pustakawan menyadari harus senantiasa mengasa dan mengembangkan kemampuan dalam meningkatkan layanan digital, seperti repositori yang ada saat ini. Informasi ilmiah elektronik sudah semestinya disebarluarkan, baik di lingkup akademik maupun masyarakat luas pada umumnya. Maka dari itu, repositori ini disadari telah meningkatkan kemampuan pustakawan atau pengelolanya dalam hal penggunaan teknologi untuk melestarikan dan menyebarluaskan informasi ilmiah kepada masyarakat. Kemampuan yang dimiliki SDM pada sebuah lembaga/organisasi, sebagaimana yang telah banyak disebutkan banyak pakar manajemen SDM, merupakan potensi terbesar dalam meraih cita-cita pada organisasi tersebut.
Conclusion
Repositori UIN Alauddin Makassar yang dapat diakses pada laman https://repositori.uin-alauddin.ac.id/, sebagaimana IR di perguruan tinggi lainnya, telah memainkan peran yang signifikan pada iklim akademik di kampus ini. Kehadirannya telah memberikan manfaat besar, bukan hanya kepada sivitas internal kampus ini saja namun juga dirasakan oleh masyarakat global dikarenakan aksesnya yang mudah dijangkau kapan dan di manapun. Bagi perpustakaan sendiri, IR ini dapat meningkatkan kemampuan dalam mengorganisir bahan perpustakaan dalam format digital. Dengan demikian, sudah semestinya peran IR ini dipertahankan dan ditingkatkan layanannya serta dikelola dengan baik seiring dengan bertambahnya informasi-informasi ilmiah dalam bentuk digital.