Kembali
16
1
2023 Literatify : Trends in Library Developments Vol 4 · 1 ISSN 2723-0953

ANALISIS KETERSEDIAAN KOLEKSI UNTUK KEBUTUHAN INFORMASI PEMUSTAKA DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI SULAWESI SELATAN

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Abstrak

Penelitian ini berfokus pada ketersediaan koleksi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil Penelitian menunjukkan ketersediaan koleksi di perpustakaan telah sejalan dengan Standar Nasional Perpustakaan Provinsi yang jumlah total koleksi perpustakaan daerah yang terbaru sebanyak 365.407 Eksamplar 45.792 judul, dengan pembagian jumlah koleksi fiksi 149.436 Eksamplar dan 1.018 judul serta jumlah koleksi nonfiksi 215.971. sedangkan Jumlah koleksi digital 250 Isulsel, 280 e-sulawesiana, 6.720 Pocadi, 7.321 Bookless. Selanjutnya, kesimpulan terkait kebutuhan informasi pemustaka di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, jika dilihat dari segi kebutuhan kognitif, afektif, integrasi personal, integrasi sosial, dan kebutuhan berimajinasi, secara umum telah terpenuhi dengan baik. Hal itu dibuktikan dari pernyataan seluruh informan dari kalangan pemustaka.

Abstract

This research focuses on the availability of collections at the Library and Archives Service of South Sulawesi Province. Research results show the availability of collections in the library is in line with the National Standards for Provincial Libraries where the total collection of the latest regional libraries is 365,407 copies of 45,792 titles, with the distribution of the number of fiction collections of 149,436 copies and 1,018 titles and the number of nonfiction collections of 215,971. while the number of digital collections is 250 Isulsel, 280 eSulawesiana, 6,720 Pocadi, 7,321 Bookless. Furthermore, the conclusions regarding the information needs of users at the Library and Archives Service of South Sulawesi Province, when viewed from the perspective of cognitive, affective, personal integration, social integration, and imagination needs, in general have been well fulfilled. This is evidenced by the statements of all informants from the users.
Keywords: Information Needs · Availability of Collections · Library Collections

Introduction

Dalam memenuhi kebutuhan informasi pemustakanya, perpustakaan perlu memperhatikan ketersediaan bahan pustaka atau koleksi dengan kebutuhan informasi pemustaka yang datang ke perpustakaan tersebut. Kebutuhan informasi seseorang didorong oleh keadaan dalam diri seseorang dan perannya dalam lingkungannya. Dimana seseorang menyadari bahwa pengetahuan yang ia miliki masih kurang sehingga ada keinginan untuk memenuhi kebutuhan informasi. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menambah pengetahuan mengenai lingkungan masyarakat, tugas-tugas pribadi sesuai dengan pekerjaan, pendidikan, hiburan dan untuk pengambilan keputusan. Koleksi adalah suatu istilah yang digunakan secara luas di dunia perpustakaan untuk menyatakan bahan perpustakaan apa saja yang harus diadakan di perpustakaan (Afrizal, 2019:112). Ketersediaan koleksi adalah kesiapan bahan pustaka yang telah dikumpulkan, diolah dan disimpan untuk kemudian dilayankan dan disebarluaskan informasinya kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan informasi mereka (Herlina, 2014:20). Menurut Undang-undang No. 43 Tahun 2007 Pasal 1 Ayat 2 menyatakan koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah, dan dilayankan. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa koleksi perpustakaan adalah semua benda yang terdapat dalam perpustakaan yang bernilai informasi dan dilayankan sehingga dapat dimanfaatkan oleh pemustaka. Dalam memenuhi kebutuhan informasi perpustakaan terdapat beberapa faktor yang memepengaruhi yaitu kebutuhan individu seperti kebutuhan psikologis, kebutuhan afektif dan kebutuhan kognitif, peran sosial seperti peran kerja dan peran tingkat kinerja individu, dan faktor lingkungan seperti lingkungan kerja, sosial budaya, politik, ekonomi, dan lingkungan fisik. Perpustakaan merupakan tempat sumber informasi bagi seluruh pengguna perpustakaan. Begitu juga dengan perpustakaan sekolah, maka segala sumber informasi dalam koleksi yang dimilikinya pun bersifat menyeluruh untuk masyarakat sekolah, sumber informasi dapat diperoleh melalui informasi internal dan eksternal atau informasi formal dan informal. Perpustakaan sudah sepatutnya memiliki segala sesuatu yang dibutuhkan oleh pemustakanya sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini seperti yang dicantumkan dalam UndangUndang RI Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pada Bab 4 Pasal 12 Ayat 1 yang berbunyi “Koleksi perpustakaan diseleksi, diolah, disimpan, dilayankan, dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan pemustaka dengan memperhatikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (Utama, 2009:9). Perpustakaan dituntut untuk memberikan fasilitas terbaik demi kenyamanan dan kepuasan pemustakanya seperti penyediaan akses terbaik untuk memudahkan pemustaka dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan. Oleh karena itu, telah banyak perpustakaan yang berlomba-lomba dalam menciptakan ruang baca yang dapat diakses publik kapanpun dan dimanapun sehingga makin banyak pula koleksi bahan pustaka dalam bentuk digital. Koleksi digital adalah koleksi perpustakaan atau arsip yang dikonversikan ke dalam format yang terbaca oleh mesin (machine-readble format) untuk tujuan pelestarian atau penyediaan akses elektronik, juga termasuk materi yang diproduksi dalam bentuk elektronik, mencakup e-megazines, e-journals, ebooks, karya referensi yang dipublikasikan secara online dan dalam CD-ROM, database, bibliografi, dan sumber-sumber web lainnya. (Santoso, 2004:70). Menurut Sulistyo-Basuki (2004:396), kebutuhan informasi pemustaka dipengaruhi beberapa faktor. Berikut faktor yang mempengaruhinya; kisaran informasi yang tersedia, pemustaka yang menggunakan informasi yang diperlukan, latar belakang, motivasi, orientasi profesional dan karakteristik masih-masing pemustaka, sistem sosial, ekonomi dan politik tempat pemakai berada dan konsekuensi pengguna informasi. Melihat makin banyaknya perpustakaan yang telah mengembangkan koleksi digitalnya yang sebagaimana dengan adanya koleksi digital maka pemustaka mampu lebih efisien dalam menemukan informasi yang dibutuhkan sehingga para pemustaka lebih condong untuk memanfaatkan koleksi digital daripada koleksi dalam bentuk buku teks. Koleksi buku teks atau koleksi tercetak itu sendiri adalah jenis koleksi perpustakaan yang menggunakan kertas sebagai media untuk merekam informasi seperti buku referensi, buku pelajaran, majalah ilmiah, majalah populer, buku fiksi, buku-buku umum, laporan penelitian, buku-buku pengetahuan sosial dan kemasyarakatan, dan karya ilmiah (skripsi, tesis, dan disertasi) (Ibrahim, 2015:186). Cara memperoleh buku teks di perpustakaan yaitu dengan akses terbuka sehingga pemustaka dapat langsung mengambil buku dari raknya untuk dibaca di tempat atau dipinjam. Peminjaman atau perpanjangan peminjaman buku harus melalui prosedur administrasi dilayanan sirkulasi. Adapun kelebihan mengadakan koleksi digital dibanding koleksi buku teks juga dikarenakan mengikuti perkembangan zaman dan kepuasan pemustaka maka koleksi digital pun kini makin dikembangkan oleh berbagai perpustakaan termasuk pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang mempunyai tugas melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan tingkatan usia, tingkatan sosial, dan tingkat pendidikan. Perpustakaan umum lazimnya berada pada setiap kabupaten/kota, kecamatan, desa/kelurahan yang mempunyai koleksi bersifat umum dan berfungsi melayani seluruh lapisan masyarakat di sekitarnya (Sutarno, 2008:165). Pada saat melakukan observasi awal di lokasi, peneliti merasakan belum terpenuhinya koleksi yang diperlukan. Pada saat menelusuri informasi pada bagian opac, koleksi yang peneliti cari belum tersedia. Begitupun ketika peneliti bertanya kepada pengunjung lain, mereka pun merasakan hal yang sama. Olehnya itu, peneliti merasakan perlunya meneliti secara lebih mendalam terkait dengan kelengkapan koleksi yang ada di perpustakaan dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka.

Method

1. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif yaitu upaya menggambarkan suatu gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akturat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat hubungan antara fenomena yang sedang ingin diteliti. Metode kualitatif merupakan metode penelitian yang di maksudkan untuk megartikan tentang apa yang di alami subjek penelitian secara kualistik dengan menngambarkan dalam format (Sugiyono, 2010:14). 2. Sumber Data Primer Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti (atau petugaspetugasnya) dari sumber pertamanya (Suryabrata, 2003). Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Tabel 1. Daftar Informan No Nama Informan Status Sebagai Informan 1 Kory Bataran T., S.Sos., M.M. Pustakawan Bagian Pelayanan Umum I 2 Mirawati Danial, S.I.P Bagian Pengadaan Koleksi II 3 Afzazul Rahman, S.I.P Pengelola Layanan Perpustakaan III 4 Saskia Yulianti Mahasiswa Jurusan Manajemen UNM IV 5 Ulfa Anugrah Mahasiswa Jurusan Biologi UNM V 6 Riskawati Mahasiswa Kesmas VI 7 Winda Kartika Mahasiswa Manajemen VII 8 Andi Gilang Ramadhan Mahasiswa VIII 3. Sumber Data Sekunder Data Sekunder yaitu data yang sumbernya diperoleh untuk melengkapi data primer berupa dokumen-dokumen atau laporan yang dapat mendukung pembahasan dalam kaitannya dengan penelitian. Jadi, data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, skripsi, jurnal, laporan dan lain-lain. Mengenai data sekunder ini, peneliti tidak banyak dapat berbuat untuk menjamin mutunya. Dalam banyak hal peneliti akan harus menerima menurut apa adanya (Suryabrata, 2003). 4. Instrumen Penelitian Salah satu ciri penelitian kualitatif adalah peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif kehadiran peneliti adalah mutlak, karena peneliti harus berinteraksi dengan lingkungan baik manusia dan non-manusia yang ada dalam kancah penelitian. 5. Teknik Pengumpulan Data Dalam hal ini, dikemukakan teknik apa yang digunakan untuk mengumpulkan data dengan alat-alat atau instrumen penelitian di atas. adapun teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. 6. Teknik Analisis Data Analisis merupakan upaya untuk mencari informasi dari hasil observasi, wawancara dan lainnya yang kemudian disusun secara sistematis untuk memberikan pemahaman yang lebih banyak bagi peneliti mengenai hal yang diteliti dan pada tahap akhir bertujuan untuk menyajikan sebuah temuan informasi baru bagi orang lain maupun peneliti lainnya. Untuk menganalisis data, ada tiga tahapan yaitu, reduksi data, penyajian data dan verivikasi data (menyimpulkan).

Result

1. Ketersediaan Koleksi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan Untuk memperoleh informasi terkait dengan strategi pengadaan koleksi sebagai upaya untuk menjaga ketersediaan koleksi di perpustakaan, maka peneliti melakukan wawancara dengan informan I. Dari hasil wawancara informan I, dapat diketahui bahwa untuk mengadakan koleksi di perpustakaan agar sejalan dengan kebutuhan pemustaka, maka pustakawan menampung masukan dari para pemustaka. Hal itu menurut informan I perlu dilakukan sebab belum tentu semua yang kebutuhan pemustaka tersedia di perpustakaan. Hal senada disampaikan oleh informan II. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan II, menjelaskan bahwa ketersediaan koleksi perlu untuk penuhi. Maka pustakawan mendeteksi kebutuhan pemustaka melalui survei, senada dengan penyampaian dari informan I. Namun informan II lebih detail dalam menjelaskan secara terperinci mengenai hal-hal yang dilakukan untuk menjaga ketersediaan koleksi yang dimulai dari survey kebutuhan pemustaka, hunting terbitan, telaah hasil kajian kebutuhan pemustaka serta masukan dari berbagai sumber lain, mengumpulkan alat bantu seleksi, mengidentifikasi data bibliografi yang perlu diadakan, penyiapan berkas-berkas administrasi dan selanjutnya adalah pengadaan koleksi yang dibutuhkan. Selanjutnya terkait dengan jumlah koleksi, menurut informan I: “Jika yang ditanyakan adalah jumlah koleksi yang tersedia, maka sebaiknya mengecek pada bagian pelayanan koleksi, sebab disana dapat diketahui jumlah koleksi yang ada berdasarkan buku induk dan dapat ditelusuri melalui aplikasi inlislite” Selanjutnya terkait dengan koleksi yang paling sering dicari oleh pemustaka, menurut informan I, bahwa koleksi yang paling laris dicari oleh pemustaka adalah koleksi yang terkait agama, terutama agama Islam, kemudian buku-buku terkait pendidikan, dan buku-buku terapan. Hal itu berarti banyak pemustaka yang membutuhkan informasi dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan afektif dan kebutuhan kognitifnya. Sebagaimana hasil wawancara dari informan II, menjelaskan bahwa di Dinas perpustakaan dan arsip daerah Sulawesi Selatan memiliki salah satu kantor layanan yang terdapat di daerah kabupaten Gowa, yakni perpustakaan Abdul Rasyid Daeng Lurang. Menurut informan II, selaku pustakawan yang ditempatkan pada bagian layanan, menjelaskan bahwa terdapat kendala yang dihadapi pemustaka saat memperoleh layanan di perpustakaan, yakni ketika mencari koleksi di kantor layanan perpustakaan yang ada di kabupaten Gowa, seringkali koleksi tersebut terdapat di kantor perpustakaan yang ada di Makassar yakni di jl. Alauddin. Padahal mereka menelusurinya melalui opac yang ada di kabupaten Gowa. Hal itu terjadi sebab sebagian besar koleksi berada di kantor layanan pusat yang ada di jl. Alauddin Makassar. Sedangkan server layanan yang digunakan hanya satu yang terpusat. Demikian pula dalam hal pengolahan koleksi seluruhnya masih dilakukan pada kantor pusat. Kedepannya, menurut informan II akan berupaya untuk diatasi kendala semacam itu agar layanan kepada pemustaka dapat dimaksimalkan. Untuk memperoleh informasi terkait dengan ketersediaan koleksi di perpustakaan, maka peneliti melakukan wawancara dengan informan III sebagai pustakawan bidang pengelola pelayanan umum. Pertanyaan terkait dengan jenis koleksi yang paling sering dipinjam. Berikut kutipan wawancara dengan informan III : “Koleksi yang paling sering dipinjam adalah koleksi sastra (klasifikasi 800) dan juga ilmu terapan (klasifikasi 600), sedangkan yang jarang dipinjam adalah koleksi kesenian (klasifikasi 700)”. (Wawancara dengan Informan III, 23 November 2022). Selanjutnya, terkait dengan ketersediaan koleksi novel sebagai penunjang kebutuhan imajinasi dan fungsi hiburan bagi pemustaka. Menurut informan III adalah sebagai berikut: “Jumlah koleksi novel yang tersedia berdasarkan data pada inlislite, jumlah novel adalah 7.120 Eksamplar dengan jumlah judul 2.278”. (Wawancara dengan Informan III, 23 November 2022). Selanjutnya untuk melakukan validasi data terkait penyataan informan tersebut di atas, maka peneliti melakukan studi dokumentasi melalui portal data dengan bantuan pustakawan, maka ditemukan data sebagai berikut : a. Jumlah total koleksi perpustakaan daerah yang terbaru 365.407 Eksamplar | 45.792 Judul b. Jumlah koleksi fiksi 149.436 Eksamplar | 1.018 Judul c. Jumlah koleksi non-fiksi 215.971 d. Jumlah koleksi digital 250 Isulsel | 280 e-sulawesiana | 6.720 Pocadi | 7.321 Bookless (Sumber: https://perpustakaan-dpk.sulselprov.go.id/) Berdasarkan data penelusuran tersebut, diketahui bahwa data yang disampaikan oleh informan sesuai dengan data pada aplikasi. Hal tersebut menandakan bahwa data yang diuraikan telah memenuhi kriteria kevalidan data. Dengan melihat jumlah koleksi perpustakaan daerah Sulawesi Selatan, maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan Provinsi adalah apabila jumlah penduduk 5.000.001 jiwa, - 10.000.000 jiwa, maka jumlah koleksi yang disediakan adalah minimal 50.001 - 100.000. Adapun jumlah penduduk Sulawesi Selatan berdasarkan data (https://sulsel.bps.go.id/indicator/12/83/2/jumlah-penduduk.html) selama tahun 2022 adalah sebanyak 9.022.276 jiwa. Sedangkan jumlah koleksi yang tersedia pada perpustakaan daerah Provinsi Sulawesi Selatan adalah 365.407 ekemplar yang berarti terpenuhi sebesar lebih dari tiga kali lipat. Dengan demikian, jika kelengkapan koleksi ditinjau dari segi jumlah koleksi yang tersedia, maka dapat disimpulkan bahwa jumlah koleksi yang ada di perpustakaan daerah Provinsi Sulawesi Selatan telah memenuhi kriteria. Hal selanjutnya yang akan ditelusuri adalah mengenai kebutuhan informasi pemustaka yang akan dijelaskan pada poin berikutnya. 2. Kebutuhan Informasi Pemustaka di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan Untuk memperoleh informasi terkait dengan kebutuhan informasi pemustaka, maka peneliti melakukan wawancara dengan beberapa pengunjung yang seuluruhnya berstatus sebagai mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Peneliti melakukan wawancara dengan cara menggali informasi terkait: a. Tujuan pemustaka berkunjung ke perpustakaan, b. Mengenai koleksi yang tersedia di perpustakaan apakah cukup membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan informasi dan menambah pengetahuan (terkait kebutuhan kognitif), c. Buku-buku yang mereka baca untuk menambah pengetahuan (terkait kebutuhan kognitif), d. Koleksi yang tersedia apakah cukup untuk kebutuhan terkait peningkatan keterampilan (terkait kebutuhan afektif), e. Koleksi yang ada di perpustakaan apakah dapat membantu mereka dalam hal peningkatan kepercayaan diri (terkait kebutuhan integrasi personal), f. Terkait peningkatan pengetahuan mengenai cara menambah relasi dan hubungan sosial, apakah koleksi perpustakaan memenuhi kebutuhan mereka (terkait kebutuhan integrasi sosial), g. Serta apakah koleksi yang ada dapat memenuhi kebutuhan imajinasi mereka (terkait kebutuhan berimajinasi). Wawancara dengan informan IV ; Berdasarkan keterangan dari informan IV, memberikan informasi bahwa tujuan berkunjung ke perpustakaan adalah untuk mengerjakan tugas kuliah sebab koleksi di perpustakaan mampu memenuhi kebutuhan informasinya. Koleksi yang dibutuhkan berupa buku-buku statistik untuk meningkatkan pengetahuan (kognitif) terkait jurusannya. Dalam pengembangan sikap (afektif), menurutnya, koleksi yang dicari adalah yang berkaitan dengan buku-buku agama Islam, dan itu tersedia banyak di perpustakaan dengan berbagai jenis. Membaca koleksi di perpustakaan juga menurutnya dapat menambah wawasan sehingga memunculkan rasa percaya diri yang tinggi (integrasi personal), misalnya dengan membaca buku-buku terkait statistik maka pengetahuan mengenai angka kuantitatif dapat dijelaskan dengan baik dan tentu saja hal itu dapat menambah kepercayaan diri. Informan IV mengakui bahwa ketika banyak membaca di perpustakaan dapat menambah wawasan dan ketika berdiskusi dengan rekan-rekan membuatnya mampu menjelaskan banyak hal (integrasi sosial). Adapun terkait kebutuhan imajinasi, menurutnya koleksi novel adalah bacaan yang dapat membangkitkan imajinasi dan itu tersedia di perpustakaan daerah Sulawesi Selatan serta memenuhi kebutuhan informasinya. Dengan demikian, maka keempat jenis kebutuhan informasi terpenuhi menurut informan IV. Walaupun demikian, yang menjadi catatan penting adalah masih adanya koleksi yang belum ditemukan di perpustakaan namun itu dibutuhkan yakni buku ekonomi internasional. Wawancara dengan informan V: Menurut keterangan dari informan V, tujuan berkunjung ke perpustakaan adalah mencari referensi bacaan berupa buku-buku ilmu terapan untuk meningkatkan pengetahuan (kognitif). Menurutnya, koleksi yang ada di perpustakaan sudah cukup memenuhi kebutuhan, tetapi masih ada beberapa yang kurang. Koleksi yang dicari berupa buku-buku biologi yang terkait dengan penelitiannya. Kelengkapan koleksi di perpustakaan menurut informan V, belum lengkap. Hal itu dikarenakan masih ada buku-buku yang dicari namun belum terdapat di perpustakaan misalnya buku biologi laut dan molekuler. Menurut pengakuannya, bisa jadi pula telah ada di perpustakaan, hanya saja belum ia temukan. Bisa jadi disebabkan karena pemustaka belum mahir dalam penggunaan OPAC yang ada di perpustakaan sehingga koleksi yang ada kurang dapat dideteksi dengan baik keberadaannya. Menurutnya, membaca bukubuku agama, buku-buku inspirasi, dan lain-lain di perpustakaan mampu meningkatkan kepercayaan diri dan sikap positif (integrasi personal dan afektif). Membaca dapat mempengaruhi perilakunya misalnya membaca tentang cara memanfaatkan waktu, sehingga dalam kesehariannya bisa lebih disiplin waktu. Selanjutnya, kebutuhan informasi mengenai (interaksi sosial) tersedia banyak di perpustakaan. Berkunjung ke perpustakaan menurutnya adalah bagian dari interaksi sosial karena terkait dengan pelayanan. Menurut informan V, membaca referensi terkait dengan jurusannya dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan teman-teman sejurusannya dalam kuliah. Wawancara dengan informan VI: Berdasarkan keterangan dari informan VI di atas, memberikan informasi bahwa tujuan berkunjung ke perpustakaan adalah untuk mengerjakan tugas kuliah meminjam buku, dan kebutuhan rekreasi. Kelengkapan koleksi menurutnya di perpustakaan telah mampu meneuhi kebutuhan informasinya. Adapun buku-buku yang sering dibaca adalah tentang “Manajemen Stress” dan semua yang dibutuhkannya terdapat di perpustakaan. Koleksi jenis itu dibutuhkan untuk meningkatkan integrasi personal dan juga kognitif serta afektif. Koleksi terkait pengembangan interaksi sosial belum ditelusuri oleh informan VI. Demikian pula dengan buku-buku terkait peningkatan daya imajinasi. Wawancara dengan informan VII: Menurut keterangan dari informan VII, tujuan berkunjung ke perpustakaan adalah untuk mengerjakan tugas. Koleksi yang tersedia cukup, terutama yang membantu dalam penyelesaian tugas-tugasnya. Koleksi yang dibutuhkan adalah terkait dengan motodologi penelitian untuk meningkatkan pengetahuan tentang cara meneliti yang baik (kognitif) dan itu telah tersedia di perpustakaan. Selain itu, buku-buku terkait dengan peningkatan kepercayaan diri (integrasi personal) serta pemahaman dalam beragama, motivasi, dan inspirasi, telah tersedia dan pernah dibacanya. Buku-buku agama akan memotivasi pembacanya untuk memperbaiki sikap, watak dan tingkah laku (afektif). Untuk kebutuhan imajinasi, informan pernah membaca buku di perpustakaan, dan mencoba mengimajinasikan bacaan tersebut, buku yang dibaca berupa novel, buku seni, sejarah dan lain-lain. Wawancara dengan informan VIII: Menurut informan VIII, tujuan berkunjung ke perpustakaan adalah untuk membaca buku, dan menelusuri berbagai macam informasi. Sebab menurutnya, koleksi yang ada di perpustakaan telah lengkap. Buku favorit yang sering dibaca adalah buku terkait sastra dan sejarah. Adapun buku-buku terkait peningkatan keterampilan dan sikap (afektif), juga tersedia banyak di perpustakaan sehingga mampu memenuhi kebutuhan informasinya. Informan juga menelusuri buku-buku psikologi di perpustakaan sebagai referensi dalam meningkatkan kepercayaan diri dan untuk meningkatkan pengetahuan (integrasi personal dan kognitif), yakni mempelajari tentang bagaimana menjadi orang baik dan bagaimana menjadi diri sendiri. Selanjutnya, koleksi mengenai peningkatan relasi sosial, lengkap di perpustakaan. Hal itu dibutuhkan untuk menambah pengetahuan seperti sejarah, ataupun koleksi lain seperti buku agama, dan lain sebagainya. Di dalamnya kita informan memperoleh informasi tentang bagaimana berhubungan baik dan membangun relasi dengan orang lain. Adapun Koleksi yang dapat meningkatkan daya imajinasi juga lengkap di dinas perpustakaan dan kearsipan provinsi Sulawesi selatan. Sebagai contoh ketika mempelajari buku sejarah, maka pembaca akan terbawa pada imajinasi masa lampau. Namun demikian, Informan VIII menyampaikan kendala yang dirasakan yakni terkadang koleksi yang dicari berada di tempat yang berbeda sebab memiliki 2 kantor. Hal tersebut telah disampaikan oleh informan II selaku pustakawan bahwa memang hal tersebut seringkali menjadi kendala karena letak kantor layanan perpustakaan yang berjauhan.

Discussion

1. Ketersediaan Koleksi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan hasil wawancara dengan pustakawan terkait ketersediaan koleksi, dapat diketahui bahwa untuk mengadakan koleksi di perpustakaan agar sejalan dengan kebutuhan pemustaka, maka pustakawan menampung masukan dari para pemustaka. Hal itu menurut informan I perlu dilakukan sebab belum tentu semua kebutuhan pemustaka tersedia di perpustakaan. Senada dengan yang diungkapkan oleh informan II menjelaskan bahwa, ketersediaan koleksi perlu untuk dijaga. Maka langkah yang dilakukan pustakawan pada dinas Perpustakaan dan kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan dalam memenuhi ketersediaan koleksi adalah sebagai berikut: a. Survei kebutuhan pemustaka, b. Hunting terbitan, c. Telaah hasil kajian kebutuhan pemustaka serta masukan dari berbagai sumber lain, d. Mengumpulkan alat bantu seleksi, e. Mengidentifikasi data bibliografi yang perlu diadakan, f. Penyiapan berkas-berkas administrasi g. Pengadaan koleksi yang dibutuhkan. Berdasarkan data penelusuran, diketahui bahwa data yang disampaikan oleh informan sesuai dengan data pada aplikasi. Hal tersebut menandakan bahwa data yang diuraikan telah memenuhi kriteria kevalidan data. Jumlah judul koleksi Perpustakaan Provinsi tipe C paling sedikit 50.000 Eks, untuk tipe B : paling sedikit 60.000 Eks, dan tipe A : paling sedikit 70.000 Eks. Jumlah penambahan judul koleksi perpustakaan provinsi paling sedikit 0,01 per kapita per tahun. (Sumber: SNP Perpustakaan Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, dan Desa Tahun 2019). Dengan melihat jumlah koleksi Dinas Perpustakaan Daerah Sulawesi Selatan, maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan Provinsi adalah apabila jumlah penduduk 5.000.001 jiwa, - 10.000.000 jiwa, maka jumlah koleksi yang disediakan adalah minimal 50.001 - 100.000. hal itu didasarkan pada Standar Nasional Perpustakaan Provinsi pada poin “b” yakni jumlah koleksi perkapita. Adapun jumlah penduduk Sulawesi Selatan berdasarkan data badan survey statistik pada link (https://sulsel.bps.go.id/indicator/12/83/2/jumlahpenduduk.html) yang terbaru selama tahun 2022 adalah sebanyak 9.022.276 jiwa. Sedangkan jumlah koleksi yang tersedia pada perpustakaan daerah Provinsi Sulawesi Selatan adalah 365.407 eksemplar yang berarti terpenuhi sebesar lebih dari tiga kali lipat. Dinas Perpustakaan Provinsi Sulawesi selatan masuk dalam kategori perpustakaan tipe A. dengan jumlah koleksi yang memadai berdasarkan SNP Provinsi. Dengan demikian, jika kelengkapan koleksi ditinjau dari segi jumlah koleksi yang tersedia, maka dapat disimpulkan bahwa jumlah koleksi yang ada di perpustakaan daerah Provinsi Sulawesi Selatan telah memenuhi kriteria. Demikian pula berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, secara keseluruhan pemustaka telah menyatakan bahwa koleksi di perpustakaan telah mampu memenuhi kebutuhannya walaupun memang masih ada beberapa koleksi tertentu yang mereka cari dan belum terdapat di perpustakaan, namun pustakawan kedepannya terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 2. Kebutuhan Informasi Pemustaka di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan a. Kebutuhan Kognitif Berdasarkan pada hasil penelitian, semua informan memiliki tujuan yang sama yakni mencari referensi, mengerjakan tugas, dan sebagian meminjam buku, yang lainnya membaca di tempat. Koleksi yang dibutuhkan berupa buku-buku statistik, ilmu terapan, manajemen stress, metodologi penelitian, dan buku-buku psikologi dan yang paling memenuhi kebutuhan mereka adalah buku-buku terkait pengetahuan agama Islam. Adapun yang belum ditemukan oleh pemustaka di perpustakaan berdasarkan hasil penelitian adalah buku ekonomi internasional, dan buku biologi laut serta molekuler. b. Kebutuhan Afektif Dalam pengembangan sikap atau afektif, pemustaka membutuhkan informasi terkait buku-buku agama Islam dan agama lain. Koleksi jenis ini tersedia banyak di perpustakaan dan mampu memenuhi kebutuhan pemustaka. Selain buku-buku agama, terdapat pula buku-buku inspirasi, motivasi, manajemen stress, dan buku-buku lain yang memiliki relevansi terhadap perkembangan afektif. Dengan kata lain, kebutuhan informasi terkait pengembangan afektif pemustaka dapat terpenuhi dengan baik di perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan. c. Integrasi Personal Membaca koleksi di perpustakaan menurut pemustaka dapat menambah wawasan sehingga memunculkan rasa percaya diri yang tinggi. Menurutnya, membaca buku-buku agama, buku-buku inspirasi, dan lain-lain di perpustakaan mampu meningkatkan kepercayaan diri dan sikap positif. “Manajemen Stress” dan semua yang dibutuhkannya terdapat di perpustakaan. Koleksi jenis itu dibutuhkan untuk meningkatkan integrasi personal. Selain itu, buku-buku terkait dengan peningkatan kepercayaan diri serta pemahaman dalam beragama, motivasi, dan inspirasi, telah tersedia dan pernah dibacanya. Pemustaka juga menelusuri buku-buku psikologi di perpustakaan sebagai referensi dalam meningkatkan kepercayaan diri. d. Integrasi sosial Berdasarkan penelitian, pemustaka menyatakan bahwa banyak membaca di perpustakaan dapat menambah wawasan dan ketika berdiskusi dengan rekan-rekan membuatnya mampu menjelaskan banyak hal, sehingga integrasi sosial terbentuk dalam lingkungannya. Selanjutnya, kebutuhan informasi mengenai integrasi sosial tersedia banyak di perpustakaan. Walaupun para informan tidak menyebutkan secara rinci terkait jenis buku yang mereka anggap dapat meningkatkan integrasi sosial, namun peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa buku-buku ilmu sosial salah satunya adalah terkait dengan peningkatan integrasi sosial. Berkunjung ke perpustakaan menurutnya adalah bagian dari integrasi sosial karena terkait dengan pelayanan. Lebih lanjut, membaca referensi terkait dengan keilmuan dalam jurusannya dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan teman-teman sejurusannya dalam kuliah. Selanjutnya, koleksi mengenai peningkatan relasi sosial, lengkap di perpustakaan. Hal itu dibutuhkan untuk menambah pengetahuan seperti sejarah, ataupun koleksi lain seperti buku agama, dan lain sebagainya. e. Kebutuhan Imajinasi Adapun terkait kebutuhan imajinasi, menurut pemustaka, koleksi novel adalah bacaan yang dapat membangkitkan imajinasi dan itu tersedia di perpustakaan daerah Sulawesi Selatan serta memenuhi kebutuhan informasinya. Dengan membaca buku-buku novel di perpustakaan, pemustaka mencoba mengimajinasikan bacaan tersebut, buku yang dibaca selain novel yakni buku seni, sejarah dan lain-lain. Sebagai contoh ketika mempelajari buku sejarah, maka pembaca akan terbawa pada imajinasi masa lampau.

Conclusion

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka disimpulkan terkait kebutuhan informasi pemustaka di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, jika dilihat dari segi kebutuhan kognitif, afektif, integrasi personal, integrasi sosial, dan kebutuhan berimajinasi, secara umum telah terpenuhi dengan baik. Hal itu sejalan dengan upaya yang terus dilakukan oleh pihak perpustakaan untuk terus mengembangkan layanan yang telah menyediakan koleksi berbasis digital demi memenuhi tuntutan kebutuhan pemustaka. Namun masih ada beberapa koleksi yang menurut pemustaka yang sempat diwawancarai, ada beberapa yang belum mereka dapatkan.