The Role of Library Facilities and Infrastructure in Increasing Visitor Visits
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Perpustakaan sebagai salah satu pendukung kegiatan pembelajaran yang keberadaannyasering kita jumpai pada setiap sekolah ditujukan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan sarana dan prasarana perpustakaan dalam meningkatkan minat kunjungan siswa Taruna Bakti.Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus.Peneliti melakukan observasi, wawancara, dan analisis deskritif.Peneliti melakukan analisis data melalui tigatahapanyaitu reduksi data, penyajian data, serta kesimpulan dan verifikasi.Perpustakaan Yayasan Taruna Baktisudah hampir memenuhi standar dari pengadaan sarana dan pasarana perpustakaan berdasarkan dari indikator yang diadaptasi peneliti dari Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah, sehingga Perpustakaan Yayasan Taruna Baktidapat membuat pemustaka nyaman dan meningkatkan kunjungan pemustaka.
Abstract
Libraries as one of the supports for learning activities whose existence we often encounter in every school are intended to support teaching and learning activities. This research aims to determine the role of library facilities and infrastructure in increasing interest in visiting Taruna Bakti students. The research method used is a qualitative research method with a case study type. Researchers conducted observations, interviews and descriptive analysis. Researchers carried out data analysis through three stages, namely data reduction, data presentation, and conclusions and verification. The Taruna Bakti Foundation Library has almost met standards for the provision of library facilities and markets based on indicators adapted by researchers from the Regulation of the Head of the National Library of the Republic of Indonesia Number 12 of 2017 concerning National Standards for High School Libraries, so that the Taruna Bakti Foundation Library can make users comfortable and improve visitor visits.
Keywords:
School Library
· Means
· Infrastructure
· Monitoring and Evaluation
Introduction
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2021 sekolah menengah atas (SMA) berjumlah 157 sekolah negeri dan 150 sekolah swasta yang tersebar di Kota Bandung. Sekolah menengah atas (SMA) sebagai faktor penting dalam membentuk karakter siswa yang perlu didukung dengan fasilitas yang mendukung kegiatan pembelajarannya. Perpustakaan merupakan salah satu fasilitas pendukung kegiatan pembelajaran yang keberadaannya sering kita jumpai pada setiap sekolah (Rahmawati, 2015). Keberadaan perpustakaan sekolah menengah atas (SMA) dapat mendukung tujuan dari sekolah tesebut dalam kegiatan belajar mengajar siswa (Israel, 2020). Hal itu dijelaskan kembali oleh Srirahayu dkk. (2021) yang berpendapat bahwa perpustakaan sekolah menengah atas (SMA) dapat menjadi tempat untuk kegiatan pembelajaran siswa dengan memanfaatkan koleksi perpustakaan sekolah yang tersedia. Keberadaan perpustakaan sekolah menengah atas (SMA) dapat mendorong tingkat minat baca dan kreatif menulis siswa. Selain itu, perpustakaan sekolah menengah atas (SMA) dapat menjadi tempat rekreasi untuk siswa (Bladek, 2021; Suen dkk., 2020). Guru pamong menyatakan penyelenggaraan Program Praktik Lapangan (PPL) yang dilakukan oleh Mahasiswa di perpustakaan sekolah sangat membantu dalam mengoptimalkan kegiatan perpustakaan (Hadiapurwa dkk., 2018). Perpustakaan sekolah menengah atas (SMA) mencakup fungsi edukasi dan rekreasi perlu didukung dengan sarana dan prasarana yang mendukung, supaya fungsi perpustakaan sekolah dapat berjalan semestinya. Fungsi edukasi perpustakaan sekolah menengah atas (SMA) berperan untuk menjadi tempat siswa belajar secara mandiri (Inawati, 2022). Sedangkan, fungsi rekreasi perpustakaan sekolah menengah atas (SMA) berperan sebagai tempat hiburan siswa setelah lelah bersekolah (Cox & Brewster, 2020). Perpustakaan sekolah menengah atas (SMA) perlu menyediakan sarana dan prasarana yang layak untuk pemustakanya, tidak hanya layanan saja. Sarana dan prasarana perpustakaan sekolah yang layak digunakan dan nyaman dapat membuat pemustaka senang berkunjung ke perpustakaan dan ingin berkunjung kembali (Falah, 2022; Istiqomah & Anjali, 2021). Penyediaan sarana dan prasarana perpustakaan sekolah menengah atas (SMA) dapat menunjang kegiatan pembelajaran siswa. Sarana dan prarana perpustakaan sekolah menengah atas (SMA) yang baik dapat mencapai fungsi dari perpustakaan (Maolana dkk., 2019). Perpustakaan sekolah sangat berperan dalam menciptakan budaya literasi siswa dan peserta Kampus Mengajar Angkatan 5 (KM5) yang melaksanakan program di perpustakaan sekolah berupaya untuk meingkatkan proses dalam meningkatkan literasi siswa di sekolah (Komara & Hadiapurwa, 2023). Perpustakaan sekolah merupakan program sekolah bersama dengan komponen sekolah lainnya membangun keberhasilan dari tujuan pendidikan. Lebih lanjut, Syam & Fadhli (2021) mengatakaan bahwa perpustakaan sekolah memberikan upaya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran di sekolah. Perpustakaan sekolah menjadi sarana siswa dalam memperoleh infomasi dan memiliki fungsi pedidikan, penelitian, serta, rekreasi. Selanjutnya, Badrudin (2019) menyebutkan bahwa perpustakaan sekolah merupakan salah satu sarana pedidikan dan penunjang kegiatan pembelajaran penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Menurut Sinaga (2018) perustakaan sekolah adalah komponen pendidikan yang turut membantu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Lebih lanjut, Soulen & Wine (2018) menyebutkan bahwa perpustakaan sekolah sebagai sarana yang diperuntukkan untuk kegiatan belajar mengajar yang berlangsung secara aktif dan dinamis. Menurut Triyani (2021) perpustakaan sekolah adalah tempat untuk mendukung kegiatan belajar mengajar siswa. Berdasarkan Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah bahwa, “perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang berada pada satuan pendidikan formal di lingkungan pendidikan sekolah menengah atas/madrasah Aliyah yang merupakan bagian integral dari kegiatan sekolah yang bersangkutan, dan merupakan salah satu pusat sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan.” Darmono (2001) tujuan adanya perpustakaan sekolah untuk mengumpulkan informasi, mewujudkan tempat pengetahuan yang terorganisir, menciptakan pengetahuan, membantu terbentuknya kreativitas, meningkapkan keterampilan berbahasa dan pola pikir, mendidik siswa untuk menjaga bahan pustaka, serta melatih siswa untuk belajar mandiri. Perpustakaan sekolah cenderung menekankan pada dua fungsi yaitu fungsi edukasi dan rekreasi, dikarenakan usia anak di masa sekolah TK hingga menengah lebih diarahkan untuk melakukan pembelajaran sambil bermain. Fungsi edukasi perpustakaan sekolah artinya perpustakaan menediakan informasi sebagai sumber belajar. Sedangkan, fungsi rekreasi perpustakaan sekolah artinya perpustakaan menyediakan koleksi yang bersifat hiburan. Selanjutnya Kastro (2020) menyatakan bahwa perpustakaan sekolah memiliki fungsi umum sebagai sumber informasi, pendidikan, tempat belajar, kebudayaan, penelitian, dan rekreasi. Selanjutnya, Perpustakaan sekolah berperan untuk menanamkan kebiasaan membaca anak-anak. perpustakaan sekolah dapat bersifat aktif dan kondusif dengan mengadakan program-program yang mendukung minat baca siswa, seperti story telling, klub baca, perlombaan membuat cerpen atau puisi. Selain itu, pepustakaan dapat memberkan hadiah atau penghargaan untuk siswa supaya siswa tertarik mengunjungi perpustakaan. Pengadaan program-program, koleksi, sarana dan prasarana di perpustakaan tidaklah mudah dikarenakan membutuhkan dukungan dana yang besar dari sekolah. Prastowo (2012) tujuan perpustakaan sekolah yaitu a) mendorong dan mempercepat proses mengasah kemampuan baca siswa; b) membantu menulis kreatifits siswa; c) menumbuhkan minat membaca siswa; d) menyediakan berbagai macam sumber informasi yang mendukung pembelajaran; dan e) memberikan hiburan utuk siswa di waktu senggang. Fungsi perpustakaan sekolah terdiri dari fungsi edukatif, informatif, rekreasi, penelitian, dan tanggung jawab (Sonia & Sobri, 2019). Fungsi edukatif ditunjukkan dengan perpustakaan sekolah menyediakan koleksi yang mendukung pembelajaran siswa fungsi. Fungsi informatif maskudnya perpustakaan sekolah menyediakan sumber informasi untuk siswa. Fungsi rekreasi maksudnya perpustakaan sekolah menyediakan koleksi perpustakaan yang bersifat ringan dan menghibur siswa, seperti majalah. Fungsi penelitian maksudnya perpustakaan sekolah membantu kegiatan peelitian sederhana. Fungsi tanggung jawab maksudnya perpustakaan mengajaran siswa untuk bersikap tanggung jawab dan disiplin jika meminjam bahan pustaka. Sarana perpustakaan adalah alat-alat yang dibutuhkan secara langsung dalam pelayanan perpustakan, seperti komputer, kartu anggota, katalog perpustakaan. Sedangkan, prasarana perpustakaan adalah fasilitas utama dalam menunjang jalannya pelayanan perpustakaan. seperti, rak koleksi pepustakaan, meja, lemari, papan pengumuman, ruang perpustakaan. Fungsi sarana dan prasarana perpustakaan sekolah sebagai pendukung layanan perpustakaan sekolah, sehingga peranan sarana dan prasarana sangat penting dalam kualitas pelayanan perpustakaan sekolah (Yuliana & Mardiyana 2021). Sedangkan, Sinaga (2018) menyebutkan bahwa sarana dan prasarana perpustakaan berfungsi sebagai pendukung kegiatan perpustakaan secara menyeluruh. Sarana dan prasarana perpustakaan sekolah perlu dipelihara supaya tidak cepat rusak. Secara garis besarnya tantangan pengintegrasian sistem perpustakaan yakni ketersediaan fasilitas, keterbatasan sumber daya, perawatan dan pelestarian, dan keberlanjutan penerapan sistem (Mathar & Irawati, 2022). Manfaat dari pemeliharaan sarana dan prasarana perpustakaan sekolah yaitu peralatan tidak cepat rusak dan pemakaiannya bisa dalam jangka waktu yang panjang, mengecilkan anggaran untuk perbaikan alat yang rusak, tidak akan kehilangan alat, enak dipandang, serta memberikan hasil pekerjaan terbaik. Pemeliharaan sarana dan prasarana perpustakaan sekolah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pemeliharaan sehari-hari dan pemelihaaan berkala (Ahmad, 2021). Pemeliharaan sehari-hari adalah pemeliharaan yang diakukan setiap hari oleh petugas kebersihan perpustakaan sekolah dengan cara menyapu, mengepel, membersihkan dan merapihkan bahan pustaka. Sedangan, pemeliharaan berkala adalah pemeliharaan yang dilakukan sesuai jangka waktu yang telah ditentukan, seperti menata rak koleksi, menata ulang sarana perpustakaan sekolah. Menurut Sinaga (2018) prasarana perpustakaan terdiri dari ruang baca, ruang buku, ruang kerja perpustakaan, ruang sirkulasi, dan ruang referensi yang perlu ditata dengan baik oleh pustakawan. Sarana perpustakaan terdiri dari rak koleksi perpustakaan, meja dan kusi baca untuk pemustaka, serta kabinet katalog. Lebih lanjut, Sinaga menyebutkan bahwa penataan cahaya dan ventilasi di perpustakaan sangat penting untuk merawat koleksi perpustakaan. Pengaturan cahaya yang tidak terkontrol dapat menyebabkaan kerusakan pada bahan pustaka. Sedangkan, pengaturan ventilasi dibutuhkan untuk mengatur udara, suhu, dan kelembapan, supaya buku tidak cepat rusak dan sirkulasi undara untuk pustakawan aman. Selanjutnya Triyani (2021) menyebutkan bahwa penataan ruang di perpustakaan sekolah perlu memerhatikan tiga aspek yaitu jarak, rangkaian kerja, dan pemanfaatan. Aspek jarak penataan ruang di perpustakaan sekolah perlu dipertimbangkan jarak yang pendek supaya memudahkan mobilisasi. Aspek rangkaian kerja perlu memerhatikan penataan ruang perpustakan sekolah yang sejalan dengan kegiatan kerja. Aspek pemanfaatan perlu memerhatikan penataan ruang perpustakaan sekolah untuk mengoptimalkan kegiatan perpustakaan. Pengadaan perabotan di perpustakaan sekolah perlu memerhatikan aspek efesiensi pengeluaran anggaran, efesiensi dalam pengaturan, mutu, nyaman, dan enak dipandang. Selain itu, pengadaan perabot perpustakaan sekolah perlu memerhatikan warna yang sama dan bentuk yang unik supaya menarik minat kunjungan siswa. Namun, pengadaan perabot perpustakaan tetap harus memerhatikan kualitas bahan dari perabot tesebut untuk keamanan siswa. Berdasarkan Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah bahwa, pengadaan prasarana perpustakaan perlu memerhatikan hal-hal berikut: “a. Gedung/ruang, 1) Luas gedung perpustakaan sekolah paling sedikit 0,4 m2 x jumlah siswa, dengan ketentuan bila 3 s.d. 6 rombongan belajar; luas gedung paling sedikit 72 m2, 7 s.d. 12 rombongan belajar; luas gedung paling sedikit 144 m2, 13 s.d. 18 rombongan belajar; luas gedung paling sedikit 216 m2, 19 s.d. 27 rombongan belajar luas gedung paling sedikit 288 m2; 2) Pengaturan ruang secara teknis mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan. b. Area Gedung/ruang perpustakaan paling sedikit meliputi: 1) area koleksi; 2) area baca; 3) area kerja; dan 4) area multimedia; c. Sarana, perpustakaan menyediakan sarana perpustakaan disesuaikan dengan koleksi dan pelayanan, untuk menjamin keberlangsungan fungsi perpustakaan dan kenyamanan dengan memperhatikan pemustaka yang memiliki berkebutuhan khusus; d. Lokasi perpustakaan, berada di pusat kegiatan pembelajaran dan mudah dilihat serta mudah dijangkau oleh peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan.” Keberadaan perpustakaan sekolah menengah atas (SMA) tentunya mendukung kegiatan pembelajaran di sekolah. Seperti, Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti sebagai perpustakaan sekolah dari jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah petama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA) yang mendukung tujuan sekolah. Bedasarkan hasil pengamatan awal perpustakaan Yayasan Taruna Bakti memiliki koleksi yang beragam untuk menunjang kegiatan pembelajaran, seperti buku pelajaran, majalah, novel, permainan khusus siswa, album foto angkatan. Koleksikoleksi Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti tersusun berdasarkan klasifikasi di dalam rak dan mudah dijangkau oleh siswa. Selain itu, Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti dilengkapi dengan fasilitas kursi, meja, komputer. Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti pun memiliki lebih dari 1 area ruang baca dengan fasilitas yang berbeda. Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti memiliki dua pustakawan lulusan ilmu perpustakaan Universitas Padjajaran. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hanadya dkk. (2020) berjudul Kepuasan Mahasiswa terhadap Pelayanan Sarana dan Prasarana Perpustakaan di Politeknik Darussalam Palembang meunjukan hasil bahwa, sebanyak 46 orang menyatakan sarana dan prasarana perpustakaan diPoliteknik Darussalam Palembang cukup baik. Sedangkan, 38 mahasiswa lainnya menyatakan baik untuk sarana dan prasarana perpustakaan di Politeknik Darussalam Palembang. Penelitian lainnya yang berjudul Evaluasi Kelengkapan Sarana dan Prasarana Perpustakaan Sekolah Berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan 2011 (Studi Deskriptif Kualitatif pada Perpustakaan SMA Negeri 2 Ciamis) yang dilakukan oleh Maolana dkk. (2019) menunjukkan hasil bahwa sarana dan prasarana perpustakaan SMA Negeri 2 Ciamis sudah hampir memenuhi Standar Nasional Perpustakaan 2011. Kriteria ini didapatkan dari hasil penelitian yang mengacu pada Standar Nasional Perpustakaan 2011. Sedangkan, penelitian ini membahas mengenai peran sarana dan prasarana perpustakaan dalam meningkatkan minat kunjungan, ditinjau dari kelengkapan sarana dan prasarana perpustakaan berdasarkan Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peranan sarana dan prasarana Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti dalam meningkatkan minat kunjungan siswa Taruna Bakti. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi untuk pembaca dan bahan evaluasi untuk penyelenggaraan perpustakaan sekolah.
Method
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus. Menurut Asenahabi (2019) penelitian studi kasus adalah penelitian mendalam tentang suatu kelompok dalam waktu tertentu dengan tujuan untuk memperoleh deskripsi rinci dari kelompok tersebut. Selanjutnya, Atmowardoyo (2018) menyebutkan bahwa studi kasus merupakan cara untuk mengumpulkan dan menganalisis data mengenai suatu kasus. Creswell (2014) menyebutkan bahwa studi kasus adalah penelitian yang mengkaji secara mendalam mengenai suatu kasus baik itu program, kegiatan, ataupun individu. Penelitian ini menggunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu a) observasi, peneliti melakukan observasi terhadap sarana dan prasarana di Pepustakaan Taruna Bakti untuk melihat kelayakannya. Selain itu, peneliti mengamati aktivitas dan sikap siswa yang berkunjung ke Pepustakaan Taruna Bakti; b) wawancara, peneliti melakukan wawancara dengan dua pustakawan Taruna Bakti untuk mengetahui sarana dan prasarana yang disediakan. Sebelum melakukan wawancara, peneliti menyusun terlebih dahulu pertanyaan yang akan ditanyakan mengacu pada Peraturan Perpustakaan Nasional Nomor 12 Tahun 2017 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah; c) dokumentasi, peneliti mengambil gambar sarana dan prasarana Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti. Selain itu, peneliti mengambil rekaman suara ketika proses wawancara dengan pustakawan Taruna Bakti. Setelah mendapatkan data penelitian, peneliti melakukan teknik analisis data. Adapun tahapan yang dilakukan peneliti pada teknik analisis data yaitu a) reduksi data, peneliti melakukan proses pemilihan dan penyederhanaan pada hasil penelitian di Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti; b) penyajian data, peneliti meyusun hasil penelitian di Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti yang telah dipilih dan disederhanakan untuk disimpulkan atau ditindak lanjuti; c) kesimpulan dan verifikasi, peneliti mengambil kesimpulan dan melakukan veifikasi selama penelitian di Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti.
Result
Hasil penelitian ini mencakup tentang peran sarana dan prasarana Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti dalam menigkatkan kunjungan pemustaka. Pembahasan penelitian berdasarkan acuan dari Pedoman Perpustakaan Nasional terkait Standar Nasional Perpustakaan Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah mencakup gedung perpustakaan, sarana perpustakaan, dan lokasi perpustakaan. Tabel 1. Kondisi Sarana dan Prasarana Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti No Pertanyaan Jawaban 1 Berapakah luas gedung perpustakaan yang dimiliki? 500m2 (indoor dan outdoor) 2 Apakah perpustakaan menyediakan area koleksi? Iya 3 Apakah perpustakaan menyediakan area baca? Iya. Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti menyediakan area baca dalam dan luar ruangan 4 Apakah perpustakaan menyediakan area kerja? Iya 5 Apakah perpustakaan menyediakan area multimedia? Iya 6 Apakah perpustakaan memiliki perabot kerja? Jika ya, sebutkan apa saja beserta jumlah masing-masing. Iya, komputer, katalog, pulpen, meja layanan 7 Apakah perpustakaan memiliki perabot penyimpanan? Jika ya, sebutkan apa saja beserta jumlah masing- masing. Memiliki sejumlah rak penyimpanan sejumlah 28 rak buku 8 Apakah perpustakaan memiliki peralatan multimedia? Jika ya, sebutkan apa saja beserta jumlah masing- masing. Memiliki TV 60-inch dan pemutar DVD untuk ruang teater, AC komputer komputer untuk data pengunjung, komputer untuk dipakai oleh pemustaka. 9 Apakah perpustakaan memiliki perlengkapan lain? Jika ya, sebutkan apa saja beserta jumlah masingmasing. Tidak 10 Apakah lokasi perpustakaan berada di pusat kegiatan pembelajaran? Tidak, karena perpustakaan terletak di lantai 5 11 Apakah lokasi perpustakaan berada di lokasi yang mudah dijangkau oleh peserta didik, guru, dan tenaga pendidik lainnya? Iya, walaupun perpustakaan tidak berada di pusat kegiatan pembelajaran dan terletak di lantai 5, tetapi mudah dijangkau oleh peserta didik, guru, dan tenaga pendidik lainnya karena bisa menggunakan lift untuk mengunjungi perpustakaan Berdasarkan hasil wawancara dengan dua pustakawan Taruna Bakti mengenai sarana dan prasarana Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti dapat diketahui bahwa luas ruangan perpustakaan 500 m2 yang terdiri dari dalam ruangan dan luar ruangan untuk 30 rombongan belajar. Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti menyediakan area baca di luar ruangan dan dalam ruangan, area multimedia, area kerja, serta area koleksi. Selain itu, Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti menyediakan perabot kerja dan perabot penyimpanan. Seperti, pulpen, katalog, komputer, 28 rak penyimpanan koleksi pustaka. Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti pun memiliki peralatan multimedia yang terdiri dari TV 60-inch dan DVD Player yang dapat dijumpai di area multimedia, AC, komputer untuk data pengunjung, komputer untuk dipakai oleh pemustaka. Lokasi Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti berada di lantai 5 bersebelahan dengan kantin, namun disediakan lift supaya memudahkan pemustaka berkunjung ke perpustakaan. Area Koleksi Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti Gambar 1. Area Koleksi di Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti Area koleksi di Pepustakaan Taruna Bakti menyediakan 28 rak yang terdiri dari berbagai macam koleksi dan mudah dijangkau oleh pemustaka. Selain itu, area koleksi di Perpustakaan Taruna Bakti terdapat pada dua lantai perpustakaan. Area koleksi di Perpustakaan Taruna Bakti pun didesain dengan tema yang seperti di rumah sendiri, sehingga membuat pemustaka nyaman berkunjung. Area Baca Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti Gambar 2. Area Baca Luar Ruangan di Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti Area baca luar ruangan di Perpustakaan Taruna Bakti menyediakan beberapa meja dan kursi yang dapat digunakan oleh pemustaka untuk membaca buku yang dipinjamnya. Selain itu, area baca luar ruangan di Perpustakaan Taruna Bakti menyuguhkan pemandangan Kota Bandung yang menarik mata. Area baca luar ruangan di Prepustakaan Taruna Bakti pun menyediakan toilet yang dapat digunakan oleh pemustaka dan tanaman yang membuat udara terasa sejuk. Gambar 3. Area Baca dalam Ruangan di Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti Area baca dalam ruangan di Perpustakaan Taruna Bakti menyediakan meja, sofa, dan bantal yang terlihat sangat nyaman untuk pemustaka membaca buku yang dipinjamnya. Selain itu, area baca dalam ruangan di Perpustakaan Taruna Bakti dilengkapi dengan lampu yang lebih dari satu, sehingga ruangan tidak gelap. Area baca luar ruangan di Perpustakaan Taruna Bakti pun dilengkapi dengan hiasanhiasan yang membuat ruangan terlihat seperti di dalam rumah, bukan perpustakaan. Area Kerja Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti Gambar 4. Area Kerja di Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti Area kerja di Perpustakaan Taruna terdiri dari meja dan kursi yang digunakan oleh pustakawan melakukan klasifikasi bahan pustaka. Namun, tekadang pekerjaan tersebut dilakukan oleh pustakawan pada area layanan koleksi. Area Multimedia Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti Gambar 5. Area Multimedia di Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti Area multimedia di Perpustakaan Taruna Bakti menyediakan beberapa meja dan kursi yang dapat digunakan oleh pemustaka untuk menggunakan komputer. Selain itu, area multimedia ruangan di Perpustakaan Taruna Bakti terdapat ventilasi dan lampu yang membantu pencahayaan ruangan. Perpustakaan Taruna Bakti pun memiliki teater sebagai area multimedia lainnya. Gambar 6. Ruang Teater di Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti Ruang teater di Pepustakaan Taruna Bakti menyediakan TV 60 inch, pemutarr DVD, kursi, pengeras suara, dan AC. Selain itu, ruang teater di Pepustakaan Taruna Bakti dilengkapi dengan lampu untuk membantu pencahayaan ruangan. Ruang teater Perpustakaan Taruna Bakti pun ditata letak seperti di rumah, sehingga terlihat nyaman.
Discussion
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan pustakawan Taruna Bakti mengenai sarana dan prasarana yang disediakan oleh Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti ditunjukkan untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran siswa. Hal ini sejalan dengan pengertian dari perpustakaan sekolah menurut Badrudin (2019) yang menyebutkan bahwa perpustakaan sekolah merupakan salah satu sarana pedidikan dan penunjang kegiatan pembelajaran penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu, penyediaan perabot Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti dipilih berdasarkan fungsi, kualitas bahan, dan desainnya untuk membuat pemustaka nyaman berada di perpustakaan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Triyani (2021) yang menyebutkan bahwa pengadaan perabotan di perpustakaan sekolah perlu memerhatikan warna yang sama, bentuk yang unik, dan kualitas bahan, supaya menarik minat kunjungan siswa. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan pustakawan Taruna Bakti mengenai penyediaan AC, ventilasi, dan lampu oleh Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti digunakan untuk mengatur suhu kelembapan ruangan. Hal ini bertujuan untuk melindungi dan merawat koleksi pustaka dari kerusakan. Sejalan dengan pendapat Sinaga (2018) yang menyebutkan bahwa penataan cahaya dan ventilasi di perpustakaan sangat penting untuk merawat koleksi perpustakaan. Selain itu, penataan pada area koleksi, area baca, dan area multimedia ditata dengan mengusung konsep seperti di rumah, sehingga mampu membuat pemustaka nyaman dan tertarik untuk berkunjung kembali. Sejalan dengan pernyataan Riska & Amir (2018) yang menyebutkan bahwa prasarana perpustakaan terdiri dari ruang baca, ruang buku, ruang kerja perpustakaan, ruang sirkulasi, dan ruang referensi yang perlu ditata dengan baik oleh pustakawan. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan pustakawan Taruna Bakti mengenai pembesihan ruangan perpustakaan dilakukan setiap hari setelah jam operasional berakhir oleh petugas kebersihan sekolah Taruna Bakti, seperti, menyapu, mengepel. Namun, penataan dan pembersihan koleksi pustaka dilakukan oleh pustakawan Taruna Bakti setiap hari setelah jam operasional perpustakaan habis. Pemeliharaan yang dilakukan oleh Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti ditujukan untuk menjaga kebersihan perpustakaan dan mencegah kerusakan pada prasarana perpustakaan. Manfaat dari pemeliharaan sarana dan prasarana perpustakaan sekolah yaitu peralatan tidak cepat rusak dan pemakaiannya bisa dalam jangka waktu yang panjang, mengecilkan anggaran untuk perbaikan alat yang rusak, tidak akan kehilangan alat, enak dipandang, serta memberikan hasil pekerjaan terbaik. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan pustakawan Taruna Bakti mengenai pengadaan sarana dan prasarana Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti mulai dari luas gedung, area gedung pepustakaan, sarana perpustakaan, serta lokasi perpustakaan, dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti sudah hampir memenuhi standar dari pengadaan sarana dan pasarana perpustakaan. Hal ini berdasarkan dari indikator yang diadaptasi dari Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah. Meskipun lokasi perpustakaan berada di lantai 5 bukan di pusat sekolah, namun hal itu tidak menyulitkan pemustaka untuk berkunjung, dikarenakan terdapat lift yang dapat dimanfaatkan oleh pemustaka. Sarana dan prasarana Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti yang ditata letak dengan konsep rumah membuat pemustaka nyaman dan dapat meningkatkan kunjungan pemustaka. Penyediaan sarana dan prasarana oleh Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti diitujukan untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran siswa. Pengadaan perabot di Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti dipilih berdasarkan fungsi, kualitas bahan, dan desainnya untuk membuat pemustaka nyaman berada di perpustakaan. Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti menyediakan AC, lampu, dan ventilasi untuk mejaga dan memelihara bahan pustaka dari kerusakan yang disbabkan oleh kelembapan udara. Penataan area-area di Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti ditata dengan menyusung konsep rumah untuk membuat pemustaka nyaman dan berkunjung kembali. Selain itu, kebersihan Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti terjamin dikarenakan selalu dibersihkan setiap hari oleh petugas kebersihan. Penataan koleksi Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti pun dilakukan setiap hari setelah jam operasional berakhir. Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti sudah hampir memenuhi standar dari pengadaan sarana dan pasarana perpustakaan berdasarkan dari indikator yang diadaptasi peneliti dari Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah. Sarana dan prasarana Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti yang ditata letak dengan konsep rumah membuat pemustaka nyaman dan dapat meningkatkan kunjungan pemustaka.
Conclusion
Penelitian ini memberikan gambaran tentang kondisi sarana dan prasarana Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti. Sarana dan prasarana yang baik merupakan faktor penting dalam meningkatkan minat kunjungan siswa ke perpustakaan. Dalam penelitian ini, dapat dilihat bahwa Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti telah menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung kegiatan belajar mengajar, seperti area koleksi yang luas, area baca yang nyaman, area kerja, dan area multimedia. Dalam hal luas gedung perpustakaan, Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti telah memenuhi standar yang disebutkan dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017. Selain itu, adanya area koleksi yang beragam dan mudah dijangkau oleh pemustaka merupakan aspek penting dalam meningkatkan minat kunjungan siswa. Pemeliharaan sarana dan prasarana perpustakaan juga penting untuk menjaga kualitasnya. Dalam penelitian ini, tidak ada informasi yang mengindikasikan adanya masalah perawatan sarana dan prasarana di Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti. Pemeliharaan yang baik dapat memastikan bahwa fasilitas tetap berfungsi dengan baik dan nyaman digunakan oleh pemustaka. Perpustakaan Yayasan Taruna Bakti telah memenuhi sebagian besar persyaratan Standar Nasional Perpustakaan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Ketersediaan fasilitas yang baik di perpustakaan dapat memotivasi siswa untuk lebih aktif menggunakan perpustakaan sebagai sumber pembelajaran dan rekreasi. Dengan pemeliharaan yang baik, perpustakaan dapat terus menjadi tempat yang nyaman dan menarik bagi siswa.